Solo Traveling vs Traveling dengan Teman


“A journey is best measured in friends, rather than miles” – Tim Cahill

Topik tentang travelmate selalu menarik pembahasan. Saya yakin kalian juga punya kriteria memilih teman perjalanan. Sisi lain, ada orang lebih menyukai jalan sendirian atau solo traveling. Salah kah? Tentu saja tidak, apapun pilihannya keduanya mengajarkan kita banyak hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah.

Pengalaman solo traveling, bepergian sendiri membuat saya banyak kesempatan belajar untuk lebih mengenal kemampuan diri sendiri. Di Ambon, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Sendiri di kota baru tentu ada rasa takut. Saya belajar lebih banyak berkomunikasi dan bergantung ke diri sendiri. Tetapi saya juga suka jalan-jalan dengan teman atau kelompok baru.

Mana yang menyenangkan?

Ingin Menantang Diri Sendiri? Cobalah Solo Traveling

solo traveling

Solo traveling di Ambon

Solo traveling memang memiliki kebebasan, kapanpun kalian merasa ingin melakukan aktivitas dan pergi ke tempat baru bisa diputuskan sendiri. Tidak ada orang yang akan menghalangi. Keuntungan lain, waktu untuk menjelajahi tempat wisata bisa lebih cepat karena tidak harus saling tunggu. Kadang-kadang bisa saja bertemu orang asing ketika sedang menjelajah sendirian. Merasa mendapat chemistry dan kesamaan tujuan bisa saja menjadi teman perjalanan kalian.

Saya jagi ingat waktu berkunjung ke Taman Prasasti, Jakarta. Ada pemandangan menarik yang saya jumpa ketika bertemu pasangan yang tengah foto bersama menggunakan tripod. Pikir saya, pasangan ini unik karena setelah menyalakan timer, si pria langsung lari mendekati pasangannya untuk berfoto. Melihat repotnya mereka harus bolak balik mengatur tripod, saya menawarkan bantuan memotret mereka. Di situ awal saya perkenalan dengan Mike dan Maria.

solo traveling

Kekurangan solo traveling itu tidak ada foto diri sendiri.

solo traveling

Mike, Maria, Saya, Helena, dan Darius.

Kemudian waktu di Ambon kemarin, saya mencoba mencari tour guide lokal sekaligus untuk menyewa kendaraan. Dari beberapa nomor yang saya dapat dan hubungi ternyata hanya memberi harapan palsu tanpa konfirmasi ke saya kalau mereka tidak bisa. Kalau saya tidak mengikuti insting untuk menyiapkan rencana lain tentu saya tidak bisa menjelajah Ambon.

Jalan Bersama Teman Juga Tidak Buruk

travel blogger indonesia

Kemesraan yang tertangkap kamera

Jalan-jalan berkelompok juga pernah saya lakonin, biasanya kalau ada undangan media trip atau trip pribadi seperti waktu saya ke Korea beberapa tahun lalu. Jalan bersama orang lain tentu saja menyenangkan, apalagi kalau orang tersebut memiliki karakter yang asik dan sama visi.

media trip

Waktu media trip ke Genting, Kuala Lumpur (pic : @catatanbackpacker)

Pengalaman saya waktu media trip ke Jogja tahun lalu, ketika Lenny, saya, Yayan, Koh Karnadi dan Shah kembali pulang ke halaman belakang Taman Sari untuk mengambil foto itu adalah pengalaman kocak bagi saya. Bagaimana tidak demi konten kami sepakat untuk keluar dari rombongan. Selain itu ada Koh Karnadi yang bisa memotret tentu saja menguntungkan kami. Ketika sedang suntuk ada saja tingkah konyol yang membuat situasi jadi lebih enak dan asik.

Kiat Menjadi Travelmate Ideal

Punya teman perjalanan itu sebenarnya banyak untungnya, mulai dari bisa menghemat biaya pengeluaran, teman ngobrol saat menunggu pesawat, dan yang paling penting adalah menciptakan momen untuk dikenang satu hari.

makna traveling

Traveling adalah bagaimana kita menciptakan momen.

Saya pribadi lebih senang traveling bersama teman, entah tiga atau lima orang. Alasannya karena saya payah dalam mengingat jalan termasuk Google Map. Hahaha… jadi saya butuh teman perjalanan yang bisa saya andalkan apabila sedang tersesat dan sama-sama mencari jalan keluar. Yayan pernah jadi saksi pas kita trip bareng di Tidore, waktu itu saya bingung arah dan sudah berjalan 500m. Sadar salah jalan, saya memutuskan kembali pulang ke titik awal dan ternyata mereka sudah menunggu.

Mencari teman perjalanan bukan perkara mudah dengan sembarangan atau asal pilih pasangan. Sama seperti jodoh, teman perjalanan itu akan menjadi cerita perjalanan di kemudian hari. Bagaimana mood kita bersama mereka, jangan sampai dari di tengah perjalanan kita sudah merasa kurang sreg karena baru kelihatan karakter dan watak teman. Untungnya sampai sekarang saya belum mengalaminya baik dalam media trip atau trip pribadi.

Barangkali alasan ini bisa dijadikan acuan untuk memilih teman perjalanan agar perjalanan kita menyenangkan.

1. Saling terbuka keinginan masing-masing

macao trip

Saat di Macao, kami mencari makanan halal

Ketika saya merencanakan backpacker ke Korea tahun 2013 lalu, saya dan teman-teman lain saling terbuka dengan keinginan ketika sudah tiba di Korea. Kalau ada teman yang sifatnya manut saja maka itu enak karena dia bisa dipastikan aman. Tapi kalau ada teman yang sudah punya keinginan misalnya ingin belanja kosmetik sedangkan teman satunya tidak mau belanja maka itu harus dicari solusinya. Waktu itu berhubung saya tidak terlalu gila kosmetik, saya lebih memilih mencicipi street food yang ada di sekitar Myeondong saja. Namun ketika kita memiliki keinginan yang sama maka saat jalan terasa lebih nyaman.

2. Mencari aktivitas yang disukai saat liburan

Apakah kalian memiliki selera dan tipe traveling yang sama? Tipe traveling saya lebih suka menjelajah sejarah, bangunan, kuliner, atau pemandangan. Saya mungkin kurang cocok kalau jalan dengan orang yang suka dugem karena saya kurang menikmati. Jadi sebelum memulai perjalanan kalian bisa menggali aktivitas apa yang diminati dan pastikan ada teman kita tidak keberatan apabila kita melakukan aktivitas tersebut. Intinya adalah bisa fleksibel dengan situasi.

3. Saling memberi kontribusi

traveling ke krui

Saling pinjam kain demi foto paripurna

Perlu dipertanyakan juga apakah teman perjalanan kalian tidak suka mengeluh dan santai. Trip saya ke Krui, Pesisir Barat Lampung beberapa waktu lalu juga berkesan. Waktu itu saya jalan bareng Mbak Dee, Yayan, Yuk Rien dan Yuk Annie. Sepanjang perjalanan tidak berhenti ketawa di dalam mobil. Kami saling mengerti untuk mengambil foto terbaik. Kadang kita juga bertemu hal “konyol” di luar perkiraan. Teman perjalanan yang bisa membuat kita tertawa apabila bertemu hal tersebut dia adalah teman perjalanan terbaik.

Hal yang tidak bisa didapat ketika solo traveling adalah teman curhat. Jangan menyangkal kalau saat kalian traveling ada rasa pengen curhat cuma tidak tahu mau curhat ke siapa secara langsung.

4. Traveling itu bukan soal hemat saja

tidore

Makanan tidak mewah tapi nikmat

Beberapa kali saya dapat pertanyaan bagaimana jalan-jalan hemat? Pertanyaan abstrak ini umumnya ditanyakan oleh pejalan awam. Jalan-jalan itu disesuaikan dengan ukuran dompetmu, jika kalian merasa belum mampu jangan dilakukan apalagi ikut-ikutan kemudian berhutang. Carilah teman perjalanan yang pelitnya nggak kebangetan, misal kalian mau ajak dia naik bus tapi dia mau jalan kaki, sedangkan jaraknya itu 5km. Yakin kalian mau jalan kaki 5km demi menghemat ongkos? Atau bisa juga perihal makan, kalian sepanjang hari cuma makan mie instan saja, rasanya konyol kan. Hal-hal kecil seperti ini krusial terjadi, makanya kalian harus kenali dulu calon travelmate.

Kalian boleh hemat, cuma kalau hemat itu menyusahkan diri kalian sendiri dan membuat kalian tidak menikmati untuk apa? Punya uang untuk naik transportasi supaya mempercepat waktu, kalian lebih memilih jalan kaki. Bisa makan enak kalian pilih makanan instan yang akibatnya sakit saat perjalanan. Maaf, tingkat kemampuan seseorang memang berbeda namun rasional juga tetap perlu dijalankan.

5. Punya kemampuan fotografi itu bagus

travel fotografi

Punya kemampuan fotografi nilai plus

Salah satu hal saya suka jalan sama teman adalah mereka bisa membantu kita untuk foto. Jelas beda rasanya ketika kita foto selfie dengan difoto oleh orang lain. Kalian pasti pernah mengalami pas teman foto hasilnya kurang pas, miring atau blur. Mau marah? Saya biasanya senyumin saja dan coba memaklumi. Penyebabnya mereka belum punya kemampuan fotografi yang bagus. Solusinya kalau saya kasih gambaran foto yang saya inginkan. Ya, kurang lebih teman perjalanan seperti itu deh.

6. Selesaikan hutang baru boleh jalan

Banyak terjadi kalau saat jalan-jalan bareng, pulangnya jadi musuh oleh sebab ada hutang yang belum diselesaikan. Biasanya salah satu teman akan bilang, “Eh pakai uangmu dulu ya nanti baliknya aku bayar.” Ada baiknya sebelum kalian akan berangkat, lalu pamer foto-foto di media sosial hutang dengan teman sudah lunas.

***

Penjelasan di atas jangan terlalu dijadikan patokan dalam mencari teman perjalanan. Namun, ini yang membuat gaya traveling seseorang berbeda. Kalau mendapat travelmate yang easy going, fun dan gila itu adalah bonus. Kunci kenyamanan menjadi teman perjalanan baik adalah saling terbuka, menjaga emosi serta saling peduli. Ketika kalian berangkat bersama berarti pulang juga bersama.

Karena sebuah perjalanan lebih baik diukurkan dengan teman, bukan jarak. Kalian bisa pergi jarak jauh apabila pergi sendiri, tapi kalau bersama teman kalian bisa pergi lebih lama dan menyenangkan. Oh ya, ngomong-ngomong kalau menurutmu apa saja hal-hal yang harus dimiliki agar menjadi teman perjalanan yang menyenangkan? Bagi jawabannya melalui kolom komentar di bawah ya!

Last but not least, saya siap jadi teman perjalananmu!

Iklan

28 pemikiran pada “Solo Traveling vs Traveling dengan Teman

  1. Baca nomor 6 aku jadi ngakak,ko …
    Kok yaaa ada orang kayak gitu .. pamer foto liburan di sosmed tapi masih nunggak hutang 😁
    Liburan nyaman buatku sih, ngga pakai acara ngutang … ntar yang ada malah jadi beban.
    Lebih enak dan nyaman liburan tanpa ada pikiran juga tanggungan hutang.

  2. Klo aku lebih menikmati solo traveling sih,, lebih feksibel aja, karena kadang keinginanku juga aneh2 haha… bukan berarti gak suka traveling bareng2, suka juga,, cuma aku klo lagi rame2 jadi tipe yang manut aja dah ngikut kemanapun hihi..

    Tapi jelas, paling menyenangkan traveling berdua sama pasangan,, yang single jangan pada mupeng wkwkwk..

    -Traveler Paruh Waktu

  3. Kalau saya suka teman yang nggak ribet, alias kalau mau makan nggak harus pilih-pilih tempat. Soalnya kalau sesama cewek mau makan aja riwehnya nentuin tempat 😀

  4. Solo traveling atau group traveling kembali ke destinasi yang akan kita tuju, menurut gue. Kalau gue mau ke satu tempat yang gue suka banget (yaitu kota-kota di luar negeri), gue nggak mau group traveling, paling mentok 2 orang. Itu pun harus dengan travelmate yang manutan. Gue nggak segan-segan misahin diri kalau tujuan kita beda.

    Kalau ke tempat-tempat di Indonesia dan destinasi di luar negeri yang angkutan umumnya belum bagus, Phuket misalnya, ya enaknya grup biar bisa share cost. Group traveling juga biasanya dipilih buat acara jalan-jalan yang tujuannya kebersamaan. Misalnya saat gue ke Cirebon sama temen-temen kantor.

  5. Pilih kawan sekamar jugo idak gampang Ded. Pengalaman sekamar dengan kawan yg jorok, aaaihhh bikin ilfil dan teringat terus sampe balik hahahahaha.

  6. Setuju. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ga ada yang mutlak lebih baik buat saya.

    Walau gitu, makin tua, saya lebih rela buat nelen pahitnya solo traveling buat nikmatin kemewahannya. Bayar lebih mahal dan prepare lebih repot jauh lebih oke.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.