Kacung atau Majikan?

Waktu di angkot mau ke kantor, saya sama Melfa ngobrol singkat. Topiknya tentang PKL (Praktek Kerja Lapangan), ya mengingat aktivitas saya padat untuk 3 sampai 4 bulan ke depan. Saya kepikiran bagaimana saya dapat mengatur jadwal kuliah saya dengan jadwal ngajar saya yang juga padat dari senin sampai jumat? Akhirnya, Melfa ngomong kalau dia mau berhenti mengajar di tempat bimbel SD. Tapi dia nggak tahu apakah bosnya akan ngizinin dia buat berhenti. Karena sebagian pengajar di bimbel itu didominasi sama teman-teman saya yang juga ambil PKL. Ya otomatis bakalan banyak yang berhenti dan tambah buat si bos yang kata mereka tuh cerewet banget.

BACA JUGA :  Shan

Ada kaitannya dengan topik yang saya tulis. Bahwa kebawelan dan kecerewetan seorang pemimpin dapat berdampak turunnya kinerja dari karyawan. Bayangin aja, kalau bos tadi sudah kehilangan baby sitternya, kemudian pembantu rumah tangga dan sekarang secara mendadak dia harus kehilangan pengajar bimbel karena alasan PKL dan terakhir cerewet dan bawelnya si bos.

Ah.. jadi pegawai/kacung aja susah apalagi bos..

Advertisements
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

2 thoughts on “Kacung atau Majikan?

  1. si bos juga tadinya karyawan kan, seorang karyawan yg baik harus menjalankan perintah bosnya dengan baik pula, jadi bos susah juga coz hrs mikirin nasib para karyawannya..

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.