Karena Gambut Kita Bertemu Senja


Dua puluh tahun lalu merupakan lahan gersang terbakar, bahkan kebakaran parah kedua terjadi kembali beberapa tahun kemudian. Kini, Kebun Konservasi Plasma Nutfah Sepucuk, Kelurahan Kedaton, Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan menjadi contoh lahan restorasi gambut berbasis ekonomi mendukung program restorasi gambut nasional. Di lahan seluas 20 hektar itu telah masuk dalam kawasan demonstrasi plot (demplot) restorasi sejak tahun 2010.

Restorasi lahan gambut menjadi salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sejak 2016 dan telah tertuang dalam Peraturan Presiden RI No.1 Tahun 2016. Salah satu isinya tentang pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG). Misi yang ditugaskan untuk mengkoordinasikan dan memfasilitasi restorasi lahan gambut seluas dua juta hektar dalam kurun waktu lima tahun. Lahan yang direstorasi tersebar di tujuh provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Peta Indikatif Restorasi dan Kawasan Hidrologis Gambut Sumsel

Peta Indikatif Restorasi dan Kawasan Hidrologis Gambut Sumsel. Peta: WRI dan Deltares 2016

Dari target dua juta hektar lahan, lebih dari 400.000 hektar berada di Sumatera Selatan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menargetkan upaya restorasi lahan gambut pasca kebakaran dapat terealisasi sebesar 30% atau seluas 140.400 hektar pada tahun 2017.

Kebakaran besar di 2015 mengharuskan pemerintah segera melakukan upaya mengatasi lahan gambut yang telah terbakar. Jadi strategi terbaik sebenarnya adalah melakukan pencegahan kebakaran lewat restorasi. Hal ini berarti, gambut yang telah mengalami degradasi dan kering harus dikembalikan fungsi ekologis dan hidrologisnya.

Kalau ditanya, “Memangnya saya tahu apa tentang lahan gambut?” Sudah pasti saya akan menjawab, “Ya saya tidak tahu.”

Sebuah kesempatan langka saya dapat mengunjungi lahan bekas terbakar pada beberapa tahun silam. Saya sempat bersama rombongan mengunjungi Desa Sepucuk, Kayu Agung. Melewati Jembatan Ampera yang membelah Sungai Musi, butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari kota Palembang menuju Kayu Agung. Lalu, perjalanan ke lokasi kebun konservasi dari Kayuagung sekitar 45 menit. Kedatangan kami di lokasi sudah petang. Suara serangga hutan yang khas terdengar ketika memasuki kawasan hutan gambut ini.

lahan gambut

Pertama kali menginjak lahan gambut

Kami disambut Kepala Balai Litbang LHK Sumsel, Thabrani serta Peneliti Silvikultur LHK, Bustoni yang mengiring kami menuju area hutan menyeberangi aliran air berwarna seperti teh hitam. Kaki saya sempat ragu manakala turun ke lahan gambut. Terasa amblas ke dalam, lalu timbul kembali saat kaki diangkat. Seperti pasir hisap yang akan menelan siapapun, pikiran saya langsung tertuju dalam adegan film yang pernah ditonton.

Di kelilingi pohon jelutung dan ramin yang masih berusia 7 tahun, saya mulai menyimak penjelasan mengenai area konservasi lahan gambut ini.

Gambut adalah wilayah dengan tanah yang lunak dan basah. Dapat terjadi karena pembusukan tidak sempurna dari bahan organik. Ketika substrat ini mengering, maka bahan organik cenderung akan lebih mudah untuk terbakar. Lahan gambut yang dikeringkan akan menyebabkan area ini akan sangat rawan bahaya kebakaran. Masuk musim kemarau, hamparan gambut akan mengering dan menjadi daratan. Orang-orang yang ingin memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian akan membakarnya, karena itu cara paling murah dan praktis. Seresah dan kayu yang lapuk akan mudah sekali terbakar. Akibatnya api akan masuk ke dalam lapisan dan merembat di dalam tanah bukan di permukaan ditandai keluarnya asap. Inilah yang menyebabkan kebakaran lahan gambut susah dikendalikan dan dipadamkan.

Menyimak penjelasan tahapan restorasi lahan gambut di kebun plasma nutfah Kayu Agung

Menuntaskan rasa keingintahuan terhadap gambut

Area yang dibatasi tali merupakan area untuk penanaman 100 bibit spesies lokal

Kebakaran hebat pernah melanda lahan restorasi gambut Sepucuk ini pada tahun 1997 dan sempat terulang kembali pada 2006. Saat itu, dunia international menyoroti OKI karena kebakaran hebat. Hutan dan lahan rawa gambut yang terdegradasi berat oleh kebakaran, butuh penanganan serius. Pemulihan atau restorasi secara alami sangat sulit terbentuk dan membutuhkan waktu lama. Perlu biaya sangat besar. Lalu, bagaimana cara mereka mempercepat merestorasi?

Pasca kebakaran, tumbuhnya tumbuhan alami sangat minim, karena hanya tumbuhan tingkat rendah seperti paku dan lumut yang tumbuh. Tumbuhan tingkat tinggi sangat susah tumbuh, mungkin mustahil.

Restorasi dipercepat melalui teknik silvikultur khusus yang mengacu pada 3 karakter lahan kunci, yaitu kedalaman gambut, kedalaman genangan air, dan kedalaman muka air tanah. Status ketiga karakter lahan tersebut akan membentuk apa yang disebut sebagai Karakteristik Lahan Gambut Terdegradasi.

Tahun 2010 lewat kajian dan penelitian yang panjang akhirnya dimulailah drainase atau pengeringan lahan gambut. Tahun 2012 muka air sekitar 20 – 40 cm dan perlahan-lahan mulai mengering. Dengan lahan yang mulai kering dimulailah menanam tumbuhan tingkat tinggi lokal setempat. Sebagian lahan gambut yang terbakar dengan kedalamannya mencapai enam meter, menjadi perkebunan sawit, dan sebagian dibiarkan. Beragam jenis pohon berkarakter lahan gambut yang ditanam, seperti jelutung, ramin, punak, perupuk, meranti, medang klir, beriang, gelam, perepat, dan geronggang. Tapi, jenis tanaman yang dominan adalah Jelutung Rawa (Dyera iowii) dan Ramin (Gonystylus bancanus).

Dua jenis pohon khas rawa gambut Sumatera ini sebagian besar tanaman tersebut menghilang akibat peristiwa kebakaran. Sifatnya yang adaptif di lahan gambut ternyata selain memiliki nilai ekologis juga memiliki nilai ekonomis dan sosial. Fungsi ekologis yang diperankan lahan gambut diantaranya menjaga keanekaragaman hayati, penyimpan karbon, penghasil oksigen dan pengelolaan air. Sedangkan fungsi ekonomi dan sosial budaya dari lahan gambut diantaranya sebagai penghasil getah dan kayu sebagai sumber penghidupan masyarakat, ekowisata serta tempat pendidikan dan penelitian.

Jelutung bisa di sadap getahnya saat usia 6 – 7 tahun dengan diameter minimal 15 cm, dan pada akhir daur yaitu tahun ke-30 kayu jelutung dapat dipanen setelah tidak produktif. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha. Sedangkan, kayu Ramin memiliki harga jual yang cukup mahal di kalangan industri kayu internasional karena pola dan tekstur kayunya yang menarik. Tingginya harga jual dan besarnya kebutuhan pasar terhadap jenis kayu ini ternyata membuat maraknya kegiatan penebangan ilegal di kawasan hutan rawa gambut. Tim LHK Sumsel telah melakukan riset hingga berhasil dikembangkan 25 jenis pohon lokal khas Sumatera seperti Jambi, Riau dan Sumsel, dari target sebanyak 80 jenis pohon.

Jelutung Rawa

Di sela kesempatan mengobrol bersama Bapak Thabrani, saya pun bertanya mengenai indikator keberhasilan restorasi lahan gambut yang sedang berlangsung. Upaya revegetasi pada lahan gambut bekas terbakar tidak segampang melakukan penanaman kembali pada lahan mineral. Salah satu upaya konservasi dan pemanfaatan lahan yang telah rusak. Selain mengembalikan tumbuhan lokal, ekosistem gambut juga bisa mendatangkan fauna yang dulunya migrasi akibat kerusakan lahan. Luar biasa!

Rawa gambut dengan warna air seperti teh hitam

Luar lahan gambut yang masih dalam proses restorasi

“Ini saja kadang ada monyet dan harimau di sekitar lahan gambut,” celetuk Pak Thabrani sambil menunjuk ke kanal air rawa. Kami tertawa bersama seolah paham maksudnya.

Sejak kawasan konservasi ini menjadi kebun plasma nutfah, hingga sekarang kawasan ini jauh dari musibah kebakaran. Lahan gambut sangat bermanfaat sebagai daerah resapan. Hal ini menandakan bahwa kebakaran lahan gambut terjadi oleh karena oknum, karena apabila lahan gambut dijaga maka dapat menciptakan ekosistem yang harmonis.

Tantangan yang dirasakan yaitu sebagian warga yang tinggal di sekitar belum paham mengenai pengelolaan lahan gambut. Untuk itulah, para Tim Litbang LHK Sumsel bertahap melakukan sosialisasi pentingnya restorasi gambut bagi masyarakat dan lingkungan. Secara sosial dapat diterima masyarakat dan memiliki manfaat ekonomi menguntungkan.

Kawasan lahan gambut di Sepucuk ini merupakan jawaban atas pertanyaan dunia bahwa Indonesia serius untuk merestorasi lahan gambut terbakar. Keawaman saya mengenai lahan gambut dicerahkan lewat pemahaman serta pengetahuan baru mengenai #PantauGambut walau hanya beberapa jam saja berada di lahan gambut Sepucuk.

Jembatan Ampera diselimuti asap. Sholad Ied di pelataran Benteng Kuto Besak, 2015

Saya kembali diingatkan peristiwa 2015, tepatnya dua tahun lalu saat kebakaran hutan menjadi “bencana alam” yang dikarenakan ulah manusia. Setiap tahun seolah mata dunia mempopulerkan Bumi Sriwijaya, sebagai lokasi produksi asap kebakaran. Negara tetangga, Malaysia dan Singapura mengeluh dampak menurunnya kualitas udara. Dua pulau besar, Kalimatan dan Sumatera menjadi sorotan karena berkontribusi besar menyumbang asap kebakaran.

Karena gambut kita bertemu senja. Sebentar namun memberi sebuah pengertian, waktu adalah salah satu dari sekian hal yang tak bisa didaur ulang. Bumi bukan untuk hari ini saja, bumi untuk diwariskan kepada anak cucu kita, sehingga siapa pun berkewajiban untuk menjaga kelestariannya. Kami pergi meninggalkan kebun jelutung dan ramin yang sudah rimbun bersiul alunan musik “Imagine” dari John Lennon dalam benak.

Iklan

115 pemikiran pada “Karena Gambut Kita Bertemu Senja

  1. ooooh bwerarti saya juga bisa memantau gambut di daerah saya pake pantaugambut.id ya koooh, soalnya sepi banget informasi tentang gambut (terupdate) yang saya dapatkan

    btw, desain grafisnya keceh banget koooooooh

  2. Makasih infonya koh, aku baru thu struktur tanah gambut seperti itu.
    Jadi ingat, orang Kalimantan kalau bikin rumah dgn kontur tanah gambut mesti bikin pondasinya pakai tiang pancang kayu ulin biar gak ambles.

  3. Mantab jiwa nih tulisannya koh Ded. Btw aku ngeri deh kalau ada kebakaran hutan huhu sedih. Tapi aku yakinlah kalau Indonesia berkomitmen baik utk restorasi lahan gambut. Masyarakat jg harus sadar spy jaga gambut juga. Apalagi udah ada web utk memantaunya. Keren

    • Bayanginnya kalau udah dikepul sama asap. Udaranya gak enak mbak Mei. Sekarang udah ada beberapa website untuk kita #PantauGambut salah satuya ya pantaugambut.id kita juga bisa kontribusi menulis di sana.

  4. Hih bete banget. Barusan udah komen panjanh lebar, hape tiba2 eror. Wkwkwkw…

    Akhirnya lupa td komen apa aja koh…

    Btw semangat koh… Semoga lahan gambut tetap terjaga dan basah…. Soalnya banyak organisme yang hidup di dalamnya pasti.
    Good luck koh

  5. Sepertinya sudah 2 tahun belakangan ini tidak terdengar kabar kebakaran lahan gambut, ya? Semoga tetap aman terkendali sampai kapan pun.

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s