Cintai musuhmu, kasihilah dia seperti dirimu


Dalam suatu situasi, terkadang saya merasa jengkel sejengkel-jengkelnya dengan orang lain. Dan efek sampingnya ya kadang perlu diluapin sama orang lain mengenai kenapa kita bisa jengkel dengan orang tersebut. Namun, suatu ketika saat kejengkelan itu telah memudar secara sadar kita balik lagi ke orang itu dan menyadari kalau kita butuh bantuan orang yang pernah membuat kita jengkel.

Saya mengalami hal ini untuk kedua kalinya dengan dua orang yang berbeda. Teman-teman saya yang pernah saya ceritain tentang kejengkelan saya itu jadi heran dan bilang saya inkonsisten. Kenapa? Waktu itu bilang benci dan kesel, sekarang saya malahan berbalik arah buat cari mereka buat minta tolong. Lucu? aneh?

Seberapapun saya kasih alasan, tetep saja saya yang salah. Begitukan? Saya mau kasih alasan kalau nggaklah baik kalau bermusuhan. Ada orang bilang, bermusuhan cukup 24 jam saja, besok sudah baikkan lagi. Atau kata agama bilang janganlah saling memusuhi tetapi kasihilah musuhmu. Tapi tetep jadi pertanyaan, apakah saya salah? iya, saya akui saya salah atas ‘inkonsisten’ akan hal ini. Namun, saya inget kalau hidup ini nggak bisa sendirian, mau nggak mau, suka nggak suka, kita akan butuh orang lain, termasuk musuh sekalipun.

Satu pemikiran pada “Cintai musuhmu, kasihilah dia seperti dirimu

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s