Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)


pesona pulau pisang

Pulau Pisang. Nama yang menarik di telinga dan membuat saya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan kali ini bersama rombongan travel blogger lainnya ke Pesisir Barat, Krui, Lampung. Seperti apakah Pesona Pulau Pisang?

***

Ini kali pertama saya traveling bersama teman-teman travel blogger lainnya. Ada Mbak Rien (travelerien.com), mbak Dian (adventurose.com) dan Yuk Annie (annienugraha.com), sedangkan Yayan (omnduut.com) dia sudah kuanggap teman baik karena kita satu kota.

Langit sudah semakin malam begitu kami tiba di Pesisir Barat, Krui sekitar pukul 8 malam. Perjalanan hanya dapat ditempuh melalui darat dan lumayan melelahkan. Mulai dari Palembang menggunakan kereta menuju Stasiun Tanjung Karang membutuhkan waktu 10 jam. Kemudian, perjalanan darat dari Bandar Lampung melewati Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, serta melalui Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Barulah kami tiba di Labuhan Jukung Krui. Total perjalanan darat membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam perjalanan. Namun, ada bagian yang saya suka di perjalanan kali ini, yaitu berjalan bersama teman-teman yang memiliki minat yang sama : traveling dan berbagi lewat tulisan.

Mobil kami merapatkan ke salah satu warung makan. Kulirik jarum jam di pergelangan tangan sembari menahan batuk yang belum sembuh. Nafsu makanku juga perlahan menghilang. Barangkali tubuh ini memang tidak bisa difosir lagi setelah perjalanan minggu lalu saya ke Pagaralam. Hingga saya pun berhalusinasi ketika mobil merapat ke pinggir. Dalam penglihatan saya ada pondokan dan halaman yang luas.

“Wah asik ya ini halaman luas banget, besok pagi pasti seru main,” celetukku di dalam mobil. Heran, semua orang tampak diam begitu mendengar celetukan saya.

Krik..krik..

sewa penginapan di krui

Penginapan milik Dinas Pariwisata Krui

“Samping kita ini laut, mas Ded,” balas mas Ardi yang memegang kemudi setir. Seisi mobil pun tertawa mendengar dan saya pun seolah ingin mencari bantal untuk menutup muka. Ini akibat mata dan otak tidak sinkron. Tidak beberapa lama, kami diberikan kamar untuk beristirahat sebelum besoknya akan berlabuh ke Pulau Pisang.

“Ciri khas di Krui ini kalau lampunya suka turun, soalnya masih pakai genset,” pesan mas Aries dari Dinas Pariwisata Krui yang mengundang kami untuk Pesona Krui sebelum berpamitan. Badanku langsung menjatuhkan diri di atas kasur alas di penginapan sesampainya dan mencoba terlelap hingga esok pagi.

Cerita Segelas Kopi Hitam

pantai labuhan jukung

Cuaca pagi di Labuhan Jukung Krui, Pesisir Barat. Foto dari Mas Aries.

Saya menyukai tempat-tempat baru, bahkan kalau bisa tempat yang barangkali masih minim publikasi sebab tempat tersebut masih alami dan akan terasa nikmat saat sedang traveling. Karakteristik alami bagi saya karena belum adanya listrik dan penginapan ala kadarnya. Dua aspek ini merupakan bagian yang harus bisa kita terima dulu. Kadang kita terlalu nyaman dengan apa yang kita miliki hingga harus berpindah tempat dan beradaptasi kembali. Sanggup kah?

Sistem alarm alamiku sudah membangunkan diriku sedari subuh. Saya melirik ke samping ternyata Yayan dan Mas Arif, suami mbak Rien masih tidur. Sinyal telepon pun tidak kuat, sesekali bisa mengakses media sosial sisanya hilang. Saya segera bersiap diri untuk menikmati pemandangan pagi seutuhnya sembari menertawai kejadian ngelantur saya tadi malam.

Awalnya saya berpikir apa benar warna air laut di Krui memang biru seperti gambar yang saya temukan saat menelusuri tentang Krui. Ternyata, setelah datang melihat sendiri saya pun mengakui bahwa Pesisir Barat memiliki keindahan warna lautnya. Indah sekali. Laut di hadapan saya berwarna biru menyatu dengan gradasi warna langit dan Gunung Pugung. Jari saya asyik memainkan shutter kamera yang saya sewa harian lewat Metro Camera selama trip ini, sebab kamera saya sedang diservis karena kerusakan kabel fleksibel.

sarapan pagi

Menikmati sarapan pagi dengan pemandangan laut

morning coffee

Ngopi kuy!

Dari arah kejauhan, mas Aries datang membawakan kami sarapan pagi nasi uduk dan gorengan. Tapi sepertinya tidak lengkap rasanya kalau tidak ditemani oleh kopi dan teh. Maka kami pun memesan secangkir kopi hangat. Lengkaplah sudah kebersamaan kami menikmati pagi di Krui berlatarkan pemandangan hamparan laut dan deburan ombak di Labuhan Jukung Krui. Ngopi kuy!

Berlabuh Di atas Ombak Menuju Pulau Pisang

pelabuhan kuala stabas krui

Pelabuhan Kuala Stabas, Krui

“Cepat! Cepat! Naiklah!” suara bapak nelayan kapal jukung berteriak ke kami di pinggir Pelabuhan Kuala Stabas. Pelabuhan ini berada tidak jauh dari penginapan kami milik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Krui. Lebih tepatnya Pelabuhan Kuala Stabas dekat dengan Bukit Selalaw yang menurutku lokasi ideal untuk menikmati laut Samudera Hindia.

Saat berjalan menuju bibir pelabuhan kita akan melewati sebuah tempat yang mirip seperti tempat pelelangan ikan. Beberapa kapal jukung juga berbaris terayun ombak. Sedari tadi mas Aries memberitahu kalau laut sedang bagus dan cocok untuk menyebrang ke Pulau Pisang menggunakan kapal jukung, kapal dengan ketinggian sedang dan memiliki sayap masing-masing di samping.

pelelangan ikan krui

Semacam pelelangan ikan di Pelabuhan Kuala Stabas

kapal jukung

Di atas kapal jukung berlabuh menuju Pulau Pisang

pulau pisang

Pulau Pisang tampak dari kejauhan

Saya percaya kalau para nelayan ini sudah memiliki daya insting yang kuat dalam memperkirakan kondisi ombak. Apabila ombak sedang tidak bersahabat sudah pasti rencana akan ditunda walaupun menyebrang ke Pulau Pisang yang tampak dekat jaraknya hanya sejauh mata memandang. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menyebrang ke Pulau Pisang, jarak yang saya prediksi seperti dari Dermaga Ampera menuju Pulau Kemaro menggunakan kapal ketek juga sama yaitu 6 km.

Kami semua telah dilengkapi dengan jaket pelampung yang menjadi salah satu standar dalam keselamatan. Dalam hati saya terus berucap akan keselamatan dan ombak-ombak yang jinak hingga mengantarkan kami dengan selamat sampai tujuan. Namun, sesekali hembusan ombak membelai manja wajah saya memberikan kesegaran di tengah laut dengan terik matahari yang makin meninggi. Sembari menahan mabuk laut, Pulau Pisang yang seolah tampak dekat di depan mata seolah oase bagi saya ingin segera sampai.

Pulau Pisang, Bagaikan Berkunjung ke Pulau Milik Pribadi

pulau pisang

Pulau Pisang, Pesisir Barat

Begitu melihat gambaran pulau ini di hadapan saya. Maka dalam benak pun bertanya, apa banyak ditanam dengan perpohonan pisang?

Pulau Pisang adalah salah satu pulau paling barat yang ada di Provinsi Lampung yang langsung menghadap Samudra Hindia. Pulau ini merupakan satu kecamatan sendiri dalam Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Ternyata asal mula nama Pulau Pisang dulunya karena banyak ditanami pohon pisang selain itu ada juga yang mengatakan bentuk pulaunya seperti pisang apabila kita mengambil lewat foto drone.

Tiba-tiba seperti ada sekelumit perasaan yang saya rasakan begitu kapal jukung mulai menepi di bibir pantai Pulau Pisang. Hamparan pasir putih dan air yang jernih menyentuh kakiku saat pertama kali turun dari atas kapal. Sandal jepit warna kuning seolah berkata ingin segera mengelilingi tempat ini, namun saya masih ingin menyakinkan perasaan yang tadi tiba-tiba datang seolah ingin memberitahuku akan sesuatu.

Matahari makin menyengat, kami mengikuti jejak langkah menuju sebuah rumah yang merupakan rumah penduduk lokal. Malam ini kami akan menginap di rumah penduduk lokal yang biasanya digunakan sebagai rumah singgah bagi tiap pelancong berkunjung ke Pulau Pisang. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pulau ini punya karakteristik yang sangat alami, karena belum adanya listrik dan penginapan. Akan tetapi di sinilah titik kenikmatan yang sulit digambarkan bagi orang yang senang traveling yaitu cukup menikmati saja.

homestay bang jon

Rumah Bang Jon sebagai rumah singgah di Pulau Pisang

anak pulau pisang

Anak kecil berlarian di pasir putih Pulau Pisang

Saya merasakan ada sesosok makhluk yang mengikutiku dari belakang. Rasanya sejak kami turun dari kapal jukung, sosok tersebut terus melihatku dari arah jauh. Perasaan yang tadinya saya kira hanya sekilas saja namun ternyata kehadirannya semakin kuat di di depanku. Ternyata ada seekor anjing yang terus mengikuti saya tanpa saya sadari. Dia sepertinya senang sekali berjalan dekat saya sementara itu Yayan yang sudah mewanti-wanti agar saya menjauhkan anjing itu dari jaraknya.

“Tenanglah, dio ndak ganggu, Yan. Nak ajak maen ini haha..” godaku ke Yayan.

Setelah kami meletakkan semua barang di rumah Bang Jon, rumah singgah tempat kami bermalam. Kami segera melancarkan niat untuk bersantai di dermaga rusak yang sudah tidak digunakan lagi. Kondisinya yang rusak dan berlobang besar ternyata menjadi spot menarik di mata kami. Tanpa disadari ternyata dermaga ini merupakan ikon kalau bertamu di Pulau Pisang.

Saat kami sedang menikmati berfoto, tiba-tiba saja anjing yang sedari tadi mengikuti saya dia langsung masuk ke frame kamera yang sedang dipegang oleh Yayan saat ingin memfotoku. Posenya mengalahkan pose saya yang sudah lengkap dengan kain tradisional. Si anjing ini dengan santainya merenggangkan badan kemudian menggulingkan badan. Kocak sekali! Baiklah, dia memberikan salam doggy style.

Kali ini panggilan bagi kaum Adam untuk menjalankan kewajiban sholat jumat. Di sekitar Pulau Pisang terdapat masjid yang dibangun untuk aktivitas sholat berjamaah penduduk lokal. Berhubung saya tidak sholat, saya mengikuti Yayan dan Mas Aries yang menjalankan sholat jumat karena kegemaran saya melihat tiap arsitektur bangunan, salah satunya masjid. Ukuran masjidnya memang tidak terlalu besar, namun lumayan untuk menampung penduduk Pulau Pisang yang jumlah kepala keluarganya sudah sedikit.

masjid pulau pisang

Bangunan masjid di Pulau Pisang

rumah pulau pisang

Suasana perkampungan Pulau Pisang

santap siang di pulau pisang

Menyantap makan siang di Pulau Pisang. Foto dari Mbak Rien

Menurut cerita mas Aries, sebagian penduduk Pulau Pisang lebih memilih berpindah ke Krui yang jaraknya dekat dan mengarah ke perkotaan. Sehingga karena jumlah kepala keluarga yang sedikit ini saya melihat rumah-rumah yang sengaja dikosongkan dan tidak terurus lengkap dengan perabotan rumah mereka. Di kampung ini tidak ada mobil, hanya ada jalan setapak yang cukup dilewati motor. Selain itu, beberapa ekor kambing yang diternakan. Anak-anak Pulau Pisang orangnya sopan tapi pemalu begitu saya mencoba menyapa mereka.

Kemesraan kami masih berlanjut setelah menyantap makan siang bersama di rumah Bang Jon. Saya melihat keluar dari rumah Bang Jon, ternyata anjing tersebut masih duduk di depan rumah. Dia sepertinya menyadari kehadiran saya.

Tak berapa lama hidangan makan siang pun sudah disiapkan. Mereka menyiapkan menu masakan rumah yang istimewa berupa ikan goreng, sayur lodeh daun katuk, kentang cabe merah, pete rebus dan gulai buah kelor. Nikmat sekali kan! Sayur kelor menjadi makanan khas di Pulau Pisang, makanya kami dibuatkan spesial untuk mencicipi hidangan khas setempat.

Keliling Pulau Pisang Pakai Motor

keliling pulau pisang

Selfie sebelum berkeliling Pulau Pisang menggunakan motor. Foto dari mbak Rien.

Kami mendapatkan kejutan kembali, kejutan yang membuat perjalanan seolah dipermudah yaitu mengelilingi luas pulau menggunakan motor. Tentu saja kami menyambut kejutan tersebut dengan senang hati. Bayangkan saja keseruan yang akan kami rasakan motoran di Pulau Pisang. Berkeliling Pulau Pisang menikmati tiap jengkal pesonanya tidak membutuhkan waktu yang lama. Harapan kami sorenya bisa menikmati sunset di pinggir pantai.

Motor kami melaju pelan menyusuri jalanan setapak di tengah pemukiman warga Pulau Pisang. Sepanjang jalan memang sedikit warga yang berada di luar, mungkin mereka sibuk di dalam rumah masing-masing. Dari balik spion saya melihat Mas Arif yang membonceng Mbak Rien, Yayan bersama Mbak Dian, sedangkan saya dengan Ayuk Annie, wanita usia milenia yang masih memiliki banyak darah muda dan kuat mengeret koper saat traveling 😆 Kopi dan rokok, dua hal yang tak terpisahkan dari sosok Yuk Annie. Saya baru pertama kali berjumpa dengannya dan mbak Dian dari Batam. Selama ini kami hanya berinteraksi lewat dunia maya. Sedangkan mbak Rien ini kali kedua berjumpa setelah kemarin dia datang ke acara Festival Gerhana Matahari Total di Palembang.

SDN Pasar Pulau Pisang

sd pulau pisang

SD Pulau Pisang; terdapat 2 SD dan 1 SMP di Pulau Pisang. Foto dari mbak Rien.

Motor kami menepi ke pinggir dinding, insting kami mengatakan untuk berhenti sebentar di bangunan tua yang tampak instagramable. Bangunan yang ada di hadapan kami merupakan salah satu bangunan sekolah yang sudah ada sejak kolonial Belanda sehingga dianggap sebagai salah satu bangunan sejarah yang ada di Pulau Pisang.

Menurut tutur kata dari teman mas Aries, bangunan SDN Pasar Pulau Pisang ini masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hanya ada 5 ruang kelas yang disekat sama dinding kayu pemisah. Bangunan aslinya hanya bagian depan seperti yang kita lihat, sedangkan bangunan belakang mengalami renovasi karena rusak dan tambahan ruang.

Bentuk pintu yang tinggi tanpa jendela, hanya dibuat dinding berlubang sehingga membuat sirklus udara masuk lebih banyak. Informasinya di Pulau Pisang ini hanya memiliki dua SD dan satu SMP, sehingga untuk meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maka anak-anak tersebut berpindah ke pulau sebelah.

Menara Rambu Suara

menara rambu suara

Menara Rambu Suara, menara 4 tingkat di Pulau Pisang

Tanganku kembali men-starter motor matic warna biru lalu membuntuti motor di depan yaitu mas Aries sebagai pembuka jalan. Beruntung akses jalan di Pulau Pisang bukanlah jalanan yang parah, tadinya saya mengira jalanan kurang mulus, ternyata sudah ada jalan setapak yang disemen rata ditambah variasi tanjakan dan turunan yang membuat saya harus menurunkan Yuk Annie di tengah jalan daripada membahayakan kami berdua.

Sesekali saat saya mengendarai motor harus membungkukkan dan memiringkan badan karena menembus ranting pohon yang tumbuh lebat di pinggir jalur. Saya melihat keseruan saat motoran di Pulau Pisang, jalur track-nya membuat adrenalin dipacu untuk lewati tantangan di depan.  Tanpa disadari kami sudah memasuki hutan cengkeh yang tumbuh subur milik warga. Dulunya cengkeh menjadi komoditi yang menjadi sektor ekonomi penduduk setempat.

jalan setapak di pulau pisang

Jalan setapak menuju Menara Rambu Suara

kebun cengkeh

Kebun cengkeh termasuk komoditi warga setempat

Kami sudah sampai di tujuan selanjutnya yaitu Menara Rambu Suara, menara yang terdiri dari 4 tingkat menjulang ke atas. “Wah, aku harus naik sampai ke atas ini,” ujarku dalam hati yang sudah mengambil posisi untuk naik ke atas.

Dony, teman mas Aries berpesan kalau menara ini hanya bisa dinaikin maksimal 5 orang karena semakin ke atas bentuknya semakin menyempit. Awalnya menara ini memiliki ketinggian sekitar 30 meter atau memiliki 5 tingkat dengan struktur besi peninggalan Belanda. Namun, mengingat usia yang sudah tua dan ketinggian yang lumayan membuat dengkul lemas akhirnya dihilangkan satu tingkatan. Saya percaya pemandangan di puncak teratas pasti akan lebih indah daripada berada di tingkat 2 atau 3. Maka saya niatkan untuk mencoba menaiki satu tingkat lagi untuk merasakan melihat Pulau Pisang secara utuh.

pemandangan menara rambu suara

Pemandangan dari atas Menara Rambu Suara

Kaki tangan saya mulai merasakan gemetar dan hembusan angin yang kencang, sesekali pohon kelapa mulai bergoyang karena terpaan angin. Cengkraman tangan dikuatkan agar sedangkan pijakan kaki di tiap tangga dimantapkan. Kalau kalian bertanya rasanya sudah pasti berbeda sensasinya sewaktu saya mendaki Puncak Wayag, Raja Ampat. Menaiki menara ini seperti mengajarkan saya dengan suatu filosofi : Semakin tinggi posisi seseorang maka semakin kencang pula angin bertiup untuk merobohkannya. Ketika sudah berhasil naik sampai puncak teratas, maka semua rasa letih itu terbayarkan dengan hamparan pulau, laut dan hembusan angin.

Pemandangan laut dengan gradasi warna yang indah. Atap-atap rumah penduduk di kelilingi oleh pohon kelapa serta ada barisan kapal-kapal jukung di tepi pantai. Bagai suatu lukisan pemandangan yang bisa kita saksikan dengan nyata memanjakan mata serta menyegarkan pikiran. Inilah pesona alam Pesisir Barat yang memang tak terbantahkan.

Gua Batu Liang

batu liang pulau pisang

Pemandangan di balik Gua Batu Liang

Ada satu spot yang menurut saya lumayan ekstrim karena melewati jalur yang lebih menantang. Motor kami hentikan di pinggir sebuah jembatan kemudian berjalan kaki masuk ke hutan dan semak. Jalan masuknya memang tidak mulus selain itu kita juga melewati sebuah kuburan tua yang dipagari oleh kayu dan beratap genteng. Kuburan ini persis di pinggir jalan saat kita mau masuk. Lalu tidak jauh di depannya terdapat sebuah lubang berukuran 1 meter mirip seperti sumur tua.

Kami pun melanjutkan perjalanan melewati tanaman berdaun panjang dan berduri. Kira-kira tempat seperti apa yang akan kami lihat di balik semak-semak seperti ini. Tak berapa lama, mas Aries memberitahu kalau Batu Liang merupakan salah satu lokasi untuk menikmati sunset dari atas bukit jurang curam melihat hempasan ombak menyentuh berbatuan.

batu liang

Kami pun duduk sejenak memperhatikan satu persatu berpose di atas batu jurang yang membuat kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Tiba-tiba saya merasakan getaran dari dalam tas menandakan ada pesan masuk. Kami semua saling melirik, di tempat ini ternyata bisa mendapatkan sinyal kencang? Sedangkan sedari tadi kami jalan saya merasakan kesusahan sinyal untuk mengupdate status di media sosial. Kok bisa?

Berhubung tempat ini cukup membahayakan dan lumayan sempit untuk menampung tiap orang yang ingin berfoto, maka kami pun tidak ingin membuat waktu untuk segera berpindah tempat untuk menikmati sunset.

Batu Gukhi

batu gukhi

Pemandangan Batu Gukhi, Pulau Pisang

Total hampir dua jam kami mengitari Pulau Pisang dari ujung balik ke ujung kembali. Hari juga mau menjelang sore. Entahlah apa ada sunset yang dapat kami lihat dan nikmat melihat langit mulai menghitam. Kami pun mencari kembali lokasi yang tepat untuk bersantai sore di Pulau Pisang. Sebagai bayangan kalian kalau pulau ini memang tidak terlalu besar sehingga mudah untuk dijelajahi tiap sudut.

Suasana “meneduhkan” bisa kita rasakan sewaktu melewati rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Barangkali karena kami beramai-ramai, kalaupun sendirian barang kali saya juga tak berani. Sedangkan rumah penduduk yang masih ditempati rata-rata berada di pinggir laut. Mas Aries dan Dony sepertinya layak menjadi tour guide yang ramah dan mengobati rasa penasaran kami untuk mengeksplore lagi di pulau ini.

batu gukhi

Air jernih di sekitar Batu Gukhi

ombak kencang

Awan pekat dengan ombak bergulung

Sampailah kami tepat di pinggir pantai berpasir putih dengan deruan ombak yang tinggi. Motor kami pepetkan ke samping untuk menantikan sunset sore. Semoga saja dapat berjodoh karena menantikan sunset seperti menantikan jodoh. Jika berjodoh maka kita bisa bertemu.

Kami menghabiskan waktu sore dengan duduk-duduk bersantai, mengambil beberapa adegan foto yang memang instagramable dengan latar pasir putih, gulungan ombak tinggi. Dari tempat-tempat yang kami datangin sedari siang, sepertinya tempat ini merupakan terbaik untuk bersantai menghabiskan waktu.

“Apa ini namanya mas Aries?” tanya kami serempak.

“Batu Gukhi.”

Hatiku seperti memiliki koneksi dengan tempat ini. Seolah pernah berkunjung ke tempat ini namun hanya dalam khayalan. Bongkahan batu besar di hadapan saya seolah wujud wajah seseorang yang sedang menghadap ke laut. Tampaknya batu tersebut terbentuk secara alami oleh kikisan air laut yang terus menempar dinding batu.

levitasi batu gukhi

Gulungan ombak makin menjadi tinggi, saling berkejaran dan berlawanan masing-masing. Ada rasa ingin menangkap momen tersebut, namun hati ini terasa getir merasakan hempasan tiap gesekan air. Niat kami diurungkan untuk menantikan bayangan indahnya sunset di Pulau Pisang sebab awan semakin menghitam dan angin sudah merobohkan motor kami di parkiran. Kami memilih pulang, menghangatkan badan kemudian makan malam bersama.

Melihat Tenun Kain Tapis

pengrajin kain tapis

Pengrajin kain tapis di Pulau Pisang

Angin bertiup dengan kencang membuat daun pintu bergerak dengan sendirinya. Padahal bagi kita yang tinggal di perkotaan, pukul 7 malam masih pagi dan kami duduk lesehan sambil bercerita mengenai potensi pariwisata yang ada di Pulau Pisang. Masing-masing kepala memberikan unek-unek yang baik dan merasakan Pulau Pisang memang memiliki wisata yang memikat hati tiap orang.

Sesekali saya melirik ke arah luar pintu melihat anjing yang sedari pagi mengikuti saya ternyata sedang tiduran dengan mata sayunya. Saya pikir anjing ini merupakan milik kepunyaan Bang Jon, pemilik rumah singgah yang kami tumpangin malam ini. Terkadang berbicara mengenai pariwisata memang seperti simalakama, kita tidak bisa menuntut pemerintahan setempat untuk bergerak. Hanya yang dapat kita lakukan adalah apa yang dapat kita berikan untuk  pariwisata, salah satunya becerita tentang indahnya tempat tersebut sudah cukup agar orang lain juga dapat ikut merasakannya.

kain tapis

Kain tapis yang dibuat berdasarkan pesanan

Tiba-tiba Mas Aries menawarkan kami untuk melihat kerajinan Tapis, kain khas Lampung di salah satu rumah penduduk. Kami tipe traveler yang menyukai sejarah dan hal-hal baru, sudah pasti sepakat menerima tawaran tanpa perlu berpikir dua kali. Cuaca malam kami ditemani rintik-rintik hujan dengan hembusan angin yang kencang. Untungnya lokasi rumah penduduk hanya berada di belakang tempat kami bermalam.

Di sebuah rumah batu berdesain jadul, saya melihat alat tenun berukuran panjang. Lewat informasi dari ibu yang menenun tapis ini ternyata hampir semua penduduk Pulau Pisang memiliki keahlian menenun tapis yang sudah turun temurun. Kegiatan ini mereka kerjakan sebagai serabutan apabila ada pesanan untuk membuat pesanan kain atau bisa juga dijadikan hiasan lainnya.

Proses tapis ini dikerjakan dengan cara menjahit kain sesuai motif yang telah digambar. Berbeda dengan teknik menenun kain Songket Palembang namun memiliki kesamaan lamanya waktu pengerjaan kurang lebih bisa 2 sampai 3 bulan untuk menyelesaikannya. Harga jual tenun Tapis ini dijual kisaran mulai dari 1,5 juta sampai 3 juta sesuai dengan kerumitan motif dan benang yang digunakan. Benang yang digunakan adalah jenis benang emas.

Saya tak menyangka kalau teman-teman lainnya langsung balik badan masuk ke kamar setelah kami melihat proses tenun kain Tapis. Saya melirik jam baru pukul 8 malam, akhirnya menyisahkan saya dan mbak Dian berdua di ruang tamu sambal bercerita ngalor ngidul seputar dunia blog. Memang menyenangkan bisa berjumpa langsung dengan teman-teman yang tadinya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, kini dapat bertemu langsung.

Bersambung ke bagian dua.

Pesona Krui 2017 – Ija Mit Krui

Perjalanan satu hari penuh di Pulau Pisang memang menyenangkan. Tempat ini masih alami dan jauh dari rombongan bala-bala sehingga sangat cocok untuk menikmati momen liburan serta berinteraksi dengan penduduk lokal. Mengenal lebih dekat bersama mereka. Kalian juga ingin merasakan pengalaman seperti yang saya rasakan bersama teman-teman travel blogger lainnya? Ija Mit Krui! Ayo datang ke Krui!

Catat kalender event Krui yang akan mengadakan Festival Pesona Krui 2017 pada 13 – 22 April 2017. Festival ini akan mengajak kalian untuk semakin mengenal potensi wisata alam terbaik yang dimiliki oleh Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Apabila kalian sedang berkunjung ke Krui, sempatkanlah bermalam di Pulau Pisang yang penuh cerita sederhana namun berkesan seperti yang saya rasakan.

Ucapan Terima Kasih

  • Terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Bandar Lampung yang mengajak saya untuk menikmati trip Pesona Krui 2017 mulai dari tanggal 16 – 18 Maret 2017
  • Terimakasih untuk Mas Aries Pratama dari Dinas Pariwisata Krui
  • Terimakasih untuk akun medsos Lampung yang telah baik merepost foto kami untuk menyebarkan informasi #PesonaKrui #iJamitKrui
  • Cari tahu tentang Krui lewat Instagram @kruitourism

Baca cerita keseruan teman perjalanan saya selama di Pulau Pisang!

  1. Annie Nugraha : Hatiku Tertambat di Pulau Pisang
  2. Dian Radiata : Pulau Pisang Lampung
  3. Haryadi Yansyah : 24 Jam Bermanjah di Pulau Pisang
  4. Katerina : Jelajah Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat
Iklan

79 pemikiran pada “Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

  1. Ping balik: ASUS ZenFone 3 Max (ZC533KL) Menemani Perjalanan Seru di Tidore | Koh' Huang

  2. Salam kenal dari Batam Koh Ded.
    Asik banget nih perjalanannya, apalagi pas bagian menaiki menara di Pulau Pisang, bikin greget deh. Aku pengen juga nyobain naik menara ituuuuu.

  3. Ping balik: Akomodasi Strategis di Krui, Pesisir Barat Lampung | Koh' Huang

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s