Indonesia Papua Barat travel

Kitorang Jaga Laut Raja Ampat

laut raja ampat

Ombak berbuih lebat memancar liar di sepanjang pinggir perahu motor yang kami tumpangi dari homestay menuju Desa Arborek. Bahkan langit pun seakan tak mau kalah menunjukkan warna biru memikat.

Memasuki wilayah perairan Arborek, hamparan pasir putih dengan deretan pohon kelapa pun mulai terlihat. Ternyata kami tidak sendirian, sebuah perahu motor cepat berisi wisatawan juga mengikuti.

Di dermaga kayu dengan perairan amat jernih di kampung itu, anak-anak sedang bermain dengan begitu gembira. Sebagian ada yang bernyanyi riang dan sebagian lagi terlihat snorkeling berkelompok di sekitar dermaga. Sungguh situasi yang sangat menyenangkan saat datang di Desa Arborek.

***

Nikmati Laut Raja Ampat

laut raja ampat
Bang Richard sedang mengawasi kami untuk turun ke laut

Bang Richard, orang lokal dari Biak ini mengajari saya snorkeling untuk pertama kalinya. Saya diberikan baju pelampung dan diberitahu kawasan mana yang boleh dilewati saat snorkeling di Arborek agar tidak melewati sasi laut.

“Hati-hati, jangan sampai masuk ke kawasan sasi laut, bang.” seru Bang Richard.

Setelah mengencangkan goggles, saya mengambil nafas panjang sebelum menceburkan diri. Snorkeling adalah tahap awal yang bisa dicoba oleh pemula sebelum melakukan diving menggunakan alat bantu.

Dari kedalaman satu meter, saya bisa melihat kumpulan ikan kecil berwarna-warni bersembunyi dibalik terumbu karang. Paparan sinar matahari langsung menembus ke air. Rasanya ingin menyelam lebih dalam melihat keragaman jenis ikan.

Arborek, Kampung Wisata Laut

laut raja ampat
Kampung Wisata Arborek

Melihat bang Richard berenang dengan lincah membuat hati saya iri dengannya. Nikmat sekali melihat dia bergerak bebas bersama ikan-ikan. Walau tubuh perih kena paparan sinar matahari dan air garam, namun hati puas.

Menurut cerita Bang Richard, Arborek memiliki arti duri. Dulu nenek moyang yang berasal dari wilayah Biak memasuki pulau ini, kondisi pulau hampir rata tertutup dengan semak duri. Lalu, masyarakat membersihkannya dan membangun komunitas untuk bertahap hidup.

Terpilih sebagai kawasan desa wisata, Arborek direkomendasikan oleh banyak orang ketika datang ke Raja Ampat. Bukan hanya keeksotisan pulau tapi juga merasakan bersih dan jernih kualitas air.

Kalau saja tidak dipanggil oleh Bang Richard, saya sudah lupa diri untuk terus berlama-lama snorkeling dan hampir memasuki sasi laut. Berenang bebas di laut memang menyenangkan, apalagi untuk saya yang baru pertama kali.

Masyarakat Mematuhi “Sasi” Laut

laut raja ampat
Homestay kami di Pulau Mansuar, dekat dengan laut

Kami bersiap-siap kembali ke Mansuar, pulau tempat saya bermalam selama di sini. Suasana homestay cukup sederhana, tidur beralas kasur tipis, ditutupi kelambu dan kipas angin putar. Namun, kalau kita duduk di teras langsung bisa melihat hamparan luas biru laut dan langit.

Selesai mandi, kami duduk di ruang makan. Listrik menggunakan tenaga genset. Baru dinyalakan ketika pukul 6 sore hingga 5 pagi. Saya melihat para mama-mama Mansuar ini tengah sibuk memanggang ikan dengan bumbu kecap. Aroma menyeruak masuk membuat saya melihat ke belakang dapur.

“Ikan ini ditangkap di depan sini ya, mama?” tanya saya.

Oh tidak, seruan kompak mama ini. Dari obrolan menemani mereka memasak, mama-mama di kampung ini sepakat menutup dan membuka laut sesuai kebutuhan. Kampung menerapkan adat “sasi” yang melarang eksploitasi suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, larangan penangkapan biota laut tertentu, seperti teripang, ikan, dan kerang.

laut raja ampat
Ikan hasil tangkapan khusus dikonsumsi
laut raja ampat
Para mama-mama di Mansuar yang baik

Orang lokal hanya mengambil hasil laut pada rentang waktu tertentu untuk digunakan bersama. Termasuk untuk keperluan makan sehari-hari ada kawasan yang dikhususkan. Kadang mama-mama ini ikut menyelam saat buka sasi. Mereka bisa menyelam cukup dalam untuk mencari teripang untuk dijual kembali.

Warga secara sadar menjalankan sasi karena bermanfaat untuk ekosistem. Dengan alam yang terjaga, tak lagi menggunakan alat tangkap berbahaya, laut akan kian baik.

Wajah Laut Indonesia Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 membuat industri pariwisata, termasuk wisata bahari dan wisata selam menjadi mati suri. 

Sudah sejak lama kekayaan hayati Indonesia diakui sebagai salah satu yang terbaik dan terlengkap di dunia. Tidak hanya spesies ikan yang ada di lautan, kekayaan satwa laut juga diakui sangat beragam di Indonesia. Karenanya, Indonesia dikenal sebagai negara ibu bagi biota perairan laut di dunia.

laut raja ampat
Sebagian karang laut yang sudah rusak

Fakta tersebut tidak bisa dibantahkan. Salah satunya Raja Ampat memang termasuk kawasan wisata favorit bagi wisatawan penggemar laut. Kekayaan hayati dan laut yang ada di sekitar Papua menjadi rumah bagi kekayaan hayati dan laut di Indonesia.

Sejak pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar, hampir sebagian kota-kota besar memberlakukan PSBB termasuk di Palembang. Hari biasa melihat burung-burung gereja pun sulit. Sekarang, saya bisa melihat satu dua burung terlihat gembira.

Cuplikan talkshow Ruang Publik KBR

Hal ini senada dengan yang diceritakan oleh Githa Anathasia, pengelola kampung wisata Arborek dalam talk show ruang publik KBR bersama Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Bidang Kelautan Undip Semarang.

“Secara alam makin membaik, namun secara ekonomi sedang-sedang saja.” sambil dia menunjukkan pemandangan cantik laut Arborek.

Tentu ada sisi positifnya dari pandemi untuk laut yaitu aktivitas bahari dan penyelaman terhenti, sehingga biota laut dan terumbu karang bisa “bernafas” dan tumbuh tanpa gangguan. Terumbu karang dapat bertumbuh, serta ikan yang biasanya tidak terlihat seperti lumba-lumba pun ramah.

Plus Minus Laut Akibat Virus Corona

Berkurangnya aktivitas manusia dengan melakukan isolasi diri untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 memberikan waktu bagi laut untuk beristirahat sementara waktu. Seperti kerusakan terumbu karang di perairan Raja Ampat diperkirakan mencapai lebih dari 1,8 hektar, akibat diterabas kapal pesiar M.V. Caledonian Sky yang kandas di selat Dampier beberapa waktu lalu.

laut raja ampat
Anak-anak kampung Arborek menunjukkan bakat dengan menari

Seperti Raja Ampat, mbak Githa bilang kalau selama pandemi Covid-19 tidak ada lagi keramaian para wisatawan di berbagai objek wisata perairan tanah air. Hal itu sangat berpengaruh positif pada kondisi laut dan ekosistem didalamnya. Tekanan dari aktivitas turis jadi sangat berkurang selama pandemi.

Tidak adanya aktivitas wisatawan ini juga membawa pengaruh terhadap pengurangan jumlah sampah yang dihasilkan saat berwisata.

Selain itu, tingkat polusi suara atau kebisingan dari kapal-kapal laut yang mengangkut wisatawan maupun kapal-kapal besar berkurang. 

Kendati begitu, sektor ekonomi pariwisata sangat berdampak bagi masyarakat setempat. Ada kelompok masyarakat yang memang bergantung hidup dari jumlah kunjungan wisatawan. Misalnya uang masuk ke Raja Ampat juga tidak ada.

Selain itu seperti di Desa Arborek, anak-anak biasanya mendapat tambahan uang jajan ketika mereka menampilkan pertunjukan tarian di depan wisatawan. Akhirnya seperti kata mbak Githa kalau masyarakat mencoba keahlian baru untuk mengatasi kebosanan selama pandemi.

Sektor kelautan, salah satunya menurunnya pendapatan aktivitas perikanan terutama skala kecil. Para laki-laki yang biasanya melayani tamu, kini kembali menjadi nelayan.

Mama-mama di homestay bilang, kalau mereka juga mengandalkan untuk menjual hasil tangkap ikan untuk dijual di pasar Sorong. Hasil tangkapan ini dilakukan mereka secara legal. Tidak menggunakan peralatan seperti pengeboman yang dapat merusak laut.

Ancaman Penangkapan Ikan Secara Ilegal

laut raja ampat
Cantik sekali bukan pemandangan ikan warna-warni dari permukaan laut

Karena kekayaan hayati dan laut yang ada di Indonesia Timur, Indonesia sejak lama dikenal sebagai salah satu surga bagi pencari ikan ilegal dari berbagai negara. Akibatnya, Indonesia bisa kehilangan sekitar 55 persen kuota ikan. Ini menjadi ancaman serius yang harus ditangani.

Ancaman lain yang dihadapi adalah keberadaan sampah di lautan yang jumlahnya semakin tak terbendung. Sampah-sampah yang berserakan sebagian besar adalah sampah plastik yang memiliki resiko sangat tinggi dalam menjaga keberlangsungan satwa yang ada di laut.

Bayangkan saja kalau ada satwa laut yang memakan sampah plastik, pasti akan terancam nyawa mereka. Sedangkan hewan tidak bisa membedakan mana plastik dan bukan.

Serta ancaman terakhir adalah perilaku dari warga dan pendatang yang sedang berada di perairan Indonesia.

Perlu Kebijakan Hukum Kelautan

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.47/2016 tentang Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan, selain melindungi ekosistem dan jenis ikan di dalamnya, kawasan konservasi juga dapat dimanfaatkan untuk ekowisata sesuai dengan daya tampung dan daya dukung serta pemanfaatan ekowisata secara berkelanjutan.

Misalnya satu kawasan sudah memiliki terumbu karang yang sehat, tentunya bisa dicoba dengan membatasi jumlah wisatawan yang masuk. Toleransi ini akan bermanfaat untuk menjaga karang agar tidak rusak kembali.

Ada lagi studi karakteristik wilayah. Studi ini ditujukan agar setiap tempat mempunyai karakteristik yang berbeda. Tiga aspek yang perlu diperhatikan yakni :

  1. Aspek fisik. Misalnya, dalam suatu luasan wilayah tertentu, akan dilihat berapa jumlah orang penyelam dan kapal yang layak melakukan aktivitas di wilayah tersebut tanpa menyebabkan kerusakan biota lautnya.
  2. Aspek sosial dengan persepsi. Melakukan jajak pendapat kepada wisatawan dan dive operator-nya tentang kelayakan dan kenyamanan dalam melakukan penyelaman
  3. Aspek ekonomi. Rasio kecukupan ekonomi para dive operator dibandingkan dengan keberlangsungan ekosistem laut.

Studi ini menceritakan kondisi laut dan ekonomi masyarakat sangat bergantung. Idealnya dalam satu waktu maksimal 10 kapal atau 40 orang. Dan jika lebih dari itu sudah tidak nyaman dan menyebabkan gangguan terhadap kehidupan biota laut.

Ayo Dukung Laut Indonesia Lebih Baik

Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik di dunia untuk kegiatan diving. Bahkan kelengkapan flora dan fauna bawah lautnya diakui sebagai nomor satu di dunia.

Sekurangnya terdapat 75% spesies karang dunia, sekitar lebih dari 540 jenis karang keras, lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska. Melestarikan Alam bawah laut di kepulauan Raja Ampat adalah hal wajib untuk semua wisatawan yang masuk ke Raja Ampat.

laut raja ampat
Peraturan untuk menjaga laut di Raja Ampat
laut raja ampat
Membuat anjungan kapal salah satu mendukung #JagaLaut

Tak luput juga pengaruh pemerintahan juga harus tegas. Untuk menghindari kerusakan atau kejadian yang sama terjadi di tempat terumbu karang di Raja Ampat, atau tempat menyelam lain di Indonesia.

Misalnya membuat banyak tambatan kapal yang strategis, sehingga kapal-kapal besar tidak langsung masuk ke perairan dangkal, yang beresiko merusak terumbu karang. Atau membuat kebijakan zonasi yang baik dan jelas.

***

Kejernihan air laut Raja Ampat, pasti membuat yang memandangnya berdecak kagum. Bahkan tidak perlu menyelam ke dalam seperti saya. Cukup memandang dari dekat permukaan laut, kita bisa melihat ikan warna-warni di antara karang cantik.

Oleh karena itu, sangat disayangkan jika keindahan alam bawah laut Raja Ampat rusak karena ulah manusia. Untungnya, masyarakat sekitar Raja Ampat memiliki sistem sendiri untuk menjaga keseimbangan alam lautnya.

laut raja ampat
Ayo kita Jaga Laut agar bisa menikmati pemandangan indah

Selain itu walau nanti kondisi pandemi berakhir, saya pun berharap kondisi laut tetap terjaga, misalnya dengan pembatasan kuota penyelam pada satu tempat dan waktu. Mematuhi sasi laut yang sudah disepakati oleh adat setempat.

Laut Raja Ampat harus dijaga demi keberlangsungan pariwisata bagi generasi di masa yang akan datang.

***

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

12 comments on “Kitorang Jaga Laut Raja Ampat

  1. yang membuat tambatan kapal itu seketika keinget dulu awal-awal Raka Ampat happening, lantas ada sebuah kapal pesiar yang mau merapat di sana.
    Duh eman-eman karangnya, semoga aku bisa menuliskan Nining was here di atas bukit Pianemo itu. AAMIIN

    • Haha.. sepertinya senang banget ya bisa lihat laut biru dan laut yang jernih. Semoga saja bisa kembali lagi ke Raja Ampat.

  2. sebetulnya di Indonesia yang kita cintai ini, banyak sekali tempat2 yang menakjubkan yang masih belum tersentuh. namun dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, semua sektor wisata sepi. mudah2n pandemi ini cepat berlalu.

  3. saya ingat saat berada di dermaga Arborek, ada seorang anak yang tengah memancing hanya dengan sebuah senar.. kutanya, memang bisa itu mancing begitu? umpannya apa? dibilang, tidak pakai umpan, hanya kail dan senar saja.. tak berapa lama ia dapat ikan.. begitu kayanya Raja Ampat!

    saya juga punya seorang teman yang bekerja sebagai dive master di Raja Ampat, semasa pandemi ini (yang juga kebetulan masuk masa sasi laut), ia pulang kampung. sepertinya ia tidak kembali ke Raja Ampat, karena pandemi memukul sektor wisata, termasuk di Raja Ampat.. 😦

    • Anak-anak di sana sepertinya sudah tahu lingkungan mereka. Sekilas kita mungkin nggak percaya tapi nyatanya bisa. Sama kayak pengalamanmu kan mas lihat mancing kok pakai senar doang 😀

      Wah jadi dia gak menetap dulu di Raja Ampat karena corona?

  4. impian nih …. jalan jalan ke raja Ampat .. terus snorkeling snorkeling … 🙂
    Meskipun ada UU dan peraturan … aplikasinya dan pelaksanaanya tidak bisa maksimal …. dengan adanya covid ini, ambil hikmahnya saja … alam laut Indonesia dan tempat2 wisata alam diberikan waktu untuk recovery, tidak terekploitasi oleh kehadiran manusia.

    • Iya, aku melihat hal positifnya laut jadi lebih lega buat recovery dulu. Walau itu akan berdampak sama masyarakat buat ekonomi ya.

  5. Senang deh mengetahui kalo ibu-ibu mansuar dan penduduk sekitar sana paham tentang menjaga keseimbangan ya. Semoga bisa ke raja ampat suatu hari nanti, aamin

  6. Rina Darma

    Belum pernah ke sini huhu… Mari #JagaLaut bersama agar saat sy ke sini nanti masih tetap mjd surga 🙂

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: