Labirin Rasa Macao (Xpress Air Inflight Magazine March 2018)


Tulisan ini telah dimuat di majalah Xpress Air Edisi Maret 2018.

Fragmen Kota Semenanjung Yang Tak Sekadar Mengandalkan Judi Kasino

Turbulensi pesawat salah satu bagian yang menegangkan dalam hidup saya. Pengalaman yang bisa saja dialami oleh tiap orang saat terbang. Bunyi awak kabin memberitahu bahwa pesawat sedang melewati cuaca yang sedang tidak baik. Penerbangan tengah malam memang menguntungkan untuk traveler bermalam di atas pesawat.

Ada fragmen rasa yang tertinggal saat berkunjung ke semenanjung Macao. Kota kecil yang memiliki atmosfer berbeda dari kota-kota lainnya yang ada di Republik Rakyat Tiongkok. Macao atau Macau tempat dimana kita dapat menemukan budaya tradisional Tiongkok sambil menikmati bangunan Portugis yang eksotis.

Lima tahun yang lalu saat saya berkunjung ke Macao masih belum begitu ramai, namun sekarang dunia pariwisata yang tak sekedar mengandalkan judi kasino yang telah dikenal. Macao layaknya cerminan kehidupan urban dengan kota yang indah, jalan-jalan yang bersih, taman dan pemandangan perbukitan yang indah. Sinar matahari, udara bersih, lahan hijau dan segala macam makanan lezat semuanya berkontribusi pada banyak atraksinya.

ROMANSA KOTA SEJARAH

Sebagian besar masyarakat lokal tinggal di Macao Peninsula di mana kita dapat menemukan berbagai tempat budaya dan sejarah Asia dan Barat yang menarik dan segala macam bangunan tua. Selain itu, Macao Peninsula terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga jembatan jalan. Beberapa resort hotel besar internasional terletak di tanah reklamasi antara Taipa dan Coloane di distrik baru yang dikenal sebagai Cotai.

Perpaduan antara orang, budaya dan sejarah berpengaruh pada setiap aspek kehidupan di Macao. Aroma wangi eggtart portugues menyeruak masuk ke hidung. Bekas panggang yang begitu menggoda untuk disantap. Kue khas Portugis ini paling gampang ditemukan saat berkelana melewati lorong-lorong jalan. Macao terpilih dari UNESCO sebagai Creativity City of Gastronomy tentunya membuat nama Macao makin dilirik karena memiliki ragam kuliner yang wajib dicoba.

Menyusuri jalan setapak masih menyisakan jejak artistektur Portugis ditiap sudut. Saya sengaja keluar pukul enam pagi dari Hotel Sun-Sun yang tak jauh dari Senado Square untuk mendapatkan momen pagi di sekitar reruntuhan gereja St. Paul. Dalam perjalanan menuju alun-alun Macao, lensa kamera saya terhenti pada sudut lorong yang kontras berbaris bangunan-bangunan peninggalan Portugis dengan lampu jalan berjejer rapi.

KERAMAIAN SENADO SQUARE

Senado Square memiliki daya magis kuat untuk dikunjungi baik pagi maupun malam hari. Diselimuti oleh bangunan khas Portugis, saat menyusuri lorong-lorong di bagian kota tua Macao. Saya jadi membayangkan bagaimana sibuknya orang Macao dan Portugis saat dulu aktifitas di Museu do Macao, Mount Fortress, St Dominic’s Church, dan The General Post Office Building.

Pedestrian jalan Senado Square sangat nyaman untuk berjalan kaki, saya melihat kekontrasan antara gedung-gedung tinggi nan megah bersanding dengan apartemen bertingkat.

Senado Square atau Largo do Senado dipenuhi dengan bangunan bergaya kolonial. Bagi kalian yang ingin memanjakan mata tentu akan puas untuk berbelanja di tiap pertokoan. Kalian dapat dengan mudah menemukan toko pakaian, jajanan ringan hingga elektronik dengan mudah di tempat ini.

Pada tengah alun-alun, terdapat air mancur yang akan menyala pada malam hari. Latar air mancur ini sering dimanfaatkan oleh orang untuk berfoto, sesekali saya melihat pasangan muda berfoto menggunakan bantuan tripod untuk mengabadikan perjalanan mereka. Pada bagian kiri air mancur, terdapat sebuah gereja kathedral yang mana terselip sebuah kafe yang ramai dikunjungi hingga larut malam untuk sekedar minum bir atau kopi bersama teman-teman.

PUING ST. PAUL

Berada tak jauh dari Senado Square, saya mengajak Zul dan Dewi untuk mempercepat langkah kaki menuju ke sebuah reruntuhan gereja. Kita harus sampai lebih pagi sebab kawasan reruntuhan gereja St. Paul sekarang ramai dengan wisatawan yang ingin berfoto. Dari pengalaman saya, untuk mendapatkan foto latar reruntuhan gereja St. Paul waktu terbaik adalah pagi jam 6 dan malam jam 9.

Dari arah sebelah kanan reruntuhan mengarah ke sebuah benteng, saya melihat para lansia yang semangat berolahraga pagi dan senam Tai Chi. Macao seolah lambang kemakmuran dan kedamaian bagi para orangtua yang mendambakan revitalisasi hidup yang terjamin di masa tua. Sedangkan, pada malam hari kita akan mendapatkan suasana yang lebih tenang dengan pasangan muda-mudi yang duduk diselasar tangga reruntuhan.

Walau ini bukan kali pertama saya melihat reruntuhan gereja hanya bersisa tembok besar, tetapi selalu membuat saya kagum dengan landmark kota ini. Histori bangunan gereja dibangun pada tahun 1580, lalu mengalami kebakaran pada tahun 1595 dan 1601 kemudian dilakukan rekonstruksi. Namun, angin topan melanda kota Macao tahun 1835 kemudian terbakar kembali hingga lenyap sudah sejarah gereja terbesar di Macao.

Tengah menikmati pemandangan sejuta dolar di reruntuhan gereja St. Paul, saya didatangi sepasang kekasih yang meminta bantuan saya untuk memfoto mereka dengan latar bangunan gereja. Tentu saja dengan senang hati saya mengabadikan kisah romansa mereka.

MEMANDANG MACAO DARI ATAS

Langkah kaki saya menuntun ke Benteng Monte yang menjulang tinggi. Sambil menunggu Christo dari hotel menghampiri saya dan Dewi yang duduk di pelataran taman dekat reruntuhan gereja. Saya larut mengamati para lansia melakukan gerakan senam, kilau sinar matahari memantul dari Grand Lisboa, salah satu kasino besar di pusat Macao. Ternyata Zul sudah mendahului kami berada di atas benteng dan memanggil kami dari atas untuk menunjukkan hal yang menarik dari puncak benteng.

Ada beberapa meriam peninggalan Portugis yang kini menjadi daya tarik wisatawan. Ternyata wilayah benteng berada satu lokasi dengan museum terbesar di Macao. Museum Macao terletak di Benteng Monte di jantung kota dan tempat orang Portugis pertama kali menginjakkan kaki.

Seorang perempuan berkulit sawo matang sedang memapah tuannya, seorang lansia duduk di dekat pintu masuk benteng. Dia melemparkan senyum pada saya, tanda ramahnya sesama orang Indonesia berjumpa di negara orang.

Melangkah kaki masuk ke dalam Benteng Monte, kita akan disambut sebuah bangunan megah berarsitektur Eropa pada saat menaiki tanjakan lantai. Museum Macao suasana Eropa yang rindang dengan perpohonan hijau dan kicauan burung gereja. Halaman museum sangat luas dengan kolam di sampingnya. Derap langkah kaki saya berjalan-jalan di dinding Benteng Monte, di mana orang bisa melihat ke seluruh kota.

MENCARI MAKANAN HALAL RASA INDONESIA

Saya tidak pernah mengira bisa menginjakkan kaki ke kota yang tengah dalam pembangunan kota dan akan lebih indah lagi 10 tahun mendatang. Macao seperti perpaduan kota bersejarah kelas dunia dan teknologi serta pengetahuan yang akan memanjakan kita. Sistem transportasi yang sudah sangat mendukung, kita bisa memanfaatkan bus antar hotel yang telah disediakan. Gratis.

Malamnya, saya dan Zul bersepakatan mencari tempat makan halal di sekitar Senado Square sesuai informasi dari internet. Saat sedang berjalan, saya mendengar ada dua wanita muda berbicara dengan bahasa jawa kental.

“Indonesia!” seru saya pada Zul. Zul sepertinya menangkap maksud saya untuk meminta tolong pada mereka. Saya langsung berlari mengejar dua wanita tersebut yang sudah berjalan mendahului kami.

“Mbak, saya numpang tanya dong tempat makan halal di dekat sini,” seru saya pada dua wanita tersebut. Kami saling berkenalan satu sama lain, Maria dan Susan ternyata sudah lama bekerja di Macao.

Spontan dari mulut Maria merekomendasikan nama Rasa Sayang yang terletak di jalan San Ma Lo. Nama tempat makan ini menurut mereka memang agak mahal tapi porsi dan rasanya lebih enak dari dua rumah makan lain yang tidak jauh dari Rasa Sayang. Atas rasa saudara nasionalisme, mereka menuntun kami ke rumah makan halal tersebut. Memasuki lorong tersembunyi, kami menemukan plang nama Rasa Sayang. Tidak terlalu luas isi dalamnya tapi dari nama-nama menu yang mereka jual sudah sangat familiar di mata.

“Permisi…” seru kami dari luar. Ternyata ada dua orang Indonesia yang sedang menikmati streaming Via Vallen dari layar tv lebar. Deretan gambar menu mulai dari baso, ayam penyet, sate ayam, rawon hingga jengkol menjadi menu ampuh untuk membuat orang rindu akan Indonesia. Hal yang membuat saya kagum, beberapa bahan baku yang sulit mereka temukan di Macao mereka buat sendiri seperti tempe. Bagaimana di negara orang kita bisa menemukan tempe?

Dibalik germelap lampu warna-warni dan kehidupan malamnya, Macao bagaikan negara yang ramah untuk dikunjungi tanpa menguras isi tabungan kita serta tidak perlu membutuhkan visa.

TIPS BERKUNJUNG KE MACAO

Merupakan bagian dari wilayah Republik Rakyat Tiongkok sebagai Daerah Administratif Khusus Makao, kota ini sempat berada di bawah pendudukan Portugis. Kini, Macao ramah dan nyaman untuk dikunjungi. Selain masih menyimpan peninggalan arsitektur kota yang khas, akses selama di Macao juga mudah bagi wisatawan yang berkunjung.

  • Bagi pemegang paspor Indonesia, Anda bebas visa berkunjung ke Macao selama 30 hari lamanya.
  • Mata uang Macao adalah Macao Pataca (MOP), namun Anda dapat menggunakan mata uang Hong Kong Dollar (HKD). Hanya saja mata uang Macao Pataca tidak dapat digunakan saat Anda melanjutkan jalan-jalan ke Hong Kong.
  • Transportasi di Macao bisa menggunakan shuttle bus gratis dari hotel-hotel mewah.
  • Anda juga bisa menggunakan bus dengan pembayaran menggunakan uang pas atau kartu.
  • Bahasa yang digunakan adalah Kanton, Mandarin, Inggris dan Portugis. Apabila Anda kesulitan menemukan jalan, dapat meminta bantuan dengan memberikan petunjuk gambar atau peta.
  • Ingin mendapatkan foto terbaik di reruntuhan St. Paul datanglah pada pukul 6 pagi atau 9 malam.

WHERE TO EAT HALAL FOOD

  • Loulan Islam Restaurant : do Teatro, Macau, China. Phone +85328530264
  • Rasa Sayang : San Ma Lo (Mbak Fia, phone +85328923047)

WHERE TO STAY

Best Western Sun Sun Hotel.

Hotel Sun Sun, terletak di Ponte e Horta, menawarkan tempat yang unik dimana kita dapat bersantai dan menikmati waktu senggang di kota yang ramai. Lokasinya cukup strategis karena dekat dengan halte bus dan berjalan kaki ke Senado Square sekitar 10 menit.

Alamat hotel : No. 14 E 16, Praca Ponte E Horta, Macau

Iklan

25 pemikiran pada “Labirin Rasa Macao (Xpress Air Inflight Magazine March 2018)

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.