Roads in Place

Sama siapa lagi aku harus mengadu?

Langsung sama dia-yang-nggak-boleh-disebutkan-namanya?

Percuma… wong cilik tetep jadi wong cilik.. jadi aku mending menulisnya dalam blog pribadiku, palingan kalau dibaca sama dia-yang-nggak-boleh-disebutkan-namanya yasuds… berarti udah terwakilin apa yang mau aku utarain.

* * *

Pelan tapi pasti teman-teman yang senior udah pada keluar, sisa saya dan beberapa yang lain. Masing-masing punya alasan sendiri kenapa keluar, satu yang pasti ingin peningkatan yang lebih baik. Hingga buat aku untuk berpikir hal yang sama dan sayangnya belum ada peluang untuk aku :(.

Aku hanya berpikir kenapa dia-yang-nggak-boleh-disebutkan-namanya itu nggak memerhatikan kami sebagai ujung tombak dari ‘bisnis’ yang dia tawarkan? Ini pendidikan bisnis atau bisnis pendidikan kah? Mementingkan kuantitas daripada kualitas. Mencari bibit-bibit baru yang upahnya lebih murah dan belum tentu kualitasnya terjamin daripada kami yang udah lama mengabdi tapi upah yang diperoleh setara dengan bibit muda itu? Bukanlah iri, karena aku pribadi sangat senang kalau ada bibit baru, tapi ini soal miris hati saja.

Bangga jadi bagian dari perusahaan yang didirikan sama dia-yang-nggak-boleh-disebutkan-namanya. Tapi bebannya berat cong! Setiap kali ditanyain: wuihh.. gede dong gajinya! Hah? Gaji? Yang ada dia-yang-nggak-boleh-disebutkan-namanya itu sebut sebagai UPAH bukan GAJI! Kalau udah gede, aku udah bisa mapan! dan nggak perlu lagi minta duit tambahan dari mama.

Belum lagi regulasi yang bikin aku jenuh dan itu cuma sepihak. Saat regulasi itu diturunkan, ternyata kami nggak bisa menolak. Percuma, toh aspirasi dibuang ke tong sampah kalau udah penuh. Selalu dijawab, di uji coba dulu. Sinting emang lu kate kelinci percobaan apa? Kalau nggak cocok terus diganti, ibaratnya semakin banyak diganti itu mencerminkan bobroknya manajemen di dalam perusahaan itu. Betul bukan? *Ahh dasar geje!*

p.s : Dulu aku merasa nyaman dengan situasi di kantor, orang-orang pada kooperatif dan merasa bangga berada di tim yang solid. Tapi sekarang?? Aku udah berada di titik jenuh, titik di mana aku nggak berkembang dan saatnya move on. Hanya ya itu aku belum ada peluang 🙁

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1719

24 tanggapan pada “Roads in Place

  1. Jenuh itu manusiawi,kalau di ikutin ya bisa berantakan,kecuali ada risen yang kuat,untuk meninggalkannya.jadi, harus di pikir 1,2,3 kali lagi bro heheh.Tapi biasanya kalau tekad udah bulat ,Tuhan akan menolong kita,dan mendapakan ganti yang lebih baik.Just biasanya loh,nggak selalu benar.

  2. dah disampein uneg2mu ini ke yang ga boleh disebut apanya tu? Mungkin yang ga boleh disebutin apanya (hihihi namanya yaah….) tu juga perlu masukan d dari kamu ama temen2mu Ded…

  3. sebenarnya aku jadi ingat sama lord vordemort, yang namanya nda bole di sebut sama harry potter, hehehehe

  4. Jenuh itu sangat wajar dalam kerja….take your time to do what you like and hopefully when u get back to work everything will be fresher. Dalam kerja team akan selalu ada yg ‘susah’ untuk disatukan…jadikan tantangan dan kamu akan jadi lebih termotivasi instead of frustasi 🙂

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: