featured

Ngemil Lebih Bijak dan Bahagia Mulai Diri Sendiri


Akhir-akhir ini, saya sering bercermin untuk melihat perubahan fisik karena lebih sering di rumah. Tonjolan perut makin maju ke depan serta lebih melebar ke samping. Ibu saya sampai bilang, “Ngemil aja terus!” seru ibu.

“Loh memang salah kalau ngemil?” jawabku sambil mengambil sisa terakhir biskuit.

Selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saya sudah membatasi keluar rumah, jika tidak mendesak. Semua pekerjaan sudah dialihkan secara tatap temu digital. Termasuk untuk berbelanja kebutuhan makanan seperti cemilan pun memanfaatkan toko online sehingga meminimalkan kontak fisik.

Aktivitas selama di rumah memang lebih menguras energi bukan?

Disadari atau tidak perubahan kegiatan sehari-hari di masa pandemi COVID-19, masyarakat lebih banyak untuk berkegiatan di rumah termasuk bekerja. Perubahan kegiatan sehari-hari yang biasanya banyak dilakukan di luar rumah bergeser dan menjadi tinggal di rumah. Yang berarti juga jadi tidak bisa nongkrong di tempat kopi favorit dengan teman-teman. Gantinya dengan ngemil di rumah sambil bekerja.

PSBB ini membuat Pelebaran Seluruh Bagian Badan. Kebiasaan ngemil bisa dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk faktor psikologis. Dilanda kebosanan selama di rumah, termasuk orang-orang yang diharuskan work from home duduk sepanjang hari depan laptop terbukti lebih banyak ngemil.

Sumber : State of Snacking

Sebuah hasil survey dari Mondelez International tentang studi konsumen bertajuk “The State of Snacking” yang dilakukan di Indonesia dan 11 negara lainnya mengungkapkan bahwa orang Indonesia suka ngemil. Sebuah hasil yang menarik untuk diulik.

Berapa kali dalam sehari kamu ngemil? Rasanya tidak cukup sekali, apalagi kalau kamu suka ngemil lebih dari 3 kali dalam sehari, artinya kamu tidak sendirian.

Dari 6 dari 10 orang dewasa mengungkapkan kalau entah apa jadinya kalau dalam satu hari mereka melewatkan cemilan. Saya bisa jadi salah satu dari 6 orang tersebut. Ngemil memiliki efek yang menenangkan untuk tubuh dan pikiran. Aktivitas selama PSBB di rumah lebih banyak di depan laptop untuk mengikuti kelas webinar untuk belajar ilmu baru, atau kalau saya memotret produk makanan klien.

Sumber : State of Snacking

Dipicu oleh rasa bosan atau kondisi emosi tidak stabil dikarenakan perubahan kebiasaan yang mendadak, tekanan kerja ataupun ketakutan akan pandemi itu sendiri. Akhirnya ngemil adalah jalan keluar untuk meredakan emosi. Orang-orang yang sembarang ngemil seperti ini lebih dikenal dengan sebutan emotional eater.

Saat tekanan emosional hadir, tubuh kita seolah memberikan sinyal yang mirip seperti rasa lapar. Sebenarnya sinyal tersebut hanyalah respon terhadap perasaan yang menjadi pelarian dari emosi negatif. Jika dorongan tersebut terus diikuti, tentu tubuh akan kelebihan asupan dan tentunya akan semakin beresiko jika dilakukan secara berulang. Bisa mengalami pelebaran seluruh bagian badan, apalagi kalau tidak dibarengi olahraga.

Kita saat ini lebih banyak mengkonsumsi camilan daripada makanan berat setiap harinya. 3 dari 4 orang yang mengikuti survei dari Mondelez menyatakan bahwa camilan yang praktis lebih cocok dengan gaya hidup masyarakat saat ini dibandingkan makanan berat. Mengkonsumsi camilan dipilih karena tidak memiliki waktu untuk mengkonsumsi makanan berat. 

Saya sempat bertanya ke beberapa teman mengenai kebiasaan ngemil. Beberapa jawaban mereka ngemil untuk meningkatkan mood dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 

Hal ini berbanding terbalik dengan alasan masyarakat global untuk ngemil. Menurut survei, alasan tertinggi masyarakat global adalah untuk memanjakan atau menghadiahi diri sendiri. Sebanyak 77% responden memilih alasan ini bersama dengan alasan untuk mendapatkan rasa nyaman.

Sumber : State of Snacking

1 dari 5 orang Indonesia menyatakan bahwa dampak dari camilan yang mereka nikmati adalah agar mereka mendapatkan sensasi yang menyenangkan. Bahkan, setengah dari orang Indonesia mengatakan bahwa dibanding tahun lalu, mereka merasa pada saat ini bisa memiliki waktu lebih untuk menikmati camilan mereka.

Camilan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia jatuh pada buah dan sayuran dengan nilai responden sebesar 11%. Biskuit manis dan biskuit gurih menyusul dengan nilai 9% dan 8%. Dua jenis camilan yang memang praktis dan nikmat dimakan kapan pun.

Ingatkah ketika kita berada di swalayan sedang mengelilingi rak-rak berisi makanan ringan. Jenis camilan apa saja yang ingin dimasukkan dalam keranjang. Tentu lebih banyak karena lapar mata ingin menyantap semua camilan selama di rumah.

Data survei dari Mondelez International mengungkap kebiasaan dan tren ngemil masyarakat Indonesia. Pertama, kita lebih banyak mengkonsumsi camilan daripada makanan berat. Orang Indonesia mengkonsumsi camilan lebih sering daripada makanan berat, yakni hampir 3x sehari, dibanding 2,5x makanan berat sehari. Artinya orang sekarang tidak memiliki banyak waktu lagi untuk makan makanan berat.

Kedua, ada fenomena yang terjadi ketika orang yang tinggal di kota besar rata-rata menempuh perjalanan panjang menuju tempat kerja masing-masing, sehingga memerlukan waktu lebih pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat. Sehingga, mereka memerlukan camilan untuk pengisi energi setelah makan pagi dan sebelum makan siang.

Ketiga, camilan diperlukan untuk menjaga kesehatan mental dan emosional, dibandingkan sekedar mengenyangkan perut. Sebanyak 93% mengatakan bahwa ‘ngemil’ dilakukan untuk meningkatkan suasana hati, 91% untuk menemukan momen tenang atau me-time dengan diri sendiri dan memberikan rasa nyaman, sementara ‘hanya’ 84% responden yang mengatakan ‘ngemil’ diperlukan untuk memberikan asupan untuk tubuh.

Sumber : State of Snacking
Sumber : State of Snacking

Keempat, ngemil untuk meningkatkan kebersamaan. Peran camilan sebagai sebuah medium untuk terhubung dengan dirinya sendiri dan juga budayanya. Sebagai orang Indonesia, saya menyadari kalau makanan bisa menjadi pencair suasana dalam momen kebersamaan, apalagi kita termasuk orang yang senang bersosialisasi.

Kelima, ternyata masih ada sejumlah orang yang masih menginginkan camilan yang lebih bernutrisi di masa mendatang. Seperti camilan yang kaya vitamin (60%), rendah gula (57%), dan segar (56%).

Menyadari apa yang kita konsumsi dan cemil, maka tak ada salahnya kita dengan penuh perhatian dengan ngemil lebih bijak. Orang-orang sekarang ingin camilan yang enak, cocok, dan merasa senang ketika memakannya; sekaligus mencari keseimbangan dalam memilih camilan.

Seperti apa memang ngemil lebih bijak yang perlu kita ketahui yaitu merupakan ajakan agar kita dapat memilih camilan yang tepat, mengkonsumsinya pada waktu yang tepat, serta menikmati camilan tersebut dengan cara yang tepat pula.

Ngemil lebih bijak merupakan langkah tepat untuk mendapatkan kepuasan dalam mengkonsumsi camilan sehingga tidak menimbulkan penyesalan setelahnya. Juga menghindari ngemil secara berlebih karena memperhatikan isyarat tubuh.

Sah-sah saja untuk ngemil namun ada 3 tips agar #NgemilBijak apalagi selama pandemi mungkin kita sudah lumayan jenuh di rumah.

  1. Kenali isyarat tubuh mengapa Anda ingin ngemil, misalnya apakah karena lapar ataukah perlu untuk mengembalikan mood.
  2. Kemudian Anda bisa memilih apa camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh tersebut, tentunya dengan memperhatikan porsi camilan dan waktu ketika Anda ngemil.
  3. Perhatikan bagaimana Anda ngemil, dengan memaksimalkan semua indera Anda, karena Anda akan dapat mengenali isyarat tubuh, kapan harus berhenti ngemil.

Selain menikmati camilan secara lebih bijak bersama keluarga atau teman, pilihan camilan yang tepat dapat menjadi suatu kegiatan ringan nan menyenangkan untuk mempererat ikatan dan kehangatan.

Pastikan dari kebiasaan ngemil kita selama ini sesungguhnya kita juga mengecek informasi porsi sajian dalam kemasan. Informasi sajian dalam kemasan ini bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan kalori harian dan menjaga stabilitas metabolisme tubuh, asal dilakukan dengan bijak.

Paling sering saya alami saat merasa perut lapar atau mood turun, langsung membuka laci mengambil snack ngemil bertubi-tubi. Semacam emotional eater sehingga kekesalan saya bisa hilang dalam bentuk ngemil. Selesai makan seperti terperangkap dalam perasaan bersalah karena jumlah ngemil lebih banyak. Sehingga memang perlu #NgemilBijak supaya saat konsumsi camilan bisa lebih seimbang, baik untuk tubuh maupun pikiran.

Tara De Thouars, seorang psikolog menjelaskan bahwa kebiasaan ngemil berlebih memang sangat rentan terjadi selama pandemi ketika orang-orang lebih banyak tinggal di rumah. Hal tersebut dipicu oleh rasa bosan atau kondisi emosi tidak stabil dikarenakan perubahan kebiasaan yang mendadak.

Survey Snapcart mengenai perilaku orang dalam ngemil

Bahkan ada survey dari Snapcart kalau ada perasaan merasa bersalah ketika selesai ngemil. Apalagi kalau camilan yang dikonsumsi bukan camilan yang menyehatkan.

Kalau kita sadar pentingnya ngemil lebih bijak, tentu saja kita bisa mengerem ngemil tanpa rasa bersalah. Mulailah dari 5 langkah sederhana ini:

  • Cek Sinyal Tubuh

Saat tekanan emosional hadir, tubuh seolah memberikan sinyal yang mirip seperti rasa lapar. Sebenarnya sinyal tersebut hanyalah respon terhadap perasaan yang menjadi pelarian dari emosi negatif. Jika dorongan tersebut terus diikuti, tentu tubuh akan kelebihan asupan dan tentunya akan semakin beresiko jika dilakukan secara berulang.

Kita melatih diri untuk bertanya dengan diri sendiri, apakah kita sedang lapar? Seberapa banyak saya membutuhkan camilan tersebut? Atau ini hanya bentuk emotional hunger?

Pentingnya menyadari apa yang kita cemil dan mengkonsumsinya menjadi bentuk kita mengenali isyarat tubuh.

  • Relaksasi

Tahap selanjutnya setelah kita mengetahui isyarat tubuh yaitu relaksasi. Langkah ini dibutuhkan agar kita bisa mengambil jeda walau sejenak. Misalnya bernafas untuk meredakan emosi dan menaikkan logika. Sebab sering kali saat perut sudah lapar kita jadi telat untuk berpikir dan membedakan.

  • Mindful Snacking

Selama ini kita menyantap camilan selalu terburu-buru, padahal kita bisa memanfaatkan 5 fungsi indera seperti mata, penciuman, perabaan, perasa, pendengaran. Sebelum makan, kita bisa melihat warna, tekstur atau penataan makanan.

Merasakan tekstur renyah biskuit Belvita

Dengan menggunakan penciuman kita bisa merasakan aroma camilan yang akan disantap. Serta gunakan indera peraba untuk merasakan kasar, halus, atau lembut makanan tersebut. Terakhir, kita bisa mendengar bagaimana renyahnya makanan hingga ingin memakannya kembali.

Mindful snacking ini akan membuat kita menikmati setiap gigitan lebih lezat.

  • Tunggulah Sebentar

Saat menyantap camilan, ada baiknya kita menunggu sejenak beberapa menit agar makanan yang masuk dalam perut memproses sinyal ke otak untuk memberi tahu apakah sudah kenyang atau belum.

  • Bersyukur

Sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang dimakan hari ini. Lenyapkan rasa bersalah  setelah makan.

Dengan bersyukur kita bisa meminimalkan distraksi, porsi camilan yang terkontrol, fokus terhadap rasa dan aroma, serta membuat kita tidak menjadi pribadi yang emotional hunger.

Mindul snacking ini menjadi suatu kebiasaan yang secara tidak sadar akan membawa ke perhatian kita. 5 langkah ini terbukti membuat kita lebih sehat dan lebih positif, terlebih selama pandemi kita sudah mengalami banyak tekanan. Jika masih kurang jelas bisa melihat video dibawah ini.

Untuk merefleksikan kebiasaan dan kebutuhan akan camilan setiap hari, saya pun mulai mencari beragam produk camilan yang dapat dikonsumsi mulai dari pagi hingga malam hari. Dalam memilih camilan saya pun mencari jenis yang cocok dimakan saat momen yang tepat, waktu yang tepat dan pilihan camilan yang enak.

Misalnya saat sarapan pagi, atau sore hari selepas saya aktivitas. Agar kondisi mood tetap terjaga biasanya saya menyimpan coklat Cadbury untuk disantap. Yang saya ketahui manfaat coklat banyak sekali salah satunya sebagai anti depresan dan kelelahan kronis yang menjadi ancaman bagi kesehatan dan kebahagiaan seseorang.

Sedangkan kalau ingin snack ringan tapi tetap sehat, saya memilih Belvita dan Oreo untuk asupan sarapan seimbang. Berhubung bentuknya kemasan maka sangat praktis untuk dibawa kemana pun.

Biskuit Oreo kadang saya bawa saat sedang berkumpul sebab bisa mempererat hubungan satu sama lain untuk mengawali obrolan bersama teman.

Sumber : Survey Snapcart

Selain jenis camilan yang saya konsumsi juga enak, didukung sama harga yang masih terjangkau untuk dibeli. Makanya seperti hasil survey Snapcart harga camilan yang paling diminati mulai dari harga Rp 5000-Rp 15.000.

Yuk kita ngemil lebih bijak

Ngemil camilan dinilai lebih cocok dengan gaya hidup kekinian. Memang benar saat lapar biasanya membuat tubuh bereaksi dan emosi. Namun, ketika berjumpa makanan enak, secara psikologi membuat rasa bahagia. Bahkan ada yang bisa sambil menggerakkan badan saat mengunyah makanan enak. Perasaan bahagia saat ngemil tentu saja bisa meningkatkan imun tubuh.

Perlu diingat kalau saat ngemil kita dapat memilih camilan yang tepat sesuai tubuh. Serta kita bisa merasakan nikmatnya setiap gigitan.

Semoga teman-teman tetap patuhi protokol, stay safe all.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis.

8 comments on “Ngemil Lebih Bijak dan Bahagia Mulai Diri Sendiri

  1. langsung jadi pengen ngemil.. 😆

  2. Nahhh kalo aku tuh seringnya ngemil apa aja yang bisa dicemilin. Kalau nasi + lauk bisa dicemilin sih aku cemilin juga. Hihi. Padahal, ngemil juga ada aturannya, ya. Pengin juga beralih ke snacking sehat gitu

  3. Kalau baca tentang snack jadi pingin ngemil wkwkw

  4. jadi laper ngeliat semua cemilannya 🙂

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: