Kebaikan Itu Menular, Tularkan!


Hidup di tengah lingkungan muslim, saya terbiasa dengan hiruk pikuk kegiatan mereka. Bahkan dalam keluarga besar juga ada kerabat yang mualaf. Kakek saya dari Tiongkok menikah dengan nenek saya asli Indonesia. Suara adzan bukan hal asing di telinga saya. Hampir lima waktu saya mendengar suara indah adzan berkumandang dari samping rumah. Melihat cara orang mengambil air wudhu, bangkit dari sujud setelah mencium sajadah. Pemandangan indah ini selalu berdebar setiap saya melihat dari samping rumah.

Beberapa teman bertanya tentang kehidupan sosialisasi saya, apa pernah merasa terganggu dengan lingkungan mayoritas muslim? Selama hidup bertetangga dengan lingkungan muslim saya belajar tentang toleransi. Lantunan merdu suara adzan berkumandang menandakan ada kerinduan untuk bertamu ke rumah Sang Pencipta. Gema “Aamiin” ibarat sepucuk doa indah yang berharap dapat terkabul. Saya seperti berada di kawasan aman karena setiap 5 waktu kawasan rumah saya ramai dikunjungi oleh orang-orang baik.

Sebagai Nonmuslim, Bolehkah Saya Ikut Rindu Ramadan?

Tak ada yang lebih indah selalu mengadu cerita pada Sang Pencipta.

Walau saya bukan muslim, teman saya sering berbagi ke saya tentang apa makna bulan Ramadan mereka. Ada satu yang mengena di hati yaitu selama sebulan penuh berpuasa selain menahan nafsu duniawi juga harus melatih mengontrol diri.

“Saya rindu Ramadan,” seru ke salah satu teman muslim saat sedang makan siang bersama. Rindu suasana syahdu selama satu bulan penuh. Saya senang melihat para tetangga muslim dekat rumah mulai berbenah rumah mereka. Lingkungan rumah tidak lepas dari tausiah setiap sore. Hati sejuk ketika mendengar tausiah, ada saja hal-hal jadi baik yang bisa saya petik dari mendengar tausiah.

Hidup sebagai minoritas di Indonesia, saya bersyukur teman-teman saya tidak membatasi pertemanan dan menerima perbedaan. Bagi saya, Ramadan termasuk momen langka dan mengandung nilai kebaikan. Sejatinya saat Ramadan adalah pengalaman spiritual, tentang segala hal yang bermanfaat, bicara mengenai empati dan respek. Teman-teman muslim saya harus berpuasa selama 30 hari dari waktunya matahari terbit hingga matahari terbenam.

Saat Keyakinan Saya Diuji

Pernak-pernik Ramadan yang terlihat adalah hadirnya pasar bedug. Banyak orang mencari peruntungan dengan berjualan takjil. Uniknya jajanan di pasar bedug terkadang kita suka menemukan jajanan yang hanya ada selama Ramadan. Sore itu selesai saya menyelesaikan tulisan di depan laptop, perut mulai rasa lapar. Kemudian, saya memacu motor setelah mengunci pintu rumah untuk mencari udara segar sekaligus berburu takjil.

Selama bulan Ramadan, cuaca terik menjadi tantangan bagi yang berpuasa. Saya lebih memilih berteduh sejenak di dalam mall. Apalagi kemacetan di Palembang sulit diprediksi, bulan puasa lalu lintas justru bertambah ramai dengan orang-orang yang ingin mencari takjil atau menu berbuka puasa. Setelah mendapatkan makanan sebagai reward seharian menulis, saya segera pulang ke rumah.

Ketika saya sudah berada di depan pintu rumah, ada perasaan curiga dan tidak enak. Saya tiba di rumah saat orang-orang akan berbuka puasa. Melihat motor tidak dikenal berada di samping rumah. Dua orang asing berada di dalam rumah, saat itu detak jantung naik cepat. Mereka mengacak isi ruang tamu. Saya panik hingga lupa untuk bernafas. Salah satu dari penjahat keluar menemui saya sambil mengarahkan pistol agar saya diam dan pergi. Saat itu dalam benak yang terpikirkan adalah bagaimana cara saya kabur dan selamat dari ancaman mereka.

Segera saya pacu motor untuk segera keluar komplek rumah. Panik memang merusak semuanya. Saya menekan nomor kakak saya untuk memberitahu situasi, namun dia tidak mengangkat. Otak saya mulai berpikir mencari pertolongan warga kemudian bantuan polisi terdekat.

Kondisi rumah saya penuh dengan warga, polisi dan TNI bersenjata. Rumah saya seperti lokasi syuting film, apalagi saat seorang TNI meletuskan senapan ke udara. Walau saya tahu percuma saja, dua orang perampok itu sudah pergi dengan membawa laptop dan kamera yang biasa saya gunakan untuk menulis. Tuhan, mimpi apa saya semalam baru keluar sebentar untuk membeli makanan. Terduduk lemas di depan pintu rumah, seolah menyalahkan diri sendiri. Inikah Ramadan yang saya rindukan?

You Are Not Alone

Saya banyak menerima pesan masuk saat hari kejadian.

Sebagai laki-laki, bohong kalau saya pura-pura tegar, walau saya tetap berusaha senyum di hadapan orang. Tapi saya sadar kesedihan tidak boleh larut lama, barang hilang masih dapat saya beli kembali jika ada rejeki baru. Namun, ada trauma yang membuat saya terbayang-bayang saat pistol diacungkan ke arah saya. Banyak teman-teman blogger yang mengirimkan pesan singkat prihatin atas musibah yang saya alami, baru saya balas setelah beberapa hari kemudian.

Doa-doa dari teman-teman seolah menguatkan kalau saya tidak sendirian. Saya berjanji pada diri kalau saya harus segera bangkit. Penjahat itu boleh mengambil alat kerja tapi tidak kemampuan saya. Saya segera menghubungi beberapa klien saya agar diberi waktu sebab saya belum bisa aktif menulis hingga ada laptop dan kamera baru untuk membuat konten.

“Aku turut prihatin ya. Mungkin aku gak bisa bantu banyak, tapi bolehkah minta no rekening?” Setelah agak tenang, saya mulai membaca pesan masuk satu persatu.

“Makasih ya kak. Aku gak enakan terimanya, beneran. Minta bantu doa aja supaya aku bisa bangkit lagi dan menulis dalam waktu dekat ini. Karena mood pasti lagi ga bagus,” balas saya.

“No no no. I insisted. Doa iya, tentu. Tapi memang ada lebih berkat. Izinkan aku berbagi denganmu juga.” Pesan sejenis bukan hanya satu teman, tapi puluhan teman ikut memberikan dukungan moril. Menerima pertolongan bukan berarti kita lemah. Saya sudah sadar bahwa tak ada manusia yang bisa hidup sendirian. Niat tulus mereka membuat saya sulit membendung haru, saya menyekat mata ketika membaca pesan-pesan dari mereka. Kami berjumpa lewat dunia maya, bahkan mungkin ada yang belum berjumpa namun sudah seperti keluarga. Tidak lama sesudah saya membalas pesan, teman saya telah mengirimkan bukti transfer melalui TCASH. Dalam hati saya berdoa agar mereka juga dibalas kebaikan yang serupa.

Kebaikan itu Menular, Maka Tularkan

Pada akhirnya, semua yang kita miliki akan hilang. Kalau tidak diambil oleh orang, ya diambil Tuhan. Tapi tetap saja ikhlas itu susah sebab kita manusia yang masih memiliki ego. Mas Afit, teman dari Jogja pernah bilang, “Dalam agamaku. Rejeki yang hilang, berarti bakal ada rejeki baru yang menggantikan,” serunya yang membuat saya tersentak.

Setiap kehilangan pasti akan membuat kita sedih. Andai kita tidak berusaha ikhlas dan merelakan. Selamanya hanya merasakan sakit hati yang mendalam. Tanpa hati yang ikhlas, maka sampai kapan pun kita tidak pernah bisa menerima sebuah kenyataan pahit. Saya memilih hidup bahagia seperti bahagia itu sederhana, terasa penuh, damai, dan puas. Faktanya, hidup tak selalu berjalan sesuai yang kita inginkan. Bukan keadaan yang membawa kita bahagia tapi bagaimana cara kita mengisi dan menghabiskannya yang membawa bahagia.

review tcash

Media sosial memiliki dampak positif apabila digunakan dengan benar. (screenshot dari Elvina Yanti)

review tcash

Kondisi paginya rumah Bapak Pranyoto kebakaran, siangnya mengalami laka lantas.

Bulan Ramadan sebentar lagi akan pergi, saya melihat tayangan Instagram Story dari teman-teman untuk mengisi waktu kosong. Lewat sorotan, saya membaca berita yang membuat saya tertegun, ada seorang bapak tua korban tabrak lari kecelakaan motor kemudian rumahnya baru saja kebakaran. Bak jatuh ditimpa tangga, musibah yang dihadapi oleh Pak Pranyoto ini membuat saya ikut merasa prihatin dan ingin membantu beliau. Jari saya segera mencari tahu sumber berita dari seorang perempuan bernama Ririn.

Tercantum nomor rekening pribadi yang digunakan untuk menyalurkan bantuan ke Bapak Pranyoto. Segera saya membuka aplikasi TCASH dari ponsel untuk mengirim uang. Tidak lebih dari lima menit saya sudah berhasil kirim uang ke rekening orang yang tidak saya kenal tersebut. Kemudian saya mengirimkan pesan singkat ke dia.

“Mbak saya barusan transfer untuk bantuan ke bapak Pranyoto. Nominal tidak besar namun semoga saja bisa meringankan biayanya,” ketik pesan pendek saya kirim ke si pemilik rekening.

Ada solusi termudah dalam kondisi apapun, termasuk dalam kondisi hati masih berduka. Ternyata cukup melegakan hati saya setelah berbuat kebaikan. Seolah ada beban yang terbuang. Pikiran dan perasaan saya seolah terkoneksi dengan duka yang dirasakan oleh Bapak Pranyoto. Ternyata berbuat kebaikan itu sederhana, tidak perlu lama berpikir untuk membantu orang yang memang butuh bantuan.

Pakai TCASH, Dua Keuntungan Terlampaui

Seorang ekonom Amerika, Robert Reich pernah berujar, “There will be a time – I don’t know when, I can’t give you a date – when physical money is just going to cease to exist.” Prediksi dari Reich ini ada benarnya karena tanpa kita sadari sekarang lebih menyukai transaksi non tunai, tidak perlu membawa uang tunai yang banyak untuk alasan keamanan.

TCASH dari Telkomsel, memungkinkan kita sebagai pengguna layanan telekomunikasi seluler bisa membayar transaksi di sejumlah toko ritel, membeli pulsa, membayar listrik, hingga menarik tunai di fasilitas perbankan. Uang yang bisa “disimpan” dalam saldo TCASH Wallet juga lumayan, sampai Rp 10 juta. Hanya modal smartphone dan aplikasi TCASH terpasang di dalamnya.

manfaat tcash

Saya mengenal TCASH sejak 2015. Banyak promo menarik sudah saya nikmati lewat stiker bulat berwarna merah tersebut. TCASH merupakan layanan uang elektronik dari Telkomsel yang memudahkan kita agar cashless. Bisa dikatakan Telkomsel telah membuat terobosan dalam cara pembayaran yang mudah dan menarik. Kita tidak perlu membawa uang tunai, cukup tap di mesin manapun. Saya sering memantau promo-promo menarik yang memungkinkan saya untuk berbelanja dan membayar menggunakan TCASH.

Transformasi TCASH saat ini bukan hanya menikmati promo-promo menarik melainkan kita dapat menikmati mulai dari kirim uang pakai TCASH. Kita bisa menikmati layanan non tunai lain seperti isi pulsa dan paket data Telkomsel, beli token listrik, bayar tagihan kartu HALO, TV Kabel, tagihan air, asuransi, beli kode voucher Google Play, bahkan sampai transfer uang semuanya bisa lewat aplikasi TCASH. Inilah dua keuntungan yang terlampaui.

cara aktifkan tcash

Sebelum kalian ingin kirim uang, pastikan terlebih dahulu kalian telah memiliki saldo T-Wallet. Agar kita bisa memantau berapa saldo, promo menarik dari merchant TCASH, termasuk isi saldo t-wallet kita sendiri bisa mengunduh aplikasinya lewat Android dan iOS. Selain itu juga bisa isi saldo di GraPARI terdekat di kota kita. Informasikan nomor Telkomsel yang akan diisi, nominal pengisian dan menyerahkan uang kepada Petugas Kasir. Setelah melakukan transaksi di atas, kita akan mendapatkan SMS notifikasi ke nomor TCASH dengan informasi saldo TCASH sudah bertambah.

Kirim Uang Tanpa Harus Repot

Tidak rumit untuk menggunakan TCASH. Kalau dulu transaksi TCASH lebih dikenal menggunakan teknologi NFC, tetapi saya sering menemukan kendala di lapangan saat ingin membayar di merchant TCASH dengan alasan jaringan sering gangguan atau petugas yang tidak handal dalam pengoperasian mesin EDC. Tetapi sejak penggunaan cashless seperti membeli pulsa untuk ibu, tagihan listrik, donasi atau kirim uang maka saya lebih banyak memanfaatkan aplikasi TCASH Wallet yang sudah saya akui terintegrasi dengan baik.

Misalnya seperti saya yang ingin mengirim uang ke Bapak Pranyoto lewat mbak Ririn sebagai bentuk dukungan moril. Cara (pakai, isi, beli, bayar, etc) TCASH cukup masuk dalam aplikasi TCASH Wallet dalam smartphone, pilih jenis transaksi yang diinginkan kemudian isi nomor rekening yang dituju dan nominal. Konfirmasi kata sandi TCASH agar Tidak sampai lima menit transaksi kirim uang telah berhasil.

Selalu Berbuat Baik Dalam Kehidupan

Mbak Ririn menyerahkan dana bantuan moril ke Bapak Pranyoto.

“Alhamdulillah, subhanallah terimakasih banyak ya mas atas bantuannya. Semoga kebaikannya dibalas Allah Swt dan semoga makin banyak orang seperti mas yang peduli antar sesama, makasih ya mas.”

Kemudahan transaksi digital masa kini memang membantu kehidupan kita sehari-hari. Membuat saya tergerak hati segera mengirim uang #PakeTCASH membantu Bapak Pranyoto. Kebaikan itu menular seperti energi positif yang bisa dirasakan. Kita tidak tahu kalau bentuk kebaikan sederhana saja dapat memberikan arti bagi kehidupan orang lain.

Saya telah menerima kebaikan dari teman-teman, dan tahu diri kalau kebaikan tersebut tidak boleh berhenti. Maka, ketika saya membaca cerita Mbak Ririn secara tidak langsung hati saya tergerak ingin membantu. Info terakhir, saya mendapat kabar bahwa bantuan untuk Bapak Pranyoto sudah diserahkan langsung ke beliau. Orang yang menabraknya pun akhirnya ikut bertanggung jawab dan saat ini ia tinggal di rumah sementara. Saya senang sekali sehabis membaca informasi Mbak Ririn karena dia telah menyelesaikan amanah dengan baik.

pakai tcash

Bantuan bisa dengan cara apa saja selain uang. Bisa lewat tenaga, penghiburan, bahkan doa. Menolong dan berbuat baik adalah bahasa universal. Dia tidak mengenal siapa kamu, warna kulit, asal kamu, bahkan agama kamu apa. Selama hati dan niat kalian positif, percaya saja kalau semesta akan mendukung. Percayalah teman, kalau saya #JadiBaik berbuat baik selama Ramadan, kalian pasti bisa.

Maka sekarang, saya sudah siap menerima “hadiah terbaik” dari Sang Pencipta dengan cara yang tak terduga seperti cara Dia melidungi kita.

Iklan

44 pemikiran pada “Kebaikan Itu Menular, Tularkan!

  1. Terharu baca ini koh. Seperti menemukan kedamaian yang sejati bukan hanya sekadar imajinasi. Terima kasih sudah berbagi kisah yang menggugah. Semoga makin banyak orang yang terinspirasi kisah ini.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.