wisata aceh

Mengejar Mimpi Jelajahi Tanah Rencong

Malam natal saat itu saya tidur lebih awal, selesai pelayanan dan mengikuti misa di gereja saya langsung pulang ke rumah. Natal identik dengan suka cita dan damai, saya ingin besok bangun paling pagi menikmati kicauan burung dari depan jendela kamar. Topi santa sudah saya letakkan di samping tempat tidur. Ya, saya berharap Tuan Santa hadir malam itu untuk memberikan saya kado natal.

Janji menikmati udara pagi dari balik jendela kamar sudah ditepati. Kicauan burung telah menanti dari atas kabel listrik. Seperti biasa rutinitas pagi sebelum beberapa hari lagi semester kedua sekolah akan dimulai lagi. Untunglah masa ujian sekolah saat itu sudah selesai, saya bisa menikmati liburan semester panjang. Saya meraih remote televisi dan membuka siaran berita.

“Gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh. Sebelumnya telah terjadi gempa hebat di dasar laut dekat Pulau Simeuleu.” Telinga saya menangkap pesan suara yang tak biasa di televisi. Saya membesarkan volume kembali melanjutkan tayangan berita yang dikabarkan hampir di seluruh stasiun televisi.

“Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai menimbulkan getaran kuat,” seru pembawa berita. Semua stasiun televisi menyiarkan tayangan berita yang sama. Aceh sedang menangis. Bukan, ini bukan Aceh tapi Ibu sedang berduka!

Tiket, Jembatan Mimpi Bertemu Ibu

Indonesia tak sebesar peta di buku pelajaran sekolah. Indonesia bukan hanya ruang kamar hangat di rumah kita. Masih banyak ruang kamar yang ada di nusantara ini milik Ibu. Kalian tinggal memilih dari 34 ruang kamar yang tersebar di Indonesia untuk didatangi dan diresapi.

13 tahun lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Belum mengenal kata “tsunami”. Namun setelah Aceh dicatat sejarah pernah mengalami bencana alam parah maka dari situ saya mengenal kata “tsunami”. Ini sebuah peristiwa dengan dimensi tanpa surat pemberitahuan, bahkan kalau dilihat dari jumlah korban dan aspek geologisnya rasanya tidak masuk diakal.

Lantas, bagaimana tidak saya punya mimpi untuk mengunjungi Aceh? Menggantungkan mimpi yang telah lama saya idamkan untuk menjelajahi nusantara di ujung utara pulau Sumatera. Entah bagaimana caranya mimpi tersebut didengar oleh suara-suara orang yang ingin membawaku bisa melihat Aceh. Ini yang saya namakan semesta mendukung.

Skyscanner

Tidak mudah menjangkau Aceh dari Palembang, sebab biaya tiket pesawat cukup tinggi. Beruntung saya memanfaatkan Skyscanner untuk mewujudkan mimpi 13 tahun yang lalu. Skyscanner merupakan platform pencarian tiket pesawat murah di internet lewat website maupun apps smartphone. Kita tinggal mencari tiket pesawat untuk tanggal dan kisaran harga tertentu, Skyscanner akan mencarikan tiket tersebut untuk kita. Tidak hanya tiket pesawat saja bisa kita cari, melainkan kita juga dapat menemukan penawaran hotel sekaligus rental mobil yang akan memudahkan kita saat jalan-jalan.

Hanya saja Skyscanner bukan seperti Online Travel Agent (OTA) yang mana kita dapat memesan langsung ke penyedia jasa. Sementara Skyscanner menjadi search engine agar saat kita mencari tiket pesawat yang akan dihubungkan ke berbagai maskapai dan OTA yang menjadi partner. Hasil akhirnya, lewat Skyscanner kita mendapatkan hasil pencarian lebih baik dan dapat membandingkan mana yang terbaik dengan harga termurah dari berbagai sumber.

skyscanner

Salah satunya dengan cara memanfaatkan fitur price alert yang menjadi salah satu andalan saya untuk mendapatkan tiket murah ke Aceh. Tiap ada perubahan harga, Skyscanner akan mengirimkan notifikasi harga tiket berdasarkan destinasi dan tanggal yang saya inginkan. Nyaman dan praktis bukan?

Terbang Nyaman Menuju Aceh

tempat wisata di sabang
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Saya baru saja tiba di Terminal 3 Soekarno Hatta dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Suasana bandara Jakarta ini tak pernah sepi oleh para traveler. Atap langit bernuansa modern kontemporer, terminal bandara adalah penghubung mimpi orang untuk menjelajahi nusantara. Masih harus menunggu beberapa jam lagi sebelum pesawat terbang ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Saya tidak berangkat sendirian, ada Rifky yang menemani saya untuk perjalanan kali ini. Kami baru kenal dan sama-sama punya keinginan menjelajahi Aceh.

Terdengar suara panggilan masuk untuk penumpang ke dalam pesawat. Saya segera menunjukkan tiket pesawat Garuda Indonesia ke petugas dan bergegas menuju kursi pesawat di dekat jendela. Dari balik jendela, saya dapat melihat pergerakan awan. Pemandangan yang hanya bisa saya nikmati saat sedang terbang dengan pesawat. Langit waktu siang ataupun malam tetaplah sama. Selalu mengagumkan sejauh mata memandang.

visit aceh
Akhirnya menginjak kaki di Bumi Aceh

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda baru saja diguyur hujan, sambil menunggu bagasi saya mengamati sekeliling bandara ini. Sebagai provinsi paling barat di Indonesia, karakter orang Aceh memang rupawan bak campuran India dan Arab. Bagi saya yang tidak memiliki bulu mata panjang, tentu cemburu melihat mereka yang memiliki bulu mata panjang dan lentik. Indonesia memang luar biasa, bukan saja kaya akan budaya dan tradisi namun juga kaya akan orang lokal nan ramah.

Lezatnya Mie Aceh

Bagai rindu sudah tak terbendung, begitu pun ada seteguk asa cinta penantian saya untuk berkeliling kota Banda Aceh walau hanya beberapa jam saja sebelum kami bergerak ke Sabang. Kami tiba di kota Banda Aceh sudah sore, rasanya kurang ajar kalau tidak mencari warung mie Aceh untuk disinggahi. Memang tidak sulit menemukan mie dengan bumbu rempah khas Tanah Rencong ini.

Kota Banda Aceh telah menarik perhatian saya sejak pertama kalinya. Tanpa meninggalkan syariat agama, kota ini tetap junjung keramahan warga lokal. Lebih dari satu jam, saya dan Rifky menunggu di warung mie Aceh. Kedatangan kami tepat waktu saat adzan berkumandang. Ruas jalanan sepi tidak terlihat aktivitas warga, termasuk orang-orang yang bekerja di warung makan.

kuliner mie aceh
Mie Aceh Kuah
kuliner mie aceh
Mie Aceh Rebus

Rifky telah kembali duduk setelah melakukan sholat, kami pun melanjutkan kembali cerita mengenai apa yang dirasakan tentang Aceh. Dua porsi mie Aceh sudah tersaji di meja untuk segera disantap. Kepulan uap dan aroma wangi masuk dalam hidung saya. Olahan bumbu mie Aceh ini banyak menggunakan bahan rempah, selanjutnya mie ditumis seperti biasa. Satu suapan mendarat di dalam mulut saya, begitu suapan pertama sampai di lidah ada rasa gurih dan nikmat yang memang tak diragukan enaknya.

Sambil menikmati sepiring mie Aceh untuk makan malam kami, saya berkata kepada Rifky kalau besok pagi kami bisa mengunjungi Masjid Baiturahman dan Museum Tsunami Aceh. Dua tempat ini menjadi saksi bisu sejarah tsunami Aceh.

Saksi Bisu Sejarah Aceh, Masjid Raya Baiturrahman

Tiba-tiba saja tayangan berita tahun 2004 silam muncul, saya ikut membayangkan bagaimana paniknya warga Aceh berlarian menyelamatkan diri dari gulungan gelombang air. Mereka melarikan diri ke tempat yang tinggi untuk selamat bersama keluarganya. Bagaimana isak tangis mereka saat harus merelakan berpisah dengan anggota keluarga yang ikut terbawa arus air.

Jujur saya merinding saat harus mengingat kembali, saya putuskan berdiri diam memandang bangunan megah bercat putih lengkap dengan kubah hitam di jantung kota Banda Aceh. Tak dapat saya sembunyikan rasa haru saat kaki saya berhasil menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Rumah ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan segudang cerita. Di sisi utara dan selatan, terdapat payung besar bergaya Masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Halaman yang luas dengan kolam pancuran air serta lantai beralaskan marmer yang terawat. Sungguh tak ada kalimat lain yang dapat saya ungkapkan selain menikmati keberadaan saya pagi hari itu.

Kala tsunami menerjang seluruh bangunan Aceh, hanya bangunan Masjid Baiturrahman tidak mengalami kerusakan. Berita mengabarkan kalau sebagian warga selamat memilih berdiam diri di dalam masjid sekaligus menjadi tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

masjid baiturrahman aceh
Interior dalam Masjid Baiturrahman Aceh
masjid baiturrahman aceh
Seorang petugas sedang membersihkan tiang penyangga.

Saya menginjakkan kaki masuk ke dalam masjid, terpesona terhadap tiap detil arsitekturnya. Suasana dalam masjid sedang ramai sebab di waktu bersama sedang dilakukan akad nikah bagi warga setempat. Di bawah kubah masjid nan megah, saya ikut menyaksikan proses ijab kabul berjalan syahdu. Sang calon istri tampak sulit membendung air mata kemudian menyekatnya menggunakan tangan. Di sisi lain, seorang bapak tua dengan telaten duduk di samping tiang penyangga membersihkan sisi tembaga pada tiang agar berkilau kembali.

Menikmati keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman dapat dilakukan oleh siapa saja yang sedang berkunjung ke kota Banda Aceh. Masjid Baiturrahman bisa dibilang saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Dalam hati berkata, siapa yang berani menghancurkan rumah Allah? Tempat umat-Nya berlindung.

Merinding Berada di Museum Tsunami Aceh

museum tsunami aceh
Museum Tsunami Aceh

Matahari makin terik, saya mengajak Rifky untuk bergerak ke arah Museum Tsunami Aceh, melengkapi jelajah nusantara kami. Duka Ibu juga menjadi duka dunia, bagaimana Ibu kuat melihat ratusan orang terluka hingga lebih dari ribuan orang dinyatakan hilang tanpa jejak. Banyak negara-negara lain bersimpati dan memberikan bantuan untuk Aceh.

Jarak museum tidaklah jauh dari masjid raya, sekitar 500 meter kami berjalan kaki dari belakang masjid ke arah selatan. Museum Tsunami Aceh dibangun untuk mengenang kembali peristiwa yang pernah melanda bumi Aceh.

Museum Tsunami Aceh
Bangkai helikopter di depan pintu masuk Museum Tsunami Aceh
museum tsunami aceh
“Nisan” berisi foto-foto peristiwa tsunami kala itu.

Selesai membayar tiket masuk museum, dekat pelataran masuk sudah terpajang kerangka helikopter hancur, salah satu benda tersisa dari arus tsunami. Saya menjadi penasaran untuk masuk ke dalam museum. Menurut informasi, museum tsunami menyimpan semua foto dan video dokumentasi bencana tsunami. Bangunan museum terdiri dari empat lantai. Di lantai dasar, berfungsi untuk ruang terbuka dan digunakan untuk ruang publik.

Kami masuk ke sebuah lorong nuasa remang tanpa cahaya dengan suhu udara yang cukup dingin. Kiri dan kanan lorong dikelilingi oleh air mengalir ibarat gemuruh tsunami. Didukung dengan suara azan yang sekejap saya seperti ikut larut dalam suasana. Ini baru ruang pertama yang saya lewati yaitu ruang renungan.

Keluar dari ujung lorong air, kita akan melihat ruangan sangat luas berdinding cermin. Di tengahnya penuh dengan “nisan” yang menayangkan foto-foto peristiwa yang saya yakin akan membuat siapa saja melihat akan sulit melupakan trauma pada masa itu. Tidak hanya korban manusia, tapi rumah, gedung, masjid bahkan jalanan kota pun rusak dan hancur. Emosi saya mulai timbul melihat tiap gambar yang ada di gundukan “nisan” tersebut.

Ada sebuah ruangan agak gelap berbentuk silinder memanjang ke atas seperti sumur. Sepintas tidak ada apa-apa dalam ruangan gelap ini, namun cobalah memandang sekeliling dinding ruangan terdapat tulisan nama-nama korban tsunami. Di atap ruangan, terdapat kaligrafi arab berlambang “Allah” dengan sinar remang-remang. Benar saja ruangan ini menjadi klimaks bagi saya. Dalam keadaan kita berada di titik paling bawah rasa takut dan sedih, tidak ada lagi yang akan kita ingat namanya selain Dia. Saya hanya dapat melepaskan doa semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan ikhlas.

Tanpa diketahui orang lain, saya menyekat air mata yang turun tanpa saya hendakin. Kami berjalan keluar mengikuti arah cahaya. Di sana saya melihat banyak bendera negara total berjumlah 52 dari berbagai negara yang memiliki peran pernah memberikan bantuan untuk Aceh. Perasaan saya sudah bisa dikontrol, tidak seperti saat berada di ruang renungan dan sumur doa.

museum tsunami aceh
Para pengunjung sedang menyimak infografis mengenai tsunami
museum tsunami aceh
Sisa barang penemuan setelah tsunami Aceh.
museum tsunami aceh
Luas wilayah Aceh yang habis disapu tsunami tahun 2004 lalu.
museum tsunami aceh
Ruang audio untuk menonton film dokumenter tentang tsunami.

Museum Tsunami Aceh meletakkan barang-barang sisa tsunami pada lantai dua. Semua barang ditemukan dalam kondisi yang tidak utuh dan rusak, sebagian masih ada sisa lumpur seperti al-quran, sandal bahkan motor. Kondisi barang-barang ini seperti mengajak kita untuk berimajinasi liar. Bahwa harta yang selama ini kita kumpul dan jaga saat tergulung musibah tak lagi ada harganya.

Pada lantai yang sama terdapat ruang audio. Kami menyempatkan untuk melihat pemutaran film dokumenter tsunami bersama pengunjung lain. Lolongan teriak minta tolong, isak tangis anak kecil, raut wajah cemas, dan beragam ekspresi dapat kita lihat selama durasi 15 menit. Tak selamanya yang kita lihat adalah duka, ada hikmah dan hal indah yang ada pada tayangan singkat tersebut. Ketika seluruh umat dunia ikut tergerak dan bertindak membantu Aceh. Saat itu pula saya ingat bahwa sejatinya manusia ialah makhluk sosial, naluri untuk menolong timbul dengan sendirinya.

Antara Kopi Sanger, Hujan dan Mimpi

Sesak di dada saya mulai mereda. Mungkin benar, tangisan bisa membuat kita lebih lega. Saya tak mampu membayangkan bagaimana saat itu Ibu menangis melihat rumahnya bersih hanya sekali sapuan gelombang air. Perjalanan saya ke Aceh memberikan pengalaman yang mengejutkan dalam menjelajahi nusantara.

“Ibu, aku senang akhirnya bisa mengunjungimu di Aceh. 13 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk engkau lupakan. Tapi aku yakin sekarang Ibu sudah bisa tersenyum melihat Aceh sudah lebih baik,” batinku berkata.

Teringat obrolan saya dengan Bang Yudi, sahabat blogger saya dari Aceh. Kami janji berjumpa di kedai kopi yang tak jauh dari Tugu Simpang Lima sehabis menikmati mie Aceh. Bagi warga setempat, kedai kopi adalah tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam dengan secangkir kopi Sanger.

blogger aceh
Jumpa dengan Bang Yudi asal Aceh, orang yang selalu ingin naik pesawat Garuda. Moga mimpimu terwujud, Bang!

Ini kali pertama saya mencicipi kopi khas yang memiliki filosofi menarik bagi orang Aceh. Obrolan kami mengalir begitu saja, Bang Yudi bertanya pada saya tentang kesan saya terhadap Aceh.

“Bang, saya kira Aceh itu kota yang menyeramkan untuk dikunjungi. Ternyata pemikiran saya salah,” seru saya sambil menyeruput kopi.

Dia tertawa lepas, “Dari mana pula koh bisa simpulkan seperti itu?”

Sepanjang perjalanan melihat kota Banda Aceh, kota ini nyaman dengan warga lokal yang ramah. Walau kita berada di kota yang memegang kuat syariat Islam, tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita memegang prinsip di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 memang peristiwa yang memilukan. Berapa ribu orang kehilangan keluarga, termasuk kisah Bang Yudi.

kopi sanger
Kopi Sanger khas Aceh

“Koh, siapa bilang saya tidak sedih? Keluarga saya ada juga termasuk korban tsunami. Waktu itu saya juga ikut mencari keberadaan mereka. Masih mau bilang tsunami Aceh karena dosa orang Aceh?” satirnya sambil menarik nafas sejenak.

“Kami baru kenal istilah kata tsunami setelah peristiwa itu. Dan oleh karena tsunami justru orang-orang Aceh jadi lebih kompak. Ada hikmah bukan?” lanjutnya kembali. Saya menikmati obrolan singkat malam itu. Rintik hujan tak kunjung reda, entah mengapa kopi Sanger yang saya minum terasa pekat menempel di bibir.

“Lalu, next ada rencana trip mau ke mana bang?” tanya saya.

“Saya ke mana saja mau lah koh! Asal pakai Garuda!” serunya. Saya mendelik dan tertawa spontan. “Lho benar, koh! Dari dulu salah satu cita-cita yang belum tercapai itu bisa naik pesawat Garuda, lalu pamer tiket pesawat Garuda Indonesia. Tahu sendiri kan harga tiket pesawat dari Aceh harganya selangit,” lanjutnya kembali.

Kami tertawa dan saya yakin dia bakal lebih kesal kalau saya bilang sesuatu padanya. “Makanya Bang Yudi, pakai Skyscanner! Aku ke Aceh ini naik Garuda juga lho!” Tawa kami renyah menyisakan gelang kopi kosong. Menertawakan mimpi-mimpi kami agar dapat terwujud. Perjalanan kali ini menjamahku pada nusantara tercinta, bertemu dengan orang-orang dan peristiwa besar.

DISCLAIMER : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Iklan

10 Ide Bisnis Jasa Titip Oleh-Oleh Khas Aceh

Aceh atau Banda Aceh termasuk salah satu kota dengan peradaban Islam yang masih kuat namun bagi kita sebagai traveler yang sedang singgah ke Aceh tentunya akan membawa rasa penasaran sendiri untuk menjelajah kota Serambi Mekah ini. Saya sendiri masih belum puas saat menjelajah Banda Aceh dan Sabang kemarin, sebab masih banyak cerita mengagumkan tentang sejarah maupun kuliner Aceh.

Bagi kalian traveler yang sedang melancong ke tempat baru, tentunya pada saat hari terakhir sebelum balik ke kota asal akan terlintas dipikiran untuk membeli sesuatu dari kota yang dikunjung. Oleh-oleh menjadi kata sakti bagi mereka yang tahu kalau kita sedang melancong. Biasanya mereka tidak pernah mau tahu bagaimana perjuangan kita agar bisa jalan-jalan. Betul kan?

Simpang Lima Kota Banda Aceh
Ruas jalan Simpang Lima Aceh

Sekarang ini jasa titip atau jastip sedang jadi incaran bagi para traveler yang ingin sekaligus berbisnis. Jasa titip ini tentunya akan menguntungkan bagi kalian yang sering dimintain oleh-oleh dari kerabat maupun teman. Dengan menambahkan sekian rupiah dari harga barang, tentunya akan membuat traveling kalian jadi lebih nyaman.

Nah, berikut jenis oleh-oleh Aceh yang bisa kalian manfaatkan untuk membuka jasa titip sewaktu kalian sedang wisata ke Aceh.

1. Kopi Aceh Gayo

Di Pulau Sumatera, Aceh termasuk salah satu provinsi penghasil kopi jenis arabika yang enak dan wangi. Nama kopi Aceh Gayo tentunya sudah tidak asing di telinga penikmat kopi. Cita rasa dan aroma kopi memang mampu membuat mata lebih segar saat ngobrol bersama teman-teman sampai larut malam.

Toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan Sri Ratu Syafiatudin ini memiliki aneka varian kopi mulai dari luwak, wine, robusta, arabika, hingga kopi herbal. Kita bisa mencium aroma kopi lewat bungkus kopi sebelum memutuskan membeli yang mana. Selain itu harga jualnya palling murah mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 100.000 per bungkus ukuran 250gr.

2. Aneka Souvenir Aceh

Buah tangan yang mudah dibawa oleh kita saat sedang traveling adalah souvenir bertuliskan nama kota yang dikunjungi. Banyak jenis souvenir yang dijual mulai dari rencong Aceh, pinto Aceh yang berbentuk perhiasan set mulai dari liontin dan bros untuk wanita, dompet serta pernak pernik lainnya dengan motif Aceh seperti gantungan kunci. Tersedia juga tas perempuan bermotif Aceh.

Salah satu souvenir yang paling diincar dan enak dijual yaitu magnet. Teman-teman saya yang sering berangkat ke luar negeri pun sering membuka jastip magnet yang menarik buat dikoleksi. Selain harganya masih murah, bagi kita yang membawa pulang pun tidak berat.

Harga jual souvenir juga beragam, mulai dari ribuan sampai ratusan ribu, tergantung barang yang dibeli, juga kualitas barang tersebut.

3. Dendeng Aceh

Saya juga baru tahu kalau dendeng sapi termasuk salah satu oleh-oleh yang diminati untuk dijadikan oleh-oleh. Waktu saya singgah ke salah satu toko souvenir, dendeng Aceh menjadi incaran bagi mereka yang menyukai cemilan dendeng dengan banyak pilihan rasa mulai dari asin, manis, dan rasa kari.

4. Emping Melinjo

Emping melinjo memang dimiliki oleh tiap kota. Namun, jangan salah kalau kalian sedang ke Aceh, cobalah untuk membeli emping melinjo buatan orang Aceh. Oleh-oleh ini saya ketahui dari salah satu rekan yang membeli titipan keluarganya untuk membeli emping melinjo Aceh. Waktu saya lihat ternyata emping melinjo Aceh memiliki tekstur yang lebih halus dan renyah. Harga per box mulai dari Rp 50.000 untuk satu kilo.

5. Kupiah

Berkunjung ke kota Aceh tentu akan sangat mudah menemukan perlengkapan muslim, termasuk kupiah buatan masyarakat lokal ini. Kupiah bukan hanya menjadi penambah ganteng saat kalian sedang sholat atau datang ke masjid, tapi juga bisa menjadi fashion yang apik menunjang kalian saat sedang ada acara.

6. Kaos Piyoh

Kaos menjadi oleh-oleh yang paling diminati, selain bisa kita gunakan sendiri juga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. Dulu saya termasuk yang gemar membeli kaos dari tiap kota yang saya datangi. Sebab, akan membuat saya mengenang kota tersebut lewat kaos.

Datang ke Aceh, toko oleh-oleh juga menjual ragam kaos bermotif huruf Aceh yang bisa kalian dapatkan mulai dari harga Rp 70.000 hingga Rp 100.000. Namun, kalau kalian ingin memiliki desain kaos yang berbeda dan unik, maka cobalah untuk singgah ke toko Piyoh yang berlokasi di jalan T. Iskandar No. 20, Ulee Kareng Banda Aceh.

Sarapan pagi bersama Hijrah, owner Piyoh

Pemilik toko Piyoh ini adalah seorang wirausaha muda dan dikenal banyak orang, siapa lagi kalau bukan Hijrah Saputra. Saya beruntung bisa berjumpa dengan Hijrah yang waktunya super sibuk ini. Suatu kehormatan bagi saya bisa berjumpa dengan dia, duduk bersama menyantap sarapan pagi nasi gurih khas Aceh. Sebab waktu kedatangan dia ke Palembang ternyata waktu saya yang tidak cocok. 

7. Cilet Coklat

Salah satu oleh-oleh bersifat universal adalah cokelat. Hampir banyak orang yang menyukai cokelat sebagai cemilan di waktu senggang. Peluang kreasi cokelat ini segera ditangkap oleh Didi, sebagai pelaku pebisnis oleh-oleh yang ia rintis bernama Cilet Cokelat.

Cokelat yang diproduksi oleh Cilet Coklat ini punya banyak varian rasa mulai dari rasa choco chips, choco kismis, hingga kopi arabika. Dari ketiga rasa Cilet Coklat ini, sudah pasti saya paling suka rasa kopi arabika. Perpaduan cokelat dan campuran kopi ini memang unik. Didi bisa membuat produk cokelat di-blend dengan kekhasan kopi Arabika Aceh di satu produk. Sehingga apabila kita sedang menjilat cokelatnya, tanpa sadar kita bisa saja mengigit biji kopi yang sengaja dia sisipkan dalam cokelat. Penasaran?

Bersama Didi, owner Cilet Coklat

Bagi kalian yang ingin membeli Cilet Coklat ini bisa langsung mendatangi outletnya di jalan Ulee Kareng (Samping Bakso Ramayana). Harga cokelat kisaran mulai dari Rp 10.000 – Rp 25.000.

Oh ya, arti nama Cilet sendiri artinya adalah jilat sehingga kalau digabung menjadi jilat cokelat. Kamu, lebih suka makan cokelat dijilat atau diemut? Kalau saya sih suka semuanya *ehhh…

8. Kue Kering

Saya kebingungan sewaktu masuk ke toko-toko di sepanjang jalan Sri Ratu Syafiatudin. Kebingungan saya sebab banyak kue-kue tradisional yang bisa menjadi ide jastip oleh-oleh Aceh. Antara lain, timphan, kue Bhoi, kue adee, dodol dan ragam kue kering tradisional Aceh lainnya. Saya sampai mencatat nama-nama kue tersebut dari penjual agar tidak salah dalam penulisan.

Salah satu kue kering yang enak yaitu Lontong Paris. Bentuknya dari tepung tering yang dilapisi dengan kacang. Rasanya garing dan bikin kita ketagihan untuk menghabisinnya segera.

9. Kupi Brownies Atjeh

Boleh dikatakan saat ini, kota Banda Aceh belum tersentuh oleh kue kekinian yang diklaim sebagai oleh-oleh artis. Saya melipir keluar dari toko souvenir dan melihat di sebelah ada toko brownies. Begitu melihat deretan varian rasa brownies yang dijual dan mencoba testernya, saya ditawarkan brownies kopi yang menggoyang lidah.

Tekstur brownies empuk dan perpaduan antara cokelat dan kopi bisa membuat kita menahan liur sejenak. Jangan khawatir apabila kalian tidak menyukai rasa kopi, sebab Kupi Brownies Atjeh ini juga menyediakan varian rasa lainnya seperti keju, original dan blueberry.

Harga satu boks brownies dipatok mulai dari Rp 40.000 saja. Namun, sebelum kalian membeli harap memperhatikan tanggal kadaluarsa di bawah boks sebab, biasanya untuk brownies paling lama tahan 3 hari di suhu udara luar tapi akan lebih lama kalau dimasukan dalam mesin pendingin.

10. Ayam Tangkap

Barangkali kalau kalian membawa pulang oleh-oleh kue tradisional khas Aceh masih tergolong mainstream. Waktu saya di Sabang sedang mengikuti acara TEDx, ada salah satu pembawa materi yang bercerita kisah suksesnya berjualan ayam tangkap di Jakarta. Dia sampai datang ke Aceh dan belajar langsung dengan salah satu warga Aceh untuk mengetahui resep membuat ayam tangkap yang enak.

Ayam tangkap adalah kuliner ayam kampung goreng yang dimasak dengan rempah-rempah, kari ayam, dan juga daun pandan. Saya pernah satu kali mencicipnya di Palembang, kebetulan waktu itu ada restoran yang menjual makanan khas Aceh namun saya restoran tersebut sudah tutup. Kalau mengambarkan rasa yang bisa dinikmati dari kuliner ayam tangkap ini adalah renyah dan gurih karena proses penyerapan bumbu ke daging.

Slurrppp mengoyang lidah untuk mencari ayam tangkap kembali ke Aceh nih.

Ternyata banyak sekali yang bisa saya rangkum dari traveling ke Aceh kemarin. Oleh-oleh memang paling dinantikan, namun kalau teman atau kerabat kita lebih pengertian mereka akan lebih melakukan: Nah, ini uang buat beli titipanku ya… sisanya ambil saja.

Kalau ada teman yang sedang jalan-jalan kalau cuma titip hawa, ya jangan marah kalau baliknya hawa tapi kalau dia jalan-jalan kalian titipin uang maka baliknya bawa barang. Hore!

Dari 10 ide jasa titip oleh-oleh Aceh ini, mana yang menjadi favoritmu?

tempat wisata di sabang

7 Tempat Wisata di Pulau Weh, Sabang

Tahun ini Sabang dipilih sebagai tuan rumah ke-9 sejak diluncurkan Sail Indonesia pertama kalinya di Bunaken Manado. Saya baru setahun belakangan ini mengetahui acara tentang Sail Indonesia. Dipilihnya Pulau Weh atau lebih dikenal sebagai Sabang karena menjadi titik nol kilometer di ujung barat Indonesia. Keindahan seperti yang diceritakan mengenai Sabang adalah motivasi saya ingin berkunjung ke kota yang masih memegang syariat Islam nan kuat.

Sail Sabang 2017

Setibanya rombongan kami ke Aceh, saya melihat sepanjang jalan dipenuhi oleh baliho menyambut Sail Sabang 2017. Saya melihat persiapan pemerintah daerah Aceh telah melakukan berbagai persiapan menyambut perhelatan Sail Sabang, hanya saja faktor cuaca memang menjadi penentu lancar atau tidak terselenggaranya acara.

Walau saya belum beruntung melihat Sail Sabang 2017, saya tak ingin bermurung hati seperti cuaca hujan sepanjang hari. Sabang masih memiliki tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi sekali lewat bagi kalian yang memang memiliki waktu terbatas di Sabang. Apa saja wisata Sabang yang saya kunjungi :

1. Sabang Fair

tempat wisata di sabang
Pulau Weh

Saat membuka peta digital dari ponsel, saya mencari lokasi terdekat yang bisa dikunjungi dari guest house. Ternyata guest house kami jaraknya cukup dekat dengan lokasi Sabang Fair ini. Kami tidak tahu seperti apa Sabang Fair, cukup unik juga membaca namanya lewat maps. Ternyata Sabang Fair itu semacam lapangan luas yang biasa dimanfaatkan untuk kegiatan.

TEDx Sabang

Ketika kami sampai di Sabang Fair ternyata sedang ada acara dari TEDs dari Bekraf. Akhirnya kami ikut menjadi peserta mendengarkan sesi para pemateri memberikan informasi. Dalam hati, wah kece nih Sabang punya acara keren.

2. Gua Sarang

tempat wisata di sabang
View dari lokasi Gua Sarang

Kami tiba di suatu dataran tinggi dengan view menghadap ke suatu danau. Dari tempat saya berdiri view pemandangan ini cukup asri untuk duduk bersantai sejenak. Menurut informasi yang saya dapat, untuk menuju Gua Sarang masih memerlukan waktu lagi untuk menapak ke bawah.

Terus saya pergi? Kalau ditanya tentu saya pengen pergi, hanya saja waktu kami terbatas jadi kami hanya menikmati dari atas pemandangan.

3. Kapal Pattaya III

tempat wisata di sabang
Kapal Pataya III

Setelah menikmati pemandangan danau cantik dari Gua Sarang, mobil kami berpindah ke suatu tempat seperti resort. Di kelilingi perpohonan mobil kami berhenti. Saya juga mempertanyakan ini kita ke mana ya? Ternyata kami di ajak untuk melihat kapal Pataya III yang terdampar di kawasan Iboih, Sabang.

tempat wisata di sabang
Jalanan masuk ke lokasi

Kapal Pataya III termasuk kapal kargo yang sedang berlayar di perairan Sabang dan sekitar, namun terjadi kerusakan pada bagian mesin dan diterpa badai sehingga membuat kapal ini jadi tidak beroperasi. Saya tidak tahu musibah kapal Pataya III ini apakah pantas dijadikan objek wisata? :mrgreen:

4. Monumen Titik Nol Kilometer

tempat wisata di sabang
Berfoto di landmark Sabang, Tugu Titik Nol Kilometer

Suatu kota tentunya memiliki landmark yang layak untuk dikunjungi. Apalagi bagi yang baru pertama kali datang ke Pulau Weh. Titik Nol Kilometer ini menjadi salah satu objek wisata Sabang yang ramai didatangi oleh wisatawan.

FYI.

Dulu di lokasi Titik Nol Kilometer ada layanan untuk mendapatkan sertifikat sebagai tanda kita sudah pernah berkunjung ke Sabang. Namun, sayangnya fasilitas ini sudah ditiadakan lagi sehingga kita hanya bisa berfoto saja dengan latar tugu Titik Nol Kilometer saja.

Di sekitar kawasan ini terdapat para penjual souvenir seperti baju, topi dan gantungan kunci. Serta juga terdapat pedagang kaki lima yang berjualan gorengan dan kopi.

5. Tugu I Love Sabang

tempat wisata di sabang
Tugu I Love Sabang

Tugu I Love Sabang menjadi objek wisata baru yang ramai dikunjungi setelah tugu Titik Nol Kilometer. Letak tugu dikatakan cukup strategis karena berada di Taman Elak. Di sebelah kiri tugu kita bisa melihat pemandangan Danau Aneuk Laot dengan hutan yang rimbun.

Namun, sayang sekali objek wisata ini sama seperti tugu Titik Nol Kilometer yang mana tidak ada aktivitas bisa dilakukan, selain berfoto kemudian pergi melanjutkan ke objek wisata lainnya.

6. Bunker Jepang Anoi Itam

tempat wisata di sabang
Bunker Jepang Sabang

Dulu sewaktu menulis tentang pariwisata Sabang, saya pernah menulis tentang Pantai Anoi Itam yang memiliki keunikan pasir pantai berwarna hitam. Kemudian di atas pantai terdapat sebuah bunker tempat menembakkan meriam saat tempo dulu. Sisa peninggalan Jepang ini menjadi objek wisata di Sabang.

Bunker Jepang ini langsung menghadap ke arah laut dengan dataran yang curam ke bawah. Saat masuk kawasan bunker Jepang Anoi Itam ini kita akan diminta retribusi masuk per kepala. Ada satu hal yang saya sesalkan di kawasan wisata ini adalah retribusi yang tidak jelas, seperti biaya masuk toilet yang ditulis Rp 2000,- tapi saya ditagih Rp 3000,-.

tempat wisata di sabang
Pemandangan dari atas bunker
tempat wisata di sabang
Ruang dalam bunker kurang terawat
tempat wisata di sabang
Jalan masuk ke bunker Jepang

Kembali sayang, bunker Jepang ini sepertinya tidak terawat, jalan menuju ke atas ada sampah-sampah berserakan. Serta kondisi bunker cukup memprihatinkan, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain hamparan laut yang luas dan deruan ombak.

7. Jalanan Mulus di Sabang

tempat wisata di sabang
Pemandangan berkelok

Setelah kami dari tugu I Love Sabang, kami melewati sebuah jalanan berkelok yang mulus. Kami berhenti sejenak menikmati suasana alam di Sabang. Dari sini kita bisa melihat sepenuhnya suasana pemandangan hutan, rumah penduduk dan alam. Seolah mencirikan alam Sabang yang masih alami dan sederhana.

Cara Menuju Ke Sabang

tempat wisata di sabang
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Setibanya kalian di Bandara Sultan Iskandar Muda, kalian bisa memesan taksi bandara yang sudah nangkring di depan pintu kedatangan. Taksi di Aceh tidak menggunakan argo, tapi mereka sudah memiliki jarak tertentu. Misal dari bandara ke kota dipatok harga Rp 100.000.

Namun, apabila kalian sudah sampai di kota Banda Aceh maka transportasi yang saya sarankan kalian bisa menggunakan taksi online seperti GoJek dan Grab. Dua transportasi online ini sudah ada di Aceh. Saya tidak menyarankan kalian naik angkot, sebab angkot di Aceh itu antara ada dan tiada. Tapi kalau jaraknya tidak terlalu jauh, kalian bisa mencoba sensasi naik becak motor. Seru lho!

tempat wisata di sabang
Tarif taxi bandara di Aceh
tempat wisata di sabang
Pelabuhan Ulee Lheue

Setelah kalian berada di kota Banda Aceh dan bersiap menyebrang ke Pulau Weh atau Sabang. Kalian tinggal mencari transportasi menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Pelabuhan ini cukup ramai karena gerbang menuju ke Pelabuhan Balohan, Sabang.

Ada dua kapal menuju Sabang yaitu kapal cepat dan kapal lambat. Beda antara kapal cepat dan kapal lambat adalah durasi perjalanan. Apabila kalian ingin lebih cepat tiba di Sabang sekitar 45 menit maka pilihlah kapal cepat. Tapi kalau kalian ingin lebih menikmati suasana laut dari dalam kapal selama 2 jam, silahkan memilih kapal lambat.

tempat wisata di sabang
Pelabuhan Balohan Sabang

Harga yang dipatok untuk kapal cepat adalah Rp 80.000 untuk kelas ekonomi dan Rp 100.000 untuk VIP. Sedangkan untuk harga kapal lambat dipatok harga Rp 25.000 saja. Jadwal kapal dimulai dari pukul 08.00 hingga 16.00. Apabila kalian ingin ambil kapal lebih siang bisa mulai dari pukul 11.00 dan 14.00.

FYI

Jadwal kapal bisa berubah oleh karena faktor cuaca, apabila cuaca sedang tidak mendukung maka akan berpengaruh pada waktu keberangkatan kapal. Hal ini terjadi pada perjalanan saya kemarin.

Bagi kalian yang memiliki waktu terbatas untuk mencari wisata Sabang, maka sightseeing wisata Sabang ini adalah jawabannya. Kita bisa mengunjungi ke beberapa tempat sekaligus menggunakan mobil rental lengkap dengan sopir. Harga rental mobil bervariasi mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu. Namun keterbatasan ini membuat kita jadi tidak bisa mengeksplorasi wisata yang dikunjungi seperti cerita mengenai wisata tersebut.

Andai masih ada kesempatan, saya ingin kembali lagi ke Aceh dan Sabang untuk eksplore lebih lanjut 😆

Aceh, Seteguk Asa Cinta Penantian

Dua tahun lalu, saya pernah membaca sebuah artikel di majalah tentang Kota Serambi Mekkah, sebutan untuk Aceh. Artikel yang membuat otak senyap merekam hal-hal mengenai Aceh yaitu kota yang memegang syariat Islam dan tsunami. Dua hal yang seperti menjadi pisau bermata dua, sebab menjadi pemberitaan yang sensitif.

Namun, saya tidak ingin menyerap informasi yang hanya sepihak. Saya masih yakin kalau Aceh, khususnya kota Banda Aceh masih ramah dan menyimpan sejuta makna cerita sejarah yang dapat menambah khazanah pembelajaran hidup saya. Dan seperti yang kalian tahu, saya akan senang sekali berbagi cerita perjalanan saya lewat tulisan di blog ini.

Berbekal rasa kuat ingin berjumpa dengan Aceh tersebut, saya mencari cara agar bagaimana bisa mendapat kesempatan menginjakkan kaki ke Aceh. Hasrat makin bertambah manakala tahun saat saya ke Raja Ampat, ujung timur di Indonesia. Dari atas puncak Wayag saya melihat indahnya pesona Indonesia, terbesit juga ingin pergi traveling ke Aceh, ujung barat Indonesia.

Dua kali saya mencoba peruntungan mengikuti lomba menulis yang berhadiah ke Aceh. Namun keduanya pun gagal. Hingga tulisan saya mengenai geospasial beberapa waktu lalu. Ternyata tulisan itu menjadi tiket pesawat bagi saya traveling ke Aceh dan Sabang.

Bagai sayur tanpa garam, datang ke Aceh tidak ke Sabang maka tidak lengkap perjalanan kita. Benar begitu kan?

Critical Eleven

bandara aceh
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh; bandaranya seperti kubah masjid.

Penerbangan saya dimulai dari Palembang menuju Jakarta kemudian transit ke Medan dan Aceh. Lama-kelamaan saya jadi menikmati tiap penerbangan transit di bandara. Saya terbang bersama Rifky, mahasiswa jurusan geospasial di Yogyakarta. Ini adalah perjumpaan kedua kali setelah kami diundang ke kantor Badan Informasi Geospasial (BIG) di Cibinong, Bogor untuk penyerahan hadiah.

Syukurlah, pesawat Boeing 737 berhenti sebentar menurunkan penumpang di Bandara Kualanamu dan hanya setengah jam pesawat terbang kembali menuju Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh. Total perjalanan lebih kurang lima jam kami di atas pesawat. Belum ditambah perjalanan saya dari Palembang.

visit aceh
Akhirnya menginjak kaki di Bumi Aceh

Saat tiba di Bandara Kualanamu, kakak saya memberitahu kalau mama badannya sedang drop. Seketika saya langsung panik. Memang beberapa hari yang lalu mama sempat demam. But the show must go on kan? Kadang di situasi seperti kemarin saya harus memilih apa tetap lanjutkan traveling atau saya berhenti. Beberapa waktu lalu pun saya sempat menolak undangan Festival Krakatau dan Festival Musi Triboatton karena hal yang sama. Begitulah, kadang manusia boleh berencana tapi Tuhan juga yang menentukan.

Saya mencoba mengontrol perasaan antara menikmati perjalanan atau berwajah murung.

Aceh, Kota yang Tenang

Simpang Lima Kota Banda Aceh

Pukul 5 sore kami telah sampai di Aceh. Saya tidak memiliki planning khusus sebab waktu di Aceh hanya numpang bermalam. Namun, tiap saya berangkat ke kota lain saya pasti usahakan untuk berjumpa dengan teman blogger lainnya. Saya masih memegang prinsip kopdar sebab penting bagi saya bisa berjumpa dengan teman-teman blogger di kota lain. Dari mereka saya bisa tahu planning perjalanan saya berikutnya.

Dalam perjalanan menuju hotel tempat kami bermalam, saya melihat Aceh tanpa macet. Ruas jalan lega dan tenang. Entah mengapa atmosfer di Aceh sore itu sehabis hujan lebih tenang. Namun, dibalik tenangnya jalanan saya melihat warga setempat masih kurang disiplin dalam berkendara. Bayangkan saja, bawa “kereta” tapi ngegas terus ibu-ibu bawa motor masih bisa ngobrol di tengah jalan dengan santainya. Padahal mobil kita mau jalan, diklakson pun tidak bergeming.

Saya jarang menemukan orang keturunan Tionghoa. Lebih banyak berjumpa tipikal wajah Aceh yang bercampur India. Bulu mata lentik. Dijamin kalian bakal iri karena mereka tidak perlu lagi menyulam alis atau bulu mata. Cantik dan rupawan sekali.

Berbicara mengenai logat bicara atau aksen, saya jadi teringat waktu baru sampai du pintu kedatangan, saya sempat mendengar obrolan dua avsec bandara. Logat yang cepat seperti orang sedang berkelahi. Akhirnya saya beranikan diri bertanya apakah mereka sedang berbicara dengan bahasa Aceh? Sebab tampak aksennya cepat seperti mengajak ribut. Ternyata aksen Aceh memang seperti yang saya dengar.

Setelah meletakkan ransel di kamar hotel, saya pun segera memesan taksi online. Sebagai informasi, transportasi kota di Aceh sudah dihijaukan oleh taksol seperti GoJek dan Grab.

Mencari Mie Aceh

Mie Razali di daerah Peunayong

Tak berapa lama taksol datang menjemput kami menuju kawasan kota yang katanya ramai. Kami diturunkan di sebuah kedai mie aceh bernama Mie Razali.

Kami berdiskusi ringan saja, ke Aceh tidak mencicipi mie Aceh sama seperti kalian datang ke Palembang tidak hirup cuko pempek. Ternyata banyak juga penjual mie Aceh yang mudah dijumpai.

Berada di kota yang kuat syariat Islam membuat kita juga perlu ikut aturan setempat. Traveling memang membuat saya bak peribahasa di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung kan. Menghargai budaya masyarakat Aceh yang masih cukup kental dengan budaya ketimurannya.

Termasuk rumah makan yang kami singgah. Para pegawai rumah makan akan berhenti operasional saat sholat siang dan magrib. Sehingga pada saat kami datang jam 6 sore, kami pun harus menunggu hingga jam 7 hingga semua pegawai selesai istirahat.

Suasana rumah makan cukup berantakan dengan piring-piring yang berserakan di meja tanpa ditumpuk. Saya pun keluar melihat sekeliling jalanan, sepi tak banyak aktivitas warga. Percuma tidak ada pilihan selain menunggu.

Ternyata benar seperti yang diucapkan oleh supir taksi kalau orang-orang akan mulai ramai setelah pukul 7 malam. Tiba-tiba saja tempat makan mie Aceh ini langsung membludak ramai. Saya tercengang melihat pemandangan di saat itu.

kuliner mie aceh
Mie Aceh Rebus
kuliner mie aceh
Mie Aceh Kuah

Kami pun segera memesan, saya memesan mie goreng basah dan Rifky memesan mie kuah. Terus terang pelayanan di rumah makan ini memang cukup lambat dan lama. Saya sampai harus beberapa kali bertanya. Kemudian, selama masa kami menunggu makanan hingga 30 menit selama itu pula mulai dari gelandangan dan pengamen datang silih berganti tiap menitnya. Cukup menganggu kenyamanan.

Ekspektasi saya terhadap mie Aceh adalah mie yang gurih dan pedas. Ternyata lidah saya sebagai orang Palembang yang terbiasa dengan pedas belum merasa mie Aceh di warung makan ini sesuai ekspektasi saya. Rasa mie Acehnya lebih hambar dan kurang gurih.

Hal lainnya yang saya kurang suka adalah mudahnya pengemis yang datang silih berganti tiap menitnya dan membuat kita akan kurang nyaman dengan kehadiran mereka. Usut punya usut setelah saya tanya, mengenai rasa mie Aceh di tempat ini sendiri mengalami penyesuaian lidah dengan tamu yang datang. Baiklah, saya memantakan diri kalau pencarian mie Aceh enak dan rasanya pas akan tetap berlanjut

Obrolan Malam Ditemani Kopi Sanger

Sehabis makan malam, saya ada janji berjumpa dengan salah satu blogger Aceh yaitu Bang Yudi Randa, pemilik hikayatbanda.com. Dari beberapa blogger Aceh yang saya kenal dan hubungi hanya bang Yudi yang memiliki waktu kosong.

Kedai Kupi Kuta Alam menjadi lokasi pertemuan kopdar pertama kami. Jaraknya tidak jauh dari tempat kami makan. Mengandalkan peta online sebagai bentuk informasi geospasial, kami pun bergerak ke lokasi.

kopi aceh
Kopi Sanger cuma ada di Aceh
blogger aceh
Meetup dengan Bang Yudi, Blogger Aceh

Aceh memang sudah dikenal sebagai penghasil kopi Gayo. Tak lengkap kalau tidak mencicipi kopi Sanger. Kami memesan Arabica Sanger yang tajam aromanya. Seloki kecil kopi memang bisa dihabiskan dengan satu tegukkan saja. Namun, bagi pencinta kopi tentunya dia tidak akan melakukannya.

Kami pun terlibat dalam obrolan seru bersama Bang Yudi, Rifky memang saya ajak untuk menemani saya daripada dia bengong di kamar hotel. Obrolan saya dan Bang Yudi sempat membuatnya roaming dengan dunia perbloggeran 😆

Obrolan kami pun masuk ke topik amankah Aceh untuk dikunjungi?

Apabila kalian traveling di Banda Aceh, sepenglihatan saya Banda Aceh kota yang nyaman dan ramah. Sudah ada kedai kopi kekinian yang menjadi tempat berkumpul anak muda Aceh. Bicara tentang keamanan, saya sendiri merasa tidak perlu ketakutan saat sedang menenteng kamera atau bermain ponsel di tengah jalan. Barangkali karena adanya hukum adat setempat membuat berpikir dua kali sebelum melakukannya.

Bagi kalian yang perempuan non muslim, saya melihat memang di sini rata-rata menggunakan hijab. Tapi, jangan sampai hal ini menjadi ketakutan bagi kalian untuk traveling ke Aceh. Pesan saya tetap gunakan pakaian sopan pantas, kalau biasanya kalian jalan menggunakan rok pendek bisa diganti dengan celana panjang. Selain itu, kalian juga boleh menggunakan syal kerudung menutupi kepala sebagai pengganti hijab.

Saya juga tidak ingin membuat kalian takut atau membatalkan tiket ke Aceh setelah membaca tulisan saya. Setelah saya diskusi dengan Bang Yudi, saya boleh katakan Aceh aman bagi kalian untuk traveling. Siapa tahu kalian ingin menikmati menjadi warga lokal dan mendapat jodoh orang Aceh nan cantik dan rupawan.

Selama saya di Aceh pun saya seperti tidak ada kerjaan lain selain mengamati wajah-wajah orang Aceh hahaha… sebab wajah mereka memang berkarakter seperti wajah orang Tidore. Sayangnya lagi, saya tidak bisa memperagakan menggunakan hijab :mrgreen:

Hujan makin kian bertambah deras, namun kalau tidak diakhiri bisa jadi kami terlibat dalam obrolan hingga tengah malam. Padahal nongkrong di warung kopi hingga malam adalah kebiasaan bagi warga lokal Aceh sambil bermain ludo online yang tengah digandrungi.

Sail Sabang 2017

Jadwal keberangkatan saya ke Aceh bersamaan dengan jadwal Sail Sabang 2017 yang telah dimulai dari 28 November – 5 Desember. Saya berangkat dari tanggal 2 Desember hingga 6 Desember. Tahun ini Pulau Weh atau orang lebih mengenal sebagai Sabang menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan Sail yang bertujuan agar para wisatawan mancanegara melabuhkan kapal-kapal yatch mereka di Terminal CT3.

Acara ini juga mengajak kita untuk dapat menikmati wisata Sabang setelah menghadiri Sail Sabang 2017. Mendengar kata Sabang sudah pasti wisata bahari Sabang menjadi sasaran bagi para pelancong untuk snorkeling atau diving.

Sayang sekali ternyata dari jadwal yang telah dijadwalkan banyak sekali perubahan yang terjadi. Puncak Sail Sabang yang harusnya tanggal 5 Desember ternyata dimajukan menjadi tanggal 2 Desember. Sehingga saya melewatkan momen Sail Sabang tersebut. Belum lagi cuaca di bulan Desember sedang tidak mendukung. Selama di Aceh dan Sabang saya tidak begitu banyak melihat wisata Aceh dan Sabang oleh karena hujan.