Tentang Sebuah Itikad Baik


Nulis gak repot, kata temen saya. Tapi yang repot adalah memutuskan apakah tulisan itu perlu di-publish.

Semuanya berawal dari kontes

Sebetulnya ini kejadian sudah lama, akhir tahun 2008. Ada seorang blogger cewek, cantik namun sudah berumur dan punya prestasi menerbitkan satu judul novel. Satu hari saya membaca dia mengadakan sebuah kontes dengan hadiah novelnya itu. Singkat cerita saya ikut dan saya menang.

Lantas saya mengirim alamat saya melalui email ke dia. Kita sempat beberapa kali email-an yang isinya saya belum mendapatkan kiriman dari dia, setelah menunggu berminggu-minggu. Alasannya selalu sama, maaf saya lupa, maaf saya sibuk, maaf alamatnya hilang.

Saya capek untuk membalas email dengan konfirmasi yang sama kalau saya belum mendapat kiriman dari dia. Kesannya kok saya mengemis demi satu novel yang harganya gak seberapa? Kalau dia ada itikad baik ya dia hubungin saya dong.

Apa cuma saya yang gak dikirimin hadiah?

Ada 3 pemenang, saya termasuk satu di antaranya. Saya coba menghubungi salah satu dari pemenang dan bertanya apa dia mendapat hadiah dari si blogger cewek ini? Lalu dia bilang kalau dia sudah dapat kiriman hadiah dari si blogger cewek itu.

Saya telah melupakan kejadian ini…

Minggu lalu teman saya (kebetulan dia juga tahu kejadian ini) tiba-tiba tanya sama saya apa saya sudah dapat kiriman dari si blogger cewek itu? Saya jawab belum. Gak nyangka aja kejadian setahun lewat dan udah saya lupain tiba-tiba diangkat lagi. Hari itu saya coba mengunjungi blog si cewek itu dan meninggalkan sebuah pesan. Saya tulis sedemikian rupa, memikirkan kata-kata agar tetap santun. Saya tetap menghormati dia.

Namun ternyata dia gak memberi saya tanggapan balik.

Dia blogger aktif, setiap hari produktif tulisan. Saya rasa kamu juga mengenal dia siapa bahkan sering mengunjungi blog cewek itu. Bukankah aneh kalau update blog rutin tiap hari, tapi hanya komentar saya saja yang gak dia tanggapin?

Sampai saat ini dia belum memiliki itikad baik.

Saya menulis ini bukan karena saya menginginkan hadiahnya karena jumlahnya juga gak seberapa rupiah. Pelajaran apa yang saya petik dari sini ini tentang itikad baik. Saya sengaja merahasiakan identitas blogger cewek itu, cukuplah kamu hanya tahu dia seorang cewek. Karena biasanya kita selalu menerka-nerka dia cewek apa cowok sih? Tapi kalau untuk alamat blognya saya tetap merahasiakannya karena saya masih menghormati dia dan saya pribadi sudah anggap case closed.

p.s : Lain waktu kalau kamu berniat mengadakan kontes, milikilah itikad baik dengan pemenang kontes kamu.

13 pemikiran pada “Tentang Sebuah Itikad Baik

  1. bener itu boz
    bukan dilihat dari harganya
    tapi dari niat orangnya
    ada ga itikad baik untuk menepati janji?

    wah, kalau masalah seperti ini sih harus dibuang jauh2 dari pikiran kita
    jangan sampai jadi kanker dalam otak

    so, lupakan sajalah
    masih banyak orang baik2 seperti saya yang mau jadi sahabat mas huang hahahha…

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s