BerandaBlogrollEmosi itu seperti PUP

Emosi itu seperti PUP

Author

Date

Category

Suatu pagi saya baca status facebook teman saya. Dia sedang kesal sampai memuncak, lalu saya tanyain ke dia ada apa. Siapa tahu dengan curhat dia tambah lega. Maka ceritalah kalau dia sedang kesal sama teman dia. Temannya meminta bantuan untuk mengolah data, tapi setelah teman saya bantu dengan ikhlas, eh si peminta bantuan ini justru cuek dan malahan ada teman lain yang mencuri hipotesa yang telah dibuat oleh teman saya. Saya bisa pahami perasaannya. Kalau saya diposisi dia juga bakalan kesal karena menahan emosi.

Manusia normal mana yang tidak pernah merasakan emosi?

Emosi ibarat saat kita mencoba menahan hasrat untuk BAB (buang air besar). Saat rasa itu bisa ditahan, maka kita bakalan mencoba untuk menahan. Bahkan ada yang bilang pegang batu kecil untuk menahan bab atau loncat-loncat, merasakan ketegangan maka rasa itu akan segera hilang. Sama juga dengan emosi, kita coba untuk terus bersabar dan bersabar. Tapi kalau rasa itu sudah gak bisa ditahan lagi, maka segeralah kita mencari tempat untuk membuang ‘hal’ itu. Tentunya lega dong kalau sudah dibuang?

Samalah kayak emosi, saya setuju emosi itu ada batasnya. Walau ada yang bilang untuk terus bersabar, tapi saya manusia biasa yang tidak sempurna dari tingkah laku saya. Temanku itu tentu juga merasa hal yang sama. Namun, dari situ dia memilih untuk meninggalkan orang seperti itu. Dalam artian buat apa kita berlama-lama sama orang seperti itu, buang energi saja.

Jadi intinya, saat kamu sudah tidak dapat menahan emosi jawabannya carilah ‘tempat’ untuk melegakan perasaan itu.

Deddy Huanghttp://deddyhuang.com
Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Artikulli paraprakHaha Selama di Jakarta
Artikulli tjetërFaithfull in Small Things

15 KOMENTAR

  1. tapi emosi yang “diledakan” secara mendadak juga efek psikologisnya sama buruknya dengan menahan emosi loh. JAdi solusi terbaik adalah dengan melepasnya secara perlahan dan tidak terburu, sampai kita berada ditahap yang paling stabil.

    Hmmmmm…ternyata memang mirip bener dengan BAB yah

  2. Beda dong, Mas Huang… 😀
    Kalo pup, setelah dibuang kita merasa lega.
    Kalo amarah, rasanya setelah dibuang hati kita gak terlalu “lega”…. 😀

  3. emosi sebenarnya ga akan pernah hilang jika belum disalurkan, jadi benar sekali kalo seseorang yg sedang emosi dianjurkan untuk mencari pelampiasan, tentunya dg cara yg baik

  4. sesekali, mengumpat di media jejaring sosial seperti Facebook mungkin masih wajar. Tapi kalau Facebook lebih banyak digunakan hanya untuk mengumpat, sepertinya kurang bijaksana ya.

  5. dulu d gunung demi menghindari ‘kualat’ kita nahan buang air pake batu Huang
    jadi…kalo emosi lempar … eh, pegang batu aja kali yak? qwkwkwkwk

    Huang : Iya lah lempar batu sembunyi tangan. Hahaha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Deddy Huang

As a digital creator, this blog discusses topics related to traveling, culinary, product reviews and digital marketing. The articles on this blog provide many tips and recommendations based on personal experience.

This blog also opens up opportunities for collaboration. Contact me at [email protected]

Artikel Populer

Komentar Terbaru