Sekolah Kehidupan : From Nothing To Be Something


Saat ini saya sedang menulis tepat di tengah kebun teh pada waktu tepat pukul 10 malam.

Apa yang saya rasakan untuk survival malam hari ini?

Secara logika saya berharap hari cepat berganti menjadi pagi. Tujuannya agar saya bisa cepat terbebas dari situasi yang ‘mengcekam’ ini.

Saya gambarkan kondisi saya..

Saya berada di antara sela kebun teh.

Saya hanya ditemanin sebuah senter.

Saya hanya dibekali alas tidur ala kadarnya. Ukurannya 2 x 1 meter.

Saya hanya diberi sebuah terpal untuk menjadi pelindung dari udara dingin dan gangguan lain yang pastinya tidak saya kehendakin.

Terpal ini saya bentuk menjadi tenda mini untuk menutupi tubuh saya.

Pakaian saya…

Dua lapis celana panjang yang terdiri dari jeans dan cargo.

Baju atasan saya kenakan sampai lima baju dan sebuah jaket karena sangking dinginnya udara malam di pegunungan Dempo.

Bisa kamu bayangkan situasi saya? Mirip di film yang terjebak di peti mati. Dan saya harus bisa keluar untuk menyelamatkan diri.

Inilah kontemplasi saya sambil menunggu habisnya baterai hape dan senter saya.

KEGELAPAN, mengajarkan saya tentang berharganya nilai suatu lilin kecil untuk menerangi jalan. Kenapa harus menyombongkan diri saat masih ada orang di atas kita?

KESUNYIAN, mengajarkan saya tentang siapakah kita saat ini? Bisakah kita hidup tanpa mendengar suara bising (orang lain)? Jujur saja saya tidak dapat mendengar suara selain bunyi serangga dan mencium aroma daun teh.

KEDINGINAN, mengajarkan saya tentang bermanfaatnya sehelai pakaian untuk menutupi tubuh kita. Bahwa tiap kita butuh hubungan yang hangat dengan satu sama lain.

KESEMPITAN, mengajarkan saya tentang arti cukup. Banyak kita mengejar hal yang seharusnya itu sudah cukup tapi masih saja merasa kurang. Dikejar dan mengejar. Bahwa kita nanti juga akan berdiam di dalam kesempitan ini ukuran 2 x 1 meter.

KETENANGAN, inilah yang saya rasakan.

Semuanya balik ke alam. Tidak ada selimut hangat yang ada di kamar tidur kita.

Pikiran, jiwa, hati, dan tubuh saya sukses diaduk lewat malam ini.

Saya harus bisa beri yang terbaik untuk sesama dan diri saya.

Berjanjilah. Tahun 2012 ini tahun pengharapan sekaligus pembentukkan.

Inilah proses yang harus saya alami di sekolah kehidupan ini. Karena saya sudah memilih. Bukankah hidup itu adalah pilihan?

Hahaha entah apa saya harus berharap waktu cepat berganti menjadi pagi atau saya biarkan saja untuk menikmati proses ini.

Kita harus antusias untuk hadapi segala rintangan yang ada karena itu adalah peluang.

Selamat malam teman…

Dan saya sukses tidak tidur semalaman.

5 pemikiran pada “Sekolah Kehidupan : From Nothing To Be Something

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s