Maluku Traveling

Cerita dari Hutan Lindung Kie Matubu


Gemuruh tifa, bunyi lesung, dan kabata bergema memecah suara di kampung Gurabunga, Tidore yang berada sekitar 900 mdpl ini. Sore itu saya sedang melihat persiapan warga menyambut hari jadi kota.

Beberapa warga terlihat sibuk memasang tenda dan kursi. Saya bersama rombongan bersantai menikmati air Guraka, minuman khas Tidore yang kaya akan rempah. Udara sore berselimut kabut dan hutan di Gunung Kie Matubu seperti berada di kulkas.

Gurabunga di waktu sore. Awan berselimut tebal

Kampung Gurabunga menjadi pintu masuk untuk mendaki ke puncak Kie Matubu melewati hutan lindung. Sebuah puncak gunung yang indah sekali karena bisa melihat kota Tidore Kepulauan dan Ternate. Dikelilingi oleh pepohonan yang hijau.

***

Menyantap Makanan ala Hutan

Seni Kabata yang dilestarikan masyarakat Tidore

Benturan kayu yang berirama dari waduk dan penumbuk gabah untuk memisahkan sekam dari padi. Diikuti suara orang yang melantunkan semacam syair yang berirama. Semua orang bersuka cita dalam gotong royong. Ini semacam hiburan atau penyemangat dalam bekerja.

Tradisi ini memang mencerminkan budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat Tidore. Bentuk kesadaran atas kesatuan sosial yang memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain serta dengan alam.

Melihat beragam makanan ala hutan di Gurabunga

“Mereka sedang menyiapkan makanan apa, ko?” tanya saya. Ko merupakan sebutan untuk laki-laki di Tidore.

“Makanan khas orang gunung, bang. Semua bahan masakan diambil dari hutan,” seru Gogo, salah satu orang lokal di Gurabunga. Saya melihat nama-nama makanan yang namanya baru pertama kali didengar. Mayoritas makanan berbahan dasar sayuran dan sagu.

Kehidupan sosial yang ada pada Gurabunga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan hutan. Desa Gurabunga menjadi salah satu desa yang terletak di ketinggian lereng gunung Kie Matubu. Desa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah dan pengelolaan lahan dengan cara yang masih sederhana. Terlalu sederhana, seperti sinyal telepon GSM (Geser Sedikit Menghilang).

Hutan Menyediakan Sumber Kehidupan

Makanan khas masyarakat gunung yang lezat

Nama Gurabunga memiliki arti kebun bunga. Wajar saja, ketika berada di Gurabunga ini disambut deretan bunga warna warni di pinggir jalanan. Susunan rumah penduduk tertata dengan bunga-bunga yang indah dan beraneka ragam warna. Wanginya harum.

Saya menggambarkan kehidupan di Tidore memang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Tradisional dan modern bersatu dalam irama dan saling melengkapi satu sama lain sehingga bisa menciptakan harmoni. Gambaran ini disematkan pada desa Gurabunga karena pola kehidupan masyarakat dan pentingnya peranan hutan bagi masyarakat setempat.

Sayur lilin yang sudah jarang ditemukan di pasar

Contohnya jenis makanan-makanan yang disajikan berbahan baku langsung dari hutan lindung Kie Matubu. Para mama-mama di Gurabunga telah terbiasa mendaki menerobos hutan untuk mencari sayuran. Beberapa informasi jenis makanan yang disajikan pada malam itu ternyata hanya ada pada saat hari spesial karena memang membutuhkan bahan dari hutan.

“Di sini sayur paku tumbuh sendiri. Kami tak pernah melarang ketika warga kampung lain datang dan mengambil banyak untuk dijual,” kata Gogo.

Di area lahan perkebunan juga gudang sayur lilin (Setaria palmifolia). Para petani senang bertanam sayur ini, karena harga tergolong mahal di pasaran. Bahkan masih ada hutan sagu masih terjaga subur. Saya sebagai orang Palembang sendiri belum pernah menikmati pempek dengan berbahan dasar sagu selain tapioka.

Warga Tidore masih memangkur sagu sebagai makanan pokok. Beras, dianggap begitu mewah bagi sebagian warga untuk membeli sangat berat.

Menjaga Tradisi, Adat dan Alam

“Nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha si jira se ngon”

Barang siapa yang merusak alam nanti dirinya dirusak oleh alam.

Dalam interaksi dengan alam semesta dan kehidupan bermasyarakat, warga Gurabunga mengenal Bobeto. Dalam bahasa Tidore, Bobeto berarti sumpah turun temurun. Bobeto sangat di junjung tinggi oleh warga. Mereka meyakini bila dilanggar maka musibah akan menimpanya.

Termasuk juga hal pengelolaan lahan atau kebun, warga Gurabunga mengelola lahan berdasarkan warisan maupun kebun yang baru dibuka. Hutan lindung Kie Matubu dikelola sesuai penetapan fungsi hutan di dalam wilayah adat maupun dengan memobilisasi kekuatan berupa Polisi Kehutanan (Polhut) untuk mengawasi aktivitas masyarakat di dalam kawasan hutan.

Rumah tinggal Sowohi di Gurabunga

Warga Gurabunga mengenal dua pemerintahan, ada pemerintahan negara dan ada pemangku adat yang dipimpin oleh Sowohi. Dalam pemerintahan negara, dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh perangkat Kelurahan. Dalam adat, dipimpin oleh seorang Sowohi yang memfasilitasi para kepala suku.

Struktur adat masih dipegang teguh oleh warga menjadikan mereka senantiasa mengutamakan perlindungan alam. Seluruh kebijakan terkait pengelolaan sumber daya alam selalu diputuskan bersama. Bahkan untuk menebang sebatang pohon pun tetap harus dibicarakan bersama antara warga, pemangku adat, dan pemerintah.

Menjaga Rumah Kita

Luas kawasan hutan di Kota Tidore Kepulauan mencapai 188.500 ha, yang terdiri atas Hutan Lindung seluas 101.500 ha (54 %), Hutan Produksi Terbatas seluas 34.000, Hutan Produksi seluas 3.750 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 49.250 ha.

Kie Matubu adalah salah satu bukti betapa kuatnya masyarakat di Tidore, khususnya di desa adat Gurabunga dalam menjaga tradisi dan kepercayaan mereka.

Gogo bercerita kalau warga tidak menebang habis pohon melainkan dengan sistem tebang pilih. Cara ini dipercaya bisa mencegah terjadinya erosi dan kesuburan hutan pun akan tetap terjaga. Mereka dilarang berladang di tanah curam karena bisa mengundang bencana longsor. Mereka juga tak membuka lahan di daerah yang banyak tumbuh pohon-pohon berguna. Begitulah cara mereka memelihara keberlangsungan hutan.

Sebagai kelompok masyarakat pegunungan yang dekat dengan hutan, fungsi hutan mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting bagi masyarakat Tidore, khususnya Gurabunga. Selain hutan itu dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya kesadaran manusia akan arti penting hutan di dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan.

Dampak Kerusakan Hutan

Hutan  menjadi media hubungan timbal balik antara manusia dan makhluk hidup lainnya dengan faktor-faktor alam yang terdiri dari proses ekologi dan merupakan suatu kesatuan siklus yang dapat mendukung kehidupan.

Perlindungan hutan saat ini bukan hanya menjadi problem yang bersifat regional (nasional) tetapi sudah merupakan problem dunia (global). Hal ini terkait dengan fungsi hutan dalam memelihara keseimbangan ekologis yang juga berpengaruh terhadap iklim global, seperti efek panas global yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia.

Namun demikian, realitas memperlihatkan bahwa fungsi ekonomi hutan, yaitu sebagai sumber  mata pencaharian hidup bagi sekelompok masyarakat, sebagai sarana mengakumulasi kapital (modal) bagi pengusaha (kapitalis), dan sebagai sumber devisa bagi negara, seringkali mengalahkan fungsi hutan dalam memelihara keseimbangan ekologis (termasuk iklim global). 

Tekanan jumlah penduduk yang terus meningkat merupakan salah satu faktor yang turut mempercepat kerusakan hutan. Ini terjadi karena diperlukannya lahan yang lebih luas dan material bangunan yang lebih banyak, baik lahan untuk pemukiman maupun lahan untuk kegiatan bercocok tanam, dan bahan material untuk bangunan-bangunan baru. 

Pemanfaatan fungsi ekonomi hutan secara berlebihan oleh manusia (eksploitasi hutan) tanpa memperdulikan keseimbangan ekologis dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri, dan memerlukan biaya (cost) ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar dibanding hasil ekonomi yang telah diperoleh.

Mereka pun Berjuang Menjaga Hutan

Masyarakat yang tinggal dan bermata pencaharian di sekitar hutan, di satu sisi seringkali dituding sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan, tetapi di sisi lain seringkali pula diharapkan sebagai pelaku utama bagi upaya perlindungan hutan itu sendiri. 

Harapan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sebagai pelaku utama bagi perlindungan hutan merupakan sesuatu yang wajar, karena dalam kehidupan kesehariannya mereka berinteraksi langsung dengan hutan dan merupakan orang pertama yang langsung menerima dampak dari kerusakan hutan, seperti bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan.

Gurabunga pun menghadapi permasalahan dalam menjaga hutan. Sebagai tempat yang juga didatangi pengunjung untuk memasuki kawasan hutan lindung Kie Matubu. Ternyata masih banyak sampah anorganik yang belum teratasi dengan baik, pengunjung sering mengambil jenis tanaman trutu dan anggrek untuk dibawa pulang ke rumah, para pengunjung sering membuat api di lokasi hutan lindung Kie Matubu, dengan menggunakan jenis tumbuhan kayu dan rotan yang sudah kering.

Sehingga permasalahan inilah diperlukan suatu kebijakan perlindungan hutan pada kawasan hutan lindung Kie Matubu kota Tidore Kepulauan.

Sadar Peran Penting Hutan

Adanya peranan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Gurabunga dalam pengelolaan lingkungan hutan lindung Kie Matubu. Pengelolaan kawasan secara adat oleh setiap marga (eto sedaerah) dengan ketentuan membatasi pengambilan hasil hutan secara berlebihan, penerapan sistem agroforestry pada setiap kegiatan perladangan atau berkebun sehingga dapat mengoptimalkan penggunaan lahan, serta pemberlakuan hutan larangan atau situs keramat dengan melarangan pengambilan hasil hutan dan kegiatan perladangan atau berkebun pada kawasan tersebut.

Masuk hutan lindung Kie Matubu, pengelolaan lahan tak bisa sembarangan. Sejak kawasan masuk hutan lindung, tak ada lagi warga membuka perkebunan baru. Mereka hanya diizinkan untuk mengelola lahan perkebunan yang sudah ada.

Jauh sebelum itu, masyarakat membuka lahan berdasarkan kelompok masyarakat. Mulai kebun kampung atau lingkungan dan kebun mesjid serta sarana desa. Sebagai informasi kebun-kebun di Gurabunga milik komunal berdasarkan kelompok dengan tanaman cengkeh dan pala.

Masing-masing lingkungan, memiliki lahan kelola  sendiri. Warga hanya berhak memakai dengan tanaman tahunan. Lahan milik komunal.

Kiat Menjaga Hutan

Lantas, apa sih yang bisa kita lakukan untuk menjaga hutan? Apalagi untuk kita yang tinggal di daerah yang jauh dari keberadaan hutan, tak heran rasanya jika kita merasa bingung bisa berkontribusi apa untuk menjaganya.

Barangkali kamu bisa lakukan beberapa aksi berikut :

1. Ikut kampanye #JagaHutan

Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mau untuk lebih tahu soal hutan. Menurut saya, saat ini masih ada kesenjangan pengetahuan di masyarakat akan pentingnya menjaga hutan. Kesannya kalau jaga hutan ini bertentangan dengan pembangunan dan perkembangan manusia, padahal tidak. Seharusnya jadi satu antara alam dan pembangunan itu sendiri. Ketidaktahuan ini lah yang memicu pertentangan.

Setelah tahu lebih banyak soal hutan, jangan disimpan sendiri. Kita dapat melakukan kampanye untuk mencintai hutan dan membagikan pengetahuan kita juga bisa menjadi salah satu cara menjaga hutan loh. Misalnya berkampanye untuk menjaga hutan melalui media sosial. 

2. Mengonsumsi Hasil Hutan

Hutan adalah sumber kehidupan. Termasuk di dalamnya ada bahan baku pangan yang sangat subur karena hidup dari air bersih dan keanekaragaman hayati di dalam hutan. Konsumsi hasil hutan yang lestari produksi masyarakat akan membantu pelestarian hutan.

3. Berkunjung ke Hutan

“Seeing is believing”, kira-kira begitu kutipan terkenal yang pasti kamu sudah ketahui. Dan memang betul kadang kita harus langsung melihat keindahan hutan, menghirup udara bersihnya, merasakan air segarnya, dan bertemu dengan masyarakat yang hidup harmonis bersama hutan.

4. Ceritakan tentang hutan dengan Karya dan Talentamu

Semua punya cerita, termasuk setiap hutan dengan karakteristik dan khasnya di setiap tempat dan daerah. Udara dan air bersih, bahan baku barang dan makanan kita, serta habitat berbagai mahluk hidup, penuh dengan inspirasi untuk kita ceritakan. 

5. Mengadopsi Pohon

Merasa kontribusi kita masih kurang dan ingin menjaga hutan lebih jauh? Kenapa tidak ikut program “Adopsi Hutan”. Melalui adopsi hutan kita dapat mengadopsi satu pohon tegak atau pohon yang sudah berusia lebih dari lima tahun. Nantinya hasil dari adopsi ini akan diberikan untuk para relawan hutan atau mereka yang mengelola hutan.

Adopsi pohon

Tidak hanya itu, hasil dari adopsi hutan ini juga akan digunakan untuk memastikan hutan terjaga dan tidak rusak, salah satu caranya adalah dengan meningkatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat yang tinggal disekitar hutan. Adopsi hutan sendiri bisa kita lakukan secara mandiri, bergotong royong mengeluarkan bantuan materi yang disalurkan lewat sini. Seperti yang pernah saya lakukan saat melakukan adopsi pohon di lingkungan sekitar beberapa tahun lalu. Kapan giliranmu?

6. Memperingati Hari Hutan Indonesia

Mulai tahun 2020, tepatnya sejak Hari Hutan Indonesia pada 7 Agustus lalu, menjadi satu hari khusus dalam setahun di mana semua mata, pikiran, dan usaha masyarakat Indonesia ditujukan untuk menjaga hutan agar tetap kaya dan bermanfaat bagi semua. Hari Adopsi Hutan bisa menjadi pengingat kita untuk tetap menjaga hutan Indonesia.

Mari Ikut Menjaga Hutan Mulai Sekarang

Gurabunga saat malam berlatar hutan lindung Kie Matubu

Pengalaman traveling ke Tidore memang memberikan kesan dan rasa kekeluargaan. Selain cerita dari hutan lindung Kie Matubu, saya banyak mendapat pengetahuan baru tentang cara adaptasi orang lokal.

Hutan Lindung Kie Matubu dengan Kampung Gurabunga cukup kaya tanaman-tanaman konservasi, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi. Tanaman warga sangat beragam, mulai cengkeh sampai pala. Cengkeh dan pala, paling banyak. Di sela-sela pala dan cengkeh warga menanam kenari, kayu manis, durian dan pinang.

Hutan menjadi pelindung. Jika kita menjaga hutan, kita pun akan dijaga oleh hutan. Seperti itulah warga di Gurabunga menjaga “rumah” mereka.

***

Tulisan ini diikutsertakan Kompetisi Blog Hari Hutan Indonesia yang diadakan oleh Hutan Itu Indonesia dan Blogger Perempuan Network.

Tentang Deddy Huang

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

4 comments on “Cerita dari Hutan Lindung Kie Matubu

  1. Ko Deddy, aku kok iri dengan pengalamanmu travelling ke Tidore dan punya cerita tentang hutan lindung Kie Matubu dan Kampung Gurubunga. Aku membayangkan banyak bunga cantik warna-warni di kampung, lalu masyarakatnya hidup berdampingan dengan hutan. Terima kasih untuk ceritanya ya. Suatu hari aku mau ikut jejakmu ke sana juga.

    • Iya, salah satu kota berkesan pas jalan-jalan ke sana. Cuaca di kampung Gurabunga ini sejuk banget, bikin pengen nginep semalam gitu.

  2. Terharu bacanya, Ded..warga Gurabunga benar-benar menjaga hutannya sepenuh hati..

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: