travel

Monas, Landmark yang Tak Terlupakan di Jakarta


Nama Jakarta terdengar sudah tidak asing lagi di telinga para backpacker. Ada banyak hal yang bisa kamu dapatkan di kota Jakarta. Sepertinya Jakarta punya magnet yang kuat untuk menarik saya mengelilingi landmark dari Jakarta yaitu Monas.

Lebih dari 5 kali saya ke Jakarta, namun belum punya kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Monas. Rasa penasaran saya akhirnya tertuntaskan saat saya turun dari Stasiun Gambir dan berjalan kaki ke arah Monas. Tampak dari jauh puncak emas Monas setinggi 132 meter (433 kaki) ini terkena sinar matahari. Saya masih ingat guyonan teman-teman saya waktu tiap kali saya bilang kalau ke Jakarta, saya mau ke Monas. Lalu mereka tanya balik, mau ngapain? ambil emasnya bawa pulang?!

Monas atau Monumen Nasional ini dibangun atas dasar untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia saat merebut kemerdekaan dari Belanda. Pastinya akan ada banyak sejarah bisu di dalamnya yang belum diketahui sama masyarakat. Rasa penasaran saya semakin kuat, saya pun membayar karcis sebesar 5 ribu untuk masuk ke dalam.

MonasKebetulan waktu saya ke Monas, bertepatan dengan demo buruh makanya saya juga agak was-was karena saat masuk ke dalam kerumunan mereka. Momen demo buruh ini akan jarang saya temuin saat kita berkunjung ke Monas, makanya saya secepat mungkin mengambil foto lalu segera berjalan ke pinggir agar tidak menghalangi jalan mereka.

Ada hal unik dari dalam perkarangan Monas. Kita disuguhi oleh relief timbul sejarah Indonesia. Tampak si pembuat relief ini membuatnya dengan sangat teliti dan halus. Saya sendiri sampai berdecak kagum oleh hasil tangan mereka.

Ada satu tempat yang wajib dikunjungi saat di Monas, yaitu naik ke puncak paling atas Monas karena dari sana kita bisa melihat panorama kota Jakarta. Dengan membayar tiket kembali sebesar 10 ribu, kita baru bisa naik ke puncak Monas melalui lift. Begitu sampai, kita bisa langsung mengambil posisi untuk melihat kota Jakarta dari 4 arah mata angin (Utara, Selatan, Barat, Timur). Bahkan melalui teropong saya bisa melihat lokasi hotel saya.

Sayang sekali tampaknya Monas ini kurang dalam perawatan di dalamnya, seperti lampu penerangan di Ruang Kemerdekaan yang minim. Semoga aspek ini dilirik oleh pemerintahan Jakarta untuk merawat

Monas dapat menjadi salah satu pilihan Anda untuk berwisata bersama keluarga dan tempat mendidik anak-anak untuk lebih mengenal sejarah Indonesia. Dengan pilihan waktu kunjungan dari pukul 9.00 sampai 16.00 sore. Selain itu ada juga jasa foto dengan latar belakang Monas seharga 15 ribu langsung jadi atau membeli souvenir khas Jakarta seperti baju dan gantungan kunci.

11 comments on “Monas, Landmark yang Tak Terlupakan di Jakarta

  1. salah satu tempat historis kebangaan bangsa ๐Ÿ™‚

  2. Ranny Rachma Suci

    Pas kesana beberapa tahun kemaren juga nyempetin ke monas dan foto2 tapi sayang nya pas mau ke atas udah tutup ๐Ÿ˜ฆ . next time kali yah

  3. geckhaskempek

    Blognya bagus dan artikelnya menarik. Oya teman-teman blog, mampir ke lapak saya ya. Salam. http://globalenglishclubkhaskempek.wordpress.com/

  4. Wah wah pengen nih ke monas gratis. Ada gak yah cara ke monas gratis kayak my selangor story? ๐Ÿ˜€

  5. Sekitar sebulan lalu saya ke Jakarta untuk kedua kalinya. Dan sudah berkunjung ke monas, tapi saya ndak sempat mendekat apalagi naik ke Monas. Mungkin lain kali.

  6. Wish you luck for MSS2013 ^^

    Pls do visit my blog too for MSS2013 ๐Ÿ˜€

  7. Karena setiap hari lewat Monas rasanya monumen ini jadi biasa banget. Tapi tiap kali nganter temen jalan-jalan selalu tak lupa mampir ke Monas. ๐Ÿ™‚

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: