Indonesia Palembang Sumatera Selatan travel

Riwayat Kota Palembang Dulunya Kota Air


Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki sejarah yang tidak boleh dilupakan yaitu sebagai kota air pada saat menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke tujuh.

Dulu area kota Palembang dipenuhi oleh sungai dan rawa, sehingga menjadi sarana transportasi masyarakat sehari-hari. Dan juga sebagai sumber air bersih. Topografi Palembang memang kota yang dikelilingi air, bahkan terendam oleh air. Asal air di sana baik dari rawa maupun dari sungai dan juga hujan, sehingga sekitar 50% tanah di Palembang tergenang oleh air.

jembatan ampera
Modernisasi kota Palembang

Hanya sayangnya kualitas air, mulai dari air tanah dan sungai yang ada di Palembang kian menurun setiap harinya. Bayangkan saja krisis air menjadi permasalahan di setiap rumah. Masyarakat merasa ada penurunan kualitas secara umum yang disebabkan oleh limbah industri, sampah masyarakat. Belum lagi berkurangnya anak sungai dan rawa, serta minimnya pepohonan sebagai penyaring dan penyerap air.

Palembang Kota Air Tempo Dulu

Kota Palembang pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang dilanjutkan dengan masa kolonial Belanda dan awal masa kemerdekaan RI, mulai tahun 1780 sampai dengan tahun 1950 an. Pada awal masa inilah dijadikan awal berdirinya kota Palembang, tahun 1780.

Kesultanan Palembang terbagi dalam dua masa kesultanan, yaitu masa kesultanan di bawah Sultan Mahmud Badaruddin I, dan masa kesultanan di bawah Sultan Mahmud Badaruddin II. Sejak meninggalnya SMB II dan dimakamkan di Ternate, maka Kesultanan Palembang sudah tidak begitu terdengar.

Peta kota Palembang tempo dulu banyak aliran sungai. Sumber : WAG

Di masa Sultan Mahmud Badaruddin I pusat kesultanan adalah di keraton yang disebut dengan ”Kuto Lamo” yang didirikan pada tahun 1737, dan di masa Sultan Mahmud Badaruddin II pusat kesultanan adalah di keraton yang disebut dengan ”Kuto Besak” yang didirikan pada tahun 1780.

Kedua keraton tersebut, Kuto Lamo dan Kuto Besak terletak berdampingan di tepian sungai Musi dengan orientasi ke sungai. Letak Kuto Lamo diperkirakan dari kawasan rumah siput yang kini menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Masjid Agung Palembang yang kini bernama Masjid SMB Jayo Wikramo. Namun dari hemat kacamata, saya sendiri belum pernah melihat gambar seperti apa rumah siput sejak Belanda memang membakar semua bukti-bukti sejarah.

Sedangkan letak Kuto Besak adalah kawasan benteng Kuto Besak sekarang ini yang berhadapan langsung dengan Sungai Musi. Ini adalah cerita sejarah yang saya peroleh.

Kolonial Belanda kemudian melakukan pengembangan kota pada masa itu. Setidaknya membantu Kantor Ledeng yang digunakan sebagai menara air, namun sekarang menjadi gedung kerja walikota Palembang. Serta membangun kawasan pemukiman Belanda di sekitar Talang Semut Lama, di kawasan ini masih bisa ditemukan struktur bangunan rumah corak Belanda dengan jendela yang besar dan kaca patri tua.

rumah sungai
Rumah panggung yang berada di atas sungai musi

Karakteristik fisik kota Palembang pada tempo dulu, secara geografis merupakan daerah yang didominasi oleh sungai dan rawa, untuk itulah pada masa tersebut pemerintah kota kolonial Belanda membuat dua buah kolam resapan air hujan di kawasan permukiman Belanda, kedua kolam resapan tersebut sekarang ini dikenal dengan sebutan Kambang Iwak Besak dan Kambang Iwak Kecik. Pada masa kesultanan palembang prasarana-sarana transportasi adalah sungai dan angkutan air.

Palembang Masa Kini

Saya sebagai orang yang lahir pada masa Palembang masa kini merasakan kota pempek ini sangat luas dan kaya akulturasi.

Pada prinsipnya wilayah kota Palembang pada masa kini sebenarnya bertitik tolak dengan gambaran kota Palembang tempo dulu. Anak sungai dan rawa yang dulunya mendominasi, sekarang ditutup dan ditimbun. Setidaknya lebih dari 50 anak sungai di kota mengalami transformasi bentuk dan fungsinya.

sejarah kota palembang
Kapal muat angkut
sejarah kota palembang
Perahu, salah satu transportasi yang masih ada.

Istilah kota Palembang dikenal dengan sebutan Venesia dari TImur pada masa kemerdekaan kota tidak salah. Beberapa sejarawan yang saya jumpai bilang kalau kota Palembang mempunyai citra sebagai kota air seperti halnya kota Venesia di Eropa. Namun citra kota Palembang sebagai kota air tersebut mengalami pergeseran pada masa sekarang ini.

Seperti “daratisasi” dengan anak sungai dan rawa yang ditutup menjadi bangunan. Efek memutuskan budaya sungai itu cukup mengerikan. Kalau dilihat berapa banyak anak Palembang yang bisa berenang, kecuali mereka yang masih tinggal di pinggir sungai Musi. Ini dinyatakan baik oleh sebagian masyarakat dan beberapa tokoh-tokoh masyarakat kota Palembang. Jadi struktur kotanya lebih mengarah ke struktur kota yang bersifat umum.

Dari gambaran kota Palembang tempo dulu, saya membayangkan bagaimana megahnya keraton kesultanan jika saat ini masih ada. Apalagi terletak berdampingan di tepian sungai Musi dengan orientasi ke sungai. Mungkin saja bukti sejarah tersebut pernah ada namun hilang, cuma tetap menarik untuk diketahui.

Citra kota Palembang sebagai kota air tentu sudah hilang. Sungai merupakan salah satu bagian dari faktor lingkungan alam yang mempunyai karakteristik sendiri, berbeda dengan gunung, misalnya. Suatu kota yang wilayahnya didominasi oleh sungai tentunya akan berpengaruh dalam perencanaan/perancangan kota tersebut, dan itu akan terefleksi dalam wujud kota tersebut.

Tak perlu jauh membayangkan kota Palembang seperti Venesia, cukup seperti aliran sungai di daerah Jonker Walk, Melaka saja sudah bikin senang.

Tulisan ini adalah random thought dalam corat-coret setelah membaca sejarah kota Palembang. Saya pun membuat coretan sederhana ini.

14 comments on “Riwayat Kota Palembang Dulunya Kota Air

  1. jadi bayangin ada bangunan keraton di deket Sungai Musi, yang bisa kita lihat sambil menyusuri sisi sungai 🙂

  2. saya belum pernah ke Palembang 😦

  3. seandainya sungai-sungai besar di Palembang dimanfaatkan lagi untuk transportasi air yg modern pasti keren bgt yaa.. sayangnya anak-anak sungai yang kecil-kecilnya sudah didaratisasi 😦

    -traveler paruh waktu

  4. Palembang sekarang kayak kota angkot, bukan berasa Venesia lagi 🙂

    Aku malah belum pernah naik ketek dari BKB ke Waroeng Legenda itu, atau naik boat ke Pulau Kemaro hehe…

    Jadi kangen makan pempek di Palembang 🙂

    • Hehe karena kita hidup di era saat ini. Mungkin kalau orangtua yang hidup di era lama masih bisa cerita soal palembang tempo dulu.

  5. Andai keraton2 itu masih ada sampai sekarang dan daratisasi anak sungai dan rawa gak terjadi …

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: