BerandaDigital MarketingEtika WFC di Cafe yang Sering Dilupakan

Etika WFC di Cafe yang Sering Dilupakan

Author

Date

Category

Beberapa tahun terakhir, cafe pelan-pelan berubah fungsi. Dulu orang datang ke cafe untuk nongkrong, ngobrol, atau sekadar minum kopi setelah makan. Sekarang, cafe juga jadi tempat kerja kedua bagi banyak orang. Ada yang datang membawa laptop, membuka meeting online, mengerjakan revisi, menyusun proposal, membalas email, atau sekadar mencari suasana baru karena terlalu suntuk bekerja dari rumah.

Saya sendiri termasuk orang yang suka WFC. Kadang suasana cafe justru membantu saya lebih fokus. Ada suara mesin kopi, orang datang dan pergi, musik pelan, dan meja kecil yang entah kenapa bisa membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Namun semakin sering WFC, saya jadi merasa ada satu hal yang perlu lebih sering dibicarakan. Bukan soal cafe mana yang paling aesthetic, bukan juga soal cafe mana yang paling sepi, tetapi soal bagaimana kita sebagai tamu bisa tetap nyaman bekerja tanpa lupa bahwa cafe adalah ruang usaha.

Yang Dicari Sebenarnya Cafe Tenang, Bukan Cafe Sepi

Saya sering melihat orang membuat status atau bertanya, “ada rekomendasi cafe sepi buat WFC?” Awalnya pertanyaan itu terdengar wajar, karena orang yang ingin bekerja tentu butuh tempat yang tidak terlalu berisik. Namun lama-lama saya merasa kata “sepi” ini agak kurang tepat.

Sebagai orang yang juga suka mencari cafe untuk WFC, saya sendiri jarang benar-benar mencari cafe yang sepi. Yang saya cari adalah cafe yang tenang. Dua hal ini berbeda. Cafe yang sepi berarti trafiknya rendah, kursinya kosong, dan pengunjungnya sedikit. Untuk kita sebagai tamu, mungkin terdengar menyenangkan. Tapi untuk pemilik usaha, kondisi seperti itu tentu bukan sesuatu yang mereka harapkan. Mereka membuka cafe bukan supaya tempatnya kosong, melainkan supaya usahanya hidup, ramai secukupnya, dan tetap menghasilkan.

Cafe yang tenang tidak harus kosong. Bisa saja tetap ada pengunjung, tetap ada transaksi, tetap ada aktivitas, tetapi suasananya masih kondusif untuk bekerja. Orang-orang berbicara seperlunya, musik tidak terlalu keras, meja tidak terlalu rapat, dan pengunjungnya sama-sama paham cara membawa diri. Menurut saya, itulah kondisi yang paling ideal untuk WFC.

WFC Bukan Masalah, Selama Kita Sadar Sedang Menumpang Ruang

Saya percaya banyak cafe sekarang memang sudah membuka diri untuk pengunjung yang ingin bekerja. Buktinya, banyak tempat menyediakan colokan, wifi, meja panjang, kursi yang nyaman, bahkan suasana yang sengaja dibuat tenang. Artinya, WFC bukan sesuatu yang salah. Cafe juga diuntungkan ketika pengunjung betah, apalagi kalau mereka datang kembali dan merekomendasikan tempat itu ke orang lain.

Namun yang sering terlupakan, ketika kita duduk berjam-jam di cafe, yang kita pakai bukan hanya kursi dan meja. Kita ikut memakai listrik, wifi, AC, suasana, bahkan ruang yang sebenarnya bisa berganti dipakai pelanggan lain. Karena itu, menurut saya WFC perlu dibarengi dengan kesadaran kecil bahwa kita sedang menikmati fasilitas dari sebuah usaha.

Saya tidak bilang semua orang harus pesan banyak. Tidak semua orang punya budget yang sama. Tetapi kalau kita berencana duduk cukup lama, rasanya lebih fair kalau kita juga memberi transaksi yang sepadan. Minimal jangan sampai datang dari siang sampai sore, laptop menyala terus, charger terpasang, meeting beberapa kali, tetapi hanya pesan satu minuman kecil dari awal.

Idealnya Pesan Apa Kalau Mau WFC?

Kalau datang sendiri dan hanya ingin bekerja sekitar satu sampai dua jam, menurut saya satu minuman masih cukup wajar, apalagi kalau cafe sedang tidak ramai. Namun kalau niatnya memang ingin duduk lebih lama, misalnya tiga jam atau lebih, akan lebih pantas kalau sejak awal memesan minuman dan makanan ringan, atau setidaknya punya niat untuk order lagi nanti.

Bukan harus selalu main course. Bisa saja kopi dan pastry, minuman dan snack, atau makanan ringan yang memang sesuai dengan menu cafe tersebut. Intinya bukan soal nominal yang besar, tetapi ada kesadaran bahwa semakin lama kita memakai tempat, semakin baik juga kalau ada transaksi tambahan.

Menurut saya, formula paling aman untuk WFC adalah satu minuman untuk awal, lalu tambahkan makanan atau snack kalau mulai masuk durasi yang lebih panjang. Kalau masih lanjut bekerja setelah beberapa jam dan pesanan sudah lama habis, repurchase kecil sudah cukup menjadi gestur yang sopan.

Kapan Sebaiknya Repurchase?

Ini sebenarnya sangat bergantung pada situasi. Kalau cafe sedang sepi sekali, mungkin duduk agak lama dengan satu pesanan masih lebih bisa dimaklumi. Namun kalau tempat mulai ramai, meja mulai terisi, atau ada pengunjung lain yang terlihat mencari tempat duduk, kita perlu lebih peka.

Bagi saya, repurchase yang cukup ideal dilakukan setiap dua sampai tiga jam sekali kalau kita masih ingin bertahan di cafe. Tidak harus langsung pesan makanan besar. Bisa tambah kopi, pesan air mineral, dessert kecil, atau snack. Yang penting ada tanda bahwa kita sadar masih memakai ruang itu.

Repurchase juga sebaiknya dilakukan ketika pesanan pertama sudah habis cukup lama, tetapi kita masih terus bekerja. Karena kalau gelas sudah kosong dari satu jam lalu, laptop masih menyala, dan kita masih mengambil satu meja penuh, rasanya kurang enak juga kalau tidak ada order tambahan sama sekali.

Durasi Duduk Juga Perlu Membaca Situasi

Menurut saya, satu sampai tiga jam untuk WFC masih sangat normal. Banyak orang memang butuh waktu segitu untuk menyelesaikan pekerjaan ringan. Tiga sampai lima jam masih bisa dimaklumi kalau cafe tidak terlalu penuh dan kita tetap melakukan order tambahan. Tetapi kalau sudah lebih dari itu, apalagi di jam ramai, kita perlu mulai bertanya ke diri sendiri apakah masih pantas bertahan atau sudah saatnya pindah.

Yang membuat WFC nyaman sebenarnya bukan hanya fasilitas cafe, tetapi juga perilaku pengunjungnya. Jangan meeting terlalu keras, jangan memutar audio tanpa earphone, jangan menguasai colokan untuk semua perangkat, jangan memakai meja besar sendirian ketika ada meja kecil yang tersedia, dan jangan menjadikan cafe seolah-olah kantor pribadi.

Hal-hal seperti ini sederhana, tetapi dampaknya besar. Cafe yang tenang bukan hanya tercipta dari desain interior atau playlist musik, tetapi juga dari tamu yang tahu cara menghargai ruang bersama.

Cafe Itu Ruang Bersama, Bukan Ruang Milik Sendiri

Saya rasa ini yang paling penting. Ketika kita WFC, kita memang membayar pesanan. Tetapi membayar satu kopi bukan berarti otomatis memiliki meja itu sepanjang hari tanpa mempertimbangkan orang lain. Cafe tetap ruang bersama. Ada owner yang perlu menjaga perputaran usaha, ada barista yang bekerja, ada pelanggan lain yang juga ingin duduk, dan ada suasana yang perlu dijaga bersama.

Karena itu, menurut saya etika WFC bukan tentang aturan kaku. Bukan berarti setiap orang harus pesan sekian rupiah atau hanya boleh duduk sekian jam. Lebih dari itu, WFC adalah soal kepekaan. Kalau tempat masih lengang, kita bisa bekerja lebih santai. Kalau tempat mulai ramai, kita perlu tahu diri. Kalau ingin duduk lebih lama, kita bisa order lagi. Kalau harus meeting, kita bisa menjaga volume suara.

Pada akhirnya, WFC yang ideal bukan hanya tentang menemukan cafe yang nyaman, tetapi juga tentang menjadi tamu yang nyaman untuk diterima. Cafe yang tenang tidak lahir hanya dari tempatnya, tetapi juga dari orang-orang yang datang ke sana. Dan mungkin, sebelum bertanya cafe mana yang sepi untuk WFC, kita bisa mulai bertanya hal yang lebih tepat.

Cafe mana yang tenang, nyaman, dan pengunjungnya sama-sama punya adab?

Deddy Huang
Deddy Huanghttps://deddyhuang.com
Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

2 KOMENTAR

  1. Terima kasih Koh, saya termasuk yg sering WFC dan kalau saya stay di sana seharian saya selalu repurchase entah itu minuman dengan pizza, atau pas jam maksi saya pesan nasgor, sorenya jajan es krim, jadi enak kan ke kafe nya juga kitanya. Kita nyaman kerja, kemyang, sementara kafe nya juga ada income yg sepadan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Deddy Huang

Lifestyle Blogger - Content Creator - Digital Marketing Enthusiast

With expertise in content creation and social media strategies, he shares his insights and experiences, inspiring others to explore the digital realm.

Collaboration at deddy.huang@yahoo.com

Artikel Populer

Komentar Terbaru