teluk kabui raja ampat

Teluk Kabui, Sisi Lain Keindahan Raja Ampat

Sudah dua hari berada di Raja Ampat, lalu hari ini adalah hari ketiga. Saya hanya berharap waktu berjalan pelan agar bisa menikmati keindahan pulau di Timur Indonesia. Malam harinya setelah kami naik ke Puncak Wayag kami berkumpul di ruangan makan untuk saling bercerita keseruan yang telah kami lalui bersama. Naik ke tumpukan karst tanpa pengaman? Barangkali ini ide gila tapi memang begitulah yang terjadi untuk menjaga kelestarian alamnya.

Saya orang yang paling terakhir untuk tidur di antara rombongan lainnya. Mereka-mereka yang sepanjang hari membawa kami keliling Wayag tampak langsung mengaparkan diri di lantai ruangan tamu. Di mana pun bisa menjadi alas tidur. Saya sempat bertanya, apa tidak khawatir dengan nyamuk? Atau merasa kedinginan? Jawaban mereka sudah pasti kalian bisa menebak. Ya, betul. Sudah terbiasa.

Hah, pertanyaan yang seharusnya tidak saya tanyakan karena jawabannya sudah pasti. Namun, bagi kita yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini sudah tentu akan merasa “unik”. Inilah keseruan dari traveling, sekali lagi saya belajar mendapatkan sudut pandang baru. Keluar dari zona nyaman lewat traveling menjadi salah satu cara mengisi agar hidup kita lebih berarti.

Bagaimana caranya, koh? Caranya cukup buang separuh isi gelas kita saja. Supaya kita bisa diisi dengan pengalaman baru.

Let’s begin our new story.

nelayan raja ampat
Bang Icad mulai mendayung arah speedboat.
mansuar island
Masakan Usy ini enak banget!

Homestay kami sangat sederhana. Hanya ada kipas angin putar, dengan penerangan lampu yang berkekuatan mesin genset. Musik malam penghantar tidur sudah pasti suara gelombang air yang menenangkan.

Sepasang burung putih selalu bertengger di atas pohon kelapa di depan. Mereka bagaikan pasangan yang terus kemana-mana bersama. Pagi ini cuaca sangat-sangat cerah. Udara segar masuk dalam rongga pernafasanku seperti detoks segala macam pikiran negatif. Inilah kenikmatan yang saya rasakan. Usy, juru masak di homestay sudah menyiapkan bekal makan siang kami selama di Raja Ampat. Dia selalu bangun tiap pukul 2 pagi lalu mulai memasak. Makanan yang sederhana tapi sangat nikmat. Sambal cabenya juara!

Menyusuri Perairan Teluk Kabui, Raja Ampat

Jadwal hari ini kami akan berkunjung ke Painemo, salah satu destinasi yang sering dikunjungi oleh wisatawan saat ke Raja Ampat. Painemo bagaikan versi kecil dari Wayag. Jarak tempuh ke sana juga tak begitu lama, sekitar dua jam perjalanan lebih cepat menggunakan speedboat. Namun, sebelum ke Wayag, Kapten Noak bilang kita akan diajak berkeliling melihat batu unik di sekitar wilayah Teluk Kabui. Ada 3 jenis batu yaitu Batu Pensil, Batu Wajah, dan Batu Gua.

perairan teluk kabui
Ini yang dinamakan kesehatan mata, jiwa, dan raga
kapal layar
Kapal layar berlabuh di perairan Teluk Kabui, Raja Ampat

Beberapa kali saya melihat ada kapal layar yang ikut berlabuh di perairan Teluk Kabui. Ternyata kapal tersebut termasuk kapal wisata yang juga mengangkut wisatawan yang ingin on board selama di Waisai, Raja Ampat. Menurut Kapten Noak, mereka bisa datang beberapa minggu berada di dalam kapal tersebut. Saya langsung berpikir berapa biaya yang mereka keluarkan untuk perjalanan mereka ini.

FACTS:
Teluk Kabui berada di antara Pulau Waigeo dan pulau Gam. Pulau Waigeo merupakan tempat Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Teluk Kabui ini memiliki puluhan pulau karang yang tersebar nan cantik. Pulau-pulau karang ini memiliki ukuran yang bermacam-macam dari yang besar hingga kecil.

Batu Pensil

kars teluk kabui raja ampat
Bagaikan berada di labirin kars.

Kawasan perairan Teluk Kabui ini terdiri dari batu-batu karang berbagai ukuran mulai dari kecil, sedang dan besar yang menyerupai labirin. Batu-batu itu kokoh seperti tembok megah dan kami berlabuh di antara celah-celah batu tersebut mengagumi dari bawah hingga atas. Laju kecepatan kapal mulai dibuat pelan agar kami bisa mengabadikan momen berlomba mencari latar indah. Tapi, hampir semua sisi di perairan Teluk Kabui ini memang indah sekali.

Cuaca sangat bersahabat. Langit merona biru pemandangan dengan awan-awan yang sangat menarik untuk difoto. Sisa gosong kulit bekas naik Puncak Wayag memberikan sensasi perih tersendiri agar tampak eksotis. Dari arah kejauhan saya sudah bisa melihat batu yang tampak berbeda dari batu-batu karang lainnya.

Batu ini berbentuk panjang lancip ke atas. Kalau dilihat memang seperti mata pensil, wajar kalau lokasi batu pensil ini paling mencolok dibandingan batu-batu lainnya. Di atas batu juga ditumbuhi oleh tanaman hijau. Sedangkan dari dermaga kita bisa melihat perairan hijau di sekitar Batu Pensil. Batu Pensil menjadi ikon di Teluk Kabui.

batu pensil raja ampat
Batu Pensil dari arah jauh
batu pensil raja ampat
Keunikan batu pensil yang runcing menjulang ke atas.
behind the scene
Behind the scene demi foto yang bagus 😀
perairan sekitar teluk kabui
Ikan-ikan kecil di perairan hijau sekitar Teluk Kabui

Ide gila pun muncul dari Bang Icad yang menantang kami untuk berfoto di batu sebelahnya yang hanya dihubungkan oleh sebalok kayu dengan lebar sekitar 10 cm. Kami tidak berani mengikuti dia yang sudah terlebih dahulu sampai di ujung batu karang. Tubuhnya yang tambun seolah sangat ringan untuk berjalan di balok kayu menyeberangi air. Kapten Noak kemudian memberikan sebatang bambu sebagai pegangan bagi kami yang takut tidak seimbang saat berjalan menyeberang mencapai batu besar tersebut. Fiuh, lumayan dibuat pacu adrenalin saat mau menyeberang kembali.

Batu Wajah

batu wajah, raja ampat
Batu Wajah di Teluk Kabui, Raja Ampat

Kami tidak begitu lama berada di Batu Pensil, selain sengatan matahari sudah semakin kuat. Saat kami mau naik kembali ke speedboat, tiba-tiba kami diminta untuk melihat bentuk batu lagi. Lokasi batu ini berada di antara batu-batu lainnya. Tepatnya kalau kita sedang berada di Batu Pensil berarti Batu Wajah ini berada di depan kita. Ada dua buah batu berukuran sedang dan besar seperti saling berhadapan. Sekilas tampak seperti wajah orang laki dan perempuan. Tanpa berpikir lama, saya pun meminta tolong untuk difotokan bersama kedua batu tersebut.

Setelah mengamati kedua batu wajah, saya mulai berpikir ini memang dipahat atau terbentuk alami ya? :mrgreen:

Batu Gua

batu gua
Batu Gua, teluk kabui, raja ampat

Speedboat segera melaju kecepatannya meninggalkan pemandangan yang indah. Penglihatan saya teralihkan melihat Teluk Kabui dan mata saya sangat terpukau dengan gundukan batu-batu berjejer tersebut. Namun saya seperti melihat ada tengkorak kepala yang diletakkan di pinggir-pinggir batu. Tiba-tiba saya merasakan aura mistis di tempat ini. Dugaan saya mungkin gua-gua di sekitar digunakan masyarakat dulunya untuk mengubur orang yang telah meninggal dunia. Biarlah menjadi misteri Teluk Kabui.

Di tengah perjalanan menuju Painemo. Tiba-tiba Kapten Noak bertanya, “Kalian mau lihat batu gua?” tawar Kapten Noak.

Kami saling memandang satu sama lain. Batu gua? Maksudnya seperti apa ya. Batu berbentuk gua kah? Sejenak saya dibuat terkesima dengan penamaan-penamaan batu di tempat ini. Baru saja melihat batu pensil karena bentuknya seperti pensil. Sekarang di hadapan kami ada sebuah batu dengan celah lubang di tengahnya. Kemudian, orang di sekitar memberikan nama batu gua. Yeah, just simple like that!

batu gua raja ampat
Terumbu karang sekitar Batu Gua, Raja Ampat

Naluri turis tanpa dikomandoin segera mengeluarkan kamera untuk berfoto di “batu gua” hahaha…

Di tempat ini banyak terumbu karang yang tanpa perlu kita snorkeling pun sudah terlihat di permukaan. Perairan yang dangkal dan jernih membuat berbagai pemandangan bawah laut terlihat dengan jelas. Untuk menjaga kelestarian terumbu karang di tempat ini, Kapten Noak mematikan mesin speed boat lalu kami pun mulai menikmati perairan dangkal nan jernih ini.

tour hemat raja ampat
Perahu kami mulai melaju menuju Painemo

Perairan Teluk Kabui memang indah. Keindahan dari teluk ini berasal dari gabungan warna air yang jernih serta gugusan-gugusan pulau karang yang ada di sekitarnya. Ini hanya sepotong kepingan yang saya lihat di Raja Ampat. Sepanjang perjalanan ditemani hamparan langit dan laut yang luas menembus cakrawala. Saya semakin yakin bahwa Raja Ampat memang layak diakui sebagai salah satu pulau indah di Indonesia.

Keindahan Raja Ampat tidak akan pernah habis untuk dijelajahi. Kapan lagi ya bisa ke Raja Ampat >.< Ajak saya lagi dong buat eksplorasi Indonesia Timur.. ya ya .. please…

***

WHAT TO DO:
– Gunakan sunblock sebelum berpergian
– Pakaian dan alas kaki yang nyaman
– Bawa peralatan snorkeling dan baju renang
– Lindungi gadget seperti kamera dan ponsel dari percikan air laut
– Sayangi laut dengan tidak membuang sampah ke laut
– Jaga keaslian batu cukup nikmati dengan mata tanpa kalian coret-coret batu sebagai jejak kalian
– Sayangi saya demi kelestarian blog ini *eh* 😀
Terima kasih Cheria Wisata Travel yang sudah mengajak saya jalan-jalan ke Raja Ampat.
cheria wisata travel
Iklan

Jelajah Raja Ampat: Melihat Wayag Kecil Lewat Painemo (Bagian 3)

Rasa perih di belakang pundak membuat saya sedikit kesulitan untuk tidur sehabis mendaki puncak Wayag. Belum lagi sekujur tubuh mulai terasa kaku dan pegal. Beruntung hari ini rute yang akan ditempuh tidak sejauh seperti pergi ke Wayag yang membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam pulang pergi. Semua mungkin tidak ada yang mengira kalau Puncak Wayag memang nomor wahid pemandangannya. Apa hanya Wayag saja yang ditawarkan oleh Raja Ampat?

Pemandangan indah dari depan homestay kami
Pemandangan indah dari depan homestay kami

Dibandingkan dengan homestay yang ada di sekitar kami, menurut saya homestay yang kami tempat memiliki view lumayan baik. Persis di depan laut sehingga bangun tidur pemandangan yang dilihat adalah laut yang luas. Sedangkan homestay sekitar harus berjalan sebentar ke arah laut, memang mereka lebih banyak tamu bule daripada lokal. Sebaliknya kalau homestay yang kami tempatin lebih memilih lokal. Alasannya untuk memenuhi standar kepuasan tamu dirasakan lokal lebih enak daripada tamu bule.

Kalau untuk puasin saya? Gampang, cuma ajakin saja jalan dan makan :mrgreen:

Hari ketiga di Raja Ampat, seolah belum mau cepat berlalu dari Raja Ampat dan teman-teman baru saya. Saya salut dengan Usi yang rajin bangun tiap jam 2 subuh hanya untuk persiapkan menu sarapan kami termasuk menu makan siang di tengah laut. Kenapa saya bisa tahu? Sebab tiap jam 2 atau 3 subuh saya selalu terbangun karena dehidrasi dan sewaktu mengambil air minum selalu bertemu dengan Usi yang sedang memasak. Teman-teman lainnya juga sudah bangun. Ada yang memang bangun karena memang sholat subuh. Masing-masing dari kita bergantian masuk dalam kamar mandi. Hari ini tidak perlu tergesa-gesa seperti kemarin.

Mengunjungi Painemo “Wayag Kecil”

pos-painemo-raja-ampat
Pos masuk ke Painemo, Raja Ampat

Kalau itinerary kalian belum dapat mengunjungi Wayag, kabar baiknya ternyata Raja Ampat masih memiliki banyak pemandangan yang bisa membuat kalian takjub dan juga memiliki panorama yang mirip seperti di Wayag. Lokasinya lebih dekat daripada ke Wayag yang membutuhkan waktu hampir 4 sampai 5 jam perjalanan. Pasti kalian pernah melihat foto viral pak Jokowi sewaktu di Raja Ampat? Nah, tempat tersebut yang kali ini akan kami kunjungi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju ke Painemo.

Orang-orang sana mengeja Painemo menjadi “Penemu”.  Sama seperti ke Wayag, tiap kapal yang akan bertamu ke Painemo pasti akan melewati pos jaga setempat untuk membayar uang masuk. Namun, harga masuk ke Painemo tidak semahal seperti ke Wayag. Penduduk lokal hanya mematok harga tiap kapal sebesar Rp 500.000 sedangkan untuk speedboat  sebesar Rp 300.000.

teluk-painemo-raja-ampat

pos-painemo-raja-ampat-3

Terkenal alam bahari yang indah, Raja Ampat juga dikenal memiliki gugusan pulau karang. Mengambarkan pemandangan Painemo boleh saya sebut sebagai “Wayag Kecil”. Pemandangan sekitarnya terdiri dari batu-batu karang dengan berbagai ukuran dalam satu kawasan. Hanya saja ukuran batu karangnya memang tidak setinggi seperti puncak Wayag. Kita juga masih bisa melihat gradasi air biru jernih dan hijau. Saya menikmati perjalanan selama 2 jam lamanya dari Pulau Mansuar dengan speedboat. Selama perjalanan, lautan biru bagai tak terbatas. Beberapa kali bukit-bukit teletubies hijau membentuk siluet, deburan air laut yang menghantam badan kapal, serta rumah-rumah penduduk yang kami lewati. Bukit-bukit karang yang ditumbuhi oleh perpohonan akan kita lihat sewaktu hendak memasuki kawasan Painemo.

penjual-kelapa-muda

selamat-datang-di-raja-ampat

Dari arah kapal, kita bisa melihat bongkahan batu besar seperti raksasa sebagai tanda pintu masuk untuk naik ke puncak Painemo. Sekilas saya melihat ada kelapa muda yang dijual oleh ibu-ibu tepat persis di pintu masuk. Wah, saya harus cicip air kelapa muda dari Raja Ampat!

Tulisan “Selamat Datang Di Kawasan Konservasi dan Wisata Karst Piayanemo” sudah menyambut kedatangan kita untuk siap menaikin jarak ke puncak ketinggian 122.4 meter dan 59 meter dari permukaan laut. Dan tidak disarankan bagi manula untuk tidak naik ke puncak. Tapi, kalau merasa tertantang, kenapa tidak?

anak-tangga-painemo-raja-ampat

Untungnya objek wisata Painemo ini sangat membantu kita untuk naik ke atas dengan anak tangga menjulang ke atas. Serta terdapat pos untuk istirahat sejenak. Penduduk setempat menyediakan jalur trek agar wisatawan bisa menikmati panorama Raja Ampat. Barangkali ini yang membuat “Wayag Kecil” diminati oleh turis karena mudahnya untuk naik ke atas dan jarak tempuh terbilang dekat. Perlahan tapi pasti kami mulai naik ke atas, bayangkan saja seperti menaikin anak tangga Batu Cave, Kuala Lumpur. Sayangnya saya tidak hitung ada berapa jumlah anak tangga di Puncak Painemo 😆 Apa perlu saya kembali lagi ke Raja Ampat untuk menghitung jumlah anak tangga? I wish hahahaha…

Pemandangan seperti apa yang bisa kita lihat dari Puncak Painemo? Silahkan nikmati foto-foto berikut :

painemo-raja-ampat-view

puncak-painemo-raja-ampat

teluk-painemo-raja-ampat-2

Tante Elpina asik difotoin sama Om Nana
Tante Elpina asik difotoin sama Om Nana

“Jang ko ukir ko pu kisah cinta di batang pohon ka… Nanti tu pohon ikut galau..”

“Apaan tuh artinya ya,” tanya kita kompak.

quote-raja-ampat

“Jangan kamu ukir pula kisah cinta mu di batang pohon ini. Nanti pohon ikut galau,” balas Bang Icad yang tampak sibuk memotret kami satu per satu dari atas. Sadar diri dari aksi vandalisme objek wisata membuat kita sebagai pelancong juga harus tahu diri untuk ikut menjaga kebersihan serta kelestarian objek wisata tersebut. Berhubung saya tidak suka mencoret-coret jejak di objek wisata, saya lebih memilih mencoret lewat tulisan ala kekinian yang sedang tren saat ini.

antri-foto-selfie

pesona-raja-ampat

Kami juga tidak begitu lama berada di Puncak Painemo sebab kita harus bergantian dengan wisatawan lainnya yang datang berkelompok. Mayoritas yang kami jumpai juga berasal di Indonesia, kadang kita harus menahan sabar dengan sesama pelancong Indonesia yang memiliki hobi foto selfie yang satu pose bisa butuh waktu lama dalam satu titik foto. Berbeda dengan turis bule yang mereka cukup satu kali lalu meninggalkan senyum manis untuk giliran kita.

Mengingat jalur trek yang lumayan membuat kaki kita cidera. Sangat disarankan untuk menggunakan sepatu dari karet yang tertutup atau sepatu kets. Jenis sepatu ini sangat nyaman untuk digunakan dalam perjalanan jauh maupun berpijak ke beban berat sehingga mencegah cidera kalau saja terpeleset. Selain itu, usahakan untuk berangkat lebih pagi supaya tidak terlalu panas sewaktu di puncak atas.

Setelah kembali turun sampai ke bawah, saya segera menghampiri ibu penjual kelapa muda. Harga satu butir kelapa muda dijual hanya Rp 15.000 saja. Lumayan menghilangkan dahaga setelah mendaki anak tangga puncak Painemo. Tidak berapa lama, saya mendengar rembukan teman-teman untuk membeli kepiting yang juga dijual oleh penduduk setempat. Luas biasa  ukuran kepiting yang dijual, jumbo! Kami mendapatkan 6 kepiting jumbo dengan harga 700 ribu rupiah untuk minta dimasakkan oleh Usi sewaktu pulang.

Asik! Kami sudah tidak sabar malam nanti akan makan kepiting jumbo!

penjual-kelapa-muda-2

anak-anak-painemo

Tentunya kalian penasaran seperti beberapa teman saya langsung bertanya mengenai bujet perjalanan ke Raja Ampat. Semoga nanti saya sempat menuliskan mengenai bujet perjalanan ke Raja Ampat sebagai gambaran bagi kalian apabila hendak mengunjunginya. Bila paket wisata di Raja Ampat terbilang yang paling mahal di Indonesia, itu adalah biaya wajar yang dikeluarkan oleh turis. Sekarang tinggal Pemda setempat dan masyarakat di Raja Ampat bisa efektif serta transparan mengelola pemasukan dari pariwisata, untuk menjaga dan melestarikan kekayaan alam di darat dan laut agar tetap berkelanjutan.

Sebagai pelancong, ayolah kita dukung pariwisata Indonesia untuk menjaga dan melestarikan kekayaan alamnya dengan tidak mengambil apapun dan tidak meninggalkan jejak apapun kecuali kenangan dalam bentuk foto-foto dan ingatan. Bila perlu kita kembali lagi meneruskan petualangan seru lainnya.

Trek jalur naik ke Tanjung Bintang
Trek jalur naik ke Tanjung Bintang, Raja Ampat
pose-di-puncak-painemo-2
Ternyata pakai kacamata hitam bisa bikin penampilan tambah kece!

Kapal kami pun mulai berjalan meninggalkan keindahan Pulau Painemo menuju ke tempat berikutnya. Berdasarkan informasi Bang Icad, ada tiga bukit yang biasanya dijadikan trek untuk mendaki naik ke atas. Kurang lebih ketinggian bukit sekitar 15 meter sampai 60 meter ketinggian dari permukaan laut. Seperti Tanjung Bintang memiliki keunikan laut yang dikepung gugusan pulau membentuk seperti bintang. Dari atas puncak-puncak bukit tersebut, karang di dasar laguna berwarna hijau toska masih bisa terlihat. Namun kami sengaja tidak mendaki ke atas. Dua puncak lainnya ada Bukit Gundul dan yang tertinggi yaitu Painemo.

Tempat berikutnya yang sudah dinantikan oleh kita adalah snorkeling!

Santap Kepiting Jumbo Rebus

Keputusan bersama untuk membeli seafood di Raja Ampat tercetus oleh ide para tante dan teman lainnya. Tidak ada salahnya juga untuk mencicipi seafood segar dari laut. Cuma mau cari seafood harus kemana? Apalagi ada yang semangat pengen makan lobster atau udang. Saya sendiri manggut-manggut setuju sebab memang senang dengan hidangan laut.

Dua hari dari pagi dan malam, lauk utama tidak jauh dari ikan. Berkat Usi yang bisa memasak ikan menjadi santapan nikmat selama di Raja Ampat. Sebagai informasi, ikan tangkapan selalu dalam kondisi segar karena ditangkap saat hendak mau dimakan. Tapi, mereka tidak boleh memancing di depan homestay karena ada hukumannya. Maka, hanya boleh memancing di belakang Pulau Mansuar. Sayang sekali saya belum kesempatan untuk melihat cara mereka memancing ikan untuk makanan kita bersama.

cara-membuat-umpan-ikan

Malam itu, saya mendapat wawasan baru tentang umpan ikan. Mamin, anak Kapten Noak tampak sibuk melepaskan tali plastik dibuat seperti bulu ijuk yang tipis dan halus. Rasa penasaran saya membuat kaki saya melangkah masuk ke dalam kamar melihat aktifitas Mamin.

“Ini umpan ikan kok beda warna?” tanyaku membuka obrolan. Mamin sepertinya senang dan dia pun antusias mulai menjelaskan apa yang sedang dia lakukan.

“Untuk jenis ikannya bang. Warna ini sebagai umpan buat si ikan. Kalau yang malam ini abang makan itu pakai umpan warna biru.” tunjuknya ke saya umpan yang sedang dia buat.

cara-memotong-ikan-tenggiri

kepiting-jumbo

Tiap malam pasti mereka membuat umpan baru. Soalnya satu umpan untuk satu kali memancing, kalau umpan tidak rusak bisa digunakan sampai beberapa kali. Uniknya umpan ini tidak memerlukan tambahan makanan seperti yang biasa dilakukan oleh orang saat memancing menggunakan cacing atau pelet.

“Serius??! Jadi ikannya bisa langsung makan ini umpan?” tanyaku tidak percaya. Metode mereka memancing juga tidak memerlukan tongkat pancing, melainkan cukup tali pancing senar putih saja. Namun, hasilnya seperti yang sedang Usi lakukan saat memotong badan-badan ikan tenggiri.

makan-malam-kedua-raja-ampat

Sementara itu kepiting kami masih dalam kukusan sudah mengeluarkan aroma wangi. Di tengah laut seperti ini jangan berharap bisa makan menu kepiting asap atau kepiting saus padang. Memang saya bukan punya bakat memasak, lalu dari tante Fitri bilang cukup dimasak sama bumbu-bumbu dapur saja sudah enak. Sisanya, serahkan dengan Usi biar dia yang masak dan kreasikan kepiting kita 😆

Malam kedua seperti malam kebersamaan kami, sebab trip ke Raja Ampat biasanya 4 hari 3 malam. Sisa satu malam berikutnya dihabiskan di Sorong. Perjalanan ke Raja Ampat memang singkat tapi bukan berarti tidak ada cerita yang dapat dibagikan bukan?

Jelajah Raja Ampat: Puncak Wayag, Ikon Raja Ampat (Bagian 2)

12.15 am WIT. Udara malam dekat laut makin terasa dingin. Beberapa kali saya menepuk lengan dari nyamuk di Raja Ampat, sepertinya belum mengenal orang datangan. Obrolan panjang dengan Bang Icad tentang Papua, akhirnya harus diselesaikan dan saya pun segera ke dalam kamar homestay yang terletak paling ujung. Bukanlah homestay yang mewah tapi cukuplah untuk menampung kami. Malam ini saya larut dalam dalam kesunyian di tengah pulau. Hanya ada bunyi kipas angin, genset dan hempasan air laut, sesekali sautan binatang malam. Saya melirik ke samping, om Nana sudah tertidur dengan pulas. Lalu saya?

Membayangkan petualangan baru apa yang akan dilakukan subuh nanti. Ya.. pukul 5 pagi kita sudah harus bergegas diri, begitu pesan dari Kapten Noak, bapak tua yang memegang sekoci kemudi kapal. Bukan hanya menjadi kapten, ternyata Kapten Noak juga memegang lisensi dive master. Dan sekarang, sekarang pun melirik ke jam di ponsel… “01.00 am” mau apa kamu jam segini belum tidur, tanya batinku. Apa kalian pernah merasakan rasa sulit terlelap di tempat baru, bercampur rasa senang dengan hal menyenangkan yang akan dilakukan besok. Sampai tidak sadar angin malam mulai menusuk kulitmu sampai ke tulang.

Terasa baru sejenak memejamkan mata, saya meraih ponsel yang berada di samping kasur. “04.30 am”. Cuma punya dua pilihan, melanjutkan tidur atau terjaga tidur daripada ditinggal pergi rombongan? Gerutuku dalam hati, kenapa musti pergi subuh sih? Memang kita mau kemana sih?

Simpan dulu pertanyaan tadi, saatnya untuk bersiap diri ke Wayag!

Read More »

Jelajah Raja Ampat: Pulau Mansuar, Surga Wisata Bahari Indonesia Mendunia (Bagian 1)

Raja Ampat, kabupaten yang ada di Papua Barat ini terletak di jantung pusat segitiga karang dunia dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya saat ini. Terkenal menjadi tempat wisata dengan terumbu karangnya indah serta kaya berbagai jenis ekosistem dan biota laut di dalamnya. Ketenarannya inilah menjadikan Raja Ampat dinobatkan sebagai primadona destinasi wisata bahari Indonesia. Selain itu, bentang alam pantai dan gugusan pulau-pulau karang di Raja Ampat juga menjadi daya tarik yang mengagumkan.

Raja Ampat sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Alam membentuk pulau ini menjadi empat gugusan pulau yang menjadi satu kesatuan yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta yang kita kenal sebagai Empat Raja. Oleh sebab Raja Ampat dikelilingi oleh laut, maka satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan adalah transportasi angkutan laut. Wisata bahari Indonesia ini berpotensi untuk dijadikan objek wisata, bahkan katanya termasuk dalam 10 perairan terbaik di dunia karena kelengkapan biota laut saat ini.

bandara-domine-eduard-osok
Selfie di depan Bandaran Domine Eduard Osok, Sorong pukul 7 pagi WIT

Mengunjungi Raja Ampat ini tidaklah sulit walau memang memakan waktu dan biaya cukup besar. Kita dapat menggunakan maskapai penerbangan dari Jakarta atau Bali ke Sorong via Makasar atau Ambon dan Manado selama kurang lebih 6 jam penerbangan belum ditambahkan dengan waktu transit. Hampir 24 jam perjalanan saya dari Palembang menuju Raja Ampat. Penerbangan yang membutuhkan 3 kali transit dimulai Jakarta ke Makassar dari pukul 6 sore waktu Palembang hingga tiba ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar pukul 2 subuh. Lanjut terbang kembali pukul 4 subuh menuju Bandara Domine Eduard Osok, Sorong hingga tiba pukul 7 pagi waktu setempat. Penerbangan kami menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Untunglah penerbangan berjalan lancar walau ada sedikit turbulensi yang membuat jantung sedikit berdengup. Terima kasih pak pilot!

Bandara Sorong terletak di pusat kota
Bandara Sorong terletak di pusat kota

Setelah melewati penerbangan dini hari dengan jarak tempuh masing-masing sekitar 2 jam. Kedatangan kami di bandara Sorong disambut oleh ibu Uce dari Wombon Swandiwe, travel lokal yang menjadi rekanan sponsor perjalanan kami yaitu Cheria Wisata Travel. Banyak yang bilang traveling ke Raja Ampat harganya sebanding seperti kita traveling ke luar negeri bahkan bisa lebih. Betul. Harga sewa boat bisa berkisar 8 juta – 30 juta, belum lagi harga bahan bakar untuk mengunjungi pulau ke pulau yang jaraknya jauh. Maka memang disarankan mengunjungi Raja Ampat secara berkelompok sehingga bisa patungan bujet perjalanan. Sudah banyak paket wisata Raja Ampat yang murah berkisar 2,7 juta – 4,5 juta sesuai dengan lamanya hari dan destinasi wisata yang ingin dikunjungi.

Kami masih menunggu satu rombongan lagi yang akan tiba dan masuk dalam rombongan tur. Ibu Uce pun bilang kalau kita juga masih menunggu kembali sampai pukul 2 siang untuk menyeberang dengan kapal feri cepat “Bahari Express” dari Pelabuhan Rakyat Sorong menuju Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Tiket kapal feri bisa langsung dibeli di Pelabuhan Rakyat Sorong dengan jadwal keberangkatan setiap hari mulai dari pukul 9 pagi dan 2 siang. Harga tiket satu kali jalan kelas Ekonomi adalah Rp 130.000 tiap kepala.

Pelabuhan Rakyat Sorong
Pelabuhan Rakyat Sorong

pin-masuk-raja-ampat

Hati saya berdebar-debar ingin segera melihat sendiri indahnya Raja Ampat. Tiba di Pelabuhan Waisai sekitar pukul 05.30 sore waktu Indonesia Timur. Perjalanan belum sampai disini saja, masih harus naik speed boat untuk menuju pulau tempat homestay kami. Masih bersabar… kita pun menunggu dari pihak travel lokal untuk mengurus keperluan pin sebagai tanda masuk resmi berkunjung ke Raja Ampat. Pin dalam bentuk arkilik dan bisa dijadikan gantungan kunci ini berlaku hanya 1 tahun yang dihitung dari tahun masuk. Jadi apabila kamu berangkat bulan November 2016 berarti masih bisa 1 bulan lagi sampai Desember 2016. Biaya masuk ke Raja Ampat dikenakan sebesar Rp 500.000 untuk turis lokal, sedangkan untuk turis asing dikenakan Rp 1.000.000 sebagai biaya retribusi masuk.

anak-papua-pemberani

You are beautiful in your way.
You are beautiful in your way.
Pelabuhan Waisai, Raja Ampat
Pelabuhan Waisai, Raja Ampat

Tiga orang anak kecil Papua yang berada di depan saya ini membuat saya kagum oleh karena keberanian mereka duduk di bibir speed boat. Ya, alam Indonesia Timur yang membentuk mereka untuk memiliki insting yang kuat bahkan untuk bertahan di tengah laut. Saya pun yakin mereka mampu untuk menyelam atau setidaknya berenang seperti anak-anak yang tinggal di pinggir Sungai Musi.

Apa rasanya pertama kali naik speed boat cepat dan berada di tengah laut Halmahera yang mengelilingi Raja Ampat menjelang malam hari? Rasanya takut membayangkan seandainya mesin kapal mati di tengah laut dalam kondisi gelap. Namun merasa damai bisa melihat hamparan luas langit biru bergradasi dengan air laut. Awan pun mulai menutupi senja matahari seolah menyambut saya dengan sambutan : Welcome to Last Paradise in Indonesia!

Pulau Mansuar, Pesona Alam Indah Tersembunyi di Raja Ampat

Senja di tengah laut Raja Ampat
Senja di tengah laut Raja Ampat

“Ini masih lama ya, kok belum sampai,” tanyaku dengan Lingga. Barangkali bertanya ke orang yang sama-sama belum tahu dan belum pernah datang ke Raja Ampat adalah pilihan yang tidak tepat. Bodohnya, sambil menertawai diri sendiri.

“Bang, homestay-nya masih jauh?” lanjut saya menanyakan sama abang berkaos kuning yang merupakan bagian dari homestay Wombon Swandiwe.

“Tidak.. nikmati saja alam kami ini.” Saya tidak bertanya kembali sebab di hadapan saya seolah langit sedang “bermain” menyuguhkan pergantian siang ke malam. Cantiknya! Seumur hidup yang saya lewatin, pengalaman ini merupakan pengalaman pertama kalinya bagi saya berada di tengah laut luas dan menikmati sinar lembayung matahari yang sangat cantik dan bersih. Tidak ada penghalang, dan tidak ada batas. Hingga meneteskan air mata sedikit, saya selalu berucap dalam hati mensyukuri perjalanan jauh kali ini. Entah kapan lagi saya akan mendapat keberuntungan yang serupa.

Arah kejauhan melihat titik cahaya rumah homestay
Arah kejauhan melihat titik cahaya rumah homestay

Langit semakin pekat gelap, menandakan air laut mulai pasang.air yang berada di Pulau Mansuar sangat bersih dan bening. Kejernihan airnya menyatu dengan pasir putih halus. Sebutan populer “Mutiara dari Timur”, “Surga Tersembunyi di Timur” yang dilekatkan untuk kawasan Papua Barat terasa benar adanya. Saya merasa menjadi orang paling beruntung dapat mengunjungi Raja Ampat, salah satu destinasi impian banyak orang dan seperti membuat puluhan mata teman-teman saya tidak percaya kalau saya bisa berkunjung terlebih dahulu sebelum mereka.

Seperti melihat cahaya dari arah kejauhan di tengah kegelapan. Cahaya yang memberi saya pengharapan dan berkata, itu daratan! Pulau tersebut tampak kecil dari kejauhan hingga semakin lama akan semakin besar saat kapal mendekat. Pulau ini dikelilingi oleh bukit hijau dengan perpohonan yang tinggi dan besar. Akhirnya kamipun tiba di Pulau Mansuar.

Dari sekian banyak pulau yang indah di Raja Ampat, salah satunya Pulau Mansuar ini dikelilingi pantai berpasir putih dan air yang bening. Satu kata, indah. Bayangkan damainya melihat pemandangan langsung dari homestay, kita sudah berjumpa dengan pantai dengan air yang bening. Saya sudah tidak sabar menyambut hari esok! I felt like there is a new hope. A hope to make someone feels better and grateful. God, I do not wanna time move quickly. Just slowly but sure.

Pemandangan dari pinggir homestay
Pemandangan dari pinggir homestay

Pulau Mansuar merupakan pulau yang dihiasi gugusan terumbu karang nan cantik. Kita dapat langsung snorkeling dari depan homestay berjumpa dengan terumbu karang sampai Nemo. Berangkat dari Waisai menuju Mansuar memerlukan waktu kurang lebih sekitar 45 menit menggunakan speed boat. Selama perjalanan, Kicauan burung yang sangat indah merupakan musik alam di Mansuar.

Saat kamu berada di Raja Ampat akan merasa, ah sayang sekali berada di sini sangat sebentar. Baru hari pertama saja sudah enggan untuk pulang, apalagi turis asing yang betah sampai satu bulan?

Makan Malam Pertama Sederhana Ala Penduduk Lokal Raja Ampat

makan-malam-pertama-di-raja-ampat

Homestay tempat kami memiliki 3 rumah pondokkan dan 1 ruangan makan, masing-masing kamar memiliki 2 ruangan kamar yang disekat. Sedangkan, letak kamar mandi sederhana berada di luar dengan lampu penerangan mengandalkan genset. Ibu Uce, orang yang menjemput kami pertama kali di Bandara Sorong, merupakan pemilik dari homestay Wombon Swandiwe tersebut. Suaminya adalah asli orang Raja Ampat dan homestay tempat kami menginap adalah kepunyaannya.

Ruangan makan ada di pondokkan rumah satu lagi. Dalam ruangan makan yang luas, semua orang baru yang belum saya kenal satu per satu masuk ke ruang makan. Barangkali kita masih speechless kalau saat ini sudah berada di Raja Ampat.

ikan-terbang

“Kita makan malam!” Menu hidangan yang disediakan oleh Usi, juru masak homestay kami membuat kami berdecak senang. Makan malam pertama di Raja Ampat, menu ikan bakar besar disajikan di depan kami. Lengkap dengan tumis kangkung dan sambal pedas. Sederhana tapi dijamin kalian akan ketagihan untuk menikmati masakan sederhana dari penduduk lokal sini. Semuanya tanpa lahap menghabiskan makanan, mungkin karena badan sudah lelah dengan perjalanan jauh. Begitu melihat makanan yang tersedia terasa nikmat bagaikan kebahagiaan yang dirasakan bertambah dua kali lipat. Ikan laut yang kami makan merupakan hasil tangkapan dari pengurus homestay ditangkap di belakang pulau Mansuar. Sebab ada perundangan larangan memancing ikan di kawasan Pulau Mansuar. Mereka sangat menjaga kelestarian alam Raja Ampat. Terasa sekali bertapa Tuhan beri kemudahan untuk mencukupi hidup saudara-saudara kita di Papua.

Rombongan kami berjumlah 13 orang, terdiri dari Om Nana, seorang bapak yang sedang melarikan diri dari rutinitas kerja kantornya dan kebetulan sedang berada di Sorong, tante Fitri seorang ibu gaul metropolitan dengan dua anaknya yang bagai bidadari, Mishella dan Devika. Serta tante Elpina dan Erica, dua teman kantor dari tante Fitri yang gokil. Saya suka dengan gaya traveling mereka, backpack cuy!  Emak-emak gaul sebutannya. “Tante saya suka gaya travelingnya, backpack.” Spontan terucap sewaktu berjumpa di Bandara Domine Eduard Soak di depan tiga tante tersebut. Lalu, ada Temmy dan Andre, sepasang suami istri muda yang energik. Terakhir ada Hanna dan Aris, kakak adik yang membuat saya kagum sama mereka. Lalu siapa saya? Saya cuma orang beruntung yang diberkahi untuk melihat indahnya Raja Ampat!

Papua Cinta Damai, Saya Cinta Raja Ampat

Menikmati senja yang izin pamit dari balkon homestay
Menikmati senja yang malu-malu menutupi wajahnya

Malam makin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu Indonesia Timur. Sesekali saya melirik jam di pergelangan tangan saya, ah masih pagi di Palembang. Masa sudah mau tidur? Apalagi dua ikan pelangi yang kami santap tadi masih banyak sebab mereka tidak kuasa untuk menghabiskan. Akhirnya iman saya lemah kalau melihat makanan sisa, saya pun menyantap sendirian duduk menatap hamparan laut. Sedangkan teman-teman lainnya mungkin sudah bergegeas ke Pulau Kasur karena letihnya perjalanan di hari pertama.

“Bang!” sapa saya begitu melihat ada abang berkaos kuning yang tadi saya sapa sewaktu di kapal. “Ayo temanin saya makan ikan ini. Saya tidak kuat makan sendirian, sayang dibuang,” lanjut saya meratakin daging ikan yang rasa segar dan tidak amis.

“Orang sini bilangnya ikan Indosiar, bang.” Serunya duduk berdepanan sama saya sambil menyalakan rokok di mulutnya.  “Soalnya bentuknya seperti ikan terbang,” lanjutnya kembali.

“Deddy!” balas saya mengenalkan diri.

“Icad, bang.”

Abang Icad berasal dari Biak yang sudah lama menetap bekerja di Raja Ampat. Obrolan malam kami saat itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam benak saya setelah apa yang selama ini menjadi rasa penasaran saya tentang Papua. Dalam pemikiran saya tentang Papua adalah suatu provinsi di Indonesia yang masih sulit terjangkau, harga makanan yang mahal serta mungkin penduduk lokal dengan rambut keribo, gimbal, perang suku bahkan berwatak kasar. Sudut pandang saya berubah, Papua tidak demikian seperti yang diberitakan oleh media massa, apalagi warga Sorong serta kabupaten di Raja Ampat, Wasai. Obrolan kami pun pecah setelah saya minta diajarin bahasa Papua seperti apa, bang Icad mulai berkata-kata, saya seperti kena roaming karena memang saya tidak paham.

“Mungkin abang masih berpikir, kita di Sorong dan Raja Ampat dengan pakaian rumbai-rumbai, koteka dan senjata perang betul?” Saya pun langsung mengangguk. “Tidaklah bang, warga sini sudah maju. Buktinya saya punya hape sudah bisa internetan,” tunjuknya kepada saya smartphone miliknya.

Pemberitaan yang ada saat ini seolah mengangkat Papua masih terbelakang dalam hal teknologi bahkan mungkin pengetahuan. Justru saya yang minim pengetahuan ini begitu tiba di Sorong menjadi tidak percaya dengan keadaan kota Sorong yang menjadi gerbang Papua Barat. Saya kembali mengingat obrolan siang harinya di dalam mobil bersama bu Uce, mbak Levina dan Lingga sewaktu mau menuju ke tempat makan siang sebelum menuju ke Pelabuhan Rakyat Sorong.

“Serius bu Uce?”

“Iya ada, Ramayana eh tapi ada lagi Sorong Mall juga.” Ralat bu Uce. “Saya dulu ke Bandung, lalu karena mengira saya orang Papua masa saya dikasih roti sama jagung. Saya marahlah. Saya bilangin kalau hei Papua punya nasi ya, punya mall!” Kompak kami di dalam mobil tertawa pecah. Bayangkan saja logat bu Uce yang memang asli orang Sorong. Brand minuman bubble tea bermerk juga ada juga di Sorong. Itu tandanya memang Sorong bukanlah kota yang tidak gaul.

Kembali lagi ke obrolan saya dengan bang Icad, memang masih ada orang Papua seperti yang saya gambarkan sebelumnya tapi mereka bermukim di daerah seperti Wamena. Begitu mendengar kata Wamena, saya jadi ingat dulu pernah mengikuti lomba menulis tentang Wamena yang membawa saya mencari tahu tentang Wamena. Barangkali karena informasi yang saya baca mengenai Wamena terbawa sehingga generalisasi ke Raja Ampat. Tapi lupakan sejenak Wamena, sebab lomba kemarin diwarnai dengan drama dalam hasil pengumuman juara :mrgreen: Disitu saya sedih karena belum bisa ke Wamena melihat kearifan lokal dan budaya perang suku di Wamena.

Papua identik dengan Koteka, benda yang menjadi kebanggaan bagi kaum Adam. Konon, semakin panjang koteka yang dikenakan maka semakin tinggi rasa bangga orang yang memakainya. Termasuk perihal ukuran panjangnya alat kelamin. Daun Bungkus, salah satu terapi kejantanan yang hanya boleh dilakukan oleh tangan ahli dan terampil. Sebab, apabila salah dilakukan maka ucapkan selamat tinggal dengan setua kamu itu. Ternyata cara kerja daun bungkus itu unik, kalian para laki-laki bisa request seberapa besar dan panjang ukuran vital yang kalian inginkan kemudian dibungkuslah dengan dedaunan yang telah diberi ramuan khusus. Mau? Tunggu dulu, kalau tidak berhasil efek yang timbul bisa rusak perkakasmu!

If you asked me about it: In my humble opinion, size it does not matter. The point is how can it be functional and erection, because sex is not about just ah uh ah uh but how two people can get orgasm and included take and give. Just learn about Kamasutra’s book at googling hahahahah… But sometimes, people aged 30 and over wanting an incredible sex life with their partner. How spouses can explore throughout the body such that it runs harmoniously.

Tidak terasa obrolan kami hingga pukul 12 malam. Saya undur pamit kembali ke homestay yang berada di paling ujung untuk istirahat sekamar dengan om Nana yang tampaknya sudah tidur terlebih dahulu. Malam itu, kelambu serta dengingan nyamuk menjadi teman tidur saya. Deburan ombak laut pun sayup saya dengar hingga tertidur sampai esok paginya. Perlahan-lahan, mata saya mulai menutup mencoba beradaptasi dengan suasana baru kehidupan penduduk lokal Raja Ampat. Tinggal di bale-bale dengan kelambu, kasur ala kadarnya, mandi air laut, lalu… tidak ada sinyal telepon. Bagian yang terakhir membuat saya betul-betul menikmati liburan seutuhnya, tanpa ada gangguan dari sosial media. Lah, siapa juga yang mau ganggu saya. Orang saya pengangguran mana ada yang cari saya 😆

Raja Ampat, kenapa dirimu begitu menggoda bagi kami untuk lebih mengenal baharimu?

Apa Kata Orang Kalau Aku Terbang ke Raja Ampat GRATIS!

“Percayalah pada MIMPI mu maka SEMESTA akan mewujudkannya.” – Koh Huang

Tahun 2016 ini saya banyak mengalami hal-hal yang “ajaib” yang terjadi dalam hidup saya. Bahkan termasuk hal yang lama pernah saya mimpikan itu pun terwujud tahun ini. Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia Timur menjadi The Most Beautiful Place you’ve should visit. Nama Raja Ampat telah mendunia sebagai salah satu destinasi perjalanan paling menarik dengan alamnya yang masih “perawan”.

“Serius koh Huang ke Raja Ampat??!! UUUhhhh mauuuuu….”

“Boleh ikut tapi di bibir pesawat yaaa. Wong aku aja diajak buat ke sana.. GRATIS!”

“HEH?!”

Apa kata orang kalau aku terbang ke Raja Ampat, GRATIS?!

Syalalala….

Pemandangan langsung dari depan homestay. Cakep!
Pulau Mansuar – Pemandangan langsung dari depan homestay. Cakep!

Indonesia Timur, selalu ada di dalam benak saya untuk bisa menjejakkan kaki dan mengeksplore keindahan alamnya. Selama ini saya yang hanya bisa melihat lewat foto dan video dari teman-teman travel blogger. Hingga berucap, ya kapan giliran saya bisa lihat Indonesia Timur. Namun, Tuhan berkata lain, rejeki itu pun datang entah dari jalan mana saja. Sadarkan saya kalau ini bukan mimpi beberapa tahun lalu, berawal berucap kapan ya bisa ke Raja Ampat? Ah mahal biayanya, jauh banget. Ternyata, Tuhan sediakan lewat perpanjangan tangan Cheria Wisata Travel. Waktu saya membuka facebook ternyata ada colekan dari mbak Evrina yang kasih kabar kalau tulisan saya mengenai Wisata Halal Turki beberapa bulan lalu terpilih ke Raja Ampat bersama dua pemenang lainnya, yaitu Mbak Lingga (dunialingga.com) dan Mbak Levina Mandalagiri (nichealeia.com).

Cerita ini tak akan asik tanpa ada drama. Bumbu-bumbu inilah yang membikin hidup lebih banyak bersyukur. Pihak Cheria menginfokan tanggal keberangkatan tanggal 9 – 13 November lalu, sedangkan tanggal yang sama ada agenda saya disibukkan untuk pindahan rumah. Maklum, musim penghujan membuat rumah kami kebanjiran. Kakak saya pun marah dan bilang batalkan saja terbang ke Papua. Hati ini rasanya seperti baru membeli makanan kesukaan lalu tanpa sengaja tangan disenggol. Jatuhlah semua makanan kesukaanmu di lantai. Kurang lebih begitulah rasanya.

Demi apa, tempo lalu saya udah hanguskan tiket perjalanan ke Perth. Masa sekarang saya hangus lagi? Congkak bener situ koh Huang! Lantas saya segera menghubungi pihak Cheria serta mbak Lingga dan Levina untuk minta bantuan apa boleh dimundurin dulu jadwal berangkatnya. Tapi jujur emang sudah ikhlas kalau semisal tidak bisa dimundurkan jadwal, sebab family is number one, right? Walaupun kita tidak tahu apa nanti ada kesempatan kedua untuk bisa mengunjungi Raja Ampat lagi?

Tenang para fans-ku, drama ini pun akan segera selesai karena pihak Cheria dengan baik hati mau mundurkan jadwal keberangkatan juga mbak Lingga dan Levina katanya mau batal berangkat kalau tidak ada koh Huang. Ya iyalah masa blogger kondang(an) gak diajak jalan-jalan. WUuuuu… peace sodara-sodara.

“Jadi, fixed ya kita berangkat tanggal 16 – 21 November?” bunyi pesan mbak Silvia dalam grup whatsapp.

16 November??!

Hidung koh Huang kembang kempes begitu mendengar tanggal 16 November. Emang ada apa di tanggal itu sih?

KOH HUANG ULANG TAHUN… syalalala….

Bagaimana saya bisa mengungkapkan rasa #BahagiaItuSederhana setelah mimpi saya diwujudkan bisa ke Raja Ampat lalu saya dikasih lagi kado dengan tanggal keberangkatannya di hari spesial. Selama berangkat dan duduk di dalam pesawat menatap awan di luar jendela. Tuhan kamu sedang tidak bercanda sama saya kan? Dikasih kado manis bahkan mewah bagi saya yang pengangguran begini bisa jalan-jalan gratis dikasih uang saku. Kemudian di hari ulang tahun saya pun dirayakan di Raja Ampat!

Kopdar yang disponsorin oleh Cheria Wisata Travel.
Kopdar yang disponsorin oleh Cheria Wisata Travel.

Malam pertama di homestay Pulau Mansuar, Raja Ampat waktu kita mau makan malam. Iseng-iseng saya membuka sosial media dan ada kak Heydee yang mencolek saya memberitahu kalau tulisan saya kembali diapresiasi dalam bentuk “kado” merasakan kembali #BahagiaItuSederhana yaitu hadiah iPhone 6, lalu balik dari Raja Ampat ke Jakarta saya dikasih kembali “kado” yaitu Sony PS4 dan balik ke Palembang dikasih kembali hadiah laptop Asus. Wiiihh…

Suer, nikmat Tuhan manalagi yang mau saya dustakan selama bulan November kemarin? Masih ada sisa 2 minggu lagi sebelum menutup tahun 2016 dan memulai tahun 2017. Kiranya bisa finish strong untuk lebih baik dan lebih produktif menulis kembali supaya bisa dapat kado natal dan tahun baru. Aamiin.

Terkadang sebelum tidur, saya tidak pernah berhenti menghitung perjalanan berkat-berkat yang saya alami selama tahun 2016. Namun, usaha dan menikmati proses inilah menjadi masterpiece yang bisa saya banggakan dan inspirasikan ke tiap-tiap orang yang berjumpa dengan saya dan bertanya, “Deddy how could you being so lucky?” I thought it’s only by grace that I could live today.

Baiklah, ditunggu saja tulisan saya tentang perjalanan saya menyapa Pesona Raja Ampat masih dalam draft. Tenang, saya tahu kalian tentu penasaran bagaimana indahnya Raja Ampat hingga membuat turis bule rela datang berkali-kali. Mahal? Ke Raja Ampat murah kok.

Perjalanan kemarin membuat kami bertiga yang biasanya berinteraksi hanya lewat dunia maya kini pun bisa kopdar yang disponsori oleh Cheria Wisata Travel. Terima kasih untuk pak Cheriatna dan tim yang membantu mewujudkan impian kami sehingga dapat menulis tentang keindahan alam Indonesia Timur dimulai dari Raja Ampat untuk pertama kalinya.

Ah, Raja Ampat dikau sungguh mempesona!

cheria-travel-blog

Kalian mau seperti kami bertiga? Masih ada kesempatan sekarang sedang ada kontes berlangsung dari Cheria Wisata Travel dengan hadiah yang tak kalah mewah yaitu paket perjalanan ke Pulau Derawan, Kalimantan! Deadline sampai 18 Januari 2017. Cari tahu info lebih lengkap dari sini. Siapa tahu berikutnya adalah giliran kalian. Koh Huang bakal diajak lagi sama Cheria Wisata Travel? kalau saya… uhmm rasanya harus membujuk pak Cheriatna supaya boleh diajak kembali buat keliling Indonesia lagi dan bikin tulisan terbaru: Apa Kata Orang Kalau Aku Terbang ke Derawan GRATIS! 😆