Realitis

Tadi sempat ngobrol sebentar sama Mas Rifkie. Saya yang membuka topiknya tentang kenapa ada orang betah dengan hidup yang monoton? Beliau mulai kasih komentar dan benang merah yang saya dapat bahwa hidup ini harus realitis, tidak harus idealis karena orang berprinsippun kadang ada gobloknya-saking idealis hingga merugikan diri sendiri.

Lingkungan dapat membawa pengaruh yang cukup besar, di samping pengaruh dari keluarga ataupun teman terhadap keputusan kita pribadi. Sempat berpikir buat apa saya harus merubah/menjaga sikap saya hanya karena lingkungan? sementara saya sendiripun tidak merasa nyaman. Toh percuma saja kalau saya harus terus menerus memakai topeng. Bermacam-macam karakter orang, dan kita pribadi tidak bisa menuntut orang tersebut menjadi seperti yang kita pengen. Misalnya, kepengen punya istri/suami yang kaya, tampan, dan sebagainya. Mas Rifkie tadi kasih contoh kalau ada teman dia yang hidupnya itu terstruktur. Jadi dia berencana nikah waktu umur 28, lalu satu tahun pernikahan udah dikasih momongan dan tahun berikutnya menambah momongan lagi. Ternyata, Tuhan-pun berkehendak lain temannya Mas Rifkie ternyata baru dapat jodoh dan nikah waktu umur 30 tahun lalu dapat momongan setelah lima tahun menikah. See? Apa yang manusia rencanain ternyata berkehendak lain sama Tuhan yang sudah punya rencananya sendiri dan itu merupakan rencana yang baik (menurut injil Alkitab).

BACA JUGA :  YESS!

So, sikapin dengan realitis dan seperti perumpamaan pohon yang kokoh dan pohon bambu. Pohon yang kokoh kalau diterpa angin dia akan roboh dan itu akan menyulitkan dirinya sendiri. Tapi kalau pohon bambu, akarnya yang menetap namun dia mengikuti situasi yang sedang berjalan.

Pesan dari Mas Rifkie sih agar kita dapat belajar bijaksana. Dan pesan dari saya.. kita nantikan setelah iklan pariwara berikut ini.. haha..

Advertisements
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.