info wisata ambon

Solo Traveling Modal 150 Ribu Bisa Puas Keliling Kota Ambon

Setiap perjalanan pasti menemukan jalannya sendiri, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya datang. Dua minggu setelah balik dari Kerala, India, ternyata semesta membukakan jalan saya ke Maluku Tengah, tepatnya Banda Neira. Saya pikir sekalian berada di Maluku, kenapa tidak menambah hari keliling Ambon untuk solo traveling? Naluri untuk solo traveling kembali melatih kemampuan diri beradaptasi dengan lingkungan.

Nama Ambon masih terdengar asing bagi saya, apa yang menarik dari ibu kota provinsi Maluku tersebut?

Read More »

Iklan
harga kamar santika radial palembang

Keliling Palembang Hemat? Ini Referensi Tempat Menarik Dilewati LRT Palembang

Semakin terasa kencang denyut pengerjaan pembangunan di Kota Palembang. Semua bagian ingin partisipasi demi menyambut perhelatan Asian Games 2018 sebagai pesta olahraga terbesar di Asia. Ditunjuk menjadi tuan rumah, Palembang terus berbenah untuk menyambut event akbar ini. Tiap saya datang ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB II), semarak Asian Games 2018 ada di sepanjang bandara.

Maka jangan kaget apabila kamu baru mendarat di Bandara SMB II, mulai dari turun pesawat hingga keluar bandara. Kalian akan disambut oleh alunan musik Gending Sriwijaya. Sejarah akan mencatat, kota Palembang akan menjadi pertama yang memiliki LRT (Light Rail Transit) yang menghubungkan langsung dari Bandara SMB II menuju Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring!

lrt palembang
LRT Palembang

Belum ada kota lain di Indonesia yang terbukti sukses memiliki LRT. Mega proyek ini dibangun untuk mendukung pelaksanaan Asian Games. Hadirnya LRT di Kota Palembang banyak memberi manfaat, bukan hanya untuk memperlancar arus transportasi. Dengan adanya jalur kereta api ringan, kepadatan arus lalu lintas semoga akan berkurang.

Sepanjang jalur kereta api ringan ini, tentunya kita bisa menikmati pemandangan kota Palembang dari Bandara SMB II hingga Stadion Jakabaring. Bahkan kita pun bisa sambil keliling kota Palembang murah sambil menikmati objek wisata yang dilewati oleh LRT. Mau tahu objek wisata apa saja yang akan dilewati oleh LRT?

1. Museum Balaputera Dewa

Salah satu museum kebanggaan orang Palembang yaitu Museum Balaputera Dewa. Museum ini berlokasi di Jalan Srijaya KM 5 berada di pusat kota. Banyak peninggalan kuno Kerajaan Sriwijaya serta artefak-artefak yang bisa dilihat. Museum Balaputera Dewa memiliki 3 ruangan pameran yang masing-masing ruangan bercerita mulai dari sejarah manusia zaman Megalith dan sisa benda peninggalan zaman dulu. Menariknya dari Museum Balaputera Dewa adalah Rumah Limas yang terletak di bagian belakang. Rumah Limas ini terdapat pada uang pecahan Rp 10.000. Jadi, jangan melewatkan untuk berfoto dengan latar Rumah Limas ini ya!

2. Jembatan Ampera

Jembatan kebanggaan Wongkito Galo ini memang legendaris sejak Kerajaan Sriwijaya. Terletak di titik 0 pusat kota Palembang, Jembatan Ampera berdiri kokoh menjadi penghubung dua daerah Palembang yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Di alirin Sungai Musi membuat Jembatan Ampera tampak lebih megah dikunjungi saat pagi maupun malam hari. Apalagi stasiun LRT nanti akan berada di dekat Jembatan Ampera sehingga memudahkan kita untuk seesight sekitar.

3. Pasar 16 ilir

Pasar 16 memiliki nilai sejarah bagi masyarakat kota Palembang. Pasar ini merupakan salah satu pasar terbesar dan pusatnya belanja mulai dari kain songket, perhiasan, hingga peralatan rumah tangga. Aktivitas perdagangan di kawasan ini cukup tinggi namun kalian tetap dapat menikmati gedung-gedung tua yang tampak bersejajar menghadap tepian Sungai Musi. Tips saat berkunjung ke Pasar 16 adalah jangan takut untuk menawar harga dan mengecek kembali kualitas barang yang dibeli. Sebab belanja di pasar tradisional tanpa menawar bagai sayur tanpa garam.

4. Ampera Skate Park

ampera skate park
Ampera Skate Park Palembang

Kawasan skateboard park ini persis berada di samping Jembatan Ampera. Sangat dekat dari MONPERA, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan Masjid Agung. Dulunya lapangan kosong yang digunakan untuk parkir mobil apabila orang hendak ke pasar 16. Sekarang lapangan kosong tersebut disulap untuk memenuhi aspirasi anak-anak muda kota Palembang dalam hal bermain skateboard. Kalian bisa berkunjung di sore hari sambil menikmati sunset.

5. Benteng Kuto Besak

tugu iwak belido palembang
Tugu Iwak Belido

Salah satu benteng yang masih berfungsi sebagai markas keamanan berada di pusat kota. Fungsi awal Benteng Kuto Besak sebagai bangunan keratin milik Kesultanan Palembang. Kalian hanya dapat menikmati bangunan benteng dari bagian luar saja memandang Jembatan Ampera atau Tugu Belido yang merupakan sebuah patung ikan belido menghadap ke Jembatan Ampera. Sekarang Tugu Belido menjadi maskot baru kota Palembang.

6. Kampung Arab Almunawwar

Ingin merasakan suasana timur tengah dengan balutan kehangatan warga lokal setempat? Setibanya kalian dari Stasiun Jembatan Ampera maka kalian dapat naik perahu ketek dengan harga Rp 10.000 menuju kampung arab Almunawwar. Di kampung arab ini kalian dapat melihat bangunan rumah tua berumur di atas 200 tahun dan lokasinya cukup instagramable! Datanglah berkunjung di waktu sore hari untuk melihat sunset.

Pilihan Akomodasi Strategis

review santika radial palembang
Hotel Santika Radial Palembang

Cukup banyak objek wisata yang dilalui oleh LRT sehingga memudahkan kalian apabila sedang traveling ke Palembang. Termasuk mencari akomodasi hotel yang lokasi strategis serta dilalui oleh jalur LRT Palembang. Salah satu hotel pilihan rekomendasi saya yaitu Hotel Santika Radial Palembang bisa jadi pilihan bagi kalian. Berikut beberapa alasan mengapa kalian dapat memilih Hotel Santika Radial Palembang sebagai tempat untuk istirahat.

Lokasi di Pusat Kota

review hotel santika radial palembang
Lokasi strategis, dekat pusat keramaian dan mall

Berada di jalan Radial, Hotel Santika Radial Palembang sangat strategis sehingga lokasi mudah dijangkau. Akses menuju ke hotel dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum yang selalu melewati depan hotel atau jika mau lebih praktis dapat menggunakan transportasi online. Kawasan hotel ini juga berada di dekat perkantoran pemerintahan serta kawasan hiburan yang akan membuat malam hari kalian tidak kesulitan mencari hiburan atau tempat makan. Tak jauh dari hotel terdapat penjual nasi goreng merah yang sudah terkenal. Kalian bisa mencobanya.

Serta terdapat tiga mall besar dan pusat perbelanjaan seperti Palembang Icon Mall, Palembang Square Mall, Palembang Indah Mall dan Transmart. Serta pusat perbelanjaan Ramayana yang dapat memenuhi kebutuhan saat sedang berada di dekat hotel.

Pilihan Kamar Beragam

review hotel santika radial palembang
Kamar Deluxe Santika Radial Palembang

Hotel Santika Radial Palembang memiliki 149 kamar yang masing-masing telah dilengkapi fasilitas agar kita nyaman selama menginap. Mulai dari LCD TV, perlengkapan mandi lengkap hingga akses WiFi. Terdapat 4 pilihan kamar mulai dari Superior, Deluxe, Premiere, dan Suite. Bagi saya, ukuran kamar Deluxe sudah lebih cukup apabila saya staycation sendiri sehingga ruang gerak saya lebih leluasa. Sesekali saya juga butuh me time melepas penat dari kesibukan traveling.

Untuk kamar Deluxe, tempat tidur berukuran king size atau dua tempat tidur (twin) yang nyaman. Dengan fasilitas LCD TV dan saluran TV kabel, akses WiFi serta brankas. Kamar cukup nyaman dengan jendela besar. Interior kamar didominasi dengan ornamen kayu panjang yang tersambung dengan meja kerja serta meletakkan barang-barang di atasnya.

Fasilitas di dalam kamar mulai dari toiletries, laundry bag serta slipper juga tersedia di dalam kamar.

review hotel santika radial palembang
Kamar Suite Santika Radial Palembang

Berbeda dengan kamar Suite yang memang lumayan besar. Kamar Suite ini memiliki satu ruangan khusus ruang keluarga sehingga di ruangan tersebut kalian dapat berkumpul bersama keluarga atau melakukan olahraga ringan. Selain itu kamar Suite juga dilengkapi dengan mini bar dan mesin pembuat kopi/teh.

Semua kamar di Hotel Santika Radial Palembang telah dilengkapi dengan shower air panas dan dingin dengan tekanan air yang kencang sehingga membuat pengalaman rileksasi saat sedang mandi. Bagi saya, kamar mandi adalah bagian ternikmat setelah seharian penuh berkeliling kota sehingga saya membutuhkan tekanan air yang kencang saat mandi. Selesai mandi, saya dapat bersantai di kasur empuk sambil menikmati tontonan TV kabel. Sempurna!

Fasilitas Lengkap

review hotel santika radial palembang
View kolam renang Santika Radial Palembang

Hotel Santika Radial Palembang juga memanjakan tamunya dengan fasilitas yang cukup lengkap seperti fasilitas pada umumnya. Membuat nyaman tamunya dengan fasilitas yang cukup lengkap seperti fasilitas gym dan kolam renang. Dua fasilitas ini bisa dinikmati bagi kalian yang membutuhkan olahraga fisik sebelum beraktivitas.

review hotel santika radial palembang
Meeting room

Selain itu juga ada fasilitas lainnya seperti lounge maupun meeting room. Sebab tujuan para tamu yang menginap selain untuk berlibur, ada pula untuk keperluan business trip sehingga semua fasilitas sudah disediakan tinggal digunakan semaksimal mungkin.

Aneka Menu Nusantara di Laksa Restaurant

review hotel santika radial palembang
Menikmati sajian makanan di Laksa Restaurant

Bagi kalian yang mendambakan hidangan makanan nusantara, tentunya tidak akan kecewa dengan menu nusantara di Laksa Restaurant. Restoran di Hotel Santika Radial Palembang ini menggabungkan perpaduan suasana nyaman, pelayanan ramah serta hidangan yang mampu mengenyangkan perut.

Restoran Laksa menyajikan hidangan lezat, mulai dari makanan ringan hingga menu a’la carte hingga buffet. Kalian tinggal memilih berbagai masakan lokal, internasional dan oriental tersedia di Laksa Restaurant. Mulai dari mie celor, tekwan, bakso, laksan, rawon, coto makasar, bubur ayam, soto betawi, dan berbagai jenis sambal tradisional tersedia di Laksa Restaurant.

review hotel santika radial palembang
Iga Bakar Nasi Timbel
review hotel santika radial palembang
Pie Fruit

Saya berkesempatan mencicipi Iga Bakar Spesial yang dipadukan dengan Nasi Timbel sebagai hidangan makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan hidangan penutup sebuah pancake dengan es krim di atasnya. Memang memanjakan perut berada di Hotel Santika Radial Palembang ini.

Memesan via santika.com Dijamin Lebih Murah

review hotel santika radial palembang
Booking kamar via santika.com

Saat ini memang banyak OTA yang memudahkan kita untuk memesan kamar hotel. Namun, tahukah kalian kalau sering kali apabila kita memesan kamar hotel lewat website justru bisa dapat harga lebih murah? Berikut alasan mengapa lebih enak memesan kamar langsung via santika.com :

  1. Beragam pilihan dan keamanan bertransaksi: santika.com memberikan pilihan metode pembayaran mulai dari kartu kredit, bank transfer, serta pembayaran langsung di hotel.
  2. Jaminan harga terbaik: santika.com selalu memberikan harga terbaik dibanding platform manapun.
  3. Tidak ada biaya tersembunyi: santika.com menampilkan harga yang sudah termasuk pajak,
  4. Lebih banyak manfaat: apabila memesan via santika.com maka kita bisa mendapatkan berbagai manfaat lain seperti gratis WiFi, sarapan pagi dan fasilitas lainnya.
  5. Ulasan pelanggan: kalian bisa membaca ulasan pengalaman menginap dari tamu lain sebagai referensi menginap lewat santika.com.
review hotel santika radial palembang
Melayani dengan senyuman
review hotel santika radial palembang
Lobi Hotel Santika Radial Palembang

Hotel Santika Radial Palembang bukan saja mengedepankan kenyamanan tidur sekaligus sarapan yang enak. Bagi kalian sedang singgah di Palembang baik untuk keperluan liburan atau bisnis tentunya bijak memilih akomodasi yang strategis, suasana nyaman serta mampu menciptakan pengalaman berkesan.

Selain Hotel Santika Radial Palembang, Grup Santika Indonesia sendiri juga memiliki jaringan hotel bintang 2 di Palembang yaitu Amaris Hotel. Hotel ini bisa jadi alternatif bagi kalian dengan pelayanan dan kualitas yang tidak mengecewakan.

Hotel Santika Radial Palembang
Jl. Brigjen HM Dhani Effendi (Jl. Radial ) No. 1688 Palembang – Indonesia
+62-711-5556655

Hotel Amaris Palembang
Jl. Demang Lebar Daun, Palembang
+62-711-5710999

review 5footway inn boat quay

5footway Inn Boat Quay : Hostel Murah Dekat MRT di Singapura

Akomodasi hotel termasuk salah satu pengeluaran yang esensial saat traveling. Semakin lama waktu kita di suatu kota maka pengeluaran hotel juga makin membengkak. Salah satu kota yang menurut saya perlu persiapan budget untuk didatangi adalah Singapura. Sebab Singapura termasuk negara yang mahal untuk layak huni. Wajar saja kalau para backpacker akan mencari sesuai budget. Termasuk saya sendiri.

wisata singapura
Merlion Singapore

Cari hotel murah di Singapura? Kalau kalian punya budget lebih boleh saja memilih hotel. Rata-rata harga hotel di Singapura berkisar 1 juta. Solusinya kalian bisa mencari hostel murah di Singapura. Hostel sejenis penginapan yang dihuni oleh beberapa orang dalam satu ruangan. Biasa dalam satu ruangan terdiri oleh 4 hingga 10 orang, tergantung besarnya ruangan. Ada banyak sekali hostel murah di Singapura dengan lokasi yang strategis.

Kalau bukan karena Kerala Blog Express mungkin saya tidak mampir ke Singapura untuk bermalam. Alasan lain karena saya belum begitu banyak explore Singapore. Penerbangan saya ke Trivandrum, India memang paling dekat lewat Singapura. Maka sebelum berangkat saya sudah mencari beberapa hostel murah di Singapura. Penginapan yang menjadi pilihan saya ada di 5footway Inn Boat Quay lewat Traveloka. Harga per malam saya bayar sekitar Rp 230.000/malam untuk kamar dorm isi 4 orang.

5footway inn boat quay
5footway Inn Boat Quay. Lokasi antara MRT Raffles Place dan Clarke Quay

Beruntung saya mendapatkan penawaran upgrade dari pihak hostel dari kamar dorm menjadi kamar private room tanpa dikenakan biaya tambahan. Jadi, berikut ulasan pengalaman saya menginap di 5footway Inn Boat Quay.

1. Lokasi Dekat MRT

Salah satu tips mencari hostel murah adalah lokasi yang strategis. Bila perlu cari hostel yang dekat dengan transportasi umum, seperti MRT. Sebab akan memudahkan kita serta hemat biaya. Kalian pun tidak perlu capek untuk mencari lokasi hostel. Lokasi 5footway Inn Boat Quay terletak di antara MRT Clarke Quay dan Raffles Place. Maka saat saya baru tiba di Changi Airport, saya tinggal naik MRT lalu turun di halte MRT. Dengan mengeret koper, saya berjalan kaki sekitar 500m saja dari pintu keluar MRT menuju 5footway Inn Boat Quay.

2. Lokasi Dekat Objek Wisata

5footway Inn Boat Quay berada di tepian sisi Boat Quay, tidak jauh dari UOB Bank. Bagi kalian yang senang menghabiskan waktu malam tanpa perlu repot mencari tempat makan atau minum, maka Boat Quay ini jawabannya. Di sepanjang ruas jalan kalian bisa menemukan bar dan restoran yang buka hingga malam hari. Selain itu, ada banyak objek wisata terdekat yang dapat dijangkau dengan jalan kaki. Kalian bisa menyusuri jalan mulai dari Merlion Park, Esplanade, hingga Marina Bay Sands wood decking memandangi Hotel Fullerton. Semuanya objek wisata ini bisa dengan mudah kalian jangkau dan gratis!

3. Kamar Private Double Room 5footway Inn Boat Quay

Begitu membuka pintu masuk, kita harus naik ke lantai atas. Anak tangga kayu menjulang ke atas. Apabila kalian membawa koper karena kalian harus siap membawa sendiri koper ke atas karena memang tidak ada jasa porter. Di tiap dinding ada petunjuk arah yang mengarah ke resepsionis, ruang makan, atau kamar. Saya pun segera menuju resepsionis dengan menunjukkan kode booking kamar saya. Proses check inberjalan lancar dan butuh deposit $20 untuk kunci kamar yang akan dikembalikan saat check out.

5footway inn boat quay
Tangga masuk menjulang ke atas

Kamar saya sudah dipersiapkan oleh staff 5footway Inn Boat Quay. Letaknya tidak jauh dari resepsionis dan kamar tersebut cukup diakses menggunakan kartu, termasuk lemari menyimpan pakaian.

Ruang kamar private double berukuran sekitar 2 x 3 meter. Posisi kasur berada di deck atas, sehingga kita perlu naik tangga untuk bisa mencapai kasur. Harap hati-hati saat naik, karena posisi kepala dekat dengan plafon. Apalagi postur tubuh tinggi mudah sekali menyentuh plafon. Di atas sudah disediakan arus listrik sehingga kita bisa mengisi baterai gadget kita sampai besok pagi.

5footway inn boat quay
Kasur empuk ukuran double
5footway inn boat quay
Posisi kasur di atas, harap hati-hati saat turun ke bawah
5footway inn boat quay
Ruang bawah hanya ada meja dan kursi serta lemari.

Sedangkan ruangan bawah dibiarkan kosong, hanya ada meja dan kursi serta lemari. Cukup banyak ruang gerak yang bisa saya lakukan seorang diri. Kesan saya dengan ruangan kamar 5footway Inn Boat Quay sangat nyaman. Mirip seperti kita tidur di hostel kapsul tapi dengan ruang gerak lebih banyak. Saya bisa meluruskan kaki setelah seharian panjang eksplorasi Singapura tanpa perlu khawatir mengganggu orang lain, apabila saya menggambil kamar dorm.

Harga untuk kamar private double room semalam berkisar $70-90. Menurut saya kamar ini cocok apabila kalian traveling berdua.

4. Kamar Mandi Shower

5footway inn boat quay
Kamar mandi pria lengkap dengan shower

Menginap di hostel, kita akan berbagi fasilitas dengan tamu lainnya termasuk dalam hal kamar mandi. Namun jangan khawatir sebab kamar mandi di 5footway Inn Boat Quay punya banyak ruang mandi. Jadi kalian bisa memilih salah satu ruang mandi yang sudah dilengkapi dengan shower air panas dan dingin. Sedangkan untuk toilet kering terpisah dengan ruang mandi.

Saran saya, kita juga perlu membawa peralatan mandi pribadi, sebab dari 5footway Inn Boat Quay tidak menyediakan seperti sabun dan shampoo.

5. Menu Sarapan Pagi

Salah satu cara berhemat saat traveling adalah memilih hostel yang sudah menyediakan sarapan pagi tanpa perlu khawatir. Biasanya tiap hostel akan menyediakan roti dan sereal sebagai sarapan pagi. Saya puas dengan menu sarapan pagi di 5footway Inn Boat Quay, walau hanya roti dan sereal. Kalian bisa bebas sepuasnya mengambil roti dan sereal sampai perut kenyang. Saya pun mengambil beberapa lembar roti untuk persiapan saat di jalan apabila lapar dan belum bertemu tempat makan.

5footway inn boat quay
Menikmati sarapan pagi dengan pemandangan sejuk khas Singapura

Bagi kalian yang menyeduh teh atau kopi tidak perlu khawatir karena sudah disediakan dispenser. Sehingga sangat cocok kalau kalian membawa Tupperwaresaat traveling. Tapi ingat, tutup Tupperwarejangan sampai hilang ya! Selain itu selesai kalian sarapan, jangan lupa untuk mencuci peralatan makan kalian di wastafel. Inilah salah satu serunya tinggal di hostel.

Bonus menarik menginap di 5footway Inn Boat Quay menurut saya adalah kita dapat menikmati sarapan pagi dengan tenang, ditemani kicauan burung serta melihat Marina Bay Sands dari jauh!

Pros :

  • Lokasi strategi sehingga kita bisa hemat biaya
  • Kamar bersih dan fasilitas wifi kencang
  • Sarapan tercukupi
  • Harga permalam cukup terjangkau

Cons:

  • Kurang cocok bagi teman-teman disabilitas karena tidak memiliki lift.

5footway Inn Boat Quay termasuk salah satu hostel murah di Singapore yang strategis dekat MRT. Bagi saya hostel ini salah satu pilihan bagi traveleryang berkantong pas-pas-an. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pengalaman menginap di 5footway Inn Boat Quay sangat mengesankan.

Lokasi 5footway Inn Boat Quay terletak antara Clarke Quay dan MRT Raffles Places, keduanya berjarak 5 menit berjalan kaki. Saya paling senang nongkrong di teras dengan pemandangan Marina Bay Sands, gedung parlemen lama, Asian Civilisation Museum, serta cakrawala Central Business District.

5footway inn boat quay
Menikmati sunrise indah di Singapura

Ada kabar baik untuk kalian semua yang punya rencana berlibur ke Singapura dan ingin mencoba bermalam di 5footway Inn Boat Quay. Dapatkan diskon 10% dengan cara langsung memesan kamar ke 5footway Inn lewat email ke : marketing@5footwayinn.com kemudian berikan kode promo “DH10”. Tenang, kode kupon ini bukanlah suatu afiliasi saya dengan pihak mereka. Jadi ini semacam free diskon bagi kalian. Ingat ya kode ini cuma bisa dipakai sampai September 2018.

Suatu hari nanti saya pasti akan kembali lagi ke Singapura dan mencoba kembali bermalam di project-project 5footway Inn di daerah lain seperti Chinatown 1, Chinatown 2, Ann Siang, dan Bugis.

Address :
5footway.inn Project Boat Quay | 76 Boat Quay | Singapore

Antara Solo dan Yogjakarta Kita Jatuh Cinta #JadiBisa

Keanggunan perempuan Jawa membatik memang tak diragukan. Alunan tangan nan gemulai saat melukis di atas kain yang mengagumkan. Melukis motif di atas kain dengan aliran malam keluar dari ujung carat yang terbuat dari tembaga. Lembut dan tenang. Setiap mengisi canting dia meniup ujung carat tuk mendinginkan suhunya agar malam mengalir dengan pas.

booking hotel online di traveloka
Pembatik wanita Jogja yang saya jumpai di Raminten
raminten jogja
Cairan malam

Saya duduk bersila menyaksikan dirinya memegang gagang canting. Ada rasa kagum yang terbersit. Mungkin dia mulai merasakan kehadiran saya tengah memperhatikannya dari balik kamera. Saya pun melemparkan senyum. “Ibu, saya minta izin memotret ibu sedang membatik ya?” Dia membalas lewat  anggukan kepala. Tanda tak harus terucap dengan kata dan kalimat.

Saat Jogja Memanggilku Kembali

Pesona Yogyakarta mampu memikat tiap orang tuk jatuh hati dalam sekejap. Membuat saya datang kedua kalinya dalam rentang sebulan.

Setiba di Bandara Adi Sucipto, saya bergegas menuju Hotel Paku Mas. Jaraknya selemparan batu dari bandara. Lokasinya strategis memudahkan kita ke mana pun di Jogja.

Halaman depan Hotel Paku Mas, Yogyakarta

Sebelum kedatangan ini saya sempat berucap ke Nana, “Aku ingin merasakan suasana yang Jawa banget.” Ada gairah ingin menikmati kehidupan warga lokal.

Semua persiapan sejak akomodasi dan tiket pesawat sudah diurus dengan Traveloka. Nyamannya memesan hotel lewat aplikasi burung langsing berwarna biru ini karena harga yang tertera adalah harga final yang pilihan pembayarannya mudah. Bagi saya yang bukan pengguna kartu kredit, jelas membantu rencana traveling saya.

Resepsionisnya ramah

Saat check in saya meminta pada resepsionis agar diberikan kamar yang nyaman. Keramahan pelayanan hotel Paku Mas memang bukan isapan jempol. Sesuai dengan pengalaman tamu lainnya saat memesan di Traveloka. Ini salah satu alasan saya memilih Paku Mas.

Jatuh cinta pada warna merah pohon akar seribu
Ruang kamar lega dan nyaman.
Kamar mandi telah dilengkapi shampoo dan bath soap

Nuansa hotel yang njawani tampak dari penampilan luar hingga isi kamar. Nuansa kamar bercat putih dengan perabotan kayu meninggalkan kesan homy sebagai penginapan terjangkau di tengah kota Jogja. Interior kamar layaknya kamar pribadi dengan teras lega berhias pemandangan pepohonan seperti rambutan, jambu, hingga belimbing. Suasana malam hari di hotel pun tenang.

Menyusuri Jalanan Jogja

Semakin diperhatikan foto perempuan pembatik di Raminten semakin saya kagum akan budaya jawa. Bagaimana budaya Jawa memprioritaskan keseimbangan, serta menjunjung tinggi kesopanan serta kesederhanaan. Tak ada yang dapat membohongi sebuah gambar saat sedang bercerita.

Walau hanya beberapa tempat yang didatangi, saya menikmati sudut jalanan Jogja seperti di jalan Prawirotaman dan Malioboro bersama Nana.

Ruas jalan Prawirotaman “modern”
Menemukan toko barang antik

Prawirotaman lebih diminati oleh turis luar. Menyusurinya serasa melewati perkampungan yang “terpaksa” menjadi modern. Di sini saya lebih banyak melihat turis bule dibandingkan turis lokal. Deretan kafe yang telah mengikuti menu barat, art gallery, agen perjalanan, serta penginapan mendominasi di kawasan ini. Sebagian bangunan masih memiliki struktur asli, namun ada juga yang dibuat agar tampak modern.

Sang surya mulai tenggelam. Tanpa terasa walking tour kami telah selesai menelusuri jalanan Prawirotaman yang pernah menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta II.

Warna-warni jalan Malioboro, Jogja

Berpindah dari suasana Prawirotaman, kami sampai pada keramaian khas Yogyakarta. Mana lagi kalau bukan jalan Malioboro. Ruas jalan ini hidup mereka yang datang ingin menikmati suasana Jogja pada malam hari. Nana mengajak saya masuk ke angkringan sebelum kami pulang. Cara sederhana memilih angkringan adalah dengan melihat mana angkringan yang ramai dipenuhi orang.

Angkringan, ciri khas kota Jogja pada malam hari
Lesehanan makan malam di angkringan

“Na, jadi kan besok kito ke Solo balek hari?” tanya saya sambil membuka bungkus nasi kedua.

“Payok! Mudah-mudahan biso dapet tiket kereta go show,” seru Nana.

Terlintas sekejap sebuah nama orang yang saya kenal. “Kita janjian samo Halim peh di Solo? Sekalian kopdar!” ujarku lagi. Peh semacam istilah bahasa Palembang yang berarti ajakan serius. Nana sumrigah tanda dia setuju.

Saya segera menghubungi Halim lewat Twitter. Dia termasuk salah satu traveller asal Solo yang mencintai budaya seperti kami berdua. Malam itu kami berpisah, saya kembali ke hotel.

Embun Pagi di Paku Mas

Selamat pagi, embun

Kicau burung bersahutan terdengar di antara perpohonan. Suaranya menembus hingga dalam kamar. Sejak subuh saya sudah bangun. Apa yang dirindukan dari Jogja telah terjawab. Pagi yang datang lebih awal kini menyapa dengan sinar kehangatan sang surya. Ah, saya jatuh cinta pada kota ini.

Saya bergegas menuju ruang makan yang bersebelahan dengan kolam renang. Melewati naungan pohon akar seribu menjuntai ke bawah bermandikan embun pagi. Hati mana yang tak girang melihat pilihan menu sarapan di Hotel Paku Mas yang serba lokal.

Ice lemon tea yang nikmat dan segar.
Ruang makan terbuka dengan pemandangan menyegarkan
Hotel Paku Mas membuat saya jadi bisa menikmati suasana jawani

“Selamat pagi, Mas! Gimana tidurnya nyenyak?” sapa suara seorang perempuan dari belakangku saat menyeruput lemon tea segar.

“Nyenyak sekali, Mbak. Saya cinta atmosfir Jawa di sini,” jawabku. Senyum hangat menghiasi obrolan singkat kami. Musik gamelan nan syahdu mengiringi kegiatan saya bersantap pagi. Berharap pagi berjalan pelan, namun saya sudah tak sabar bertemu dengan tetangga Jogja, Solo.

Yogyakarta, karena nuansa patriarki dari Keraton membuatnya terasa begitu maskulin. Sementara Solo, terkenal dengan ungkapan “Putri Solo” membuatnya terasa feminim.

Sepenggal Kisah di Solo

Stasiun Solo Balapan

Stasiun Lempuyangan menjadi titik pertemuan kami berangkat menuju Stasiun Solo Balapan. Setelah membeli dua tiket kereta Prameks seharga 8 ribu, kami menunggu di dalam peron hingga kereta datang. “Ini pengalaman pertama saya ke Solo, sepertinya akan jadi seru,” ujar saya kepada Nana.

“Na, gek kito janjian samo Halim di Pasar Gede,” lanjutku lagi. Halim pun sedang dalam perjalanan menanti kami. Saya termasuk gemar mengunjungi pasar tradisonal. Bagi saya, sebuah pasar tradisional tak hanya tempat interaksi sosial antara pembeli dan penjual. Namun juga bermakna sebagai jejak sejarah perkembangan suatu daerah atau kota di mana pasar tersebut berada. Bangunan pasar tradisional merupakan peninggalan masa lampau dengan arsitektur yang khas.

Nana dan Halim sedang berdiri di depan Pasar Gede, Solo

Ada yang datang untuk mencari kebahagiaannya. Ada yang datang melepas kepergian. Begitulah kesan pertama saat melihat stasiun Solo Balapan. Trenyuh oleh pemandangan seorang anak dan orang tuanya berpelukan. Mereka melepas sang anak masuk ke dalam gerbong. Pemandangan yang membuat saya tertinggal dari gerak langkah kaki Nana yang cepat. Kami keluar stasiun menunggu jemputan transportasi online.

“Hei, itu Halim berbaju merah sedang menunggu kita!” seru Nana dari dalam mobil menunjuk ke satu arah. Saya langsung mengenali sosok pria berpostur sedang, dengan tas tergantung di bahunya. Kami menghampiri dia setelah turun dari mobil menuju depan pintu masuk utama Pasar Gede.

“Halo!” sapaku sembari mengulurkan tangan. Ini kali pertama saya dan Halim bertemu muka. Kami mengobrol ringan di antara keramaian pasar sebelum dia mengajak berkeliling sekitar area Pasar Gede Solo. Cara dia bercerita tentang Solo mengungkap betapa dalam Halim mengenal kotanya sendiri. Solo itu menarik dan berkarakter seperti saudaranya, Jogja.

Rumah tua zaman kolonial

Berjalan kaki di bawah terik mentari tak membuat kami mengeluh dalam walking tour singkat ini. Dari satu kampung masuk ke kampung lainnya.  Menikmati kuliner Solo seperti Dawet Telasih dan Leker Gajahan. Dalam obrolan mengagumi sejarah kota Solo, Halim menangkap kode ajakan kami untuk blusukan ke kampung Laweyan. Akhirnya dikejar rasa penasaran, kami putuskan untuk mengunjungi Laweyan.

Lawang Laweyan Terbuka Menyambutku

Gerbang awal masuk ke Kampung Batik Laweyan, Solo

Nama Laweyan baru pertama kali saya dengar. Suatu keberuntungan bisa berjodoh ke salah satu kawasan kampung yang kaya budaya dan sejarah. Di tembok putih tergantung tulisan “Kampung Batik Laweyan” seakan mengucapkan selamat datang bagi kami.

Menapak masuk ke dalam, terasa kuat atmosfer suasana perkampungan batik tempo dulu yang tenang. Semakin masuk ke dalam, kampung ini tampak istimewa bukan semata karena usianya, tapi juga menyimpan sejumlah kisah. Dinding-dinding tinggi menjulang ke atas, membuat Kampung Laweyan seperti sebuah labirin yang misterius. Seolah kita tak tahu ada kejutan apa dibaliknya menanti tuk dijumpai. Beberapa pintu rumah warga sengaja dibuka lebar.

Pusat lorong Laweyan
Maaf, saya lupa mengkondisikan perut 😀
Tehel rumah zaman dulu masih ada di Laweyan

Kami bertiga menyaksikan aktivitas warga sedang membatik. Menatap satu sama lain, ada keinginan tertahan untuk masuk. Namun, seruan suara dari dalam rumah justru mengundang kami masuk dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan.

Keramahan dan kehangatan bisa saya rasakan sewaktu melihat sekeliling ruangan. Sejumlah rentangan kain batik berbagai motif dengan warna yang indah. Tiba-tiba si bapak menawarkan kami mencoba mewarnai batik. Tanpa pikir lagi, saya menyambut tawaran ini dan langsung mengambil posisi membatik.

Keceriaan anak kecil bermain sepeda
Ornamen pintu yang unik

“Coba kalian lihat pintu-pintu rumah di Laweyan ini! Apa yang berbeda?” seru Halim membuka obrolan.

Mata saya mulai mengamati sekeliling pintu. Ada pemandangan yang tampak berbeda untuk sebuah pintu. Dalam sebuah pintu besar terdapat pintu kecil dengan gagang pintu berada di bagian bawah.

“Itu bagaimana membuka pintu kalau gagang pintu di bawah?” tanyaku penasaran.

Itulah kekhasan dari Laweyan. Dulu, pintu kecil digunakan jika ada tamu maka mereka masuk lewat pintu kecil dengan cara menunduk. Pintu besar dibuka hanya untuk tuan rumah. Orang Laweyan dikenal santun maka saat tamu datang dengan cara menunduk itu semacam gestur “kulo nuwun”. Namun sekarang pintu-pintu kecil itu tak lagi digunakan jika ada tamu datang.

Sepanjang lorong-lorong kecil kami menjumpai kumpulan anak kecil sedang bermain atau duduk di depan rumah. Bermain sepeda sambil membonceng temannya. Pemandangan yang langka di kota besar.

Sepetang trip singkat di Solo bersama Halim dan Nana

Azhar telah berkumandang, Nana mengingatkan saya kalau kami harus segera kembali ke stasiun sebelum kehabisan tiket kereta. Berat hati saat harus meninggalkan Kampung Batik Laweyan. Halim menemani kami ke stasiun untuk kembali ke Jogja.

Dalam perjalanan pulang di kereta, saya lebih banyak berdiam. Mengingat kembali kesan mendalam petualangan singkat kami di Solo. Jogja dan Solo seperti sepasang pria dan wanita. Dua kota yang sekilas sama Jawani tapi punya kekhasan berbeda.

*Lawang: Pintu

The 101 Yogyakarta Tugu Hotel

Minggu kedua bulan Oktober ini saya mengunjungi Kota Yogyakarta, tepatnya saat perayaan HUT kota ke-261. Pengalaman pertama kali ke Jogja kemarin memang saya belum puas sebab belum banyak mengeksplore kota yang budaya Jawanya masih kental namun telah mengalami modernisasi. Sayang memang saat itu saya tidak mendapat izin extend beberapa hari.

Nasib baik mungkin sedang berpihak, saya mendapat kembali undangan ke Jakarta dan ternyata dari pihak panitia berbaik hati memberikan saya izin untuk extend kepulangan dari kota lain. Nama Jogja menjadi yang pertama terlintas dalam pikiran saya. Tepat di minggu keempat bulan Oktober, Jogja memanggilku datang kembali lagi untuk merasakan kearifan lokal yang saya dambakan.

Pemandangan Tugu Jogja dari The 101 Yogyakarta Tugu Hotel

Sebutan bagi kota ini sudah lumayan banyak mulai dari Batik, Gudeg, Bakpia, dan Pelajar memang memiliki magnet yang kuat untuk menarik saya yang dari Palembang agar segera kembali lagi ke Jogja.

Kenapa Jogja? Ada semacam rasa penasaran yang belum tertuntaskan saat pertama kali saya datang ke Jogja. Rasa penasaran yang hanya bisa diobati dengan cara datang kembali lagi. Dua kali saya kembali ke Jogja, dua kali pula saya bermalam di tempat yang nyaman yaitu The 101 Yogyakarta Tugu Hotel.

The 101 Yogyakarta Tugu Hotel

the 101 yogyakarta tugu hotel

Saya mulai menyiapkan hal-hal yang ingin saya lakukan selama di Jogja. Hal yang paling penting saat traveling adalah menyiapkan akomodasi penginapan di mana saya akan beristirahat dengan nyaman dan aman. Sedangkan kalau itenerary, saya tidak punya persiapan kali ini. Benar-benar go show.

Namun, kalau untuk akomodasi saya memang menyukai hotel ini sejak awal karena suasana dan pemandangan hotel yang menyejukan di pagi hari.

Lobby

Jatuh hati pada hotel bintang 4 di pusat kota Jogja, tepatnya jalan Mangkubumi 103 Yogyakarta. Interior lobby yang kuat ornamen batik di tiap sudut menambah nuansa kearifan lokal. Apabila kita menoleh ke arah sebelah kiri setelah pintu masuk, maka meja resepsionis sudah menanti kita untuk membantu proses check in.

the 101 yogyakarta tugu hotel

Proses check in kamar berlangsung lancar, kita baru dapat masuk kamar setelah pukul 2 siang. Sebab, kondisi kamar memang sedang dalam cleaning dan ada tamu yang belum check out. Jumlah kamar yang banyak tentunya membuat peningkatan tamu yang ingin bermalam saat sedang business trip atau traveling seperti saya.

Kamar Utama

the 101 yogyakarta tugu hotel

Saya mendapatkan kamar berjenis Deluxe Queen Bed dengan balkon menghadap ke kolam renang dan Tugu Jogja. Pemandangan pagi yang sempurna. Salah satu alasan saya ingin kembali ke Jogja adalah waktu pagi yang lebih cepat datang sehingga dari balkon saya bisa langsung melihat matahari terbit dan udara yang sejuk.

Menurut saya, ukuran kamar The 101 Yogyakarta Tugu sudah pas. Tidak bisa dikatakan sempit, juga tidak terlalu lebar. Ruangan kamar yang terlalu luas juga kurang nyaman kalau interiornya tidak memadai. Berbeda dengan interior kamar The 101 Yogyakarta Tugu lebih bernuansa remang namun pencahayaan terang ruangan bisa didapat dari arah balkon.

the 101 yogyakarta tugu hotel

the 101 yogyakarta tugu hotel

Tiap kamar juga sudah disediakan air minum, meja kerja, baju kimono, deposit box. Fasilitas standar yang biasa saya temukan apabila sedang staycation di hotel lain. Hanya saja tipe stylish hotel ini memiliki desain yang minimalis, seperti lemari baju didesain dengan mengunakan sekat di dekat ranjang. Serta ada buffet di samping yang bisa kita manfaatkan untuk meletakkan barang.

Di samping ranjang juga disediakan slipper untuk memudahkan kita apabila tidak ingin kaki terasa dingin saat menginjak lantai. Perlu diperhatikan, kalau slipper di kamar baiknya tidak digunakan keluar dari kamar misalnya turun ke tempat makan atau keluar hotel. Bagi beberapa hotel berbintang, akan sangat melarang tamunya menggunakan slipper pergi ke ruang makan dengan alasan higienis serta standar dari hotel tersebut.

Suhu udara dari air conditioner juga bisa kita atur sendiri untuk kenyamanan ruangan. Remote AC terletak di samping tembok kamar mandi.

Kamar Mandi

the 101 yogyakarta tugu hotel

Ruangan kamar mandi The 101 Yogyakarta Tugu Hotel tidak terlalu luas, sehingga ruang gerak kita juga sedikit terbatas. Desain interior memang dirancang khusus lebih luas untuk kamar dan balkon.

Pintu kamar mandi bisa dibuka dengan cara digeser ke samping. Kamar mandi bernuansa kaca transparan dan sedikit sekat berbatas tembok. Apabila sedang menginap berdua dengan teman, ada baiknya dia beraktifitas dulu di sekitar ranjang sebab kalau badannya tinggi siapa tahu bisa mengintip manja :mrgreen:

the 101 yogyakarta tugu hotel

Perlengkapan kamar mandi terbilang lengkap, sudah tersedia soap hand, body soap dan shampoo sehingga membantu traveler yang tidak membawa perlengkapan toiletries. Semprotan shower air memang tidak kuat sehingga kita tidak mendapat pengalaman seperti mendapat pijatan air ke pundak. Namun, cukup menguyur badan kita dengan pengaturan air panas dan dingin yang tepat.

Bagi teman-teman Muslim yang ingin sholat juga tidak repot saat wudhu, sebab di bawah pancuran shower sudah disediakan aliran air dengan posisi yang nyaman untuk berwudhu.

Menu Makanan (Kalasan Coffee Shop)

the 101 yogyakarta tugu hotel

Berbagai menu internasional dan masakan lokal disajikan saat sarapan. Ruangan makan ini diperluas ke sisi kolam renang sehingga kita dapat memilih menikmati sarapan dengan pemandangan lebih sejuk. Sajian sarapan pagi disajikan secara ala prasmanan.

Setiap pagi di samping ruang makan, selalu ada seorang bapak yang duduk sambil memainkan gamelan. Petikan gamelan dari tangan beliau memang mendukung suasana saat kita saat bersantap sarapan pagi.

the 101 yogyakarta tugu hotel

the 101 yogyakarta tugu hotel

the 101 yogyakarta tugu hotel

Menu makanan The 101 Yogyakarta Tugu Hotel lebih ke menu western-comfort food. Kita tetap dapat menjumpai menu nasi goreng, mie goreng serta daging. Selain itu juga ada juga menu seperti kentang panggang dan roti. Bagi kalian yang mendambakan menu lokal Jawa, ada satu stand khusus dekat kolam renang untuk menu makanan Jawa, tapi memang sudah mengalami modernisasi.

Untuk malam hari, kita juga bisa bersantai di lounge cafe yang berada di bagian luar hotel yaitu Pink Elephant.

Fasilitas

the 101 yogyakarta tugu hotel

Kolam renang dengan air yang jernih termasuk salah satu fasilitas yang bisa dicoba bagi tiap pengunjung. Di area kolam renang juga tersedia untuk kamar bilas dan toilet. Termasuk bagi kalian yang sulit lepas dari barbel untuk gym menyatu di area ini. Saya memang tidak sempat untuk berenang, sebab selesai sarapan pagi saya sudah keluar untuk berpetualang. Kolam renang di hotel ini juga terbuka untuk umum.

the 101 yogyakarta tugu hotel

Tak ada salahnya juga sarapan pagi di pinggir kolam sambil menikmati udara yang sejuk.

Promo

the 101 yogyakarta tugu hotel

Rate kamar per malam di The 101 Yogyakarta Tugu Hotel berkisar mulai Rp 600 ribu (disesuaikan dengan tingkat keramaian pengunjung). Namun, bagi kalian yang ingin mendapatkan harga promo bisa memesan lewat website. Kenapa? ada dua penawaran promo yaitu Mini 3 dan Mini 5.

Promo Mini 3 ini cocok bagi kalian yang sedang memiliki perjalanan singkat. Diskon yang bisa didapat minimal 20% dengan catatan merencanakan memesan kurang dari 30 hari dari kedatangan untuk 3 malam menginap. Sedangkan untuk promo Mini 5, tidak hanya murah, tetapi juga fleksibel waktu pesannya. Kita harus memesan kamar selama 5 hari dan mendapatkan diskon 20%.

Kesimpulan

Saya berjalan kaki sepanjang menuju selatan Tugu, tepatnya ke arah Malioboro. Sepanjang perjalanan saya menikmati keramaian warga lokal bercampur wisatawan. Namun, sekilas saya membandingkan beberapa hotel di sekitar Malioboro dari bentuk bangunan dan fasilitas menurut saya, The 101 Yogyakarta Tugu bisa jadi pilihan bagi kalian yang sedang mencari hotel bintang 4 di pusat kota Jogja.

Kelebihan seperti fasilitas kolam renang menjadi daya tarik menarik. Apalagi kalau kita mendapat kamar yang menghadap ke utara gunung serta Tugu Jogja sudah pasti pemandangan saat pagi hari akan menjadi favorit.

the 101 yogyakarta tugu hotel

Menikmati Malioboro dari tempat ini juga tidak rumit, cukup berjalan kaki saja. Kalau kalian ingin lebih merasakan kearifan lokal, maka bisa menyewa becak atau kereta kuda untuk diajak berkeliling. Sekarang sudah ada transportasi online yang sangat membantu bagi pejalan, sehingga tidak perlu bingung akses transportasi.

Selamat menikmati staycation kalian di The 101 Yogyakarta Tugu Hotel ya!

The 101 Yogyakarta Tugu Hotel
Alamat : Jl. Margo Utomo No.103, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233
Telepon : (0274) 2920101

Check-In Time: 2:00 PM
Check-Out Time: 12:00 PM