road-trip-perth

Traveling ke Perth, Enak Pakai Mobil atau Transportasi Umum?

Ketika kalian ada rencana untuk berlibur di Australia, Perth merupakan salah satu dari beberapa pilihan di kota-kota lain seperti Melbourne dan Sydney. Apa yang ditawarkan dari Perth adalah pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan di sepanjang pantai dan bisa bersantai. Kalian bisa mencicipi anggur lokal kelas dunia serta melakukan road trip mengelilingi sekitar Perth. Bukankah ini rencana traveling yang sempurna bagi kalian yang sedang mencari liburan tenang dan refreshing.

Perth adalah ibu kota Australia Barat. Waktu kemarin kami datang ke Perth, kami sudah sepakat untuk menjelajahi Perth menggunakan mobil. Tentunya seru juga road trip kelilingi PerthBeberapa pertimbangan kenapa kami akhirnya menyewa mobil saat di Perth, salah satunya untuk mobilitas gerak kami lebih cepat sebab kami juga membawa peralatan syuting sehingga tidak memungkinkan kami menggunakan transportasi umum.

Read More »

Iklan
info wisata ambon

Solo Traveling Modal 150 Ribu Bisa Puas Keliling Kota Ambon

Setiap perjalanan pasti menemukan jalannya sendiri, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya datang. Dua minggu setelah balik dari Kerala, India, ternyata semesta membukakan jalan saya ke Maluku Tengah, tepatnya Banda Neira. Saya pikir sekalian berada di Maluku, kenapa tidak menambah hari keliling Ambon untuk solo traveling? Naluri untuk solo traveling kembali melatih kemampuan diri beradaptasi dengan lingkungan.

Nama Ambon masih terdengar asing bagi saya, apa yang menarik dari ibu kota provinsi Maluku tersebut?

Read More »

tempat-wisata-kerala

12 Tempat Wisata di Kerala Ini Kaya Alam dan Budaya (Part I)

Pernah mendengar Kerala? Mungkin kalian baru pertama kali mendengar nama Kerala. Di India bagian Selatan ada satu kota yang dijuluki sebagai Negara Tanah Tuhan atau “God’s Own Country”. Posisi Kerala di antara laut Arab di dan Ghats Barts di wilayah selatan India di Asia, Kerala termasuk salah satu bagian India yang unik untuk dikunjungi karena kaya alam dan budaya.

Secara politik, Kerala merupakan negara bagian yang dikuasai oleh Partai Komunis India-Marxis (CPI/M) jadi sepanjang jalan kalian dapat menemukan simbol-simbol bendera komunis di tiap jalanan. Sebaliknya dari sisi pariwisata, Kerala memiliki nuansa pedesaan dengan pemandangan alam yang masih alami.

qlapa
Petualangan kami bersama bus Kerala Blog Express

Bahasa Hindi identik dengan India, namun tidak untuk Kerala. Bahasa Malayalam merupakan bahasa ibu untuk masyarakat Kerala sehingga bisa saja orang India bagian lain tidak begitu mengerti percakapan dalam bahasa Malayalam. Unik kan.

Dua minggu mengikuti Kerala Blog Express membuat saya jadi tahu wilayah geografis India bagian selatan. Ini merupakan perjalanan yang singkat dan melelahkan sebab setiap hari kami selalu berpindah kota menggunakan bus dan berpindah hotel setiap harinya. Tapi saya menikmati setiap perpindahan kota, justru di sana saya banyak menemukan keramahan warga lokal serta budaya setempat.

Berikut 12 daerah distrik di Kerala yang menarik untuk dikunjungi di Kerala, India Selatan.

1. Trivandrum

Coba kalian ucapkan Thiruvananthapuram dalam satu tarikan nafas. Berhasil?

Agak sulit memang mengucapkan Thiruvananthapuram, akhirnya sesuai ejaan bahasa Inggris kita bisa menyebutnya Trivandrum agar lebih mudah menyebutnya terlebih bagi orang bukan dari Kerala. Kota ini merupakan ibukota Kerala sehingga pusat pemerintahan Kerala berpusat di kota ini.

Trivandrum merupakan kota pertama saya memulai perjalanan #KeralaBlogExpress session 5. Suasana kota cukup tenang apalagi kalau sudah pukul 10 malam jarang terlihat aktivitas warga. Selain itu, tingkat kemacetan masih tergolong stabil.

kerala blog express
Kuil Sri Padmanabhaswamy

Salah satu ikon penting kota Trivandrum adalah kuil tertua Sri Padmananbhaswamy. Entah benar atau mitos, di dalam kuil Sri Padmanabhaswamy tersimpan harta karun dari raja-raja Travancore dulu. Tentunya untuk ukuran sekarang angkanya sangat fantastis. Sayangnya kuil ini tidak boleh sembarang disinggahi oleh orang luar termasuk yang bukan beragama Hindu. Jadi saya hanya dapat melihat dari arah jauh.

2. Kovalam

kerala blog express
Marari Beach, Kerala

Perjalanan dari Trivandrum ke Kovalam membutuhkan waktu sekitar satu jam atau 18km dari selatan kota Trivandrum. Apa yang menarik dari Kovalam ini tentunya pantai yang mengarah langsung ke Laut Arab.

kerala blog express
Pemuda Kerala, mereka masih kuliah di jurusan Elektrik.
kerala blog express
Jomblo dilarang baper…

Kovalam memiliki tiga pantai yaitu Lighthouse Beach, Hawah Beach dan Samudra Beach. Kami hanya berkunjung ke Samudra Beach untuk menikmati sunset pertama kali di Kerala. Saat tiba di Samudra Beach, saya diingatkan oleh sebuah gambar yang pernah dikirimkan oleh Yayan dua tahun lalu. Akhirnya, lewat gambar tersebut saya berhasil menginjakkan kaki di Kerala. Thank you, Yan!

3. Alappuzha

kerala blog express
Menikmati semalam di houseboat, Kerala

Kerala juga memiliki kawasan perairan luas pada masa dulu. Sebagai daerah maritim, Alappay sebutan lain dari Alappuzha ini sangat berkesan bagi saya sebab di tempat ini kita dapat melihat kehidupan warga pinggir lebih dekat. Bagaimana sungai adalah pemandangan setiap hari serta mendayung perahu kayu adalah sebuah keahlian.

Bagi saya yang tinggal di Palembang dan Sungai Musi adalah vital bagi masyarakat pinggir sungai tentu saja akan tetap menarik untuk dilihat. Bagaimana aliran sungai di Alappay ini mengalir tenang hingga membuat saya ikut merasakan bermalam di sebuah houseboat.

kerala blog express
Kapal akan menepi untuk bermalam
kerala blog express
Menikmati sunset indah dari houseboat

Kerala Tourism kreatif dalam mengemas paket wisata sehingga wisatawan punya pilihan untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan saat berada di Alappuzha dengan tinggal di houseboat. Ada banyak vendor houseboat bisa dipilih seperti Rainbow, dengan fasilitas standar yaitu kamar tidur, kamar mandi, balkon dan makanan.

4. Kumarakom

kerala blog express
Salah satu keahlian warga Kumarakom yaitu memanjang pohon kelapa.

Kumarakom memiliki iklim yang tenang serta perairan kecil dekat dengan Danau Vembanad. Salah satu destinasi yang dibidik oleh Kerala Tourism sebagai kawasan Responsibility Tourism. Di sini kalian dapat merasakan keramahan warga lokal secara langsung di Kumarakom Village. Warga lokal di sini dengan senang hati akan menunjukkan aktivitas mereka sehari-hari mulai dari memanjat pohon kelapa, memintal serat kelapa, mengayam, membuat sampo secara tradisional hingga menyadap thoddy, alkohol fermentasi dari kelapa.

kerala blog express
Mencoba memintal serat kelapa menjadi tali.
kerala blog express
Cilukba….

Kumarakom termasuk salah satu distrik yang berkesan bagi saya oleh karena keramahan warga setempat. Namun, mau pergi ke distrik Kerala manapun kalian juga bisa menemukan keramahan warga lokal.

5. Munnar

kerala blog express
Naik jeep mengelilingi perkebunan teh di Munnar

Jika kalian ingin mencari landscape alam di Kerala, maka Munnar adalah jawabannya. Daerah Munnar mengejutkan saya karena daerah ini memiliki perkebunan teh luas. Suhu udara di Munnar sejuk mulai dari -4 celcius sampai 25 celcius. Sayang pada saat saya datang ternyata Neelakurinchi, anggrek liar yang mekar sekali dalam 12 tahun dan berwarna ungu belum berbunga.

Perkebunan teh di Munnar bisa dikatakan terbesar di India Selatan, tumbuh subur dengan tiga jenis teh yang dihasilkan yaitu teh hitam, teh hijau dan teh putih. Salah satunya pabrik teh Lockhart yang menjadi tempat diproduksinya teh secara massal. Dalam satu hari pabrik teh ini bisa menghasilkan sekitar 5000 kg teh dengan melewati proses-proses produksi.

kerala blog express
Tea Picker at Munnar
kerala blog express
Seperti di Pagar Alam :p

Berkunjung ke Munnar sangat cocok bagi kalian yang menginginkan suasana sejuk dan tenang. Selain itu juga bisa merasakan sensasi naik jeep untuk berkeliling di sekitar perkebunan teh.

6. Thrissur

kerala blog express
Aryuveda Museum

Distrik Thrissur terletak di bagian tengah Kerala, dekat dengan distrik Ernakulam. Hal yang terbaik di distrik Thrissur dikenal sebagai kota budaya Kerala dan Pooram. Dua budaya ini sangat melekat di Thrissur dan saya juga menemukan teman baru di distrik ini.

Sejak zaman dulu, Kerala terkenal dengan metode pengobatan tradisional yaitu Aryuveda. Biasanya ditiap hotel juga menyediakan Aryuveda massage dengan harga mulai dari 1000 INR. Teknik pemijatannya lebih ke arah rileksasi. Namun Aryveda bukan hanya sebatas urusan pijat melainkan pengobatan menggunakan rempah-rempah, sehingga Thrissur disebut sebagai kota budaya.

kerala blog express
Festival Pooram
kerala blog express
Festival selepas panen musim panas

Setiap tahun, masyarakat di Thrissur akan merayakan Pooram yang menjadi festival tahunan. Perayaan ini biasanya di kuil-kuil yang didedikasikan untuk dewi Durga atau Kali setelah panen musim panas. Sebagian besar Festival Pooram menggunakan gajah yang dihias kemudian diarak selama prosesi. Saya beruntung saat tiba di Thrissur ternyata sedang berlangsung acara Pooram yang spektakuler dan berwarna di salah satu kuil kuno.

DISCLAIMER : Trip ini merupakan perjalanan selama dua minggu di Kerala Blog Express session 5 bersama Kerala Tourism. Diikuti oleh 30 blogger internasional dari 30 negara.

wisata aceh

Mengejar Mimpi Jelajahi Tanah Rencong

Malam natal saat itu saya tidur lebih awal, selesai pelayanan dan mengikuti misa di gereja saya langsung pulang ke rumah. Natal identik dengan suka cita dan damai, saya ingin besok bangun paling pagi menikmati kicauan burung dari depan jendela kamar. Topi santa sudah saya letakkan di samping tempat tidur. Ya, saya berharap Tuan Santa hadir malam itu untuk memberikan saya kado natal.

Janji menikmati udara pagi dari balik jendela kamar sudah ditepati. Kicauan burung telah menanti dari atas kabel listrik. Seperti biasa rutinitas pagi sebelum beberapa hari lagi semester kedua sekolah akan dimulai lagi. Untunglah masa ujian sekolah saat itu sudah selesai, saya bisa menikmati liburan semester panjang. Saya meraih remote televisi dan membuka siaran berita.

“Gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh. Sebelumnya telah terjadi gempa hebat di dasar laut dekat Pulau Simeuleu.” Telinga saya menangkap pesan suara yang tak biasa di televisi. Saya membesarkan volume kembali melanjutkan tayangan berita yang dikabarkan hampir di seluruh stasiun televisi.

“Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai menimbulkan getaran kuat,” seru pembawa berita. Semua stasiun televisi menyiarkan tayangan berita yang sama. Aceh sedang menangis. Bukan, ini bukan Aceh tapi Ibu sedang berduka!

Tiket, Jembatan Mimpi Bertemu Ibu

Indonesia tak sebesar peta di buku pelajaran sekolah. Indonesia bukan hanya ruang kamar hangat di rumah kita. Masih banyak ruang kamar yang ada di nusantara ini milik Ibu. Kalian tinggal memilih dari 34 ruang kamar yang tersebar di Indonesia untuk didatangi dan diresapi.

13 tahun lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Belum mengenal kata “tsunami”. Namun setelah Aceh dicatat sejarah pernah mengalami bencana alam parah maka dari situ saya mengenal kata “tsunami”. Ini sebuah peristiwa dengan dimensi tanpa surat pemberitahuan, bahkan kalau dilihat dari jumlah korban dan aspek geologisnya rasanya tidak masuk diakal.

Lantas, bagaimana tidak saya punya mimpi untuk mengunjungi Aceh? Menggantungkan mimpi yang telah lama saya idamkan untuk menjelajahi nusantara di ujung utara pulau Sumatera. Entah bagaimana caranya mimpi tersebut didengar oleh suara-suara orang yang ingin membawaku bisa melihat Aceh. Ini yang saya namakan semesta mendukung.

Skyscanner

Tidak mudah menjangkau Aceh dari Palembang, sebab biaya tiket pesawat cukup tinggi. Beruntung saya memanfaatkan Skyscanner untuk mewujudkan mimpi 13 tahun yang lalu. Skyscanner merupakan platform pencarian tiket pesawat murah di internet lewat website maupun apps smartphone. Kita tinggal mencari tiket pesawat untuk tanggal dan kisaran harga tertentu, Skyscanner akan mencarikan tiket tersebut untuk kita. Tidak hanya tiket pesawat saja bisa kita cari, melainkan kita juga dapat menemukan penawaran hotel sekaligus rental mobil yang akan memudahkan kita saat jalan-jalan.

Hanya saja Skyscanner bukan seperti Online Travel Agent (OTA) yang mana kita dapat memesan langsung ke penyedia jasa. Sementara Skyscanner menjadi search engine agar saat kita mencari tiket pesawat yang akan dihubungkan ke berbagai maskapai dan OTA yang menjadi partner. Hasil akhirnya, lewat Skyscanner kita mendapatkan hasil pencarian lebih baik dan dapat membandingkan mana yang terbaik dengan harga termurah dari berbagai sumber.

skyscanner

Salah satunya dengan cara memanfaatkan fitur price alert yang menjadi salah satu andalan saya untuk mendapatkan tiket murah ke Aceh. Tiap ada perubahan harga, Skyscanner akan mengirimkan notifikasi harga tiket berdasarkan destinasi dan tanggal yang saya inginkan. Nyaman dan praktis bukan?

Terbang Nyaman Menuju Aceh

tempat wisata di sabang
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Saya baru saja tiba di Terminal 3 Soekarno Hatta dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Suasana bandara Jakarta ini tak pernah sepi oleh para traveler. Atap langit bernuansa modern kontemporer, terminal bandara adalah penghubung mimpi orang untuk menjelajahi nusantara. Masih harus menunggu beberapa jam lagi sebelum pesawat terbang ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Saya tidak berangkat sendirian, ada Rifky yang menemani saya untuk perjalanan kali ini. Kami baru kenal dan sama-sama punya keinginan menjelajahi Aceh.

Terdengar suara panggilan masuk untuk penumpang ke dalam pesawat. Saya segera menunjukkan tiket pesawat Garuda Indonesia ke petugas dan bergegas menuju kursi pesawat di dekat jendela. Dari balik jendela, saya dapat melihat pergerakan awan. Pemandangan yang hanya bisa saya nikmati saat sedang terbang dengan pesawat. Langit waktu siang ataupun malam tetaplah sama. Selalu mengagumkan sejauh mata memandang.

visit aceh
Akhirnya menginjak kaki di Bumi Aceh

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda baru saja diguyur hujan, sambil menunggu bagasi saya mengamati sekeliling bandara ini. Sebagai provinsi paling barat di Indonesia, karakter orang Aceh memang rupawan bak campuran India dan Arab. Bagi saya yang tidak memiliki bulu mata panjang, tentu cemburu melihat mereka yang memiliki bulu mata panjang dan lentik. Indonesia memang luar biasa, bukan saja kaya akan budaya dan tradisi namun juga kaya akan orang lokal nan ramah.

Lezatnya Mie Aceh

Bagai rindu sudah tak terbendung, begitu pun ada seteguk asa cinta penantian saya untuk berkeliling kota Banda Aceh walau hanya beberapa jam saja sebelum kami bergerak ke Sabang. Kami tiba di kota Banda Aceh sudah sore, rasanya kurang ajar kalau tidak mencari warung mie Aceh untuk disinggahi. Memang tidak sulit menemukan mie dengan bumbu rempah khas Tanah Rencong ini.

Kota Banda Aceh telah menarik perhatian saya sejak pertama kalinya. Tanpa meninggalkan syariat agama, kota ini tetap junjung keramahan warga lokal. Lebih dari satu jam, saya dan Rifky menunggu di warung mie Aceh. Kedatangan kami tepat waktu saat adzan berkumandang. Ruas jalanan sepi tidak terlihat aktivitas warga, termasuk orang-orang yang bekerja di warung makan.

kuliner mie aceh
Mie Aceh Kuah
kuliner mie aceh
Mie Aceh Rebus

Rifky telah kembali duduk setelah melakukan sholat, kami pun melanjutkan kembali cerita mengenai apa yang dirasakan tentang Aceh. Dua porsi mie Aceh sudah tersaji di meja untuk segera disantap. Kepulan uap dan aroma wangi masuk dalam hidung saya. Olahan bumbu mie Aceh ini banyak menggunakan bahan rempah, selanjutnya mie ditumis seperti biasa. Satu suapan mendarat di dalam mulut saya, begitu suapan pertama sampai di lidah ada rasa gurih dan nikmat yang memang tak diragukan enaknya.

Sambil menikmati sepiring mie Aceh untuk makan malam kami, saya berkata kepada Rifky kalau besok pagi kami bisa mengunjungi Masjid Baiturahman dan Museum Tsunami Aceh. Dua tempat ini menjadi saksi bisu sejarah tsunami Aceh.

Saksi Bisu Sejarah Aceh, Masjid Raya Baiturrahman

Tiba-tiba saja tayangan berita tahun 2004 silam muncul, saya ikut membayangkan bagaimana paniknya warga Aceh berlarian menyelamatkan diri dari gulungan gelombang air. Mereka melarikan diri ke tempat yang tinggi untuk selamat bersama keluarganya. Bagaimana isak tangis mereka saat harus merelakan berpisah dengan anggota keluarga yang ikut terbawa arus air.

Jujur saya merinding saat harus mengingat kembali, saya putuskan berdiri diam memandang bangunan megah bercat putih lengkap dengan kubah hitam di jantung kota Banda Aceh. Tak dapat saya sembunyikan rasa haru saat kaki saya berhasil menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Rumah ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan segudang cerita. Di sisi utara dan selatan, terdapat payung besar bergaya Masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Halaman yang luas dengan kolam pancuran air serta lantai beralaskan marmer yang terawat. Sungguh tak ada kalimat lain yang dapat saya ungkapkan selain menikmati keberadaan saya pagi hari itu.

Kala tsunami menerjang seluruh bangunan Aceh, hanya bangunan Masjid Baiturrahman tidak mengalami kerusakan. Berita mengabarkan kalau sebagian warga selamat memilih berdiam diri di dalam masjid sekaligus menjadi tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

masjid baiturrahman aceh
Interior dalam Masjid Baiturrahman Aceh
masjid baiturrahman aceh
Seorang petugas sedang membersihkan tiang penyangga.

Saya menginjakkan kaki masuk ke dalam masjid, terpesona terhadap tiap detil arsitekturnya. Suasana dalam masjid sedang ramai sebab di waktu bersama sedang dilakukan akad nikah bagi warga setempat. Di bawah kubah masjid nan megah, saya ikut menyaksikan proses ijab kabul berjalan syahdu. Sang calon istri tampak sulit membendung air mata kemudian menyekatnya menggunakan tangan. Di sisi lain, seorang bapak tua dengan telaten duduk di samping tiang penyangga membersihkan sisi tembaga pada tiang agar berkilau kembali.

Menikmati keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman dapat dilakukan oleh siapa saja yang sedang berkunjung ke kota Banda Aceh. Masjid Baiturrahman bisa dibilang saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Dalam hati berkata, siapa yang berani menghancurkan rumah Allah? Tempat umat-Nya berlindung.

Merinding Berada di Museum Tsunami Aceh

museum tsunami aceh
Museum Tsunami Aceh

Matahari makin terik, saya mengajak Rifky untuk bergerak ke arah Museum Tsunami Aceh, melengkapi jelajah nusantara kami. Duka Ibu juga menjadi duka dunia, bagaimana Ibu kuat melihat ratusan orang terluka hingga lebih dari ribuan orang dinyatakan hilang tanpa jejak. Banyak negara-negara lain bersimpati dan memberikan bantuan untuk Aceh.

Jarak museum tidaklah jauh dari masjid raya, sekitar 500 meter kami berjalan kaki dari belakang masjid ke arah selatan. Museum Tsunami Aceh dibangun untuk mengenang kembali peristiwa yang pernah melanda bumi Aceh.

Museum Tsunami Aceh
Bangkai helikopter di depan pintu masuk Museum Tsunami Aceh
museum tsunami aceh
“Nisan” berisi foto-foto peristiwa tsunami kala itu.

Selesai membayar tiket masuk museum, dekat pelataran masuk sudah terpajang kerangka helikopter hancur, salah satu benda tersisa dari arus tsunami. Saya menjadi penasaran untuk masuk ke dalam museum. Menurut informasi, museum tsunami menyimpan semua foto dan video dokumentasi bencana tsunami. Bangunan museum terdiri dari empat lantai. Di lantai dasar, berfungsi untuk ruang terbuka dan digunakan untuk ruang publik.

Kami masuk ke sebuah lorong nuasa remang tanpa cahaya dengan suhu udara yang cukup dingin. Kiri dan kanan lorong dikelilingi oleh air mengalir ibarat gemuruh tsunami. Didukung dengan suara azan yang sekejap saya seperti ikut larut dalam suasana. Ini baru ruang pertama yang saya lewati yaitu ruang renungan.

Keluar dari ujung lorong air, kita akan melihat ruangan sangat luas berdinding cermin. Di tengahnya penuh dengan “nisan” yang menayangkan foto-foto peristiwa yang saya yakin akan membuat siapa saja melihat akan sulit melupakan trauma pada masa itu. Tidak hanya korban manusia, tapi rumah, gedung, masjid bahkan jalanan kota pun rusak dan hancur. Emosi saya mulai timbul melihat tiap gambar yang ada di gundukan “nisan” tersebut.

Ada sebuah ruangan agak gelap berbentuk silinder memanjang ke atas seperti sumur. Sepintas tidak ada apa-apa dalam ruangan gelap ini, namun cobalah memandang sekeliling dinding ruangan terdapat tulisan nama-nama korban tsunami. Di atap ruangan, terdapat kaligrafi arab berlambang “Allah” dengan sinar remang-remang. Benar saja ruangan ini menjadi klimaks bagi saya. Dalam keadaan kita berada di titik paling bawah rasa takut dan sedih, tidak ada lagi yang akan kita ingat namanya selain Dia. Saya hanya dapat melepaskan doa semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan ikhlas.

Tanpa diketahui orang lain, saya menyekat air mata yang turun tanpa saya hendakin. Kami berjalan keluar mengikuti arah cahaya. Di sana saya melihat banyak bendera negara total berjumlah 52 dari berbagai negara yang memiliki peran pernah memberikan bantuan untuk Aceh. Perasaan saya sudah bisa dikontrol, tidak seperti saat berada di ruang renungan dan sumur doa.

museum tsunami aceh
Para pengunjung sedang menyimak infografis mengenai tsunami
museum tsunami aceh
Sisa barang penemuan setelah tsunami Aceh.
museum tsunami aceh
Luas wilayah Aceh yang habis disapu tsunami tahun 2004 lalu.
museum tsunami aceh
Ruang audio untuk menonton film dokumenter tentang tsunami.

Museum Tsunami Aceh meletakkan barang-barang sisa tsunami pada lantai dua. Semua barang ditemukan dalam kondisi yang tidak utuh dan rusak, sebagian masih ada sisa lumpur seperti al-quran, sandal bahkan motor. Kondisi barang-barang ini seperti mengajak kita untuk berimajinasi liar. Bahwa harta yang selama ini kita kumpul dan jaga saat tergulung musibah tak lagi ada harganya.

Pada lantai yang sama terdapat ruang audio. Kami menyempatkan untuk melihat pemutaran film dokumenter tsunami bersama pengunjung lain. Lolongan teriak minta tolong, isak tangis anak kecil, raut wajah cemas, dan beragam ekspresi dapat kita lihat selama durasi 15 menit. Tak selamanya yang kita lihat adalah duka, ada hikmah dan hal indah yang ada pada tayangan singkat tersebut. Ketika seluruh umat dunia ikut tergerak dan bertindak membantu Aceh. Saat itu pula saya ingat bahwa sejatinya manusia ialah makhluk sosial, naluri untuk menolong timbul dengan sendirinya.

Antara Kopi Sanger, Hujan dan Mimpi

Sesak di dada saya mulai mereda. Mungkin benar, tangisan bisa membuat kita lebih lega. Saya tak mampu membayangkan bagaimana saat itu Ibu menangis melihat rumahnya bersih hanya sekali sapuan gelombang air. Perjalanan saya ke Aceh memberikan pengalaman yang mengejutkan dalam menjelajahi nusantara.

“Ibu, aku senang akhirnya bisa mengunjungimu di Aceh. 13 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk engkau lupakan. Tapi aku yakin sekarang Ibu sudah bisa tersenyum melihat Aceh sudah lebih baik,” batinku berkata.

Teringat obrolan saya dengan Bang Yudi, sahabat blogger saya dari Aceh. Kami janji berjumpa di kedai kopi yang tak jauh dari Tugu Simpang Lima sehabis menikmati mie Aceh. Bagi warga setempat, kedai kopi adalah tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam dengan secangkir kopi Sanger.

blogger aceh
Jumpa dengan Bang Yudi asal Aceh, orang yang selalu ingin naik pesawat Garuda. Moga mimpimu terwujud, Bang!

Ini kali pertama saya mencicipi kopi khas yang memiliki filosofi menarik bagi orang Aceh. Obrolan kami mengalir begitu saja, Bang Yudi bertanya pada saya tentang kesan saya terhadap Aceh.

“Bang, saya kira Aceh itu kota yang menyeramkan untuk dikunjungi. Ternyata pemikiran saya salah,” seru saya sambil menyeruput kopi.

Dia tertawa lepas, “Dari mana pula koh bisa simpulkan seperti itu?”

Sepanjang perjalanan melihat kota Banda Aceh, kota ini nyaman dengan warga lokal yang ramah. Walau kita berada di kota yang memegang kuat syariat Islam, tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita memegang prinsip di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 memang peristiwa yang memilukan. Berapa ribu orang kehilangan keluarga, termasuk kisah Bang Yudi.

kopi sanger
Kopi Sanger khas Aceh

“Koh, siapa bilang saya tidak sedih? Keluarga saya ada juga termasuk korban tsunami. Waktu itu saya juga ikut mencari keberadaan mereka. Masih mau bilang tsunami Aceh karena dosa orang Aceh?” satirnya sambil menarik nafas sejenak.

“Kami baru kenal istilah kata tsunami setelah peristiwa itu. Dan oleh karena tsunami justru orang-orang Aceh jadi lebih kompak. Ada hikmah bukan?” lanjutnya kembali. Saya menikmati obrolan singkat malam itu. Rintik hujan tak kunjung reda, entah mengapa kopi Sanger yang saya minum terasa pekat menempel di bibir.

“Lalu, next ada rencana trip mau ke mana bang?” tanya saya.

“Saya ke mana saja mau lah koh! Asal pakai Garuda!” serunya. Saya mendelik dan tertawa spontan. “Lho benar, koh! Dari dulu salah satu cita-cita yang belum tercapai itu bisa naik pesawat Garuda, lalu pamer tiket pesawat Garuda Indonesia. Tahu sendiri kan harga tiket pesawat dari Aceh harganya selangit,” lanjutnya kembali.

Kami tertawa dan saya yakin dia bakal lebih kesal kalau saya bilang sesuatu padanya. “Makanya Bang Yudi, pakai Skyscanner! Aku ke Aceh ini naik Garuda juga lho!” Tawa kami renyah menyisakan gelang kopi kosong. Menertawakan mimpi-mimpi kami agar dapat terwujud. Perjalanan kali ini menjamahku pada nusantara tercinta, bertemu dengan orang-orang dan peristiwa besar.

DISCLAIMER : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Labirin Rasa Macao (Xpress Air Inflight Magazine March 2018)

Tulisan ini telah dimuat di majalah Xpress Air Edisi Maret 2018.

Fragmen Kota Semenanjung Yang Tak Sekadar Mengandalkan Judi Kasino

Turbulensi pesawat salah satu bagian yang menegangkan dalam hidup saya. Pengalaman yang bisa saja dialami oleh tiap orang saat terbang. Bunyi awak kabin memberitahu bahwa pesawat sedang melewati cuaca yang sedang tidak baik. Penerbangan tengah malam memang menguntungkan untuk traveler bermalam di atas pesawat.

Ada fragmen rasa yang tertinggal saat berkunjung ke semenanjung Macao. Kota kecil yang memiliki atmosfer berbeda dari kota-kota lainnya yang ada di Republik Rakyat Tiongkok. Macao atau Macau tempat dimana kita dapat menemukan budaya tradisional Tiongkok sambil menikmati bangunan Portugis yang eksotis.

Lima tahun yang lalu saat saya berkunjung ke Macao masih belum begitu ramai, namun sekarang dunia pariwisata yang tak sekedar mengandalkan judi kasino yang telah dikenal. Macao layaknya cerminan kehidupan urban dengan kota yang indah, jalan-jalan yang bersih, taman dan pemandangan perbukitan yang indah. Sinar matahari, udara bersih, lahan hijau dan segala macam makanan lezat semuanya berkontribusi pada banyak atraksinya.

ROMANSA KOTA SEJARAH

Sebagian besar masyarakat lokal tinggal di Macao Peninsula di mana kita dapat menemukan berbagai tempat budaya dan sejarah Asia dan Barat yang menarik dan segala macam bangunan tua. Selain itu, Macao Peninsula terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga jembatan jalan. Beberapa resort hotel besar internasional terletak di tanah reklamasi antara Taipa dan Coloane di distrik baru yang dikenal sebagai Cotai.

Perpaduan antara orang, budaya dan sejarah berpengaruh pada setiap aspek kehidupan di Macao. Aroma wangi eggtart portugues menyeruak masuk ke hidung. Bekas panggang yang begitu menggoda untuk disantap. Kue khas Portugis ini paling gampang ditemukan saat berkelana melewati lorong-lorong jalan. Macao terpilih dari UNESCO sebagai Creativity City of Gastronomy tentunya membuat nama Macao makin dilirik karena memiliki ragam kuliner yang wajib dicoba.

Menyusuri jalan setapak masih menyisakan jejak artistektur Portugis ditiap sudut. Saya sengaja keluar pukul enam pagi dari Hotel Sun-Sun yang tak jauh dari Senado Square untuk mendapatkan momen pagi di sekitar reruntuhan gereja St. Paul. Dalam perjalanan menuju alun-alun Macao, lensa kamera saya terhenti pada sudut lorong yang kontras berbaris bangunan-bangunan peninggalan Portugis dengan lampu jalan berjejer rapi.

KERAMAIAN SENADO SQUARE

Senado Square memiliki daya magis kuat untuk dikunjungi baik pagi maupun malam hari. Diselimuti oleh bangunan khas Portugis, saat menyusuri lorong-lorong di bagian kota tua Macao. Saya jadi membayangkan bagaimana sibuknya orang Macao dan Portugis saat dulu aktifitas di Museu do Macao, Mount Fortress, St Dominic’s Church, dan The General Post Office Building.

Pedestrian jalan Senado Square sangat nyaman untuk berjalan kaki, saya melihat kekontrasan antara gedung-gedung tinggi nan megah bersanding dengan apartemen bertingkat.

Senado Square atau Largo do Senado dipenuhi dengan bangunan bergaya kolonial. Bagi kalian yang ingin memanjakan mata tentu akan puas untuk berbelanja di tiap pertokoan. Kalian dapat dengan mudah menemukan toko pakaian, jajanan ringan hingga elektronik dengan mudah di tempat ini.

Pada tengah alun-alun, terdapat air mancur yang akan menyala pada malam hari. Latar air mancur ini sering dimanfaatkan oleh orang untuk berfoto, sesekali saya melihat pasangan muda berfoto menggunakan bantuan tripod untuk mengabadikan perjalanan mereka. Pada bagian kiri air mancur, terdapat sebuah gereja kathedral yang mana terselip sebuah kafe yang ramai dikunjungi hingga larut malam untuk sekedar minum bir atau kopi bersama teman-teman.

PUING ST. PAUL

Berada tak jauh dari Senado Square, saya mengajak Zul dan Dewi untuk mempercepat langkah kaki menuju ke sebuah reruntuhan gereja. Kita harus sampai lebih pagi sebab kawasan reruntuhan gereja St. Paul sekarang ramai dengan wisatawan yang ingin berfoto. Dari pengalaman saya, untuk mendapatkan foto latar reruntuhan gereja St. Paul waktu terbaik adalah pagi jam 6 dan malam jam 9.

Dari arah sebelah kanan reruntuhan mengarah ke sebuah benteng, saya melihat para lansia yang semangat berolahraga pagi dan senam Tai Chi. Macao seolah lambang kemakmuran dan kedamaian bagi para orangtua yang mendambakan revitalisasi hidup yang terjamin di masa tua. Sedangkan, pada malam hari kita akan mendapatkan suasana yang lebih tenang dengan pasangan muda-mudi yang duduk diselasar tangga reruntuhan.

Walau ini bukan kali pertama saya melihat reruntuhan gereja hanya bersisa tembok besar, tetapi selalu membuat saya kagum dengan landmark kota ini. Histori bangunan gereja dibangun pada tahun 1580, lalu mengalami kebakaran pada tahun 1595 dan 1601 kemudian dilakukan rekonstruksi. Namun, angin topan melanda kota Macao tahun 1835 kemudian terbakar kembali hingga lenyap sudah sejarah gereja terbesar di Macao.

Tengah menikmati pemandangan sejuta dolar di reruntuhan gereja St. Paul, saya didatangi sepasang kekasih yang meminta bantuan saya untuk memfoto mereka dengan latar bangunan gereja. Tentu saja dengan senang hati saya mengabadikan kisah romansa mereka.

MEMANDANG MACAO DARI ATAS

Langkah kaki saya menuntun ke Benteng Monte yang menjulang tinggi. Sambil menunggu Christo dari hotel menghampiri saya dan Dewi yang duduk di pelataran taman dekat reruntuhan gereja. Saya larut mengamati para lansia melakukan gerakan senam, kilau sinar matahari memantul dari Grand Lisboa, salah satu kasino besar di pusat Macao. Ternyata Zul sudah mendahului kami berada di atas benteng dan memanggil kami dari atas untuk menunjukkan hal yang menarik dari puncak benteng.

Ada beberapa meriam peninggalan Portugis yang kini menjadi daya tarik wisatawan. Ternyata wilayah benteng berada satu lokasi dengan museum terbesar di Macao. Museum Macao terletak di Benteng Monte di jantung kota dan tempat orang Portugis pertama kali menginjakkan kaki.

Seorang perempuan berkulit sawo matang sedang memapah tuannya, seorang lansia duduk di dekat pintu masuk benteng. Dia melemparkan senyum pada saya, tanda ramahnya sesama orang Indonesia berjumpa di negara orang.

Melangkah kaki masuk ke dalam Benteng Monte, kita akan disambut sebuah bangunan megah berarsitektur Eropa pada saat menaiki tanjakan lantai. Museum Macao suasana Eropa yang rindang dengan perpohonan hijau dan kicauan burung gereja. Halaman museum sangat luas dengan kolam di sampingnya. Derap langkah kaki saya berjalan-jalan di dinding Benteng Monte, di mana orang bisa melihat ke seluruh kota.

MENCARI MAKANAN HALAL RASA INDONESIA

Saya tidak pernah mengira bisa menginjakkan kaki ke kota yang tengah dalam pembangunan kota dan akan lebih indah lagi 10 tahun mendatang. Macao seperti perpaduan kota bersejarah kelas dunia dan teknologi serta pengetahuan yang akan memanjakan kita. Sistem transportasi yang sudah sangat mendukung, kita bisa memanfaatkan bus antar hotel yang telah disediakan. Gratis.

Malamnya, saya dan Zul bersepakatan mencari tempat makan halal di sekitar Senado Square sesuai informasi dari internet. Saat sedang berjalan, saya mendengar ada dua wanita muda berbicara dengan bahasa jawa kental.

“Indonesia!” seru saya pada Zul. Zul sepertinya menangkap maksud saya untuk meminta tolong pada mereka. Saya langsung berlari mengejar dua wanita tersebut yang sudah berjalan mendahului kami.

“Mbak, saya numpang tanya dong tempat makan halal di dekat sini,” seru saya pada dua wanita tersebut. Kami saling berkenalan satu sama lain, Maria dan Susan ternyata sudah lama bekerja di Macao.

Spontan dari mulut Maria merekomendasikan nama Rasa Sayang yang terletak di jalan San Ma Lo. Nama tempat makan ini menurut mereka memang agak mahal tapi porsi dan rasanya lebih enak dari dua rumah makan lain yang tidak jauh dari Rasa Sayang. Atas rasa saudara nasionalisme, mereka menuntun kami ke rumah makan halal tersebut. Memasuki lorong tersembunyi, kami menemukan plang nama Rasa Sayang. Tidak terlalu luas isi dalamnya tapi dari nama-nama menu yang mereka jual sudah sangat familiar di mata.

“Permisi…” seru kami dari luar. Ternyata ada dua orang Indonesia yang sedang menikmati streaming Via Vallen dari layar tv lebar. Deretan gambar menu mulai dari baso, ayam penyet, sate ayam, rawon hingga jengkol menjadi menu ampuh untuk membuat orang rindu akan Indonesia. Hal yang membuat saya kagum, beberapa bahan baku yang sulit mereka temukan di Macao mereka buat sendiri seperti tempe. Bagaimana di negara orang kita bisa menemukan tempe?

Dibalik germelap lampu warna-warni dan kehidupan malamnya, Macao bagaikan negara yang ramah untuk dikunjungi tanpa menguras isi tabungan kita serta tidak perlu membutuhkan visa.

TIPS BERKUNJUNG KE MACAO

Merupakan bagian dari wilayah Republik Rakyat Tiongkok sebagai Daerah Administratif Khusus Makao, kota ini sempat berada di bawah pendudukan Portugis. Kini, Macao ramah dan nyaman untuk dikunjungi. Selain masih menyimpan peninggalan arsitektur kota yang khas, akses selama di Macao juga mudah bagi wisatawan yang berkunjung.

  • Bagi pemegang paspor Indonesia, Anda bebas visa berkunjung ke Macao selama 30 hari lamanya.
  • Mata uang Macao adalah Macao Pataca (MOP), namun Anda dapat menggunakan mata uang Hong Kong Dollar (HKD). Hanya saja mata uang Macao Pataca tidak dapat digunakan saat Anda melanjutkan jalan-jalan ke Hong Kong.
  • Transportasi di Macao bisa menggunakan shuttle bus gratis dari hotel-hotel mewah.
  • Anda juga bisa menggunakan bus dengan pembayaran menggunakan uang pas atau kartu.
  • Bahasa yang digunakan adalah Kanton, Mandarin, Inggris dan Portugis. Apabila Anda kesulitan menemukan jalan, dapat meminta bantuan dengan memberikan petunjuk gambar atau peta.
  • Ingin mendapatkan foto terbaik di reruntuhan St. Paul datanglah pada pukul 6 pagi atau 9 malam.

WHERE TO EAT HALAL FOOD

  • Loulan Islam Restaurant : do Teatro, Macau, China. Phone +85328530264
  • Rasa Sayang : San Ma Lo (Mbak Fia, phone +85328923047)

WHERE TO STAY

Best Western Sun Sun Hotel.

Hotel Sun Sun, terletak di Ponte e Horta, menawarkan tempat yang unik dimana kita dapat bersantai dan menikmati waktu senggang di kota yang ramai. Lokasinya cukup strategis karena dekat dengan halte bus dan berjalan kaki ke Senado Square sekitar 10 menit.

Alamat hotel : No. 14 E 16, Praca Ponte E Horta, Macau