Kontemplasi: Bagian Tiga

Mampukah kita untuk mengampuni orangtua kita, bilamana mereka melakukan hal yang membuat kita malu? Seringkali terbesit (sewaktu emosi tinggi) kalau sebagai anak nggak mau mengakui kalau mereka itu orangtua. Atas dasar malu atas perbuatan mereka yang menyebabkan diri si anak dikucilkan.

Whatever will be… will be…

Kontemplasi saya semalam begitu membaca suatu artikel yang berkaitan dengan topik yang saya posting. Apapun tindakan yang telah orangtua perbuat dengan kita, terlebih yang menyebabkan luka batin dalam diri, tentunya kondisi ini akan sulit sekali. Aroganisme orangtua yang saban hari kesal dengan anak maka akan dilampiaskan terhadap anak, entah itu secara psikis atau fisik.

Background keluarga saya mungkin sekilas kurang harmonis, baik saya dengan mama atau saya dengan kakakpun jarang untuk berbicara. Jadi, pernah suatu ketika saya bicara tentang A, namun kakak saya menanggapinya dengan omongan B (salah paham), menurut saya harusnya hal ini tidak akan terjadi kalau kami punya hubungan komunikasi yang baik.

Apapun yang orang lain perbuat terhadap kita, maka balaslah dengan kasih. Coba kita tanya sama diri kita masing-masing, setiap kali kita bertengkar dengan orangtua, ataupun kita pernah membentak mereka. Apakah orangtua kita (khususnya mama) akan membenci kita? Kalau boleh saya jawab, SAMA SEKALI TIDAK! Kenapa, baik dan buruk kita sebagai seorang anak dapat diterima oleh orangtua karena kita adalah anak mereka. Tapi sebaliknya? Kenapa kita merasa malu untuk mengakui baik dan buruk, khususnya kelakuan dari orangtua kita? Sadis sekali cara kita untuk menyakiti hati orangtua.

Saya selalu mengingatin diri saya sendiri, kalau ini semua bukanlah coretan tangan dari orangtua sendiri, tapi bisa jadi setengahnya atau sepertiganya adalah anak sendiri yang membuat coretan itu. Mereka yang mendidik anaknya secara kuno atau menurut zamannya, hal ini tentunya akan bertolak belakang dengan anak yang hidup pada zaman sekarang. Orang yang dididik untuk patuh sama orang tua, maka waktu orangtua ngomong A maka si anak akan langsung nurut. Tapi kalau sekarang? setidaknya gambaran yang tercetak muka anak akan cemberut dan ngambek.

Saya menulis ini bukanlah untuk menyatakan saya seorang yang suci, dan tidak pernah berbuat dosa dengan mama saya. Bahkan kalau boleh dikatakan saya itu durhaka, saya belum mampu mengontrol diri saya sewaktu berbicara dengan mama saya. Andai kalau bisa, mungkin saya lebih milih saya yang dipanggilNya dulu daripada mama. Namun, kalau saya yang dipanggil olehNya, apa nasib mama saya akan bahagia? Saya rasa TIDAK.

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1725

3 tanggapan pada “Kontemplasi: Bagian Tiga

  1. que sera sera.. whatever will be.. will be… the future not our’s to see… que sera sera… *lha malah nyanyi* hehehehe

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: