Macau Tower High Tea

Memang berat untuk tidak mengunjungi setiap sudut Macao, rasanya seperti perjalanan yang terburu-buru sebab ingin didatangi semua tempat wisata yang ada di Macao. Esensi traveling bagi saya bukan demikian. Iya, bukan seberapa jauh kaki kita menuju tempat untuk dikunjungi. Melainkan, bagaimana cara kita menikmati tempat yang kita kunjungi dan memaknainya.

Setelah selesai menuntaskan rasa penasaran saya di Rua de Cunha, kami melipir menuju Venetian Hotel mengikuti petunjuk dari Google Map. Entah kenapa terbesit pengalaman traveling dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, ponsel saya belum begitu canggih selain itu provider juga tidak mendukung untuk internet roaming. Sekarang? Semua informasi bisa dengan mudah kita cari.

Cuaca lumayan terik, kami lebih memilih mempercepat langkah kaki agar bisa segera singgah ke Venetian dan membeli McDonalds untuk makan siang. Kami memutuskan untuk tidak makan siang di Rua de Cunha karena tidak menemukan makanan halal, padahal saya sudah menahan liur melihat banyak makanan.

Drama Ransel Putus

macau tower
Venetian Hotel

Kaki saya melangkah cepat, tiba-tiba tali ransel kesayangan putus. Meratapi ransel ijo tosca yang sering menemani saya traveling kurang lebih 4 tahun terakhir, sementara ketiga teman saya sudah berjalan jauh.

“Noooo,” pekik saya dalam hati. Ransel tosca kesayangan! Ya, sedikit lebay tapi tas itu saya beli pas backpacker ke Korea tahun 2014. Untunglah satu kaitannya lagi tidak putus masih bisa saya kaitkan di pundak, akhirnya beban bawa jadi tidak seimbang.

Sambil berjalan menuju Venetian Hotel, saya jadi pikir, duh dimana cari ransel warna tosca lagi?

Venetian Hotel dari arah belakang memang megah dan luas. Jalanan dari Rua de Cunha menuju Venetian sangat nyaman dilewati. Pasti orang akan langsung berpikir andai itu di Indonesia. Gaes, kita tidak bisa merubah jalananan Indonesia seperti layaknya di luar negeri. Sudah bawaan lahir topografi Indonesia memang seperti itu, maka nikmatilah.

Interior dalam Venetian memang mengagumkan. Terbuai hingga tidak sadar bisa tersesat seperti saya yang sempat terpisah dari rombongan. Saya termasuk yang payah soal jalan, suka lupa arah jalan. Maka memang butuh travel mate yang bisa menenangkan saya kalau lagi panik.

Macao Tower

macau tower
Macao Tower

“Kita nggak ada agenda lagi kayaknya, abis dari Macao Tower kita bebas ya..” seru mas Christo saat kami di McDonalds.

McDonalds memang makanan comfort food yang paling cepat untuk dinikmati. Hanya saja perlu kalian ketahui kalau McDonalds di Macao tidak menjual nasi, hanya ada burger atau ayam. Selain itu rasa saus sambalnya juga kurang nendang di lidah, jadi memang perlu membawa saus sambal sendiri. Kenyang? Ya, perut orang Indonesia kalau tidak sentuh nasi ada rasa kurang afdol.

Jauh sebelum keberangkatan, Mas Christo sudah memesan high tea di Macao Tower, tempat menuntaskan adrenalin diri dengan bungee jump dari ketinggian 233m! Saya sendiri sangat penasaran melakukan bungee jumpee, hanya saja sayangnya kami tidak mendapatkan sponsor. Ya kali, satu kali loncat harus mengeluarkan kocek 7 juta rupiah! Biaya itu sudah lengkap dengan sewa peralatan, serta dokumentasi lengkap.

macau tower

Membaca pengalaman mbak Fanny yang seminggu sebelum saya berangkat sudah bungee jumpee saja membuat saya tarik nafas sejenak. Baiklah, kalau sudah bicara sekali seumur hidup harga 7 juta rupiah barangkali bukan apa-apa dibandingkan pengalaman rasa jantung mau copot.

Sekali lagi, yakin nggak mau loncat dari Macao Tower? MAAUUUU! Tapi kalau ada sponsornya 😆 😆

High Tea

macau tower
High Tea set seharga

Tidak hanya bungee jump yang bisa dilakukan di Macao Tower. Beberapa atraksi menantang lainnya seperti berjalan mengitari tower, menapaki lantai berkaca dengan berpegangan pada jendela dengan tali atau tower climb bisa kita lakukan. Semuanya bisa dilakukan asal ada uang dan nyali 😆 😆

Lanjut jalan-jalan ke dalam Macau Tower, ternyata isi dalamnya ada semacam gerai barang mewah dan toko souvenir.  Total ketinggian Macao Tower adalah 338 yang mana memiliki dua observation deck indoor dan outdoor. Posisi puncak berada di lantai 61 dengan ketinggian 233m, sedangkan indoor observation lounge terletak di lantai 58. Adalah AJ Hackett yang menjadi vendor bungee jump. Jika ditanya sudah berapa orang jatuh? Tentu sudah banyak.

Jujur saja, permainan ini harus memiliki nyali yang besar dan kuat. Apalagi kita harus menyiapkan budget demi merasakan pengalaman sekali seumur hidup. Berhubung kami traveler miskin yang cuma bisa menikmati pemandangan, maka kami langsung melipir ke lantai 60 tempat high tea.

Lantai 60 merupakan restoran dengan setting meja bisa berputar 360 derajad. Ini menarik! Sambil kita menikmati aneka kue dan teh atau kopi selama dua jam. Kita bisa menikmati suasana Macao dari atas. Kalau beruntung kita bisa sambil menikmati sunset. Jantung bisa ikut berdegup saat melihat pengunjung lain sedang melakukan bungee jump!

high tea macau tower menu high tea macau

Deretan meja putar berada di dekat kaca menghadap pemandangan Macao. Kami diarahkan untuk duduk di meja untuk 4 orang. Di atas meja sudah disediakan dua buah rak berisi kue-kue siap disantap. Beberapa kue kurang cocok dilidah dan ada beberapa yang mengandung babi, jadi memang agak perlu dicek kembali.

Tempat ini dibuka dari pukul 15.00-17.00 untuk kita duduk bersantai menikmati sore. Well, walau hidangan aneka kuenya tak begitu enak, tapi jangan berkecil hati sebab kita bisa menikmati pemandangan Macao 360 derajat dari atas ketinggian Macao Tower. Harga untuk menikmati high tea di Macao Tower sekitar 360 ribu per orang. Anggap saja datang ke sini untuk melihat pemandangan Macao dari ketinggian, ketimbang berharap aneka makanan yang enak.

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

Iklan
rua de cunha

Rua De Cunha, Sudut Kuliner Menggiurkan di Macao

Macao memang kota yang membosankan, apabila kalian tidak punya uang banyak untuk berbelanja dan hanya melihat-lihat dari luar etalase. Satu malam penginapan yang nyaman mulai dari harga satu juta rupiah ke atas. Tentunya kalian juga tidak ingin seharian jalan-jalan ke mall atau melihat bangunan-bangunan saja, kan?

Kawasan Cotai dan Taipa berhasil disulap menjadi kawasan elit yang memang menawarkan pemandangan menawan. Satu hari berkeliling ke hotel-hotel mewah tematik di Macao juga tak kalah seru, kalau kaki tidak pegal. Kalau kalian ingin melihat Paris, maka bisa berkunjung ke Parisian Hotel dengan Eiffel Tower duplikat. Kalau ingin melihat Venezia, maka berkunjunglah ke Venetian Hotel sekaligus naik gondola. Serta kecanggihan lainnya ada pada tiap hotel yang ada di Macao.

Lantas, bagaimana kalau kita ingin mencari sudut lain di kota Macao?

Pencarian Jalan

rua de cunha macau
Rua De Cunha, Macao

Saya menemukan Rua de Cunha setelah riset mengenai Wisata Macao. Rua de Cunha merupakan nama jalan yang letaknya tidak begitu jauh dari Venetian Hotel. Kami saat itu memutuskan untuk naik bus dari depan Hotel Studio City. Jujur saja, kaki sudah mulai terasa letih berjalan setengah hari. Sedangkan jarak menuju Rua de Cunha sekitar 2 kilo dari The Parisian.

Siang itu merupakan kali pertama kami mencoba naik bus, melihat nama-nama jalan menggunakan bahasa Portugis tentu membuat lidah belum terbiasa ucap. Bus di Macao tidak memiliki kernet, jadi cara pembayaran hanya menerima uang tunai atau menggunakan kartu.

Suara pemberitahuan halte berikutnya dari dalam bus tidak begitu jelas diucapkan. Kami pun terlewat beberapa halte sehingga harus berjalan kaki kembali sekitar 1 kilo. Lumayan melelahkan, syukurlah jalan bersama teman membuat hal konyol seperti ini terasa ringan untuk diketawai bersama.

“Coba kita tadi jalan kaki aja ya dari Venetian, dihitung-hitung sama aja jalan kita,” tawa kami bersama.

Kami sangat mengandalkan peta baik Google Map atau Apple Map. Namun, kadang petunjuk yang ditampilkan suka ngaco dan kurang akurat. Setelah dipikir-pikir, barang kali saya yang kurang paham untuk membaca peta. Bahaya, padahal salah satu skill bertahan saat traveling itu handal membaca peta.

Rua De Cunha, Pusat Kuliner Dekat Venetian Hotel

rua de cunha macau

Menemukan Rua do Cunha di antara gedung tinggi dan deretan kasino memang tidak mudah. Ada dua tanda yang bisa dijadikan patokan menemukan jalan yang masih memiliki bangunan lama yaitu billboard besar Koi Kei Bakery di atas gedung dan tembok mural warna-warni. Ya, Rua de Cunha ini termasuk tempat kuliner yang bisa kalian jumpai dan datangi.

Koi Kei Bakery lumayan tersohor di Macao, toko aneka kue, manisan, permen, dan dendeng babi ini memang paling sering dikunjungi oleh wisatawan untuk mencari oleh-oleh Macao. Selain itu Koi Kei Bakery juga menjual eggtart portugues yang rasanya nikmat sekali.

Saya hampir khilaf untuk mencoba jajanan yang ada di sepanjang jalan Rua de Cunha, namun saya menahan diri untuk tidak jajan sebab kantong dompet bisa jebol kalau mengikuti kemauan perut hahaha…

tempat kuliner di macau

kuliner khas macau kuliner murah di macau tempat wisata kuliner di macau

Sayangnya kami tidak begitu lama di Rua de Cunha, hanya untuk menuntaskan rasa penasaran saya melihat bangunan-bangunan bercorak Portugis dan masih aktif.

Kawasan Rua de Cunha termasuk sentral kuliner, sepanjang ruas jalan kita bisa menikmati aneka jajanan termasuk restoran. Saya sendiri tidak tahu apakah kawasan Rua de Cunha ini termasuk kawasan populer untuk dikunjungi, hanya saja saya merasa kawasan ini memang jarang diulas oleh para traveler saat sedang melancong ke Macao.

Setelah pulang menuju Venetian Hotel, saya jadi berpikir jika Bandung memiliki Jalan Braga, maka Macao memiliki Rua de Cunha.

Apabila kalian ingin datang ke Rua de Cunha menggunakan bus, maka kalian bisa menumpang bus nomor 11, 15, 21, 28A, 30, 33, 34 dan 35.

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

kereta api bandara jakarta

Seputar Kereta Api Bandara Jakarta

Bulan lalu saya gagal mencoba naik kereta api dari Bandara Soekarno Hatta ke Stasiun Sudirman Baru. Sekarang, saya kembali ke Jakarta dan mencoba pengalaman naik kereta api dari bandara. Ekspektasi saya lebih ke pengalaman mencoba hal baru sebelum LRT Palembang selesai.

Informasi mengenai kereta api bandara sudah banyak ditulis oleh orang, bahkan teman-teman blogger lain juga sudah mencoba. Saya sudah tahu kereta api ini saat beroperasinya skytrain/kalayang antar terminal. Kalian dapat membaca cara naik skytrain bandara ditulisan saya sebelumnya.

Saya salah satu orang yang sangat mendukung akan transportasi maju di Indonesia, sebab supaya kita tidak jauh tertinggal dari negara tetangga misalnya Malaysia. Contoh nyata yang bisa dirasa adalah transportasi di bandara. Apabila saya sedang ada undangan atau traveling yang mengharuskan saya transit di Jakarta tentu saya akan mengeluarkan biaya dari bandara ke Jakarta.

Transportasi Murah Dari Bandara Soekarno Hatta

kereta api bandara jakarta
Pemandangan dari skytrain menuju Stasiun Kereta Api Bandara

Apabila saya seorang diri biasanya saya naik DAMRI menuju Gambir sekitar 45 ribu. Sedangkan kalau bersama rombongan memang lebih enak naik transportasi online, diluar peraturan mengenai taksi online masih belum mendapat benang merah. Ekspektasi saya adanya kereta api akan membantu kita apabila dari/ke bandara Soekarno Hatta akan memangkas waktu dan menghindari macetnya ibukota.

Letak Stasiun

kereta api bandara jakarta
Rute skytrain

Setibanya di bandara Soekarno Hatta, kalian dapat langsung menuju skytrain/Kalayang sesuai terminal kedatangan. Apabila tiba di Terminal 1, maka stasiun kalayang ada di Terminal 1B. Untuk kedatangan di Terminal 2 maka naik di Terminal 2D/E dan Terminal 3. Sedangkan peron kereta api Bandara Soekarno Hatta terletak di antara Terminal 1 dan 2.

Baca juga : Tahukah Kamu di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Ada Ruang Mandi?

Cara Membeli Tiket

kereta api bandara jakarta
Ada petugas yang membantu pembelian tiket
jadwal kereta api bandara jakarta
Jadwal Kereta Api Bandara Jakarta

Cara pertama, kalian bisa membelinya secara online lewat aplikasi Railink yang sebelumnya bisa diunduh dulu. Setelah itu buat akun agar dapat mengakses penuh untuk melakukan pengecekan jadwal dan pembelian tiket.

Saat saya mencoba mengecek jadwal ternyata jadwal kereta yang tersedia dimulai dari 2 jam setelah kedatangan saya. Sedangkan saya berharap naik kereta dengan jadwal yang tidak terlalu lama jeda waktu menunggunya. Solusinya?

kereta api bandara jakarta

kereta api bandara jakarta

Cara kedua, saya putuskan untuk melakukan pembelian tiket secara go show lewat vending machine ticket di dalam peron. Untungnya ada petugas yang sigap membantu kita saat melakukan pembelian. Mereka akan memberikan informasi sekaligus membantu saat transaksi.

Pengalaman Naik Kereta Api Bandara

kereta api bandara jakarta
Tiket kereta api bandara

Berhubung ini adalah pengalaman pertama saya naik kereta api bandara, saya sempat bingung cara membeli tiket kereta api. Untungnya, ada petugas yang sigap membantu saya menjelaskan cara membeli tiket kereta api. Caranya sederhana seperti kita membeli tiket kereta api lewat Alfamart/Indomart.

Pembelian tiket lewat mesin sangat gampang. Pertama, tentukan rute perjalanan yang akan dituju. Kemudian, masukkan nomor telepon aktif yang nantinya dapat digunakan apabila ingin re-schedule (dikenakan biaya) dan hal-hal diluar dugaan. Selanjutnya, pembayaran yang diterima berdasarkan non tunai, seperti menggunakan kartu debit maupun kartu kredit. Ada juga menggunakan tap cash, seperti T-cash atau BRI Brizzi.

kereta api bandara jakarta
Suasana di Stasiun KA Bandara
kereta api bandara jakarta
Boarding gate masuk ke kereta api
kereta api bandara jakarta
Luas peron Stasiun KA Bandara

Setelah kita mendapatkan tiket kereta api, maka kita akan diarahkan menuju peron. Sebelum masuk ke peron, boarding pass yang ada barcode akan di scan dulu. Sehingga boarding pass jangan sampai hilang, ketika sampai di stasiun yang dituju boarding pass itu akan digunakan kembali untuk scan barcode keluar peron.

Ada enam gerbong kereta api yang bisa menampung banyak penumpang di dalamnya. Sejauh ini penumpang bebas memilih untuk duduk sebab memang banyak kursi kosong. Hal ini dikarenakan jumlah pengguna kereta api bandara masih belum terlalu banyak.

Jarak Tempuh Kereta Api Bandara

Saya tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 9.15 kemudian bergegas menuju skytrain untuk mengejar jadwal kereta api jam 10.10 pagi. Jadwal keberangkatan kereta api bandara bisa dicek terlebih dahulu lewat website atau flyer.

kereta api bandara jakarta
Nyaman dan bersih
kereta api bandara jakarta
Luas isi gerbong kereta
kereta api bandara jakarta
Port usb untuk mengisi baterai

Kereta api ini memiliki tiga stasiun yaitu Stasiun Manggarai, Batu Ceper dan Sudirman Baru. Kalau saya lebih suka turun di Stasiun Sudirman Baru sebab lokasinya di pusat kota dan seringnya kegiatan saya di Jakarta lebih banyak di pusat.

Waktu tiba saya pukul 11.05 pagi atau satu jam perjalanan dari bandara Soekarno Hatta ke Stasiun Sudirman Baru. Namun perjalanan saya sangat nyaman disertai pemandangan yang jarang saya temukan di Palembang. Tambahan, ditiap kursi kereta api juga diberikan port usb kalau gadget kita kehabisan daya.

Harga Tiket Kereta Api Bandara

kereta api bandara jakarta
Stasiun Sudirman Baru

Banyak yang keberatan mengenai harga tiket kereta api Soekarno Hatta ke Stasiun Sudirman Baru yaitu 70 ribu rupiah. Harga tersebut naik setelah pertama kali diluncurkan yaitu 30 ribu rupiah dan wacana akan naik menjadi 100 ribu rupiah. Mahal? Tentu saja tidak. Kalau kalian naik dari bandara Soekarno Hatta ke Stasiun Batu Ceper hanya 35 ribu rupiah saja.

Tentu kalau memilih untuk naik transportasi online dari/ke bandara jelas lebih hemat apabila kalian berangkatnya lebih dari 2 orang. Di samping itu, kalian tidak perlu lagi menambah biaya 2 kali masuk tol. Sebaliknya, apabila kalian dari bandara Soekarno Hatta ingin ke kota pun juga sama.

Saat ini regulasi transportasi online belum jelas boleh/bisa ambil penumpang dari bandara, sehingga kita harus hati-hati saat ingin pesan. Seperti pengalaman teman saya beberapa waktu lalu, saat sekuriti bandara yang kepo dengan teman saya saat ingin memesan transportasi online.

kereta api bandara jakarta
Stasiun Sudirman Baru

Harga sebenarnya sama saja dengan taksi bandara pakai argo, setelah saya coba ke tempat tujuan. Sehingga, untuk ambil aman kalau kalian ingin naik taksi bandara tentu harganya juga akan disesuaikan dengan argo atau cara hematnya dengan naik DAMRI seperti yang dulu saya lakukan.

Namun, kalian jangan lupakan sama waktu dan macet. Dua faktor ini yang saya temukan saat naik kereta api bandara menjadi solusinya waktu dan macet tentu harus dibayar dengan harga. Pilihan ada di dompet kalian.

Tips Naik Kereta Api Bandara

kereta api bandara jakarta

Rasa penasaran saya terjawab ketika mencoba naik kereta api bandara dari Soekarno Hatta International Airport (SHIA) ke Stasiun Sudirman Baru.

Berapa lama waktu yang perlu disiapkan untuk naik kereta api bandara?

Kalau kalian ingin ke bandara melalui Stasiun Sudirman Baru, setidaknya kalian membutuhkan waktu 3 jam sebelum keberangkatan. Sebaliknya, apabila kalian dari bandara SHIA ke Stasiun Sudirman Baru tentunya waktu lebih fleksibel. Pastikan kalian mengecek jadwal keberangkatan kereta agar tidak ketinggalan jadwal.

Saya beri dua jempol adanya sistem transportasi baru ini di ibukota. Sangat membantu bagi orang-orang yang ingin ke Bandara atau ke kota. Kereta api bandara ini sangat membantu mempersingkat waktu dan kemacetan ibukota.

Kalian sudah mencoba?

wisata macau

Sunyi Pagi Membisu Macao

Ruangan kamar ini sangat nyaman dan hangat, enggan untuk beranjak cepat dari kasur empuk. Mata saya tertuju pada sudut meja di samping meraih ponsel yang terus berbunyi. Saya segera bergegas menyiapkan diri, melepaskan kenyamanan tidur pagi ini.

Suara pintu terbuka dari kamar depan saya dan tak lama ada yang mengetuk pintu kamar saya.

“Iya…” seru saya dari dalam.

Mas Zul dan Mbak Dewi sudah siap memulai petualangan bersama saya. Sedangkan Mas Christo masih nyaman meringkuk bersama selimut. Akhirnya kami bertiga keluar hotel menuju Senado Square, meninggalkan mas Christo yang nanti akan menyusul kami.

wisata macao
Menyapa pagi hari di Macao
wisata macau
Senado Square
wisata macau
Sisa bangunan portugis masih ada di Senado Square
wisata macau
Salah satu gereja katolik yang ada di Macao

Kami berjalan menuju Senado Square, entah sudah berapa kali kami melintas di kawasan ini. Namun, tak apa sebab kawasan ini selalu menarik dikunjungi di waktu pagi, siang, dan malam. Di antara lorong-lorong saya merasakan senyap pagi membisu. Orang-orang di sini ulet, beberapa toko roti sudah buka lebih pagi. Saya berhenti sejenak untuk membeli dua cakwe seharga 12MOP untuk disantap selama jalan.

Cuaca pagi ini lebih bersahabat, tak sedingin hari pertama kedatangan kami. Langit biru tertutup awan mendung. Tidak banyak kata-kata yang kami lontarkan selama berjalan menuju reruntuhan gereja St. Paul. Mungkin kami sama-sama saling menikmati perjalanan ini dengan cara kami masing-masing.

Baca juga : Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki

wisata macao
Rombongan tur sudah menyerang di latar reruntuhan gereja St. Paul

“Yah….” Suara mas Zul terdengar kecewa sesaat.

Saya melirik ke arahnya, “Hah?! Serius jam segini sudah rame?” saya melihat jam tangan baru pukul 6.30 pagi. Berbeda sekali dengan pengalaman saya lima tahun lalu. Di waktu yang sama saya masih bisa mendapatkan suasana reruntuhan gereja St. Paul masih sepi. Sekarang, rombongan tur datang lebih pagi dan mengambil tempat hingga ke memenuhi tangga gereja.

wisata macao
Reruntuhan gereja St. Paul yang fenomena
wisata macao
Detil pahat di depan bangunan
Wisata Macao
Tembok gereja St. Paul memang magnet bagi wisata Macao

Besok aku harus datang lebih pagi lagi berarti sebelum pulang, ucapku dalam hati.

Kerinduan dengan pemandangan para lansia berolahraga pagi menyirat suatu tatanan kehidupan yang tenang. Berada tak jauh dari reruntuhan gereja St. Paul ada sebuah benteng bekas Portugis yaitu Benteng Fonte. Dari atas, suara mas Zul berteriak memanggil kami untuk menyusul naik melihat pemandangan Macao dari sudut berbeda.

wisata macau
Kawasan favorit para lansia untuk olahraga
wisata macau
Halaman masuk dalam benteng
wisata macau
Museum Macao
wisata macau
Para lansia menikmati pagi hari

Dari atas ketinggian benteng terdapat sebuah Museum Macao dengan halaman luas. Sayang saat kami datang museum ini belum dibuka sebab museum dibuka pukul 10 pagi. Hanya ada para lansia sedang menikmati waktu untuk tai chi. Iringan musik menemani ritme gerak mereka.

Perjalanan kali ini ke Macao mengajarkan kalau tak selamanya kehidupan gemerlap membawa kebahagiaan. Bisa saja semuanya adalah kesenangan semu. Padahal di sudut lain ada kehidupan sederhana yang lebih menarik dan hidup. Kekontrasan inilah yang saya jumpai di Macao.

wisata macau wisata macau wisata macau

Saya mengambil duduk di pinggir benteng, menikmati sapaan sinar matahari pagi. Bukankah ini perjalanan yang mewah? Kalian dapat melihat pemandangan Macao dari sudut pandang berbeda dari atas benteng Fonte. Saya yakin ini adalah pemandangan terbaik untuk lanskap perkotaan Macao.

Baca juga : Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

Romantisme Reruntuhan Gereja St. Paul, Macao

Langkah kaki saya masih enggan untuk balik ke hotel selepas menikmati makan malam di Loulan Islam Restaurant. Rasanya sayang sekali hanya untuk berdiam diri di kamar. Saya masih ingin menikmati malam di Macao, itu yang saya katakan pada Mas Christo saat kami berjalan berdua membelakangi Mas Zul dan Mbak Dewi.

“Ayo! aku temenin mas tapi nanti gantian temenin balik ke restoran tadi ya soalnya kelupaan ambil nota buat klaim kantor,” serunya dan kita sepakat berjalan sebentar sambil membakar kalori kembali. Tujuan kami ingin menikmati suasana malam di sekitaran Senado Square.

20.30 PM

Dinamika kehidupan kaum modern Macao tampak jelas setelah mereka pulang kerja. Gaya kantoran dengan tas kerja serta merokok seolah tampak biasa di Senado Square. Keramaian hanya terlihat di sudut-sudut pertokoan makanan yang saya yakin mereka pasti adalah turis dari Hong Kong maupun daerah Tiongkok lainnya.

Di mana penduduk lokalnya? Terkadang bisa kita jumpai mereka akan duduk memojok di sekitaran taman samping Gereja Kathedral menikmati bir sambil bercanda dengan teman-teman mereka.

Kaki saya masuk ke Giordano, melihat-lihat koleksi baju musim dingin. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik pada baju dingin, sebab saya sendiri juga tidak tahu kapan bisa traveling ke negara 4 musim.

Pas mau motret air mancur, muncul sepasang model #juxtaposed

“Mei you tuan de yi fu ma?” tanya saya pada penjaga tokonya dan dia tampak heran karena saya mencari kaos disaat masih musim dingin. Tiba-tiba kita tertawa sambil mata saya melihat ke sekeliling display pakaian temanya musim dingin. Selesai bertanya, saya hanya melihat sekilas koleksi coat yang katanya akan turun harga setelah habis musim dingin.

Dari arah jauh, ketiga teman saya sedang sibuk dengan gadget mereka masing-masing. Saya memberi isyarat untuk berjalan menuju reruntuhan gereja St. Paul, bangunan ikonik yang wajib dikunjungi saat ke Macao.

Walau Macao bukan tergolong metropolitan, namun jalanan di Macao masih sangat aman bagi kita berjalan saat malam. Pukul 9 malam jalanan mulai terasa sepi, apalagi di lorong. Para penjual kaki lima sudah mulai membereskan dagangan mereka, kecuali toko-toko biasanya mereka pukul 10 malam.

Baca juga : Romantisme Reruntuhan Gereja St. Paul, Macao

Menikmati Malam di Reruntuhan Gereja St. Paul

Kisah romantis berawal dari reruntuhan gereja St. Paul

Reruntuhan gereja St. Paul terlihat berdiri kokoh dari arah kaki saya berdiri. Bangunan yang menjadi salah satu tempat wajib dikunjungi di Macao ini memang berbeda suasananya saat malam hari. Justru di waktu malam suasana reruntuhan gereja St. Paul lebih romantis daripada saat pagi hari. Tidak ada grup tur yang membawa baliho besar atau lautan manusia yang berfoto dengan latar reruntuhan gereja. Hanya ada pasangan muda-mudi yang sedang dilanda asmara.

Saya? saya hanya menikmati pemandangan sejuta dolar di Macao dari atas reruntuhan gereja St. Paul kita bisa melihat kerlap-kerlip lampu Grand Lisboa, kasino besar di Macao Peninsula.

Telunjuk saya terus mencari setelan kamera yang pas untuk suasana malam. Foto saat malam hari memang tantangan, saya memang tidak bawa tripod dan mencari alas untuk meletakkan kamera pun tidak ada. Cara yang saya lakukan menahan nafas dan perut sekitar 3 hingga 5 detik agar tangan tidak tremor.

Dua orang mendekati saya ketika saya sedang melihat hasil foto di kamera. Saya melihat memberikan senyuman pada mereka. Si pria meminta bantuan saya untuk memfoto dia bersama pasangannya. Tentu saja dengan senang hati saya memotret mereka. Saya langsung menerima uluran ponselnya dan mulai mengarahkan keduanya mulai bergaya. Memang berbeda saat foto traveling hanya berupa selfie dengan difoto orang.

Tiba-tiba terlintas saya juga ingin memotret mereka menggunakan kamera saya. Mereka pun senang akhirnya saya kembali memotret mereka dan memindahkan foto mereka ke ponsel untuk mengirimkan lewat email. Yippie!

Selesai saya memotret mereka, tiba-tiba dari arah belakang ada suara seseorang yang saya kenal.

“Mas, aku juga mau dong difotoin!” mas Christo langsung menyodorkan iPhone-nya dan mengambil posisi siap foto.

Dalam perjalanan ke Macao, saya dan Mas Christo lebih banyak saling memotret. Sedangkan, Mas Zul dan Mbak Dewi jarang sekali tertangkap dalam bidikan kamera kecuali kalau mereka minta dipotret sendiri.

Saya mengecek whatsapp group, ternyata mbak Dewi dan mas Zul sudah pulang duluan ke hotel karena mereka kelelahan. Tinggal saya berdua yang melanjutkan menuju Grand Lisboa, kasino yang memiliki bangunan paling nyentrik di tengah kota.

Baca juga : Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki

Grand Lisboa, Di Balik Gemerlap Kasino

Google maps berhasil menuntun kami menuju Grand Lisboa selepas dari reruntuhan gereja St. Paul. Sangat mudah menemukan Grand Lisboa di antara lorong, kami hanya mengikuti arah bangunan tinggi tersebut berdiri.

“Ah, Lisboa…” mendesih saya dalam hati lalu segera mencari posisi untuk mengambil gambar. Pantulan lampu LED yang menyelimuti bangunan memang menyilaukan tapi tahukah kalian kalau dibalik kilauan itu ada cerita tersembunyi dari orang-orang yang telah menaruhkan seluruh hartanya di kasino?

Seorang pria mendekati saya dengan bahasa Mandarin dia menawarkan kepada saya untuk membeli iPhone X miliknya. Saya dan Mas Christo saling melirik kemudian menolak halus menggunakan tangan.

Lalu saya ingat kalau dia adalah pria yang tadi siang juga menghampiri kami saat sedang makan di foodcourt Venetian. Saat itu setelah saya bilang “Xie-xie ni,” dia langsung pergi namun kali ini cara saya tidak berhasil. Tiba-tiba dia bilang kalau kami pasti dari Indonesia. Pasti! Pasti dari Indonesia! Serunya dalam bahasa Mandarin yang membuat saya bingung kenapa dia berteriak setelah bilang saya tidak tertarik untuk membeli dan bicara ke Mas Christo dengan bahasa Indonesia untuk segera pergi. Kami langsung pergi meninggalkan dia setelah demi alasan keselamatan.

Kami berjalan kaki menuju arah hotel. Jalanan di Macao memang tak seperti ibukota di Jakarta yang akan terus ramai. Macao seperti menjaga keseimbangan suatu tatanan kota dan hidup yang tentram.

Baca juga : Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.