Rumitnya Jadi Seleb Media Sosial Saat Ini


Ide tulisan ini berawal dari komentar facebook Mas Danan di dinding status Mbak Rien tentang konten foto keren yang instagenic.

Lalu, muncullah Mas Danan dengan pose terbangnya dengan kain bak peri terbang ke kayangan. Perut udah tekewer-kewer, udel udah terlihat lalu kain menutupi muka. Peri ini gagal terbang. Saya, mbak Dee, mbak Rien kompak tertawa pecah dalam komentar facebook melihat behind the scene Mas Danan. Seolah kami tahu betul proses saat mendapatkan sebuah foto bagus “demi konten”. Kalau kita googling, beragam trik cara ngehits di instagram, cara menjadi endorse di instagram, cara menjadi selebgram dengan cepat dan mudah.

Walau hanya dalam dunia maya, tapi tawa saya lepas begitu saja ketika jempol asyik scroll timeline laman facebook. Sebegitukah demi konten? Atau ini hanya pencitraan untuk menarik perhatian netizen untuk jumlah likes yang diagung-agungkan Selama ini kalau kalian sering melihat gambar bagus di Instagram, apa kalian pernah membayangkan behind the scene-nya?

Let’s take a closer look into what is really going on!

Baca juga : Asiknya Bermain Media Sosial Dari Belum Kenal Jadi Kenalan

Siapakah Orang di Balik Foto Bagus?

Melalui blog saya ini, saya ingin berbagi pengalaman dengan yang selama ini saya kerjakan untuk menghasilkan konten. Kalau kita bermain di tulisan, hal utama tentu saja kualitas tulisan kita yang menarik dan membuat orang betah untuk membacanya hingga habis. Blog berbeda dengan website yang kurang memiliki sentuhan penulisnya. Sehingga mampu memberikan gambaran apa adanya. Bukan menyadur sama persis dari website lalu dimasukkan ke laman blog. Umumnya tampilan blog lebih sederhana, walau saat ini fenomena landing page melayang-layang memusingkan mata dan lama waktu loading tampil sedang marak. Kamu lagi ngeblog atau isi konten website?

lie on social media

Tiduran di pasir demi konten foto :)) Photo by Mbak Dee

Mas Jose naik ke atas ranjang buat fotoin Pungky.

Kedua adalah kualitas gambar. Gambar yang baik tentu akan mendukung cerita kita, walaupun satu atau dua gambar. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak mengira kalau di balik foto yang bagus pasti ada cerita. Singkatnya, ada orang-orang di belakang layar yang membantu kita untuk mendapatkan foto cetar spektakuler. Saya sendiri belum setenar itulah yang bisa meng­-hire orang untuk menjadi asisten fotografer saya supaya dia bisa terus membantu saya membuat konten.

Foto-foto saya di Instagram banyak difoto oleh teman-teman yang baik. Teman yang saling bergiliran memotret. Saya motoin kamu, kamu motoin saya. Makanya di akhir caption ada ditulis foto oleh siapa. Sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap teman yang memotret kita. Langkah ini bisa menjadi informasi “kepo” bagi stalker untuk tahu kita sedang jalan sama siapa. Makanya nanti biasanya akan ada yang usil dikolom komentar : yang motoin siapa? Hahahaha….

Foto produk. Saya juga terima jasa foto produk loh…

Namun, kalau misal saya sedang tidak ada bala bantuan saat memfoto yang akan saya lakukan mencari angle foto lain yaitu hanya objek bendanya saja. Biasanya saya lakukan saat memotret produk seperti makanan. Memotret makanan pun juga ada suka dukanya sendiri. Kerap kali saat foto makanan kita tata seapik mungkin, lalu karena sudah terlalu lama didiamkan dan terkontaminasi udara, maka makanan itu dibiarkan begitu saja. Hanya makan yang bisa dimakan. Kadang sulit untuk mengetahui rasa aslinya sendiri.

Saya pun beberapa kali pernah mengajak teman saat saya diundang untuk review tempat makan yang memang mengizinkan saya untuk mengajak teman. Tujuannya agar teman saya tahu A sampai Z proses foto makanan, bisa butuh waktu lama sampai perut pun lapar sendiri. Saya sendiri pernah kambuh maag 2 minggu oleh sebab telat makan siang dan salahnya saya tidak tahu kalau menu tempat makan itu hanya satu croisant dan kopi.

Baca juga : Makna Hari Blogger Nasional, 27 Oktober

Proses Menciptakan Karya yang Paripurna

Sebuah foto bagus yang dilihat oleh netizen tentunya akan mencari respon yang beragam. Mulai dari berkomentar nada positif sampai negatif. Kalau kalian mau lihat komentar-komentar pedas netizen bisa kalian lihat sendiri di akun-akun “repost” publik yang lebih dikenal daripada akun asli kreatornya.

Kadang merasa miris ya, akun aslinya justru kurang dikenal daripada akun-akun “repost” tersebut. Tapi, lupakan itu semua sebab para fansku tahu mana yang demi konten atau pencitraan, bukan? Kalian memang luar biasa.

Balik lagi, proses menciptakan karya foto yang paripurna memang perlu ditata sedemikian rupa sesuai ide yang ada di benak kita.

Pose loncat pakai kain yang gitu deh.

Ceritanya mau ikutin foto orang yang keren, ternyata …

Berasa lagi iklanin shampoo rambut panjang terurai

Beberapa pose foto terbang atau levitasi yang pernah saya lakukan itu bukanlah satu dua kali jepretan. Bisa lebih dari lima kali kalau misal hasilnya kurang memuaskan bagi saya, toh yang loncat dan capek sendiri juga saya 😆 Biasanya foto levitasi ini saya lakukan sebagai penanda kalau saya sudah ke tempat tersebut. Supaya ada ciri khas di tiap konten saya saja.

Dari sekian kali jepretan foto selalu saja banyak gagalnya, entah itu dari kaki yang kurang pas, cara loncat yang membuat saya malu sendiri, dan lainnya. Bahkan ada yang perlu sampai guling-guling di tanah atau naik ke atas kasur agar bisa mendapatkan foto dari sudut pandang yang berbeda. Seru kan proses di balik layar supaya punya foto paripurna.

Demi Konten atau Pencitraan?

Bermain di ladang media sosial tidak lepas dari namanya pencitraan. Gaya hidup apa yang ingin kita tampilkan kepada netizen? Sering berfoto di hotel agar tampak kita sering keluar masuk hotel menikmati fasilitas hotel yang nyaman? Foto dengan gadget terbaru sambil ngopi cantik di café?

Saya pernah berpikir bahwa dunia dalam timeline media sosial ternyata tidak ada orang yang miskin-miskin amat. Kaya raya dan selalu bahagia. Rasa bangga saat dapat endorsement dari brand bahwa dirinya tampak femes. Hampir tiap detik tiap menit, ada saja orang yang sibuk posting sana sini di media sosia demi sebuah anggapan dan pencitraan. Sebelum posting, wajah diedit secantik mungkin, lingkungan dibikin semewah mungkin, dan gaya dibikin asik supaya dibilang gaul.

Ini!!! ah sudahlah, kain modal pinjam saling tukeran pakai. Lemak pun nampak. Photo by Mbak Dee.

Netizen saat ini sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh idolanya termasuk demi konten atau pencitraan. Kerap kali, teman-teman saya lebih memilih japri ke saya menanyakan langsung cita rasa makanan yang habis saya upload di @KokoCariMakan untungnya mereka tahu kode etik untuk tidak langsung berkomentar, tapi langsung direct message. Padahal di caption foto makanan sudah saya berikan ulasan mengenai rasa makan tersebut dengan bahasa yang halus.

Dari sini, saya melihat pola netizen saat ini sudah mulai bosan dengan kesempurnaan. Bagi mereka melihat foto-foto yang ditata, teratur dan pose-pose bagus seperti sebuah kesempurnaan yang mungkin hanya sebatas itu saja. Mereka menginginkan hal-hal yang seperti kita lakukan biasa, kehidupan yang tidak perlu dibuat wah. Because everything looks so artificial.

Untuk dapatin hasil foto maksimal, banyak foto-foto yang gagal.

Demi tampak wah oleh orang, ada yang rela meminjam barang milik orang lain numpang untuk memotret lalu upload. Seolah-olah dia punya barang mewah tersebut atau sedang jalan-jalan ke suatu tempat. Namun, saya juga tak ingin membohongi followers dengan berpura-pura seperti itu. Terlebih membohongi diri sendiri.

Baca juga : Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

Mbak Dee tiduran di tumpukan daun getah damar. Katanya bagus…

Mengutip caption dari @pungkyprayitno :

“Disini, semua orang tampil, kadang berebut panggung. Jadi lebih cantik, lebih kaya, lebih bijak, lebih ngehe, kadang lebih bahagia dari aslinya. Pasangan-pasangan lebih mesra padahal aslinya berantem mulu. Ibu-ibu kelihatan bak bidadari dari langit padahal aslinya anak numpahin air dikit aja nyerocosnya rauwis-uwis. Bapak-bapak kelihatan family man banget padahal anak ngompol ya dia tetap aja molor.

Tapi ngak apa-apa. Karena masa ibu lagi marah sempat foto dulu, kan enggak. Atau tiap sedih diposting ya malah senep liatnya. Karena memang sudah ke sanalah dunia berjalan, ke era pencitraan itu, dan ibu memilih ikut.”

Membaca caption ini saya jadi teringat berita jatuh dari motor, tapi si korban minta difoto dulu untuk di­upload ke media sosial sebelum ditolong. Kadang berpikir di mana akal sehatnya ya? Atau saya juga pernah membaca berita ngutil di mall agar bisa berfoto seolah-olah punya barang tersebut. Sakit!

Sudah Tepatkah Kalian Follow Seleb Sekarang?

Instagram berkembang menjadi salah satu media sosial yang populer di milenial saat ini sejak 2010. Dia memberikan ruang khusus di mana kita dapat memposting berbagai aktivitas kita seperti foto, video, bahkan dapat dijadikan lahan bisnis bagi pengguna.

Sebagai kreator konten dan influencer, saya lebih memilih menyampaikan apa adanya. Mempromosikan produk yang memang saya gunakan serta membuat foto agar tampak lebih menarik supaya bisa bekerjasama dengan brand dan klien yang mau membayar jasa sesuai dengan usaha dan hasilnya. Sebab hidup ini sudah penuh drama. Dunia media sosial itu pergerakannya sangat dinamis. Tiap detik ada ratusan ribu pengguna yang meng-upload foto dan dilihat oleh jutaan orang.

Ada fotografer, model dan sutradara di sebuah konsep foto. Photo by Pungky Prayitno

Kadang berpikir demi apa ya saya capek loncat berkali-kali, pose tahan nafas beberapa detik agar buncit sedikit mengempes, tiduran di pasir, atau berpanas ria di bawah terik matahari. Agar konten yang saya hasilkan dapat memanjakan mata followers dan sudi memberikan likes. Namun, saya juga tidak ingin menutupi proses di belakangnya.

Demi konten yang kami lakukan dan senangi. Ada nilai effort di dalamnya yang mungkin orang lain belum sadari. Hal yang kenapa kami sangat ingin dihargai bukan hanya foto kami di-repost dan parahnya kadang foto kami di-monetize sama oleh akun “repost” mereka. Kita yang capek membuat konten, mereka yang nerima hasil. Tapi itu adalah resiko, sifat oportunis yang sulit dilepas dari sifat kita sebagai manusia.

Jujur pada diri sendiri. Kita juga tidak perlu pura-pura kaya kalau kenyataannya biasa saja. Sekarang setelah kalian sudah tahu sebagian behind the scene social media yang tampak sempurna itu, saya juga ingin mendengar insight bagaimana menurut kalian?

***

Postingan bersama ini berawal dari obrolan kami tentang Behind The Scene sesi pemotretan blogger. Mau lihat postingan dan foto nista lainnya? Simak tulisan di bawah ini.
1. Danan Wahyu : Blogger, Sibuk Pemotretan Instagram dan Syuting Youtube
2. Katerina S :
3. Dian Radiata :

Iklan

179 pemikiran pada “Rumitnya Jadi Seleb Media Sosial Saat Ini

  1. Bener bangeeet usaha bikin konten yang ‘layak unggah’ itu butuh effort banget Hehe. Tapi kalau aku itu jadi kepuasan tersendiri juga mas. Nggak dipungkiri ada unsur pencitraannya juga hehe.

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s