Seberapa klasik dikau?


Pernah nggak kamu menghadapi situasi “klasik”?

Bulan lalu pas aku lagi di bridalnya temanku, ternyata ada satu kenalan lama dan dia sedang fitting baju pengantinnya. Kenalan lama ini orangnya cukup kritis karena memang dari sma aku kenal dia.

Waktu dia sedang fitting gaun mana yang cocok, dia kebingungan sendiri mana yang cocok untuk diri dia. Maka sebagai kenalan yang baik aku bilang saja kalau cocok, tapi dia juga merasa kurang. Beberapa kali dia ganti gaun dan kembali aku bilang cocok dan menambahkan nanti bisa dimodifikasi gaunnya, yang penting dia sudah memilih mana gaun yang tepat.

Terakhir aku bilang ke dia kalau semua gaun yang dia pakai itu cocok, palingan kalau ada kurang itu nanti bisa dipermak sedikit. Entah itu di bagian payet atau apalah. Terpenting itu adalah selama dia pakainya nyaman maka orang juga akan melihatnya oke.

Eh jawabanku ini dibilangnya: klasik banget jawabanmu.

Duh rasanya pengen nutup muka tapi aku pikir kenapa harus rasa malu?

Kalau mau jujur bisa saja aku bilang iya payudara kamu itu terlalu kempes, makanya tiap gaun yang kamu pakai ada rasa kurang klop dan agak sedikit turun. Sumpelin saja payudara kamu dengan busa atau apa. Cuma aku nggak mungkin bilangin ini ke dia.

Sama saja tadi ada teman yang buka pertanyaan di milis : kamu suka fisik pacar kamu yang gimana? Beberapa ada yang jawab tinggi, kulitnya putih. Eh tiba-tiba ada yang bilang kalau saya sih pada dasarnya pengen yang baik dan menerima diriku apa adanya.

Langsung saja aku balasin kalau jawaban dia terlalu klasik.

Well, mungkin yang perlu dipelajari adalah bagaimana otak ini dapat cerdik dalam permainan kata dan bahasa. Nggak baik juga memberi jawaban yang klasik.

p.s : Pernah ngalamin?

Iklan

7 pemikiran pada “Seberapa klasik dikau?

  1. Jawaban klasik, bisa berarti beberapa hal. Misalnya:

    1. Kita konsisten dengan sudut pandang kita sendiri. Kalo yang ini yang bro maksud, betul, kita harus pandai bermain kata. Atau lebih tepatnya, mengajukan argumen-argumen yang kuat agar pendapat kita bisa diterima.

    2. Memang permasalahan yang ditanya, bukanlah bidang kita πŸ˜†

    Untuk pendapat ibu Edratna & kamu di atas, memang kita butuh pendapat opini lawan jenis. Tapi, pendapat yang optimal didapatkan dari orang yang memang pada bidangnya.

    Contoh, kalo orang mau tanya persoalan komputer, silakan tanya saya. Saya akan beri komentar secara mendetail sedetail-detailnya. Tapi kalo orang mau tanya persoalan gaun atau pakaian, saya sama sekali bukan ahli fashion. Jadi jangan protes kalo saya hanya beri komentar yang “klasik” πŸ˜† Karena memang fashion bukan bidang saya toh? Mau digimanakan lagi?

    Yang lebih aneh justru orang yang menanyakan nya kepada saya. Sudah tahu saya ahli komputer dan bukan ahli fashion, kok malah menanyakan fashion kepada saya? Harusnya, bukan saya yang malu! Tapi dia yang malu, karena bertanya pada orang yang kurang tepat.

    Kesimpulan: kalo minta pendapat, (bukan masalah lawan jenis atau sama jenis), mintalah pendapat pada orang yang memang pada bidangnya (apabila ingin jawaban yang tidak klasik).

    Huang : Berarti dia salah tanya dong ke saya :p

    • Sedikit klarifikasi, saya bukan bermaksud mengatakan pendapat orang awam tidak diperlukan. Justru tugas-tugas orang-orang yang profesional untuk membuat suatu hal bisa dinikmati orang awam.

      Tapi maksud saya adalah, apabila ingin jawaban dan kritik yang optimal, tanyalah dahulu kepada orang-orang yang memang pada bidangnya, barulah kemudian orang-orang awam πŸ˜€

      Huang : I see

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s