Sudut Istana : Harapanku Sebagai Blogger (Bagian 2)


“Mau kopi atau teh,” tawar pak Ariasa dengan senyum menawannya.

“Kopi hitam tanpa gula, pak,” seruku padanya.

Di tengah ruang kami duduk saling berhadapan. Seorang pria dengan kemeja lengan panjangnya duduk dengan laptop yang sudah siap digunakan untuk mencatat apa saja yang akan kami paparkan.

Berjumpa Tim Komunikasi Presiden

Secangkir kopi dari sudut istana

Saat ini kita bisa tahu mulai dari isu, berita hingga cerita tentang pencapaian pemerintah nampak begitu nyata di media sosial. Pastinya ini adalah hasil pekerjaan siang dan malam. Namun terkadang semua berita tersebut seolah tenggelam oleh isu-isu yang sengaja dibuat dan dibentuk oleh saracen dan yang sekelompok dengannya.

Terbentuklah suatu Tim Komunikasi Presiden yang ditunjuk khusus oleh Jokowi. Presiden pada dasarnya memiliki garis kebijakan bahwa informasi kegiatan pemerintah harus terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat. Lewat tim inilah menjadi misi akan adanya komunikasi yang lebih efektif. Maka, Presiden paham dengan apa yang menjadi perhatian publik yang akan menjadi fokus.

Pola komunikasi nantinya dimulai dengan Tim Komunikasi Presiden yang akan berdiskusi dengan Jokowi mengenai isu yang menjadi perhatian masyarakat. Presiden kemudian akan memutuskan bagaimana komunikasi media yang akan dilakukan berdasarkan hasil dari diskusi tersebut. Termasuk apa yang akan kami diskusikan bersama mereka. Diharapkan nantinya akan menjadi “suara” bagi Jokowi.

Sebegitu kah? Entahlah, kan saya tidak tahu dapur belakangnya.

Jokowi untuk Pariwisata Indonesia

Suasana Focussed Group Discussion bersama Tim Komunikasi Presiden

Saya tak ingin menambah ketegangan saat nanti berbicara di depan mereka, maka saya segera berdiri di depan saat Mbak Lasmi bertanya siapa yang ingin memulai. Slide presentasi saya singkat, hanya berisi gambar perjalanan ke Raja Ampat dan Tidore. Dua tempat ini memiliki kesan bagi saya terhadap pariwisata serta harapan saya untuk Jokowi.

Raja Ampat, orang menyebutnya sebagai surga terakhir di Indonesia. Alam bahari bawah laut yang memang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tapi memang kita harus datang ke sana sendiri. Selain biaya yang mahal, tapi akan sebanding dengan pengalaman yang didapatkan selama di Raja Ampat.

Saya ndredeg, gaes.. saya Deddy Huang, blogger aja.

Salah satu faktor yang membuat perjalanan ke Raja Ampat membutuhkan biaya lebih adalah transportasi menuju tempat-tempat yang eksotis seperti Wayag. Total perjalanan menggunakan kapal cepat sekitar 8 jam perjalanan. Waktu itu saya sempat bertanya pada sang kapten kapal. Butuh berapa liter bensin untuk kita pulang pergi dari Mansuar ke Wayag. Dia menjawab sekitar 9 jam perjalanan dengan harga BBM saat itu Rp 13.000/liter. Kalau dihitung sekitar Rp 6.500.000 harga yang harus dibayar untuk bisa melihat puncak Wayag.

Maka, sangat disarankan kalau ingin ke Raja Ampat pergi bersama rombongan agar biaya kapal bisa saling bantu.

Saya lantas ingat apa yang pernah disampaikan saat Tim Komunikasi Presiden memaparkan tentang kesetaraan. Salah satu kesetaraan yang diharapkan adalah harga bagi BBM yang terjangkau/setara dengan kota lainnya. Sehingga kita tidak merasakan kenapa harga di kota A lebih mahal daripada kota B.

Dari Raja Ampat, saya berpindah ke Tidore, pulau kecil bahkan sangat kecil sehingga di peta pun tidak kelihatan di mana itu Tidore. Pulau yang mayoritas umat muslim ini sempat saya rasakan keramahan warga lokal setempat. Hidup yang tenang, tidak ada macet, makanan berlimpah dan enak, serta budaya yang masih ada turun menurun.

Waktu saya bertandang ke Kesultanan Tidore, saya melihat suatu peta wilayah kesultanan tempo dulu. Luas wilayah kekuasaan Tidore akan membuat kita tercengang sebab hampir semua wilayah Indonesia Timur adalah wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua. Bayangkan kalau Tidore tidak memberikan seluruh wilayah kekuasaannya ke Soekarno. Detik ini, tidak akan ada NKRI atau lagu Sabang Merauke.

Saya akhirnya tergerak membuat satu tulisan mengenai agromarine, solusi infrastruktur prioritas Jokowi. Di dalam tulisan tersebut saya menjelaskan beserta data kenapa Tidore perlu dilirik untuk infrastrukturnya selain jasa-jasanya pada masa lampau.

Perlindungan untuk Blogger Indonesia

Saya tidak memiliki pandangan khusus mengenai Jokowi. Sebagi warga sipil, bagi saya selama pemerintah dapat menciptakan iklim politik yang kondusif dan tidak memecah belahkan ke-bhinneka tunggal ika, itu sudah lebih cukup. Walau saya punya hak untuk melepas kewarganegaraan saya, namun tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ya kali kalau negara itu mau nerima saya 😆

Sosok Jokowi boleh dikatakan “presiden zaman now”, dari rezim terdahulu baru ini saya melihat keterbukaan informasi yang memudahkan kita mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana “dapur” pemerintah. Salah satu hal yang membuat saya respek adalah anak-anaknya tidak tersulut dalam dunia politik. Mereka lebih pilih entrepreneur. Kemudian, kalau kalian menonton video saat si istri memberi kode rambut Jokowi yang kurang rapi, tentu itu adalah hal yang epic bagaimana seorang istri tetap memperhatikan penampilan suaminya. Ahh it was so touchy moment.

Mataku kelilipan, cyiin..

Politik tetaplah politik. Siapa yang menang tentu yang kuat di dalamnya. Namun saya tak bisa banyak mengungkapkan sosok Jokowi yang saya tahu selain dua hal yang telah saya sebutkan di atas. Sehingga saya hanya ingin menyampaikan aspirasi saya sebagai blogger sekaligus menjadi aspirasi teman-teman blogger lainnya yaitu kami sebagai blogger butuh payung untuk berlindung sebagai citizen journalism.

Blogger tidak seperti media pers yang bisa berlindung dengan UU Pers. Namun di lapangan kerja blogger boleh dikatakan hampir setara seperti media. Kami juga melakukan peliputan berita, mengambil foto dan video, menulis kembali hingga mencari pembaca kami pun sendiri.

Saya hanya bercermin dari kasus Prita dan Acho. Semoga kalian masih ingat dua kasus ini yang terkena pasal karet dari UU ITE. Saat kita mencoba mengemukakan pendapat kita lewat media blog, bisa jadi itu adalah pilihan saat kita sudah mencoba menyampaikan lewat media lain. Blogger sangat lemah terhadap perlindungan dalam mengemukakan pendapat.

Sejauh ini saya melihat, bagi para blogger yang prihatin dan ikut mendukung pemerintah agar lebih baik, mereka akan lebih banyak menulis opini terkait politik, kebijakan pemerintah, ekonomi, sosial dan sebagainya. Sedangkan para blogger yang isi blog nya lebih ke arah jurnal sehari-hari sepertinya tidak terlalu ambil pusing terhadap permasalahan ini.

Bagi saya seorang travel blogger dan content creator tentunya sangat berdampak pada karya yang saya buat. Bagaimana saat saya berkunjung ke tempat wisata dan melihat pariwisata yang buruk dari segi fasilitas dan pelayanan kemudian menuliskannya di blog? Padahal niat saya menulis adalah untuk ikut membangun pariwisata dari sisi transportasi maupun fasilitas dan blog menjadi media saya ketika saya tidak tahu akan lari ke mana untuk menyampaikannya.

Sudut Pandang Lain

Materi saya berbeda dengan tiga teman saya yang lainnya, misalnya Ainun yang lebih berfokus pada gaya kepemimpinan Jokowi yang lebih gaul dan lebih mendengar aspirasi rakyat. Bagaimana cara Ainun bertutur dengan hati-hati saat menyampaikan pandangan dia mengenai Jokowi. Baru kali ini saya melihat dia gugup hingga tanpa sadar saya telat untuk merekam video saat dia sedang berdiri di depan.

Sedangkan, Putri dengan tutur yang lembut dan terjaga lebih bercerita tentang apa yang ia rasakan mulai dari pembangunan jalan tol Palindra hingga dia pun memberikan kenang-kenangan berupa sketsa wajah Jokowi. Putri dan keluarganya tinggal di daerah Prabumulih yang notabene hanya berjarak 2 jam dari kota Palembang. Namun, kalau sudah berbagi jalan dengan truk batubara bisa saja dari 2 jam perjalanan menjadi 9 jam perjalanan.

Terakhir, Molly yang seorang berkebutuhan khusus dengan gigihnya dibantu oleh sang ayah, dia percaya diri dan membuat seisi ruangan haru melihatnya saat itu. Molly bercerita apa perlakuan seperti apa yang ia rasakan sebagai seorang berkebutuhan khusus. Kesulitan dalam mencari lapangan pekerjaan hingga bantuan akses fasilitas umum untuk penyandang cacat di kursi roda agar lebih diperhatikan.

Ainun, ibu rumah tangga, HR Corporate di salah satu BUMN

Putri, seorang guru

Molly, yang berkebutuhan khusus dan seorang akuntan

Tiga opini dari teman-teman saya ini kalau saya rangkum menjadi aspirasi-aspirasi yang menjadi corong suara bagi pesan teman-teman lainnya yang mungkin saja belum mendapatkan kesempatan seperti kami bisa langsung berjumpa dengan Tim Komunikasi Presiden. Saya pun juga bertanya kepada beberapa teman mengenai kebijakan dan sudut pandang Jokowi.

Kami hanya ingin suasana pemerintahan yang kondusif, masih teringat bagaimana pro dan kontra masing-masing netizen dalam membela mana yang paling benar sehingga Indonesia menjadi sangat mudah untuk diserang dari sisi agama dan paham radikal. Bagaimana kelompok saracen tertawa di belakang layar ketika apa yang mereka sebar menjadi alat untuk menjadi objek permusuhan.

Sebagai blogger yang budiman, tentu saya pun harus menyaring tiap berita yang akan saya sebarkan agar tidak menjadi suatu hoax atau demi mencari popularitas. Saya hanya ingin Jokowi terus melanjutkan nawacita yang telah ia rancang sesuai janjinya. Apa itu nawacita? Kalian bisa membacanya di sini.

Putri menyerahkan karikatur hasil karya adiknya untuk Jokowi ke Pak Andoko Darta

Saya menyerahkan bingkisan pempek ke Pak Ariasa Supit

Sekali lagi saya mengapresiasi Jokowi dalam hal pencitraan yang positif dari sudut pandang media sosial, sebab saya bukanlah ahli dalam politik melainkan ahli dalam media sosial. Itu hanya segelintir yang membuat saya berkata bahwa Indonesia butuh pemimpin bukanlah pimpinan.

Kita, termasuk kalian tentu menginginkan suatu kondisi pemerintahan yang transparan dan barangkali kita pun jenuh dengan drama “bakpao dan tiang listrik” atau sejenisnya.

Asa untuk Tim Komunikasi Presiden

Kita mencoba memahami kondisi kondisi global dan nasional yang memaksa Jokowi untuk memutuskan dalam dilema. Sebab kita tidak dapat membahagiakan semua pihak, seperti pesan titipan dari seorang teman untuk meminta Jokowi pastikan janjinya untuk terus mengejar pengemplang pajak di luar negeri. Apapun caranya juga buat reformas agraria sebenarnya (bukan cuma hutan dan lahan ) tapi juga soal laut harus diteruskan. Tidak menjadi seremonial yang disebar di media sosial.

Kita juga paham bahwa kerja keras teman-teman Tim Komunikasi Presiden di belakang layar melalui berbagai kantor termasuk Kantor Staf Presiden (KSP) juga biro komunikasi sudah bekerja keras untuk itu, terima kasih atas kerja keras itu. Tapi Rakyat Indonesia masih menaruh harapan besar agar segala janji ditunaikan.

Akhirnya, kami hanya mohon mengenai kebebasan bereskpresi, menyampaikan pendapat yang dijamin konstitusi dipertimbangkan, jangan jadikan UU ITE sebagai senjata, bebaskan kawan-kawan yang terjerat oleh pasal karet UU ITE, sebuah negara demokrasi itu harus dibangun oleh kritik.

Isu atau cerita tentang pencapaian pemerintah nampak begitu nyata dan melalui proses panjang. Hasil pekerjaan siang dan malam. Namun kemudian semua itu tenggelam oleh isu-isu yang sengaja dibuat dan dibentuk oleh saracen dan yang sekelompok dengannya.

Melihat Sudut Sekretariat Negara yang Instagramable

Salah satu lukisan di sudut sekretariat negara

Dua jam duduk di dalam ruangan kerja ex presiden RI ke-2 tentunya membuat kami panas dingin. Ketegangan yang timbul karena takut salah berucap atau sikap. Namun syukurlah teman-teman dari Tim Komunikasi Presiden menyambut kami dengan baik. Tentu akan menjadi  momen personal bagi kami saat menjadi undangan oleh Tim Komunikasi Presiden. Sementara itu, kacamata saya lebih memilih mengamati sudut-sudut sekretariat negara yang cukup instagramable untuk berfoto.

Sekali lagi, kami pun bertanya mana saja restricted area yang memungkinkan kami untuk tidak mengambil foto. Ternyata ruangan yang kami lewati masih dalam status “aman”. Sekitar dinding ruangan memang lebih banyak dipenuhi oleh lukisan-lukisan yang menjadi pilihan Cak Kardi. Bagi saya, beliau memiliki selera yang bagus dalam hal seni.

Sudut dinding berisi nama-nama menteri yang pernah menjabat.

Sudut lukisan Jokowi yang menarik perhatian saya.

Sudut istana dari samping. Dan ketiga foto di atas kalau kalian perhatikan, ternyata Ainun itu ekspresif yaa…

Kapan lagi foto dengan latar lambang negara Indonesia

Alhasil kami pun diajak berkeliling sekitar gedung termasuk mengunjungi toko souvenir oleh-oleh agar bisa dibawa pulang ke rumah. Souvenir yang dijual di dalam lingkungan Sekretariat Negara ini memang dikhususkan bagi tamu-tamu yang sedang datang untuk membeli cinderamata mulai dari magnet, pulpen, kaos, dan lainnya. Kami membeli beberapa buah tangan sebelum kembali ke hotel.

Pada akhirnya, pertemuan singkat saya ini menjadi langkah awal saya agar bisa masuk dalam jajaran menteri nantinya *bhuahahaha…* dukung saya ya. Tapi saya berharap kalian bisa mendukung saya agar bisa terbang ke Kerala. Satu suara vote kalian sangat berarti.

Ngeblog? sepanjang kita bisa bersikap dewasa dan bertanggung jawab dalam menulis, saya yakin kita bisa terhindar dari resiko-resiko yang sudah saya sebutkan di atas. Jadi, mari ngeblog dengan dewasa dan bertanggung jawab.

Apa harapan mu bagi Jokowi, gaes?

Iklan

37 pemikiran pada “Sudut Istana : Harapanku Sebagai Blogger (Bagian 2)

  1. Omaigat! Kamu keren sekali, Koh. Aku speechless. Blogger Istana, man!
    Terima kasih udah menyampaikan tentang pentingnya perlindungan/payung hukum bagi blogger, agar tidak seenaknya dijadikan korban pasal-pasal UU ITE dan atau pencemaran nama baik karena kekritisannya di blog maupun media sosial.

  2. Wuaaaa aku kok ketinggalan ya baca ini
    keren Koh deddy, suka banget bacanya
    Pertemuan yang berharga.
    Dan aku merasa terwakili banget dengan apa yang Koh Deddy tulis disini
    Makasi Koh deddy. Sukses terus yaaaaaa

  3. Setuju deh kita butuh pemimpin bukan pimpinan. Tapi yg bikin sy agak keselek itu ini… “Saya deddy huang, Blogger aja”, uhuk, kalo pak master bilang blogger aja, lha yg baru belajaran macam sy ini, apa kabar? Hiks
    Tapi salut deh (jempol jempol jempol)

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.