jalan braga bandung

Jalan Braga Bandung, Semangkuk Rindu Pagi Hari

Janji saya dalam hati untuk memanfaatkan waktu satu hari penuh di Bandung segera dilaksanakan. Setelah melewati waktu setengah hari kemarin. Saya bergegas bangun tidur lebih awal sekitar pukul setengah enam pagi. Selanjutnya segera mandi dan keluar dari hostel tepat pukul enam. Cuaca Bandung masih sama seperti yang dulu saya rasakan sewaktu bangun tidur di pagi hari. Sejuk dan tenang. Sekujur tubuhku bergetar tanpa sadar air mata pun turun saat saya sedang menunggu di depan hostel.

Relung hati rindu yang tak terbendung. Maaf, katakanlah saya seorang perasa namun salahkah saya untuk napak tilas hal-hal yang membuat saya jauh lebih bersemangat?

Kota Bandung sekarang masih sama seperti pengalamanku waktu dua tahun lalu. Orang-orang yang ramah, lalu lintas yang nyaman, bahkan angkutan umum yang ramah. Kalau menurut kalian Bandung itu sekarang macet, saya rasa ini macet oleh karena para pendatang yang memang singgah untuk berlibur. Sedangkan kalau penduduk aslinya sendiri biasanya jarang untuk keluar rumah. Saya bilang berdasarkan apa yang saya rasakan waktu di jalan.

Beberapa kali saya sengaja mengetes pola perilaku pengendaranya di jalanan. Sewaktu mau menyebrang di jalan kita akan melihat sendiri karakter penduduk lokal yang ramah. Mereka tidak ragu menghentikan sejenak kendaraan lalu memberikan aba-aba agar kita terus menyebrang. Tapi akan berbeda perilakunya kalau pengendara di luar dari plat D. Ini termasuk salah satu alasan yang membuat saya betah tinggal di Bandung.

Selamat Pagi, Bandung

braga citywalk bandung
Braga Citywalk Bandung

Beruntung sekarang di Bandung sudah masuk jasa transportasi online jadi saya tinggal memesan untuk mengantarkan saya ke Jalan Braga.

“A, kok pagi banget udah ke Braga?” tanya si abangnya bingung lihat saya sudah keluar.

“Iya saya lagi pengen jalan aja di Braga, A. Muter-muter buat lepas kangen.” Mungkin dia tampak bingung dengan jawaban saya. “Dulu pernah tinggal di Bandung terus udah gak lagi makanya kangen buat jalan-jalan lagi,” lanjut saya.

Motor yang saya tumpangi terus melaju lurus. Salah satu alasan saya keluar lebih pagi karena nanti sekitar pukul 9 pagi, ayuk (sebutan bagi perempuan asal Palembang) Annie mau menemani saya jalan-jalan di Bandung. Yuk Annie sengaja datang dari Cikarang setelah saya kabarin kalau sudah di Bandung. Padahal awalnya saya hanya memberi tahu kalau saya sehat dan aman di Bandung :mrgreen: Akhirnya rencana saya berubah, saya keluar lebih pagi agar dapat menikmati seputaran jalan Braga, jalan Asia Afrika dan jalan Dalem Kaum.

Bernostagia di Jalan Braga

jalan braga bandung
Jalan Braga Bandung

Siapa yang tidak kenal dengan Jalan Braga yang menjadi kawasan wajib dikunjungi apabila datang ke Bandung. Selasar jalan lurus yang tidak terlalu panjang ini menjadi kawasan menarik apalagi di waktu malam. Apa yang membuat saya sangat berkesan di jalan Braga ini karena ini merupakan tempat pertama saya mengenal kota Bandung.

Waktu minggu pertama saya tinggal di Bandung, saya bertanya dengan penjaga kost mengenai tempat apa yang bisa saya datangi dan dilalui oleh angkot. Si aa itu menyarankan saya untuk ke jalan Braga dan dia memberitahu rute angkot saya harus naik dari mana dan turun ke mana lalu menyambung kembali angkot. Jadi wajar kenapa saya memilih Braga jadi tempat pertama buat napak tilas kenangan *eciee*

bubur ayam permai braga
Bubur Ayam Braga
Kamu tim bubur ayam diaduk atau nggak? Kalau aku di makan :p

Kawasan jalan Braga termasuk kawasan yang masih memiliki bangunan heritage lama dan sebagian bangunannya masih beroperasi. Saat saya tinggal di Bandung, pedestrian pejalan kaki masih direnovasi setelah saya pulang barulah renovasi selesai. Pedestrian pejalan kaki di jalan Braga sudah lebih nyaman.

Sarapan pagi saya sama bubur ayam di seberang Braga Permai. Bubur ayam Bandung itu seolah khas karena ada kacang kedelai sangrai dan kecap manis. Rasanya nikmat sekali ketemu bubur ayam buatan ibu ini sekaligus saya menambah cireng isi kacang 😀 Saya sulit berkata-kata lagi apalagi menuliskannya selain menikmati tiap suapan hahaha…

Lalu saya berencana untuk membeli roti di Sumber Hidangan. Toko roti legendaris ini berada di sekitar Jalan Braga. Namun sayangnya waktu saya ke sana sekitar pukul 8.3 pagi sedangkan toko rotinya baru buka pukul 10 pagi. Toko roti ini terkenal sejak lama karena roti yang dibuat memang enak dan beda dari toko roti modern yang pernah kita lihat. Selain itu harga yang dijual juga murah sekitar Rp 3000-5000 saja.

Wisata Bandung yang Mudah Dijangkau dengan Jalan Kaki

Dibungkus rasa rindu setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam membuat energi makin bertambah. Untunglah saya hanya mengenakan sandal jepit untuk menyesapi berjalan kaki dari ujung ke ujung di jalan Braga kemudian menyebrang menuju jalan Asia Afrika. Tidak jauh dari sana kita juga bisa menjumpai alun-alun kota Bandung, Masjid Raya Bandung, Jalan Dalem Kaum, Jalan Otista.

Jalan Asia Afrika

jalan asia afrika bandung
Menikmati bangunan lama di jalan Asia Afrika Bandung

Sebelum acara Konferensi Asia Afrika lalu, daerah ini sudah dikenal oleh banyak orang sebagai kawasan sibuk dan padat kendaraan. Memori dalam otakku pun mencoba menggali kembali apa saja yang pernah saya lakukan sepanjang jalan Asia Afrika Bandung ini. Beberapa bangunan lama masih tetap dioperasikan seperti bangunan yang sekarang menjadi Bank NISP, Hotel Savoy dan Museum Asia Afrika. Lalu lintas pagi padat dengan volume kendaraan yang lalu lalang. Saya melihat ada sejumlah patroli petugas yang mencoba mengatur lalu lintas.

Orang Bandung mungkin bahagia punya walikota seperti Ridwan Kamil dengan progres dan eksistensinya di dunia maya. Dalam waktu dua tahun sejak kepulangan saya ke Palembang, saya suka mengikuti perkembangan pembangunan di jalan asia afrika yang dibuat cantik sedemikian rupa. Mulai dari ada tempat untuk bersantai, serta jalanan pedestrian yang lebih baik.

Masjid Raya Bandung

masjid raya bandung
Masjid Raya Bandung

Saya tidak tahu dibalik sejarah dari bangunan masjid ini, karena bagi saya cukuplah menikmati sisi luarnya saja. Namun menurut info dari orang yang saya tanya, masjid dengan menara ini termasuk masjid tertua di Bandung. Lalu, kita juga bisa naik ke atas menara. Sebenarnya saya ingin sekali naik ke atas menara untuk mengambil foto dari top-view. Hanya saja saya tidak tahu akses masuknya dan agak segan untuk masuk ke dalam. Saya baru berani masuk apabila memang ada teman yang muslim yang menemani barulah saya berani untuk bertanya sekaligus wawancara lanjut.

Dalam kacamata saya, dulu lapangan hijau luas yang ditanami oleh rumput sintesis ini merupakan bangunan tua lama yang dihancurkan. Saat ini lapangan luas di depan masjid seringkali digunakan oleh masyarakat setempat untuk bersantai sekaligus menjadi lapangan bermain bagi anak-anak.

Jalan Dalem Kaum

jalan dalem kaum
Jalan Dalem Kaum

Saya berjalan kaki menuju jalan Dalem Kaum. Kawasan ini menjadi merupakan petak dagang kaki lima. Waktu saya tinggal di Bandung itu saat baru saja terjadi kebakaran di pusat perbelanjaannya. Teman saya, Elisa yang memiliki lapak di pusat perbelanjaan tersebut harus mengikhlaskan musibah tersebut. Bagi saya yang berkantong pas-pas-an, pada saat jalan dan melihat barang yang disuka dan pas ada duitnya ya beli 😆

Toko Roti Sidodadi

toko roti sidodadi
Toko Roti Sidodadi

Saya terus memantau akun facebook dan membalas satu persatu pesan yang masuk. Tiba-tiba komen dari mbak Julyanto membuat saya senang. “Cicip toko roti sidodadi di jalan otista ya!” Mengikuti saran dari mbak Julyanto, saya pun segera berjalan kaki ke arah jalan Otista yang tidak jauh dari jalan Dalem Kaum. Ternyata toko roti yang dimaksud masih belum siap dijual karena masih dalam proses dipanggang. Saya pun akhirnya menunggu di dalam toko.

Aneka roti enak dari toko roti Sidodadi

Tidak beberapa lama, beberapa roti mulai dikeluarkan dan saya mengambil beberapa untuk mencicipi rasa rotinya. Ternyata rasanya enak!!! Hampir sama dengan rasa roti di jalan Braga.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, saya melirik sudah ada pesan whatsapp dari Yuk Annie kalau dia sudah sampai di Pasteur. Setelah mendapat roti yang saya diincar, saya segera memesan Gojek untuk kembali pulang ke hostel. Singkat sekali memang dua jam menapak tilas kenangan sewaktu saya di Bandung dan menghabiskan waktu sendiri untuk berjalan-jalan. Kenangan itu akan tetap ada. Semoga suatu waktu saat saya rindu dengan Bandung bisa langsung segera terbang ke sana atau benar-benar menetap.

Iklan
bandung

Bandung, Relung Hati Rindu Tak Terbendung

Saat itu bunyi suara di telepon agak menekan, seolah pria diujung telepon itu tidak memberikan opsi memilih. Siap atau tidak, ambil atau lepas. Tidak beberapa lama, percakapan itu berakhir dan membuat saya harus memutuskan mutasi kerja ke Bandung. Bagaimana mungkin bagi saya yang belum pernah ke Bandung lalu dimutasi pula. Saya harus segera memutuskan untuk pindah minggu depan dari Palembang. Negosiasi saya dengan atasan tidak berjalan mulus, saya belum berhasil meminta mutasi ke kantor pusat di Jakarta.

Bandung? Saya tidak punya gambaran tentang kota Bandung.

Teman atau kenalan pun saya tidak punya. Terus, gimana nanti survive di Bandung ya? Minta bantuan rekan kerja di Bandung sudah pasti saya segan dan tidak bisa terus menerus. Akhirnya dengan langkah ingin maju, keluar dari comfort zone serta situasi kerja yang saat itu memang sedang tidak baik. Siapa tahu nanti di Bandung saya masih bisa cari pekerjaan di Jakarta.

Pesawat pun boarding dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju Bandara Husein Sastranegara. Bandara di Bandung terletak di tengah kota jadi tidak terlalu besar. Koper jadul ukuran besar saya geret keluar bandara. Ini kali pertama saya mengeyam namanya “merantau”. Duduk di taksi, sambil menunjukkan alamat rumah kost saya daerah Buah Batu.

Dari dalam taksi bandara, mata saya terus mengamati ke arah luar. Bandung ini kota apa sih? Kok sepanjang jalan saya tidak melihat bangunan tinggi? Kok banyak pohon lebat? Dan dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya dalam pikiran saya pada saat itu. Hingga taksi berhenti di depan rumah kost. Sebelum pindah saya sudah meminta bantuan HRD cabang untuk mencarikan kost yang aksesnya dekat menuju kantor. Setelah bertemu dengan penjaga kost bahwa saya adalah penghuni baru kost, saya pun diantar ke ruangan kamar saya lantai 2. Kesan sepi dan sunyi di kost ini.

Awalnya Aku Sebal

Sampai di kamar, saya terdiam. Masih malas untuk menyusun pakaian ke lemari. Saya justru bingung karena saya memang tidak ada informasi apapun. Saya harus kemana? Cari makan dimana? Hanya berharap segera berlalu ke hari esok biar saya segera datang ke kantor cabang di Bandung.

Selama di Bandung, saya memanfaatkan Nokia Maps yang bisa berjalan secara offline. Akhirnya saya bisa menemukan alamat kantor yang jaraknya tidak jauh dari kost saya. Kantor saya di Lodaya, sedangkan saya di Buah Batu jadi cukup naik satu kali angkot saja sudah sampai.

stasiun bandung kota
Stasiun Bandung Kota

Satu minggu pertama di Bandung seolah menyiksa secara batin. Saya belum tahu jalan, hanya jalan pergi dan pulang ke kantor. Sisanya saya mengandalkan maps lalu tersesat. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya rute mall. Sebab, mall pasti berada di pusat kota dan bisa diakses sama angkutan umum. Nah, dari sanalah saya mulai kerajinan untuk mengunjungi semua mall yang ada di Bandung 😀

Saya menemukan keasyikan sendiri di Bandung! Awalnya saya menggerutu sekarang saya malah jatuh hati sama kota Bandung. Yhaa!! Karma berlaku yaa. Cuma sayangnya saat saya baru mengenal Bandung ternyata saya tidak bertahan lama dan dipindah balik ke Palembang. Disitulah saya merasa sangat menyesal saat gambling kembali dengan atasan saya. Sekali lagi saya kalah negosiasi dan email singkat : Ok, minggu depan balik Palembang.

Whattt?!

Bandung, Aku Kembali…

Dua tahun berlalu sejak kepulangan saya dari Bandung. Sejak saat itu saya merasa ada semacam ikatan hati dengan Bandung daripada Palembang. Rencana untuk mengunjungi Bandung beberapa kali sempat tertunda. Padahal sudah dekat sekali waktu saya sudah di Jakarta tinggal naik travel atau kereta. Semacam ejakulasi yang tertunda.

Kemarin, setelah acara ZenFinity 2017 kelar. Saya langsung go show pergi ke Bandung dengan kereta. Malam harinya last minute book tiket kereta lewat Traveloka (tenang ini bukan sponsor Traveloka, memang saya suka pakai kok :D). Tanpa ada rencana sekalipun, bahkan saya belum tahu nantinya mau menginap di mana yang sesuai budjet backpacker. Dasar gelo!

solo traveling bandung
Tidak direncanakan, berjumpa Agnes di Stasiun Gambir menuju Bandung

Kadung kangen, saya mantapkan diri berangkat dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Bandung Kota. Ternyata sewaktu saya sedang insta stories, tanpa sengaja saya berjumpa sama Agnes. Dulunya dia siswa saya waktu saya masih kerja sebagai instruktur komputer. Dia dan temannya juga mau main ke Bandung. Mereka sama seperti saya mereka juga tidak punya rencana selama di Bandung. Saya hanya bilang selama di Bandung pengennya napak tilas tempat-tempat memorable. Naik angkot, duduk di café, main ke mall atau jajan di gerobakan. Betul-betul ingin memeluk kangen Bandung dengan cara saya sendiri.

pinisi backpacker
Mix Room di Pinisi Backpacker

Gerbong kereta sudah terisi penuh oleh penumpang. Saya sengaja memilih duduk di samping jendela karena perjalanan kereta Jakarta – Bandung itu menyenangkan. Kita bisa melihat hamparan sawah hijau. Di tengah perjalanan saya tetap melanjutkan insta stories lalu ada teman saya yang memberi saran untuk menghubungi salah satu teman lagi untuk bertanya mengenai backpacker hostel. Info teman saya itu saya direkomendasi untuk menginap di Pinisi Backpacker di Pasar Kaliki. Jarak hostelnya ternyata dekat sekali dari Stasiun Bandung Kota dengan harga terjangkau.

Temu Kangen

Orang pertama ya saya cari di Bandung adalah Koh Joe yang punya kedai pempek. Dari arah Pasir Kaliki saya sengaja naik angkot yang melewati tugu Husain. Seketika suasana di dalam angkot saya seperti familiar dengan aksen sunda. Sampai berpikir, kamu sampai sebegitu kangen-nya ya sama Bandung, koh?

angkot bandung
Kangen naik angkot di Bandung!
food court makan doeloe
Food court Makan Doeloe

Saya sudah tidak sabar berjumpa dengan Koh Joe. Dulunya dia berjualan di foodcourt samping RS Limijati. Tapi sekarang pindah ke foodcourt Makan Doloe di tugu Husain. Koh Joe ini orang yang paling banyak membantu saya sewaktu di Bandung. Saya mengenal dia juga tidak sengaja, lantaran saya mau cari makan setelah pulang kerja dari Bandung Indah Plaza. Kebetulan angkot untuk jurusan arah kost saya bisa juga dijangkau dari arah RS Limijati, jadi saya mampir dulu ke Kedai Cisca.

Kalian bisa ngerasain kan, hidup merantau jauh dari makanan khas kota lalu di kota orang kalian bisa ketemu makanan favorit kalian? Bisa ketemu orang jualan pempek di Bandung itu mengobati rasa kangen saya sama Palembang. Setelah hampir satu bulan tinggal di Bandung berasa sendirian. Lalu saking senangnya bisa ketemu pempek, saya pun mengobrol sama Koh Joe ini akhirnya tiap balik kantor saya pasti nongkrongnya di kedai Cisca, samping RS Limijati. Saya pikir ngapain juga saya di kos sendirian di saat semua penghuni kos tidak saya kenal, kadang sabtu minggu hanya saya sendirian. Individualisnya ketara banget.

Saya pun kadang membantu dia menggoreng pempek kalau ada pembeli yang memesan. Kalau tidak ya paling ngobrol sampai kedai tutup dan dia mengantar saya balik ke kost. Begitulah saya menikmati Bandung hingga membuat saya merasa Bandung itu punya cerita.

Kopdar Bersama Blogger

Tadinya setelah ketemu sama Koh Joe saya ingin mengajak dia jalan-jalan, tapi karena pegawainya tidak masuk akhirnya saya pamitan untuk jalan-jalan sendiri terlebih dahulu.

Rencana saya selanjutnya, saya mau mampir ke Saka Bistro & Bar. Sejak tahu ada coffee shop yang Baristanya bisa membuat kopi dengan 3D latte membuat saya harus datang ke Saka Bistro & Bar di jalan Karang Sari. Berkenalan dengan Kang Tatan, barista di Saka Bistro saya pun minta dia membuatkan cappuccino spesial pakai 3D artnya. Kang Tatan pun membuatkan cappuccino tersebut di meja saya. Saya menikmati keuletan dia membentuk foam hingga menjadi bentuk 4 beruang yang sangat sangat lucu. Dari Kang Tatan saya belajar suatu proses untuk menjadi seorang yang ahli.

saka bistro bandung
Kang Tatan sedang membuatkan latte art
saka bistro bar
Cappuccino 3D Latte Art

Niatnya memang mau me time saja menikmati Bandung karena waktu saya juga terbatas hanya sampai besok. Cuma saya putuskan untuk menghubungi Nugie dari thetravelearn.com dan Timo dari kadungcampur.com. Ini merupakan perjumpaan pertama saya dengan mereka. Saya membuat janji berjumpa dengan Nugie terlebih dahulu karena lokasi kantornya dekat dengan tempat ngopi. Sedangkan Timo sedang ada urusan di dekat hostel saya. Sekarang, di tiap saya jalan-jalan pasti menyempatkan waktu untuk kopdar bersama blogger di kota lain yang saya kenal. Syukurlah mereka yang sibuk mau berjumpa sama saya. Saya juga bersyukur mereka orang-orang yang humble.

kopdar blogger bandung
Kopdar bareng di Bandung

Tidak terasa sudah setengah hari berada di Bandung. Sebenarnya masih belum mampu membendung rasa kangen saya. Besok saya harus bisa memanfaatkannya lebih baik lagi. Janji dalam hati.