Tidore Tempo Dulu, Sekarang dan Masa Depan


Kerinduan untuk memeluk Tidore akan segera terlaksana. Bunyi mikrofon dari ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno Hatta seakan memanggil agar penumpang pesawat JT 0897 segera masuk ke dalam bilik pesawat. Menit detik jam terus berjalan karena sebentar lagi pesawat akan tinggal landas menuju Ternate, Maluku Utara. Suara petugas bandara laksana gravitasi yang memanggil kami untuk segera menggerakkan badan sembari menahan kantuk menyeretkan kaki menuju pesawat. Pukul tiga subuh menjadi saksi saat berada di bandara tersibuk yang ada di Jakarta tersebut. Padahal, saya dan Yayan sendiri sudah terbang terlebih dahulu dari Palembang menuju Jakarta demi Tidore, pulau kecil yang ada di Timur Indonesia.

Dalam benakku menyesapi perjalanan kali ini seolah ada gravitasi besar yang membuatku ingin sekali menginjakkan kaki bukanlah ke Ternate, melainkan ke Tidore, pulau yang hanya dapat dijangkau melewati pulau saudaranya tersebut. Destinasi tujuan yang semuanya berawal dari obrolan malam di Raja Ampat. Namun, sebelum kita sampai di Tidore, kita harus masuk ke Ternate sebagai pintu gerbang kita sampai di Pelabuhan Rum, Tidore.

foto tidore dari udara

Tidore dari udara

Sosok pramugari menghentikan sejenak lamunanku karena memang tugasnya menjelaskan keselamatan dan keberadaan pintu darurat. Sedangkan kita untuk mengharuskan diri untuk melihat setiap intruksi keselamatan yang dia berikan. “Cantik,” ungkapku dalam hati. Pramugari itu berhasil menarik tiap pasang mata yang berada di dalam pesawat segera memperhatikan gerakan tangannya dalam hal memperagakan keselamatan di atas pesawat.

“All crew, take boarding position. Roger.” Suara interfon dari sang kapten membuat perjalanan kali ini seakan tidak sabar segera berjumpa dengan aura laut dan udara sejuk. Tak berapa lama, pesawat pun mulai perlahan naik ke atas meninggalkan landasan terbang menuju penerbangan dini hari dari Bandara Soekarno Hatta membawa kami menuju Maluku Utara. Kantung mataku pun mulai menutup akibat perjalanan jauh dari Palembang demi membuktikan sendiri indahnya Tidore Kepulauan. Lalu, bercerita kembali kepada kalian dalam tulisan agar apa yang saya rasakan tidak terhenti sampai di sini saja.

Kalian sudah siap?

Tidore Dalam Balutan Sejarah di Mata Dunia dan Indonesia

Rute terbang menuju Tidore melewati Ternate

Tanganku menarik majalah yang terselip di depan bangku penumpang. Halaman per halaman kubuka dan kuhabiskan untuk dibaca. Hingga sampai halaman akhir, halaman yang berisikan peta rute penerbangan. Mataku pun sempat memandang lama bahkan kuusap sejenak melihat dimana nama “Tidore” dalam peta tersebut. Sayangnya nama itu pun tidak berhasil saya temukan dalam peta. Barangkali bagi orang, Tidore hanyalah sebuah kepulauan kecil yang tidak memiliki makna bagi Indonesia.

Dengan berbekal pengetahuan saya di bangku sekolah mengenal Tidore adalah dimulai dari nama Sultan Nuku yang menjadi gravitasi terkuatku untuk mengenal Tidore. Kemasyuran namanya dalam proses pengusiran para elite Inggris dan Belanda yang sempat menjajah pulau tersebut demi tanaman rempah. Hingga akhirnya menimbulkan “bekas” mendalam bagi Ngofa Tidore. Tidakkah kamu berpikir bahwa pulau kecil ini bahkan sangat kecil hingga tidak tampak di dalam peta wilayah Indonesia ini memiliki pesona gravitasi pada masa lampau?

manisan buah pala

Buah pala yang sudah masak sangat sedap dibuat manisan pala.

Orang-orang elite penjajah rela datang demi mendapatkan buah merah dari tanaman pala dan aroma kuat dari cengkeh. Pulau ini memiliki hasil kekayaan alam bumi yang tak bisa kita tutup dari sejarah. Sejarah mencatat masa lalu, sekarang dan masa depan. Saya membiarkan tubuh dan pikiran saya menghanyut dalam perjalanan lorong waktu sejarah.

Kesultanan Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam yang berada di kepulauan Maluku. Kesultanan ini berpusat di wilayah Kota Tidore Maluku Utara. Masa kejayaan kesultanan Tidore terjadi sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18. Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya adalah Ternate, Jailolo dan Bacan. Namun hanya Tidore dan Ternate-lah yang memiliki ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur dimana wilayahnya meliputi Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya.

Sejarah pernah tertulis bagaimana Sultan Nuku yang mendapat julukan Jou Barakati ini memiliki arti Panglima Perang. Kemudian, merasakan kuatnya perjuangan Sultan Nuku dalam hal strategi peperangan dengan kapal Kora-Kora hingga membuat pada masa keemasannya Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, Weda, Seram Timur, Ambon, Papua dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.

Tunggu sebentar. Kalian sedang tidak salah baca dengan apa yang saya baru saja tuliskan, bahkan dua kali saya tuliskan ulang. Luas wilayah kekuasaan Tidore menjangkau hingga Papua! Maka kenapa saya dulu mengatakan semua berawal dari Raja Ampat itu ada alasannya. Alasan yang kuat kenapa saya ingin sekali berkunjung ke Tidore untuk merasakannya sendiri.

Mengenal Sosok Sultan Nuku

revolusi tidore

Revolusi Tidore tidak lepas dari sosok Sultan Nuku

Masa kejayaan Kesultanan Tidore terletak pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku akhirnya menyatukan Ternate dan Tidore ketika kedua kesultanan tersebut “diadu domba”. Dengan “bersekutu” atas bantuan Inggris, Sultan Nuku bersama pasukan melawan kolonial Belanda sehingga Belanda kalah dan terusir dari Tidore. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore menjadi kesultanan yang damai baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat.

Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan wilayah kekuasannya dan membela kebenaran. Sewaktu di dalam Kadato Kie yang merupakan saksi bisu bukti kekejaman yang dilakukan oleh penjajah dengan membakar seluruh isi keraton tanpa menyisakan apapun membuat saya seolah masuk dalam dimensi lain. Dimensi gravitasi yang mengiringku untuk menyusuri jejak kaki di tiap sudut keraton.

kadato kie tidore

Kadato Kie Tidore yang berada di dataran tinggi Soa Sio

Kadato Kie memiliki bangunan kesultanan dengan posisi strategis di Tidore. Letaknya yang di tengah membuat kita dapat memandang seluruh wilayah Tidore dari Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Berhadapan langsung dengan laut dan membelakangi Gunung Kie Matubu yang gagah dan membuat saya ingin mendaki ke atasnya. Keraton kesultanan Tidore yang saat ini sudah mengalami perbaikan sebanyak tiga kali hingga sekarang sejak terakhir mengalami kerusakan parah akibat dibakar pada zaman penjajah hingga tidak menyisakan bukti-bukti sejarah, selain mahkota yang berhasil di selamatkan di salah satu rumah warganya.

mahkota tidore

Rumah yang dulunya menjadi tempat disembunyikan mahkota pada saat kesultanan di bakar.

Dimana letak mahkota tersebut saat ini yang konon selalu tumbuh rambut di atas kepalanya? Biarkanlah menjadi misteri karena kita sendiri tidak mendapatkan izin untuk melihat mahkota tersebut. Sebab, mahkota tersebut “memilih” orang yang bisa melihatnya secara langsung.

Tidak banyak foto-foto lama yang terpajang di dalam Kadato Kie, namun saya masih bisa melihat gambar keraton pada masa lampau sebelum dibakar dan saat mencocokkan dengan bangunan sekarang memang sudah tidak relevan karena ada beberapa bagian yang juga dibangun kembali.

Kakiku terhenti pada sebuah figura besar dengan debu yang menempel di tiap sisinya. Tanpa disadari mataku menatap lama membaca tiap nama yang ada di peta wilayah Kesultanan Tidore dengan spidol merah tebal membatasi tiap wilayah dari Halmahera hingga Papua.

peta wilayah kesultanan tidore

Peta wilayah Kesultanan Tidore pada masa keemasannya.

Bagaikan petir menyambar hati, sungguh tersentuh mendengar cerita heroik perjuangan Sultan Nuku ini langsung dari para Garda Nuku. Garda Nuku merupakan Generasi Muda yang mengibarkan bendera (paji) semangat perjuangan Nuku dan kesolidan mereka tampak sekali dari sorot mata tajam mereka dan kecintaan dengan Tidore.

Melanjutkan kisah Sultan Nuku yang memproklamasikan sebagai Sultan Tidore, Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang. Keberhasilannya dalam membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Penghujung abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Pada titik ini, kebesaran Sultan Nuku dapat dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.

Sejarah Mencatat Revolusi Tidore

kapal koro-koro

Ilustrasi laut ini penuh dengan perahu kora-kora saat dulu. Foto saat Parade Juanga.

Dalam strategi perperangannya, Sultan Nuku berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang dengan kapal Kora-Kora. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Aksi yang dilakukan oleh Sultan Nuku ini dikenal sebagai Revolusi Tidore.

Tepat pada tanggal 10 April pada waktu itu, Nuku beserta prajuritnya yang terdiri dari 150 kora-kora dengan 6000 orang prajurit sudah berada di Pulau Mare dan Akelamo. Dalam taktik strateginya Nuku memberikan ultimatum khusus kepada Sultan Kamaluddin di Tidore untuk menyerah tanpa syarat dan wajib menyerahkan mahkota dan upacara kerajaan kepada Nuku.

Lalu pada tanggal 11 April 1797, Nuku mengeluarkan perintah kepada seluruh panglima perangnya bahwa:

  • Angkatan perang Kaicil Paparangan hanya memerangi kompeni Belanda dan sekutunya Ternate. Orang Tidore tidak diganggu begitu pula orang-orang Ternate yang bersekutu dengan Nuku.
  • Masing-masing pasukan melaksanakan tugasnya sendiri dan melaporkan pada hari yang telah ditentukan, kecuali tugas selesai dalam waktu yang lebih singkat.
  • Jangan membunuh orang yang tidak melawan atau yang sudah menyerah. Jangan membakar rumah-rumah dengan sia-sia.
  • Barang rampasan berupa senjata api, amunisi dan mesiu harus dibawa kembali ke markas berkas.
  • Orang-orang Belanda yang tertawan jangan dibunuh melainkan dihadapkan kepada Nuku.

Momen penyerbuan pada tanggal 12 April 1797, saat fajar menyingsing dan satu pasukan induk dengna kekuatan 70 buah kora-kora dibawah komando Nuku dan Panglima Muda Abdul Gafar, sepasukan sayap kiri dengan 20 buah kora-kora di bawah komando Zainal Abidin, sepasukan sayap kanan dengan 20 buah kora-kora di bawah komando Raja Maba dan pengawal belakang dengan 40 buah kora-kora di bawah komando Raja Salawati mulai bergerak.

Ternyata aksi heroik Nuku beserta rombongan membuat Sultan Kamaludin dan ultimatum yang diberikan Nuku membuatnya lari tunggang langgang melarikan diri ke Ternate dengan lima buah kora-kora dan dikawal oleh sepasukan serdadu Belanda.

Tepat pada saat itu juga, Nuku dan prajurit tiba di Soasio, Tidore tanpa perlawanan apa-apa. Bahkan tidak ada setitik darahpun yang tumpah. Tidak ada sosok orang yang kehilangan keluarga mereka. Semua pasukan disambut dengan sorak dan suka cita oleh Bobato-Bobato, pengurus semua urusan di kedaton dan Kimalaha yang merupakan pemimpin untuk marga-marga yang ada di Tidore. Secara langsung Nuku dinobatkan menjadi Sultan atas seluruh Kerajaan Tidore dengan gelar Sri Paduka Tuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya.

pemenang lomba visit tidore

Ki-Ka : Rifky, Mas Eko, Mbak Zulfa, Saya, dan Yayan. Kami berlima gosong akibat bercumbu dengan Pulau Failonga. Foto waktu Festival Tidore 909 di dalam Kadato Kie.

foto baju adat tidore

Foto bersama Om Gogo, pria tampan berkarakter Tidore dengan ciri khasnya alis tebal dan brewok. Bersama saya pria cina mata sipit dan pesek :)) Kontras sekali bukan? Tampanan siapa? :)))

Tidakkah cerita “Revolusi Tidore” ini membuat air mataku menetes mengenai baju koko putih dengan dilapisin jubah dan besu yang menjadi simbol baju adat Tidore. Sungguh kehormatan serta kebanggaan saya diberikan izin untuk menggenakannya layaknya menjadi orang Tidore.

Kepergian Sosok Baik Nuku Bagi Masyarakat Maluku

makam sultan nuku

Pintu gerbang masuk ke Makam Sultan Nuku di Soa Sio, Tidore. Berlatar Gunung Kie Matubu.

Ada perjumpaan, ada pula perpisahan. Sosok yang diagungkan oleh masyarakat Tidore itupun pergi untuk selamanya saat tanggal 14 November 1805. Tidore seperti kehilangan seorang sultan yang di kalangan orang Inggris dikenal dengan “Lord of Fortune”. Kepergian Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan mendalam bagi rakyat Maluku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.

Tidak jauh dari Seroja, penginapan tempat kami bermalam selama di Tidore berlokasi di Soa Sio. Tepatnya berjalan kaki sekitar 500 kilometer kita bisa menemukan sebuah gapura bertuliskan “Makam Sultan Nuku” yang apabila kita masuk ke dalamnya terdapat sebuah makam dipagar dengan bentuk makam bertatakan batu-batu dan terawat. Makam ini menjadi tempat bagi tiap pengunjung datang untuk nyekar dan memanjatkan lafal doa di depan pusaran Sultan Nuku.

isi makam sultan nuku

Rifky menuntaskan niatnya untuk ziarah ke Makam Sultan Nuku.

Masjid Sigi Kolano atau Masjid Sultan di Soa Sio.

Di dalam area makam yang tidak terlalu besar ini juga terdapat makam-makam dari sultan lainnya. Namun, ada larangan baik perempuan untuk tidak melakukan ziarah ke Makam Sultan Nuku. Termasuk memasuki wilayah Masjid Sigi Kolano atau Masjid Sultan. Masjid yang tidak jauh dari makam ini memiliki aturan-aturan yang berlaku di dalamnya. Khusus untuk pria yang sholat hanya diperbolehkan menggunakan celana kain panjang, baju koko putih dan peci. Sehingga tidak diperbolehkan menggunakan kain sarung atau baju berwarna. Dan sekali lagi, perempuan juga tidak diizinkan untuk sholat di masjid tersebut.

Selain memiliki kecerdasan dan karisma yang kuat, Sultan Nuku terkenal akan keberanian dan kekuatan batinnya. Ia berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang mampu memberikan kepadanya kemungkinan menyeluruh untuk bangkit dan melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan. Bagaikan napak tilas dalam sejarah mendengarkan kisah yang begitu indah bahkan membuatku yang notabenenya orang luar ikut merasakan semangat dan perjuangan Sultan Nuku.

Tidore Untuk Indonesia, Belajar Menyerahkan Segalanya Untuk Kebaikan Bersama

Disaat itu juga, saya mengucap rasa syukur dapat menginjakkan kaki ke Tidore mengikuti gravitasinya yang besar. Namun, ternyata gravitasi Tidore bukan hanya dapat dinikmati dari sejarah saja. Di mata dunia bahkan jauh sebelum kemerdekaan, tersimpan sebuah rahasia yang mungkin belum begitu banyak orang mengetahuinya. Bahkan di saat saya menuliskan dan mengingat kembali dengan apa yang diceritakan diiringi lagu “Ngofa Sedano” membuat saya kembali menitikkan air mata di depan layar laptop.

Di masa lalu Tidore merupakan sebuah kesultanan yang memiliki pengaruh begitu besar di wilayah timur kepulauan Nusantara. Berdiri di abad ke-11, Kesultanan Tidore berpengaruh hingga ke Papua negeri-negeri lain di Samudera Pasifik.

Tidore bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950, bersamaan dengan hancurnya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diciptakan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada Desember 1949. Di tahun 1956, Tidore berperan dalam pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat. Di tahun itu pula Sultan Zainal Abidin diangkat sebagai Gubernur Irian Barat dan Tidore sebagai ibukotanya. Dan masa sekarang, Tidore berstatus sebagai kota di Provinsi Maluku Utara.

Figura yang saya lihat di dalam Kadato Kie menimbulkan efek pertanyaan yang sulit untuk saya pahami kecuali bertanya langsung dengan mereka, Ngofa Tidore ataupun Garda Nuku yang lebih mengetahui alasan tepatnya. Pertanyaan yang sederhana tentang bagaimana proses pembentukkan NKRI jikalau bukan karena Tidore?

Tidore adalah kerajaan besar pada masanya, dan berkuasa hingga seluruh Pulau Papua. Rahasia yang saya katakan mungkin belum banyak orang ketahui bahwa pada saat Presiden Soekarno sampai dua kali untuk “merayu” Sultan Zainal Abidin Syah agar semua wilayah Tidore, khususnya Papua bisa bergabung ke NKRI secara suka rela. Sungguh saya tidak dapat membendung gejola dalam hati bagaimana bisa Tidore secara suka rela menyatakan bergabung  dengan NKRI?

Apakah yang ditawarkan oleh Presiden Soekarno saat itu? Dan apa yang diberikan Indonesia saat ini untuk Tidore? #TidoreUntukIndonesia

Memang benar, gejola dalam hati saya seakan belum ingin keluar dari lorong waktu mendengarkan kisah-kisah sejarah yang sangat luar biasa. Dari sini saya belajar sifat legowo teramat kiamat, meminjam kosakata baru yang saya dapatkan saat di Tidore menggambarkan kata “kiamat” sebagai frase sangat. Jika tidak ada Tidore, maka tidak ada Sabang sampai Merauke.

boki-tidore

Foto keluarga bersama Boki, permaisuri Sultan.

ngofa tidore

Para Ngofa Tidore dan Garda Nuku di Cafe Kora-Kora Rebel.

garda nuku

Foto bersama Garda Nuku di Bukit Angus, Ternate. Foto dari Katerina.

Selama berada di Tidore dan bersama “keluarga baru” saya, saya merasakan mereka Ngofa Tidore tidak meminta imbalan apa-apa. Keikhlasan mereka menyerahkan semua wilayah untuk bergabung ke NKRI sudah terjadi. Namun, saya masih merasakan “duka miris” yang tampak untuk masa sekarang bahwa keikhlasan mereka belumlah mendapatkan kelayakan atas jasa-jasa yang ditorehkan oleh para leluhur. Sama dengan perhatian pemerintah terhadap negeri-negeri yang lain.

laut halmahera

Tidore Kepulauan dikelilingi oleh Laut Halmahera. Ayo jaga kebersihan laut kalian!

Mohon berikan saya jeda untuk menarik nafas sejenak kemudian kembali mengetikkan kata-kata yang barangkali sangat sulit bagiku untuk ceritakan. Saya sudah menyadarinya saat berada di Tidore bahwa ini akan menjadi bagian yang tersulit saat bercerita kembali. Kita, tidak boleh membiarkan Tidore terlalu jauh ditinggalkan bahkan tidak diperhatikan. Pulau kecil ini banyak menyimpan “rahasia” yang belum banyak diketahui oleh kita. Cerita sejarah yang saya dapatkan barangkali ini bukanlah yang mendalam, tapi tidak membuat saya bodoh dan menutup pemikiran saya. Ternyata, di dalam rumah kita di Indonesia ada satu kamar yang ditempati yaitu Tidore. Kearifan lokal yang sangat erat dalam mempertahankan tradisi dan saat ini sedang berjuang mempertegas jatidiri bahwa mereka pernah menjadi bangsa Maritim.

Jari jemari saya ingin terus mengetik dan berbagi cerita perjalanan saya di Tidore. Memang ini bukanlah kisah yang dapat dituntaskan dalam waktu satu tulisan ataupun satu malam. Bahkan saya iri dengan kalian yang mana saya dapat mengenal langsung dengan kesultanan kalian daripada kesultanan yang ada di kota kelahiranku yang jujur ada rasa ingin mengenalnya juga. Ketika saya ikut menikmati perjalanan selama 6 hari 5 malam masih merasakan belum cukup untuk mengenal lebih dekat dengan Tidore. Jika ada jodoh, saya ingin mengulang kembali.

Syukur Dofu-Dofu!

To Ado Re, Tidore…

Aku telah sampai, Tidore…

Iklan

63 pemikiran pada “Tidore Tempo Dulu, Sekarang dan Masa Depan

  1. Ping balik: Failonga, Unspoken Beauty of Tidore | Indonesia Travel Blogger

  2. Secara ibu saya orang maluku, saya selalu punya kesan dan ikatan khusus dengan provinsi ini.
    sayangnya saya baru pernah menginjakkan kaki di Ambon dan Banda Neira, mudah2an Tidore juga bisa dijelajahi suatu saat nanti.

  3. Wah, kalian nyampe agak siangan ya jadinya bisa ngeliat Tidore dan Maitara dari pesawat. Aku, Rifqy dan Mbak Zulfa sampe sana masih pagi banget, berkabut di bawah, dan silau di kaca pesawar. Cuma bisa menerka-nerka pulau-pulau yang ada di bawah itu apa aja

    Btw, masih kentang nih. Masih banyak banget yang belum dieksplor: Kadato Biji Negara, Seli (salah satu tempat bersejarah di Tidore), juga bekas-bekas kadato lama di Mareku dan Rum. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi ke sana, plus dengan kamera lebih bagus. Hahaha.

  4. dari atas pesawat udah keliatan keindahan tidore ya mas…
    tidore emang tempat penus sejarah dengan kesultanannya. sampe sekarangpun budaya itu masih kental terlihat…

    btw, sekalikali tulis tentang tulehu dong mas. hehehe

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s