Labirin Rasa Macao (Xpress Air Inflight Magazine March 2018)

Tulisan ini telah dimuat di majalah Xpress Air Edisi Maret 2018.

Fragmen Kota Semenanjung Yang Tak Sekadar Mengandalkan Judi Kasino

Turbulensi pesawat salah satu bagian yang menegangkan dalam hidup saya. Pengalaman yang bisa saja dialami oleh tiap orang saat terbang. Bunyi awak kabin memberitahu bahwa pesawat sedang melewati cuaca yang sedang tidak baik. Penerbangan tengah malam memang menguntungkan untuk traveler bermalam di atas pesawat.

Ada fragmen rasa yang tertinggal saat berkunjung ke semenanjung Macao. Kota kecil yang memiliki atmosfer berbeda dari kota-kota lainnya yang ada di Republik Rakyat Tiongkok. Macao atau Macau tempat dimana kita dapat menemukan budaya tradisional Tiongkok sambil menikmati bangunan Portugis yang eksotis.

Lima tahun yang lalu saat saya berkunjung ke Macao masih belum begitu ramai, namun sekarang dunia pariwisata yang tak sekedar mengandalkan judi kasino yang telah dikenal. Macao layaknya cerminan kehidupan urban dengan kota yang indah, jalan-jalan yang bersih, taman dan pemandangan perbukitan yang indah. Sinar matahari, udara bersih, lahan hijau dan segala macam makanan lezat semuanya berkontribusi pada banyak atraksinya.

ROMANSA KOTA SEJARAH

Sebagian besar masyarakat lokal tinggal di Macao Peninsula di mana kita dapat menemukan berbagai tempat budaya dan sejarah Asia dan Barat yang menarik dan segala macam bangunan tua. Selain itu, Macao Peninsula terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga jembatan jalan. Beberapa resort hotel besar internasional terletak di tanah reklamasi antara Taipa dan Coloane di distrik baru yang dikenal sebagai Cotai.

Perpaduan antara orang, budaya dan sejarah berpengaruh pada setiap aspek kehidupan di Macao. Aroma wangi eggtart portugues menyeruak masuk ke hidung. Bekas panggang yang begitu menggoda untuk disantap. Kue khas Portugis ini paling gampang ditemukan saat berkelana melewati lorong-lorong jalan. Macao terpilih dari UNESCO sebagai Creativity City of Gastronomy tentunya membuat nama Macao makin dilirik karena memiliki ragam kuliner yang wajib dicoba.

Menyusuri jalan setapak masih menyisakan jejak artistektur Portugis ditiap sudut. Saya sengaja keluar pukul enam pagi dari Hotel Sun-Sun yang tak jauh dari Senado Square untuk mendapatkan momen pagi di sekitar reruntuhan gereja St. Paul. Dalam perjalanan menuju alun-alun Macao, lensa kamera saya terhenti pada sudut lorong yang kontras berbaris bangunan-bangunan peninggalan Portugis dengan lampu jalan berjejer rapi.

KERAMAIAN SENADO SQUARE

Senado Square memiliki daya magis kuat untuk dikunjungi baik pagi maupun malam hari. Diselimuti oleh bangunan khas Portugis, saat menyusuri lorong-lorong di bagian kota tua Macao. Saya jadi membayangkan bagaimana sibuknya orang Macao dan Portugis saat dulu aktifitas di Museu do Macao, Mount Fortress, St Dominic’s Church, dan The General Post Office Building.

Pedestrian jalan Senado Square sangat nyaman untuk berjalan kaki, saya melihat kekontrasan antara gedung-gedung tinggi nan megah bersanding dengan apartemen bertingkat.

Senado Square atau Largo do Senado dipenuhi dengan bangunan bergaya kolonial. Bagi kalian yang ingin memanjakan mata tentu akan puas untuk berbelanja di tiap pertokoan. Kalian dapat dengan mudah menemukan toko pakaian, jajanan ringan hingga elektronik dengan mudah di tempat ini.

Pada tengah alun-alun, terdapat air mancur yang akan menyala pada malam hari. Latar air mancur ini sering dimanfaatkan oleh orang untuk berfoto, sesekali saya melihat pasangan muda berfoto menggunakan bantuan tripod untuk mengabadikan perjalanan mereka. Pada bagian kiri air mancur, terdapat sebuah gereja kathedral yang mana terselip sebuah kafe yang ramai dikunjungi hingga larut malam untuk sekedar minum bir atau kopi bersama teman-teman.

PUING ST. PAUL

Berada tak jauh dari Senado Square, saya mengajak Zul dan Dewi untuk mempercepat langkah kaki menuju ke sebuah reruntuhan gereja. Kita harus sampai lebih pagi sebab kawasan reruntuhan gereja St. Paul sekarang ramai dengan wisatawan yang ingin berfoto. Dari pengalaman saya, untuk mendapatkan foto latar reruntuhan gereja St. Paul waktu terbaik adalah pagi jam 6 dan malam jam 9.

Dari arah sebelah kanan reruntuhan mengarah ke sebuah benteng, saya melihat para lansia yang semangat berolahraga pagi dan senam Tai Chi. Macao seolah lambang kemakmuran dan kedamaian bagi para orangtua yang mendambakan revitalisasi hidup yang terjamin di masa tua. Sedangkan, pada malam hari kita akan mendapatkan suasana yang lebih tenang dengan pasangan muda-mudi yang duduk diselasar tangga reruntuhan.

Walau ini bukan kali pertama saya melihat reruntuhan gereja hanya bersisa tembok besar, tetapi selalu membuat saya kagum dengan landmark kota ini. Histori bangunan gereja dibangun pada tahun 1580, lalu mengalami kebakaran pada tahun 1595 dan 1601 kemudian dilakukan rekonstruksi. Namun, angin topan melanda kota Macao tahun 1835 kemudian terbakar kembali hingga lenyap sudah sejarah gereja terbesar di Macao.

Tengah menikmati pemandangan sejuta dolar di reruntuhan gereja St. Paul, saya didatangi sepasang kekasih yang meminta bantuan saya untuk memfoto mereka dengan latar bangunan gereja. Tentu saja dengan senang hati saya mengabadikan kisah romansa mereka.

MEMANDANG MACAO DARI ATAS

Langkah kaki saya menuntun ke Benteng Monte yang menjulang tinggi. Sambil menunggu Christo dari hotel menghampiri saya dan Dewi yang duduk di pelataran taman dekat reruntuhan gereja. Saya larut mengamati para lansia melakukan gerakan senam, kilau sinar matahari memantul dari Grand Lisboa, salah satu kasino besar di pusat Macao. Ternyata Zul sudah mendahului kami berada di atas benteng dan memanggil kami dari atas untuk menunjukkan hal yang menarik dari puncak benteng.

Ada beberapa meriam peninggalan Portugis yang kini menjadi daya tarik wisatawan. Ternyata wilayah benteng berada satu lokasi dengan museum terbesar di Macao. Museum Macao terletak di Benteng Monte di jantung kota dan tempat orang Portugis pertama kali menginjakkan kaki.

Seorang perempuan berkulit sawo matang sedang memapah tuannya, seorang lansia duduk di dekat pintu masuk benteng. Dia melemparkan senyum pada saya, tanda ramahnya sesama orang Indonesia berjumpa di negara orang.

Melangkah kaki masuk ke dalam Benteng Monte, kita akan disambut sebuah bangunan megah berarsitektur Eropa pada saat menaiki tanjakan lantai. Museum Macao suasana Eropa yang rindang dengan perpohonan hijau dan kicauan burung gereja. Halaman museum sangat luas dengan kolam di sampingnya. Derap langkah kaki saya berjalan-jalan di dinding Benteng Monte, di mana orang bisa melihat ke seluruh kota.

MENCARI MAKANAN HALAL RASA INDONESIA

Saya tidak pernah mengira bisa menginjakkan kaki ke kota yang tengah dalam pembangunan kota dan akan lebih indah lagi 10 tahun mendatang. Macao seperti perpaduan kota bersejarah kelas dunia dan teknologi serta pengetahuan yang akan memanjakan kita. Sistem transportasi yang sudah sangat mendukung, kita bisa memanfaatkan bus antar hotel yang telah disediakan. Gratis.

Malamnya, saya dan Zul bersepakatan mencari tempat makan halal di sekitar Senado Square sesuai informasi dari internet. Saat sedang berjalan, saya mendengar ada dua wanita muda berbicara dengan bahasa jawa kental.

“Indonesia!” seru saya pada Zul. Zul sepertinya menangkap maksud saya untuk meminta tolong pada mereka. Saya langsung berlari mengejar dua wanita tersebut yang sudah berjalan mendahului kami.

“Mbak, saya numpang tanya dong tempat makan halal di dekat sini,” seru saya pada dua wanita tersebut. Kami saling berkenalan satu sama lain, Maria dan Susan ternyata sudah lama bekerja di Macao.

Spontan dari mulut Maria merekomendasikan nama Rasa Sayang yang terletak di jalan San Ma Lo. Nama tempat makan ini menurut mereka memang agak mahal tapi porsi dan rasanya lebih enak dari dua rumah makan lain yang tidak jauh dari Rasa Sayang. Atas rasa saudara nasionalisme, mereka menuntun kami ke rumah makan halal tersebut. Memasuki lorong tersembunyi, kami menemukan plang nama Rasa Sayang. Tidak terlalu luas isi dalamnya tapi dari nama-nama menu yang mereka jual sudah sangat familiar di mata.

“Permisi…” seru kami dari luar. Ternyata ada dua orang Indonesia yang sedang menikmati streaming Via Vallen dari layar tv lebar. Deretan gambar menu mulai dari baso, ayam penyet, sate ayam, rawon hingga jengkol menjadi menu ampuh untuk membuat orang rindu akan Indonesia. Hal yang membuat saya kagum, beberapa bahan baku yang sulit mereka temukan di Macao mereka buat sendiri seperti tempe. Bagaimana di negara orang kita bisa menemukan tempe?

Dibalik germelap lampu warna-warni dan kehidupan malamnya, Macao bagaikan negara yang ramah untuk dikunjungi tanpa menguras isi tabungan kita serta tidak perlu membutuhkan visa.

TIPS BERKUNJUNG KE MACAO

Merupakan bagian dari wilayah Republik Rakyat Tiongkok sebagai Daerah Administratif Khusus Makao, kota ini sempat berada di bawah pendudukan Portugis. Kini, Macao ramah dan nyaman untuk dikunjungi. Selain masih menyimpan peninggalan arsitektur kota yang khas, akses selama di Macao juga mudah bagi wisatawan yang berkunjung.

  • Bagi pemegang paspor Indonesia, Anda bebas visa berkunjung ke Macao selama 30 hari lamanya.
  • Mata uang Macao adalah Macao Pataca (MOP), namun Anda dapat menggunakan mata uang Hong Kong Dollar (HKD). Hanya saja mata uang Macao Pataca tidak dapat digunakan saat Anda melanjutkan jalan-jalan ke Hong Kong.
  • Transportasi di Macao bisa menggunakan shuttle bus gratis dari hotel-hotel mewah.
  • Anda juga bisa menggunakan bus dengan pembayaran menggunakan uang pas atau kartu.
  • Bahasa yang digunakan adalah Kanton, Mandarin, Inggris dan Portugis. Apabila Anda kesulitan menemukan jalan, dapat meminta bantuan dengan memberikan petunjuk gambar atau peta.
  • Ingin mendapatkan foto terbaik di reruntuhan St. Paul datanglah pada pukul 6 pagi atau 9 malam.

WHERE TO EAT HALAL FOOD

  • Loulan Islam Restaurant : do Teatro, Macau, China. Phone +85328530264
  • Rasa Sayang : San Ma Lo (Mbak Fia, phone +85328923047)

WHERE TO STAY

Best Western Sun Sun Hotel.

Hotel Sun Sun, terletak di Ponte e Horta, menawarkan tempat yang unik dimana kita dapat bersantai dan menikmati waktu senggang di kota yang ramai. Lokasinya cukup strategis karena dekat dengan halte bus dan berjalan kaki ke Senado Square sekitar 10 menit.

Alamat hotel : No. 14 E 16, Praca Ponte E Horta, Macau

Iklan

Macau Tower High Tea

Memang berat untuk tidak mengunjungi setiap sudut Macao, rasanya seperti perjalanan yang terburu-buru sebab ingin didatangi semua tempat wisata yang ada di Macao. Esensi traveling bagi saya bukan demikian. Iya, bukan seberapa jauh kaki kita menuju tempat untuk dikunjungi. Melainkan, bagaimana cara kita menikmati tempat yang kita kunjungi dan memaknainya.

Setelah selesai menuntaskan rasa penasaran saya di Rua de Cunha, kami melipir menuju Venetian Hotel mengikuti petunjuk dari Google Map. Entah kenapa terbesit pengalaman traveling dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, ponsel saya belum begitu canggih selain itu provider juga tidak mendukung untuk internet roaming. Sekarang? Semua informasi bisa dengan mudah kita cari.

Cuaca lumayan terik, kami lebih memilih mempercepat langkah kaki agar bisa segera singgah ke Venetian dan membeli McDonalds untuk makan siang. Kami memutuskan untuk tidak makan siang di Rua de Cunha karena tidak menemukan makanan halal, padahal saya sudah menahan liur melihat banyak makanan.

Drama Ransel Putus

macau tower
Venetian Hotel

Kaki saya melangkah cepat, tiba-tiba tali ransel kesayangan putus. Meratapi ransel ijo tosca yang sering menemani saya traveling kurang lebih 4 tahun terakhir, sementara ketiga teman saya sudah berjalan jauh.

“Noooo,” pekik saya dalam hati. Ransel tosca kesayangan! Ya, sedikit lebay tapi tas itu saya beli pas backpacker ke Korea tahun 2014. Untunglah satu kaitannya lagi tidak putus masih bisa saya kaitkan di pundak, akhirnya beban bawa jadi tidak seimbang.

Sambil berjalan menuju Venetian Hotel, saya jadi pikir, duh dimana cari ransel warna tosca lagi?

Venetian Hotel dari arah belakang memang megah dan luas. Jalanan dari Rua de Cunha menuju Venetian sangat nyaman dilewati. Pasti orang akan langsung berpikir andai itu di Indonesia. Gaes, kita tidak bisa merubah jalananan Indonesia seperti layaknya di luar negeri. Sudah bawaan lahir topografi Indonesia memang seperti itu, maka nikmatilah.

Interior dalam Venetian memang mengagumkan. Terbuai hingga tidak sadar bisa tersesat seperti saya yang sempat terpisah dari rombongan. Saya termasuk yang payah soal jalan, suka lupa arah jalan. Maka memang butuh travel mate yang bisa menenangkan saya kalau lagi panik.

Macao Tower

macau tower
Macao Tower

“Kita nggak ada agenda lagi kayaknya, abis dari Macao Tower kita bebas ya..” seru mas Christo saat kami di McDonalds.

McDonalds memang makanan comfort food yang paling cepat untuk dinikmati. Hanya saja perlu kalian ketahui kalau McDonalds di Macao tidak menjual nasi, hanya ada burger atau ayam. Selain itu rasa saus sambalnya juga kurang nendang di lidah, jadi memang perlu membawa saus sambal sendiri. Kenyang? Ya, perut orang Indonesia kalau tidak sentuh nasi ada rasa kurang afdol.

Jauh sebelum keberangkatan, Mas Christo sudah memesan high tea di Macao Tower, tempat menuntaskan adrenalin diri dengan bungee jump dari ketinggian 233m! Saya sendiri sangat penasaran melakukan bungee jumpee, hanya saja sayangnya kami tidak mendapatkan sponsor. Ya kali, satu kali loncat harus mengeluarkan kocek 7 juta rupiah! Biaya itu sudah lengkap dengan sewa peralatan, serta dokumentasi lengkap.

macau tower

Membaca pengalaman mbak Fanny yang seminggu sebelum saya berangkat sudah bungee jumpee saja membuat saya tarik nafas sejenak. Baiklah, kalau sudah bicara sekali seumur hidup harga 7 juta rupiah barangkali bukan apa-apa dibandingkan pengalaman rasa jantung mau copot.

Sekali lagi, yakin nggak mau loncat dari Macao Tower? MAAUUUU! Tapi kalau ada sponsornya 😆 😆

High Tea

macau tower
High Tea set seharga

Tidak hanya bungee jump yang bisa dilakukan di Macao Tower. Beberapa atraksi menantang lainnya seperti berjalan mengitari tower, menapaki lantai berkaca dengan berpegangan pada jendela dengan tali atau tower climb bisa kita lakukan. Semuanya bisa dilakukan asal ada uang dan nyali 😆 😆

Lanjut jalan-jalan ke dalam Macau Tower, ternyata isi dalamnya ada semacam gerai barang mewah dan toko souvenir.  Total ketinggian Macao Tower adalah 338 yang mana memiliki dua observation deck indoor dan outdoor. Posisi puncak berada di lantai 61 dengan ketinggian 233m, sedangkan indoor observation lounge terletak di lantai 58. Adalah AJ Hackett yang menjadi vendor bungee jump. Jika ditanya sudah berapa orang jatuh? Tentu sudah banyak.

Jujur saja, permainan ini harus memiliki nyali yang besar dan kuat. Apalagi kita harus menyiapkan budget demi merasakan pengalaman sekali seumur hidup. Berhubung kami traveler miskin yang cuma bisa menikmati pemandangan, maka kami langsung melipir ke lantai 60 tempat high tea.

Lantai 60 merupakan restoran dengan setting meja bisa berputar 360 derajad. Ini menarik! Sambil kita menikmati aneka kue dan teh atau kopi selama dua jam. Kita bisa menikmati suasana Macao dari atas. Kalau beruntung kita bisa sambil menikmati sunset. Jantung bisa ikut berdegup saat melihat pengunjung lain sedang melakukan bungee jump!

high tea macau tower menu high tea macau

Deretan meja putar berada di dekat kaca menghadap pemandangan Macao. Kami diarahkan untuk duduk di meja untuk 4 orang. Di atas meja sudah disediakan dua buah rak berisi kue-kue siap disantap. Beberapa kue kurang cocok dilidah dan ada beberapa yang mengandung babi, jadi memang agak perlu dicek kembali.

Tempat ini dibuka dari pukul 15.00-17.00 untuk kita duduk bersantai menikmati sore. Well, walau hidangan aneka kuenya tak begitu enak, tapi jangan berkecil hati sebab kita bisa menikmati pemandangan Macao 360 derajat dari atas ketinggian Macao Tower. Harga untuk menikmati high tea di Macao Tower sekitar 360 ribu per orang. Anggap saja datang ke sini untuk melihat pemandangan Macao dari ketinggian, ketimbang berharap aneka makanan yang enak.

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

rua de cunha

Rua De Cunha, Sudut Kuliner Menggiurkan di Macao

Macao memang kota yang membosankan, apabila kalian tidak punya uang banyak untuk berbelanja dan hanya melihat-lihat dari luar etalase. Satu malam penginapan yang nyaman mulai dari harga satu juta rupiah ke atas. Tentunya kalian juga tidak ingin seharian jalan-jalan ke mall atau melihat bangunan-bangunan saja, kan?

Kawasan Cotai dan Taipa berhasil disulap menjadi kawasan elit yang memang menawarkan pemandangan menawan. Satu hari berkeliling ke hotel-hotel mewah tematik di Macao juga tak kalah seru, kalau kaki tidak pegal. Kalau kalian ingin melihat Paris, maka bisa berkunjung ke Parisian Hotel dengan Eiffel Tower duplikat. Kalau ingin melihat Venezia, maka berkunjunglah ke Venetian Hotel sekaligus naik gondola. Serta kecanggihan lainnya ada pada tiap hotel yang ada di Macao.

Lantas, bagaimana kalau kita ingin mencari sudut lain di kota Macao?

Pencarian Jalan

rua de cunha macau
Rua De Cunha, Macao

Saya menemukan Rua de Cunha setelah riset mengenai Wisata Macao. Rua de Cunha merupakan nama jalan yang letaknya tidak begitu jauh dari Venetian Hotel. Kami saat itu memutuskan untuk naik bus dari depan Hotel Studio City. Jujur saja, kaki sudah mulai terasa letih berjalan setengah hari. Sedangkan jarak menuju Rua de Cunha sekitar 2 kilo dari The Parisian.

Siang itu merupakan kali pertama kami mencoba naik bus, melihat nama-nama jalan menggunakan bahasa Portugis tentu membuat lidah belum terbiasa ucap. Bus di Macao tidak memiliki kernet, jadi cara pembayaran hanya menerima uang tunai atau menggunakan kartu.

Suara pemberitahuan halte berikutnya dari dalam bus tidak begitu jelas diucapkan. Kami pun terlewat beberapa halte sehingga harus berjalan kaki kembali sekitar 1 kilo. Lumayan melelahkan, syukurlah jalan bersama teman membuat hal konyol seperti ini terasa ringan untuk diketawai bersama.

“Coba kita tadi jalan kaki aja ya dari Venetian, dihitung-hitung sama aja jalan kita,” tawa kami bersama.

Kami sangat mengandalkan peta baik Google Map atau Apple Map. Namun, kadang petunjuk yang ditampilkan suka ngaco dan kurang akurat. Setelah dipikir-pikir, barang kali saya yang kurang paham untuk membaca peta. Bahaya, padahal salah satu skill bertahan saat traveling itu handal membaca peta.

Rua De Cunha, Pusat Kuliner Dekat Venetian Hotel

rua de cunha macau

Menemukan Rua do Cunha di antara gedung tinggi dan deretan kasino memang tidak mudah. Ada dua tanda yang bisa dijadikan patokan menemukan jalan yang masih memiliki bangunan lama yaitu billboard besar Koi Kei Bakery di atas gedung dan tembok mural warna-warni. Ya, Rua de Cunha ini termasuk tempat kuliner yang bisa kalian jumpai dan datangi.

Koi Kei Bakery lumayan tersohor di Macao, toko aneka kue, manisan, permen, dan dendeng babi ini memang paling sering dikunjungi oleh wisatawan untuk mencari oleh-oleh Macao. Selain itu Koi Kei Bakery juga menjual eggtart portugues yang rasanya nikmat sekali.

Saya hampir khilaf untuk mencoba jajanan yang ada di sepanjang jalan Rua de Cunha, namun saya menahan diri untuk tidak jajan sebab kantong dompet bisa jebol kalau mengikuti kemauan perut hahaha…

tempat kuliner di macau

kuliner khas macau kuliner murah di macau tempat wisata kuliner di macau

Sayangnya kami tidak begitu lama di Rua de Cunha, hanya untuk menuntaskan rasa penasaran saya melihat bangunan-bangunan bercorak Portugis dan masih aktif.

Kawasan Rua de Cunha termasuk sentral kuliner, sepanjang ruas jalan kita bisa menikmati aneka jajanan termasuk restoran. Saya sendiri tidak tahu apakah kawasan Rua de Cunha ini termasuk kawasan populer untuk dikunjungi, hanya saja saya merasa kawasan ini memang jarang diulas oleh para traveler saat sedang melancong ke Macao.

Setelah pulang menuju Venetian Hotel, saya jadi berpikir jika Bandung memiliki Jalan Braga, maka Macao memiliki Rua de Cunha.

Apabila kalian ingin datang ke Rua de Cunha menggunakan bus, maka kalian bisa menumpang bus nomor 11, 15, 21, 28A, 30, 33, 34 dan 35.

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

wisata macau

Sunyi Pagi Membisu Macao

Ruangan kamar ini sangat nyaman dan hangat, enggan untuk beranjak cepat dari kasur empuk. Mata saya tertuju pada sudut meja di samping meraih ponsel yang terus berbunyi. Saya segera bergegas menyiapkan diri, melepaskan kenyamanan tidur pagi ini.

Suara pintu terbuka dari kamar depan saya dan tak lama ada yang mengetuk pintu kamar saya.

“Iya…” seru saya dari dalam.

Mas Zul dan Mbak Dewi sudah siap memulai petualangan bersama saya. Sedangkan Mas Christo masih nyaman meringkuk bersama selimut. Akhirnya kami bertiga keluar hotel menuju Senado Square, meninggalkan mas Christo yang nanti akan menyusul kami.

wisata macao
Menyapa pagi hari di Macao
wisata macau
Senado Square
wisata macau
Sisa bangunan portugis masih ada di Senado Square
wisata macau
Salah satu gereja katolik yang ada di Macao

Kami berjalan menuju Senado Square, entah sudah berapa kali kami melintas di kawasan ini. Namun, tak apa sebab kawasan ini selalu menarik dikunjungi di waktu pagi, siang, dan malam. Di antara lorong-lorong saya merasakan senyap pagi membisu. Orang-orang di sini ulet, beberapa toko roti sudah buka lebih pagi. Saya berhenti sejenak untuk membeli dua cakwe seharga 12MOP untuk disantap selama jalan.

Cuaca pagi ini lebih bersahabat, tak sedingin hari pertama kedatangan kami. Langit biru tertutup awan mendung. Tidak banyak kata-kata yang kami lontarkan selama berjalan menuju reruntuhan gereja St. Paul. Mungkin kami sama-sama saling menikmati perjalanan ini dengan cara kami masing-masing.

Baca juga : Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki

wisata macao
Rombongan tur sudah menyerang di latar reruntuhan gereja St. Paul

“Yah….” Suara mas Zul terdengar kecewa sesaat.

Saya melirik ke arahnya, “Hah?! Serius jam segini sudah rame?” saya melihat jam tangan baru pukul 6.30 pagi. Berbeda sekali dengan pengalaman saya lima tahun lalu. Di waktu yang sama saya masih bisa mendapatkan suasana reruntuhan gereja St. Paul masih sepi. Sekarang, rombongan tur datang lebih pagi dan mengambil tempat hingga ke memenuhi tangga gereja.

wisata macao
Reruntuhan gereja St. Paul yang fenomena
wisata macao
Detil pahat di depan bangunan
Wisata Macao
Tembok gereja St. Paul memang magnet bagi wisata Macao

Besok aku harus datang lebih pagi lagi berarti sebelum pulang, ucapku dalam hati.

Kerinduan dengan pemandangan para lansia berolahraga pagi menyirat suatu tatanan kehidupan yang tenang. Berada tak jauh dari reruntuhan gereja St. Paul ada sebuah benteng bekas Portugis yaitu Benteng Fonte. Dari atas, suara mas Zul berteriak memanggil kami untuk menyusul naik melihat pemandangan Macao dari sudut berbeda.

wisata macau
Kawasan favorit para lansia untuk olahraga
wisata macau
Halaman masuk dalam benteng
wisata macau
Museum Macao
wisata macau
Para lansia menikmati pagi hari

Dari atas ketinggian benteng terdapat sebuah Museum Macao dengan halaman luas. Sayang saat kami datang museum ini belum dibuka sebab museum dibuka pukul 10 pagi. Hanya ada para lansia sedang menikmati waktu untuk tai chi. Iringan musik menemani ritme gerak mereka.

Perjalanan kali ini ke Macao mengajarkan kalau tak selamanya kehidupan gemerlap membawa kebahagiaan. Bisa saja semuanya adalah kesenangan semu. Padahal di sudut lain ada kehidupan sederhana yang lebih menarik dan hidup. Kekontrasan inilah yang saya jumpai di Macao.

wisata macau wisata macau wisata macau

Saya mengambil duduk di pinggir benteng, menikmati sapaan sinar matahari pagi. Bukankah ini perjalanan yang mewah? Kalian dapat melihat pemandangan Macao dari sudut pandang berbeda dari atas benteng Fonte. Saya yakin ini adalah pemandangan terbaik untuk lanskap perkotaan Macao.

Baca juga : Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

Romantisme Reruntuhan Gereja St. Paul, Macao

Langkah kaki saya masih enggan untuk balik ke hotel selepas menikmati makan malam di Loulan Islam Restaurant. Rasanya sayang sekali hanya untuk berdiam diri di kamar. Saya masih ingin menikmati malam di Macao, itu yang saya katakan pada Mas Christo saat kami berjalan berdua membelakangi Mas Zul dan Mbak Dewi.

“Ayo! aku temenin mas tapi nanti gantian temenin balik ke restoran tadi ya soalnya kelupaan ambil nota buat klaim kantor,” serunya dan kita sepakat berjalan sebentar sambil membakar kalori kembali. Tujuan kami ingin menikmati suasana malam di sekitaran Senado Square.

20.30 PM

Dinamika kehidupan kaum modern Macao tampak jelas setelah mereka pulang kerja. Gaya kantoran dengan tas kerja serta merokok seolah tampak biasa di Senado Square. Keramaian hanya terlihat di sudut-sudut pertokoan makanan yang saya yakin mereka pasti adalah turis dari Hong Kong maupun daerah Tiongkok lainnya.

Di mana penduduk lokalnya? Terkadang bisa kita jumpai mereka akan duduk memojok di sekitaran taman samping Gereja Kathedral menikmati bir sambil bercanda dengan teman-teman mereka.

Kaki saya masuk ke Giordano, melihat-lihat koleksi baju musim dingin. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik pada baju dingin, sebab saya sendiri juga tidak tahu kapan bisa traveling ke negara 4 musim.

Pas mau motret air mancur, muncul sepasang model #juxtaposed

“Mei you tuan de yi fu ma?” tanya saya pada penjaga tokonya dan dia tampak heran karena saya mencari kaos disaat masih musim dingin. Tiba-tiba kita tertawa sambil mata saya melihat ke sekeliling display pakaian temanya musim dingin. Selesai bertanya, saya hanya melihat sekilas koleksi coat yang katanya akan turun harga setelah habis musim dingin.

Dari arah jauh, ketiga teman saya sedang sibuk dengan gadget mereka masing-masing. Saya memberi isyarat untuk berjalan menuju reruntuhan gereja St. Paul, bangunan ikonik yang wajib dikunjungi saat ke Macao.

Walau Macao bukan tergolong metropolitan, namun jalanan di Macao masih sangat aman bagi kita berjalan saat malam. Pukul 9 malam jalanan mulai terasa sepi, apalagi di lorong. Para penjual kaki lima sudah mulai membereskan dagangan mereka, kecuali toko-toko biasanya mereka pukul 10 malam.

Baca juga : Romantisme Reruntuhan Gereja St. Paul, Macao

Menikmati Malam di Reruntuhan Gereja St. Paul

Kisah romantis berawal dari reruntuhan gereja St. Paul

Reruntuhan gereja St. Paul terlihat berdiri kokoh dari arah kaki saya berdiri. Bangunan yang menjadi salah satu tempat wajib dikunjungi di Macao ini memang berbeda suasananya saat malam hari. Justru di waktu malam suasana reruntuhan gereja St. Paul lebih romantis daripada saat pagi hari. Tidak ada grup tur yang membawa baliho besar atau lautan manusia yang berfoto dengan latar reruntuhan gereja. Hanya ada pasangan muda-mudi yang sedang dilanda asmara.

Saya? saya hanya menikmati pemandangan sejuta dolar di Macao dari atas reruntuhan gereja St. Paul kita bisa melihat kerlap-kerlip lampu Grand Lisboa, kasino besar di Macao Peninsula.

Telunjuk saya terus mencari setelan kamera yang pas untuk suasana malam. Foto saat malam hari memang tantangan, saya memang tidak bawa tripod dan mencari alas untuk meletakkan kamera pun tidak ada. Cara yang saya lakukan menahan nafas dan perut sekitar 3 hingga 5 detik agar tangan tidak tremor.

Dua orang mendekati saya ketika saya sedang melihat hasil foto di kamera. Saya melihat memberikan senyuman pada mereka. Si pria meminta bantuan saya untuk memfoto dia bersama pasangannya. Tentu saja dengan senang hati saya memotret mereka. Saya langsung menerima uluran ponselnya dan mulai mengarahkan keduanya mulai bergaya. Memang berbeda saat foto traveling hanya berupa selfie dengan difoto orang.

Tiba-tiba terlintas saya juga ingin memotret mereka menggunakan kamera saya. Mereka pun senang akhirnya saya kembali memotret mereka dan memindahkan foto mereka ke ponsel untuk mengirimkan lewat email. Yippie!

Selesai saya memotret mereka, tiba-tiba dari arah belakang ada suara seseorang yang saya kenal.

“Mas, aku juga mau dong difotoin!” mas Christo langsung menyodorkan iPhone-nya dan mengambil posisi siap foto.

Dalam perjalanan ke Macao, saya dan Mas Christo lebih banyak saling memotret. Sedangkan, Mas Zul dan Mbak Dewi jarang sekali tertangkap dalam bidikan kamera kecuali kalau mereka minta dipotret sendiri.

Saya mengecek whatsapp group, ternyata mbak Dewi dan mas Zul sudah pulang duluan ke hotel karena mereka kelelahan. Tinggal saya berdua yang melanjutkan menuju Grand Lisboa, kasino yang memiliki bangunan paling nyentrik di tengah kota.

Baca juga : Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki

Grand Lisboa, Di Balik Gemerlap Kasino

Google maps berhasil menuntun kami menuju Grand Lisboa selepas dari reruntuhan gereja St. Paul. Sangat mudah menemukan Grand Lisboa di antara lorong, kami hanya mengikuti arah bangunan tinggi tersebut berdiri.

“Ah, Lisboa…” mendesih saya dalam hati lalu segera mencari posisi untuk mengambil gambar. Pantulan lampu LED yang menyelimuti bangunan memang menyilaukan tapi tahukah kalian kalau dibalik kilauan itu ada cerita tersembunyi dari orang-orang yang telah menaruhkan seluruh hartanya di kasino?

Seorang pria mendekati saya dengan bahasa Mandarin dia menawarkan kepada saya untuk membeli iPhone X miliknya. Saya dan Mas Christo saling melirik kemudian menolak halus menggunakan tangan.

Lalu saya ingat kalau dia adalah pria yang tadi siang juga menghampiri kami saat sedang makan di foodcourt Venetian. Saat itu setelah saya bilang “Xie-xie ni,” dia langsung pergi namun kali ini cara saya tidak berhasil. Tiba-tiba dia bilang kalau kami pasti dari Indonesia. Pasti! Pasti dari Indonesia! Serunya dalam bahasa Mandarin yang membuat saya bingung kenapa dia berteriak setelah bilang saya tidak tertarik untuk membeli dan bicara ke Mas Christo dengan bahasa Indonesia untuk segera pergi. Kami langsung pergi meninggalkan dia setelah demi alasan keselamatan.

Kami berjalan kaki menuju arah hotel. Jalanan di Macao memang tak seperti ibukota di Jakarta yang akan terus ramai. Macao seperti menjaga keseimbangan suatu tatanan kota dan hidup yang tentram.

Baca juga : Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.