Seberapa ‘lololitas’ kamu?


Kamu merasa sudah loyal sama perusahaan kamu? atau kamu merasa lolo (baca : bodoh) sama perusahaan kamu?

Dalam DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri), salah satu ukuran kinerja karyawannya menyangkut kesetiaan seorang karyawan terhadap perusahaannya. Loyalitas sendiri berasal dari kata dasar “loyal” yang artinya setia atau patuh. Dengan kata lain loyalitas merupakan pilihan seseorang untuk patuh dan setia terhadap peraturan/perusahaan.

Contoh kasus:

R seorang pengajar honorer di suatu lembaga pendidikan. Dengan job desk yang R miliki tentu dia harus melaksanakan tugas utamanya adalah mengajar dan pada akhirnya dia mendapatkan upah intelegensianya sesuai jadwal yang ada. Suatu waktu R diminta untuk mengajar sebuah kelas dengan catatan tanpa dibayar. R ingin menolak namun pihak lembaga akan bilang R tidak loyal sama lembaga. Akhirnya R menerima kelas tersebut atas dasar mengajar adalah ibadah. Apa yang ia lakukan akan dibayar oleh Tuhan.

Menurut hemat saya, tindakan R ini adalah lololitas bukan loyalitas.

Perusahaan

Perusahaan atau stakeholder mendefinisikan loyalitas adalah kesetiaan karyawan terhadap perusahaan. Sehingga celah ini sering dimanfaatkan oleh mereka untuk memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin tanpa memperhatikan kendala karyawan. Benang merahnya yaitu multiple job and single payment.

Kenapa hal ini dilakukan oleh perusahaan? Atas dasar karyawan tidak dapat melakukan tawar menawar yang seimbang dengan perusahaan. Kesan yang diperoleh perusahaan tidak menjadikan karyawan adalah partner melainkan majikan dan pegawai, antara pemberi upah dan peminta upah.

Bagaimana kalau karyawan enggan mengerjakan apa yang diminta perusahaan? Dengan mudah karyawan akan diberi label “karyawan tidak loyal” dan semakin banyak label tertera maka semakin jauh bonus tahunan dari bayangan. Contohnya seperti R tadi yang berada di posisi terjepit, bahwa dengan statusnya sebagai honorer tentu pendapatannya diperoleh dari jumlah pertemuan mengajar.

Pengertian loyalitas semakin bergeser akibat banyaknya persaingan di dalam dunia kerja. Pergeseran arti loyalitas menjadi suatu kepatuhan bawahan terhadap apapun yang diperintahkan atasan. Jika dalam The Secret mengatakan: your wish i my command. Oleh karena itu tidak salah seseorang menerapkan ilmu kodok. Menjadi karyawan yang YES-Man, ABS (Asal Bos Senang), atau lebih tepatnya menjadi karyawan penjilat. Saya mengalami sendiri akibat saya kalah saing dengan seorang rekan kerja oleh karena dia dianggap loyalitasnya yang tinggi. Dia bisa menyenangkan atasannya dengan cara menjilat.

Karyawan

Loyalitas bagi saya adalah suatu kesetiaan terhadap profesi. Perusahaan merupakan tempat beraktivitas, tugas karyawan adalah menjalankan kewajibannya dan mendapatkan haknya sesuai kesepakatan. Kalau ternyata ada kewajiban lain yang harus dilakukan dan diluar kesepakatan, maka kelebihan itu akan dimasukkan sebagai kompensasi/insentif bukan sebagai loyalitas!

Selain itu apa yang membuat seseorang betah untuk bekerja lama di suatu perusahaan? Dalam range 2 – 5 tahun (di luar itu mungkin dia sudah layak dapat jenjang karir), karyawan mendapatkan kenyamanan dan rasa aman saat bekerja. Kenyamanan yang ditimbulkan oleh lingkungannya, kepemimpinan yang bijaksana, aman dengan masa depannya, regulasi yang tidak mengekang karyawan untuk berkreasi. Jika hal ini ada di dalam badan perusahaan maka dengan sendirinya terciptalah loyalitas karyawan.

Kesimpulannya dari dua pandangan ini tentu tidak akan mendapat titik temu. Baik karyawan maupun perusahaan memiliki argumen yang bertentangan. Ada baiknya mencari solusi. Setidaknya saat perusahaan memberikan kewajiban lain di luar kewajiban yang ada, kita bercerita tentang keberatan kita tentunya dengan cara yang elegan. Hindarin juga untuk mencari muka sama atasan. Cara lain, jika kita merasa performa kerja kita memang selama ini kurang, mungkin menerima kewajiban di luar kewajiban yang ada bisa menjadi ganti rugi agar performa kita seimbang di mata atasan.

Saya sendiri lebih menyukai bentuk loyalitas terhadap profesi. Bekerja sesuai kewajiban yang telah disepakatin dan menerima hak yang semestinya.

p.s : Masih lololitas kah kamu?

8 pemikiran pada “Seberapa ‘lololitas’ kamu?

  1. wah susah juga ya. mungkin sebagai karyawan harus berani punya pendirian. anggapan bos ataupun diri sendiri, mau dinggap berdasaran loyalitas, ibadah, atau inisiatif berkontribusi, tidak ada hubungannya dengan usaha yang sedang dilakukan untuk mendapatkan upah. kalo yang biasa bermental bisnis pasti dengan tegas menolak kerugian2 yang tida perlu. bahkan jika itu terjadi di tempat ia bekerja dan menerima upah. itu tandanya atasannya nggak punya jiwa bos yang bener. mungkin karyawannya harus berani ambil resiko kali ya. kalopun dipecat karena nggak nurutin ‘permintaan konyol’ bos, bisa jadi pelajaran buat diri sendiri. dengan begitu kita siap untuk keuntungan yang lebih besar dari kegagalan sebelumnya. ceile. sok motivator. tapi tergantung perusahaannya juga sih, kalo punya nilai untuk dibantu secara sukarela ya kenapa nggak.

  2. Kalau pekerjaan yang ditawarkan masih sesuai dengan Term Of Reference saya kira tidak masalah (dan remunerasi harus sesuai loh yah), kalau sudah mulai kelewatan, saatnya bilang tidak. Terserah perusahaan mau bilang kita tidak loyal atau kagak, iya gak bro?

    Huang : Kalau nggak dapet bonus tahunan gimana mas?

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s