Menikmati Krui Dalam Satu Hari


Mencari lumba-lumba di tengah laut menuju Krui dari Pulau Pisang memang sudah kami rencanakan karena umumnya lumba-lumba akan keluar dari palungan tempat mereka tidur untuk berenang di pagi hari. Tapi, kita tidak tahu di mana mereka akan menampilkan diri mereka kepada kami?

Saat itu asa ini hampir hilang karena matahari sudah naik ke atas. Untungnngya, Mas Aries melihat ada suatu tanda gerakan dari arah kejauhan. Teriakan kami memecahkan rasa terik matahari yang kami rasakan bersama di atas kapal Jukung menuju Krui. Lumba-lumba itu seolah mengiring kami pulang dengan selamat dan menghapuskan rasa sedihku karena berpisah dengan Ogik.

umba-lumba

Gerombolan lumba-lumba menyapa pagi di laut Samudra Hindia

Perjalanan sekitar 45 menit menuju Pelabuhan Kuala Stabas kami tempuh dengan ombak yang berhasil mengocok perut masing-masing, terutama Yayan yang segera duduk terdiam dan memesan teh hangat dicampur Tolak Angin di warung dekat pelabuhan. Kami disibukkan dengan kondisi diri masing-masing, karena tampak sekali berantakan setelah melewati perjalanan laut walaupun sebentar.

Hari ini kami hanya berencana menghabiskan waktu di hari ketiga untuk berkeliling di seputaran Krui saja. Menurut informasi dari Mas Aries kita akan menikmati beberapa tempat dengan mobil yang dibawa oleh Mas Ardy. Sekilas mengenai Mas Ardy, orang yang kalem dengan suara lembutnya, namun ternyata saya salah. Gaya banyolannya mengenai “kuntilanak Krui” berhasil membuat rasa sakit di gigiku berkurang sebentar. Kemudian, sisa suara saya yang hampir habis tetap menyediakan ruang untuk ikut tertawa mendengar Mas Ardy berkeinginan berjumpa dengan gadis berambut panjang tersebut dalam kondisi “polos”.

Melihat Panorama Laut di Atas Bukit Selalaw

Bukit Selalaw, Krui

Pemandangan dari atas Bukit Selalaw, Krui

Berada tidak jauh dari Pelabuhan Kuala Stabas, kami diberitahu bahwa ada bukit yang memiliki pemandangan langsung menghadap ke laut lepas dengan pemandangan Gunung Pugung. Untuk mencapai Bukit Selalaw sangat mudah cukup jalan kaki menanjak sekitar 5 menit kita sudah sampai di atasnya.

Bukit kecil yang berada di pinggir pantai ini dihiasin oleh rerumputan hijau yang membuat mataku melihat lokasi ini instagramable untuk berfoto atau sekedar menikmati suasana di Bukti Selalaw. Dari atas puncak bukit kita dapat melihat bayangan Pulau Pisang dari arah kejauhan. Tak terasa kami baru saja meninggalkan kenangan indah selama satu malam di pulau tersebut.

bukit selalaw krui

Duduk di Bukit Selalaw bak melihat lukisan alami

Awalnya saya mengira bukit ini merupakan perbatasan Pantai Labuhan Jukung karena letaknya kalau dilihat dari Labuhan Jukung Krui hanya dibatasi oleh batu karang besar. Ternyata bukit ini memisahkan antara Pantai Kuala dan Pantai Labuhan Jukung yang berada di sampingnya. Dari arah sebelah kiri bukit, ada batu karang yang cukup terjal sehingga kita perlu sedikit berhati-hati saat sedang berada di pinggir bukit. Sedangkan pemandangan di atas bukit dengan satu pohon besar memang memberikan kesan tersendiri.

Hutan Damar di Desa Rawas, Krui

getah pohon damar

Getah damar di Desa Rawas, Krui

Berpindah dari Bukit Selalaw, kami diajak untuk melihat Pohon Damar di daerah Desa Rawas. Suasana jalanan di Krui lumayan mengasyikkan dengan tidak adanya kemacetan dan lampu merah. Sepanjang perjalanan kita dapat melihat pemandangan sawah. Akan tetapi begitu memasuki Desa Rawas, kita seperti masuk ke sebuah hutan dengan jalanan berliku lurus dan kecepatan kendaraan yang melintas seolah jarum speedometer bertambah ke kanan.

Saya baru pertama kali melihat pohon damar, sebab tidak ada bayangan seperti apa pohon damar. Kalau kita melihat sekilas, bentuknya seperti pohon karet dengan cara penyadapan yang hampir mirip. Bertanya dengan warga lokal setempat mengenai pohon damar, ternyata memiliki beberapa jenis. Salah satunya Damar Mata Kucing yang merupakan varietas yang ada di Desa Rawas tersebut.

ngunduh damar

Aktivitas panen getah damar yang disebut “Ngunduh Damar”

getah damar krui

Getah damar yang sudah diambil

Tinggi pohonnya hampir mencapai 30 meter menjulang ke atas. Tiap pohon damar sudah memiliki tanda-tanda yang dipahat berbentuk segitiga. Nantinya getah dari pohon akan turun perlahan masuk ke dalam ruang celah yang telah dibentuk. Getah-getah bening tersebut akan mengkristal sendiri setelah kering yang nantinya akan diambil dengan cara dipukul menggunakan palu kecil.

Siang itu kami dikenalkan dengan istilah “Ngunduh Damar” yang merupakan proses panen damar. Para pemanjat getah damar ini menggunakan bantuan sebuah tali yang dianyam bernama, Ambon. Tali ini nantinya akan dililitkan di pohon dan badan. Cara memanjat pohon damar yang unik ini membuat saya ingin ikut merasakan bagaimana memanjat pohon damar, namun sayang waktu kami terbatas jadi baiknya diserahkan kepada ahlinya.

Hasil getah damar berbentuk bening, kental dan lengket. Para pemanjat pohon damar ini nantinya mencongkel getah-getah damar dari dalam lubang. Getah yang telah mengeras ini digunakan kembali sebagai bahan campuran yang dapat digunakan untuk beberapa keperluan di industri-industri tertentu. Misalnya dapat digunakan sebagai campuran kosmetik.

Senja Bersama di Pantai Tanjung Setia

pantai tanjung setia

Pemandangan senja di Pantai Tanjung Setia, Krui

Cuaca memasuki petang dengan udara yang sudah tidak menyegat lagi seperti siang hari. Tampaknya memang waktu yang tepat bagi kita menikmati matahari tenggelam di pinggir pantai. Momen yang langka bagi kami warga perkotaan untuk dapat menikmati yang dinamakan sunset di pinggir pantai, khususnya saya.

Setir kemudi mobil diputar arah setelah kami diajak melihat Tugu Tuhuk yang menjadi ikon kebanggaan Krui dan menghabiskan es krim rujak di pinggir tugu. Layaknya es krim gerobakan yang dicampur dengan rujak buah dan lelehan gula merah memang menjadi keunikan kuliner yang baru pertama kali saya lihat. Padahal, kita sudah terbiasa dengan mengkombinasikan aneka makanan. Contohnya, makan alpukat dengan sambal dabu-dabu. Pernah coba? 😆

Di dalam mobil Mas Ardy bercerita kalau kawasan yang akan kita kunjungi ini nantinya menjadi perhelatan lomba berskala internasional yaitu Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition. Saat itu juga, pemikiran saya sudah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang bukan lagi adalah fasilitas dan standarisasi. Label “internasional” memiliki standar sendiri untuk menyelenggarakan suatu acara. Krui punya bagian itu. Luar biasa!

Ombak yang sempurna merupakan ciri khas dari Pantai Tanjung Setia, kesempurnaan di tunjukan dari ketinggian yang saya lihat sendiri sewaktu berada di pinggirnya di atas tumpukan karang kering. Beberapa kali saya bertanya dengan pengurus resort yang ada di sekitarnya, apa yang menyebabkan para tamu asing rela mendatangi Krui yang notabene-nya jauh dan berada di Pesisir Barat. Ternyata dari hasil survey ada yang mengatakan kalau Krui memiliki ombak terbaik di dunia. Makanya mereka rela datang untuk bercumbu dengan ombak.

Tingginya ombak bisa mencapai 6 sampai 7 meter, tapi tidak hanya tingginya saja melainkan panjang ombak dapat mencapai sekitar 200 meter saling berlawanan arah. Saya duduk di atas anjungan pantai untuk menikmati pemandangan yang disuguhkan di kala sore. Tidak ada hal yang dapat saya lakukan dalam perjalanan ini selain mengabdikan tiap pemandangan indah yang saya lihat dalam bidik kamera. Sisanya saya cukup menikmati lewat mata saya. Barangkali, kalau ada waktu lebih lama saya bisa menyelesaikan tulisan di blog karena suasana sangat mendukung. Tenang dan damai.

Pantai Tanjung Setia memberikan lingkungan alam yang masih terjaga kealamiannya dan pemandangan yang menakjubkan. Harapan kami pada saat itu hanya ingin melihat matahari tenggelam yang indah dengan deburan ombak yang menari-nari setelah belum berjodoh melihat matahari terbit di Pulau Pisang.

daftar travel blogger indonesia

Perjalanan bersama keluarga baru

Kami berlima duduk dalam satu posisi saling bercengkrama bercerita pengalaman yang baru saja kami lalui sepanjang hari. Dalam perjalanan barangkali kalian hanya melihat hal-hal yang manisnya saja yang kami suguhkan. Padahal kita juga mengalami masa-masa sedih namun kami tidak menampilkannya saja karena telah ditutupi oleh teman perjalanan yang saling mendukung satu sama lain. Memang benar, untuk menguji isi hati seseorang ajaklah mereka untuk berjalan bersama. Sebab dari sana kita akan mengetahui diri mereka secara langsung. Beruntung, teman-teman perjalananku seperti Mbak Rien, Mbak Dee, Yuk Annie dan Yayan adalah teman perjalanan yang mengasyikkan. Tidak bisa membayangkan bagaimana harus bersabar dengan sesi pemotretan “kain kodian” demi memperkenalkan kain daerah.

Di tepi Pantai Tanjung Setia banyak terdapat pohon-pohon palem yang rimbun serta perpohonan kering. Seolah memiliki daya tarik kuat untuk melangkahkah kaki mendekatinya. Gunung Pugung, Krui sore itu tampak sedang bermain dengan lembayung. Mataku sudah melihat seorang anak kecil sedang duduk termenung melihat deruan ombak saling berkejaran. Menyadarkan tubuh mungilnya di dahan pohon. Entahlah, saya belum mau mendekati dirinya yang seolah sangat menikmati hembusan udara sore di Pantai Tanjung Setia.

Anak kecil tersebut pertama kali kulihat saat dia sedang dicandain dengan pemilik resort setempat karena dia menggunakan celana yang bolong di belakangnya. Namun dia tetap cuek dan meneruskan bermain. Sesekali dia berjalan melintasiku namun saya tidak begitu peduli saat itu, masih asyik bercengkrama dengan teman-teman lainnya di kursi sofa empuk.

Indra penglihatanku menangkap gesture badannya yang sedang melihat anak-anak seusianya sedang bermain menangkap ikan. “Dek..” sapaku dan dia membalikkan wajahnya.

Raut wajah menggambarkan kepolosan anak-anak lalu dia memberikan senyuman. Gigi ompongnya tidak bisa dia tutupi seolah menghiasi kepolosannya. Saya selalu iri dengan orang yang memiliki bulu mata nan aduhai lentik panjang dan kedua alis matanya menyat. “Sedang apa kamu, dek?” lanjutku dan meloncat duduk di dahan pohon sampingnya.

Kami seperti teman akrab yang sudah lama kenal. Uluran tangan tanda salam perkenalan. “Arka” sambutnya menerima uluran tanganku. Dia teman baru kedua yang kukenal setelah Ogik, anjing berbadan tegap yang kutemui sewaktu di Pulau Pisang.

Ada perasaan senang perjalanan kali ini selalu berjumpa dengan teman baru.

Kakiku menapaki tiap dahan pohon tinggi untuk mendekati Arka. Deruan ombak semakin besar. Beberapa peselancar bule mulai menunjukkan keahlian mereka. Tanjung Setia, Krui memang dikenal sebagai kawasan surfing bagi para bule yang memang mencari ombak.

“Suka lihat laut ya?” Arka pun menganggukkan pelan kepalanya.

“Rumah kamu di mana?”

“Bumi Agung, om”

“Jauh?”

“Jalan kaki, lumayan.”

Teman baruku ini memang mengagumkan. Saya makin dibuat penasaran dengan Arka. Maklum saja, Arka bukanlah seperti Ogik yang tiap ditanya hanya menunduk kepala atau mengibaskan ekor.

“Mana teman-temanmu?” tanyaku kembali karena Arka selalu melihat 4 orang anak kecil yang sedang bermain menangkap ikan.

“Tidak punya. Mereka suka ganggu Arka.” Dari obrolan dengan Arka ternyata dia masih sekolah kelas 1 SD. Di lingkungan pertemanannya dia lebih memilih menyendiri melihat laut. Tiba-tiba saya jadi teringat waktu kedatanganku. Dia selalu mengikutiku dari belakang sewaktu sedang memotret pemandangan Gunung Pugung.

“Tapi Arka pukulin teman-teman yang jahatin Arka.” Serunya menceritakan bertapa senangnya dia saat berhasil memukul jatuh lawannya sembari melihat ke arahku yang sedang berdiri membetulkan posisi topi federo. Dia diam sejenak memandangku dari arah bawah. Saya meletakkan topi yang dipakai ke kepalanya. Namun tidak muat karena lingkar kepala kami berbeda. Tawa kami pecah melewati momen tersebut.

Ajakanku mendekati tumpukan karang kering diterima oleh Arka. Arka yang tadinya berjalan dibelakangku sekarang berpindah menjadi di sampingku mengamati tiap karang kering serta genangan air laut yang di dalamnya ada ikan-ikan kecil. Tujuanku tercapai datang ke Tanjung Setia adalah menikmati sunset dan deruan ombak serta melihat ikan.

Krui menyimpan pesona wisata alam yang menyegarkan mata. Gradasi warna biru pergunungan memang incaran bagi tiap pasang mata yang datang. Dari balik lensa kamera, tanganku terasa menikmati tiap menekan tombol shutter kamera. Sesekali aku memotret ekspresi Arka tanpa dia sadar kemudian menunjukkan hasilnya.

Anak kecil itu sangat penasaran dengan kamera yang kupegang. Dia sudah tidak malu-malu lagi untuk berpose di depan kamera.

Hari sudah menjelang gelap. Kami berjalan keluar dari Sumatra Surf Resort tempat kami menikmati senja di Krui sebelum besoknya kembali ke kota masing-masing. Sebelum berpisah dengan Arka, kulingkarkan tanganku di pundaknya.

“Jangan takut tidak punya teman, sebab teman baru selalu akan datang kemana pun kamu pergi. Terus belajar dan jadi orang baik. Kalau ada orang yang ganggu jangan dibalas pukul. Tapi balas sama prestasi.”

Arka membalikkan badan berjalan kaki pulang ke rumahnya. Lambaian tangannya menandakan sampai berjumpa kembali.

Kemudian saya segera menyimpan memori indah ini dalam ingatanku. Agar di tiap perjalanan yang kulalui selalu mengingat pelajaran baru sore tadi. Perlahan diriku memahami perjumpaan dengan teman baru dan sudut pandang baru.

Mobil kami perlahan meninggalkan kawasan Pantai Tanjung Setia. Perjalanan sehari yang kami tempuh memang terasa melelahkan, apalagi untuk saya sudah terbayang nantinya balik ke Palembang menggunakan kereta api selama 12 jam. Namun, rasanya terbayarkan dengan pengalaman yang didapatkan selama di Krui menikmati suguhan destinasi wisata yang diberikan. Mungkin tidak semuanya dapat kami nikmatin tapi tidak berarti kami menolak apabila diajak untuk kembali lagi menemukan titik spot terbaru yang ada di Krui.

Krui selalu ada alasan bagiku untuk kembali, menjenguk Ogik 😆

Baca cerita seru perjalanan kami di Krui versi teman-teman saya :

Iklan

21 pemikiran pada “Menikmati Krui Dalam Satu Hari

  1. Suka bagian cerita tentang Arka. Sisi humanis yang terekam di balik pesona Tanjung Setia.

    Krui memikat dengan pantai dan ombaknya yang menawan. Tempat yang asyik untuk berwisata pantai.

    Sesi pemotretan kain kodian ga luput dari cerita yang membutuhkan kesabaran ya 😀 Demi mempromosilan sebuah karya anak bangsa *halah :p

  2. Kukira istilah ngunduh damar itu hanya di Jawa saja, eh, di Krui juga.

    Oya, untuk lumba² itu sendiri ada waktu terbaik melihat nggak sih, ko? Misal bulan apa gitu atau pas musim apa?

    • Aku juga baru tahu kalau di Jawa juga ada istilah begitu… barangkali kalau istilah kita, ngunduh itu mendownload hahahaha…

      Kalau jam nya sekitar pukul 7 – 8 pagi, saat lumba-lumba keluar dari palungan tempat mereka istirahat.

  3. Indahnyaa krui bang deddy. .
    Sejauh mata memandang biru lautan 😊 sama seperti hijau, biru juga menyegarkan dan mendamaikan siapapun yang memandang 😊 itu yg berselancar pakai baju hijau bang deddy kah? Uwoooo hahaha. .

    Td kupikirr bang dedy juga poto sama lumba” nyaa eh. . 😂

    • Sejauh mata memandang dijamin gak sepet dilihat.. kecuali di depannya ada aku.. barangkali kamu agak-agak sepet.. haha…

      Huss pitnah aku mana bisa berselancar lah.. bisanya berselancar di hati dedek emesh.

  4. Gerombolan lumba-lumba itu menunjukkan adanya ikan tuna. Nelayan yang biasa menangkap tuna menjadikan gerombolan lumba-lumba sebagai petunjuk untuk menangkap tuna.

  5. Ah seru bangey bisa lihat lumba-lumba Om.. Malah kalau beruntung saat berangkat ke Pulau Pisanv sih mereka yg nonggol waktu berangkat dari Pelabuhan Kuala Stabas Om..

    Ah seperti nya tulisan tentang Lampung masih banyak nih..

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s