info wisata ambon

Solo Traveling Modal 150 Ribu Bisa Puas Keliling Kota Ambon

Setiap perjalanan pasti menemukan jalannya sendiri, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya datang. Dua minggu setelah balik dari Kerala, India, ternyata semesta membukakan jalan saya ke Maluku Tengah, tepatnya Banda Neira. Saya pikir sekalian berada di Maluku, kenapa tidak menambah hari keliling Ambon untuk solo traveling? Naluri untuk solo traveling kembali melatih kemampuan diri beradaptasi dengan lingkungan.

Nama Ambon masih terdengar asing bagi saya, apa yang menarik dari ibu kota provinsi Maluku tersebut?

Read More »

Iklan
wisata aceh

Mengejar Mimpi Jelajahi Tanah Rencong

Malam natal saat itu saya tidur lebih awal, selesai pelayanan dan mengikuti misa di gereja saya langsung pulang ke rumah. Natal identik dengan suka cita dan damai, saya ingin besok bangun paling pagi menikmati kicauan burung dari depan jendela kamar. Topi santa sudah saya letakkan di samping tempat tidur. Ya, saya berharap Tuan Santa hadir malam itu untuk memberikan saya kado natal.

Janji menikmati udara pagi dari balik jendela kamar sudah ditepati. Kicauan burung telah menanti dari atas kabel listrik. Seperti biasa rutinitas pagi sebelum beberapa hari lagi semester kedua sekolah akan dimulai lagi. Untunglah masa ujian sekolah saat itu sudah selesai, saya bisa menikmati liburan semester panjang. Saya meraih remote televisi dan membuka siaran berita.

“Gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh. Sebelumnya telah terjadi gempa hebat di dasar laut dekat Pulau Simeuleu.” Telinga saya menangkap pesan suara yang tak biasa di televisi. Saya membesarkan volume kembali melanjutkan tayangan berita yang dikabarkan hampir di seluruh stasiun televisi.

“Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai menimbulkan getaran kuat,” seru pembawa berita. Semua stasiun televisi menyiarkan tayangan berita yang sama. Aceh sedang menangis. Bukan, ini bukan Aceh tapi Ibu sedang berduka!

Tiket, Jembatan Mimpi Bertemu Ibu

Indonesia tak sebesar peta di buku pelajaran sekolah. Indonesia bukan hanya ruang kamar hangat di rumah kita. Masih banyak ruang kamar yang ada di nusantara ini milik Ibu. Kalian tinggal memilih dari 34 ruang kamar yang tersebar di Indonesia untuk didatangi dan diresapi.

13 tahun lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Belum mengenal kata “tsunami”. Namun setelah Aceh dicatat sejarah pernah mengalami bencana alam parah maka dari situ saya mengenal kata “tsunami”. Ini sebuah peristiwa dengan dimensi tanpa surat pemberitahuan, bahkan kalau dilihat dari jumlah korban dan aspek geologisnya rasanya tidak masuk diakal.

Lantas, bagaimana tidak saya punya mimpi untuk mengunjungi Aceh? Menggantungkan mimpi yang telah lama saya idamkan untuk menjelajahi nusantara di ujung utara pulau Sumatera. Entah bagaimana caranya mimpi tersebut didengar oleh suara-suara orang yang ingin membawaku bisa melihat Aceh. Ini yang saya namakan semesta mendukung.

Skyscanner

Tidak mudah menjangkau Aceh dari Palembang, sebab biaya tiket pesawat cukup tinggi. Beruntung saya memanfaatkan Skyscanner untuk mewujudkan mimpi 13 tahun yang lalu. Skyscanner merupakan platform pencarian tiket pesawat murah di internet lewat website maupun apps smartphone. Kita tinggal mencari tiket pesawat untuk tanggal dan kisaran harga tertentu, Skyscanner akan mencarikan tiket tersebut untuk kita. Tidak hanya tiket pesawat saja bisa kita cari, melainkan kita juga dapat menemukan penawaran hotel sekaligus rental mobil yang akan memudahkan kita saat jalan-jalan.

Hanya saja Skyscanner bukan seperti Online Travel Agent (OTA) yang mana kita dapat memesan langsung ke penyedia jasa. Sementara Skyscanner menjadi search engine agar saat kita mencari tiket pesawat yang akan dihubungkan ke berbagai maskapai dan OTA yang menjadi partner. Hasil akhirnya, lewat Skyscanner kita mendapatkan hasil pencarian lebih baik dan dapat membandingkan mana yang terbaik dengan harga termurah dari berbagai sumber.

skyscanner

Salah satunya dengan cara memanfaatkan fitur price alert yang menjadi salah satu andalan saya untuk mendapatkan tiket murah ke Aceh. Tiap ada perubahan harga, Skyscanner akan mengirimkan notifikasi harga tiket berdasarkan destinasi dan tanggal yang saya inginkan. Nyaman dan praktis bukan?

Terbang Nyaman Menuju Aceh

tempat wisata di sabang
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Saya baru saja tiba di Terminal 3 Soekarno Hatta dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Suasana bandara Jakarta ini tak pernah sepi oleh para traveler. Atap langit bernuansa modern kontemporer, terminal bandara adalah penghubung mimpi orang untuk menjelajahi nusantara. Masih harus menunggu beberapa jam lagi sebelum pesawat terbang ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Saya tidak berangkat sendirian, ada Rifky yang menemani saya untuk perjalanan kali ini. Kami baru kenal dan sama-sama punya keinginan menjelajahi Aceh.

Terdengar suara panggilan masuk untuk penumpang ke dalam pesawat. Saya segera menunjukkan tiket pesawat Garuda Indonesia ke petugas dan bergegas menuju kursi pesawat di dekat jendela. Dari balik jendela, saya dapat melihat pergerakan awan. Pemandangan yang hanya bisa saya nikmati saat sedang terbang dengan pesawat. Langit waktu siang ataupun malam tetaplah sama. Selalu mengagumkan sejauh mata memandang.

visit aceh
Akhirnya menginjak kaki di Bumi Aceh

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda baru saja diguyur hujan, sambil menunggu bagasi saya mengamati sekeliling bandara ini. Sebagai provinsi paling barat di Indonesia, karakter orang Aceh memang rupawan bak campuran India dan Arab. Bagi saya yang tidak memiliki bulu mata panjang, tentu cemburu melihat mereka yang memiliki bulu mata panjang dan lentik. Indonesia memang luar biasa, bukan saja kaya akan budaya dan tradisi namun juga kaya akan orang lokal nan ramah.

Lezatnya Mie Aceh

Bagai rindu sudah tak terbendung, begitu pun ada seteguk asa cinta penantian saya untuk berkeliling kota Banda Aceh walau hanya beberapa jam saja sebelum kami bergerak ke Sabang. Kami tiba di kota Banda Aceh sudah sore, rasanya kurang ajar kalau tidak mencari warung mie Aceh untuk disinggahi. Memang tidak sulit menemukan mie dengan bumbu rempah khas Tanah Rencong ini.

Kota Banda Aceh telah menarik perhatian saya sejak pertama kalinya. Tanpa meninggalkan syariat agama, kota ini tetap junjung keramahan warga lokal. Lebih dari satu jam, saya dan Rifky menunggu di warung mie Aceh. Kedatangan kami tepat waktu saat adzan berkumandang. Ruas jalanan sepi tidak terlihat aktivitas warga, termasuk orang-orang yang bekerja di warung makan.

kuliner mie aceh
Mie Aceh Kuah
kuliner mie aceh
Mie Aceh Rebus

Rifky telah kembali duduk setelah melakukan sholat, kami pun melanjutkan kembali cerita mengenai apa yang dirasakan tentang Aceh. Dua porsi mie Aceh sudah tersaji di meja untuk segera disantap. Kepulan uap dan aroma wangi masuk dalam hidung saya. Olahan bumbu mie Aceh ini banyak menggunakan bahan rempah, selanjutnya mie ditumis seperti biasa. Satu suapan mendarat di dalam mulut saya, begitu suapan pertama sampai di lidah ada rasa gurih dan nikmat yang memang tak diragukan enaknya.

Sambil menikmati sepiring mie Aceh untuk makan malam kami, saya berkata kepada Rifky kalau besok pagi kami bisa mengunjungi Masjid Baiturahman dan Museum Tsunami Aceh. Dua tempat ini menjadi saksi bisu sejarah tsunami Aceh.

Saksi Bisu Sejarah Aceh, Masjid Raya Baiturrahman

Tiba-tiba saja tayangan berita tahun 2004 silam muncul, saya ikut membayangkan bagaimana paniknya warga Aceh berlarian menyelamatkan diri dari gulungan gelombang air. Mereka melarikan diri ke tempat yang tinggi untuk selamat bersama keluarganya. Bagaimana isak tangis mereka saat harus merelakan berpisah dengan anggota keluarga yang ikut terbawa arus air.

Jujur saya merinding saat harus mengingat kembali, saya putuskan berdiri diam memandang bangunan megah bercat putih lengkap dengan kubah hitam di jantung kota Banda Aceh. Tak dapat saya sembunyikan rasa haru saat kaki saya berhasil menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Rumah ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan segudang cerita. Di sisi utara dan selatan, terdapat payung besar bergaya Masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Halaman yang luas dengan kolam pancuran air serta lantai beralaskan marmer yang terawat. Sungguh tak ada kalimat lain yang dapat saya ungkapkan selain menikmati keberadaan saya pagi hari itu.

Kala tsunami menerjang seluruh bangunan Aceh, hanya bangunan Masjid Baiturrahman tidak mengalami kerusakan. Berita mengabarkan kalau sebagian warga selamat memilih berdiam diri di dalam masjid sekaligus menjadi tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

masjid baiturrahman aceh
Interior dalam Masjid Baiturrahman Aceh
masjid baiturrahman aceh
Seorang petugas sedang membersihkan tiang penyangga.

Saya menginjakkan kaki masuk ke dalam masjid, terpesona terhadap tiap detil arsitekturnya. Suasana dalam masjid sedang ramai sebab di waktu bersama sedang dilakukan akad nikah bagi warga setempat. Di bawah kubah masjid nan megah, saya ikut menyaksikan proses ijab kabul berjalan syahdu. Sang calon istri tampak sulit membendung air mata kemudian menyekatnya menggunakan tangan. Di sisi lain, seorang bapak tua dengan telaten duduk di samping tiang penyangga membersihkan sisi tembaga pada tiang agar berkilau kembali.

Menikmati keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman dapat dilakukan oleh siapa saja yang sedang berkunjung ke kota Banda Aceh. Masjid Baiturrahman bisa dibilang saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Dalam hati berkata, siapa yang berani menghancurkan rumah Allah? Tempat umat-Nya berlindung.

Merinding Berada di Museum Tsunami Aceh

museum tsunami aceh
Museum Tsunami Aceh

Matahari makin terik, saya mengajak Rifky untuk bergerak ke arah Museum Tsunami Aceh, melengkapi jelajah nusantara kami. Duka Ibu juga menjadi duka dunia, bagaimana Ibu kuat melihat ratusan orang terluka hingga lebih dari ribuan orang dinyatakan hilang tanpa jejak. Banyak negara-negara lain bersimpati dan memberikan bantuan untuk Aceh.

Jarak museum tidaklah jauh dari masjid raya, sekitar 500 meter kami berjalan kaki dari belakang masjid ke arah selatan. Museum Tsunami Aceh dibangun untuk mengenang kembali peristiwa yang pernah melanda bumi Aceh.

Museum Tsunami Aceh
Bangkai helikopter di depan pintu masuk Museum Tsunami Aceh
museum tsunami aceh
“Nisan” berisi foto-foto peristiwa tsunami kala itu.

Selesai membayar tiket masuk museum, dekat pelataran masuk sudah terpajang kerangka helikopter hancur, salah satu benda tersisa dari arus tsunami. Saya menjadi penasaran untuk masuk ke dalam museum. Menurut informasi, museum tsunami menyimpan semua foto dan video dokumentasi bencana tsunami. Bangunan museum terdiri dari empat lantai. Di lantai dasar, berfungsi untuk ruang terbuka dan digunakan untuk ruang publik.

Kami masuk ke sebuah lorong nuasa remang tanpa cahaya dengan suhu udara yang cukup dingin. Kiri dan kanan lorong dikelilingi oleh air mengalir ibarat gemuruh tsunami. Didukung dengan suara azan yang sekejap saya seperti ikut larut dalam suasana. Ini baru ruang pertama yang saya lewati yaitu ruang renungan.

Keluar dari ujung lorong air, kita akan melihat ruangan sangat luas berdinding cermin. Di tengahnya penuh dengan “nisan” yang menayangkan foto-foto peristiwa yang saya yakin akan membuat siapa saja melihat akan sulit melupakan trauma pada masa itu. Tidak hanya korban manusia, tapi rumah, gedung, masjid bahkan jalanan kota pun rusak dan hancur. Emosi saya mulai timbul melihat tiap gambar yang ada di gundukan “nisan” tersebut.

Ada sebuah ruangan agak gelap berbentuk silinder memanjang ke atas seperti sumur. Sepintas tidak ada apa-apa dalam ruangan gelap ini, namun cobalah memandang sekeliling dinding ruangan terdapat tulisan nama-nama korban tsunami. Di atap ruangan, terdapat kaligrafi arab berlambang “Allah” dengan sinar remang-remang. Benar saja ruangan ini menjadi klimaks bagi saya. Dalam keadaan kita berada di titik paling bawah rasa takut dan sedih, tidak ada lagi yang akan kita ingat namanya selain Dia. Saya hanya dapat melepaskan doa semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan ikhlas.

Tanpa diketahui orang lain, saya menyekat air mata yang turun tanpa saya hendakin. Kami berjalan keluar mengikuti arah cahaya. Di sana saya melihat banyak bendera negara total berjumlah 52 dari berbagai negara yang memiliki peran pernah memberikan bantuan untuk Aceh. Perasaan saya sudah bisa dikontrol, tidak seperti saat berada di ruang renungan dan sumur doa.

museum tsunami aceh
Para pengunjung sedang menyimak infografis mengenai tsunami
museum tsunami aceh
Sisa barang penemuan setelah tsunami Aceh.
museum tsunami aceh
Luas wilayah Aceh yang habis disapu tsunami tahun 2004 lalu.
museum tsunami aceh
Ruang audio untuk menonton film dokumenter tentang tsunami.

Museum Tsunami Aceh meletakkan barang-barang sisa tsunami pada lantai dua. Semua barang ditemukan dalam kondisi yang tidak utuh dan rusak, sebagian masih ada sisa lumpur seperti al-quran, sandal bahkan motor. Kondisi barang-barang ini seperti mengajak kita untuk berimajinasi liar. Bahwa harta yang selama ini kita kumpul dan jaga saat tergulung musibah tak lagi ada harganya.

Pada lantai yang sama terdapat ruang audio. Kami menyempatkan untuk melihat pemutaran film dokumenter tsunami bersama pengunjung lain. Lolongan teriak minta tolong, isak tangis anak kecil, raut wajah cemas, dan beragam ekspresi dapat kita lihat selama durasi 15 menit. Tak selamanya yang kita lihat adalah duka, ada hikmah dan hal indah yang ada pada tayangan singkat tersebut. Ketika seluruh umat dunia ikut tergerak dan bertindak membantu Aceh. Saat itu pula saya ingat bahwa sejatinya manusia ialah makhluk sosial, naluri untuk menolong timbul dengan sendirinya.

Antara Kopi Sanger, Hujan dan Mimpi

Sesak di dada saya mulai mereda. Mungkin benar, tangisan bisa membuat kita lebih lega. Saya tak mampu membayangkan bagaimana saat itu Ibu menangis melihat rumahnya bersih hanya sekali sapuan gelombang air. Perjalanan saya ke Aceh memberikan pengalaman yang mengejutkan dalam menjelajahi nusantara.

“Ibu, aku senang akhirnya bisa mengunjungimu di Aceh. 13 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk engkau lupakan. Tapi aku yakin sekarang Ibu sudah bisa tersenyum melihat Aceh sudah lebih baik,” batinku berkata.

Teringat obrolan saya dengan Bang Yudi, sahabat blogger saya dari Aceh. Kami janji berjumpa di kedai kopi yang tak jauh dari Tugu Simpang Lima sehabis menikmati mie Aceh. Bagi warga setempat, kedai kopi adalah tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam dengan secangkir kopi Sanger.

blogger aceh
Jumpa dengan Bang Yudi asal Aceh, orang yang selalu ingin naik pesawat Garuda. Moga mimpimu terwujud, Bang!

Ini kali pertama saya mencicipi kopi khas yang memiliki filosofi menarik bagi orang Aceh. Obrolan kami mengalir begitu saja, Bang Yudi bertanya pada saya tentang kesan saya terhadap Aceh.

“Bang, saya kira Aceh itu kota yang menyeramkan untuk dikunjungi. Ternyata pemikiran saya salah,” seru saya sambil menyeruput kopi.

Dia tertawa lepas, “Dari mana pula koh bisa simpulkan seperti itu?”

Sepanjang perjalanan melihat kota Banda Aceh, kota ini nyaman dengan warga lokal yang ramah. Walau kita berada di kota yang memegang kuat syariat Islam, tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita memegang prinsip di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 memang peristiwa yang memilukan. Berapa ribu orang kehilangan keluarga, termasuk kisah Bang Yudi.

kopi sanger
Kopi Sanger khas Aceh

“Koh, siapa bilang saya tidak sedih? Keluarga saya ada juga termasuk korban tsunami. Waktu itu saya juga ikut mencari keberadaan mereka. Masih mau bilang tsunami Aceh karena dosa orang Aceh?” satirnya sambil menarik nafas sejenak.

“Kami baru kenal istilah kata tsunami setelah peristiwa itu. Dan oleh karena tsunami justru orang-orang Aceh jadi lebih kompak. Ada hikmah bukan?” lanjutnya kembali. Saya menikmati obrolan singkat malam itu. Rintik hujan tak kunjung reda, entah mengapa kopi Sanger yang saya minum terasa pekat menempel di bibir.

“Lalu, next ada rencana trip mau ke mana bang?” tanya saya.

“Saya ke mana saja mau lah koh! Asal pakai Garuda!” serunya. Saya mendelik dan tertawa spontan. “Lho benar, koh! Dari dulu salah satu cita-cita yang belum tercapai itu bisa naik pesawat Garuda, lalu pamer tiket pesawat Garuda Indonesia. Tahu sendiri kan harga tiket pesawat dari Aceh harganya selangit,” lanjutnya kembali.

Kami tertawa dan saya yakin dia bakal lebih kesal kalau saya bilang sesuatu padanya. “Makanya Bang Yudi, pakai Skyscanner! Aku ke Aceh ini naik Garuda juga lho!” Tawa kami renyah menyisakan gelang kopi kosong. Menertawakan mimpi-mimpi kami agar dapat terwujud. Perjalanan kali ini menjamahku pada nusantara tercinta, bertemu dengan orang-orang dan peristiwa besar.

DISCLAIMER : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Menduniakan Al Quran Raksasa Palembang

Terkadang ada sebuah perjalanan yang tak selalu mulus dan lurus. Perjalanan yang mungkin akan membuat kita bosan sendiri dengan lamanya waktu untuk sampai ke tujuan. Kadang pula jalan itu berbelok dan menikung. Medan jalan yang harus berbagi ruas bersama pengendara lainnya. Lalu saat dilewati bisa jadi jalan itu berbatu, berlobang dan tak semulus pasir. Namun kita selalu bisa melewatinya, bukan?

Perjalanan yang saya tempuh melewati jalanan yang tak mulus dengan pemandangan rumah-rumah panggung khas rumah daerah di pinggiran Sumsel. Pada waktu tertentu air dari Sungai Musi akan pasang hingga semata kaki di atas rawa. Lokasi yang ingin saya tuju masih jauh ke dalam Gandus, sebuah kecamatan di Kota Palembang.

Kawasan ini bukan saja dikenal sebagai kawasan jalur karet karena memang terdapat pabrik karet. Tapi bagi warga setempat menjadi akses utama menuju kota Palembang. Selain itu kawasan ini pun sering dikunjungi bagi para penikmat sejarah dan wisata religi saat sedang singgah ke Kota Palembang. Jaraknya sekitar dua kilo dari Jembatan Musi II, kita masih harus masuk ke dalam destinasi wisata religi Bayt Al Quran Al Akbar.

Sejenak saya tertegun melihat pondasi bangunan tinggi beratap seng dari arah jauh. Mobil kami parkir di lapangan Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, masih satu wilayah dengan bayt al quran yang akan saya datangi. Inikah bayt al quran raksasa yang tersembunyi itu?

Takjub Melihat Museum Al Quran Raksasa

Loket tiket masuk wisata religi al quran Al Akbar, Gandus, Palembang

Sungai Musi yang membelah daerah Ulu dan Ilir menjadi sungai terpanjang yang ada di Sumatera. Tetapi, masih belum banyak yang tahu kalau di sepanjang alirannya tersimpan suatu mahakarya membuat decak kagum semua orang yang singgah. Bukan hanya saya tapi juga terutama umat muslim.

Kita akan mendengar alunan nasyid saat akan masuk ke dalam rumah. Bangunan rumahnya sama seperti rumah tinggal pada umumnya. Musik nasyid memang menenangkan sekaligus meneduhkan hati saat kita berada di Bayt Al Quran Al Akbar. Halaman samping rumah dijadikan oleh pemiliknya sebagai Museum Al Quran raksasa yang berlokasi di Jalan M. Amin Fauzi, Gandus.

Pelataran halaman belakang rumah

“Yakin nih saya boleh masuk ke dalam?” tanya saya diawal sama salah satu teman muslim. Mereka mengangguk kepala.

Setelah melepas alas kaki di rak khusus, kita bisa segera masuk ke dalam. Dari arah luar, terdapat sebuah al quran ukuran raksasa menjulang tinggi di sebuah bangunan bertingkat lima. Saya mengamati sekeliling bangunan ke atas. Banyak informasi yang bisa kita tangkap dan baca langsung sebab terpampang di sekitar dinding.

Subhanallah…

Allahu akbar! Indah sekali.

Sekilas saya mendengar sayup orang di sebelah saya berdecak kagum tatkala melihat kepingan kayu-kayu terukir dengan warna emas. Terdapat pula aksen ukir ornamen khas Palembang. Ini kali pertama saya melihat langsung isi pembagian al quran dalam bentuk raksasa. Saya kagum!

Berawal Dari Sebuah Mimpi

Megahnya al quran raksasa ukir terbesar di dunia

Dilihat dari depan, Al quran ini terdiri dari beberapa sisi yang saling menutupi. Namun, masing-masing kepingan kayu dapat dibolak-balik. Saya mendapat pengertian tentang juz saat berjalan mendekati Bayt Al Quran Al Akbar. Juz merupakan sebuah cara pembagian al quran di mana keseluruhan al quran dipecah atas 30 juz. Tujuan pembagian ini agar memudahkan umat muslim yang ingin menyelesaikan pembacaan al quran atau mengaji dalam 30 hari.

Kita seperti sedang berkelana di sebuah labirin Al Quran raksasa. Penerangan seadanya di antara lorong-lorong, kiri kanan lorong seperti dinding kayu berisi ayat suci. Saya meletakkan tangan di salah satu kepingan kayu. Ukiran dan pahatan huruf arab yang detil. Jari telunjuk saya terus meraba tiap ukiran sampai bertemu dengan seorang bapak yang menyapa saya saat tengah terbuai kagum. Dia mengajak saya ikut bergabung bersama pengunjung lain duduk lesehan di antara lorong.

Mendengarkan pak Syarkoni bercerita

Saya akhirnya berkenalan dengan Bapak Syarkoni, salah satu pemandu di Bayt Al Quran Al Akbar. Beliau berbaik hati bercerita sekilas mengenai al quran raksasa di Gandus. Ide pembuatan al quran Al Akbar digagas oleh putra daerah Sumatera Selatan yaitu H. Syofwatillah Mohzaib yang dalam mimpinya mendapat perintah untuk membuat kaligrafi Al Quran yang bisa dinikmati umat manusia.

Mimpinya itu perlahan diceritakan dan diwujudkan. Kepingan-kepingan al quran yang terdapat di bayt ini memiliki tinggi 177cm lebar 144cm serta ketebalan kayu 2,5cm. Terbuat dalam bentuk kayu agar lebih tahan lama dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Satu kepingan kayu memiliki berat sekitar 50kg.

Ukiran kayu terbuat dari kayu tembesu yang dibuat di lorong Budiman Tangga Buntung Palembang. Proses pembuatan terbilang cukup lama, butuh 7 tahun mulai dari tahun 2002-2009 dengan menghabiskan biaya keseluruhan sekitar Rp. 1.2M. Dana besar tersebut di dapat para “hamba Allah” yang ingin ikut membantu mewujudkan realisasi Al Quran raksasa ini.

Dalam proses pengerjaannya dikerjakan para tenaga ahli mulai dari tukang ukir hingga pemasangan. Dengan kemeja batik lengan panjang dan mengenakan kopiah, Bapak Syarkoni juga bercerita bahwa proses dimulai dari penulisan, penjiplakan hingga penyiapan papan. Ayat-ayat suci ditulis dikertas karton, lalu disalin ke kertas minyak.

Penyiapan papan pengukiran dan pemberian warna serta motif bingkai ornamen al quran Al Akbar sendiri dari gambar bungai teratai dan daun pakis. Kemudian, untuk warnanya sendiri menggunakan warna cat kuning, emas serta merah maron. Perpaduan corak tiga warna ini melambangkan 3 bangsa yaitu Nusantara, Tiongkok dan Arab.

Sudut Lain Al Quran Al Akbar

Obrolan kami harus usai bersama Bapak Syarkoni sebelum dia mengajak pengunjung lain untuk Al Fatihah bersama. Bangunan al quran raksasa ini terdiri dari dua sisi. Sisi utama yang terdiri dari lima tingkat. Namun pengunjung hanya diperbolehkan naik di lantai dasar, mungkin alasan keselamatan. Sedangkan sisi lainnya berada berseberangan yang digunakan sebagai musholah sementara.

Dua anak remaja membenarkan posisi kerudung

Salah satu pengunjung baru terlihat sedang meminjam kerudung yang ada di dekat pintu masuk. Meski niatnya mengunjungi destinasi wisata, namun berkunjung ke tempat religi ada baiknya pengunjung juga menghormati dengan berpakaian sopan pantas.

Sambil menunggu salah satu teman menyelesaikan Ashar, saya mengambil sepatu dan menunggu mereka di luar. Terekam gambar salah satu petugas yang lebih muda dengan ramah menyapa tiap pengunjung yang akan masuk.

30 juz al quran terpampang nyata

“Sudah kak masuk dalem?” sapanya dalam logat Palembang.

“Barusan keluar, ini lagi nunggu teman masih sholat di pucuk,” jawab saya. “Ramai ya tiap kunjungan?” sambung saya kemudian mengajaknya mengobrol.

Kami berjabat tangan erat saling berkenalan. Pemuda itu bernama Idris, dia salah satu pengurus wisata religi al quran raksasa. Lewat tutur Idris saya menemukan cerita sudut lain Al Quran Al Akbar yang sangat menarik.

Tingkat kunjungan yang ramai setiap hari

Fakta tentang Al quran Al Akbar telah diakui oleh dunia sebagai Al quran ukiran kayu satu-satunya terbesar di dunia. Selain itu juga tercatat di Rekor Dunia Muri Indonesia. Wisata religi ini diresmikan oleh mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 30 Januari 2012 yang dihadiri oleh 51 negara-negara Islam sedunia dalam konferensi parlemen Islam untuk meresmikan penggunaan al quran sebagai al quran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu trembesi (kayu ulin).

Menurut Idris, dalam satu hari tempat wisata religi ini bisa dikunjungi sekitar 800 hingga 900 orang setiap hari. Tidak hanya hari libur, namun hampir tiap hari Museum Al-Quran besar ini ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Untuk dapat menikmati kekhusyukan wisata religi, pengunjung hanya dikenakan tarif tiket masuk Rp 5000 tiap orang.

Besar Namun Tak Begitu Diperhatikan

Keberadaan Al Quran raksasa ini cepat terdengar di kalangan masyarakat baik dalam dan luar kota provinsi Sumsel dan Indonesia. Bahkan sampai dunia internasional juga mengakui kemegahan dan ketakjuban karya seni Islam dengan ukiran khas Palembang dan memiliki ukuran terbesar yang pernah ada ini.

Saya bertanya pada Idris mengenai lokasi wisata religi yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Akses transportasi umum yang terbatas menjadi salah satu kendala bagi tempat wisata religi ini. Bagi pengunjung yang memiliki kendaraan pribadi tentunya dapat langsung menuju ke arah Gandus. Sementara bagi yang ingin menggunakan transportasi online akan mengalami sedikit kesulitan pada saat pulang.

Seni ukir kaligrafi al quran
Pengunjung senang berfoto di balik kepingan kayu

Salah satu hal yang membuat Bapak Syofwatillah, pemilik rumah sekaligus tempat wisata religi Al Quran raksasa masih mempertahankan dikarenakan dia mendambakan Al quran Al Akbar menjadi daya tarik wisata religi favorit untuk masyarakat Palembang, walau jarak jauh namun orang akan tetap datang. Apalagi pendanaan tempat wisata ini tidak melibatkan dana pemerintah dalam artian tak didukung baik oleh APBN maupun APBD, sehingga menjadi milik umat sepenuhnya.

Adanya destinasi baru ini secara tidak langsung membantu perekonomian warga lokal setempat. Seperti Idris dan bapak Syarkoni yang termasuk warga di sekitar lingkungan al quran untuk membantu mengurus. Saya pun melihat, warga-warga setempat berjualan mulai dari cinderamata hingga makanan tak jauh dari kawasan wisata religi.

Makna Sebuah Perjalanan Religi

Menelusuri jejak agama memang menjadi aktivitas yang menarik, selain paradigma wisata itu haruslah “alam” kini berubah menjadi “ketenangan jiwa dan spiritual”. Apalagi kalau tempat tersebut menjadi sarana bagi kita kontemplasi nan menyejukan hati. Saya percaya ditiap daerah pasti memiliki tempat yang indah sebagai objek wisata religi, begitu juga dengan Palembang.

Selfie bersama Yuk Annie dan Yayan

Entah sudah berapa kali saya mengajak teman-teman saya dari luar kota Palembang berkunjung ke tempat Wisata Religi Al Quran Al Akbar. Ada rasa bangga dapat menemani mereka melihat potensi wisata yang besar. Bukan tanpa alasan, objek wisata religi ini disebut al quran wisata religi muslim. Indonesia pasti bangga dengan keberadaan al quran ukir terbesar di dunia ini.

Benar katanya kalau jalan hidup tak selalu mulus. Datang ke tempat wisata religi al quran Al Akbar, khazanah saya tentang Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika nyata di tempat ini. Tidak ada larangan bagi pengunjung yang bukan muslim untuk melihat mahakarya indah dan mendunia ini. Semua orang dapat berkunjung untuk membuktikan sendiri karya seni kaligrafi yang indah tersebut. Berada di tempat ini membuat saya tampak seperti manusia kecil jikalau dibandingkan megahnya al quran Al Akbar.

Saya yakin ditiap pahatan tangan pembuat ada niat yang tulus sepenuh hati agar ukiran ayat-ayat suci ini dapat segera diperlihatkan ke seluruh penjuru dunia. Berkunjung ke al quran raksasa ini bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata warga lokal. Bisa melihat indahnya karya seni ukir kaligrafi, serta mendapatkan sebuah siraman rohani.

Tips Berkunjung Masuk Al Quran Al Akbar

Saat kalian sedang berkunjung ke rumah orang, tentunya ada aturan-aturan yang berlaku. Termasuk saat kita ingin berkunjung ke Wisata Religi Al-quran Al Akbar Palembang.

  1. Kawasan wisata ini dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 hingga 17.00 WIB.
  2. Harga tiket masuk dipatok Rp 5000/orang.
  3. Pakai pakaian sopan dan pantas.
  4. Bagi pengunjung pria disarankan tidak menggunakan celana pendek. Namun, pengurus juga menyediakan sarung untuk dipinjamkan.
  5. Bagi pengunjung perempuan disarankan untuk menutupi kepala menggunakan kerudung atau syal.
  6. Bagi yang ingin melakukan sesi foto pre-wedding dapat menghubungi pengurus dan mendapat pendampingan saat pemotretan.
  7. Akses transportasi menuju tempat wisata religi ini lebih baik menggunakan kendaraan pribadi.

Selamat menikmati perjalanan wisata religi di Palembang!

10 Ide Bisnis Jasa Titip Oleh-Oleh Khas Aceh

Aceh atau Banda Aceh termasuk salah satu kota dengan peradaban Islam yang masih kuat namun bagi kita sebagai traveler yang sedang singgah ke Aceh tentunya akan membawa rasa penasaran sendiri untuk menjelajah kota Serambi Mekah ini. Saya sendiri masih belum puas saat menjelajah Banda Aceh dan Sabang kemarin, sebab masih banyak cerita mengagumkan tentang sejarah maupun kuliner Aceh.

Bagi kalian traveler yang sedang melancong ke tempat baru, tentunya pada saat hari terakhir sebelum balik ke kota asal akan terlintas dipikiran untuk membeli sesuatu dari kota yang dikunjung. Oleh-oleh menjadi kata sakti bagi mereka yang tahu kalau kita sedang melancong. Biasanya mereka tidak pernah mau tahu bagaimana perjuangan kita agar bisa jalan-jalan. Betul kan?

Simpang Lima Kota Banda Aceh
Ruas jalan Simpang Lima Aceh

Sekarang ini jasa titip atau jastip sedang jadi incaran bagi para traveler yang ingin sekaligus berbisnis. Jasa titip ini tentunya akan menguntungkan bagi kalian yang sering dimintain oleh-oleh dari kerabat maupun teman. Dengan menambahkan sekian rupiah dari harga barang, tentunya akan membuat traveling kalian jadi lebih nyaman.

Nah, berikut jenis oleh-oleh Aceh yang bisa kalian manfaatkan untuk membuka jasa titip sewaktu kalian sedang wisata ke Aceh.

1. Kopi Aceh Gayo

Di Pulau Sumatera, Aceh termasuk salah satu provinsi penghasil kopi jenis arabika yang enak dan wangi. Nama kopi Aceh Gayo tentunya sudah tidak asing di telinga penikmat kopi. Cita rasa dan aroma kopi memang mampu membuat mata lebih segar saat ngobrol bersama teman-teman sampai larut malam.

Toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan Sri Ratu Syafiatudin ini memiliki aneka varian kopi mulai dari luwak, wine, robusta, arabika, hingga kopi herbal. Kita bisa mencium aroma kopi lewat bungkus kopi sebelum memutuskan membeli yang mana. Selain itu harga jualnya palling murah mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 100.000 per bungkus ukuran 250gr.

2. Aneka Souvenir Aceh

Buah tangan yang mudah dibawa oleh kita saat sedang traveling adalah souvenir bertuliskan nama kota yang dikunjungi. Banyak jenis souvenir yang dijual mulai dari rencong Aceh, pinto Aceh yang berbentuk perhiasan set mulai dari liontin dan bros untuk wanita, dompet serta pernak pernik lainnya dengan motif Aceh seperti gantungan kunci. Tersedia juga tas perempuan bermotif Aceh.

Salah satu souvenir yang paling diincar dan enak dijual yaitu magnet. Teman-teman saya yang sering berangkat ke luar negeri pun sering membuka jastip magnet yang menarik buat dikoleksi. Selain harganya masih murah, bagi kita yang membawa pulang pun tidak berat.

Harga jual souvenir juga beragam, mulai dari ribuan sampai ratusan ribu, tergantung barang yang dibeli, juga kualitas barang tersebut.

3. Dendeng Aceh

Saya juga baru tahu kalau dendeng sapi termasuk salah satu oleh-oleh yang diminati untuk dijadikan oleh-oleh. Waktu saya singgah ke salah satu toko souvenir, dendeng Aceh menjadi incaran bagi mereka yang menyukai cemilan dendeng dengan banyak pilihan rasa mulai dari asin, manis, dan rasa kari.

4. Emping Melinjo

Emping melinjo memang dimiliki oleh tiap kota. Namun, jangan salah kalau kalian sedang ke Aceh, cobalah untuk membeli emping melinjo buatan orang Aceh. Oleh-oleh ini saya ketahui dari salah satu rekan yang membeli titipan keluarganya untuk membeli emping melinjo Aceh. Waktu saya lihat ternyata emping melinjo Aceh memiliki tekstur yang lebih halus dan renyah. Harga per box mulai dari Rp 50.000 untuk satu kilo.

5. Kupiah

Berkunjung ke kota Aceh tentu akan sangat mudah menemukan perlengkapan muslim, termasuk kupiah buatan masyarakat lokal ini. Kupiah bukan hanya menjadi penambah ganteng saat kalian sedang sholat atau datang ke masjid, tapi juga bisa menjadi fashion yang apik menunjang kalian saat sedang ada acara.

6. Kaos Piyoh

Kaos menjadi oleh-oleh yang paling diminati, selain bisa kita gunakan sendiri juga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh. Dulu saya termasuk yang gemar membeli kaos dari tiap kota yang saya datangi. Sebab, akan membuat saya mengenang kota tersebut lewat kaos.

Datang ke Aceh, toko oleh-oleh juga menjual ragam kaos bermotif huruf Aceh yang bisa kalian dapatkan mulai dari harga Rp 70.000 hingga Rp 100.000. Namun, kalau kalian ingin memiliki desain kaos yang berbeda dan unik, maka cobalah untuk singgah ke toko Piyoh yang berlokasi di jalan T. Iskandar No. 20, Ulee Kareng Banda Aceh.

Sarapan pagi bersama Hijrah, owner Piyoh

Pemilik toko Piyoh ini adalah seorang wirausaha muda dan dikenal banyak orang, siapa lagi kalau bukan Hijrah Saputra. Saya beruntung bisa berjumpa dengan Hijrah yang waktunya super sibuk ini. Suatu kehormatan bagi saya bisa berjumpa dengan dia, duduk bersama menyantap sarapan pagi nasi gurih khas Aceh. Sebab waktu kedatangan dia ke Palembang ternyata waktu saya yang tidak cocok. 

7. Cilet Coklat

Salah satu oleh-oleh bersifat universal adalah cokelat. Hampir banyak orang yang menyukai cokelat sebagai cemilan di waktu senggang. Peluang kreasi cokelat ini segera ditangkap oleh Didi, sebagai pelaku pebisnis oleh-oleh yang ia rintis bernama Cilet Cokelat.

Cokelat yang diproduksi oleh Cilet Coklat ini punya banyak varian rasa mulai dari rasa choco chips, choco kismis, hingga kopi arabika. Dari ketiga rasa Cilet Coklat ini, sudah pasti saya paling suka rasa kopi arabika. Perpaduan cokelat dan campuran kopi ini memang unik. Didi bisa membuat produk cokelat di-blend dengan kekhasan kopi Arabika Aceh di satu produk. Sehingga apabila kita sedang menjilat cokelatnya, tanpa sadar kita bisa saja mengigit biji kopi yang sengaja dia sisipkan dalam cokelat. Penasaran?

Bersama Didi, owner Cilet Coklat

Bagi kalian yang ingin membeli Cilet Coklat ini bisa langsung mendatangi outletnya di jalan Ulee Kareng (Samping Bakso Ramayana). Harga cokelat kisaran mulai dari Rp 10.000 – Rp 25.000.

Oh ya, arti nama Cilet sendiri artinya adalah jilat sehingga kalau digabung menjadi jilat cokelat. Kamu, lebih suka makan cokelat dijilat atau diemut? Kalau saya sih suka semuanya *ehhh…

8. Kue Kering

Saya kebingungan sewaktu masuk ke toko-toko di sepanjang jalan Sri Ratu Syafiatudin. Kebingungan saya sebab banyak kue-kue tradisional yang bisa menjadi ide jastip oleh-oleh Aceh. Antara lain, timphan, kue Bhoi, kue adee, dodol dan ragam kue kering tradisional Aceh lainnya. Saya sampai mencatat nama-nama kue tersebut dari penjual agar tidak salah dalam penulisan.

Salah satu kue kering yang enak yaitu Lontong Paris. Bentuknya dari tepung tering yang dilapisi dengan kacang. Rasanya garing dan bikin kita ketagihan untuk menghabisinnya segera.

9. Kupi Brownies Atjeh

Boleh dikatakan saat ini, kota Banda Aceh belum tersentuh oleh kue kekinian yang diklaim sebagai oleh-oleh artis. Saya melipir keluar dari toko souvenir dan melihat di sebelah ada toko brownies. Begitu melihat deretan varian rasa brownies yang dijual dan mencoba testernya, saya ditawarkan brownies kopi yang menggoyang lidah.

Tekstur brownies empuk dan perpaduan antara cokelat dan kopi bisa membuat kita menahan liur sejenak. Jangan khawatir apabila kalian tidak menyukai rasa kopi, sebab Kupi Brownies Atjeh ini juga menyediakan varian rasa lainnya seperti keju, original dan blueberry.

Harga satu boks brownies dipatok mulai dari Rp 40.000 saja. Namun, sebelum kalian membeli harap memperhatikan tanggal kadaluarsa di bawah boks sebab, biasanya untuk brownies paling lama tahan 3 hari di suhu udara luar tapi akan lebih lama kalau dimasukan dalam mesin pendingin.

10. Ayam Tangkap

Barangkali kalau kalian membawa pulang oleh-oleh kue tradisional khas Aceh masih tergolong mainstream. Waktu saya di Sabang sedang mengikuti acara TEDx, ada salah satu pembawa materi yang bercerita kisah suksesnya berjualan ayam tangkap di Jakarta. Dia sampai datang ke Aceh dan belajar langsung dengan salah satu warga Aceh untuk mengetahui resep membuat ayam tangkap yang enak.

Ayam tangkap adalah kuliner ayam kampung goreng yang dimasak dengan rempah-rempah, kari ayam, dan juga daun pandan. Saya pernah satu kali mencicipnya di Palembang, kebetulan waktu itu ada restoran yang menjual makanan khas Aceh namun saya restoran tersebut sudah tutup. Kalau mengambarkan rasa yang bisa dinikmati dari kuliner ayam tangkap ini adalah renyah dan gurih karena proses penyerapan bumbu ke daging.

Slurrppp mengoyang lidah untuk mencari ayam tangkap kembali ke Aceh nih.

Ternyata banyak sekali yang bisa saya rangkum dari traveling ke Aceh kemarin. Oleh-oleh memang paling dinantikan, namun kalau teman atau kerabat kita lebih pengertian mereka akan lebih melakukan: Nah, ini uang buat beli titipanku ya… sisanya ambil saja.

Kalau ada teman yang sedang jalan-jalan kalau cuma titip hawa, ya jangan marah kalau baliknya hawa tapi kalau dia jalan-jalan kalian titipin uang maka baliknya bawa barang. Hore!

Dari 10 ide jasa titip oleh-oleh Aceh ini, mana yang menjadi favoritmu?

tempat wisata di sabang

7 Tempat Wisata di Pulau Weh, Sabang

Tahun ini Sabang dipilih sebagai tuan rumah ke-9 sejak diluncurkan Sail Indonesia pertama kalinya di Bunaken Manado. Saya baru setahun belakangan ini mengetahui acara tentang Sail Indonesia. Dipilihnya Pulau Weh atau lebih dikenal sebagai Sabang karena menjadi titik nol kilometer di ujung barat Indonesia. Keindahan seperti yang diceritakan mengenai Sabang adalah motivasi saya ingin berkunjung ke kota yang masih memegang syariat Islam nan kuat.

Sail Sabang 2017

Setibanya rombongan kami ke Aceh, saya melihat sepanjang jalan dipenuhi oleh baliho menyambut Sail Sabang 2017. Saya melihat persiapan pemerintah daerah Aceh telah melakukan berbagai persiapan menyambut perhelatan Sail Sabang, hanya saja faktor cuaca memang menjadi penentu lancar atau tidak terselenggaranya acara.

Walau saya belum beruntung melihat Sail Sabang 2017, saya tak ingin bermurung hati seperti cuaca hujan sepanjang hari. Sabang masih memiliki tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi sekali lewat bagi kalian yang memang memiliki waktu terbatas di Sabang. Apa saja wisata Sabang yang saya kunjungi :

1. Sabang Fair

tempat wisata di sabang
Pulau Weh

Saat membuka peta digital dari ponsel, saya mencari lokasi terdekat yang bisa dikunjungi dari guest house. Ternyata guest house kami jaraknya cukup dekat dengan lokasi Sabang Fair ini. Kami tidak tahu seperti apa Sabang Fair, cukup unik juga membaca namanya lewat maps. Ternyata Sabang Fair itu semacam lapangan luas yang biasa dimanfaatkan untuk kegiatan.

TEDx Sabang

Ketika kami sampai di Sabang Fair ternyata sedang ada acara dari TEDs dari Bekraf. Akhirnya kami ikut menjadi peserta mendengarkan sesi para pemateri memberikan informasi. Dalam hati, wah kece nih Sabang punya acara keren.

2. Gua Sarang

tempat wisata di sabang
View dari lokasi Gua Sarang

Kami tiba di suatu dataran tinggi dengan view menghadap ke suatu danau. Dari tempat saya berdiri view pemandangan ini cukup asri untuk duduk bersantai sejenak. Menurut informasi yang saya dapat, untuk menuju Gua Sarang masih memerlukan waktu lagi untuk menapak ke bawah.

Terus saya pergi? Kalau ditanya tentu saya pengen pergi, hanya saja waktu kami terbatas jadi kami hanya menikmati dari atas pemandangan.

3. Kapal Pattaya III

tempat wisata di sabang
Kapal Pataya III

Setelah menikmati pemandangan danau cantik dari Gua Sarang, mobil kami berpindah ke suatu tempat seperti resort. Di kelilingi perpohonan mobil kami berhenti. Saya juga mempertanyakan ini kita ke mana ya? Ternyata kami di ajak untuk melihat kapal Pataya III yang terdampar di kawasan Iboih, Sabang.

tempat wisata di sabang
Jalanan masuk ke lokasi

Kapal Pataya III termasuk kapal kargo yang sedang berlayar di perairan Sabang dan sekitar, namun terjadi kerusakan pada bagian mesin dan diterpa badai sehingga membuat kapal ini jadi tidak beroperasi. Saya tidak tahu musibah kapal Pataya III ini apakah pantas dijadikan objek wisata? :mrgreen:

4. Monumen Titik Nol Kilometer

tempat wisata di sabang
Berfoto di landmark Sabang, Tugu Titik Nol Kilometer

Suatu kota tentunya memiliki landmark yang layak untuk dikunjungi. Apalagi bagi yang baru pertama kali datang ke Pulau Weh. Titik Nol Kilometer ini menjadi salah satu objek wisata Sabang yang ramai didatangi oleh wisatawan.

FYI.

Dulu di lokasi Titik Nol Kilometer ada layanan untuk mendapatkan sertifikat sebagai tanda kita sudah pernah berkunjung ke Sabang. Namun, sayangnya fasilitas ini sudah ditiadakan lagi sehingga kita hanya bisa berfoto saja dengan latar tugu Titik Nol Kilometer saja.

Di sekitar kawasan ini terdapat para penjual souvenir seperti baju, topi dan gantungan kunci. Serta juga terdapat pedagang kaki lima yang berjualan gorengan dan kopi.

5. Tugu I Love Sabang

tempat wisata di sabang
Tugu I Love Sabang

Tugu I Love Sabang menjadi objek wisata baru yang ramai dikunjungi setelah tugu Titik Nol Kilometer. Letak tugu dikatakan cukup strategis karena berada di Taman Elak. Di sebelah kiri tugu kita bisa melihat pemandangan Danau Aneuk Laot dengan hutan yang rimbun.

Namun, sayang sekali objek wisata ini sama seperti tugu Titik Nol Kilometer yang mana tidak ada aktivitas bisa dilakukan, selain berfoto kemudian pergi melanjutkan ke objek wisata lainnya.

6. Bunker Jepang Anoi Itam

tempat wisata di sabang
Bunker Jepang Sabang

Dulu sewaktu menulis tentang pariwisata Sabang, saya pernah menulis tentang Pantai Anoi Itam yang memiliki keunikan pasir pantai berwarna hitam. Kemudian di atas pantai terdapat sebuah bunker tempat menembakkan meriam saat tempo dulu. Sisa peninggalan Jepang ini menjadi objek wisata di Sabang.

Bunker Jepang ini langsung menghadap ke arah laut dengan dataran yang curam ke bawah. Saat masuk kawasan bunker Jepang Anoi Itam ini kita akan diminta retribusi masuk per kepala. Ada satu hal yang saya sesalkan di kawasan wisata ini adalah retribusi yang tidak jelas, seperti biaya masuk toilet yang ditulis Rp 2000,- tapi saya ditagih Rp 3000,-.

tempat wisata di sabang
Pemandangan dari atas bunker
tempat wisata di sabang
Ruang dalam bunker kurang terawat
tempat wisata di sabang
Jalan masuk ke bunker Jepang

Kembali sayang, bunker Jepang ini sepertinya tidak terawat, jalan menuju ke atas ada sampah-sampah berserakan. Serta kondisi bunker cukup memprihatinkan, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain hamparan laut yang luas dan deruan ombak.

7. Jalanan Mulus di Sabang

tempat wisata di sabang
Pemandangan berkelok

Setelah kami dari tugu I Love Sabang, kami melewati sebuah jalanan berkelok yang mulus. Kami berhenti sejenak menikmati suasana alam di Sabang. Dari sini kita bisa melihat sepenuhnya suasana pemandangan hutan, rumah penduduk dan alam. Seolah mencirikan alam Sabang yang masih alami dan sederhana.

Cara Menuju Ke Sabang

tempat wisata di sabang
Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh

Setibanya kalian di Bandara Sultan Iskandar Muda, kalian bisa memesan taksi bandara yang sudah nangkring di depan pintu kedatangan. Taksi di Aceh tidak menggunakan argo, tapi mereka sudah memiliki jarak tertentu. Misal dari bandara ke kota dipatok harga Rp 100.000.

Namun, apabila kalian sudah sampai di kota Banda Aceh maka transportasi yang saya sarankan kalian bisa menggunakan taksi online seperti GoJek dan Grab. Dua transportasi online ini sudah ada di Aceh. Saya tidak menyarankan kalian naik angkot, sebab angkot di Aceh itu antara ada dan tiada. Tapi kalau jaraknya tidak terlalu jauh, kalian bisa mencoba sensasi naik becak motor. Seru lho!

tempat wisata di sabang
Tarif taxi bandara di Aceh
tempat wisata di sabang
Pelabuhan Ulee Lheue

Setelah kalian berada di kota Banda Aceh dan bersiap menyebrang ke Pulau Weh atau Sabang. Kalian tinggal mencari transportasi menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Pelabuhan ini cukup ramai karena gerbang menuju ke Pelabuhan Balohan, Sabang.

Ada dua kapal menuju Sabang yaitu kapal cepat dan kapal lambat. Beda antara kapal cepat dan kapal lambat adalah durasi perjalanan. Apabila kalian ingin lebih cepat tiba di Sabang sekitar 45 menit maka pilihlah kapal cepat. Tapi kalau kalian ingin lebih menikmati suasana laut dari dalam kapal selama 2 jam, silahkan memilih kapal lambat.

tempat wisata di sabang
Pelabuhan Balohan Sabang

Harga yang dipatok untuk kapal cepat adalah Rp 80.000 untuk kelas ekonomi dan Rp 100.000 untuk VIP. Sedangkan untuk harga kapal lambat dipatok harga Rp 25.000 saja. Jadwal kapal dimulai dari pukul 08.00 hingga 16.00. Apabila kalian ingin ambil kapal lebih siang bisa mulai dari pukul 11.00 dan 14.00.

FYI

Jadwal kapal bisa berubah oleh karena faktor cuaca, apabila cuaca sedang tidak mendukung maka akan berpengaruh pada waktu keberangkatan kapal. Hal ini terjadi pada perjalanan saya kemarin.

Bagi kalian yang memiliki waktu terbatas untuk mencari wisata Sabang, maka sightseeing wisata Sabang ini adalah jawabannya. Kita bisa mengunjungi ke beberapa tempat sekaligus menggunakan mobil rental lengkap dengan sopir. Harga rental mobil bervariasi mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu. Namun keterbatasan ini membuat kita jadi tidak bisa mengeksplorasi wisata yang dikunjungi seperti cerita mengenai wisata tersebut.

Andai masih ada kesempatan, saya ingin kembali lagi ke Aceh dan Sabang untuk eksplore lebih lanjut 😆