Sudut Istana : Pertemuan yang Mendebarkan (Bagian 1)


Andai menulis itu semudah meng-update status di media sosial, atau menulis itu semudah kita nyinyir ke orang lain. Tentu saya akan lebih banyak melakukan dua kegiatan tersebut. Hikayat menulis layaknya kita bercerita dan berbagi informasi yang positif bagi pembaca. Sebab, pada akhirnya tulisan kita akan menemukan pembacanya sendiri.

Semua ini bermula saat KOMINFO menyapa kami, blogger Palembang sekaligus warganet untuk sarasehan bersama dalam acara flash blogging. Dalam topik sosialisasi hadir juga dari Tim Komunikasi Presiden yang memberikan saya sudut pandang baru tentang sudut istana. Jarang sekali kita di Palembang mendapatkan undangan acara yang bermanfaat sekaligus menjadi ajang silaturahmi.

Diundang Jalan-Jalan ke Sudut Istana

Dulu pernah terbesit saat melintas di depan Istana Negara, kapan bisa masuk ke dalam lingkungan ruang kerjanya presiden? Tiap saya ke Jakarta dan melewati Monas, kharisma gedung putih ini begitu menggoda.

Mungkin ini namanya semesta mendukung, saya dihubungi oleh Tim Komunikasi Presiden yang menggundang saya untuk “ngopi bareng” di Sekretariat Negara. Heh?! Namun, saya tidak berangkat sendiri ke Jakarta, melainkan bersama pemenang lomba Flash Blogging yang diadakan sewaktu acara, yaitu Ainun, Molly dan Putri yang menggantikan Alma sebab kakaknya sedang menantikan hari lahir. Kami berempat serempak mendapat undangan untuk melakukan Focus Discussion Group bersama Tim Komunikasi Presiden.

Kami bertiga berangkat ke Jakarta

Awalnya saya ragu untuk bisa ikut berangkat ke Jakarta, oleh sebab kesehatan mama sedang dalam kondisi kurang prima. Waktu dua minggu lalu saya ke Aceh, di dalam pesawat saat transit kakak saya memberi kabar kalau kondisi mama. Kebayangkan kan suasana hati saya selama traveling di Aceh. Untungnya saya berangkat tidak begitu lama, jadi masih bisa ditinggal sebentar.

Kami berempat berdiskusi dalam sebuah whatsapp group tentang apa yang harus dipersiapkan saat diminta untuk membuat presentasi singkat mengenai “Jokowi di Mata Blogger”.

“Mau bikin presentasi apa nanti?” tanyaku.

“Bingung koh,” masing-masing saling menjawab. Ya, apalagi saya yang notabene-nya memang bukan penggemar topik politik. Akhirnya, kami pun mendapatkan tiket pesawat dan janjian untuk berangkat bersama ke Jakarta.

Putri membawa bingkisan lukisan karikatur dari adiknya, sedangkan saya menitip pempek ke Ainun sebab dia berangkat saat hari acara. Sedangkan kami hari sebelum acara, sehingga kondisi pempek yang dibawa juga lebih segar. Kami bertiga pun berangkat ke Jakarta dengan ditemani ayah Molly dan menginap di Hotel Amaris Juanda.

Ini Rasanya Masuk Kantor Sekretariat Negara

Pemandangan Masjid Istiqlal dari kamar hotel Amaris Juanda

Jumat pagi, dari kamar hotel Amaris Juanda saya melihat pemandangan kubah Masjid Istiqlal yang megah. Lintasan kereta api seolah tak pernah berhenti menghantarkan para kaum urban berangkat kerja. Jujur, saya kurang mendapat tidur yang nyenyak, terlepas dari ruangan kamar yang kurang segar dan pengap. Kualitas tidur saya cuma 3 jam saja sisanya saya tegang oleh karena nanti akan bertandang ke Sekretariat Negara.

Sebelum bertandang ke Sekretariat Negara, saya mengajak lainnya untuk menikmati kuliner es krim tempo dulu di Ragusa. Cita rasa dan suasana tempatnya masih nyaman untuk menikmati semangkok es krim. Beruntung saat itu sedang sholat jumat sehingga suasana tempatnya masih sepi, kalau hari biasa kita bisa saja mengantri panjang. Es krim memang menjadi mood boaster saya sekaligus penghilang rasa gugup.

Dari Ragusa, kami pun beranjak ke Sudut Istana menggunakan taksi online. Tampak sinar mata Molly yang sudah tidak sabar berkunjung ke Istana, dari kursi rodanya dia selalu bertanya apa kita bisa pergi? Padahal saya masih menikmati es krim 4 rasa yang nikmat ini, namun saya memaklumi maksudnya dan bilang kalau tenang kita akan tepat waktu. Boleh jadi, Molly adalah tamu disable pertama yang diundang oleh Tim Komunikasi Presiden.

“Bang, sudah pernah masuk ke istana negara?” tanyaku ke samping.

Sambil menyetir, dia pun membalas pertanyaan saya, “Baru pertama kali. Saya juga deg-degan takut nanti salah masuk.”

Berfoto di depan gedung Sekretariat Negara Jakarta

“Beruntunglah jadi punya kesempatan buat masuk ke dalam istana kan,” tawa kita bersama. Pintu masuk utama ke Sekretariat Negara memang terletak di jalan Veteran, namun dialihkan masuknya melalui jalan Majapahit. Kami sempat ragu, tapi mendapat petunjuk dari plang papan memudahkan kami masuk ke dalam. Mobil kami melaju masuk ke gedung utama Sekretariat Negara setelah melewati petugas penjaga.

Detak Jantung Berdegup Kencang

Suasana di sekitar Sekretariat Negara memang senyap, tak tampak suatu aktivitas. Kami hanya mengikuti tiap petunjuk arah yang akan membawa kami ke gedung utama setelah mendapat informasi dari penjaga.

“Mungkin itu gedung yang dimaksud?” kita mencoba menebak dari dalam mobil. Ainun pun turun sejenak untuk bertanya ke dalam kebetulan sedang ada petugas jaga. Selang tak lama, dia kembali dan tersenyum merekah sesuai khasnya tanda kalau kita sudah sampai.

Larangan selama di lingkungan istana negara

Kami turun dari mobil dan membantu Molly agar dia bisa berpindah ke kursi rodanya. Untunglah, akses untuk disable di Sekretariat Negara sudah memadai sehingga memudahkan Molly untuk bergerak. Seorang berkepala pelontos berpakaian kemeja batik panjang menyambut kedatangan kami kemudian mengiring ke suatu ruangan. Auranya seolah memancar layaknya tuan rumah yang baik. Saat itu, saya merasa seperti irisan timun di dalam cuko pempek. Dia mengenalkan dirinya sebagai Ariasa Supit, salah satu Tim Komunikasi Presiden.

Berpose di meja kerja mantan Presiden RI ke-2

Beberapa kali kami bertanya, “Apa kami boleh izin memotret?” sebab kami tahu kalau kawasan terlarang seperti dalam kantor ini pasti ada bagian yang tidak boleh dipublikasi. Ternyata, kami diberikan kebebasan untuk memotret sembari menunggu kedatangan pak Andoko Darta untuk memulai FGD.

“Kalian sudah dikasih tahu ini ruangan apa?” tanya Pak Andoko sewaktu masuk ke dalam ruangan.

Sebelumnya kami telah mendapatkan informasi dari Mbak Lasmi kalau ruangan tempat kami FGD ini dulunya menjadi ruang kerja Presiden Indonesia ke-2, Soeharto. Kami saling memandang satu sama lain begitu mendengar cerita tentang ruangan tempat kami menunggu. Ah yang bener?

Mendapat lampu hijau dari Mbak Lasmi yang menawarkan kami untuk berfoto di sudut ruangan, kami pun segera mengambil aksi untuk mendapatkan gaya-gaya foto andalan. Ya, setidaknya cara ini dapat mengurangi rasa grogi kami nantinya saat berjumpa dengan pak Andoko.

Apa yang sedang saya pikirkan?

Ruangan pertemuan ini tidak banyak terisi perabotan kerja, hanya ada beberapa tripod dan kamera untuk merekam. Awalnya saya menduga kamera tersebut untuk merekam kami saat FGD, ternyata kamera-kamera yang terletak di beberapa sudut merupakan peralatan untuk channel Youtube Sudut Istana oleh Cak Kardi.

Sayang sekali kami belum berjodoh berjumpa langsung dengan Cak Kardi sebab beliau kembali ke Malang untuk menjaga ibunya. Saya ikut merasakan rasa seperti Cak Kardi sebab saat itu situasi saya pun juga sama.

Kursi sofa empuk seolah tak mampu menahan rasa grogi kami sesaat lagi. Mencoba untuk meneguk air putih agar menghilangkan rasa grogi pun rasanya belum tuntas. Sebab, saya seperti membawa aspirasi-aspirasi dari teman-teman blogger lainnya.

Bersambung ke bagian dua.

Iklan

12 pemikiran pada “Sudut Istana : Pertemuan yang Mendebarkan (Bagian 1)

  1. Wow, Dedi, beruntung banget deh kamu bisa dapat undangan berkunjung ke istana negara. Rasanya pasti wow dan wow dan wow! Congrats, Bro! Nanti meluncur ke postingan lanjutan ah! Thanks for share ya!

  2. Wahhh ruangannya asik hahaha
    Waktu kami dulu, ruangannya beda. Di ruang rapat sekretariat negara.

    Jadi? Gimana kesan-kesannya hihi

    Nunggu part berikutnya ah

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.