Jelajah Raja Ampat: Pulau Mansuar, Surga Wisata Bahari Indonesia Mendunia (Bagian 1)


Raja Ampat, kabupaten yang ada di Papua Barat ini terletak di jantung pusat segitiga karang dunia dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya saat ini. Terkenal menjadi tempat wisata dengan terumbu karangnya indah serta kaya berbagai jenis ekosistem dan biota laut di dalamnya. Ketenarannya inilah menjadikan Raja Ampat dinobatkan sebagai primadona destinasi wisata bahari Indonesia. Selain itu, bentang alam pantai dan gugusan pulau-pulau karang di Raja Ampat juga menjadi daya tarik yang mengagumkan.

Raja Ampat sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Alam membentuk pulau ini menjadi empat gugusan pulau yang menjadi satu kesatuan yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta yang kita kenal sebagai Empat Raja. Oleh sebab Raja Ampat dikelilingi oleh laut, maka satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan adalah transportasi angkutan laut. Wisata bahari Indonesia ini berpotensi untuk dijadikan objek wisata, bahkan katanya termasuk dalam 10 perairan terbaik di dunia karena kelengkapan biota laut saat ini.

bandara-domine-eduard-osok

Selfie di depan Bandaran Domine Eduard Osok, Sorong pukul 7 pagi WIT

Mengunjungi Raja Ampat ini tidaklah sulit walau memang memakan waktu dan biaya cukup besar. Kita dapat menggunakan maskapai penerbangan dari Jakarta atau Bali ke Sorong via Makasar atau Ambon dan Manado selama kurang lebih 6 jam penerbangan belum ditambahkan dengan waktu transit. Hampir 24 jam perjalanan saya dari Palembang menuju Raja Ampat. Penerbangan yang membutuhkan 3 kali transit dimulai Jakarta ke Makassar dari pukul 6 sore waktu Palembang hingga tiba ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar pukul 2 subuh. Lanjut terbang kembali pukul 4 subuh menuju Bandara Domine Eduard Osok, Sorong hingga tiba pukul 7 pagi waktu setempat. Penerbangan kami menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Untunglah penerbangan berjalan lancar walau ada sedikit turbulensi yang membuat jantung sedikit berdengup. Terima kasih pak pilot!

Bandara Sorong terletak di pusat kota

Bandara Sorong terletak di pusat kota

Setelah melewati penerbangan dini hari dengan jarak tempuh masing-masing sekitar 2 jam. Kedatangan kami di bandara Sorong disambut oleh ibu Uce dari Wombon Swandiwe, travel lokal yang menjadi rekanan sponsor perjalanan kami yaitu Cheria Wisata Travel. Banyak yang bilang traveling ke Raja Ampat harganya sebanding seperti kita traveling ke luar negeri bahkan bisa lebih. Betul. Harga sewa boat bisa berkisar 8 juta – 30 juta, belum lagi harga bahan bakar untuk mengunjungi pulau ke pulau yang jaraknya jauh. Maka memang disarankan mengunjungi Raja Ampat secara berkelompok sehingga bisa patungan bujet perjalanan. Sudah banyak paket wisata Raja Ampat yang murah berkisar 2,7 juta – 4,5 juta sesuai dengan lamanya hari dan destinasi wisata yang ingin dikunjungi.

Kami masih menunggu satu rombongan lagi yang akan tiba dan masuk dalam rombongan tur. Ibu Uce pun bilang kalau kita juga masih menunggu kembali sampai pukul 2 siang untuk menyeberang dengan kapal feri cepat “Bahari Express” dari Pelabuhan Rakyat Sorong menuju Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Tiket kapal feri bisa langsung dibeli di Pelabuhan Rakyat Sorong dengan jadwal keberangkatan setiap hari mulai dari pukul 9 pagi dan 2 siang. Harga tiket satu kali jalan kelas Ekonomi adalah Rp 130.000 tiap kepala.

Pelabuhan Rakyat Sorong

Pelabuhan Rakyat Sorong

pin-masuk-raja-ampat

Hati saya berdebar-debar ingin segera melihat sendiri indahnya Raja Ampat. Tiba di Pelabuhan Waisai sekitar pukul 05.30 sore waktu Indonesia Timur. Perjalanan belum sampai disini saja, masih harus naik speed boat untuk menuju pulau tempat homestay kami. Masih bersabar… kita pun menunggu dari pihak travel lokal untuk mengurus keperluan pin sebagai tanda masuk resmi berkunjung ke Raja Ampat. Pin dalam bentuk arkilik dan bisa dijadikan gantungan kunci ini berlaku hanya 1 tahun yang dihitung dari tahun masuk. Jadi apabila kamu berangkat bulan November 2016 berarti masih bisa 1 bulan lagi sampai Desember 2016. Biaya masuk ke Raja Ampat dikenakan sebesar Rp 500.000 untuk turis lokal, sedangkan untuk turis asing dikenakan Rp 1.000.000 sebagai biaya retribusi masuk.

anak-papua-pemberani

You are beautiful in your way.

You are beautiful in your way.

Pelabuhan Waisai, Raja Ampat

Pelabuhan Waisai, Raja Ampat

Tiga orang anak kecil Papua yang berada di depan saya ini membuat saya kagum oleh karena keberanian mereka duduk di bibir speed boat. Ya, alam Indonesia Timur yang membentuk mereka untuk memiliki insting yang kuat bahkan untuk bertahan di tengah laut. Saya pun yakin mereka mampu untuk menyelam atau setidaknya berenang seperti anak-anak yang tinggal di pinggir Sungai Musi.

Apa rasanya pertama kali naik speed boat cepat dan berada di tengah laut Halmahera yang mengelilingi Raja Ampat menjelang malam hari? Rasanya takut membayangkan seandainya mesin kapal mati di tengah laut dalam kondisi gelap. Namun merasa damai bisa melihat hamparan luas langit biru bergradasi dengan air laut. Awan pun mulai menutupi senja matahari seolah menyambut saya dengan sambutan : Welcome to Last Paradise in Indonesia!

Pulau Mansuar, Pesona Alam Indah Tersembunyi di Raja Ampat

Senja di tengah laut Raja Ampat

Senja di tengah laut Raja Ampat

“Ini masih lama ya, kok belum sampai,” tanyaku dengan Lingga. Barangkali bertanya ke orang yang sama-sama belum tahu dan belum pernah datang ke Raja Ampat adalah pilihan yang tidak tepat. Bodohnya, sambil menertawai diri sendiri.

“Bang, homestay-nya masih jauh?” lanjut saya menanyakan sama abang berkaos kuning yang merupakan bagian dari homestay Wombon Swandiwe.

“Tidak.. nikmati saja alam kami ini.” Saya tidak bertanya kembali sebab di hadapan saya seolah langit sedang “bermain” menyuguhkan pergantian siang ke malam. Cantiknya! Seumur hidup yang saya lewatin, pengalaman ini merupakan pengalaman pertama kalinya bagi saya berada di tengah laut luas dan menikmati sinar lembayung matahari yang sangat cantik dan bersih. Tidak ada penghalang, dan tidak ada batas. Hingga meneteskan air mata sedikit, saya selalu berucap dalam hati mensyukuri perjalanan jauh kali ini. Entah kapan lagi saya akan mendapat keberuntungan yang serupa.

Arah kejauhan melihat titik cahaya rumah homestay

Arah kejauhan melihat titik cahaya rumah homestay

Langit semakin pekat gelap, menandakan air laut mulai pasang.air yang berada di Pulau Mansuar sangat bersih dan bening. Kejernihan airnya menyatu dengan pasir putih halus. Sebutan populer “Mutiara dari Timur”, “Surga Tersembunyi di Timur” yang dilekatkan untuk kawasan Papua Barat terasa benar adanya. Saya merasa menjadi orang paling beruntung dapat mengunjungi Raja Ampat, salah satu destinasi impian banyak orang dan seperti membuat puluhan mata teman-teman saya tidak percaya kalau saya bisa berkunjung terlebih dahulu sebelum mereka.

Seperti melihat cahaya dari arah kejauhan di tengah kegelapan. Cahaya yang memberi saya pengharapan dan berkata, itu daratan! Pulau tersebut tampak kecil dari kejauhan hingga semakin lama akan semakin besar saat kapal mendekat. Pulau ini dikelilingi oleh bukit hijau dengan perpohonan yang tinggi dan besar. Akhirnya kamipun tiba di Pulau Mansuar.

Dari sekian banyak pulau yang indah di Raja Ampat, salah satunya Pulau Mansuar ini dikelilingi pantai berpasir putih dan air yang bening. Satu kata, indah. Bayangkan damainya melihat pemandangan langsung dari homestay, kita sudah berjumpa dengan pantai dengan air yang bening. Saya sudah tidak sabar menyambut hari esok! I felt like there is a new hope. A hope to make someone feels better and grateful. God, I do not wanna time move quickly. Just slowly but sure.

Pemandangan dari pinggir homestay

Pemandangan dari pinggir homestay

Pulau Mansuar merupakan pulau yang dihiasi gugusan terumbu karang nan cantik. Kita dapat langsung snorkeling dari depan homestay berjumpa dengan terumbu karang sampai Nemo. Berangkat dari Waisai menuju Mansuar memerlukan waktu kurang lebih sekitar 45 menit menggunakan speed boat. Selama perjalanan, Kicauan burung yang sangat indah merupakan musik alam di Mansuar.

Saat kamu berada di Raja Ampat akan merasa, ah sayang sekali berada di sini sangat sebentar. Baru hari pertama saja sudah enggan untuk pulang, apalagi turis asing yang betah sampai satu bulan?

Makan Malam Pertama Sederhana Ala Penduduk Lokal Raja Ampat

makan-malam-pertama-di-raja-ampat

Homestay tempat kami memiliki 3 rumah pondokkan dan 1 ruangan makan, masing-masing kamar memiliki 2 ruangan kamar yang disekat. Sedangkan, letak kamar mandi sederhana berada di luar dengan lampu penerangan mengandalkan genset. Ibu Uce, orang yang menjemput kami pertama kali di Bandara Sorong, merupakan pemilik dari homestay Wombon Swandiwe tersebut. Suaminya adalah asli orang Raja Ampat dan homestay tempat kami menginap adalah kepunyaannya.

Ruangan makan ada di pondokkan rumah satu lagi. Dalam ruangan makan yang luas, semua orang baru yang belum saya kenal satu per satu masuk ke ruang makan. Barangkali kita masih speechless kalau saat ini sudah berada di Raja Ampat.

ikan-terbang

“Kita makan malam!” Menu hidangan yang disediakan oleh Usi, juru masak homestay kami membuat kami berdecak senang. Makan malam pertama di Raja Ampat, menu ikan bakar besar disajikan di depan kami. Lengkap dengan tumis kangkung dan sambal pedas. Sederhana tapi dijamin kalian akan ketagihan untuk menikmati masakan sederhana dari penduduk lokal sini. Semuanya tanpa lahap menghabiskan makanan, mungkin karena badan sudah lelah dengan perjalanan jauh. Begitu melihat makanan yang tersedia terasa nikmat bagaikan kebahagiaan yang dirasakan bertambah dua kali lipat. Ikan laut yang kami makan merupakan hasil tangkapan dari pengurus homestay ditangkap di belakang pulau Mansuar. Sebab ada perundangan larangan memancing ikan di kawasan Pulau Mansuar. Mereka sangat menjaga kelestarian alam Raja Ampat. Terasa sekali bertapa Tuhan beri kemudahan untuk mencukupi hidup saudara-saudara kita di Papua.

Rombongan kami berjumlah 13 orang, terdiri dari Om Nana, seorang bapak yang sedang melarikan diri dari rutinitas kerja kantornya dan kebetulan sedang berada di Sorong, tante Fitri seorang ibu gaul metropolitan dengan dua anaknya yang bagai bidadari, Mishella dan Devika. Serta tante Elpina dan Erica, dua teman kantor dari tante Fitri yang gokil. Saya suka dengan gaya traveling mereka, backpack cuy!  Emak-emak gaul sebutannya. “Tante saya suka gaya travelingnya, backpack.” Spontan terucap sewaktu berjumpa di Bandara Domine Eduard Soak di depan tiga tante tersebut. Lalu, ada Temmy dan Andre, sepasang suami istri muda yang energik. Terakhir ada Hanna dan Aris, kakak adik yang membuat saya kagum sama mereka. Lalu siapa saya? Saya cuma orang beruntung yang diberkahi untuk melihat indahnya Raja Ampat!

Papua Cinta Damai, Saya Cinta Raja Ampat

Menikmati senja yang izin pamit dari balkon homestay

Menikmati senja yang malu-malu menutupi wajahnya

Malam makin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu Indonesia Timur. Sesekali saya melirik jam di pergelangan tangan saya, ah masih pagi di Palembang. Masa sudah mau tidur? Apalagi dua ikan pelangi yang kami santap tadi masih banyak sebab mereka tidak kuasa untuk menghabiskan. Akhirnya iman saya lemah kalau melihat makanan sisa, saya pun menyantap sendirian duduk menatap hamparan laut. Sedangkan teman-teman lainnya mungkin sudah bergegeas ke Pulau Kasur karena letihnya perjalanan di hari pertama.

“Bang!” sapa saya begitu melihat ada abang berkaos kuning yang tadi saya sapa sewaktu di kapal. “Ayo temanin saya makan ikan ini. Saya tidak kuat makan sendirian, sayang dibuang,” lanjut saya meratakin daging ikan yang rasa segar dan tidak amis.

“Orang sini bilangnya ikan Indosiar, bang.” Serunya duduk berdepanan sama saya sambil menyalakan rokok di mulutnya.  “Soalnya bentuknya seperti ikan terbang,” lanjutnya kembali.

“Deddy!” balas saya mengenalkan diri.

“Icad, bang.”

Abang Icad berasal dari Biak yang sudah lama menetap bekerja di Raja Ampat. Obrolan malam kami saat itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam benak saya setelah apa yang selama ini menjadi rasa penasaran saya tentang Papua. Dalam pemikiran saya tentang Papua adalah suatu provinsi di Indonesia yang masih sulit terjangkau, harga makanan yang mahal serta mungkin penduduk lokal dengan rambut keribo, gimbal, perang suku bahkan berwatak kasar. Sudut pandang saya berubah, Papua tidak demikian seperti yang diberitakan oleh media massa, apalagi warga Sorong serta kabupaten di Raja Ampat, Wasai. Obrolan kami pun pecah setelah saya minta diajarin bahasa Papua seperti apa, bang Icad mulai berkata-kata, saya seperti kena roaming karena memang saya tidak paham.

“Mungkin abang masih berpikir, kita di Sorong dan Raja Ampat dengan pakaian rumbai-rumbai, koteka dan senjata perang betul?” Saya pun langsung mengangguk. “Tidaklah bang, warga sini sudah maju. Buktinya saya punya hape sudah bisa internetan,” tunjuknya kepada saya smartphone miliknya.

Pemberitaan yang ada saat ini seolah mengangkat Papua masih terbelakang dalam hal teknologi bahkan mungkin pengetahuan. Justru saya yang minim pengetahuan ini begitu tiba di Sorong menjadi tidak percaya dengan keadaan kota Sorong yang menjadi gerbang Papua Barat. Saya kembali mengingat obrolan siang harinya di dalam mobil bersama bu Uce, mbak Levina dan Lingga sewaktu mau menuju ke tempat makan siang sebelum menuju ke Pelabuhan Rakyat Sorong.

“Serius bu Uce?”

“Iya ada, Ramayana eh tapi ada lagi Sorong Mall juga.” Ralat bu Uce. “Saya dulu ke Bandung, lalu karena mengira saya orang Papua masa saya dikasih roti sama jagung. Saya marahlah. Saya bilangin kalau hei Papua punya nasi ya, punya mall!” Kompak kami di dalam mobil tertawa pecah. Bayangkan saja logat bu Uce yang memang asli orang Sorong. Brand minuman bubble tea bermerk juga ada juga di Sorong. Itu tandanya memang Sorong bukanlah kota yang tidak gaul.

Kembali lagi ke obrolan saya dengan bang Icad, memang masih ada orang Papua seperti yang saya gambarkan sebelumnya tapi mereka bermukim di daerah seperti Wamena. Begitu mendengar kata Wamena, saya jadi ingat dulu pernah mengikuti lomba menulis tentang Wamena yang membawa saya mencari tahu tentang Wamena. Barangkali karena informasi yang saya baca mengenai Wamena terbawa sehingga generalisasi ke Raja Ampat. Tapi lupakan sejenak Wamena, sebab lomba kemarin diwarnai dengan drama dalam hasil pengumuman juara :mrgreen: Disitu saya sedih karena belum bisa ke Wamena melihat kearifan lokal dan budaya perang suku di Wamena.

Papua identik dengan Koteka, benda yang menjadi kebanggaan bagi kaum Adam. Konon, semakin panjang koteka yang dikenakan maka semakin tinggi rasa bangga orang yang memakainya. Termasuk perihal ukuran panjangnya alat kelamin. Daun Bungkus, salah satu terapi kejantanan yang hanya boleh dilakukan oleh tangan ahli dan terampil. Sebab, apabila salah dilakukan maka ucapkan selamat tinggal dengan setua kamu itu. Ternyata cara kerja daun bungkus itu unik, kalian para laki-laki bisa request seberapa besar dan panjang ukuran vital yang kalian inginkan kemudian dibungkuslah dengan dedaunan yang telah diberi ramuan khusus. Mau? Tunggu dulu, kalau tidak berhasil efek yang timbul bisa rusak perkakasmu!

If you asked me about it: In my humble opinion, size it does not matter. The point is how can it be functional and erection, because sex is not about just ah uh ah uh but how two people can get orgasm and included take and give. Just learn about Kamasutra’s book at googling hahahahah… But sometimes, people aged 30 and over wanting an incredible sex life with their partner. How spouses can explore throughout the body such that it runs harmoniously.

Tidak terasa obrolan kami hingga pukul 12 malam. Saya undur pamit kembali ke homestay yang berada di paling ujung untuk istirahat sekamar dengan om Nana yang tampaknya sudah tidur terlebih dahulu. Malam itu, kelambu serta dengingan nyamuk menjadi teman tidur saya. Deburan ombak laut pun sayup saya dengar hingga tertidur sampai esok paginya. Perlahan-lahan, mata saya mulai menutup mencoba beradaptasi dengan suasana baru kehidupan penduduk lokal Raja Ampat. Tinggal di bale-bale dengan kelambu, kasur ala kadarnya, mandi air laut, lalu… tidak ada sinyal telepon. Bagian yang terakhir membuat saya betul-betul menikmati liburan seutuhnya, tanpa ada gangguan dari sosial media. Lah, siapa juga yang mau ganggu saya. Orang saya pengangguran mana ada yang cari saya 😆

Raja Ampat, kenapa dirimu begitu menggoda bagi kami untuk lebih mengenal baharimu?

Iklan

63 pemikiran pada “Jelajah Raja Ampat: Pulau Mansuar, Surga Wisata Bahari Indonesia Mendunia (Bagian 1)

  1. Ping balik: Akhirnya Icip ‘Staycation’ di Hotel Bareng Keluarga | Koh Huang

  2. Ceritanya tentang Raja Ampat sangat menggoda bang..😅😅..
    Rencana akhir April ke Raja Ampat join WS Homestay Trip,doain semoga lancar bang hehe

  3. Baru pertama mampir ke blog ini, dari kemarin-kemarin ngincer pengen baca dan komen di tulisan tentang Raja Ampat ini 😀

    Dan, foto pertama dalam tulisan ini seakan menyambut pembaca dengan ucapan selamat datang! 🙂

    Ya Allah, baru hari pertama sudah seru sekali. Dari laut hingga orang-orangnya. Sehari saja sudah memberi kesan mudah jatuh cinta ya Om? 🙂

  4. Ya ampun, lagi asik-asik baca ini akhirnya nyasar ke daun bungkus juga 😀

    Btw, itu restribusi resmi untuk masuk ke Raja Ampat-nya semoga bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar ya. Soalnya jumlahnya cukup besar. Kalau disalahgunakan khan sayang banget.

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s