Jelajah Pesona Pulau Pisang : Bertemu Teman Baru (Bagian 2)


pesona pulau pisang

Sunyi Tak Berarti Kesepian

Tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan tamu, hanya ada saya berdua dengan mbak Dian. Obrolan kami seolah memiliki frekuensi yang sama tentang bagaimana lewat tulisan kita dapat menaikan pamor pariwisata Indonesia. Barangkali yang kita lakukan kecil dan sederhana namun apabila dilakukan secara konsisten suatu saat kita akan melihat hasilnya. Suara saya yang sudah hampir menghilang karena batuk berkepanjangan ternyata membuat saya terus menghabiskan air minum. Padahal yang seharusnya saya lakukan adalah segera beristirahat. Tapi, tipikal orang seperti saya yang senang bercerita menuntaskan rasa penasaran saya mencari tahu apa hal yang baru sudah pasti ini bukanlah waktu yang tepat untuk tidur.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, sama sekali tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan orang di pulau ini. Semuanya masuk ke dalam bilik ruang. Hembusan angin semakin kencang, membuat kami akhirnya mengakhiri obrolan malam dan kembali ke kamar masing-masing. Saya memutuskan malam itu tidur di luar tepatnya ruang tamu karena begitu melihat isi kamar rasanya tak tega menyempil di antara Yayan, Mas Aries dan Mas Arif yang sudah terlebih dahulu menuju “Pulau Kapuk” dengan nada-nada saling bersautan.

rumah bang jon
Isi kamar homestay Bang Jon
Saya terkapar tidur di luar dan saya suka motif tehel lantainya.

Entah kenapa tidak biasanya mata ini terasa sulit untuk memejamkan mata sejenak. Beristirahat. Bunyi deruan ombak mengenai dermaga masih dapat saya dengarkan dalam keadaan sunyi. Sunyi bukan berarti kesepian. Padahal jarak dari rumah dan dermaga cukup jauh. Kalau sudah seperti ini, biasanya saya hanya berharap waktu cepat berlalu menuju subuh. Ya, subuh adalah waktu terbaik di saat semua orang sedang asyik bergumul dengan selimut hangat tapi akan ada orang rajin yang akan menjalankan ibadah subuh. Setidaknya saya tidak merasa sendirian.

Waktu tidurku sepertinya cukup kacau karena setiap jam selalu terbangun, seolah mendengar suara bisikan. Ketika tidur saya terjaga, ternyata istri Bang Jon baru balik dan dia memberitahu kalau listrik genset akan dimatikan sampai esok pagi. Saya melirik sekilas sekitar pukul 11 malam, untunglah semua baterai kamera dan ponsel sudah terisi penuh. Pilihan tidur di luar sepertinya membuat saya berhalusinasi ditambah lolongan anjing di samping jendela membuat saya makin penuh tanda tanya. Beruntung bunyi alarm segera membangunkan mereka yang sudah tertidur pulas. Satu per satu mereka keluar dari kamar dan saya merasakan sekeliling udara normal kembali. Berbeda seperti yang saya rasakan sebelumnya saat tengah malam.

Bagaikan Menanti Suatu Harapan

sunrise pulau pisang
Suasana pagi di pinggir Pantai Pulau Pisang

Pagi ini kami datang dengan harapan dapat menyaksikan matahari terbit. Hanya satu kata yang dapat membuat kami segera bergerak cepat keluar menuju pantai Pulau Pisang yaitu “Peh!”. Kosakata bahasa Palembang yang membuat kami langsung mengerti dan memahami makna kata tersebut. Saya segera meraih totebag dan berjalan ke arah bibir pantai. Tahukah kalian kalau the best make up itu adalah saat baru bangun tidur pagi hari. Di sana lah kita dapat melihat wujud asli seseorang yang tadinya pintar melukis alis mata dan berdandan, ternyata pagi ini mereka semua tampil apa adanya. Saya tersenyum melihat penampilan kami masing-masing.

Kami pun duduk di kapal jukung milik warga. Tiba-tiba Yayan kembali lagi bersuara, “Ded.. ded.. itu anjingnyo melok nah.. jangan ajak ke sini yee..” segera saya melirik ke arah belakang. Kali ini saya bahkan lebih dekat dengan dirinya, duduk di sampingnya sambal mengelus kepala si anjing. Anjing ini memiliki tubuh yang kokoh dengan bulu yang terawat. Kadang matanya tertutup menikmati tiap elusan yang saya lakukan dari kepala hingga lehernya. Tampaknya dia menyukai perlakuan manja yang diberikan oleh saya dengan mengibaskan ekor belakangnya.

Hidup ini terlalu singkat tanpa meninggalkan jejak yang baik

morning has broken

Saya mengambil potongan kayu yang ada di sekitar kemudian melempar jauh. Ternyata dia sigap segera berlari mengejar dan mencari potongan kayu yang sudah tadi dibuang lalu kembali datang mendekati arah saya. Beberapa kali saya lakukan sampai saya menghentikannya. Sepertinya memang ada chemistry antara saya dengan dia sejak pertama kali datang. Sampai kami pun bertanya kenapa hanya saya yang didekati oleh dia? Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?

Udara pagi memang menyegarkan pikiran, setidaknya untuk udara Pulau Pisang yang masih jauh dari polusi. Perlahan-lahan masuk ke dalam rongga paru-paru naik ke atas membersihkan apa sudah ternoda. Ini adalah oksigen murni. Seberapa banyak harus saya hirup pagi hari ini? Sejenak saya melupakan melihat matahari terbit, karena awan masih pekat menutupi kesempatan kami untuk menikmati pagi. Namun, nikmat pagi sejatinya sudah kami nikmati tanpa harus menantikan kilau matahari terbit yaitu kebersamaan dan udara yang sejuk.

sunrise pulau pisang
Mas Aries sudah asik sendiri dengan tripod dan kamera untuk menangkap momen sunrise
dermaga pulau pisang
Belum sah ke Pulau Pisang kalau belum berfoto di dermaga ini

Pandangan saya terusik melihat kesendirian Mas Aries berada di atas dermaga yang sudah bersiap dengan tripod dan kamera menantikan sunrise dari dermaga. Kali ini saya ingin melihat lebih dekat kondisi dermaga yang sudah rusak berlubang besar. Pantatku ingin segera menjatuhkan diri duduk di pinggir dermaga menikmati apa yang disuguhkan pagi ini sembari melanjutkan bacaan buku yang saya bawa untuk menghabiskan waktu kosong. Suasana Pulau Pisang sangat strategis, Gunung Pugung seolah sangat dekat dengan jarakku. Kabut tipis masih menyelimuti di sekitar.

Sebentar, apa kalian pernah merasakan seolah beban yang ada di pundak kalian sejenak berkurang setelah duduk berdiam diri menikmati pemandangan yang ada di depan kalian? Ufuk sudah menunjukkan sinarnya walau bukan keemasan karena awan masih berusaha menutupi sinarnya. Namun, saya tidak mau menggerutu atau menodai pagiku karena saya tahu apabila berjodoh maka akan ditunjukkan. Sebaliknya, saya terus melanjutkan membaca sesekali melirik Mas Aries yang terus mengatur kamera untuk mendapatkan foto terbaiknya.

Kuberi Nama “Ogik”

Saya merasakan kehadiran seseorang di belakang, dia mengambil posisi persis di sampingku dengan posisi badannya yang tegap. Saya melirik ke samping menghentikan sejenak bacaan buku “Hidup Itu Sederhana” dari Desi Anwar. Lirikkan mataku terus tertuju pada anjing ini. Heran kenapa dia bisa setenang begitu dengan orang baru seperti saya. Lalu saya mulai mengajaknya berkata-kata : “Kamu kenapa sih ikutin aku terus? Tuh di sana masih banyak teman-teman yang lain.”

Dia hanya memalingkan wajahnya sejenak ke kiri lalu menunduk ke bawah. Sejak awal datang dia sudah masuk dalam frame foto saya dengan posisi seperti saya adalah tuannya. Dia pun tak pernah menggonggong apabila berdekatan. Tapi yang saya tahu dia adalah anjing yang pintar untuk berpose, tanpa saya sadari ternyata Mas Aries menangkap momen saat saya sedang bersama dengan si anjing. Indah sekali kami dalam satu frame.

“Kamu aku kasih nama Ogik ya? Suka?” Dia pun segera menjulurkan lidahnya dan menegakan badannya. Sekilas saya melihat sinar matanya seolah ada tatapan optimis dalam dirinya yang membuat saya tertular aura pesonanya. Memesona itu adalah ketika kita dilirik oleh orang karena suatu reaksi yang kita lakukan secara sederhana. Sehingga membuat orang lain akan terpukau bahkan senang berada di dekatnya. Tampaknya aura saya berhasil membuat Ogik memesona terhadapku. Sempat saya mengira apa dia merasakan kesepian sebab seharian mengeliingi Pulau Pisang saya hanya melihat satu anjing, sisanya gerombolan kambing.

Langit sudah semakin cerah membuat kami bergegas kembali ke dalam rumah untuk bersiap diri kembali ke Krui. Ogik terus mengikutiku dari belakang menuju ke rumah Bang Jon. Pagi ini saya mendapatkan teman baru di Pulau Pisang. Kalian tentu bertanya kenapa saya memberi dia nama Ogik, sebab dulu saya pernah memiliki seekor anjing dan nama Ogik selalu melekat sewaktu saya melihat sosok anjing yang pintar.

foto bersama teman
Foto bersama di depan rumah Bang Jon. Ada Ogik ikut nyempil haha…

Kapal jukung kami telah siap untuk mengangkut kami kembali ke Krui. Satu per satu mulai naik ke atas kapal yang telah dinyalakan mesinnya. Arus air laut pagi ini lebih kencang, perlahan kami mulai meninggalkan Pulau Pisang yang telah memberikan kenangan indah di tiap benak masing-masing. Saya tak lupa berpamitan dengan Ogik meninggalkan dia di rumah Bang Jon. Sepertinya Ogik menyadari kalau saya akan berpamitan. Lagaknya seperti biasa membalikkan badan seolah tidak ingin disapa namun dia tetap ingin masuk dalam frame foto bersama kami di depan rumah Bang Jon. Anjing pintar!

Berjumpa Gerombolan Lumba-Lumba Di tengah Laut

Sewaktu perjalanan kembali ke Krui, kami dikagetkan dengan bayangan yang melompat-lompat dari dalam air. Kami semua yang berada di atas kapal jukung berteriak histeris seketika!

“Lihat! Lihat! Itu lumba-lumba!… whoaaaa….”

“Buruan fotoin… rekam video.”

Rombongan lumba-lumba itu jumlahnya lebih dari 10 ekor, mereka bergerombolan bahkan ada yang berada di dekat kapal kami kemudian dia meloncat. Beberapa kali saya gagal mendapatkan foto lumba-lumba akhirnya memutuskan untuk menikmati saja perjalanan kembali ke Krui. Sejatinya ada momen yang memang tidak bisa saya tangkap lewat kamera sisanya menikmati dan menuliskan kembali apa yang saya rasakan. Bertemu dengan lumba-lumba seolah bonus perjalanan kami agar kami terus mengenang cerita manis saat itu.

Lumba-lumba di Pesisir Barat menjadi ikon baru pariwisata setempat. Sungguh membuat saya makin ingin berkeliling Bandar Lampung dari tiap sudut. Semoga saja ada kesempatan untuk kembali ke Lampung dan bercerita kembali di deddyhuang.com.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, ada suatu perasaan yang sudah kurasakan sejak pertama kali datang. Menginjakkan kaki menyentuh pasir putih. Apalagi setelah berjalan kaki melihat saat ke masjid sambil melihat suasana perkampungan warga di Pulau Pisang. Saya suka suasana tenang dan teduh. Perasaan inilah yang saya ingin saya ungkapkan sedari tadi, namun sulit sekali menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan eksotisme Pulau Pisang dengan segala potensi wisata indah yang dimiliki oleh Pesisir Barat, Lampung.

Kalau kalian berkunjung ke Pulau Pisang, semoga berjumpa dengan Ogik. Pintaku selfie-lah dengan dia dan kirimkan fotonya untukku. Sampaikan salam rinduku dengan dia. Banyak teman yang bilang untuk membawa Ogik pulang, namun hatiku berkata tidak Ogik harus di Pulau Pisang agar ada alasan untukku kembali lagi ke Pulau Pisang menikmati syahdu dan tenangnya pulau tersebut. (DH).

Tips & Budget Berkunjung ke Pulau Pisang

my essential stuff for traveling

Saya termasuk senang buat mix-match pakaian dan perlengkapan saat traveling. Bagi saya ada suatu rasa yang sulit diungkapkan. Namun kalian pasti pernah mengalami hal yang sama. Entah kenapa tiap traveling hasrat ingin belanja selalu sulit dibendung, tapi kalau masih ada barang yang masih bisa digunakan yang dipakai saja. Kecuali seperti membeli pakaian baru agar tampil maksimal 😀

Selain kalian juga mempersiapkan kebutuhan barang pribadi selama traveling sudah pasti menyiapkan budget selama liburan. Berikut rincian gambaran budget yang dihabiskan selama di Pulau Piasng.

  • Kalian dapat menggunakan mobil travel dari Bandar Lampung ke Krui dengan harga Rp 100.000,-.
  • Sewa kapal jukung ke Pulau Pisang dari Pelabuhan Kuala Stabas sekitar Rp 25.000,-/orang untuk sekali jalan namun harus menunggu kapal sampai penuh penumpang sekitar 10 – 15 orang. Apabila kalian datang dengan rombongan dapat menyewa kapal jukung dengan biaya Rp 600.000,-/kapal (PP). Sudah termasuk bonus mencari ikan lumba-lumba di pagi harinya.
  • Homestay Bang Jon menyewakan kamar dengan biaya sewa Rp 200.000,-/orang/malam dan sudah termasuk 3 kali makan (sarapan, makan siang, dan makan malam).
  • Sewa motor untuk berkeliling di Pulau Pisang Rp 60.000,-/motor.
  • Pastikan membawa sunblock SPF minimal 30.
  • Selalu bawa baterai cadangan dan powerbank.
  • Bawa perlengkapan mandi sendiri.
  • Pulau Pisang kurang cocok untuk snorkling karena ombaknya kencang. Kalau untuk surfing masih memungkinkan.
  • Contact person : Aries Pratama (082186839738) bagi kalian yang membutuhkan orang lokal untuk menyediakan paket perjalanan ke Krui dan Pulau Pisang.

Terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Bandar Lampung yang mengajak saya untuk menikmati Pesona Krui 2017. Cari tahu tentang Pesisir Barat, Krui lewat Instagram @kruitourism dan tagar #PesonaKrui #IjaMitKrui

Baca cerita sebelumnyaJelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

Baca cerita keseruan teman perjalanan saya selama di Pulau Pisang!

  1. Annie Nugraha : Hatiku Tertambat di Pulau Pisang
  2. Dian Radiata : Pulau Pisang Lampung
  3. Haryadi Yansyah : 24 Jam Bermanjah di Pulau Pisang
  4. Katerina : Jelajah Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat
Iklan

58 thoughts on “Jelajah Pesona Pulau Pisang : Bertemu Teman Baru (Bagian 2)

  1. Waktu lihat foto-foto para blogger di IG tentang Pulau Pisang ini saya pikir di Kalimantan. Dan saya baru ngeh kalau yang di Kalimantan Tengah itu bukan Pulau Pisang tapi Pulang Pisau. Hehehe…

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s