Emosi itu seperti PUP


Suatu pagi saya baca status facebook teman saya. Dia sedang kesal sampai memuncak, lalu saya tanyain ke dia ada apa. Siapa tahu dengan curhat dia tambah lega. Maka ceritalah kalau dia sedang kesal sama teman dia. Temannya meminta bantuan untuk mengolah data, tapi setelah teman saya bantu dengan ikhlas, eh si peminta bantuan ini justru cuek dan malahan ada teman lain yang mencuri hipotesa yang telah dibuat oleh teman saya. Saya bisa pahami perasaannya. Kalau saya diposisi dia juga bakalan kesal karena menahan emosi.

Manusia normal mana yang tidak pernah merasakan emosi?

Emosi ibarat saat kita mencoba menahan hasrat untuk BAB (buang air besar). Saat rasa itu bisa ditahan, maka kita bakalan mencoba untuk menahan. Bahkan ada yang bilang pegang batu kecil untuk menahan bab atau loncat-loncat, merasakan ketegangan maka rasa itu akan segera hilang. Sama juga dengan emosi, kita coba untuk terus bersabar dan bersabar. Tapi kalau rasa itu sudah gak bisa ditahan lagi, maka segeralah kita mencari tempat untuk membuang ‘hal’ itu. Tentunya lega dong kalau sudah dibuang?

Samalah kayak emosi, saya setuju emosi itu ada batasnya. Walau ada yang bilang untuk terus bersabar, tapi saya manusia biasa yang tidak sempurna dari tingkah laku saya. Temanku itu tentu juga merasa hal yang sama. Namun, dari situ dia memilih untuk meninggalkan orang seperti itu. Dalam artian buat apa kita berlama-lama sama orang seperti itu, buang energi saja.

Jadi intinya, saat kamu sudah tidak dapat menahan emosi jawabannya carilah ‘tempat’ untuk melegakan perasaan itu.

Iklan