Nikmatnya Laksa Lao Hoe Petak Sembilan Glodok


Petak Sembilan, Glodok telah menjadi maskot wisata pecinaan. Kawasan yang dihuni oleh orang lokal asli kini sudah berbaur dengan para pendatang. Namun, Glodok masih menyimpan rona tersembunyi bagi kita penikmat kuliner.

Saya, Lis dan Mbak Ayu terjebak satu jam lebih ketika masuk ke kawasan Pancoran Tea House. Bangunan tua yang berada persis di depan pintu masuk kawasan Glodok ini cukup memanjakan mata teruntuk penggemar wisata sejarah. Di dalamnya bukan hanya terdapat pasar tradisional tetapi juga ada beberapa klenteng umat Tri Dharma.

laksa lao hoe

Gang-gang sempit di Petak Sembilan, Glodok

Sebagai bukan orang lokal Jakarta, saya tentunya bingung mencari penjual laksa, selain di mall. Terlintas nama Lis untuk bertanya dimana tempat penjual laksa di Jakarta.

“Ada tuh di Glodok, cuma masuk agak ke dalam tempatnya. Agak-agak tersembunyi gitu,” seru Lis lewat telepon. Untungnya mbak Ayu orang yang asyik untuk diajak pelesiran. Dia segera mengarahkan mobilnya ke arah Gajahmada untuk menjemput Lis.

Siang itu kami secara mendadak berjumpa. Pertemuan singkat kami bermula dari Mbak Ayu yang ingin mencari kuliner Laksa.

Laksa Lao Hoe Glodok

laksa lao hoe

Halaman depan kedai Laksa Lao Hoe

Glodok sudah ramai dengan ornamen imlek. Seperti tidak ada pembeda antara penjual, semua menjual barang yang sama untuk menyambut imlek. Mulai dari baju chongsam, boneka babi yang melambangkan shio tahun 2019, bunga mei hua warna pink dan juga kue-kue kering.

Saya berjalan paling belakang mengikuti Lis dan Mbak Ayu di depan. Sesekali kami juga harus berbagi ruang dengan pengendara lainnya yang menyerobot area pedestrian atau orang lokal lainnya yang sedang berbelanja.

Lis berbelok ke arah kiri, persis seberang gedung bangunan tinggi sebelah Gang Gloria. Sepanjang lorong terlihat banyak penjual tumpah ruah. Saya seperti berjalan dengan orang terkenal, pembawaan Lis yang ramah selalu menyapa orang-orang yang ia jumpai. Inilah yang saya suka ketika berjalan bersama orang lokal, sebab mereka yang paling memahami situasi. Sama seperti saya ketika ada teman berkunjung ke Palembang.

Langkah kaki Lis berhenti di sebuah warung mungil. Dari luar seperti tidak ada lagi bangku kosong untuk kami. Namun, bukan Lis kalau dia tidak bisa melobi pemilik warung. Kami diberikan meja di bagian dalam bersama para orang tua lainnya. Terlihat nama “Lao Hoe” dipasang dalam pintu masuk warung.

Mencicipi Laksa Bogor dan Mie Belitung

laksa lao hoe

Kebanyakan para orang tua yang menjadi tamu.

Hanya ada dua menu yang dijual oleh warung “Lao Hoe”, yaitu Mie Belitung dan Laksa Bogor. Dua menu favorit yang selalu dicari oleh penikmat kuliner. Kami pun segera memesan dua menu tersebut untuk membuktikannya sendiri.

Sekilas mengenai Laksa bisa kita jumpai dari Semenajung Melaya. Misalnya di Singapura maupun Malaysia. Laksa merupakan makanan yang berasal dari akulturasi dengan kearifan kuliner lokal antara kuliner peranakan Tionghoa dan Nusantara. Sehingga ada kemungkinan setiap daerah memiliki resep laksa sendiri. Seperti di Palembang, memiliki laksa dengan bentuk mie dan kuah santan yang kaya. Kuliner ini biasanya menjadi menu sarapan pagi. Namun, ketika mendengar nama Laksa Bogor, justru saya jadi ikut penasaran untuk mencoba. Ternyata kuliner Bogor bukan hanya Toge Goreng atau Asinan Bogor saja.

laksa lao hoe

Anak, menantu dan cucu dari Ci Linda

Proses pembuatan Laksa Bogor dan Mie Belitung tidak lama. Si penjual terlebih dahulu sudah menyiapakan bahan-bahan dalam piring. Nantinya, saat ada pembeli memesan maka tinggal dicelorkan sejenak agar saat dimakan tetap terasa hangat dan enak.

Tungku api yang digunakan dibuat seolah menggunakan kayu bakar. Padahal mereka menggunakan gas. Oleh karena itu bisa menimbulkan sugesti bagaimana lezatnya Laksa Bogor dan Mie Belitung. Nyatanya dua jenis makanan ini memang enak sesuai yang direkomendasikan oleh Lis.

Seporsi laksa disajikan dengan bihun putih, toge, telor, daun kemangi dan daun bawang. Semua bahan bercampur dengan kuah laksa berwarna kuning dan beraroma wangi. Rahasia laksa buatan “Lao Hoe” karena kuah laksa tidak terlalu encer dan memiliki rasa yang segar. Untuk menambah kenikmatan laksa, kita juga bisa menambahkan perasan jeruk nipis dan sambal.

laksa lao hoe

Kuah laksa dan mie belitung yang sudah diracik

laksa lao hoe

Mie Belitung

laksa lao hoe

Laksa Bogor

laksa lao hoe

Gorengan cempedak, pisang, sukun, tape dan lainnya.

Saya juga tergoda untuk mencoba Mie Belitung karena memang belum pernah mencicipi kuliner dari turunan mie ini. Seporsi mie belitung disajikan dengan mie kuning, irisan tahu dan kentang, serta ditambahkan dengan toge. Untuk menambah kesan kriuk juga diberikan kerupuk udang. Sama seperti kuah laksa, untuk kuah mie Belitung juga tidak terlalu kental namun rasa kuah manis.

Bagi kita yang memesan dua menu ini sekaligus tentunya akan sulit memutuskan mana yang enak. Padahal dua makanan ini berbeda bentuk. Saya suka kuah laksa yang gurih dan segar, tapi juga suka mie Belitung.

Sambil menutup makan siang kami, saya memesan gorengan cempedak yang dijual oleh warung “Lao Hoe”. Gorengan sudah menjadi ciri khas Indonesia.

Eksistensi Orangtua Masa Kini

laksa lao hoe

Interior ruang dalam bernuansa klasik

Kami bertemu dengan anak dari pemilik warung “Lao Hoe” saat selesai membayar makanan. Dari anaknya saya baru tahu sejarah dari warung yang sudah berjualan sekitar tahun 1980-an. Saya ikut merasakan bagaimana ketika orangtua masih memiliki semangat untuk tetap beraktivitas agar masa pensiun mereka bisa diisi dengan lebih bermanfaat. Adalah Ci Linda, pemilik dari kedai “Lao Hoe”. Dia bersama suaminya masih giat untuk menyajikan laksa dan mie belitung.

Berada di pemukiman orang Tionghoa, bangunan kedai ini masih terjaga dan membawa suasana peranakan. Laksa Lao Hoe terletak di gang padat di kawasan Petak Sembilan, Glodok. Begitu sampai kita bisa melihat ornamen-ornamen merah dan suasana yang lebih santai. Lantainya menggunakan ubin klasik yang membawa kenangan tempo dulu kepada rumah dan warung khas peranakan. Ditambah lagi dengan foto-foto tua dan meja makan kayu yang sudah berusia. Meski pun terletak di gang, kebersihan di Lao Hoe sangat dijaga.

Anak laki-laki ci Linda bercerita kalau dulunya mereka berjualan di gerobak. Kemudian sempat berhenti karena sibuk mengurus anak hingga mandiri. Terlalu lama vakum membuat pasangan Ci Linda dan suaminya memutuskan untuk kembali berjualan tetapi kali ini sudah dibantu oleh anak dan menantunya. Berbagi rahasia mengenai resep kuah laksa yang enak, ternyata tidak ada rahasia khusus dari cara membuat laksa ini. Kuncinya adalah menggunakan bahan-bahan segar dan racikan yang tepat. Beberapa campuran bumbu yang digunakan mulai dari kunyit, bawang merah, kemiri, sereh, lengkuas dan daun salam. Setiap pagi sebelum berjualan, kuah laksa sudah dipersiapkan sehingga pada saat tamu ingin membeli tinggal dipanaskan kembali.

laksa lao hoe

Berfoto bersama pemilik kedai Laksa Lao Hoe

Warung “Lao Hoe” ini makin dikenal ketika Pak Bondan datang berkunjung dan memberikan stempel Maknyuss. Lao Hoe memiliki makna “lanjut usia”, warung ini seperti nyawa bagi pasangan orangtua ini agar para penikmat kuliner dapat menuntaskan rasa rindu pada Laksa dan Mie Belitung.

Selamat berburu hidden gem kuliner di Petak Sembilan, Glodok ya. Tak ada salahnya masuk ke gang-gang sempit dan padat demi sebuah kelezatan dan kepuasan. Seperti itulah yang kami rasakan siang itu. Terakhir, kedai “Lao Hoe” ini menjual makanan halal.

Laksa Lao Hoe
Jalan Pancoran Nomor 5, RT.10/RW.2, Glodok, Jakarta
Jam buka: 07.00-17.00 kecuali hari Kamis

Iklan

12 pemikiran pada “Nikmatnya Laksa Lao Hoe Petak Sembilan Glodok

  1. Ga heran emang masakan oriental yang halal selalu menggoda, bahkan di Pekanbaru juga sama koh.. nyammm… nengok tu mie belitung sama gorengannya, menggoda sekaliiii sukses bikin kepengen hahaha..

  2. aku tau sih di glodok sana bnyk tempat makan enak. tp memang jrg banget aku eksplor secara banyak yg ga halal juga :(. tp yg ini ga ada babi nya ya mas? susahnya masuk2 ke dlm sih yaa, bagi yg ga tau lokasi pasti puyeng. bagian dlm glodok itu kayak labirin buatku :D.

  3. Kawasan Petak Sembilan itu memang fenomenal. Semoga ciri khas Pecinan nya tidak tergerus oleh pembangunan. Dulu sekali sering main ke sini karena sering beli materi mentah craft di seputaran Asemka. Tapi 10tahun belakangan belum lagi ke daerah Pecinan yang satu ini.

    BTW, itu gorengan cempedak enak Ded? Blom pernah ngerasain cempedak goreng euy.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.