Humor yang Menggalau

Dalam tiga hari ini, saya bisa mendengarkan lawakan dari teman kerja saya sampai 10 kali banyaknya. Bayangin aja, satu lawakan yang sama kamu dengar bisa sampai 10 kali lebih. Awalnya, satu sampai dua orang bisalah ketawa begitu dengar. Tapi selanjutnya? Apa masih bisa ketawa lagi?

Lawakannya sederhana kok, hanya memutarkan mp3 yang isinya percakapan orang lagi telepon. Jadi dibuat seolah-olah itu beneran dapet telepon. Saya yang lihat teman itu memutar berkali-kali mp3 tersebut cuma bisa tersenyum. Pokoknya tiap orang baru yang dia jumpain, dia pasti puter.

Lihat.

Kita tidak bisa mendengar satu lawakan yang sama dengan suara ketawa yang sama. Tentu itu akan basi. Satu atau dua kali cerita lawak masih relevan untuk didengar, tapi kalau sudah berlebihan? apa masih bisa tertawa?

Saya pikir, gimana kalau ini dibalik dengan perasaan sedih? Kenapa ada orang yang masih bisa terus menangis pada perasaan yang sama?! Bukankah ini juga bakalan basi ya?

 

“You can’t laugh at the same joke again and again but why do you keep crying over the same thing over and over again?”

 

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1714

15 tanggapan pada “Humor yang Menggalau

  1. bahagia, sedih, sakit hati, rasa senang, itu semua cuma ada di dalam pikiran. saat ada yang melucu, kita mungkin akan tertawa, tapi orang lain yang lagi gundah malah marah2. begitu juga sebaliknya.

    saat yang melucu itu adalah orang yang kita suka, demen, pasti kita akan tersenyum atau tertawa penuh ikhlas. tapi saat yang melucu itu orang yang gak kita suka, selucu apapun, tetap kita akan bersungut2.

    ya, meminjam istilah warkop DKI aja, “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: