Menikmati Krui Dalam Satu Hari

Mencari lumba-lumba di tengah laut menuju Krui dari Pulau Pisang memang sudah kami rencanakan karena umumnya lumba-lumba akan keluar dari palungan tempat mereka tidur untuk berenang di pagi hari. Tapi, kita tidak tahu di mana mereka akan menampilkan diri mereka kepada kami?

Saat itu asa ini hampir hilang karena matahari sudah naik ke atas. Untungnngya, Mas Aries melihat ada suatu tanda gerakan dari arah kejauhan. Teriakan kami memecahkan rasa terik matahari yang kami rasakan bersama di atas kapal Jukung menuju Krui. Lumba-lumba itu seolah mengiring kami pulang dengan selamat dan menghapuskan rasa sedihku karena berpisah dengan Ogik.

umba-lumba
Gerombolan lumba-lumba menyapa pagi di laut Samudra Hindia

Perjalanan sekitar 45 menit menuju Pelabuhan Kuala Stabas kami tempuh dengan ombak yang berhasil mengocok perut masing-masing, terutama Yayan yang segera duduk terdiam dan memesan teh hangat dicampur Tolak Angin di warung dekat pelabuhan. Kami disibukkan dengan kondisi diri masing-masing, karena tampak sekali berantakan setelah melewati perjalanan laut walaupun sebentar.

Hari ini kami hanya berencana menghabiskan waktu di hari ketiga untuk berkeliling di seputaran Krui saja. Menurut informasi dari Mas Aries kita akan menikmati beberapa tempat dengan mobil yang dibawa oleh Mas Ardy. Sekilas mengenai Mas Ardy, orang yang kalem dengan suara lembutnya, namun ternyata saya salah. Gaya banyolannya mengenai “kuntilanak Krui” berhasil membuat rasa sakit di gigiku berkurang sebentar. Kemudian, sisa suara saya yang hampir habis tetap menyediakan ruang untuk ikut tertawa mendengar Mas Ardy berkeinginan berjumpa dengan gadis berambut panjang tersebut dalam kondisi “polos”.

Melihat Panorama Laut di Atas Bukit Selalaw

Bukit Selalaw, Krui
Pemandangan dari atas Bukit Selalaw, Krui

Berada tidak jauh dari Pelabuhan Kuala Stabas, kami diberitahu bahwa ada bukit yang memiliki pemandangan langsung menghadap ke laut lepas dengan pemandangan Gunung Pugung. Untuk mencapai Bukit Selalaw sangat mudah cukup jalan kaki menanjak sekitar 5 menit kita sudah sampai di atasnya.

Bukit kecil yang berada di pinggir pantai ini dihiasin oleh rerumputan hijau yang membuat mataku melihat lokasi ini instagramable untuk berfoto atau sekedar menikmati suasana di Bukti Selalaw. Dari atas puncak bukit kita dapat melihat bayangan Pulau Pisang dari arah kejauhan. Tak terasa kami baru saja meninggalkan kenangan indah selama satu malam di pulau tersebut.

bukit selalaw krui
Duduk di Bukit Selalaw bak melihat lukisan alami

Awalnya saya mengira bukit ini merupakan perbatasan Pantai Labuhan Jukung karena letaknya kalau dilihat dari Labuhan Jukung Krui hanya dibatasi oleh batu karang besar. Ternyata bukit ini memisahkan antara Pantai Kuala dan Pantai Labuhan Jukung yang berada di sampingnya. Dari arah sebelah kiri bukit, ada batu karang yang cukup terjal sehingga kita perlu sedikit berhati-hati saat sedang berada di pinggir bukit. Sedangkan pemandangan di atas bukit dengan satu pohon besar memang memberikan kesan tersendiri.

Hutan Damar di Desa Rawas, Krui

getah pohon damar
Getah damar di Desa Rawas, Krui

Berpindah dari Bukit Selalaw, kami diajak untuk melihat Pohon Damar di daerah Desa Rawas. Suasana jalanan di Krui lumayan mengasyikkan dengan tidak adanya kemacetan dan lampu merah. Sepanjang perjalanan kita dapat melihat pemandangan sawah. Akan tetapi begitu memasuki Desa Rawas, kita seperti masuk ke sebuah hutan dengan jalanan berliku lurus dan kecepatan kendaraan yang melintas seolah jarum speedometer bertambah ke kanan.

Saya baru pertama kali melihat pohon damar, sebab tidak ada bayangan seperti apa pohon damar. Kalau kita melihat sekilas, bentuknya seperti pohon karet dengan cara penyadapan yang hampir mirip. Bertanya dengan warga lokal setempat mengenai pohon damar, ternyata memiliki beberapa jenis. Salah satunya Damar Mata Kucing yang merupakan varietas yang ada di Desa Rawas tersebut.

ngunduh damar
Aktivitas panen getah damar yang disebut “Ngunduh Damar”
getah damar krui
Getah damar yang sudah diambil

Tinggi pohonnya hampir mencapai 30 meter menjulang ke atas. Tiap pohon damar sudah memiliki tanda-tanda yang dipahat berbentuk segitiga. Nantinya getah dari pohon akan turun perlahan masuk ke dalam ruang celah yang telah dibentuk. Getah-getah bening tersebut akan mengkristal sendiri setelah kering yang nantinya akan diambil dengan cara dipukul menggunakan palu kecil.

Siang itu kami dikenalkan dengan istilah “Ngunduh Damar” yang merupakan proses panen damar. Para pemanjat getah damar ini menggunakan bantuan sebuah tali yang dianyam bernama, Ambon. Tali ini nantinya akan dililitkan di pohon dan badan. Cara memanjat pohon damar yang unik ini membuat saya ingin ikut merasakan bagaimana memanjat pohon damar, namun sayang waktu kami terbatas jadi baiknya diserahkan kepada ahlinya.

Hasil getah damar berbentuk bening, kental dan lengket. Para pemanjat pohon damar ini nantinya mencongkel getah-getah damar dari dalam lubang. Getah yang telah mengeras ini digunakan kembali sebagai bahan campuran yang dapat digunakan untuk beberapa keperluan di industri-industri tertentu. Misalnya dapat digunakan sebagai campuran kosmetik.

Senja Bersama di Pantai Tanjung Setia

pantai tanjung setia
Pemandangan senja di Pantai Tanjung Setia, Krui

Cuaca memasuki petang dengan udara yang sudah tidak menyegat lagi seperti siang hari. Tampaknya memang waktu yang tepat bagi kita menikmati matahari tenggelam di pinggir pantai. Momen yang langka bagi kami warga perkotaan untuk dapat menikmati yang dinamakan sunset di pinggir pantai, khususnya saya.

Setir kemudi mobil diputar arah setelah kami diajak melihat Tugu Tuhuk yang menjadi ikon kebanggaan Krui dan menghabiskan es krim rujak di pinggir tugu. Layaknya es krim gerobakan yang dicampur dengan rujak buah dan lelehan gula merah memang menjadi keunikan kuliner yang baru pertama kali saya lihat. Padahal, kita sudah terbiasa dengan mengkombinasikan aneka makanan. Contohnya, makan alpukat dengan sambal dabu-dabu. Pernah coba? 😆

Di dalam mobil Mas Ardy bercerita kalau kawasan yang akan kita kunjungi ini nantinya menjadi perhelatan lomba berskala internasional yaitu Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition. Saat itu juga, pemikiran saya sudah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang bukan lagi adalah fasilitas dan standarisasi. Label “internasional” memiliki standar sendiri untuk menyelenggarakan suatu acara. Krui punya bagian itu. Luar biasa!

Ombak yang sempurna merupakan ciri khas dari Pantai Tanjung Setia, kesempurnaan di tunjukan dari ketinggian yang saya lihat sendiri sewaktu berada di pinggirnya di atas tumpukan karang kering. Beberapa kali saya bertanya dengan pengurus resort yang ada di sekitarnya, apa yang menyebabkan para tamu asing rela mendatangi Krui yang notabene-nya jauh dan berada di Pesisir Barat. Ternyata dari hasil survey ada yang mengatakan kalau Krui memiliki ombak terbaik di dunia. Makanya mereka rela datang untuk bercumbu dengan ombak.

Tingginya ombak bisa mencapai 6 sampai 7 meter, tapi tidak hanya tingginya saja melainkan panjang ombak dapat mencapai sekitar 200 meter saling berlawanan arah. Saya duduk di atas anjungan pantai untuk menikmati pemandangan yang disuguhkan di kala sore. Tidak ada hal yang dapat saya lakukan dalam perjalanan ini selain mengabdikan tiap pemandangan indah yang saya lihat dalam bidik kamera. Sisanya saya cukup menikmati lewat mata saya. Barangkali, kalau ada waktu lebih lama saya bisa menyelesaikan tulisan di blog karena suasana sangat mendukung. Tenang dan damai.

Pantai Tanjung Setia memberikan lingkungan alam yang masih terjaga kealamiannya dan pemandangan yang menakjubkan. Harapan kami pada saat itu hanya ingin melihat matahari tenggelam yang indah dengan deburan ombak yang menari-nari setelah belum berjodoh melihat matahari terbit di Pulau Pisang.

daftar travel blogger indonesia
Perjalanan bersama keluarga baru

Kami berlima duduk dalam satu posisi saling bercengkrama bercerita pengalaman yang baru saja kami lalui sepanjang hari. Dalam perjalanan barangkali kalian hanya melihat hal-hal yang manisnya saja yang kami suguhkan. Padahal kita juga mengalami masa-masa sedih namun kami tidak menampilkannya saja karena telah ditutupi oleh teman perjalanan yang saling mendukung satu sama lain. Memang benar, untuk menguji isi hati seseorang ajaklah mereka untuk berjalan bersama. Sebab dari sana kita akan mengetahui diri mereka secara langsung. Beruntung, teman-teman perjalananku seperti Mbak Rien, Mbak Dee, Yuk Annie dan Yayan adalah teman perjalanan yang mengasyikkan. Tidak bisa membayangkan bagaimana harus bersabar dengan sesi pemotretan “kain kodian” demi memperkenalkan kain daerah.

Di tepi Pantai Tanjung Setia banyak terdapat pohon-pohon palem yang rimbun serta perpohonan kering. Seolah memiliki daya tarik kuat untuk melangkahkah kaki mendekatinya. Gunung Pugung, Krui sore itu tampak sedang bermain dengan lembayung. Mataku sudah melihat seorang anak kecil sedang duduk termenung melihat deruan ombak saling berkejaran. Menyadarkan tubuh mungilnya di dahan pohon. Entahlah, saya belum mau mendekati dirinya yang seolah sangat menikmati hembusan udara sore di Pantai Tanjung Setia.

Anak kecil tersebut pertama kali kulihat saat dia sedang dicandain dengan pemilik resort setempat karena dia menggunakan celana yang bolong di belakangnya. Namun dia tetap cuek dan meneruskan bermain. Sesekali dia berjalan melintasiku namun saya tidak begitu peduli saat itu, masih asyik bercengkrama dengan teman-teman lainnya di kursi sofa empuk.

Indra penglihatanku menangkap gesture badannya yang sedang melihat anak-anak seusianya sedang bermain menangkap ikan. “Dek..” sapaku dan dia membalikkan wajahnya.

Raut wajah menggambarkan kepolosan anak-anak lalu dia memberikan senyuman. Gigi ompongnya tidak bisa dia tutupi seolah menghiasi kepolosannya. Saya selalu iri dengan orang yang memiliki bulu mata nan aduhai lentik panjang dan kedua alis matanya menyat. “Sedang apa kamu, dek?” lanjutku dan meloncat duduk di dahan pohon sampingnya.

Kami seperti teman akrab yang sudah lama kenal. Uluran tangan tanda salam perkenalan. “Arka” sambutnya menerima uluran tanganku. Dia teman baru kedua yang kukenal setelah Ogik, anjing berbadan tegap yang kutemui sewaktu di Pulau Pisang.

Ada perasaan senang perjalanan kali ini selalu berjumpa dengan teman baru.

Kakiku menapaki tiap dahan pohon tinggi untuk mendekati Arka. Deruan ombak semakin besar. Beberapa peselancar bule mulai menunjukkan keahlian mereka. Tanjung Setia, Krui memang dikenal sebagai kawasan surfing bagi para bule yang memang mencari ombak.

“Suka lihat laut ya?” Arka pun menganggukkan pelan kepalanya.

“Rumah kamu di mana?”

“Bumi Agung, om”

“Jauh?”

“Jalan kaki, lumayan.”

Teman baruku ini memang mengagumkan. Saya makin dibuat penasaran dengan Arka. Maklum saja, Arka bukanlah seperti Ogik yang tiap ditanya hanya menunduk kepala atau mengibaskan ekor.

“Mana teman-temanmu?” tanyaku kembali karena Arka selalu melihat 4 orang anak kecil yang sedang bermain menangkap ikan.

“Tidak punya. Mereka suka ganggu Arka.” Dari obrolan dengan Arka ternyata dia masih sekolah kelas 1 SD. Di lingkungan pertemanannya dia lebih memilih menyendiri melihat laut. Tiba-tiba saya jadi teringat waktu kedatanganku. Dia selalu mengikutiku dari belakang sewaktu sedang memotret pemandangan Gunung Pugung.

“Tapi Arka pukulin teman-teman yang jahatin Arka.” Serunya menceritakan bertapa senangnya dia saat berhasil memukul jatuh lawannya sembari melihat ke arahku yang sedang berdiri membetulkan posisi topi federo. Dia diam sejenak memandangku dari arah bawah. Saya meletakkan topi yang dipakai ke kepalanya. Namun tidak muat karena lingkar kepala kami berbeda. Tawa kami pecah melewati momen tersebut.

Ajakanku mendekati tumpukan karang kering diterima oleh Arka. Arka yang tadinya berjalan dibelakangku sekarang berpindah menjadi di sampingku mengamati tiap karang kering serta genangan air laut yang di dalamnya ada ikan-ikan kecil. Tujuanku tercapai datang ke Tanjung Setia adalah menikmati sunset dan deruan ombak serta melihat ikan.

Krui menyimpan pesona wisata alam yang menyegarkan mata. Gradasi warna biru pergunungan memang incaran bagi tiap pasang mata yang datang. Dari balik lensa kamera, tanganku terasa menikmati tiap menekan tombol shutter kamera. Sesekali aku memotret ekspresi Arka tanpa dia sadar kemudian menunjukkan hasilnya.

Anak kecil itu sangat penasaran dengan kamera yang kupegang. Dia sudah tidak malu-malu lagi untuk berpose di depan kamera.

Hari sudah menjelang gelap. Kami berjalan keluar dari Sumatra Surf Resort tempat kami menikmati senja di Krui sebelum besoknya kembali ke kota masing-masing. Sebelum berpisah dengan Arka, kulingkarkan tanganku di pundaknya.

“Jangan takut tidak punya teman, sebab teman baru selalu akan datang kemana pun kamu pergi. Terus belajar dan jadi orang baik. Kalau ada orang yang ganggu jangan dibalas pukul. Tapi balas sama prestasi.”

Arka membalikkan badan berjalan kaki pulang ke rumahnya. Lambaian tangannya menandakan sampai berjumpa kembali.

Kemudian saya segera menyimpan memori indah ini dalam ingatanku. Agar di tiap perjalanan yang kulalui selalu mengingat pelajaran baru sore tadi. Perlahan diriku memahami perjumpaan dengan teman baru dan sudut pandang baru.

Mobil kami perlahan meninggalkan kawasan Pantai Tanjung Setia. Perjalanan sehari yang kami tempuh memang terasa melelahkan, apalagi untuk saya sudah terbayang nantinya balik ke Palembang menggunakan kereta api selama 12 jam. Namun, rasanya terbayarkan dengan pengalaman yang didapatkan selama di Krui menikmati suguhan destinasi wisata yang diberikan. Mungkin tidak semuanya dapat kami nikmatin tapi tidak berarti kami menolak apabila diajak untuk kembali lagi menemukan titik spot terbaru yang ada di Krui.

Krui selalu ada alasan bagiku untuk kembali, menjenguk Ogik 😆

Baca cerita seru perjalanan kami di Krui versi teman-teman saya :

Iklan

Akomodasi Strategis di Krui, Pesisir Barat Lampung

Saat ini Krui merupakan ibukota Kabupaten Pesisir Barat. Kabupaten Pesisir Barat ini baru saja dibentuk, sebelumnya Krui merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Lokasinya yang strategis karena Krui berada di daerah pesisir Samudera Hindia. Maka wajar daerah ini memiliki potensi wisata alam bahari yang dilirik oleh wisatawan yang menyukai ombak yang bagus untuk berselancar. Selain itu, Krui juga memiliki ikon kota yaitu Tugu Tuhuk Ikon Kabupaten Pesisir Barat.

Tugu Ikan Tuhuk, Krui
Tugu Ikan Tuhuk, Krui

Apalagi dalam bulan April 2017 kabupaten Krui mengadakan Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition pada tanggal 15-20 April 2017. Kompetisi selancar berskala internasional ini tentunya menjadi surga bagi penikmat ombak yang kencang dan tinggi. Secara nilai jual pariwisata, Krui memiliki potensi wisata yang dapat meningkatkan jumlah wisatawan asing yang datang serta meningkatkan promosi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain pantai, Krui memiliki pulau eksotis yaitu Pulau Pisang yang alami dan keindahannya tidak kalah dengan pulau-pulau destinasi wisata di dunia. Hanya saja potensi wisata alamnya belum tereksplorasi. Namun, kalian dapat membaca tulisanku sebelumnya mengenai pulau yang tenang dan teduh itu.

Tentunya dengan semakin banyaknya kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri pastinya dibutuhkan fasilitas yang memadai dan mengalami peningkatan mulai dari akomodasi tempat tinggal, transportasi dan bandara untuk membawa tiap orang yang ingin berkunjung ke Krui.

Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition

Dimulai dari segera mengaktifkan kembali lapangan terbang Seray sebagai saranan transportasi cepat menuju ke Krui. Lokasi lapangan terbang yang berada di Kecamatan Pesisir Tengah, Desa Seray menjadikan keberadaan Bandara Muhammad Taufiq Kiemas perlu mendapatkan perhatian segera. Apabila bandara ini telah aktif kembali tentunya akan mempermudah akses menuju Krui menggunakan pesawat dari Bandar Lampung. Sehingga kita tinggal mencari akses penerbangan ke Bandar Lampung atau direct menuju Bandara Muhammad Taufiq Kiemas.

Saat kami diajak melihat situasi bandara yang sudah tidak beroperasi, ternyata bandara ini memang sepi. Hanya ada beberapa rumah saja yang dijadikan sebagai rumah dinas orang-orang yang bertugas menjaga lapangan terbang yaitu Mas Azis. Lewat izin beliau kami diajak untuk melihat situasi dalam lapangan terbang dan ruang tunggunya.

bandara muhammad taufik kiemas
Lapangan Terbang Seray, Bandara Muhammad Taufik Kiemas, Krui
isi dalam bandara seray krui
Mesin x-ray yang tidak berfungsi lagi di Bandara Muhammad Taufik Kiemas
luas bandara Krui
Luas lapangan terbang Seray.

Informasi yang saya dapatkan, bandara Muhammad Taufik Kiemas dibangun pada tahun 2007. Diresmikan oleh Dirjen Perhubungan pada tahun 2013, pada masa pemerintahan Bupati Herlani. Tidak begitu luas ruangan di dalamnya karena kita seperti memasuki ruangan lalu segera tembus ke halaman lapangan terbang. Barangkali karena dulunya trafik penerbangan belum terlalu banyak, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan tolak ukur juga. Menurutku ukuran dan akses lapangan terbang yang ada ini boleh dikatakan Krui sudah hampir siap menerima wisatawan yang datang. Semoga dengan dibukanya segera bandara di Desa Seray ini, industri wisata disekitar bisa berkembang menjadi industri andalan utama wilayah Krui.

Pilihan Akomodasi Tempat Menginap di Krui

Selain akses bandara ternyata kemudahan dalam akomodasi tempat tinggal juga menjadi pertimbangan bagi kita yang ingin berkunjung ke tempat wisata. Saya akan menceritakan sekilas cottage tempat kami bermalam serta cottage yang kami datangi di Krui.

Cottage Labuhan Jukung Dispar Krui

Cottage milik Dinas Pariwisata Krui
Cottage milik Dinas Pariwisata Krui

Dinas Pariwisata Krui sendiri memiliki dua buah cottage di Pantai Labuhan Jukung. Bentuk cottage menyerupai rumah panggung yang saling bersebelahan. Dengan pemandangan langsung menghadap ke laut tentunya memberikan nilai tambah untuk menikmati pagi. Dalam satu cottage terdapat dua kamar dengan fasilitas standar yaitu kasur ukuran double dan kamar mandi dalam, selain itu juga ada AC. Ukuran kamarnya memang tidak terlalu besar, TV yang ada juga menyiarkan satu saluran, sisanya saluran yang tidak dapat ditayangkan.

Saya sarankan untuk membawa peralatan mandi sendiri karena di dalam kamar tidak disediakan kelengkapan perlengkapan mandi. Lokasi cottage ini strategis namun sayangnya untuk fasilitas umum seperti bola lampu yang dipecah, ruang bilas di bagian luar semua kran airnya rusak dan hilang. Begitu saya tanyakan hal ini disebabkan oleh ulah tangan jahil yang belum sadar pentingnya potensi wisata di tempat mereka.

Bagi kalian yang berminat untuk menyewa kamar dipatok harga Rp 275.000/malam/kamar tanpa sarapan pagi. Selain itu dapat menghubungi Aries Pratama (0821-8683-9738).

Krui Mutun Walur Surf Camp

Mutun Wulur Surf Camp
Mutun Wulur Surf Camp, Krui

Cottage kedua tempat kami bermalam di Krui merupakan cottage milik swasta yang dikelola oleh penduduk setempat. Pemiliknya mempercayakan kepada orang lain untuk mengurus cottage yang halamannya asri dengan gazebo dan hammock. Lokasi Krui Mutun Walur Surf Camp ini terletak di Desa Walur, Krui Selatan.

Untuk mencapai lokasi cottage kita akan melewati hutan kelapa masuk ke dalam, lumayan gelap saat ingin keluar di malam hari karena memang tidak ada penerangan. Sepertinya konsep cottage ini memang di-setting dalam keadaan private sehingga tidak boleh ada keributan, pesan dari ibu pengurus cottage yang tampak kurang bersahabat dengan tamu lokal dibanding tamu bule.

Terdapat 6 kamar yang ada di Krui Mutun Walur Surf Camp yaitu terdiri dari 2 kamar tipe private, 2 kamar rumah panggung dan 2 kamar dengan 2 lantai. Kami diberikan kamar tipe private yang saling bersebelahan. Fasilitas yang ditawarkan di cottage ini juga standar dengan ranjang kelambu dan toilet bernuansa semi terbuka. Dinding-dinding kamar terbuat dari bambu yang disusun sehingga masih ada renggang celah. Tampak klasik namun memang harus selalu dirawat kebersihannya.

Kami menyadari Krui memiliki keterbatasan dalam listrik, sehingga saat ada listrik benar-benar dimanfaatkan untuk mengisi daya baterai kamera dan ponsel. Kejadian bukan saja di siang hari namun saat malam setelah pemilik cottage pulang, para penjaga tak berapa lama segera mematikan listrik. Padahal saat itu masih pukul 10 malam dan kami baru pulang dan bersiap-siap untuk membersihkan diri di kamar mandi. Namun semua kondisi tersebut kami terima saja, untungnya ada powerbank.

Harga kamar Krui Mutun Walur Surf Camp mulai dari Rp 300 ribu – 500 ribu/malam/kamar. Apabila ingin menambah extra bed dikenakan biaya Rp 50 ribu/kasur. Selain itu juga sudah termasuk sarapan pagi. Namun kami tidak mencoba sarapan pagi, sebab sekitar pukul 3 subuh kami sudah meloncat pagar cottage kabur ke Bandar Lampung untuk mengejar pesawat pulang ke kota masing-masing. Sungguh ini pengalaman seru bagi kami meloncat pagar tempat orang layaknya mau kabur dari tempat menginap :mrgreen:

Cottage Sekitar Pantai Tanjung Setia

Selain itu juga terdapat beberapa cottage yang dikelola oleh swasta dan asing di daerah Pantai Tanjung Setia. Saya melihat kesiapan kawasan ini bagi tamu-tamu asing yang dapat menjadi referensi menginap. Untuk menjangkau tempat ini kita tinggal berkendara menuju sekitar Pantai Tanjung Setia yang terletak di Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Krui. Di sepanjang lorong  memasukin area kita dapat melihat kanan dan kiri terdiri dari cottage yang dikelola oleh sejumlah bule berinvestasi membeli tanah di Pantai Tanjung Setia.

Hal ini sangat wajar sebab, pelaksanaan Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition diadakan di area Pantai Tanjung Setia yang memiliki ombak yang tinggi. Saya sendiri sempat bertanya dengan orang sekitar dari mana mereka mengetahui serta mengukur kondisi ombak. Ternyata mereka memiliki aplikasi yang bisa mengetahui arus ombak selain itu insting para surfer yang sudah terasah. Makanya wajar sekali wisatawan asing rela datang dari jauh menuju Krui. Selain itu, para pengurus cottage rata-rata berasal dari daerah lain dan mereka sudah fasih bahasa Inggris.

Ujung Bocur Bungalow

Ujung Bocur Resort, Tanjung Setia, Krui
Ujung Bocur Resort, Tanjung Setia, Krui

Lokasinya berada agak masuk ke dalam dari area Pantai Tanjung Setia. Halaman yang asri dan penataan yang memanjakan mata memang sekilas tampak tempat ini layak dijadikan referensi bagi tamu-tamu yang ingin bermalam dan menikmati ombak di Pantai Tanjung Setia.

Kita bisa bersantai di area tamu dengan kursi sofa yang empuk hingga tertidur, selain itu interior di dalamnya juga dari kriya kayu yang menarik. Apalagi ada bale-bale besar yang langsung menghadap ke arah pantai membuat kami ingin mencoba bersantai sejenak, namun sayang sekali sudah ditempati oleh para bule-bule yang terlebih dahulu menempatinya.

Harga sewa per malam di Ujung Bocur Bungalow ini sekitar Rp 350.000 – Rp 500.000/orang/malam sudah termasuk 3x makan. Berbeda dengan cottage lainnya, disini harga ditetapkan berdasarkan hitungan per orang. Namun, harga ini bersifat selalu berubah tergantung peak season, apabila berkunjung sekitar bulan April sampai September maka harga lebih mahal karena ombak sedang bagus sehingga banyak bule yang datang. Sedangkan, kalau sedang sepi, harga sewa juga lebih murah.

Sumatra Surf Resort

Sumatra Surf Resort, Tanjung Setia, Krui
Sumatra Surf Resort, Tanjung Setia, Krui

Lokasi cottage Sumatra Surf Resort ini berada di bagian dalam lagi dari Ujung Bocur. Cirinya kita bisa melihat dari luar pagar ada semacam joglo besar. Tampaknya resort ini merupakan resort terbesar yang ada di Pantai Tanjung Setia. Halaman depannya tampak biasa saja, namun begitu kaki sudah melangkah masuk ke area joglo, maka kesan istimewa dan tenang bisa segera kita dapatkan.

Fasilitas yang ada di resort ini merupakan fasilitas standar seperti resort pada umumnya. Hanya saja di tengah joglo yang dijadikan sebagai multi function area memiliki meja bilyar yang bisa kita mainkan bersama, selain itu bar minuman alkohol.

Berjalan ke area belakang terdapat rumah-rumah yang dijadikan sebagai homestay bagi tamu menginap. Ada sekitar 16 kamar yang siap dihuni dengan harga sewa antara Rp 350.000 – Rp 500.00/malam/orang dengan fasilitas 3x makan dalam sehari. Halaman belakang langsung menghadap pemandangan laut yang luas dan sangat nyaman untuk bersantai sore menikmati sunset duduk di anjungan kayu.

Agenda Kegiatan Selama Pesona Krui

Melihat dari kesiapan yang sudah ada di Krui bisa dipastikan Krui memiliki destinasi yang dicari oleh para wisatawan untuk dicari dan didatangi. Ayo ke Krui! Masih ada waktu bagi kalian yang ingin menikmati Krui dengan rangkaian acara festival yang diadakan di tempat ini. Semoga Kabupaten Krui ini semakin dilirik para penikmat ombak serta destinasi wisata alam lainnya seperti Pulau Pisang.

Akses menuju Krui saat ini dapat melalui Bandar Lampung kemudian menyewa mobil menuju Krui sekitar 6 – 7 jam perjalanan. Selain itu bisa juga menggunakan jasa mobil travel sekitar 100 ribu / orang.

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata Pesisir Barat yang telah memberi kesempatan pada saya dan teman – teman blogger untuk lebih mengenal keindahan alam Pesisir Barat dalam rangka menyambut Festival Pesona Krui 2017.

pulau pisang krui

Jelajah Pesona Pulau Pisang : Bertemu Teman Baru (Bagian 2)

pesona pulau pisang

Sunyi Tak Berarti Kesepian

Tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan tamu, hanya ada saya berdua dengan mbak Dian. Obrolan kami seolah memiliki frekuensi yang sama tentang bagaimana lewat tulisan kita dapat menaikan pamor pariwisata Indonesia. Barangkali yang kita lakukan kecil dan sederhana namun apabila dilakukan secara konsisten suatu saat kita akan melihat hasilnya. Suara saya yang sudah hampir menghilang karena batuk berkepanjangan ternyata membuat saya terus menghabiskan air minum. Padahal yang seharusnya saya lakukan adalah segera beristirahat. Tapi, tipikal orang seperti saya yang senang bercerita menuntaskan rasa penasaran saya mencari tahu apa hal yang baru sudah pasti ini bukanlah waktu yang tepat untuk tidur.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, sama sekali tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan orang di pulau ini. Semuanya masuk ke dalam bilik ruang. Hembusan angin semakin kencang, membuat kami akhirnya mengakhiri obrolan malam dan kembali ke kamar masing-masing. Saya memutuskan malam itu tidur di luar tepatnya ruang tamu karena begitu melihat isi kamar rasanya tak tega menyempil di antara Yayan, Mas Aries dan Mas Arif yang sudah terlebih dahulu menuju “Pulau Kapuk” dengan nada-nada saling bersautan.

rumah bang jon
Isi kamar homestay Bang Jon
Saya terkapar tidur di luar dan saya suka motif tehel lantainya.

Entah kenapa tidak biasanya mata ini terasa sulit untuk memejamkan mata sejenak. Beristirahat. Bunyi deruan ombak mengenai dermaga masih dapat saya dengarkan dalam keadaan sunyi. Sunyi bukan berarti kesepian. Padahal jarak dari rumah dan dermaga cukup jauh. Kalau sudah seperti ini, biasanya saya hanya berharap waktu cepat berlalu menuju subuh. Ya, subuh adalah waktu terbaik di saat semua orang sedang asyik bergumul dengan selimut hangat tapi akan ada orang rajin yang akan menjalankan ibadah subuh. Setidaknya saya tidak merasa sendirian.

Waktu tidurku sepertinya cukup kacau karena setiap jam selalu terbangun, seolah mendengar suara bisikan. Ketika tidur saya terjaga, ternyata istri Bang Jon baru balik dan dia memberitahu kalau listrik genset akan dimatikan sampai esok pagi. Saya melirik sekilas sekitar pukul 11 malam, untunglah semua baterai kamera dan ponsel sudah terisi penuh. Pilihan tidur di luar sepertinya membuat saya berhalusinasi ditambah lolongan anjing di samping jendela membuat saya makin penuh tanda tanya. Beruntung bunyi alarm segera membangunkan mereka yang sudah tertidur pulas. Satu per satu mereka keluar dari kamar dan saya merasakan sekeliling udara normal kembali. Berbeda seperti yang saya rasakan sebelumnya saat tengah malam.

Bagaikan Menanti Suatu Harapan

sunrise pulau pisang
Suasana pagi di pinggir Pantai Pulau Pisang

Pagi ini kami datang dengan harapan dapat menyaksikan matahari terbit. Hanya satu kata yang dapat membuat kami segera bergerak cepat keluar menuju pantai Pulau Pisang yaitu “Peh!”. Kosakata bahasa Palembang yang membuat kami langsung mengerti dan memahami makna kata tersebut. Saya segera meraih totebag dan berjalan ke arah bibir pantai. Tahukah kalian kalau the best make up itu adalah saat baru bangun tidur pagi hari. Di sana lah kita dapat melihat wujud asli seseorang yang tadinya pintar melukis alis mata dan berdandan, ternyata pagi ini mereka semua tampil apa adanya. Saya tersenyum melihat penampilan kami masing-masing.

Kami pun duduk di kapal jukung milik warga. Tiba-tiba Yayan kembali lagi bersuara, “Ded.. ded.. itu anjingnyo melok nah.. jangan ajak ke sini yee..” segera saya melirik ke arah belakang. Kali ini saya bahkan lebih dekat dengan dirinya, duduk di sampingnya sambal mengelus kepala si anjing. Anjing ini memiliki tubuh yang kokoh dengan bulu yang terawat. Kadang matanya tertutup menikmati tiap elusan yang saya lakukan dari kepala hingga lehernya. Tampaknya dia menyukai perlakuan manja yang diberikan oleh saya dengan mengibaskan ekor belakangnya.

Hidup ini terlalu singkat tanpa meninggalkan jejak yang baik

morning has broken

Saya mengambil potongan kayu yang ada di sekitar kemudian melempar jauh. Ternyata dia sigap segera berlari mengejar dan mencari potongan kayu yang sudah tadi dibuang lalu kembali datang mendekati arah saya. Beberapa kali saya lakukan sampai saya menghentikannya. Sepertinya memang ada chemistry antara saya dengan dia sejak pertama kali datang. Sampai kami pun bertanya kenapa hanya saya yang didekati oleh dia? Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?

Udara pagi memang menyegarkan pikiran, setidaknya untuk udara Pulau Pisang yang masih jauh dari polusi. Perlahan-lahan masuk ke dalam rongga paru-paru naik ke atas membersihkan apa sudah ternoda. Ini adalah oksigen murni. Seberapa banyak harus saya hirup pagi hari ini? Sejenak saya melupakan melihat matahari terbit, karena awan masih pekat menutupi kesempatan kami untuk menikmati pagi. Namun, nikmat pagi sejatinya sudah kami nikmati tanpa harus menantikan kilau matahari terbit yaitu kebersamaan dan udara yang sejuk.

sunrise pulau pisang
Mas Aries sudah asik sendiri dengan tripod dan kamera untuk menangkap momen sunrise
dermaga pulau pisang
Belum sah ke Pulau Pisang kalau belum berfoto di dermaga ini

Pandangan saya terusik melihat kesendirian Mas Aries berada di atas dermaga yang sudah bersiap dengan tripod dan kamera menantikan sunrise dari dermaga. Kali ini saya ingin melihat lebih dekat kondisi dermaga yang sudah rusak berlubang besar. Pantatku ingin segera menjatuhkan diri duduk di pinggir dermaga menikmati apa yang disuguhkan pagi ini sembari melanjutkan bacaan buku yang saya bawa untuk menghabiskan waktu kosong. Suasana Pulau Pisang sangat strategis, Gunung Pugung seolah sangat dekat dengan jarakku. Kabut tipis masih menyelimuti di sekitar.

Sebentar, apa kalian pernah merasakan seolah beban yang ada di pundak kalian sejenak berkurang setelah duduk berdiam diri menikmati pemandangan yang ada di depan kalian? Ufuk sudah menunjukkan sinarnya walau bukan keemasan karena awan masih berusaha menutupi sinarnya. Namun, saya tidak mau menggerutu atau menodai pagiku karena saya tahu apabila berjodoh maka akan ditunjukkan. Sebaliknya, saya terus melanjutkan membaca sesekali melirik Mas Aries yang terus mengatur kamera untuk mendapatkan foto terbaiknya.

Kuberi Nama “Ogik”

Saya merasakan kehadiran seseorang di belakang, dia mengambil posisi persis di sampingku dengan posisi badannya yang tegap. Saya melirik ke samping menghentikan sejenak bacaan buku “Hidup Itu Sederhana” dari Desi Anwar. Lirikkan mataku terus tertuju pada anjing ini. Heran kenapa dia bisa setenang begitu dengan orang baru seperti saya. Lalu saya mulai mengajaknya berkata-kata : “Kamu kenapa sih ikutin aku terus? Tuh di sana masih banyak teman-teman yang lain.”

Dia hanya memalingkan wajahnya sejenak ke kiri lalu menunduk ke bawah. Sejak awal datang dia sudah masuk dalam frame foto saya dengan posisi seperti saya adalah tuannya. Dia pun tak pernah menggonggong apabila berdekatan. Tapi yang saya tahu dia adalah anjing yang pintar untuk berpose, tanpa saya sadari ternyata Mas Aries menangkap momen saat saya sedang bersama dengan si anjing. Indah sekali kami dalam satu frame.

“Kamu aku kasih nama Ogik ya? Suka?” Dia pun segera menjulurkan lidahnya dan menegakan badannya. Sekilas saya melihat sinar matanya seolah ada tatapan optimis dalam dirinya yang membuat saya tertular aura pesonanya. Memesona itu adalah ketika kita dilirik oleh orang karena suatu reaksi yang kita lakukan secara sederhana. Sehingga membuat orang lain akan terpukau bahkan senang berada di dekatnya. Tampaknya aura saya berhasil membuat Ogik memesona terhadapku. Sempat saya mengira apa dia merasakan kesepian sebab seharian mengeliingi Pulau Pisang saya hanya melihat satu anjing, sisanya gerombolan kambing.

Langit sudah semakin cerah membuat kami bergegas kembali ke dalam rumah untuk bersiap diri kembali ke Krui. Ogik terus mengikutiku dari belakang menuju ke rumah Bang Jon. Pagi ini saya mendapatkan teman baru di Pulau Pisang. Kalian tentu bertanya kenapa saya memberi dia nama Ogik, sebab dulu saya pernah memiliki seekor anjing dan nama Ogik selalu melekat sewaktu saya melihat sosok anjing yang pintar.

foto bersama teman
Foto bersama di depan rumah Bang Jon. Ada Ogik ikut nyempil haha…

Kapal jukung kami telah siap untuk mengangkut kami kembali ke Krui. Satu per satu mulai naik ke atas kapal yang telah dinyalakan mesinnya. Arus air laut pagi ini lebih kencang, perlahan kami mulai meninggalkan Pulau Pisang yang telah memberikan kenangan indah di tiap benak masing-masing. Saya tak lupa berpamitan dengan Ogik meninggalkan dia di rumah Bang Jon. Sepertinya Ogik menyadari kalau saya akan berpamitan. Lagaknya seperti biasa membalikkan badan seolah tidak ingin disapa namun dia tetap ingin masuk dalam frame foto bersama kami di depan rumah Bang Jon. Anjing pintar!

Berjumpa Gerombolan Lumba-Lumba Di tengah Laut

Sewaktu perjalanan kembali ke Krui, kami dikagetkan dengan bayangan yang melompat-lompat dari dalam air. Kami semua yang berada di atas kapal jukung berteriak histeris seketika!

“Lihat! Lihat! Itu lumba-lumba!… whoaaaa….”

“Buruan fotoin… rekam video.”

Rombongan lumba-lumba itu jumlahnya lebih dari 10 ekor, mereka bergerombolan bahkan ada yang berada di dekat kapal kami kemudian dia meloncat. Beberapa kali saya gagal mendapatkan foto lumba-lumba akhirnya memutuskan untuk menikmati saja perjalanan kembali ke Krui. Sejatinya ada momen yang memang tidak bisa saya tangkap lewat kamera sisanya menikmati dan menuliskan kembali apa yang saya rasakan. Bertemu dengan lumba-lumba seolah bonus perjalanan kami agar kami terus mengenang cerita manis saat itu.

Lumba-lumba di Pesisir Barat menjadi ikon baru pariwisata setempat. Sungguh membuat saya makin ingin berkeliling Bandar Lampung dari tiap sudut. Semoga saja ada kesempatan untuk kembali ke Lampung dan bercerita kembali di deddyhuang.com.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, ada suatu perasaan yang sudah kurasakan sejak pertama kali datang. Menginjakkan kaki menyentuh pasir putih. Apalagi setelah berjalan kaki melihat saat ke masjid sambil melihat suasana perkampungan warga di Pulau Pisang. Saya suka suasana tenang dan teduh. Perasaan inilah yang saya ingin saya ungkapkan sedari tadi, namun sulit sekali menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan eksotisme Pulau Pisang dengan segala potensi wisata indah yang dimiliki oleh Pesisir Barat, Lampung.

Kalau kalian berkunjung ke Pulau Pisang, semoga berjumpa dengan Ogik. Pintaku selfie-lah dengan dia dan kirimkan fotonya untukku. Sampaikan salam rinduku dengan dia. Banyak teman yang bilang untuk membawa Ogik pulang, namun hatiku berkata tidak Ogik harus di Pulau Pisang agar ada alasan untukku kembali lagi ke Pulau Pisang menikmati syahdu dan tenangnya pulau tersebut. (DH).

Tips & Budget Berkunjung ke Pulau Pisang

my essential stuff for traveling

Saya termasuk senang buat mix-match pakaian dan perlengkapan saat traveling. Bagi saya ada suatu rasa yang sulit diungkapkan. Namun kalian pasti pernah mengalami hal yang sama. Entah kenapa tiap traveling hasrat ingin belanja selalu sulit dibendung, tapi kalau masih ada barang yang masih bisa digunakan yang dipakai saja. Kecuali seperti membeli pakaian baru agar tampil maksimal 😀

Selain kalian juga mempersiapkan kebutuhan barang pribadi selama traveling sudah pasti menyiapkan budget selama liburan. Berikut rincian gambaran budget yang dihabiskan selama di Pulau Piasng.

  • Kalian dapat menggunakan mobil travel dari Bandar Lampung ke Krui dengan harga Rp 100.000,-.
  • Sewa kapal jukung ke Pulau Pisang dari Pelabuhan Kuala Stabas sekitar Rp 25.000,-/orang untuk sekali jalan namun harus menunggu kapal sampai penuh penumpang sekitar 10 – 15 orang. Apabila kalian datang dengan rombongan dapat menyewa kapal jukung dengan biaya Rp 600.000,-/kapal (PP). Sudah termasuk bonus mencari ikan lumba-lumba di pagi harinya.
  • Homestay Bang Jon menyewakan kamar dengan biaya sewa Rp 200.000,-/orang/malam dan sudah termasuk 3 kali makan (sarapan, makan siang, dan makan malam).
  • Sewa motor untuk berkeliling di Pulau Pisang Rp 60.000,-/motor.
  • Pastikan membawa sunblock SPF minimal 30.
  • Selalu bawa baterai cadangan dan powerbank.
  • Bawa perlengkapan mandi sendiri.
  • Pulau Pisang kurang cocok untuk snorkling karena ombaknya kencang. Kalau untuk surfing masih memungkinkan.
  • Contact person : Aries Pratama (082186839738) bagi kalian yang membutuhkan orang lokal untuk menyediakan paket perjalanan ke Krui dan Pulau Pisang.

Terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Bandar Lampung yang mengajak saya untuk menikmati Pesona Krui 2017. Cari tahu tentang Pesisir Barat, Krui lewat Instagram @kruitourism dan tagar #PesonaKrui #IjaMitKrui

Baca cerita sebelumnyaJelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

Baca cerita keseruan teman perjalanan saya selama di Pulau Pisang!

  1. Annie Nugraha : Hatiku Tertambat di Pulau Pisang
  2. Dian Radiata : Pulau Pisang Lampung
  3. Haryadi Yansyah : 24 Jam Bermanjah di Pulau Pisang
  4. Katerina : Jelajah Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat

Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

pesona pulau pisang

Pulau Pisang. Nama yang menarik di telinga dan membuat saya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan kali ini bersama rombongan travel blogger lainnya ke Pesisir Barat, Krui, Lampung. Seperti apakah Pesona Pulau Pisang?

***

Ini kali pertama saya traveling bersama teman-teman travel blogger lainnya. Ada Mbak Rien (travelerien.com), mbak Dian (adventurose.com) dan Yuk Annie (annienugraha.com), sedangkan Yayan (omnduut.com) dia sudah kuanggap teman baik karena kita satu kota.

Langit sudah semakin malam begitu kami tiba di Pesisir Barat, Krui sekitar pukul 8 malam. Perjalanan hanya dapat ditempuh melalui darat dan lumayan melelahkan. Mulai dari Palembang menggunakan kereta menuju Stasiun Tanjung Karang membutuhkan waktu 10 jam. Kemudian, perjalanan darat dari Bandar Lampung melewati Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, serta melalui Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Barulah kami tiba di Labuhan Jukung Krui. Total perjalanan darat membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam perjalanan. Namun, ada bagian yang saya suka di perjalanan kali ini, yaitu berjalan bersama teman-teman yang memiliki minat yang sama : traveling dan berbagi lewat tulisan.

Mobil kami merapatkan ke salah satu warung makan. Kulirik jarum jam di pergelangan tangan sembari menahan batuk yang belum sembuh. Nafsu makanku juga perlahan menghilang. Barangkali tubuh ini memang tidak bisa difosir lagi setelah perjalanan minggu lalu saya ke Pagaralam. Hingga saya pun berhalusinasi ketika mobil merapat ke pinggir. Dalam penglihatan saya ada pondokan dan halaman yang luas.

“Wah asik ya ini halaman luas banget, besok pagi pasti seru main,” celetukku di dalam mobil. Heran, semua orang tampak diam begitu mendengar celetukan saya.

Krik..krik..

sewa penginapan di krui
Penginapan milik Dinas Pariwisata Krui

“Samping kita ini laut, mas Ded,” balas mas Ardi yang memegang kemudi setir. Seisi mobil pun tertawa mendengar dan saya pun seolah ingin mencari bantal untuk menutup muka. Ini akibat mata dan otak tidak sinkron. Tidak beberapa lama, kami diberikan kamar untuk beristirahat sebelum besoknya akan berlabuh ke Pulau Pisang.

“Ciri khas di Krui ini kalau lampunya suka turun, soalnya masih pakai genset,” pesan mas Aries dari Dinas Pariwisata Krui yang mengundang kami untuk Pesona Krui sebelum berpamitan. Badanku langsung menjatuhkan diri di atas kasur alas di penginapan sesampainya dan mencoba terlelap hingga esok pagi.

Cerita Segelas Kopi Hitam

pantai labuhan jukung
Cuaca pagi di Labuhan Jukung Krui, Pesisir Barat. Foto dari Mas Aries.

Saya menyukai tempat-tempat baru, bahkan kalau bisa tempat yang barangkali masih minim publikasi sebab tempat tersebut masih alami dan akan terasa nikmat saat sedang traveling. Karakteristik alami bagi saya karena belum adanya listrik dan penginapan ala kadarnya. Dua aspek ini merupakan bagian yang harus bisa kita terima dulu. Kadang kita terlalu nyaman dengan apa yang kita miliki hingga harus berpindah tempat dan beradaptasi kembali. Sanggup kah?

Sistem alarm alamiku sudah membangunkan diriku sedari subuh. Saya melirik ke samping ternyata Yayan dan Mas Arif, suami mbak Rien masih tidur. Sinyal telepon pun tidak kuat, sesekali bisa mengakses media sosial sisanya hilang. Saya segera bersiap diri untuk menikmati pemandangan pagi seutuhnya sembari menertawai kejadian ngelantur saya tadi malam.

Awalnya saya berpikir apa benar warna air laut di Krui memang biru seperti gambar yang saya temukan saat menelusuri tentang Krui. Ternyata, setelah datang melihat sendiri saya pun mengakui bahwa Pesisir Barat memiliki keindahan warna lautnya. Indah sekali. Laut di hadapan saya berwarna biru menyatu dengan gradasi warna langit dan Gunung Pugung. Jari saya asyik memainkan shutter kamera yang saya sewa harian lewat Metro Camera selama trip ini, sebab kamera saya sedang diservis karena kerusakan kabel fleksibel.

sarapan pagi
Menikmati sarapan pagi dengan pemandangan laut
morning coffee
Ngopi kuy!

Dari arah kejauhan, mas Aries datang membawakan kami sarapan pagi nasi uduk dan gorengan. Tapi sepertinya tidak lengkap rasanya kalau tidak ditemani oleh kopi dan teh. Maka kami pun memesan secangkir kopi hangat. Lengkaplah sudah kebersamaan kami menikmati pagi di Krui berlatarkan pemandangan hamparan laut dan deburan ombak di Labuhan Jukung Krui. Ngopi kuy!

Berlabuh Di atas Ombak Menuju Pulau Pisang

pelabuhan kuala stabas krui
Pelabuhan Kuala Stabas, Krui

“Cepat! Cepat! Naiklah!” suara bapak nelayan kapal jukung berteriak ke kami di pinggir Pelabuhan Kuala Stabas. Pelabuhan ini berada tidak jauh dari penginapan kami milik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Krui. Lebih tepatnya Pelabuhan Kuala Stabas dekat dengan Bukit Selalaw yang menurutku lokasi ideal untuk menikmati laut Samudera Hindia.

Saat berjalan menuju bibir pelabuhan kita akan melewati sebuah tempat yang mirip seperti tempat pelelangan ikan. Beberapa kapal jukung juga berbaris terayun ombak. Sedari tadi mas Aries memberitahu kalau laut sedang bagus dan cocok untuk menyebrang ke Pulau Pisang menggunakan kapal jukung, kapal dengan ketinggian sedang dan memiliki sayap masing-masing di samping.

pelelangan ikan krui
Semacam pelelangan ikan di Pelabuhan Kuala Stabas
kapal jukung
Di atas kapal jukung berlabuh menuju Pulau Pisang
pulau pisang
Pulau Pisang tampak dari kejauhan

Saya percaya kalau para nelayan ini sudah memiliki daya insting yang kuat dalam memperkirakan kondisi ombak. Apabila ombak sedang tidak bersahabat sudah pasti rencana akan ditunda walaupun menyebrang ke Pulau Pisang yang tampak dekat jaraknya hanya sejauh mata memandang. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menyebrang ke Pulau Pisang, jarak yang saya prediksi seperti dari Dermaga Ampera menuju Pulau Kemaro menggunakan kapal ketek juga sama yaitu 6 km.

Kami semua telah dilengkapi dengan jaket pelampung yang menjadi salah satu standar dalam keselamatan. Dalam hati saya terus berucap akan keselamatan dan ombak-ombak yang jinak hingga mengantarkan kami dengan selamat sampai tujuan. Namun, sesekali hembusan ombak membelai manja wajah saya memberikan kesegaran di tengah laut dengan terik matahari yang makin meninggi. Sembari menahan mabuk laut, Pulau Pisang yang seolah tampak dekat di depan mata seolah oase bagi saya ingin segera sampai.

Pulau Pisang, Bagaikan Berkunjung ke Pulau Milik Pribadi

pulau pisang
Pulau Pisang, Pesisir Barat

Begitu melihat gambaran pulau ini di hadapan saya. Maka dalam benak pun bertanya, apa banyak ditanam dengan perpohonan pisang?

Pulau Pisang adalah salah satu pulau paling barat yang ada di Provinsi Lampung yang langsung menghadap Samudra Hindia. Pulau ini merupakan satu kecamatan sendiri dalam Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Ternyata asal mula nama Pulau Pisang dulunya karena banyak ditanami pohon pisang selain itu ada juga yang mengatakan bentuk pulaunya seperti pisang apabila kita mengambil lewat foto drone.

Tiba-tiba seperti ada sekelumit perasaan yang saya rasakan begitu kapal jukung mulai menepi di bibir pantai Pulau Pisang. Hamparan pasir putih dan air yang jernih menyentuh kakiku saat pertama kali turun dari atas kapal. Sandal jepit warna kuning seolah berkata ingin segera mengelilingi tempat ini, namun saya masih ingin menyakinkan perasaan yang tadi tiba-tiba datang seolah ingin memberitahuku akan sesuatu.

Matahari makin menyengat, kami mengikuti jejak langkah menuju sebuah rumah yang merupakan rumah penduduk lokal. Malam ini kami akan menginap di rumah penduduk lokal yang biasanya digunakan sebagai rumah singgah bagi tiap pelancong berkunjung ke Pulau Pisang. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pulau ini punya karakteristik yang sangat alami, karena belum adanya listrik dan penginapan. Akan tetapi di sinilah titik kenikmatan yang sulit digambarkan bagi orang yang senang traveling yaitu cukup menikmati saja.

homestay bang jon
Rumah Bang Jon sebagai rumah singgah di Pulau Pisang
anak pulau pisang
Anak kecil berlarian di pasir putih Pulau Pisang

Saya merasakan ada sesosok makhluk yang mengikutiku dari belakang. Rasanya sejak kami turun dari kapal jukung, sosok tersebut terus melihatku dari arah jauh. Perasaan yang tadinya saya kira hanya sekilas saja namun ternyata kehadirannya semakin kuat di di depanku. Ternyata ada seekor anjing yang terus mengikuti saya tanpa saya sadari. Dia sepertinya senang sekali berjalan dekat saya sementara itu Yayan yang sudah mewanti-wanti agar saya menjauhkan anjing itu dari jaraknya.

“Tenanglah, dio ndak ganggu, Yan. Nak ajak maen ini haha..” godaku ke Yayan.

Setelah kami meletakkan semua barang di rumah Bang Jon, rumah singgah tempat kami bermalam. Kami segera melancarkan niat untuk bersantai di dermaga rusak yang sudah tidak digunakan lagi. Kondisinya yang rusak dan berlobang besar ternyata menjadi spot menarik di mata kami. Tanpa disadari ternyata dermaga ini merupakan ikon kalau bertamu di Pulau Pisang.

Saat kami sedang menikmati berfoto, tiba-tiba saja anjing yang sedari tadi mengikuti saya dia langsung masuk ke frame kamera yang sedang dipegang oleh Yayan saat ingin memfotoku. Posenya mengalahkan pose saya yang sudah lengkap dengan kain tradisional. Si anjing ini dengan santainya merenggangkan badan kemudian menggulingkan badan. Kocak sekali! Baiklah, dia memberikan salam doggy style.

Kali ini panggilan bagi kaum Adam untuk menjalankan kewajiban sholat jumat. Di sekitar Pulau Pisang terdapat masjid yang dibangun untuk aktivitas sholat berjamaah penduduk lokal. Berhubung saya tidak sholat, saya mengikuti Yayan dan Mas Aries yang menjalankan sholat jumat karena kegemaran saya melihat tiap arsitektur bangunan, salah satunya masjid. Ukuran masjidnya memang tidak terlalu besar, namun lumayan untuk menampung penduduk Pulau Pisang yang jumlah kepala keluarganya sudah sedikit.

masjid pulau pisang
Bangunan masjid di Pulau Pisang
rumah pulau pisang
Suasana perkampungan Pulau Pisang
santap siang di pulau pisang
Menyantap makan siang di Pulau Pisang. Foto dari Mbak Rien

Menurut cerita mas Aries, sebagian penduduk Pulau Pisang lebih memilih berpindah ke Krui yang jaraknya dekat dan mengarah ke perkotaan. Sehingga karena jumlah kepala keluarga yang sedikit ini saya melihat rumah-rumah yang sengaja dikosongkan dan tidak terurus lengkap dengan perabotan rumah mereka. Di kampung ini tidak ada mobil, hanya ada jalan setapak yang cukup dilewati motor. Selain itu, beberapa ekor kambing yang diternakan. Anak-anak Pulau Pisang orangnya sopan tapi pemalu begitu saya mencoba menyapa mereka.

Kemesraan kami masih berlanjut setelah menyantap makan siang bersama di rumah Bang Jon. Saya melihat keluar dari rumah Bang Jon, ternyata anjing tersebut masih duduk di depan rumah. Dia sepertinya menyadari kehadiran saya.

Tak berapa lama hidangan makan siang pun sudah disiapkan. Mereka menyiapkan menu masakan rumah yang istimewa berupa ikan goreng, sayur lodeh daun katuk, kentang cabe merah, pete rebus dan gulai buah kelor. Nikmat sekali kan! Sayur kelor menjadi makanan khas di Pulau Pisang, makanya kami dibuatkan spesial untuk mencicipi hidangan khas setempat.

Keliling Pulau Pisang Pakai Motor

keliling pulau pisang
Selfie sebelum berkeliling Pulau Pisang menggunakan motor. Foto dari mbak Rien.

Kami mendapatkan kejutan kembali, kejutan yang membuat perjalanan seolah dipermudah yaitu mengelilingi luas pulau menggunakan motor. Tentu saja kami menyambut kejutan tersebut dengan senang hati. Bayangkan saja keseruan yang akan kami rasakan motoran di Pulau Pisang. Berkeliling Pulau Pisang menikmati tiap jengkal pesonanya tidak membutuhkan waktu yang lama. Harapan kami sorenya bisa menikmati sunset di pinggir pantai.

Motor kami melaju pelan menyusuri jalanan setapak di tengah pemukiman warga Pulau Pisang. Sepanjang jalan memang sedikit warga yang berada di luar, mungkin mereka sibuk di dalam rumah masing-masing. Dari balik spion saya melihat Mas Arif yang membonceng Mbak Rien, Yayan bersama Mbak Dian, sedangkan saya dengan Ayuk Annie, wanita usia milenia yang masih memiliki banyak darah muda dan kuat mengeret koper saat traveling 😆 Kopi dan rokok, dua hal yang tak terpisahkan dari sosok Yuk Annie. Saya baru pertama kali berjumpa dengannya dan mbak Dian dari Batam. Selama ini kami hanya berinteraksi lewat dunia maya. Sedangkan mbak Rien ini kali kedua berjumpa setelah kemarin dia datang ke acara Festival Gerhana Matahari Total di Palembang.

SDN Pasar Pulau Pisang

sd pulau pisang
SD Pulau Pisang; terdapat 2 SD dan 1 SMP di Pulau Pisang. Foto dari mbak Rien.

Motor kami menepi ke pinggir dinding, insting kami mengatakan untuk berhenti sebentar di bangunan tua yang tampak instagramable. Bangunan yang ada di hadapan kami merupakan salah satu bangunan sekolah yang sudah ada sejak kolonial Belanda sehingga dianggap sebagai salah satu bangunan sejarah yang ada di Pulau Pisang.

Menurut tutur kata dari teman mas Aries, bangunan SDN Pasar Pulau Pisang ini masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hanya ada 5 ruang kelas yang disekat sama dinding kayu pemisah. Bangunan aslinya hanya bagian depan seperti yang kita lihat, sedangkan bangunan belakang mengalami renovasi karena rusak dan tambahan ruang.

Bentuk pintu yang tinggi tanpa jendela, hanya dibuat dinding berlubang sehingga membuat sirklus udara masuk lebih banyak. Informasinya di Pulau Pisang ini hanya memiliki dua SD dan satu SMP, sehingga untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maka anak-anak tersebut berpindah ke pulau sebelah.

Menara Rambu Suara

menara rambu suara
Menara Rambu Suara, menara 4 tingkat di Pulau Pisang

Tanganku kembali men-starter motor matic warna biru lalu membuntuti motor di depan yaitu mas Aries sebagai pembuka jalan. Beruntung akses jalan di Pulau Pisang bukanlah jalanan yang parah, tadinya saya mengira jalanan kurang mulus, ternyata sudah ada jalan setapak yang disemen rata ditambah variasi tanjakan dan turunan yang membuat saya harus menurunkan Yuk Annie di tengah jalan daripada membahayakan kami berdua.

Sesekali saat saya mengendarai motor harus membungkukkan dan memiringkan badan karena menembus ranting pohon yang tumbuh lebat di pinggir jalur. Saya melihat keseruan saat motoran di Pulau Pisang, jalur track-nya membuat adrenalin dipacu untuk lewati tantangan di depan.  Tanpa disadari kami sudah memasuki hutan cengkeh yang tumbuh subur milik warga. Dulunya cengkeh menjadi komoditi yang menjadi sektor ekonomi penduduk setempat.

jalan setapak di pulau pisang
Jalan setapak menuju Menara Rambu Suara
kebun cengkeh
Kebun cengkeh termasuk komoditi warga setempat

Kami sudah sampai di tujuan selanjutnya yaitu Menara Rambu Suara, menara yang terdiri dari 4 tingkat menjulang ke atas. “Wah, aku harus naik sampai ke atas ini,” ujarku dalam hati yang sudah mengambil posisi untuk naik ke atas.

Dony, teman mas Aries berpesan kalau menara ini hanya bisa dinaikin maksimal 5 orang karena semakin ke atas bentuknya semakin menyempit. Awalnya menara ini memiliki ketinggian sekitar 30 meter atau memiliki 5 tingkat dengan struktur besi peninggalan Belanda. Namun, mengingat usia yang sudah tua dan ketinggian yang lumayan membuat dengkul lemas akhirnya dihilangkan satu tingkatan. Saya percaya pemandangan di puncak teratas pasti akan lebih indah daripada berada di tingkat 2 atau 3. Maka saya niatkan untuk mencoba menaiki satu tingkat lagi untuk merasakan melihat Pulau Pisang secara utuh.

pemandangan menara rambu suara
Pemandangan dari atas Menara Rambu Suara

Kaki tangan saya mulai merasakan gemetar dan hembusan angin yang kencang, sesekali pohon kelapa mulai bergoyang karena terpaan angin. Cengkraman tangan dikuatkan agar sedangkan pijakan kaki di tiap tangga dimantapkan. Kalau kalian bertanya rasanya sudah pasti berbeda sensasinya sewaktu saya mendaki Puncak Wayag, Raja Ampat. Menaiki menara ini seperti mengajarkan saya dengan suatu filosofi : Semakin tinggi posisi seseorang maka semakin kencang pula angin bertiup untuk merobohkannya. Ketika sudah berhasil naik sampai puncak teratas, maka semua rasa letih itu terbayarkan dengan hamparan pulau, laut dan hembusan angin.

Pemandangan laut dengan gradasi warna yang indah. Atap-atap rumah penduduk di kelilingi oleh pohon kelapa serta ada barisan kapal-kapal jukung di tepi pantai. Bagai suatu lukisan pemandangan yang bisa kita saksikan dengan nyata memanjakan mata serta menyegarkan pikiran. Inilah pesona alam Pesisir Barat yang memang tak terbantahkan.

Gua Batu Liang

batu liang pulau pisang
Pemandangan di balik Gua Batu Liang

Ada satu spot yang menurut saya lumayan ekstrim karena melewati jalur yang lebih menantang. Motor kami hentikan di pinggir sebuah jembatan kemudian berjalan kaki masuk ke hutan dan semak. Jalan masuknya memang tidak mulus selain itu kita juga melewati sebuah kuburan tua yang dipagari oleh kayu dan beratap genteng. Kuburan ini persis di pinggir jalan saat kita mau masuk. Lalu tidak jauh di depannya terdapat sebuah lubang berukuran 1 meter mirip seperti sumur tua.

Kami pun melanjutkan perjalanan melewati tanaman berdaun panjang dan berduri. Kira-kira tempat seperti apa yang akan kami lihat di balik semak-semak seperti ini. Tak berapa lama, mas Aries memberitahu kalau Batu Liang merupakan salah satu lokasi untuk menikmati sunset dari atas bukit jurang curam melihat hempasan ombak menyentuh berbatuan.

batu liang

Kami pun duduk sejenak memperhatikan satu persatu berpose di atas batu jurang yang membuat kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Tiba-tiba saya merasakan getaran dari dalam tas menandakan ada pesan masuk. Kami semua saling melirik, di tempat ini ternyata bisa mendapatkan sinyal kencang? Sedangkan sedari tadi kami jalan saya merasakan kesusahan sinyal untuk mengupdate status di media sosial. Kok bisa?

Berhubung tempat ini cukup membahayakan dan lumayan sempit untuk menampung tiap orang yang ingin berfoto, maka kami pun tidak ingin membuat waktu untuk segera berpindah tempat untuk menikmati sunset.

Batu Gukhi

batu gukhi
Pemandangan Batu Gukhi, Pulau Pisang

Total hampir dua jam kami mengitari Pulau Pisang dari ujung balik ke ujung kembali. Hari juga mau menjelang sore. Entahlah apa ada sunset yang dapat kami lihat dan nikmat melihat langit mulai menghitam. Kami pun mencari kembali lokasi yang tepat untuk bersantai sore di Pulau Pisang. Sebagai bayangan kalian kalau pulau ini memang tidak terlalu besar sehingga mudah untuk dijelajahi tiap sudut.

Suasana “meneduhkan” bisa kita rasakan sewaktu melewati rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Barangkali karena kami beramai-ramai, kalaupun sendirian barang kali saya juga tak berani. Sedangkan rumah penduduk yang masih ditempati rata-rata berada di pinggir laut. Mas Aries dan Dony sepertinya layak menjadi tour guide yang ramah dan mengobati rasa penasaran kami untuk mengeksplore lagi di pulau ini.

batu gukhi
Air jernih di sekitar Batu Gukhi
ombak kencang
Awan pekat dengan ombak bergulung

Sampailah kami tepat di pinggir pantai berpasir putih dengan deruan ombak yang tinggi. Motor kami pepetkan ke samping untuk menantikan sunset sore. Semoga saja dapat berjodoh karena menantikan sunset seperti menantikan jodoh. Jika berjodoh maka kita bisa bertemu.

Kami menghabiskan waktu sore dengan duduk-duduk bersantai, mengambil beberapa adegan foto yang memang instagramable dengan latar pasir putih, gulungan ombak tinggi. Dari tempat-tempat yang kami datangin sedari siang, sepertinya tempat ini merupakan terbaik untuk bersantai menghabiskan waktu.

“Apa ini namanya mas Aries?” tanya kami serempak.

“Batu Gukhi.”

Hatiku seperti memiliki koneksi dengan tempat ini. Seolah pernah berkunjung ke tempat ini namun hanya dalam khayalan. Bongkahan batu besar di hadapan saya seolah wujud wajah seseorang yang sedang menghadap ke laut. Tampaknya batu tersebut terbentuk secara alami oleh kikisan air laut yang terus menempar dinding batu.

levitasi batu gukhi

Gulungan ombak makin menjadi tinggi, saling berkejaran dan berlawanan masing-masing. Ada rasa ingin menangkap momen tersebut, namun hati ini terasa getir merasakan hempasan tiap gesekan air. Niat kami diurungkan untuk menantikan bayangan indahnya sunset di Pulau Pisang sebab awan semakin menghitam dan angin sudah merobohkan motor kami di parkiran. Kami memilih pulang, menghangatkan badan kemudian makan malam bersama.

Melihat Tenun Kain Tapis

pengrajin kain tapis
Pengrajin kain tapis di Pulau Pisang

Angin bertiup dengan kencang membuat daun pintu bergerak dengan sendirinya. Padahal bagi kita yang tinggal di perkotaan, pukul 7 malam masih pagi dan kami duduk lesehan sambil bercerita mengenai potensi pariwisata yang ada di Pulau Pisang. Masing-masing kepala memberikan unek-unek yang baik dan merasakan Pulau Pisang memang memiliki wisata yang memikat hati tiap orang.

Sesekali saya melirik ke arah luar pintu melihat anjing yang sedari pagi mengikuti saya ternyata sedang tiduran dengan mata sayunya. Saya pikir anjing ini merupakan milik kepunyaan Bang Jon, pemilik rumah singgah yang kami tumpangin malam ini. Terkadang berbicara mengenai pariwisata memang seperti simalakama, kita tidak bisa menuntut pemerintahan setempat untuk bergerak. Hanya yang dapat kita lakukan adalah apa yang dapat kita berikan untuk  pariwisata, salah satunya becerita tentang indahnya tempat tersebut sudah cukup agar orang lain juga dapat ikut merasakannya.

kain tapis
Kain tapis yang dibuat berdasarkan pesanan

Tiba-tiba Mas Aries menawarkan kami untuk melihat kerajinan Tapis, kain khas Lampung di salah satu rumah penduduk. Kami tipe traveler yang menyukai sejarah dan hal-hal baru, sudah pasti sepakat menerima tawaran tanpa perlu berpikir dua kali. Cuaca malam kami ditemani rintik-rintik hujan dengan hembusan angin yang kencang. Untungnya lokasi rumah penduduk hanya berada di belakang tempat kami bermalam.

Di sebuah rumah batu berdesain jadul, saya melihat alat tenun berukuran panjang. Lewat informasi dari ibu yang menenun tapis ini ternyata hampir semua penduduk Pulau Pisang memiliki keahlian menenun tapis yang sudah turun temurun. Kegiatan ini mereka kerjakan sebagai serabutan apabila ada pesanan untuk membuat pesanan kain atau bisa juga dijadikan hiasan lainnya.

Proses tapis ini dikerjakan dengan cara menjahit kain sesuai motif yang telah digambar. Berbeda dengan teknik menenun kain Songket Palembang namun memiliki kesamaan lamanya waktu pengerjaan kurang lebih bisa 2 sampai 3 bulan untuk menyelesaikannya. Harga jual tenun Tapis ini dijual kisaran mulai dari 1,5 juta sampai 3 juta sesuai dengan kerumitan motif dan benang yang digunakan. Benang yang digunakan adalah jenis benang emas.

Saya tak menyangka kalau teman-teman lainnya langsung balik badan masuk ke kamar setelah kami melihat proses tenun kain Tapis. Saya melirik jam baru pukul 8 malam, akhirnya menyisahkan saya dan mbak Dian berdua di ruang tamu sambal bercerita ngalor ngidul seputar dunia blog. Memang menyenangkan bisa berjumpa langsung dengan teman-teman yang tadinya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, kini dapat bertemu langsung.

Bersambung ke bagian dua.

Pesona Krui 2017 – Ija Mit Krui

Perjalanan satu hari penuh di Pulau Pisang memang menyenangkan. Tempat ini masih alami dan jauh dari rombongan bala-bala sehingga sangat cocok untuk menikmati momen liburan serta berinteraksi dengan penduduk lokal. Mengenal lebih dekat bersama mereka. Kalian juga ingin merasakan pengalaman seperti yang saya rasakan bersama teman-teman travel blogger lainnya? Ija Mit Krui! Ayo datang ke Krui!

Catat kalender event Krui yang akan mengadakan Festival Pesona Krui 2017 pada 13 – 22 April 2017. Festival ini akan mengajak kalian untuk semakin mengenal potensi wisata alam terbaik yang dimiliki oleh Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Apabila kalian sedang berkunjung ke Krui, sempatkanlah bermalam di Pulau Pisang yang penuh cerita sederhana namun berkesan seperti yang saya rasakan.

Ucapan Terima Kasih

  • Terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Bandar Lampung yang mengajak saya untuk menikmati trip Pesona Krui 2017 mulai dari tanggal 16 – 18 Maret 2017
  • Terimakasih untuk Mas Aries Pratama dari Dinas Pariwisata Krui
  • Terimakasih untuk akun medsos Lampung yang telah baik merepost foto kami untuk menyebarkan informasi #PesonaKrui #iJamitKrui
  • Cari tahu tentang Krui lewat Instagram @kruitourism

Baca cerita keseruan teman perjalanan saya selama di Pulau Pisang!

  1. Annie Nugraha : Hatiku Tertambat di Pulau Pisang
  2. Dian Radiata : Pulau Pisang Lampung
  3. Haryadi Yansyah : 24 Jam Bermanjah di Pulau Pisang
  4. Katerina : Jelajah Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat