Jelajah Raja Ampat: Puncak Wayag, Ikon Raja Ampat (Bagian 2)

12.15 am WIT. Udara malam dekat laut makin terasa dingin. Beberapa kali saya menepuk lengan dari nyamuk di Raja Ampat, sepertinya belum mengenal orang datangan. Obrolan panjang dengan Bang Icad tentang Papua, akhirnya harus diselesaikan dan saya pun segera ke dalam kamar homestay yang terletak paling ujung. Bukanlah homestay yang mewah tapi cukuplah untuk menampung kami. Malam ini saya larut dalam dalam kesunyian di tengah pulau. Hanya ada bunyi kipas angin, genset dan hempasan air laut, sesekali sautan binatang malam. Saya melirik ke samping, om Nana sudah tertidur dengan pulas. Lalu saya?

Membayangkan petualangan baru apa yang akan dilakukan subuh nanti. Ya.. pukul 5 pagi kita sudah harus bergegas diri, begitu pesan dari Kapten Noak, bapak tua yang memegang sekoci kemudi kapal. Bukan hanya menjadi kapten, ternyata Kapten Noak juga memegang lisensi dive master. Dan sekarang, sekarang pun melirik ke jam di ponsel… “01.00 am” mau apa kamu jam segini belum tidur, tanya batinku. Apa kalian pernah merasakan rasa sulit terlelap di tempat baru, bercampur rasa senang dengan hal menyenangkan yang akan dilakukan besok. Sampai tidak sadar angin malam mulai menusuk kulitmu sampai ke tulang.

Terasa baru sejenak memejamkan mata, saya meraih ponsel yang berada di samping kasur. “04.30 am”. Cuma punya dua pilihan, melanjutkan tidur atau terjaga tidur daripada ditinggal pergi rombongan? Gerutuku dalam hati, kenapa musti pergi subuh sih? Memang kita mau kemana sih?

Simpan dulu pertanyaan tadi, saatnya untuk bersiap diri ke Wayag!

Read More »

Iklan