Pernah dicap nggak punya etika saat foto makanan. Alat foto hanya kamera ponsel. Bahkan teman pun bilang hasrat menyantap makanan seketika hilang. Lalu, pasang muka jutek kalau tahu makanan mereka sudah dingin.

Sekarang? syukurlah teman-teman saya langsung menyodorkan makanan mereka untuk difoto hahahaha.

Bergelut di industri kuliner dan traveling, bagi saya satu kesempatan bertemu dengan orang-orang baru yang ahli di bidangnya. Bagi saya di atas langit masih ada langit. Saya banyak belajar dari mereka termasuk etika foto makanan. Kadang pemilik restoran hanya senyum mengandung sejuta makna. Tapi kita tidak tahu kalau dibalik senyum ternyata mereka akan menandai mana yang asyik buat diajak kolaborasi kembali dan mana yang tidak.

Asyiknya kalau ketemu tempat makan yang mengizinkan kita untuk memotret. Kalau cerita dari teman, ada juga restoran yang melarang tamunya untuk memotret makanan di dalam restoran. Alasannya agar tidak mengganggu pengunjung lain yang sedang makan karena “berisik” memotret.

Poin di bawah ini yang saya catat dan terapkan mengenai etika foto makanan, boleh kalian contoh atau tambahkan sesuai pengalaman kalian ya :

1. Heboh saat motret

Bagi penggemar foto makanan, melihat tata letak makanan yang cantik. Apalagi kalau suasana interior restoran juga mendukung seperti menemukan surganya sendiri.

Andai datang seorang diri tentu tidak terlalu berisik dan mengganggu kenyamanan tamu lain. Cuma kalau kalian datang bergerombol, suara yang ditimbulkan bisa saja mengganggu ketenangan tamu yang ingin menikmati makan. Walau pengalaman saya masih suara yang batas wajar.

Sehingga ada baiknya ketika ingin memotret makanan perhatikan suasana restoran terlebih dahulu. Agar tujuannya adalah menikmati proses foto makanan tampak cantik, bukan grasak grusuk.

2. Minta izin terlebih dahulu

Saya biasanya datang seorang diri ke restoran karena memang tujuan ingin makan. Datang, pesan makanan, cicip dan bayar sendiri. Foto makanan bisa sebagai hobi dan sekarang menjadi komersil untuk kebutuhan secara profesional. Kalau datang dengan tujuan promosi tentu akan beda lagi. Karena saya dibayar secara profesional untuk memotret.

Biasanya saya minta izin terlebih dahulu sama pemilik restoran, kalau tahu dan ketemu. Ini kondisinya kalau misalnya saya lagi mau memotret proses pembuatan makanan. Situasi akan berbeda. Jika memungkinkan untuk foto maka saya keluarkan kamera, jika tidak saya pakai kamera ponsel saja untuk dokumentasi. Kamera ponsel sekarang kualitasnya gila abis.

3. Hindari pakai flash

Penggunaan flash tidak salah asal digunakan. Tapi dilihat sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk kebutuhan komersil. Tetapi kalau kebutuhan sebatas review makanan saja, saya rasa flash tidak terlalu dibutuhkan.

Kilat flash bisa saja mengganggu tamu lain, apalagi kalau salah tembak arah. Mata saya kadang tidak sengaja kena tembakan flash yang membuat pandangan jadi kabur. Rasanya tidak enak sekali.

foto makanan - 6 Etika Dasar Memotret Makanan Bagi Foodies
Foto makanan bisa pakai lampu senter ponsel

Solusinya kalian bisa memotret makanan di tempat yang punya cahaya lebih banyak dekat jendela. Hindari foto makanan saat malam hari. Jika memang diperlukan pakai lampu, manfaatkan lampu senter dari ponsel.

4. Jangan berisik

Kalau kamera mirrorless atau DSLR yang kalian gunakan punya setelan mematikan suara shutter kamera saat memotret, maka pakailah. Kalau tidak bisa dimatikan, kalian tidak perlu foto sampai berkali-kali apalagi objek foto makanan tidak bergerak dan arah cahaya juga tidak berubah. Terakhir, kalian juga bisa memotret menggunakan kamera ponsel.

Toh, yang akan kalian upload foto hanya satu saja?

5. Mengubah tata letak makanan

Belajar untuk menghargai chef yang memasak dan sekaligus menata makanan untuk disajikan ke tamu. Sering kali sebagai food enthusiast kita seperti lebih ahli daripada chef. Saya sendiri menghindari untuk memotret dan mengubah stylish dari yang sudah dibuat. Tujuannya adalah agar ekspektasi orang yang melihat maka akan sama dengan ketika mereka datang sendiri untuk makan.

6. Hindari naik kursi jika tidak diperlukan

Banyak angle foto yang bisa kita ulik untuk mendapatkan foto bagus. Kadang kita butuh untuk naik kursi ke atas dengan tujuan untuk mendapatkan frame foto lebih luas. Namun, lensa kamera kita tidak mendukung maka kita naik kursi.

Sebagai saran, ketika ingin naik ke atas kursi cobalah untuk melepas alas kaki yang dipakai. Jika kalian merasa saat melepas sepatu akan mengeluarkan aroma tidak sedap maka jangan lakukan, cari sudut pengambilan foto lain. Alasan ini karena ketika kalian di dalam restoran dan menginjak kursi, maka bisa dilihat oleh tamu lainnya. Syukur kalau tamunya paham, kalau mereka anggap kalian norak?

naik kursi - 6 Etika Dasar Memotret Makanan Bagi Foodies
Kalau bisa hindari naik kursi tanpa lepas alas kaki

Dalam kondisi tertentu saya juga pernah naik ke atas kursi jika memang makanan yang akan difoto dalam porsi yang banyak. Itu juga sudah meminta izin sama pemilik restoran dan membersihkan kembali kursi. Solusi yang paling ampuh adalah menggunakan lensa ukuran lebar.

Masih banyak etika dalam foto makanan yang tidak tertulis. Namun secara umum poin-poin yang saya ceritakan ini adalah hal mendasar. Semoga bermanfaat.

***

Follow @deddyhuang for latest update:

INSTAGRAM | TWITTER | FACEBOOK | YOUTUBE

Do not forget to subscribe/follow my blog to get updates on your email about new post.

Disclosure: This is just my personal experience. Thanks as always for your support!

6 comments

  1. Jujur aja kalo aku masih amatir dalam hal foto-foto ko, jadi kadang asal cekrak cekrek sebanyak mungkin, terus tinggal pilih deh yg mana paling bagus, hahaa..

    Dan karena aku belum punya kamera dslr, jd moto masih pake kamera hp, aku pasti matiin bunyi “cekrek” nya karena biar orang gak tau, hehee…

    Tapi setelah membaca ini, aku jadi dapet ilmu deh, makasih ya ko deddy…

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: