POkoknya NAnya Riri si Batu Petir aja!


ponari3bFenomena belakangan ini membuat masyarakat jadi latah *termasuk penulis juga membuat tulisan*. Berawal dari PONARI, bocah kecil berumur 12 tahun *masih simpang siur kabar tentang umurnya* yang dulunya cuma seorang bocah biasa kini seolah membalik telapak tangan dia langsung terkenal. Cukup bermodal sebuah batu *steril nggak?* dan mencelupkan di dalam air sekejap orang yang meminumnya langsung sembuh dari segala penyakit. Batu itu konon katanya didapatin waktu Ponari lagi main dalam hujan deras dengan back sound petir menyambar… *jadi ingat film Kera Sakti.. hahaha*. Saya pantau dari berita di televisi, makin hari si anak ini bisa meraup uang jutaan dari aksi sumbangan masyarakat. Mulai dari fasilitas mobil, pengawalan ketat dari polisi dan ponsel N95 *bedegik… anak segitu punya hape canggih? saya aja cuma pake hape jadul… hikz… NGIRI GW*.

jepretEfek ‘popularitas’ sesaat ini menimbulkan PONARI selanjutnya, tapi yang kali neh spesiesnya perempuan dengan usia yang sama (12 tahun) juga menggandalkan alat yang sama yaitu batu bertuah *w00t… jadi inget Harry Potter and The Sorcerer Stone*. Namanya Dewi Setiawati *hahaha… jadi inget sama mantan istrinya Kang Saipul Jamil… Siapa ntuh namanya…?*

Kabar terakhir yang saya dapat dari menonton berita arabian, ada ‘pesaing’ baru dari seorang IRT a.k.a ibu rumah tangga yang konon katanya punya batu yang dinamain Batu Menangis *Bu.. ada nggak batu tertawa?* dan batu itu diketemukan diselokan *masih sama pertanyaannya… steril nggak batunya?*

Setelah masyarakat di-latah-kan sama kasus batu-batu-an *Hayo.. sapa lagi selanjutnya? kamu?*, kembali ada fenomena yang baru tentang kekerasan.

Rangkuman berita yang saya dapat kekerasan di dunia pendidikan arabian, berita tentang guru yang membanting siswa dikarenakan ada siswa yang memecahkan pot bunga *lho pak.. kok dibales banting anak didiknya… gak dicincang aja sekalian?*. Selain itu peran guru yang harusnya menjadi mediator a.ka penengah dengan cara kekeluarga jikalau ada konflik yang terjadi antar siswa. Memang si guru ini jadi ‘penengah’ tapi caranya IMHo terlalu ekstrim dengan menyuruh si siswa berantem pakai sarung tinju. Alasannya untuk mendidik siswa.

Hi… pembaca yang budiman dan budiwati…

Benarkah mendidik harus dengan kekerasan? *eerggh… i have to said maybe yes and maybe no, ya kalau cara lembuh nggak bisa ya cara keras. Bukankah yang panjang, besar, dan keras itu enak?*

Aneh? YA! Tapi inilah Indonesia, bentuk negara yang berada ditengah-tengah (negara berkembang) dimana masyarakat kita lebih mementingkan bagaimana cara dapetin buat buat hidup besok, bagaimana supaya asap dapur bisa tetep ngepul, bagaimana supaya anak di rumah punya mainan baru, bagaimana cara gali lobang tutup lobang.

Citra kemiskinan dan kekerasan menjadi suatu gambaran kalau masyarakat kita belum MERDEKA seperti yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno. Salah satu faktor yang mendorong kuatnya kemiskinan bisa dilihat dari tingkat kesehatan masyarakat. Logikanya, masyarakat yang berada dibatas miskin tentunya memiliki caranya sendiri *miskin cara miskin, kaya cara kaya, punya cara punya, nggak punya cara nggak punya*, ya… dukun, pengobatan alternatif, dan pengobatan lainnya adalah bentuk usaha yang dapat dilakukan oleh mereka. Kenapa? Alasannya murah, dan mungkin dengan biaya ala kadarnya *sukarela*. Mungkin dalam pikiran: biarin deh lama antri yang penting murah dan terjangkau.

bengongApa mereka sama sekali nggak kepikiran untuk berobat ke puskesmas terdekat atau rumah sakit? ADA! Pasti ada. Setiap orang berhak mendapatkan pengobatan yang terbaik, mungkin terbaik menurut mereka ya itu semacam Ponari, dkk. Pemerintah bisa saja bilang ada dana alokasi yang memang diberikan untuk pengobatan gratis. Oke… pernahkan pemerintah meninjau langsung apakah pengobatan gratis itu sudah terlaksana dan benar-benar gratis?

Zaman kolonial dulu masih sulit untuk dilepas dari sisi kekerasan. Saat yang lemah akan tunduk kepada yang kuat, saat hukum rimba masih berlaku maka kekerasan akan terus terjadi!

*Udah ah… badan saya kok jadi nggak fit gini…. duh jangan sampe saya ke Ponari deh.. males ngantri :))*

7 pemikiran pada “POkoknya NAnya Riri si Batu Petir aja!

  1. ralat “keruhaku” yang benar “kerumahku” Ma’af gara-gara terlalu cepat ngetik. (bilang aja baru blajar ngetik,alasan aja)

    Kaga, itu salah keitkβ„’

  2. kyknya bkn masalah batunya steril ato bukan juga tp kan org2 itu aernya ada yg ngambil dari comberan..gmn bs steril coba hehehehe
    aya aya wae yah

    hahaha.. betul.. sampe ada yang pake lumpur, dll

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s