info wisata ambon

Solo Traveling Modal 150 Ribu Bisa Puas Keliling Kota Ambon

Setiap perjalanan pasti menemukan jalannya sendiri, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya datang. Dua minggu setelah balik dari Kerala, India, ternyata semesta membukakan jalan saya ke Maluku Tengah, tepatnya Banda Neira. Saya pikir sekalian berada di Maluku, kenapa tidak menambah hari keliling Ambon untuk solo traveling? Naluri untuk solo traveling kembali melatih kemampuan diri beradaptasi dengan lingkungan.

Nama Ambon masih terdengar asing bagi saya, apa yang menarik dari ibu kota provinsi Maluku tersebut?

Read More »

Iklan
unspoken story of tidore

Failonga, Unspoken Beauty of Tidore

Beberapa hari setelah mengikuti rangkaian acara Hari Jadi Tidore ke-909 membuat kami secara tidak langsung ikut mengenal Tidore dari sisi budaya dan tradisi yang telah ada turun temurun. Tidore seolah menyimpan harta karun yang tersembunyi untuk kita nikmati seperti salah satu keindahan wisata baharinya yaitu Pulau Failonga.

Sebagai kota yang dikenal sarat akan keislaman, sejarah dan budaya. Nyatanya pulau Tidore memang diciptakan Tuhan pada saat sedang tersenyum. Ruang hati saya seolah terisi penuh dengan decak kagum saat pertama kali melihat pulau mungil di timur laut Tidore ini. Pulau tak berpenghuni yang berada di antara Tidore dan Halmahera ini sudah menarik mata saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Tidore.

pulau failonga
Ruas jalan yang bersih dan bebas macet di Tidore
pulau-failonga
OOTD saya sangat santai, kaos tidur, celana pendek, sendal jepit, dry bag dan topi

Saya baru kali ini mengikuti suatu acara festival, kami sepakat tubuh ini masih lelah karena beberapa malam tidur larut. Hanya begitu mendengar kata air dan laut? Seolah kami semua mendapat suntikan energi untuk berkata : Let’s go!

Rombongan kami berjumlah sekitar 15 orang sudah bersiap sejak pukul 8 pagi waktu setempat. Kami diajak menuju Dermaga Pelabuhan Goto. Dermaga pelabuhan ini berada tidak jauh dari Pantai Tugulufa dengan panorama laut yang dan suasana yang asri. Apabila di sore hari di pinggiran pantai terdapat beberapa warung makan. Perahu cepat kami sudah tersedia di bibir dermaga dan siap mengangkut kami dengan perasaan senang bercampur penasaran menuju Failonga.

dermaga pelabuhan goto
Bersiap naik speedboat dari Dermaga Pelabuhan Goto

Waktu tempuh perjalanan menuju Pulau Failonga kurang lebih 30 menit karena rute perahu akan menuju ke tengah laut. Cara lain, apabila kalian berada di Pelabuhan Bastiong.

Ternate juga bisa langsung menyewa perahu dari sana dengan jarak tempuh kurang lebih hampir sama. Memang di Tidore tidak ada transportasi khusus yang melayani rute ke Pulau Failonga. Jangan khawatir mengenai harga sebab harga sewa perahu masih terbilang terjangkau. Pulang-pergi satu perahu kapasitas 10 orang sekitar Rp 600.000.

Rombongan kami datang sudah terlalu siang, matahari mulai perlahan naik. Padahal waktu yang tepat untuk ke Failonga adalah pagi hari, karena ombaknya belum terlalu tinggi. Bagi kalian yang punya masalah dengan mabuk laut, sudah pasti harus menyiapkan obat anti mabuk terlebih dahulu. Selama perjalanan kita dapat melihat megahnya puncak Gunung Marijang atau yang lebih dikenal sebagai Kie Matubu.

Baca juga:

Melihat Failonga Lebih Dekat

Pulau Failonga
Pulau Failonga – Tidore

“Pak, perahunya nanti pelan saja ya kita mau foto pulaunya dari jauh.” Pulau Failonga seperti secumpuk tebing batu yang berada di tengah laut dengan perpohonan yang kian hijau. Kami mengitari pulau tersebut untuk menemukan lokasi yang tepat menepikan perahu dan rantai jangkar agar tidak merusak terumbu karang di bawahnya.

Di luar perkiraan saya ternyata butuh perjuangan lewat berenang dengan jarak sekitar 50 meter dari perahu menuju bibir pantai. Kondisi saat itu arus air cukup deras dan persis di bawah sudah ada terumbu karang tajam. Perahu tidak memungkinkan untuk lebih mendekat karena faktor untuk melepaskan jangkar.

pulau-failonga
Satu persatu kami turun kapal dan berenang menuju bibir tepi pantai
Pecicilan amat ya anaknya, harusnya langsung naik eh ini sibuk selfie 😀

Ada gunanya membawa drybag saat destinasi liburan kita dekat dengan air. Sebab kita bisa memasukkan barang-barang penting seperti kamera, ponsel dan pakaian agar terhindar dari basah atau hal yang tidak kita inginkan.

Setelah menggenakan life jacket, saya segera menjatuhkan diri ke dalam air. Beberapa kali tubuh saya terseret arus deras sehingga membuat saya agak kesusahan. Saya pun berusaha menggandeng tangan Yuk Annie agar ada pemberat dan kami bisa bertahan menuju pinggir pantai pasir putih. Ternyata dua orang yang tidak mahir berenang ini masih ikut diseret oleh arus air. Beruntung tidak beberapa lama Kak Gathmir menolong kami segera. Dalam benak saya hampir saja nyawa ini jadi taruhan.

Bagai Pulau Tak Berpenghuni

pulau-failonga
Keindahan batu-batu besar di sekitar pulau

Hamparan pasir putih nan halus dan gradasi warna air yang memanjakan mata. Dua hal ini yang membuat terbius dalam beberapa saat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di pulau Failonga. Sama sekali hening. Pulau ini hanya dikelilingi oleh batu tebing yang tergolong curam. Sebagian batu-batu kecil berada di antara pasir putih. Justru inilah yang menjadi keunikan dari Pulau Failonga.

Seolah mata sudah lapar melihat air, kami segera melepaskan kebahagiaan menceburkan diri ke dalam air. Kami banyak melakukan kegiatan selama di Pulau Failonga mulai dari berenang, snorkeling melihat ikan-ikan kecil, berjemur atau memanjat batu tebing untuk melihat panorama Pulau Failonga juga bisa dilakukan.

pulau-failonga
Karang yang rusak di dekat pulau #SaveFailonga
pulau-failonga
Kami berada di tepi antara karang dan pasir putih. Foto dari Rifky “papanpelangi”
pulau failonga
Cocok untuk foto keluarga seperti Keluarga Kak Gathmir dan Ci Ita
pulau failonga
Lupakan terik matahari, kami asyik berbasah kuyup. Foto dari Rifky “papanpelangi”
Momen saat saya difoto lalu Mbak Zulfa dan Ayu kerjain saya, mereka pergi kabur. Foto dari Rifky.

Oleh karena rasa ingin tahu, saya mulai memanjat tebing batu yang mudah dijangkau. Namun, harap berhati-hati saat akan menaiki tebing batu karena beberapa pijakan batu ada yang kurang kuat. Dari atas tempat kaki saya berdiri, saya menyaksikan langsung keindahan dua buah pulau dalam satu pemandangan yaitu Pulau Tidore dan Halmahera dari atas tebing batu Failonga.

Di lihat dari atas, Pulau Failonga ini dikelilingi oleh pasir putih dengan batas jarak kedalaman air mencapai 2 meter kemudian kita sudah memasuki area terumbu karang. Kami sempat mengabadikan foto bersama untuk menunjukkan batas karang dan pasir putih.

Baca juga : ASUS ZenFone 3 Max (ZC553KL) Menemani Perjalanan Seru di Tidore

Kenikmatan Hakiki Makan Bersama

Tidak terasa sudah dua jam berada di Pulau Failonga. Matahari semakin naik ke atas dan terik, beberapa dari kami beristirahat di antara celah-celah batu yang ditutupi oleh perpohonan. Teman-teman Ngofa Tidore lainnya seperti Bams, Aka, Oji, dan Ko Udin datang menggunakan kapal yang tadi mengangkut kami. Mereka semua telah mempersiapkan menu makan siang bagi kita bersama.

pulau failonga
Bams sedang membakar ikan untuk kita makan bersama
pulau failonga
Kenikmatan hakiki liwetan bersama

Ini merupakan pengalaman baru bagi saya saat traveling. Keluarga baru saya di Tidore telah menyiapkan ikan dan sambal dabu-dabu andalan untuk kami santap makan bersama. Semua orang duduk menjatuhkan pantat beralaskan batu. Nikmat seperti apa lagi yang ingin didustakan? Di tengah pulau tak berpenghuni kami melakukan liwetan. Alas pelepah daun pisang menjadi alas makan kami siang hari itu. Bams, Aka dan Ko Udin kali ini bertugas untuk memanggang ikan dan mereka menjadi orang yang paling kami nantikan.

Perut kami sudah tidak sabar menantikan ikan-ikan segar itu untuk disantap lengkap dengan sambal dabu-dabu, ketupat bungkus dan Goboro. Goboro merupakan nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan diikat. Bisa juga terbuat dari jagung yang sudah dihaluskan. Cara masaknya dengan dikukus. Cita rasa yang luar biasa gurih sehingga dapat menjadi pengganti seperti nasi. Sungguh ini kenikmatan hakiki yang sulit untuk terulang kembali.

Mari Kita Orang Jaga Failonga!

lazy bag
Bucketlist is checked. Berfoto ala-ala di lazy bag bhuakakakaka….

Perairan sudah mulai tenang, kami mengeluarkan lazy bag agar dapat bersantai di atas menikmati aliran air yang sudah tenang. Ikan-ikan kecil mulai bermunculan. Udara bertiup sepoi-sepoi. Saya kembali asyik dengan kamera untuk mengambil beberapa spot foto sebagai dokumentasi keindahan Pulau Failonga.

Sebenarnya dari awal kedatangan ke Failonga, pulau ini indah dan alami namun sayangnya dirusak oleh tangan-tangan usil yang mengotori dinding-dinding batu tebing dengan meninggalkan tulisan-tulisan yang tidak ada manfaat menggunakan cat. Saya tidak habis pikir apa yang ada dalam pikiran mereka. Kebanggaan seperti apa yang ingin didapat kalau melakukan vandalism di tiap objek wisata?

pulau failonga
Blogger “Kain Kodian”, Mbak Rien lagi sesi pemotretan sama kain di atas gundukan batu
Rifky “Papan Pelangi” dan Padi

Selain itu, di sekitar tempat kami beristirahat ternyata banyak juga sampah-sampah non organik di sekitar pulau. Hal ini membuat Rifky tergerak hati untuk mengambil sampah-sampah tersebut ke dalam karung sampah yang dibawa. Saya jadi ingat saat traveling ke Air Terjun Bedegung, Sumatera Selatan  dan di atasnya terdapat warung yang menjual mie instan tinggal seduh. Dari bawah para penjual itu memikul barang dagangan mereka ke atas, lalu sampah-sampah bekas jualan mereka buang ke dalam aliran air terjun. Akhirnya membuat sebagian aliran tersumbat oleh tumpukan sampah. Miris!

Baca juga : Pesona Air Terjun Bedegung, Aset Wisata Sumatera Selatan

Sekujur tubuh tampaknya sudah mulai memerah karena hampir lima jam kami bermain di Pulau Failonga. Lotion sunblock yang saya gunakan tidak mampu menahan teriknya matahari. Selesai membereskan perlengkapan sekaligus satu karung goni dan tiga kresek berisikan sampah-sampah pengunjung. Satu per satu kami mulai naik ke atas perahu. Kali ini badan perahu sudah bisa lebih menepi ke pinggir pantai karena air laut sudah mulai tenang dan tidak pasang.

pulau-failonga
Batu-batu besar ini tingginya ada yang lebih tinggi dari tinggi saya
pulau-failonga
Dua generasi ini sedang menatap satu sama lain

Di dalam perahu kami saling menatap ke “harta karun” yang kami bawa pulang dengan tatapan penuh makna. Mesin baling-baling perahu bergerak dengan kencang meninggalkan pulau kecil sejuta pesona ini. Amat disayangkan jika salah satu potensi alam di Tidore ini rusak sebelum dikenal luas. Barangkali pemerintahan setempat dapat membuat semacam dermaga atau jembatan agar dapat digunakan sebagai tempat bersandarnya perahu saat pengunjung datang sehingga terumbu karang yang ada di sekitar Failonga tidak patah terkena jangkar perahu.

Sama seperti saya juga siap jadi sandaran bagi kamu eh Ayoklah kapan ajak Kokoh jalan-jalan lagi?

Tips berkunjung ke Pulau Failonga

Berikut sejumlah tips yang bisa kalian ikutin sewaktu akan berkunjung ke Pulau Failonga.

  • Persiapkan obat anti mabuk, bagi kalian yang memiliki masalah dengan mabuk laut.
  • Gunakan pakaian renang/snorkeling/diving
  • Gunakan sunblock SPF untuk melindungi kulit dari terik matahari secara langsung.
  • Bawa bekal makanan/minuman
  • Gunakan dry bag untuk melindungi barang penting dari basah.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman seperti sandal gunung atau sepatu khusus snorkeling/diving
  • Bawa kamera underwater serta gunakan dry case untuk melindungi perangkat elektronik.
  • Tidak meninggalkan sampah di pulau.
  • Tidak melakukan perbuatan tindak asusila/berkata kotor di sekitar pulau.

***

Tulisan mengenai Pulau Failonga, di Tidore ini juga dimuat di Sriwijaya Air Inflight Magazine August 2017.

Terima kasih untuk Ngofa Tidore Tour Travel yang telah mengajak saya jalan-jalan bersama teman Travel Blogger lainnya.

gurabunga tidore

Gurabunga, Mengenal Tradisi Masyarakat Pegunungan Tidore

Saat pertama kali menulis tentang Visit Tidore Island, Merekam Jejak Wisata Pulau Rempah beberapa waktu lalu. Ada satu tempat di Tidore yang membuat saya ingin berkunjung ke sana. Gurabunga namanya, sebuah kelurahan di kaki Kie Matubu. Arti kata Kie adalah gunung. Matubu merupakan puncak gunungnya. Nama asli gunung itu sendiri adalah Gunung Marijang tapi orang-orang lebih familiar menyebutnya Kie Matubu.

Gurabunga dalam wilayah administratif masuk dalam wilayah kelurahan. Walaupun begitu saya lebih suka menyebutnya sebagai kampung tempat bermukimnya orang-orang lokal setempat. Menggambarkan Gurabunga itu seperti kamu berada di suatu tempat dataran tinggi nan sejuk. Oh ya, satu lagi tenang. Gurabunga juga dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” oleh karena wilayahnya berada di dataran tinggi. Kita bisa melihat awan seolah dekat jaraknya.

Selamat datang di Gurabunga…

gurabunga, tidore
Gurabunga, Tidore

Hari pertama tiba di Tidore, sorenya kami diajak untuk ramah tamah di Gurabunga. Kebetulan Gurabunga menjadi tempat dimulainya rangkaian Hari Jadi Tidore ke-909. Sepanjang jalan dari dalam mobil, jalanan di Tidore masih sangat luas dan bebas hambatan. Sejauh penglihatan saya tidak ada lampu merah bahkan tukang parkir yang tiba-tiba nonggol sendiri sewaktu kita mau keluar. Betul-betul kota yang sangat layak untuk dihuni.

Medan jalan menuju Gurabunga lumayan ekstrim, beberapa kali kami melewati tikungan tajam. Kanan kiri melewati hutan dan jurang. Apalagi saat naik tanjakkan tinggi, mobil kami sempat berhenti sejenak dan mulai tercium aroma ban yang saling bergesekkan dengan aspal. Dalam situasi seperti itu saya cuma bisa berdoa saja dari bangku belakang penumpang 😆

desa terbersih di indonesia
Bersih, tenang dan damai di Gurabunga.

Kie Matubu tampak dekat sekali dari tempat saya berdiri. Awan tipis bergerak di atas rumah warga menambah kekagumanku terhadap Gurabunga. Para orang dewasa sibuk memasang terpal dan tenda untuk acara Ake Dango dalam rangkaian Hari Jadi Tidore ke-909. Anak-anak kecil riang gembira bermain sepak bola di tengah lapangan hijau nan luas.

Saya melirik ke teman-teman lainnya, mereka sedang asyik sendiri, kecuali mas Eko yang saya lihat dia sibuk berbicara sendiri di depan kameranya.

Berkunjung ke Gurabunga, selain kita bisa menikmati ketenangan desa yang ditawarkan. Ada yang ingin saya jumpai yaitu orang-orang Gurabunga sendiri seperti Gogo, Eross, Aka dan Bams. Kenapa saya bisa tahu mereka? Sebelum berkunjung, teman-teman Ngofa Tidore seperti Ci Ita sudah mengenalkan empat orang tersebut. Mereka memiliki keunikkan sebagai pria Tidore. Serius tapi lucu, apalagi Bams. Inilah alasan saya kenapa tidak sabar saat akan berangkat ke Tidore. Saya jamin kalian akan jatuh hati kalau mereka sudah ngebanyol. Banyolan-banyolan mereka seperti penghibur lara di saat hati kita sedang gundah.

Sowohi Dalam Pemerintahan Gelap

rumah sowohi
Folajikosarabi, rumah sowohi

Bams dan Gogo mengajak rombongan kami untuk mengunjungi rumah Sowohi. Di Tidore ada rumah tradisional yang ditempati oleh Sowohi. Uniknya rumah tradisional tersebut sudah berumur ratusan tahun dan semuanya serba menggunakan bambu. Lantai rumah di dalamnya hanya beralaskan tanah empuk. Masyarakat Tidore sangat menghormati Sowohi sebagai ahli kebatinan. Sowohi ini diyakini sebagai mediator antara roh nenek moyang yang dapat memberitahu tentang akan dan sedang terjadi.

Petang yang indah, halaman perkarangan rumah yang luas dengan dominan berwarna putih. Dari luar perkarangan rumahnya sudah penuh dengan tanaman-tanaman. Saya lebih memilih untuk memotret halaman luar terlebih dulu sebab cuaca sedang baik. Setelah dirasa cukup, barulah saya masuk ke dalam. Ternyata telah terjadi diskusi panjang yang lumayan menarik dari Bu Woro, Rifky, Mas Dwi dan Mas Eko.

sowohi tidore
Kami sedang mendengarkan cerita dari Ko Yunus tentang sowohi

Di tengah obrolan, barulah saya tahu kalau orang yang sedang menjelaskan peran Sowohi ini adalah Ko Yunus. Sebutan “ko” merupakan panggilan bagi pria dewasa mirip seperti kita memanggil kakak atau abang. Ko Yunus ini termasuk salah satu sowohi tertua di antara enam Sowohi yang ada di Tidore. Seorang sowohi dapat menjabat sampai usia akhir hayat.

Sebagai orang penting di Tidore, para Sowohi ini tinggal di sebuah “rumah dinas” yang sudah berusia ratusan tahun. Rumah adat tersebut bernama Folajikosarabi yang terbuat dari bambu dan dilapisi oleh tanah. Rumah ini memiliki 5 ruangan. Informasi yang saya dapat desain rumah ini kaya akan nuansa Islam. Misal, jumlah ruangan yang sesuai dengan waktu sholat dan memiliki 2 simpul di setiap bambu, yang melambangkan 2 kalimat syahadat.

isi rumah sowohi
Salah satu sudut di rumah sowohi
lantai tanah
Lantai tanah di rumah sowohi

Di salah satu rumah Sowohi yang saya datangi tidak banyak perabotan rumah tangga. Semuanya hanya perabotan sederhana seperti meja dan kursi tamu. Ada satu ruangan kamar menjadi ruangan Sowohi untuk berdoa atau ruangan puji.

Sabar, saya tahu kalian pasti juga penasaran tentang apa yang dilakukan Sowohi saat di dalam ruang kamar. Ko Husain menceritakan selama di dalam ruangan dia mencoba berkomunikasi berbicara pada roh nenek moyang, setelah sebelumnya melakukan sholat. Komunikasi yang dilakukan biasanya menyangkut masa depan Tidore. Misalnya mengambil keputusan yang besar atau melakukan pemilihan sultan. Termasuk menemukan “wangsit” siapa yang akan menjadi who’s the next Sowohi?

Ko Yunus berasal dari marga Fola Sowohi telah diangkat menjadi sowohi sejak tahun 2001. Dia memimpin lima sowohi lainnya yang berasal dari lima marga, yaitu Mahifa, Toduho, Tosofu, Tosofu Malamo, dan Fola Sowohi. Mereka yang menjadi sowohi ini masuk dalam struktur Kesultanan Tidore yang disebut sebagai pemerintahan gelap. Sedangkan Sultan Tidore beserta perangkat kesultanan di bawahnya disebut pemerintahan terang.

Bingung kan? kenapa ada pemerintahan gelap dan terang?

Disebut demikian karena sowohi diyakini bisa menjalin komunikasi dengan roh leluhur, sesuatu yang sulit dilakukan Sultan Tidore ataupun perangkat di bawahnya. Sedangkan pemerintahan terang yang dipimpin Sultan Tidore bertugas menjalankan roda pemerintahan kesultanan. Komunikasi dengan roh leluhur itu menjadi syarat utama tiap yang akan dilakukan Kesultanan Tidore. Bahkan termasuk hal-hal penting dalam mengambil keputusan Kesultanan Tidore harus seizin sowohi.

Makin saya cari tahu, makin dibuat penasaran oleh rasa ingin tahu saya. Cuma saya sadar, kalau di dunia ini ada hal-hal yang tidak boleh kita ketahui. Kesan mistis semakin kuat yang saya rasakan saat mencoba bertanya. Seolah ada “orang lain” yang sedang mengawasi kami. Untunglah ada Bu Woro yang kuat akan ilmu budaya mau berbaik hati menjelaskan kembali dengan bahasa yang mudah saya mengerti.

Menikmati Hidangan Makanan Pegunungan

kebun tomat tidore
Bams menemani kami ke kebun milik Gogo

Selain keberagaman budaya dan agama, ternyata sisi keindahan alam di Gurabunga ini membuat lebih saya kepincut. Selesai berkunjung ke salah satu rumah Sowohi, kami diajak Gogo ke kebun tomat dan kubis miliknya. Gogo sendiri merupakan anak gunung. Jangan ditanya seberapa kuat staminanya untuk naik turun Kie Matubu sebab itulahh alamnya. Aksi keren Gogo bisa dilihat kalau dia sudah menari Tari Kapita dengan pedang di tangannya, tatapan mata yang tajam serta berwajah fotogenik ini mampu menghipnotis orang untuk terus melihat pertunjukannya.

Berbeda dengan Bams yang bukan anak gunung tapi dia anak laut jadi sudah pasti laut adalah rumah kedua baginya. Kalian jangan kaget kalau sudah berjumpa dengan Bams dengan perawakan keturunan Arab – Tidore. Kesehariannya dia selalu menggunakan kain tenun, lengkingan “puts your hand up” dan tanpa alas kaki. Luar biasa! Keunikan seperti inilah yang saya rasakan sewaktu berjumpa langsung dengan mereka, pemuda-pemuda Tidore.

negeri 1000 masjid
Masjid dan Mushollah di Gurabunga
negeri di atas awan
Kemilau matahari mulai turun di balik Kie Matubu
kabut awan
Hutan pun diselimuti awan

Baru pertama kali saya mendapatkan pengalaman trip yang sangat kekeluargaan seperti di Tidore. Seolah menantikan kejutan-kejutan seperti apa lagi yang bisa ditawarkan oleh Tidore. Matahari mulai kembali ke peraduan berganti peran dengan bintang. Di Tidore, waktu berjalan lambat. Sinyal telepon pun tidak ada. Sayup terdengar suara adzan saat maghrib. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan. Tiba-tiba saya seperti melihat kumpulan awan yang menutupi hutan dibalik Kie Matubu. Kemilau sinar matahari terbenam menyinari hutan. Decak kagum saya makin menjadi terhadap Gurabunga, negeri di atas awan itu memang nyata.

“Saya mau menginap semalam di Gurabunga!” pekikku dalam hati.

Saya bersama rombongan wanita seperti Mbak Tati, Mbak Zulfa, Mbak Rien dan Yuk Annie memilih duduk sambil menikmati segelas kopi dabe khas Tidore. Kopi hitam dengan dicampur air guraka yang kaya rempah menghangatkan malam di Gurabunga. Kami duduk bersantai sambil menunggu para pria melakukan sholat maghrib.

“Kok ada dua masjid sih di sana?” tanyaku.

“Yang besar itu masjid, dan yang kecil itu musholah. Biasanya yang masjid buat pria. Kalau yang musholah buat perempuan.”

Tidore memang pulau seribu masjid. Di sepanjang perjalanan saya melihat ada lebih dari satu masjid. Cuma sayangnya berbanding terbalik dengan jumlah penginapan yang tak sebanyak hitungan jari tangan. Rumah makan mungkin hanya bisa ditemukan di dekat pasar atau terminal.

makanan khas tidore
Kurang lebih 40 jenis makanan khas Tidore

Saya bertanya-tanya kapan kita makan malamnya ya? Cuaca dingin memang membuat lebih mudah halusinasi karena lapar. Mulailah saya celetuk berandai ada Indomie Kuah Kari Ayam pastilah menjadi momen indah untuk bercerita pengalaman kami menikmati indomie kuah di Gurabunga. Nikmat sederhana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Sabar, itu ada makanan lagi disiapin buat kita.”

Kita? Saya coba bertanya lagi maksudnya dengan kata “kita”. Ternyata malam pertama di Tidore, kami mendapat inisiasi dari ibu-ibu di Gurabunga untuk menyambut kami dengan makanan pegunungan. Sebagai masyarakat pegunungan dan masyarakat adat, tentunya masih memegang tradisi secara turun temurun. Setiap perayaan Hari Jadi Tidore (HJT), masyarakat Gurabunga mengekspresikan kegembiraan dan sukacita sebagai ungkapan syukur menyambut datangnya HJT dan kami pada malam itu.

Aneka makanan pengunungan ini merupakan makanan khas orang Tidore bahkan ada juga makanan yang sudah hampir punah dan jarang dijumpai di Tidore pun ada khusus untuk momen kali ini. Bahan baku yang mereka gunakan ada sebagian yang diambil di gunung. Begitu mendapat penjelasan seperti itu, rasa respek saya terhadap Tidore semakin bertambah.

makanan khas tidore
Ibu ini lagi bercerita jenis makanan yang mereka masak.
aneka makanan tidore
Sabar ya, Mblo…
jamuan makan malam
Mengosongkan perut biar bisa icip semua makanan enak ini

Ibu-ibu di Gurabunga sibuk mondar mandir mengeluarkan aneka makanan yang disajikan di atas meja. Anak-anak kecil mulai menahan liur melihat banyaknya makanan. Satu per satu menu telah mereka keluarkan dibantu oleh anak gadis. Pertama kali dalam hidup saya melihat aneka makanan yang sangat disajikan secara massal. Rata-rata olahan makanan ini terbuat dari ubi, ikan segar, daun hijau. Total sekitar 40 jenis makanan yang siap untuk kami santap bersama. Sebagian makanan ada yang diberi label nama sehingga kami tahu nama makanan tersebut.

Melestarikan Tradisi Lewat Permainan Baramasuwen

tidore kepulauan
Para pejabat daerah di Tidore Kepulauan

Acara malam ramah tamah di Gurabunga ini tidak hanya diramaikan oleh warga Gurabunga saja. Menyambut Hari Jadi Tidore ke-909, Gurabunga seperti tuan rumah ingin menyambut tiap orang yang datang. Tidak beberapa lama mulai berdatangan para tamu undangan sampai pejabat daerah. Suasana berlangsung meriah. Panitia setempat juga mempersiapkan beberapa pertunjukan seni yang dibawakan oleh anak-anak setempat.

Ada satu pertunjukkan yang dinantikan oleh kami semua yaitu atraksi Baramasuwen atau Bambu Gila. Pertunjukkan Bambu Gila ini merupakan kelestarian permainan dari Tidore yang sudah turun temurun. Keunikan dari atraksi Bambu Gila ini saat kita memegang sebatang bambu bersama-sama maka kita akan merasakan batang bambu terasa berat. Permainan ini dimulai setelah sang juru kunci dengan membawa anglo lalu mengasapi kedua lengan peserta yang terlebih dahulu sudah menjepit bambu. Satu ruas bambu bisa dimainkan setidaknya 7 orang. Saya kebagian di bagian tengah. Dengan tampang polos sekaligus penasaran apa yang akan terjadi setelah sang juru kunci meneriakin “Baramasuwen” maka tiba-tiba saja tubuh saya ikut terbawa arus.

bambu gila tidore
Baramasuwen ini telah ada sejak zaman kolonial
permainan bambu gila
Satunya ketakutan, satunya kegirangan, satunya melonggo

Saya merasakan kegilaan orang-orang yang sedang memegang bambu mendadak meronta-ronta di tengah lapangan. Seolah bambu itu sangat kuat bahkan sulit dikendalikan oleh para peserta. Berbeda dengan yang saya rasakan, badan saya ikut terseret oleh mereka-mereka yang berada di ujung bambu kiri dan kanan seperti Yayan.

Permainan ini berlangsung kurang lebih 10 menit. Orang-orang tampak bersorak menyemangati kami seolah ingin berkata kalian masih kuat? Masih mau lagi?

“Hee bara masuwen…!” teriak sang juru kunci.

“Hee I dadi gou-gou!” membalas sautan sang juru kunci. Setiap mereka yang berteriak “dadi gou-gou” maka saat itu juga arus gerak bambu semakin kencang dan berat. Saya terhuyung-huyung oleh himpitan badan orang di kanan dan kiri saya. Sesekali sang juru kunci mengelilingi arena terus­menerus sembari membacakan mantra-mantra.

Selesai bermain, saya bilang kalau saya tidak merasakan apa-apa. Tapi berbeda waktu saya bertanya ke Yayan yang kebetulan berada paling ujung, dia mengatakan kalau tiba-tiba bambu tersebut terasa sangat berat sekali. Aneh tapi nyata. Kunci dari Baramasuwen ini terletak pada keyakinan masing-masing orang. Apabila kalian yakin bambu tersebut berat maka pada saat teriakan “dadi gou-gou” maka mantra pun akan bekerja.

pentas seni tidore
Pertunjukkan seni oleh anak-anak Tidore

Saya percaya hampir di setiap pelosok Nusantara ada saja fenomena yang berhubungan dengan kekuatan magis. Begitu juga di daerah Tidore. Cerita yang saya dapat mengenai awal mula permainan ini saat dulu melawan Portugis, banyak peralatan berat seperti meriam dan amunisi berat lainnya bisa mereka angkat dengan mudah setelah diberi matra Baramasuwen. Suatu saat saya harus mencoba kembali permainan bambu gila ini dan mengambil peran di posisi paling ujung.

Gurabunga masih menyimpan eksotika dalam balutan sejarah, keunikan serta kearifan lokal yang sangat ingin saya rasakan dan tuang dalam bentuk tulisan. Semoga saja suatu saat nanti saya bisa kembali ke Kampung Kebun Bunga, arti nama Gurabunga untuk bermalam, menikmati hidangan makanan yang enak, naik ke puncak Kie Matubu sekaligus menemukan ketenangan batin di tempat ini.

***

Terima kasih Ngofa Tidore Tour and Travel Team sudah mengajak saya jalan-jalan ke Tidore.

ratib taji besi

Ratib Taji Besi, Tradisi Debus Tidore

Selesai acara Hari Jadi Tidore 909 di lapangan Kadato Kie siang hari, kami tidak banyak kegiatan selama di Tidore. Beruntung saya dapat mencicipi makan bersama Bobato, orang-orang penting di kesultanan Tidore. Hidangan makan siang kami sederhana namun terasa nikmat karena disantap bersama. Saya tidak dapat mengingat ada hidangan apa saja karena jujur makanan di Tidore itu banyak sekali jenisnya.

Sepulangnya dari Kadato Kie menuju Seroja, penginapan kami yang jaraknya cukup dekat dengan berjalan kaki juga sampai. Kami beristirahat sejenak menantikan waktu sore dengan harapan cuaca tidak membuat kulit menjadi garing. Saya sendiri walaupun sudah mandi ternyata tidak beberapa lama berkeringat kembali. Akhirnya saya memilih mengaparkan badan di lantai.

Hari-hari di Tidore terasa sangat cepat, termasuk malam hari. Mas Eko, Yayan dan Rifky pun sudah mengambil wudhu untuk sholat di masjid depan penginapan. Saya sendiri tidak tahu ada kegiatan apa malam setelah acara Hari Jadi Tidore ke 909. Namun dari Yuk Annie dan Mbak Rien bilang kalau malam ini mau melihat Ratib Taji Besi harap bersiap diri dan kalau tidak sanggup lihat lebih baik tidak ikut menonton Taji Besi.

Saya mengernyitkan dahi, bersiap diri? Sebegitunya kah pertunjukan debus-nya orang Tidore ini?

Di Indonesia, saya mengetahui Aceh dan Banten memiliki budaya debus yang lumayan terkenal. Seni debus sendiri tumbuh berkembang sejak lama. Di Tidore sendiri selain Taji Besi ada ritual namanya Salai Jin. Salai Jin ini merupakan ritual yang biasanya dipertunjukkan atau dilakukan dalam suatu hajatan yang berupa upacara ritual untuk menebus kaul seseorang yang pernah mengucapkan hajat, apabila ia selamat dari sesuatu musibah atau penyakit berat yang dideritanya. Namun, Salai Jin ini tidak boleh sembarang digelar karena hanya marga-marga tertentu saja yang boleh. Sebab, apabila telah berlangsung menari, maka orang yang kemasukkan itu bisa menari hingga 7 hari 7 malam tanpa istirahat.

ratib taji besi
Ratib taji besi dipimpin oleh syekh, ahli kebatinan

Berbeda dengan Salai Jin, Ratib Taji Besi tidaklah seekstrim seperti itu. Pelaksanaan ritual Taji Besi biasanya dipimpin oleh seorang guru agama ahli kebatinan, yang biasanya disebut “Joguru” atau “Syekh’. Di samping kiri kanannya dibantu oleh para muridnya sekitar lima atau sepuluh orang.

Saya mengambil duduk dengan jarak yang agak jauh begitu sampai di Kadato Kie. Ritual Taji Besi ini dilakukan di pelataran ruang tamu Kadato Kie. Begitu masuk, sudah banyak para lelaki berbaju koko putih dengan rebana di tangan mereka masing-masing. Ratib itu semacam pengajian yang berisi puji-pujian kepada para nabi, rasul, dan para imam, yang diiringi tetabuhan rebana. Saya duduk manis menonton dan mencoba menikmati ratib taji besi.

Peserta ratib taji besi di Kadato Kie
Syair-syair mulai dilantunkan.

Atmosfer di ruang tamu seketika berubah menjadi lebih panas dan seperti adrenaline di pacu. Sekitar lima belas menit puji-pujian dan tetabuhan rebana, saya melihat satu persatu para lelaki itu berdiri di depan syekh sambil memberikan hormat. Mereka mengambil dua buah besi tajam yang sudah didoakan oleh para ahli kebatinan itu. Sang Syekh memberikan isyarat kepada orang pertama yang memulai pertunjukkan untuk maju sambil jalan jongkok ke dapat sang Syekh untuk bersalaman dan menerima alat. Pada saat itu irama rebana dan syair-syair serta nyanyian zikir mulai didendangkan oleh peserta lain yang sudah memegang rebana.

Alat khusus untuk pertunjukkan ratib taji besi ini terdiri dari dua buah batang besi bulat sebesar ibu jari yang ujungnya diasah runcing dan tajam dan di bagian ujung lainnya dibentuk dengan kayu bulat sebesar kepalan tangan dan dihiasi dengan untaian rantai besi kecil. Sesekali paku besi itu diasapin di atas tempat bakar kemenyan, arang dan semacam Anglo beserta beberapa gumpalan kemenyan yang akan dibakar selama pelaksanaan ritual ini.

Peserta meminta izin mengambil taji besi.
taji besi
Besi tajam mulai menghujam dada
taji besi tidore
Kalian berani coba?

Mereka yang sudah mengambil paku besi dari tangan syekh kemudian menari mengikuti irama tetabuhan rebana. Kemudian, mereka mengambil kuda-kuda seolah badan mereka siap untuk menahan serangan dari luar. Dengan mata saya sendiri melihat paku besi tajam itu mencoba menembus dada mereka. Berkali-kali dicoba namun paku besi itu tidak berhasil menembus dada mereka, justru mental kembali. Luar biasa pertunjukan ratib taji besi ini. Saya tidak mampu menahan rasa takut melihat paku besi itu berkali-kali berusaha menembus dada para peserta taji besi.

Satu persatu peserta mengambil posisi untuk mencoba adu keberanian. Mereka menari-nari  sambil menghujamkan besi ke dada. Masing-masing peserta tidak dibatasi waktu sampai seberapa mereka sanggup saja. Lantaran mereka menggunakan kemeja warna putih, kadang  saya melihat ada darah yang menembus tapi hanya sedikit pada saat pertama memulai pertunjukkan, setelah itu tidak ada darah lagi. Ritme awal pertama kali biasanya pelan, setelah itu ritme akan berubah cepat. Paku besi itu sepertinya sudah tidak mempan lagi untuk menembus dada mereka sehingga dihujam berkali-kali seolah mati rasa.

taji besi
Jou Husain ikut menjadi peserta taji besi
taji besi
Makin lama, peserta makin ekstrim menghujam besi tajam
taji besi tidore
Meyakinkan diri untuk melakukan taji besi

Saya yang merekam sekaligus memotret mereka sudah diselimuti rasa bergidik, apa jadinya kalau ada insiden paku besi itu benar menghujam dada mereka? Tapi sepertinya yang saya ketahui Tidore sebagai pulau yang mayoritas muslim dan kuat akan ilmu kebatinan ini pasti akan aman-aman saja.

Acara ratib taji besi yang saya lihat ini berlangsung sekitar hampir 3 jam. Kami yang menonton pada malam itu harus menahan nafas cukup lama. Tampaknya ritual ratib taji besi ini sudah mengakar di budaya orang-orang Tidore. Seperti yang saya tanya tujuan diadakannya ratib biasanya terkait hajat atau permohonan tertentu kepada yang Maha Kuasa, misalnya agar suatu acara berlangsung lancar, yang sakit disembuhkan, yang meninggal diterima amal perbuatannya, dan sebagainya.

Tetabunan rebana semakin kencang
taji besi tidore
Harap menyiapkan mental sewaktu menonton taji besi.

Selesai acara, saya menghampiri salah satu peserta untuk bertanya dan melihat luka yang ada di dadanya. Ajaibnya luka darahnya memang sudah hilang, hanya berbekas tusukan-tusukan besi tajam saja di sekitar dadanya.

Kunci dari taji besi ini adalah kepasrahan dan kepercayaan. Percaya bahwa besi tajam tersebut tidak akan menembus dada, dan pasrah apabila besi tersebut benar menembus dada. Saya belajar kalau dalam hidup ini ada hal yang perlu kita pasrahkan saat segala upaya sudah dilakukan dan mempercayai diri sendiri bahwa yang kita lakukan adalah hal yang sudah tepat.

Di tengah acara, boki, permaisuri Sultan pun menggoda kami para lelaki untuk mencoba taji besi. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menolak 😆 maaf boki saya belum berani. Acara selesai dan kami pun kembali ke penginapan. Tidore, pulau kecil ini ternyata mengandung banyak kearifan lokal yang menarik untuk diulik.

***

Terima kasih Ngofa Tidore Tour and Travel Team sudah mengajak saya jalan-jalan ke Tidore.

tidore

Tidore Tempo Dulu, Sekarang dan Masa Depan

Kerinduan untuk memeluk Tidore akan segera terlaksana. Bunyi mikrofon dari ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno Hatta seakan memanggil agar penumpang pesawat JT 0897 segera masuk ke dalam bilik pesawat. Menit detik jam terus berjalan karena sebentar lagi pesawat akan tinggal landas menuju Ternate, Maluku Utara. Suara petugas bandara laksana gravitasi yang memanggil kami untuk segera menggerakkan badan sembari menahan kantuk menyeretkan kaki menuju pesawat. Pukul tiga subuh menjadi saksi saat berada di bandara tersibuk yang ada di Jakarta tersebut. Padahal, saya dan Yayan sendiri sudah terbang terlebih dahulu dari Palembang menuju Jakarta demi Tidore, pulau kecil yang ada di Timur Indonesia.

Dalam benakku menyesapi perjalanan kali ini seolah ada gravitasi besar yang membuatku ingin sekali menginjakkan kaki bukanlah ke Ternate, melainkan ke Tidore, pulau yang hanya dapat dijangkau melewati pulau saudaranya tersebut. Destinasi tujuan yang semuanya berawal dari obrolan malam di Raja Ampat. Namun, sebelum kita sampai di Tidore, kita harus masuk ke Ternate sebagai pintu gerbang kita sampai di Pelabuhan Rum, Tidore.

foto tidore dari udara
Tidore dari udara

Sosok pramugari menghentikan sejenak lamunanku karena memang tugasnya menjelaskan keselamatan dan keberadaan pintu darurat. Sedangkan kita untuk mengharuskan diri untuk melihat setiap intruksi keselamatan yang dia berikan. “Cantik,” ungkapku dalam hati. Pramugari itu berhasil menarik tiap pasang mata yang berada di dalam pesawat segera memperhatikan gerakan tangannya dalam hal memperagakan keselamatan di atas pesawat.

“All crew, take boarding position. Roger.” Suara interfon dari sang kapten membuat perjalanan kali ini seakan tidak sabar segera berjumpa dengan aura laut dan udara sejuk. Tak berapa lama, pesawat pun mulai perlahan naik ke atas meninggalkan landasan terbang menuju penerbangan dini hari dari Bandara Soekarno Hatta membawa kami menuju Maluku Utara. Kantung mataku pun mulai menutup akibat perjalanan jauh dari Palembang demi membuktikan sendiri indahnya Tidore Kepulauan. Lalu, bercerita kembali kepada kalian dalam tulisan agar apa yang saya rasakan tidak terhenti sampai di sini saja.

Kalian sudah siap?

Tidore Dalam Balutan Sejarah di Mata Dunia dan Indonesia

Rute terbang menuju Tidore melewati Ternate

Tanganku menarik majalah yang terselip di depan bangku penumpang. Halaman per halaman kubuka dan kuhabiskan untuk dibaca. Hingga sampai halaman akhir, halaman yang berisikan peta rute penerbangan. Mataku pun sempat memandang lama bahkan kuusap sejenak melihat dimana nama “Tidore” dalam peta tersebut. Sayangnya nama itu pun tidak berhasil saya temukan dalam peta. Barangkali bagi orang, Tidore hanyalah sebuah kepulauan kecil yang tidak memiliki makna bagi Indonesia.

Dengan berbekal pengetahuan saya di bangku sekolah mengenal Tidore adalah dimulai dari nama Sultan Nuku yang menjadi gravitasi terkuatku untuk mengenal Tidore. Kemasyuran namanya dalam proses pengusiran para elite Inggris dan Belanda yang sempat menjajah pulau tersebut demi tanaman rempah. Hingga akhirnya menimbulkan “bekas” mendalam bagi Ngofa Tidore. Tidakkah kamu berpikir bahwa pulau kecil ini bahkan sangat kecil hingga tidak tampak di dalam peta wilayah Indonesia ini memiliki pesona gravitasi pada masa lampau?

manisan buah pala
Buah pala yang sudah masak sangat sedap dibuat manisan pala.

Orang-orang elite penjajah rela datang demi mendapatkan buah merah dari tanaman pala dan aroma kuat dari cengkeh. Pulau ini memiliki hasil kekayaan alam bumi yang tak bisa kita tutup dari sejarah. Sejarah mencatat masa lalu, sekarang dan masa depan. Saya membiarkan tubuh dan pikiran saya menghanyut dalam perjalanan lorong waktu sejarah.

Kesultanan Tidore merupakan salah satu kerajaan Islam yang berada di kepulauan Maluku. Kesultanan ini berpusat di wilayah Kota Tidore Maluku Utara. Masa kejayaan kesultanan Tidore terjadi sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18. Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya adalah Ternate, Jailolo dan Bacan. Namun hanya Tidore dan Ternate-lah yang memiliki ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur dimana wilayahnya meliputi Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya.

Sejarah pernah tertulis bagaimana Sultan Nuku yang mendapat julukan Jou Barakati ini memiliki arti Panglima Perang. Kemudian, merasakan kuatnya perjuangan Sultan Nuku dalam hal strategi peperangan dengan kapal Kora-Kora hingga membuat pada masa keemasannya Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, Weda, Seram Timur, Ambon, Papua dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.

Tunggu sebentar. Kalian sedang tidak salah baca dengan apa yang saya baru saja tuliskan, bahkan dua kali saya tuliskan ulang. Luas wilayah kekuasaan Tidore menjangkau hingga Papua! Maka kenapa saya dulu mengatakan semua berawal dari Raja Ampat itu ada alasannya. Alasan yang kuat kenapa saya ingin sekali berkunjung ke Tidore untuk merasakannya sendiri.

Mengenal Sosok Sultan Nuku

revolusi tidore
Revolusi Tidore tidak lepas dari sosok Sultan Nuku

Masa kejayaan Kesultanan Tidore terletak pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku akhirnya menyatukan Ternate dan Tidore ketika kedua kesultanan tersebut “diadu domba”. Dengan “bersekutu” atas bantuan Inggris, Sultan Nuku bersama pasukan melawan kolonial Belanda sehingga Belanda kalah dan terusir dari Tidore. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore menjadi kesultanan yang damai baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat.

Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan wilayah kekuasannya dan membela kebenaran. Sewaktu di dalam Kadato Kie yang merupakan saksi bisu bukti kekejaman yang dilakukan oleh penjajah dengan membakar seluruh isi keraton tanpa menyisakan apapun membuat saya seolah masuk dalam dimensi lain. Dimensi gravitasi yang mengiringku untuk menyusuri jejak kaki di tiap sudut keraton.

kadato kie tidore
Kadato Kie Tidore yang berada di dataran tinggi Soa Sio

Kadato Kie memiliki bangunan kesultanan dengan posisi strategis di Tidore. Letaknya yang di tengah membuat kita dapat memandang seluruh wilayah Tidore dari Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Berhadapan langsung dengan laut dan membelakangi Gunung Kie Matubu yang gagah dan membuat saya ingin mendaki ke atasnya. Keraton kesultanan Tidore yang saat ini sudah mengalami perbaikan sebanyak tiga kali hingga sekarang sejak terakhir mengalami kerusakan parah akibat dibakar pada zaman penjajah hingga tidak menyisakan bukti-bukti sejarah, selain mahkota yang berhasil di selamatkan di salah satu rumah warganya.

mahkota tidore
Rumah yang dulunya menjadi tempat disembunyikan mahkota pada saat kesultanan di bakar.

Dimana letak mahkota tersebut saat ini yang konon selalu tumbuh rambut di atas kepalanya? Biarkanlah menjadi misteri karena kita sendiri tidak mendapatkan izin untuk melihat mahkota tersebut. Sebab, mahkota tersebut “memilih” orang yang bisa melihatnya secara langsung.

Tidak banyak foto-foto lama yang terpajang di dalam Kadato Kie, namun saya masih bisa melihat gambar keraton pada masa lampau sebelum dibakar dan saat mencocokkan dengan bangunan sekarang memang sudah tidak relevan karena ada beberapa bagian yang juga dibangun kembali.

Kakiku terhenti pada sebuah figura besar dengan debu yang menempel di tiap sisinya. Tanpa disadari mataku menatap lama membaca tiap nama yang ada di peta wilayah Kesultanan Tidore dengan spidol merah tebal membatasi tiap wilayah dari Halmahera hingga Papua.

peta wilayah kesultanan tidore
Peta wilayah Kesultanan Tidore pada masa keemasannya.

Bagaikan petir menyambar hati, sungguh tersentuh mendengar cerita heroik perjuangan Sultan Nuku ini langsung dari para Garda Nuku. Garda Nuku merupakan Generasi Muda yang mengibarkan bendera (paji) semangat perjuangan Nuku dan kesolidan mereka tampak sekali dari sorot mata tajam mereka dan kecintaan dengan Tidore.

Melanjutkan kisah Sultan Nuku yang memproklamasikan sebagai Sultan Tidore, Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang. Keberhasilannya dalam membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Penghujung abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Pada titik ini, kebesaran Sultan Nuku dapat dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.

Sejarah Mencatat Revolusi Tidore

kapal koro-koro
Ilustrasi laut ini penuh dengan perahu kora-kora saat dulu. Foto saat Parade Juanga.

Dalam strategi perperangannya, Sultan Nuku berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang dengan kapal Kora-Kora. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Aksi yang dilakukan oleh Sultan Nuku ini dikenal sebagai Revolusi Tidore.

Tepat pada tanggal 10 April pada waktu itu, Nuku beserta prajuritnya yang terdiri dari 150 kora-kora dengan 6000 orang prajurit sudah berada di Pulau Mare dan Akelamo. Dalam taktik strateginya Nuku memberikan ultimatum khusus kepada Sultan Kamaluddin di Tidore untuk menyerah tanpa syarat dan wajib menyerahkan mahkota dan upacara kerajaan kepada Nuku.

Lalu pada tanggal 11 April 1797, Nuku mengeluarkan perintah kepada seluruh panglima perangnya bahwa:

  • Angkatan perang Kaicil Paparangan hanya memerangi kompeni Belanda dan sekutunya Ternate. Orang Tidore tidak diganggu begitu pula orang-orang Ternate yang bersekutu dengan Nuku.
  • Masing-masing pasukan melaksanakan tugasnya sendiri dan melaporkan pada hari yang telah ditentukan, kecuali tugas selesai dalam waktu yang lebih singkat.
  • Jangan membunuh orang yang tidak melawan atau yang sudah menyerah. Jangan membakar rumah-rumah dengan sia-sia.
  • Barang rampasan berupa senjata api, amunisi dan mesiu harus dibawa kembali ke markas berkas.
  • Orang-orang Belanda yang tertawan jangan dibunuh melainkan dihadapkan kepada Nuku.

Momen penyerbuan pada tanggal 12 April 1797, saat fajar menyingsing dan satu pasukan induk dengna kekuatan 70 buah kora-kora dibawah komando Nuku dan Panglima Muda Abdul Gafar, sepasukan sayap kiri dengan 20 buah kora-kora di bawah komando Zainal Abidin, sepasukan sayap kanan dengan 20 buah kora-kora di bawah komando Raja Maba dan pengawal belakang dengan 40 buah kora-kora di bawah komando Raja Salawati mulai bergerak.

Ternyata aksi heroik Nuku beserta rombongan membuat Sultan Kamaludin dan ultimatum yang diberikan Nuku membuatnya lari tunggang langgang melarikan diri ke Ternate dengan lima buah kora-kora dan dikawal oleh sepasukan serdadu Belanda.

Tepat pada saat itu juga, Nuku dan prajurit tiba di Soasio, Tidore tanpa perlawanan apa-apa. Bahkan tidak ada setitik darahpun yang tumpah. Tidak ada sosok orang yang kehilangan keluarga mereka. Semua pasukan disambut dengan sorak dan suka cita oleh Bobato-Bobato, pengurus semua urusan di kedaton dan Kimalaha yang merupakan pemimpin untuk marga-marga yang ada di Tidore. Secara langsung Nuku dinobatkan menjadi Sultan atas seluruh Kerajaan Tidore dengan gelar Sri Paduka Tuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya.

pemenang lomba visit tidore
Ki-Ka : Rifky, Mas Eko, Mbak Zulfa, Saya, dan Yayan. Kami berlima gosong akibat bercumbu dengan Pulau Failonga. Foto waktu Festival Tidore 909 di dalam Kadato Kie.
foto baju adat tidore
Foto bersama Om Gogo, pria tampan berkarakter Tidore dengan ciri khasnya alis tebal dan brewok. Bersama saya pria cina mata sipit dan pesek :)) Kontras sekali bukan? Tampanan siapa? :)))

Tidakkah cerita “Revolusi Tidore” ini membuat air mataku menetes mengenai baju koko putih dengan dilapisin jubah dan besu yang menjadi simbol baju adat Tidore. Sungguh kehormatan serta kebanggaan saya diberikan izin untuk menggenakannya layaknya menjadi orang Tidore.

Kepergian Sosok Baik Nuku Bagi Masyarakat Maluku

makam sultan nuku
Pintu gerbang masuk ke Makam Sultan Nuku di Soa Sio, Tidore. Berlatar Gunung Kie Matubu.

Ada perjumpaan, ada pula perpisahan. Sosok yang diagungkan oleh masyarakat Tidore itupun pergi untuk selamanya saat tanggal 14 November 1805. Tidore seperti kehilangan seorang sultan yang di kalangan orang Inggris dikenal dengan “Lord of Fortune”. Kepergian Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan mendalam bagi rakyat Maluku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.

Tidak jauh dari Seroja, penginapan tempat kami bermalam selama di Tidore berlokasi di Soa Sio. Tepatnya berjalan kaki sekitar 500 kilometer kita bisa menemukan sebuah gapura bertuliskan “Makam Sultan Nuku” yang apabila kita masuk ke dalamnya terdapat sebuah makam dipagar dengan bentuk makam bertatakan batu-batu dan terawat. Makam ini menjadi tempat bagi tiap pengunjung datang untuk nyekar dan memanjatkan lafal doa di depan pusaran Sultan Nuku.

isi makam sultan nuku
Rifky menuntaskan niatnya untuk ziarah ke Makam Sultan Nuku.
Masjid Sigi Kolano atau Masjid Sultan di Soa Sio.

Di dalam area makam yang tidak terlalu besar ini juga terdapat makam-makam dari sultan lainnya. Namun, ada larangan baik perempuan untuk tidak melakukan ziarah ke Makam Sultan Nuku. Termasuk memasuki wilayah Masjid Sigi Kolano atau Masjid Sultan. Masjid yang tidak jauh dari makam ini memiliki aturan-aturan yang berlaku di dalamnya. Khusus untuk pria yang sholat hanya diperbolehkan menggunakan celana kain panjang, baju koko putih dan peci. Sehingga tidak diperbolehkan menggunakan kain sarung atau baju berwarna. Dan sekali lagi, perempuan juga tidak diizinkan untuk sholat di masjid tersebut.

Selain memiliki kecerdasan dan karisma yang kuat, Sultan Nuku terkenal akan keberanian dan kekuatan batinnya. Ia berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang mampu memberikan kepadanya kemungkinan menyeluruh untuk bangkit dan melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan. Bagaikan napak tilas dalam sejarah mendengarkan kisah yang begitu indah bahkan membuatku yang notabenenya orang luar ikut merasakan semangat dan perjuangan Sultan Nuku.

Tidore Untuk Indonesia, Belajar Menyerahkan Segalanya Untuk Kebaikan Bersama

Disaat itu juga, saya mengucap rasa syukur dapat menginjakkan kaki ke Tidore mengikuti gravitasinya yang besar. Namun, ternyata gravitasi Tidore bukan hanya dapat dinikmati dari sejarah saja. Di mata dunia bahkan jauh sebelum kemerdekaan, tersimpan sebuah rahasia yang mungkin belum begitu banyak orang mengetahuinya. Bahkan di saat saya menuliskan dan mengingat kembali dengan apa yang diceritakan diiringi lagu “Ngofa Sedano” membuat saya kembali menitikkan air mata di depan layar laptop.

Di masa lalu Tidore merupakan sebuah kesultanan yang memiliki pengaruh begitu besar di wilayah timur kepulauan Nusantara. Berdiri di abad ke-11, Kesultanan Tidore berpengaruh hingga ke Papua negeri-negeri lain di Samudera Pasifik.

Tidore bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950, bersamaan dengan hancurnya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diciptakan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada Desember 1949. Di tahun 1956, Tidore berperan dalam pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat. Di tahun itu pula Sultan Zainal Abidin diangkat sebagai Gubernur Irian Barat dan Tidore sebagai ibukotanya. Dan masa sekarang, Tidore berstatus sebagai kota di Provinsi Maluku Utara.

Figura yang saya lihat di dalam Kadato Kie menimbulkan efek pertanyaan yang sulit untuk saya pahami kecuali bertanya langsung dengan mereka, Ngofa Tidore ataupun Garda Nuku yang lebih mengetahui alasan tepatnya. Pertanyaan yang sederhana tentang bagaimana proses pembentukkan NKRI jikalau bukan karena Tidore?

Tidore adalah kerajaan besar pada masanya, dan berkuasa hingga seluruh Pulau Papua. Rahasia yang saya katakan mungkin belum banyak orang ketahui bahwa pada saat Presiden Soekarno sampai dua kali untuk “merayu” Sultan Zainal Abidin Syah agar semua wilayah Tidore, khususnya Papua bisa bergabung ke NKRI secara suka rela. Sungguh saya tidak dapat membendung gejola dalam hati bagaimana bisa Tidore secara suka rela menyatakan bergabung  dengan NKRI?

Apakah yang ditawarkan oleh Presiden Soekarno saat itu? Dan apa yang diberikan Indonesia saat ini untuk Tidore? #TidoreUntukIndonesia

Memang benar, gejola dalam hati saya seakan belum ingin keluar dari lorong waktu mendengarkan kisah-kisah sejarah yang sangat luar biasa. Dari sini saya belajar sifat legowo teramat kiamat, meminjam kosakata baru yang saya dapatkan saat di Tidore menggambarkan kata “kiamat” sebagai frase sangat. Jika tidak ada Tidore, maka tidak ada Sabang sampai Merauke.

boki-tidore
Foto keluarga bersama Boki, permaisuri Sultan.
ngofa tidore
Para Ngofa Tidore dan Garda Nuku di Cafe Kora-Kora Rebel.
garda nuku
Foto bersama Garda Nuku di Bukit Angus, Ternate. Foto dari Katerina.

Selama berada di Tidore dan bersama “keluarga baru” saya, saya merasakan mereka Ngofa Tidore tidak meminta imbalan apa-apa. Keikhlasan mereka menyerahkan semua wilayah untuk bergabung ke NKRI sudah terjadi. Namun, saya masih merasakan “duka miris” yang tampak untuk masa sekarang bahwa keikhlasan mereka belumlah mendapatkan kelayakan atas jasa-jasa yang ditorehkan oleh para leluhur. Sama dengan perhatian pemerintah terhadap negeri-negeri yang lain.

laut halmahera
Tidore Kepulauan dikelilingi oleh Laut Halmahera. Ayo jaga kebersihan laut kalian!

Mohon berikan saya jeda untuk menarik nafas sejenak kemudian kembali mengetikkan kata-kata yang barangkali sangat sulit bagiku untuk ceritakan. Saya sudah menyadarinya saat berada di Tidore bahwa ini akan menjadi bagian yang tersulit saat bercerita kembali. Kita, tidak boleh membiarkan Tidore terlalu jauh ditinggalkan bahkan tidak diperhatikan. Pulau kecil ini banyak menyimpan “rahasia” yang belum banyak diketahui oleh kita. Cerita sejarah yang saya dapatkan barangkali ini bukanlah yang mendalam, tapi tidak membuat saya bodoh dan menutup pemikiran saya. Ternyata, di dalam rumah kita di Indonesia ada satu kamar yang ditempati yaitu Tidore. Kearifan lokal yang sangat erat dalam mempertahankan tradisi dan saat ini sedang berjuang mempertegas jatidiri bahwa mereka pernah menjadi bangsa Maritim.

Jari jemari saya ingin terus mengetik dan berbagi cerita perjalanan saya di Tidore. Memang ini bukanlah kisah yang dapat dituntaskan dalam waktu satu tulisan ataupun satu malam. Bahkan saya iri dengan kalian yang mana saya dapat mengenal langsung dengan kesultanan kalian daripada kesultanan yang ada di kota kelahiranku yang jujur ada rasa ingin mengenalnya juga. Ketika saya ikut menikmati perjalanan selama 6 hari 5 malam masih merasakan belum cukup untuk mengenal lebih dekat dengan Tidore. Jika ada jodoh, saya ingin mengulang kembali.

Syukur Dofu-Dofu!

To Ado Re, Tidore…

Aku telah sampai, Tidore…