Menduniakan Al Quran Raksasa Palembang

Terkadang ada sebuah perjalanan yang tak selalu mulus dan lurus. Perjalanan yang mungkin akan membuat kita bosan sendiri dengan lamanya waktu untuk sampai ke tujuan. Kadang pula jalan itu berbelok dan menikung. Medan jalan yang harus berbagi ruas bersama pengendara lainnya. Lalu saat dilewati bisa jadi jalan itu berbatu, berlobang dan tak semulus pasir. Namun kita selalu bisa melewatinya, bukan?

Perjalanan yang saya tempuh melewati jalanan yang tak mulus dengan pemandangan rumah-rumah panggung khas rumah daerah di pinggiran Sumsel. Pada waktu tertentu air dari Sungai Musi akan pasang hingga semata kaki di atas rawa. Lokasi yang ingin saya tuju masih jauh ke dalam Gandus, sebuah kecamatan di Kota Palembang.

Kawasan ini bukan saja dikenal sebagai kawasan jalur karet karena memang terdapat pabrik karet. Tapi bagi warga setempat menjadi akses utama menuju kota Palembang. Selain itu kawasan ini pun sering dikunjungi bagi para penikmat sejarah dan wisata religi saat sedang singgah ke Kota Palembang. Jaraknya sekitar dua kilo dari Jembatan Musi II, kita masih harus masuk ke dalam destinasi wisata religi Bayt Al Quran Al Akbar.

Sejenak saya tertegun melihat pondasi bangunan tinggi beratap seng dari arah jauh. Mobil kami parkir di lapangan Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, masih satu wilayah dengan bayt al quran yang akan saya datangi. Inikah bayt al quran raksasa yang tersembunyi itu?

Takjub Melihat Museum Al Quran Raksasa

Loket tiket masuk wisata religi al quran Al Akbar, Gandus, Palembang

Sungai Musi yang membelah daerah Ulu dan Ilir menjadi sungai terpanjang yang ada di Sumatera. Tetapi, masih belum banyak yang tahu kalau di sepanjang alirannya tersimpan suatu mahakarya membuat decak kagum semua orang yang singgah. Bukan hanya saya tapi juga terutama umat muslim.

Kita akan mendengar alunan nasyid saat akan masuk ke dalam rumah. Bangunan rumahnya sama seperti rumah tinggal pada umumnya. Musik nasyid memang menenangkan sekaligus meneduhkan hati saat kita berada di Bayt Al Quran Al Akbar. Halaman samping rumah dijadikan oleh pemiliknya sebagai Museum Al Quran raksasa yang berlokasi di Jalan M. Amin Fauzi, Gandus.

Pelataran halaman belakang rumah

“Yakin nih saya boleh masuk ke dalam?” tanya saya diawal sama salah satu teman muslim. Mereka mengangguk kepala.

Setelah melepas alas kaki di rak khusus, kita bisa segera masuk ke dalam. Dari arah luar, terdapat sebuah al quran ukuran raksasa menjulang tinggi di sebuah bangunan bertingkat lima. Saya mengamati sekeliling bangunan ke atas. Banyak informasi yang bisa kita tangkap dan baca langsung sebab terpampang di sekitar dinding.

Subhanallah…

Allahu akbar! Indah sekali.

Sekilas saya mendengar sayup orang di sebelah saya berdecak kagum tatkala melihat kepingan kayu-kayu terukir dengan warna emas. Terdapat pula aksen ukir ornamen khas Palembang. Ini kali pertama saya melihat langsung isi pembagian al quran dalam bentuk raksasa. Saya kagum!

Berawal Dari Sebuah Mimpi

Megahnya al quran raksasa ukir terbesar di dunia

Dilihat dari depan, Al quran ini terdiri dari beberapa sisi yang saling menutupi. Namun, masing-masing kepingan kayu dapat dibolak-balik. Saya mendapat pengertian tentang juz saat berjalan mendekati Bayt Al Quran Al Akbar. Juz merupakan sebuah cara pembagian al quran di mana keseluruhan al quran dipecah atas 30 juz. Tujuan pembagian ini agar memudahkan umat muslim yang ingin menyelesaikan pembacaan al quran atau mengaji dalam 30 hari.

Kita seperti sedang berkelana di sebuah labirin Al Quran raksasa. Penerangan seadanya di antara lorong-lorong, kiri kanan lorong seperti dinding kayu berisi ayat suci. Saya meletakkan tangan di salah satu kepingan kayu. Ukiran dan pahatan huruf arab yang detil. Jari telunjuk saya terus meraba tiap ukiran sampai bertemu dengan seorang bapak yang menyapa saya saat tengah terbuai kagum. Dia mengajak saya ikut bergabung bersama pengunjung lain duduk lesehan di antara lorong.

Mendengarkan pak Syarkoni bercerita

Saya akhirnya berkenalan dengan Bapak Syarkoni, salah satu pemandu di Bayt Al Quran Al Akbar. Beliau berbaik hati bercerita sekilas mengenai al quran raksasa di Gandus. Ide pembuatan al quran Al Akbar digagas oleh putra daerah Sumatera Selatan yaitu H. Syofwatillah Mohzaib yang dalam mimpinya mendapat perintah untuk membuat kaligrafi Al Quran yang bisa dinikmati umat manusia.

Mimpinya itu perlahan diceritakan dan diwujudkan. Kepingan-kepingan al quran yang terdapat di bayt ini memiliki tinggi 177cm lebar 144cm serta ketebalan kayu 2,5cm. Terbuat dalam bentuk kayu agar lebih tahan lama dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Satu kepingan kayu memiliki berat sekitar 50kg.

Ukiran kayu terbuat dari kayu tembesu yang dibuat di lorong Budiman Tangga Buntung Palembang. Proses pembuatan terbilang cukup lama, butuh 7 tahun mulai dari tahun 2002-2009 dengan menghabiskan biaya keseluruhan sekitar Rp. 1.2M. Dana besar tersebut di dapat para “hamba Allah” yang ingin ikut membantu mewujudkan realisasi Al Quran raksasa ini.

Dalam proses pengerjaannya dikerjakan para tenaga ahli mulai dari tukang ukir hingga pemasangan. Dengan kemeja batik lengan panjang dan mengenakan kopiah, Bapak Syarkoni juga bercerita bahwa proses dimulai dari penulisan, penjiplakan hingga penyiapan papan. Ayat-ayat suci ditulis dikertas karton, lalu disalin ke kertas minyak.

Penyiapan papan pengukiran dan pemberian warna serta motif bingkai ornamen al quran Al Akbar sendiri dari gambar bungai teratai dan daun pakis. Kemudian, untuk warnanya sendiri menggunakan warna cat kuning, emas serta merah maron. Perpaduan corak tiga warna ini melambangkan 3 bangsa yaitu Nusantara, Tiongkok dan Arab.

Sudut Lain Al Quran Al Akbar

Obrolan kami harus usai bersama Bapak Syarkoni sebelum dia mengajak pengunjung lain untuk Al Fatihah bersama. Bangunan al quran raksasa ini terdiri dari dua sisi. Sisi utama yang terdiri dari lima tingkat. Namun pengunjung hanya diperbolehkan naik di lantai dasar, mungkin alasan keselamatan. Sedangkan sisi lainnya berada berseberangan yang digunakan sebagai musholah sementara.

Dua anak remaja membenarkan posisi kerudung

Salah satu pengunjung baru terlihat sedang meminjam kerudung yang ada di dekat pintu masuk. Meski niatnya mengunjungi destinasi wisata, namun berkunjung ke tempat religi ada baiknya pengunjung juga menghormati dengan berpakaian sopan pantas.

Sambil menunggu salah satu teman menyelesaikan Ashar, saya mengambil sepatu dan menunggu mereka di luar. Terekam gambar salah satu petugas yang lebih muda dengan ramah menyapa tiap pengunjung yang akan masuk.

30 juz al quran terpampang nyata

“Sudah kak masuk dalem?” sapanya dalam logat Palembang.

“Barusan keluar, ini lagi nunggu teman masih sholat di pucuk,” jawab saya. “Ramai ya tiap kunjungan?” sambung saya kemudian mengajaknya mengobrol.

Kami berjabat tangan erat saling berkenalan. Pemuda itu bernama Idris, dia salah satu pengurus wisata religi al quran raksasa. Lewat tutur Idris saya menemukan cerita sudut lain Al Quran Al Akbar yang sangat menarik.

Tingkat kunjungan yang ramai setiap hari

Fakta tentang Al quran Al Akbar telah diakui oleh dunia sebagai Al quran ukiran kayu satu-satunya terbesar di dunia. Selain itu juga tercatat di Rekor Dunia Muri Indonesia. Wisata religi ini diresmikan oleh mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 30 Januari 2012 yang dihadiri oleh 51 negara-negara Islam sedunia dalam konferensi parlemen Islam untuk meresmikan penggunaan al quran sebagai al quran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu trembesi (kayu ulin).

Menurut Idris, dalam satu hari tempat wisata religi ini bisa dikunjungi sekitar 800 hingga 900 orang setiap hari. Tidak hanya hari libur, namun hampir tiap hari Museum Al-Quran besar ini ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Untuk dapat menikmati kekhusyukan wisata religi, pengunjung hanya dikenakan tarif tiket masuk Rp 5000 tiap orang.

Besar Namun Tak Begitu Diperhatikan

Keberadaan Al Quran raksasa ini cepat terdengar di kalangan masyarakat baik dalam dan luar kota provinsi Sumsel dan Indonesia. Bahkan sampai dunia internasional juga mengakui kemegahan dan ketakjuban karya seni Islam dengan ukiran khas Palembang dan memiliki ukuran terbesar yang pernah ada ini.

Saya bertanya pada Idris mengenai lokasi wisata religi yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Akses transportasi umum yang terbatas menjadi salah satu kendala bagi tempat wisata religi ini. Bagi pengunjung yang memiliki kendaraan pribadi tentunya dapat langsung menuju ke arah Gandus. Sementara bagi yang ingin menggunakan transportasi online akan mengalami sedikit kesulitan pada saat pulang.

Seni ukir kaligrafi al quran
Pengunjung senang berfoto di balik kepingan kayu

Salah satu hal yang membuat Bapak Syofwatillah, pemilik rumah sekaligus tempat wisata religi Al Quran raksasa masih mempertahankan dikarenakan dia mendambakan Al quran Al Akbar menjadi daya tarik wisata religi favorit untuk masyarakat Palembang, walau jarak jauh namun orang akan tetap datang. Apalagi pendanaan tempat wisata ini tidak melibatkan dana pemerintah dalam artian tak didukung baik oleh APBN maupun APBD, sehingga menjadi milik umat sepenuhnya.

Adanya destinasi baru ini secara tidak langsung membantu perekonomian warga lokal setempat. Seperti Idris dan bapak Syarkoni yang termasuk warga di sekitar lingkungan al quran untuk membantu mengurus. Saya pun melihat, warga-warga setempat berjualan mulai dari cinderamata hingga makanan tak jauh dari kawasan wisata religi.

Makna Sebuah Perjalanan Religi

Menelusuri jejak agama memang menjadi aktivitas yang menarik, selain paradigma wisata itu haruslah “alam” kini berubah menjadi “ketenangan jiwa dan spiritual”. Apalagi kalau tempat tersebut menjadi sarana bagi kita kontemplasi nan menyejukan hati. Saya percaya ditiap daerah pasti memiliki tempat yang indah sebagai objek wisata religi, begitu juga dengan Palembang.

Selfie bersama Yuk Annie dan Yayan

Entah sudah berapa kali saya mengajak teman-teman saya dari luar kota Palembang berkunjung ke tempat Wisata Religi Al Quran Al Akbar. Ada rasa bangga dapat menemani mereka melihat potensi wisata yang besar. Bukan tanpa alasan, objek wisata religi ini disebut al quran wisata religi muslim. Indonesia pasti bangga dengan keberadaan al quran ukir terbesar di dunia ini.

Benar katanya kalau jalan hidup tak selalu mulus. Datang ke tempat wisata religi al quran Al Akbar, khazanah saya tentang Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika nyata di tempat ini. Tidak ada larangan bagi pengunjung yang bukan muslim untuk melihat mahakarya indah dan mendunia ini. Semua orang dapat berkunjung untuk membuktikan sendiri karya seni kaligrafi yang indah tersebut. Berada di tempat ini membuat saya tampak seperti manusia kecil jikalau dibandingkan megahnya al quran Al Akbar.

Saya yakin ditiap pahatan tangan pembuat ada niat yang tulus sepenuh hati agar ukiran ayat-ayat suci ini dapat segera diperlihatkan ke seluruh penjuru dunia. Berkunjung ke al quran raksasa ini bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata warga lokal. Bisa melihat indahnya karya seni ukir kaligrafi, serta mendapatkan sebuah siraman rohani.

Tips Berkunjung Masuk Al Quran Al Akbar

Saat kalian sedang berkunjung ke rumah orang, tentunya ada aturan-aturan yang berlaku. Termasuk saat kita ingin berkunjung ke Wisata Religi Al-quran Al Akbar Palembang.

  1. Kawasan wisata ini dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 hingga 17.00 WIB.
  2. Harga tiket masuk dipatok Rp 5000/orang.
  3. Pakai pakaian sopan dan pantas.
  4. Bagi pengunjung pria disarankan tidak menggunakan celana pendek. Namun, pengurus juga menyediakan sarung untuk dipinjamkan.
  5. Bagi pengunjung perempuan disarankan untuk menutupi kepala menggunakan kerudung atau syal.
  6. Bagi yang ingin melakukan sesi foto pre-wedding dapat menghubungi pengurus dan mendapat pendampingan saat pemotretan.
  7. Akses transportasi menuju tempat wisata religi ini lebih baik menggunakan kendaraan pribadi.

Selamat menikmati perjalanan wisata religi di Palembang!

Iklan
pasar baba boentjit

Pasar Baba Boentjit, Warna Baru Wisata Kota Palembang

Saat itu suasana sedang teriknya matahari persis di atas ubun-ubun kepala kami. Saya diam sejenak melihat sebuah rumah yang telah berusia tua, kurang lebih sekitar tahun 1800-an. Dalam hati saya berkata, masih ada juga peninggalan rumah tua di kota Palembang? Dua kampung yang saya tahu yaitu Kampung Arab Al-Munawwar dan Kampung Pecinaan Kapitan. Tentu ini sangat langka, apalagi bagi saya yang menyukai heritage pastinya akan memanjakan mata untuk menelisik lebih lanjut.

pasar baba boentjit
Suasana senyap di rumah Ong Boen Tjit

Palembang letaknya strategis, berada di tepian Sungai Musi dan sempat menjadi sejarah sebagai kota industri dan perdagangan. Tentunya saat itu kota Palembang menjadi penguasa lautan sebagai lintas perdagangan segitiga emas. Sayangnya, pembangunan pada masa lalu kurang bisa memanfaatkan sumber sehingga masih berpola kota daratan.

Maka, sewaktu beberapa bulan lalu saat saya, Yayan dan kak Robby singgah ke rumah Ong Boen Tjit di kawasan 3-4 Ulu Palembang, kacamata pariwisata saya melihat kalau lokasi ini dapat dikembangkan menjadi objek wisata baru di kota Palembang.

Nyatanya, hari ini (26 November) saya mendapat kabar kalau dari teman-teman GenPI Sumsel mengadakan acara Pasar Baba Boentjit. Saya penasaran dan mulai mengajak teman-teman lainnya untuk bisa datang ke acara bersama.

Sensasi Naik Ketek

pasar baba boentjit
Wefie bersama teman-teman Kompal

Rombongan kami bergerak menuju ikon baru kota Palembang, yaitu Tugu Ikan Belido. Tugu yang dibangun oleh pemerintah kota Palembang ini menjadi meeting point yang mencolok dan mudah ditemukan. Persis di dekatnya adalah Dermaga BKB tempat kumpulnya para pemilik kapal menawarkan jasa mereka untuk menyebrangkan kami.

Jika ingin menuju rumah Ong Boentjit bisa diakses lewat jalur darat dan sungai. Tapi, jalur darat tidak saya sarankan sebab memang cukup sulit diakses apabila menggunakan kendaraan mobil. Sebab tidak ada lahan parkir dan jalur lorong masuk sempit berliku. Sehingga, opsi terbaiknya menggunakan jalur sungai sehingga kita memiliki pengalaman menyeberangi Sungai Musi, sungai yang membelah Palembang dan terpanjang di Sumatera.

pasar baba boentjit
Tugu Iwak Belido
pasar baba boentjit
Menikmati naik ketek dari Sungai Musi
pasar baba boentjit
Halaman rumah mulai ramai

Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa perahu ketek di luar yang disediakan oleh panitia. Sejauh penglihatan saya hanya melihat dua perahu ketek dari panitia yang selalu penuh oleh orang yang mengantri. Kami pun mencoba negosiasi dengan penyewa perahu lainnya agar bisa mengantarkan kami ke tujuan dengan harga Rp 10.000/orang yang diisi 12 orang.

Harga yang masih terjangkau untuk sekedar menikmati perjalanan diombang-ambing jilatan air Sungai Musi. Saya sengaja mengambil posisi duduk di ujung kapal agar dapat lebih menikmati suasana, walau kulit harus disengat sinar matahari.

Sekilas Ong Boen Tjit, Peranakan di Tepian Sungai Musi

pasar baba boentjit
Mengeksplorasi sudut rumah Ong Boen Tjit

Dari Tepian Sungai Musi, nama Baba Ong Boen Tjit tentunya sudah dikenal oleh masyarakat setempat. Siapa dia? Tentu semua orang mempertanyakan. Sepengetahuan saya Baba Ong Boen Tjie termasuk salah satu saudagar kaya di Palembang tempo dulu. Namun perihal apa yang dia lakukan saat dulu saya tidak mendapat informasi.

Palembang tempo dulu memang memiliki riwayat sejarah para saudagar yang kaya dan terkenal. Rumah-rumah mereka kebanyakan memang berada di tepian sungai untuk memudahkan akses mereka berniaga dan tentunya kapal-kapal yang persis menepi di depan rumah. Ciri khas dari rumah tempo dulu adalah rumah limas dengan kayu unglen yang kokoh. Serta jendela yang banyak agar sirkulasi udara lebih gampang masuk dan keluar.

pasar baba boentjit
Pengunjung makin membludak

Waktu kunjungan saya yang pertama kali ke rumah Baba Ong Boen Tjit ini, kami berjumpa dengan menantunya almarhum Baba, sebutan untuk paman Boen Tjit. Mereka adalah keturunan kedelapan. Rumah Baba Ong Boen Tjit ini persisnya di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT 050 RW 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1.

Layaknya rumah limas tua kota Palembang, rumah Ong Boen Tjit ini memiliki tiga ruangan. Ruangan paling depan ditujukan untuk ruangan tamu yang lebih lega dan luas. Interior di dalamnya memang bernuansa merah dan hitam serta kayu unglen yang masih kokoh. Saya masih dapat melihat pajangan gambar-gambar lama pemilik asli rumah tersebut.

pasar baba boentjit
Pintu merah ini siap dibuka
pasar baba boentjit
Ornamen menarik dari kayu penyangga
pasar baba boentjit
Pintu kayu dari arah belakang
pasar baba boentjit
Ada yang tahu arti huruf mandarin tersebut?

Ada sebuah pintu kayu berwarna merah menjadi akses untuk masuk ke ruang tengah. Terdapat empat buah kamar tidur saling berhadapan satu sama lain. Di tengah terdapat altar patung-patung dewa untuk sembahyang. Pajangan guci-guci lama masih ada di sekitar ruangan. Dulunya, Ong Boen Tjit ini adalah seorang Kong Hu Cu, namun beberapa generasi penerusnya sekarang sudah menjadi seorang mualaf setelah menikah dengan orang asli Palembang.

Masuk ke dalam ruangan, kita akan menjumpai area yang lebih tepat digunakan sebagai ruang keluarga dan juga terdapat beberapa kamar. Area ruangan ini luas sehingga digunakan juga untuk dapur masak. Sekilas tempat ini memang tampak kurang terawat. Kayu-kayu penyanggah sudah mulai terlihat miring dan lantai injak yang kurang begitu kokoh.

pasar baba boentjit
Para pengunjung duduk di selasar ruangan belakang
pasar baba boentjit
Ruang paling belakang rumah Baba Ong Boen Tjit
pasar baba boentjit
Rumah yang menjadi gudang bernuansa melayu.

Di bagian paling pojok belakang juga terdapat sebuah altar leluhur yang sepengetahuan saya itu merupakan leluhur nenek moyang.

Kalau kalian berjalan ke samping rumah Ong Boen Tjit ada sebuah rumah kosong yang lebih bernuansa melayu dari warna cat rumahnya. Dulunya rumah ini digunakan sebagai gudang.

Kriya Warga Lokal Pengrajin Nipah

pasar baba boentjit
Ibu-ibu pengrajin nipah di 3-4 Ulu Palembang

Di dekat rumah Ong Boen Tjit, persisnya arah belakang ada kelompok rumah warga asli Palembang yang menjadi pengrajin lidi nipah dan kemplang tunu. Nipah adalah sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau. Dari tanaman ini, para pengrajin memanfaatkan lidi nipah yang dikeringkan untuk dijadikan keranjang anyaman seperti alas piring di rumah makan.

Sayangnya, kriya warga lokal dalam menjual hasil mereka kurang mendapat perhatian dari UMKM setempat. Harga jual satu keranjang alas makan ceper mereka jual berkisar harga Rp 1500 per anyaman. Lalu, dibeli oleh pengempul dan dijual kembali dengan harga yang bisa 5 hingga 10 kali lebih mahal dari yang mereka beli. Sungguh ironis bagi para pengrajin.

pasar baba boentjit
Keranjang anyaman dari nipah

Biasanya kegiatan mengayam nipah ini dilakukan oleh para ibu-ibu rumah tangga yang melakukannya di depan teras rumah mereka sambil mengurus anak.

Selain itu, kulit dari nipah sendiri bisa digunakan kembali untuk rokok nipah yang pernah saya jumpai pada saat ke Tidore beberapa bulan lalu. Rokok nipah ini berbentuk seperti lintingan tembakau dan nipah kemudian tinggal kita bakar ujung nipah dan menikmati candu tembakau. Rasanya agak lebih sepat dengan cita rasa yang kuat. Di Palembang sendiri, rokok nipah belum pernah saya jumpai. Tapi, informasi yang saya dapat rokok nipah ini diminati oleh pasar luar seperti Malaysia.

Kemplang Tunu

pasar baba boentjit
Memanggang kemplang tunu

Tiap kota tentunya memiliki kuliner khas, sejauh yang pernah saya jumpai mengenai kemplang. Seperti di Bandung memiliki nama kerupuk melarat sebab kerupuk digoreng hanya menggunakan pasir sehingga tidak menggunakan minyak. Sedangkan kemplang tunu, proses pembuatannya “digoreng” dengan cara “dibakar” di atas bara arang supaya mengembang dan renyah.

Harga kemplang tunu lebih murah sebab bahan dasarnya memang tidak menggunakan ikan, kebanyakan tepung sagu dan aroma ikan. Sehingga tekstur yang dicari di kemplang tunu adalah bantet atau lebih keras. Disajikan dengan cuka merah yang dipadu terasi tentunya akan lebih nikmat.

Antusiasme Netizen Sambut Positif

pasar baba boentjit
Pengunjung yang terdiri dari netizen dan warga setempat

Pasar yang dibuat dadakan di halaman depan rumah Baba Ong Boen Tjit ini menjadi gaung bagi netizen Palembang yang membutuhkan wisata baru. Para pengunjung dapat duduk bersantai di kursi kayu atau pinggiran rumah. Boleh saya katakan rumah Ong Boen Tjit ini memang instagramable di beberapa sisi, sehingga wajar sekali rasa penasaran serta ekspektasi yang dibawa saat menyebrangi dengan perahu ketek memiliki sensasi luar biasa.

pasar baba boentjit
Ada 5 booth penjual makanan

Saya mengamati pengunjung yang datang lebih dari 300 orang dan makin bertambah hingga acara selesai sore hari. Teman-teman kreatif dibalik acara Pasar Baba Ong Boentjit ini ingin menampilkan beberapa hidangan tradisional dari Palembang seperti pempek, lakso, burgo, ragit, mie celor dan rujak mie. Ditambah lagi kue-kue tradisional disajikan sebagai pilihan bagi pengunjung yang ingin mengalami nikmatnya makanan khas Palembang seperti Lapan Jam, Maksuba, Gandus, Srikayo dan Dadar Jiwo. Kuliner lokal ini adalah milik warga sekitar yang berjualan agar membantu ekonomi setempat. Harga yang mereka jual lumayan terjangkau.

pasar baba boentjit
Anak-anak kecil sekitar rumah Ong Boen Tjit

Animo pengunjung juga membludak saat ikut menyaksikan pertunjukan drama “Antu Banyu” yang menjadi mitos tempo dulu bagi masyarakat pinggiran Sungai Musi. Serta ada juga demo masak dari chef Kukuh yang memperagakan 5 jenis pindang Palembang yaitu Pindang Tulang, Pindang Telok Gabus, Pindang Baung, Pindang Udang Galah dan Pindang Patin. Serta ada Dinda Kirana, artis yang tidak saya kenal. Sebab dia juga tidak mengenal saya 😆

Acara yang hanya digelar satu hari ini memang bertujuan untuk mempopulerkan rumah peninggalan Baba Ong Boen Tjit sebagai destinasi wisata baru Kota Palembang selain memanfaatkan potensi lokal dengan mengangkat nilai budaya agar dapat menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

pasar baba boentjit

pasar baba boentjit
Baba mencari mama bagi anak-anaknya?

Inilah atraksi menarik yang menggabungkan antara daya tarik wisata budaya dan kuliner khas Palembang. Didukung tempat yang menarik di pinggir Sungai Musi sehingga melengkapi suasana akhir pekan bersama keluarga memandang sunset di tepian Sungai Musi yang bakal menjadi momen tak terlupakan. Selain itu lokasi ini juga menarik untuk dijadikan tempat prewedding di Palembang.

Perjalanan saya selesai, rombongan kami yang terdiri dari teman-teman Kompakers Palembang dan Kompasiana Palembang (KOMPAL) kembali pulang menikmati sore di atas ketek menuju Dermaga BKB.

Dari jauh, saya melihat seorang “baba” bermain di ayunan tahun 90-an bersama anak-anaknya. Sedangkan tidak jauh dari dia, segerombolan ibu-ibu tengah berkumpul. Apakah dia “baba” yang sedang mencari mama untuk anak-anaknya?

***

Mewarnai kegiatan GenPI Sumsel. Feel free to share ya…

Baru! 2 Tempat Bermain Anak di Palembang

Dalam satu hari bersamaan, lalu lintas kota Palembang seperti mengalami chaos kemacetan berkepanjangan. Pasalnya dalam satu hari terdapat beberapa event dalam satu lokasi di jalur protokol Simpang 5 DPRD Kota Palembang. Saya langsung membayangkan kemacetan yang terjadi.

Pembangunan kota Palembang makin melaju pesat dalam menyambut Asian Games 2018 nanti, seperti yang diketahui kalau Palembang akan memilki LRT pertama di Indonesia. Saat ini tengah dalam tahap pembangunan, tentunya berimbas pada tingginya volume kendaraan. Kedua, sudah mulai banyak pembangunan hotel dan kuliner menarik.

Ternyata alasan tersebut dilirik oleh para investor untuk mengembangkan bisnis mereka. Sektor hiburan di Palembang kini bertambah dengan hadirnya wahana permainan keluarga baru yang boleh saya katakan sudah lebih baik.

Seperti apa dua wahana permainan keluarga baru tersebut?

LoFt Palembang Indah Mall

loft palembang indah mall

Terletak di lantai paling atas Palembang Indah Mall (PIM) atau tepatnya di atas lahan parkiran mobil dekat bioskop XXI. Luas lahan yang dulunya menjadi kosong dan menjadi tempat parkir sekarang berubah menjadi wahana permainan keluarga yang bersifat outdoor.

Sekilas saya mengamati wahana permainan yang baru ada di tempat ini adalah The Explotion. Sifatnya permainan nantinya para pengunjung diajak untuk meniti tangga dengan bantuan tali sling yang diikatkan pada pinggang. Perlahan-lahan, akan berjalan mengelilingi setiap titian tantangan yang dijumpai. Menarik!

tempat bermain anak di palembang tempat bermain anak di palembang

Kemudian, ada juga arena bombom car yang merupakan permainan mobil-mobilan lama. Menariknya mobil yang dikontrol menggunakan injakan pedal ini tidak hanya bisa dimainkan oleh anak kecil, melainkan orang dewasa.

Harga tiket permainan wahana LoFt Palembang

Saat saya berkeliling di sekitar arena permainan, memang mayoritas lebih banyak didatangi oleh anak-anak. Tetapi bagi orang remaja dan dewasa dapat bermain di wahana lainnya seperti Rope Game itu menarik.

harga-tiket-masuk-ke-loft-pim

Rope Game
Weekday/Weekend Rp 75.000 / Rp 100.000

Bumper Car
Weekday/Weekend Rp 25.000 / Rp 25.000

Excavator
Weekday/Weekend Rp 25.000 / Rp 25.000

Inflatables
Weekday/Weekend Rp 50.000 / Rp 75.000

Mini Inflatables
Weekday/Weekend Rp 35.000 / Rp 50.000

Arena permainan The Playground ini juga melengkapi tempat bermain dengan Rooftop Cafe yang hadir menjual aneka jajanan bagi para pengunjung.

Secara keseluruhan, permainan yang berada di arena permainan LoFt ini memang lebih banyak melakukan gerakan fisik serta akan menguji adrenalin anak maupun orang dewasa yang bermain didalamnya.

Trans Studio Mini Palembang

trans studio mini palembang

Dulu saya tahu Trans Studio hanya ada di Bandung, maka saat pertama kali saya pindah ke Bandung, tempat pertama yang ingin saya datangi adalah Trans Studio Bandung. Ternyata megah sekali.

Saya salut dengan ide pemikiran Pak CT dalam mengekspasi Trans Studio ke Palembang. Walaupun boleh saya katakan luas wahana permainan di Trans Studio Palembang tidaklah begitu besar. Hanya terdapat beberapa wahana permainan saja seperti rollercoaster dan swing.

transmart-palembang

Seperti biasa, saat Grand Opening Transmart di kawasan Palembang City Center (PCC) akan menyedot perhatian kalangan lapis masyarakat yang ingin melihat isi dalam Transmart yang terdiri dari 3 lantai. Lantai dasar berisi tenant-tenant makanan, lantai pertama, perlengkapan fashion keluarga dan grocery. Lantai kedua berisi perlatan elektronik serta lantai ketiga merupakan tempat bermain anak dan keluarga Trans Studio Mini yang akan mengambil porsi kue dalam bisnis di Palembang.

Harga tiket permainan wahana Trans Studio Mini Palembang

Sebelum kalian mengajak anak dan keluarga bermain di 6 wahana permainan di Trans Studio Mini Palembang ini, kalian harus mengisi saldo yang dimulai dari harga Rp 50.000 hingga Rp 1.000.000. Setiap pengisian saldo akan mendapatkan saldo tambahan dari nominal.

  • Crazy Coaster Rp 30.000
  • Mini Train Rp 25.000
  • New York Swing Rp 25.000
  • Bumper Cars Rp 25.000
  • Sky Riders Rp 25.000
  • Venture River Rp 25.000

Well… well… well…

Dalam satu hari saya berkunjung ke dua wahana permainan keluarga baru di Palembang. Kesimpulan saya, sekarang bagi masyarakat Palembang sepertinya tidak perlu jauh-jauh mencari tempat bermain anak dan keluarga untuk hari sabtu dan minggu. Melihat animo masyarakat sepertinya tempat bermain keluarga ini akan lebih cocok bagi anak-anak dan remaja. Kalian cukup siapkan uang lebih saat anak-anak kalian memberikan kode, “Pa, jalan yuk..”

liburan-ke-palembang

Liburan Ke Palembang Bermodal Informasi Geospasial

“Ded, aku nak ke Palembang, pokoknyo ajak aku cari burgo, pempek pistel, jalan-jalan ke Alquran Raksasa yo,” bunyi pesan ayuk Annie lewat whatsapp.

“Beres!,” jawabku senang karena bakal ada tamu yang mau liburan ke Palembang.

Kota Palembang dulunya lebih dikenal sebagai kota industri dan perdagangan. Letak geografis Palembang yang strategis sebab berada di tepian Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Bangka. Hal ini menjadi keuntungan bagi Kota Palembang dalam perdagangan masa lampau saat Kerajaan Sriwijaya menjadi penguasa lautan.

Berangkat dari latar belakang tersebut, nyatanya banyak traveler liburan ke Palembang, selain tentunya menghirup cuko pempek yang nikmat. Sebagai kota tua, keunikan kota yang dibelah dan dikelilingi Sungai Musi dan anak-anak sungainya ini harusnya menjadi kota sungai. Sayangnya pola pembangunan pada masa lalu masih berpola kota daratan.

Mengenal Informasi Geospasial

Cara paling mudah liburan ke Palembang adalah dengan memanfaatkan Informasi Geospasial (IG) yang sebenarnya sudah sering kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nama Geospasial mungkin masih awam bagi kita. Menurut UU No. 4 2011, Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

Melalui Badan Informasi Geospasial atau BIG menjadi payung untuk menjamin ketersediaan akses terhadap informasi geospasial yang dapat dipertanggungjawabkan serta mendorong penggunaan informasi geospasial dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dalam prakteknya, Informasi Geospasial berguna sebagai sistem pendukung pengambilan kebijakan dalam rangka mengoptimalkan pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan ketahanan nasional, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam, penyusunan rencana tata ruang, perencanaan lokasi investasi dan bisnis perekonomian, penentuan garis batas wilayah, pertanahan, dan kepariwisataan.

Bentuk dari Informasi Geospasial yang tanpa kita sadari sering menggunakan peta online/digital atau saat bermain media sosial kita bisa langsung tahu lokasi yang dituju lewat geotagging dari gambar.

Manfaat Informasi Geospasial Saat Traveling

Mudahnya mencari lokasi dan gambar lewat Instagram

Bagi kita yang senang traveling, tentunya informasi geospasial akan sangat bermanfaat sekali untuk survey lokasi sebelum kita datang ke suatu tempat. Kita bisa survey mulai dari titik spot yang menarik untuk difoto atau informasi lain yang dibagikan oleh pengguna media sosial seperti di Instagram.

Saya termasuk yang penasaran terhadap tempat-tempat baru. Tentunya ingin sekali mendatangi tempat tersebut agar dapat tulis dan bercerita di blog. Lalu, saya mengingat saat pertama kali pindah ke Bandung, saya sangat terbantu sekali dengan informasi geospasial lewat peta digital. Petunjuk arah serta gambar yang diberikan tepat. Memudahkan saya untuk berkeliling kota.

Informasi Geospasial bisa kita gunakan untuk mencari lokasi menarik

Tanpa perlu ragu bagaimana cara sampai ke sana atau menggunakan transportasi seperti apa. Saat ini kemajuan informasi geospasial memudahkan kita mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Liburan ke Palembang Enaknya Cari Aktivitas Apa Saja?

Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2º 52’ – 3º 5’ LS dan 104º 37’- 104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 Km². Saat ini sudah banyak destinasi wisata sekaligus mencari kuliner enak dengan mengandalkan peta online dan geotagging lewat media sosial. Kita dapat dengan mudah menemukan lokasi yang dituju.

Bertandang ke Rumah Limas Pecahan Uang 10 Ribu

Saya paling suka mengajak teman-teman blogger yang sedang liburan ke Palembang untuk datang ke Museum Bala Putera Dewa. Keunikkan dari museum ini tak hanya koleksi peninggalan yang masih terawatt, tapi juga Rumah Limas yang ada dalam pecahan uang 10 ribu. Bagi traveler, berfoto di depan Rumah Limas ini termasuk salah satu aktifitas yang wajib dilakukan.

Melihat Al-quran Terbesar di Dunia

Nama Palembang ikut harum oleh karena destinasi religi yang terletak di daerah Gandus. Saya masih ingat waktu pertama kali datang ke tempat ini, belum terdeteksi oleh peta online. Namun, kalau sekarang kalian mencari lokasi tempat ini sangat mudah.

Menyantap Aneka Pindang dan Pempek

Tak lengkap rasanya kalau sudah liburan ke Palembang kalian tidak menyantap kuliner khas Palembang seperti pempek dan pindang. Dua kuliner ini mudah sekali dijumpai ditiap sudut kota Palembang, tapi ada satu tempat yang saya suka datang karena cita rasa kuah pindang yang gurih serta harga yang masuk akal. Kalian bisa mencari lewat geotagging di Instagram “Pindang Sulthan & Agan Jakabaring”.

Rasakan Penggunaan Informasi Geospasial Dalam Kehidupan Sehari-hari

Informasi Geospasial secara umum amat sangat diperlukan dalam penanggulangan bencana, pelestarian lingkungan hidup dan pertahanan keamanan. Bagi kita orang umum, hal yang paling sederhana bisa kita rasakan sekaligus kontribusi yaitu bagaimana dapat berbagi informasi yang tepat dan akurat lewat aktifitas geotagging kita di media sosial.

Dengan adanya penerapan informasi geospasial untuk traveling kita dapat mengetahui berbagai letak, lokasi, termasuk didalamnya karakteristik tempat baik itu buatan manusia ataupun yang telah ada. Informasi haruslah bersifat terbuka dan harus mudah diakses oleh para pengguna sehinga secara optimal dapat dimanfaatkan. Keterbukaan informasi inilah yang dapat kalian manfaatkan pada saat liburan ke Palembang.

Setelah tahu berbagai informasi wisata Palembang lewat data geospasial, kita dapat mencari referensi penunjang. Cukup lewat ponsel dan media sosial seperti Instagram, kalian sudah dapat menemukan referensi tempat sekaligus rute menuju lokasi. Bahkan, secara tidak langsung kita juga ikut kontribusi memberi informasi geospasial berbasis lokasi bagi pengguna lainnya dari sisi pariwisata.

Ayo kapan kalian liburan ke Palembang?

Referensi :

  • Badan Informasi Geospasial
  • Direktori Kota Palembang

Pesona Timur Tengah di Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang – Kampung? Ya! Ini bukan sembarang kampung karena di sini lah Anda bisa melihat bangunan-bangunan rumah tempo dulu yang sudah berusia lebih dari 200 tahun! Serius?! Tentu dong, dulunya kampung ini didatangi oleh seorang tokoh sepuh keturunan Arab yang membawa ajaran agama Islam ke kampung tersebut. Kampung Al Munawwar, berlokasi di daerah 13 Ulu Palembang. Nama kampung itu akhirnya diambil dari tokoh sepuh tersebut yaitu Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawwar.

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Salah satu spot foto di tempat ini.

Kota Palembang memiliki berbagai etnis dan budaya yang ada di masyarakatnya. Mulai dari etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tersebut memiliki komunitasnya masing-masing. Umumnya tempat tinggal masyarakat etnis tertentu, sebagian besarnya adalah masyarakat dari etnis tersebut. Misalnya, sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Pedestrian yang telah direnovasi.

Kampung ini menjadi kawasan warga Palembang keturunan Arab yang melakukan aktifitas di pinggiran Sungai Musi. Mayoritas pemukiman Arab terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir, maupun yang di bagian Ulu. Informasi yang saya rangkum, dalam bermasyarakat terdapat beragam paham yang berkembang. Diantaranya ada keturunan Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny, Syahab (Shyhab), dan sebagainya. Meski paham yang mereka anut tersebut berbeda-beda, sebagian besar dari mereka masih bersaudara.

Baca juga : Menginjak Kaki Belajar Sejarah di Kampung Al Munawar 13 Ulu Palembang

Sensasi Timur Tengah ala Palembang

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Sisi depan perkampungan dari aliran Sungai Musi.

Bagi Anda yang ingin berkunjung melihat dan merasakan pesona Timur Tengah di Kota Palembang, maka tidaklah sulit untuk berkunjung ke perkampungan arab ini karena akses jalan menuju lokasi dapat dilalui dengan jalur darat atau sungai. Jalur darat bisa melewati pasar 10 Ulu atau Jalan Telaga Swidak melewati Pasar Pocong. Apabila lewat sungai Anda bisa menyewa perahu getek dari Dermaga BKB menuju Masjid Al Munawwar.

Berada di kampung arab Al-Munawwar akan membawa Anda kepada pemandangan kehangatan warga dan suasana timur tengah dengan corak arsitektur Eropa. Penduduk lokal kampung Al Munawwar ini juga ramah dan terbuka bagi Anda yang ingin ikut berbaur dan mengenal sejarah perkampungan ini. Terdapat rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu-kayu unglen berusia ratusan tahun, selain itu ada juga sebuah sekolahan bernuansa Islami tempat anak-anak di sekitar kampung. Tempat ini juga menjadi tempat terbaik untuk menikmati sunset di pinggir Sungai Musi.

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Wajah Lama “Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang”
Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Wajah Baru “Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang”

Sejak diresmikan beberapa waktu lalu oleh Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin maka kampung arab 13 ulu menjadi salah satu destinasi wisata di Palembang. Kampung Arab menjadi sorotan masyarakat setempat maupun luar kota. Bahkan tidak tanggung-tanggung seperti Kementrian Pariwisata, Arief Yahya juga menginjakkan kaki di kampung arab ini. Masih kuat ingatan saya pengalaman pertama kali berkunjung bersama teman-teman lainnya dalam rangka membersihkan sampah dan eceng gondok dari aliran Sungai Musi. Lokasi kampungnya yang berada persis di pinggir Sungai Musi ini awalnya tampak kumuh dan kurang terawat.

Tradisi Pernikahan Kampung Arab

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Rumah Batu, salah satu dari 8 rumah di kawasan perkampungan arab.

Apabila Anda datang melalui jalur sungai, selain bisa menikmati pemandangan pinggir Sungai musi, Anda pun akan langsung berjumpa dengan musholah Al-Munawwar yang saat ini menjadi musholah favorit bagi tiap orang yang berkunjung untuk melaksanakan sholat 5 waktu.

Kampung arab Al Munawwar sekarang sudah cantik. Wajah-wajah rumahnya bagaikan pria-pria arab berwajah rupawan dengan hidung mancung, wanita cantik seperti bintang film lalu anak-anak kecil dengan alis mata yang lebat dan panjang. Sungguh kampung ini menjadi akulturasi budaya menarik yang ada di Kota Palembang.

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Kokoh ganteng yang berharap gantengnya kayak orang Arab :)) yaa.. harap maklum.

Waktu bercerita dengan beberapa teman berdarah Arab, saya mendapatkan gambaran mengenai adat tradisi khususnya tentang pernikahan. Menurut kebudayaan mereka, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki bukan dari keturunan arab atau masyarakat dari daerah sekitar. Dalam hal ini sebut saja Pribumi. Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan bukan keturunan arab. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki pribumi akan dianggap aib oleh masyarakat Kampung Arab. Karena menurut mereka, Laki-laki-lah masih memiliki darah keturunan dari Rasulullah, sedangkan perempuan tidak. Oleh sebab itu jika perempuan keturunan Arab menikah dengan laki-laki pribumi, maka garis dari Rasulullah tersebut akan terputus hanya pada perempuan tersebut, karena laki-laki pribumi tidak memiliki darah keturunan dari Rasulullah.

Kampung Arab Bernuansa Islami

Saya masih ingat waktu pertama kali datang ke kampung ini dengan bangunan kayu yang warnanya sudah mengelupas dan halaman kampung belum begitu rapi. Lalu, satu tahun berlalu sejak terakhir kali saya mampir ke sana saat ada Festival Kopi yang diselenggarakan di kampung ini. Seketika saya merasakan atmosfer kampung arab ini sekarang berubah wajah menjadi lebih ramah lagi dan nyaman untuk dikunjungi.

Area kampung arab ini memiliki delapan rumah yang menjadi cagar budaya. Enam rumah berada di area depan mengelilingi lapangan luas. Kemudian dua rumah lagi berada di belakang menghadap Sungai Musi. Keunikan masing-masing rumah ini dikarenakan usia bangunan rumah tua dan mencapai lebih hingga 250 tahun. Seolah digiring masuk ke suasana Arabian, kampung ini memang kental sekali dengan nuansa islami. Hal ini tak lepas dari dulunya peran Kapten Arab yaitu Ahmad Al-Munawwar yang singgah lalu berkeluarga sehingga beranak cuculah hingga sekarang.

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Sekolah Al-Kautsar yang bernuansa islami.

Deretan rumah yang masih dihuni ini terbuat dari kayu-kayu ulin serta ada salah satu rumah yang memiliki marmer dan tehel kunci dari Eropa. Dari delapan rumah tersebut, ada dua rumah kembar karena bangunannya mirip, rumah batu karena hanya satu-satunya bangunan batu di kampung tersebut serta ada salah satu bangunan yang saat ini menjadi Yayasan Sekolah bagi anak-anak sekitar kampung.

Uniknya sekolahan di kampung ini mengikuti ajaran kurikulum sesuai pendidikan di Arab yaitu pada hari Jumat mereka libur sedangkan hari Minggu mereka masuk belajar seperti biasa. Penduduk lokal kampung Al Munawwar ini sangat ramah dan terbuka dengan wisatawan yang datang berkunjung. Namun, sebagai pengunjung juga harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku sesuai dengan syariat Islam.

Baca :

Hidangan Kuliner Khas Kampung Arab

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Munggahan, tradisi makan bersama ala Kampung Arab Al-Munawwar Palembang

Saya sendiri saat dulu berkunjung ke kampung arab Al Munawwar sempat diperlihatkan sebuah al-quran dengan tinta emas yang berusia lebih dari 100 tahun. Kemudian di momen tertentu, terkadang warga kampung Al Munawwar mengadakan acara “munggahan” lengkap dengan tarian Gambus. Acara “munggahan” ini seperti tradisi makan bersama secara lesehan dengan hidangan khas arab yaitu nasi minyak yang mirip seperti nasi briyani yang ada campuran kismis, lalu ada lauk pauk seperti gulai kambing dan ayam serta ada sayuran dan sambal buah.

Selanjutnya, para pria arab ini akan berdendang alunan musik Timur Tengah. Tarian ini merakyat dan merangkul tiap orang untuk bisa ikut menari bersama. Gerakan awalnya memang memiliki ritme namun setelah itu Anda pun diajak untuk menari bersama mengikuti gerakan mereka. Sangat menarik!

Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Gambusan, seni gabungan musik dan tari dari timur tengah.
Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang
Kak Didi, pemilik merk dagang Kopi Sendok Mas yang sudah turun temurun.

Sambil Anda menonton tarian gambus dan menikmati hidangan “munggahan”, ternyata di kampung arab Al-Munawwar ini di dalamnya ada pengusaha kopi turun temurun. Kopi andalan di kampung ini berjenis robusta arabika Sumatra Selatan. Cita rasa aroma kopinya sangat khas sehingga akan sangat menggoda bagi para penikmat kopi.

Palembang boleh berbangga dengan objek wisata baru ini karena secara tidak langsung meningkatkan jumlah wisatawan yang datang berkunjung untuk melihat sendiri keberagaman yang ada dari penduduk lokal di kampung arab Al-Munawwar 13 Ulu.

Ingin berkunjung ke Kampung Arab?

Layaknya kita sedang bertamu ke rumah orang, maka begitu pula ada bagian-bagian yang perlu kita hormati. Warga kampung Al-Munawwar lumayan memegang tradisi turun temurun demi menjaga kelestarian keturunan mereka. Mereka terbuka dengan warga yang ingin berkunjung, tapi sebagai pengunjung pun ada adab yang perlu kita hargai.

  • Berpakaian sopan saat berkunjung.
  • Bagi pria, tidak menggunakan celana pendek. Apabila menggunakan celana pendek harap menggunakan sarung. Sarung boleh dipinjam dengan warga kampung.
  • Bagi wanita, tidak menggunakan pakaian terbuka dan rok.
  • Bagi bukan muhrim tidak boleh berfoto berdekatan atau bergandengan tangan.
  • Membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.
  • Apabila ingin naik perahu dari Dermaga BKB, harga perkepala Rp 10.000 dan pulangnya juga Rp 10.000
  • Kampung Arab Al-Munawwar dibuka untuk untuk mulai dari pukul 8.30 – 17.00 WIB.
  • Biaya tiket masuk perkepala Rp 3.000,-

Sempatkanlah untuk berfoto-foto di sekeliling perkampungan dan temukan spot-spot favorit yang menjadi lokasi foto instagramable.

***

Tulisan tentang Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu ini juga dimuat di majalah Sriwijaya Air Inflight Magazine edisi September 2017. Apabila kalian sedang terbang bersama Sriwijaya Air, jangan terlewat membaca karya sederhana saya di atas pesawat. Saya akan senang apabila kalian mention saya di media sosial kalau kalian sudah membacanya. Suatu apresiasi tersendiri bagi saya, semoga saja perjalanan menulis saya terbuka jalan terang.