Keanekaragaman Hayati dan Pandemi

Pandemi seperti virus Corona ini adalah hasil dari kerusakan alam yang dilakukan manusia. Begitulah headline berita yang dari kanal online membuat saya mengernyitkan dahi selepas membaca.

Hal ini dinyatakan oleh para pemimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta WWF Internasional yang merupakan lembaga nirlaba berfokus pada konservasi terbesar di dunia.

Keadaan darurat kesehatan disebabkan Covid 19 ini, menghentak dan membangunkan kekuasaan yang sedang mimpi indah.

Lalu benarkah virus ini terhubung dengan kejahatan lingkungan hidup dan sumber daya alam, apakah terhubung dengan krisis iklim yang selalu diteriakkan oleh aktivis lingkungan hidup selama ini. Benarkah demikian?

Pandemi Masih Ada

Rentetan bencana yang kita rasakan dengan segala akibatnya, ditambah perkembangan pandemi Covid 19 terbaru, menjadi gambaran betapa berat dan rumitnya persoalan yang sedang kita hadapi bersama dari awal tahun 2021.

Foto kremasi jenasah terinfeksi Covid-19 di India. (sumber : beritakaltim.co)

Kita menjadi familiar dengan sebutan Covid 19 pada judul utama headline berita cetak maupun digital. Virus Covid 19 telah menjadi perhatian setiap negara dunia yang kemudian dinaikkan statusnya oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadi pandemi.

Berita paling terbaru minggu ini adalah asap kremasi tutupi langit India, kematian karena Covid 19 membludak. Ini membuat lonjakan angka kematian yang tinggi. Masih belum percaya kalau Covid 19 itu ada?

Efek Adaptasi Baru

Pandemi COVID-19 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia, yang dapat berdampak pada kelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial, serta kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks tulisan ini, kesadaran lingkungan, konsumsi berkelanjutan, dan tindakan sosial masyarakat telah secara efektif diubah, seiring dengan telah dialami masa karantina, isolasi sosial, dan krisis kesehatan yang disebabkan oleh Pandemi.

Selain itu, perilaku masyarakat dalam berbelanja baik secara offline dan secara on-line berdampak pula pada sampah, terutama plastik. Akibat protokol kesehatan yang mewajibkan adanya bungkus rangkap dan desinfektan untuk mencegah paparan virus meningkatkan sampah plastik.

Semua ini berakar pada pandangan dunia yang materialistik dan konsumtif. Pandangan antroposentris tentang manusia yang terpisah dan lebih unggul dari makhluk lain membuat kekuasaan seenaknya melakukan pengendalian, eksploitasi dan manipulasi terhadap sumber-sumber manfaat kehidupan.

Kerusakan Alam Telah Diprediksi Sejak Lama

Para pakar sebut pandemi ini berasal dari kerusakan lingkungan, ulah manusia akan egonya.

Manusia, sebagai satu spesies yang bertanggung jawab atas pandemi Covid 19. Seperti halnya krisis iklim dan keanekaragaman hayati. Pandemi saat ini merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia yang selalu memperjuangkan pertumbuhan ekonomi dengan cara apapun.

Covid 19 adalah patogen yang bekerja dengan brutal tidak mengenal suku, agama, ras, golongan, usia, kelas sosial, jenis kelamin bahkan negara maju maupun berkembang, jika lengah pasti akan terpapar.

Dalam pengamatan saya, setidaknya ada sekitar sepuluh permasalahan utama lingkungan yang muncul, yakni masalah sampah, banjir, pencemaran sungai, pemanasan global, pencemaran udara, rusaknya ekosistem laut, kelangkaan air bersih, kerusakan hutan, abrasi hingga pencemaran tanah.

Manusia dan Alam

Masih ingat tentang himbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai cuaca ekstrim. Sebab, sepanjang Januari-Februari 2021, sebagian besar wilayah Indonesia, mencapai 94 persen dari 342 zona musim, sedang memasuki puncak musim hujan.

Selain itu, depresi tropis atau bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan berpotensi menimbulkan ancaman gelombang laut tinggi di sejumlah perairan, antara lain di Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan dan sejumlah perairan di wilayah timur Indonesia.

Kita sebagai masyarakat juga diimbau terus mewaspadai aktivitas sejumlah gunung berapi. Sedikitnya enam gunung berapi dalam status siaga atau waspada. Antara lain gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur), Gunung Api Merapi (Jawa Tengah), Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara), Gunung Api Semeru (Jawa Timur) dan Gunung Api Anak Krakatau (Lampung).

Semua orang, baik yang sudah terdampak maupun belum terdampak bencana alam serta terpapar Covid 19, bisa merasakan langsung betapa alam semesta dan lingkungan hidup semakin kurang bersahabat.

Terlebih Covid 19 juga menyebar luas dengan cepat akibat populasi dunia yang semakin terhubung erat. Situasi yang mengejutkan banyak orang ini, sebenarnya telah diperingatkan oleh ilmuwan sejak lama.

Tak hanya bencana, alam semesta juga menghadirkan ragam virus yang merusak kesehatan manusia.

Bumi Butuh Keseimbangan Alam

Dalam buku karya Rob Wallace berjudul Matinya Epidemiologi Ekspansi Modal dan Asal Usul Covid 19 memberikan kita gambaran bahwa sejak puluhan tahun lalu, para ahli sudah mengingatkan bahwa manusia telah bertindak sembrono terhadap bumi.

Agresivitas manusia mengeksploitasi sumber daya alam menyebabkan terjadinya kerusakan atau ketidakseimbangan ekosistem. Industri peternakan dan agrobisnis telah merusak metabolisme alam sehingga menjadikan wabah menjadi ancaman nyata yang tengah mengantri kehidupan kita.

Ketidakseimbangan itu menjadi sumber bencana dan pembiakan ragam virus.

Tidak ada yang bisa melewati kondisi ini dengan jernih. Kita semua terikat pada kesadaran ego diri sendiri. Misalnya perdagangan satwa liar yang ilegal dan tidak berkelanjutan serta kehancuran hutan dan tempat-tempat liar lainnya masih menjadi kekuatan pendorong di belakang meningkatnya jumlah penyakit yang melompat dari satwa liar ke manusia.

Risiko pandemik lain pada masa mendatang terkait erat dengan deforestasi hutan tropis, hilangnya habitat alam dan degradasi ekosistem di seluruh dunia. Hilangnya hutan tropis dihubungkan dengan penyakit zoonotik dalam beberapa hal, termasuk hilangnya jasa lingkungan, fragmentasi hutan dan habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, perdagangan satwa liar, dan kebakaran hutan.

Sudah dibahas selama beberapa dekade oleh para ahli. Sudah banyak pula inisiatif memperbaiki ekosistem. Sayangnya, bersamaan dengan munculnya inisiatif perbaikan itu, manusia tetap saja agresif mengeksploitasi sumber daya alam.

Kerusakan ekosistem pun semakin parah, dan akibatnya sebagaimana dirasakan semua orang sekarang ini. Bencana alam silih berganti, dan virus-virus yang mengancam kesehatan manusia terus bermunculan.

Keanekaragaman Hayati yang Terganggu

Patut dicatat bahwa dampak pandemi Covid-19 memiliki pengaruh yang lebih besar pada konsumsi berkelanjutan, diikuti oleh kesadaran lingkungan, dan pada tingkat yang lebih rendah, pada tanggung jawab sosial.

Selain virus Corona, banjir besar yang melanda beberapa wilayah di tanah air merupakan akibat dari ketidakseimbangan ekosistem. Ekosistem layak dipahami sebagai sebuah tatanan utuh antara semua makhluk hidup dengan lingkungannya.

Saat lingkungan telah rusak dan kehilangan keseimbangannya, kemungkinan yang muncul adalah malapetaka. Penebangan pohon atau penggundulan hutan menyebabkan hilangnya kemampuan akar tumbuhan di hutan menyerap air.

Maka jangan salahkan ketika curah hujan tinggi, air hujan yang luber akan mendorong sampah dan material batuan menerjang pemukiman manusia. Seperti banjir bandang beberapa waktu lalu. Atau juga banjir besar yang melanda beberapa wilayah di pulau Kalimantan. Akibat penebangan pohon dan penggundulan, hutan di Kalimantan tak mampu lagi menyerap air.

Karena itulah kita penting mengetahui mengenai Biodiversity. Dunia ini seperti jaring yang terdiri dari banyak untaian, tiap untaian mewakili spesies yang berbeda dalam ekosistem, semuanya saling terhubung.

Biodiversitas merupakan hal yang sangat mendasar bagi masyarakat berkembang dan penting untuk kestabilan bumi kita. Dia menjadi inti dari sistem pendukung kehidupan di bumi tempat kita semua bergantung.

Mulai dari ekosistem alam dan keanekaragaman hayati yang kaya sangat penting bagi kita, khususnya dalam menyediakan banyak hal menakjubkan dan berharga yang biasanya kita sepelekan seperti air, sumber oksigen, hingga pasokan makanan yang stabil.

Kenapa Perlu Biodiversitas

Terasa sekali saat aktivitas manusia relatif berhenti serentak saat adanya pembatasan sosial berskala besar. Lantaran kita semua lebih banyak di rumah untuk melakukan aktivitas. Dengan fakta ini, kita bisa merasakan dampak udara yang bersih dari polusi.

Karena manusia yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, maka manusia pulalah yang bertanggung jawab mencari solusinya.

Menurut saya, aksi-aksi besar seperti menurunkan aktivitas penggundulan hutan dan perluasan lahan pertanian adalah tindakan yang akan sulit dilakukan oleh saya sebagai warga. Namun, tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan secara individual yang terkesan kecil pun bisa efektif kok dalam menjaga lingkungan, apalagi jika diterapkan oleh banyak orang.

Berikut sejumlah tips sederhana yang bisa kita jalankan sebagai individu selama beraktivitas pada masa pandemi.

1. Tak Lupa Masker dan Hand Sanitizer

Masker dan hand sanitizer menjadi perlengkapan esensial bagi kita di saat masa transisi seperti ini. Tak ada yang dapat dicegah ketika kita harus beraktivitas di luar.

Ego kita yang harus sadar diri ketika bersin atau batuk harus menutup mulut dan hidung. Agar tidak terjadi perpindahan droplet, termasuk mencuci tangan secara rutin sangatlah penting untuk menjaga kesehatan pribadi serta orang lain.

Namun jenis masker dan hand sanitizer yang digunakan juga penting untuk memelihara lingkungan. Misalnya kita bisa menggunakan masker kain berlapis tiga yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali. Atau jika menggunakan masker bedah maka disarankan untuk dirusak setelah dipakai.

Sama halnya dengan hand sanitizer, saya biasanya menggunakan botol plastik kecil agar lebih mudah diisi ulang dari botol yang besar.

2. Kurangi Penggunaan Plastik

Sudah tiga tahun ini saya selalu membawa tas kain lebih ke dalam tas ketika sedang aktivitas di luar. Tas kain ini sangat bermanfaat sekali sewaktu saya sedang berbelanja di pusat perbelanjaan, toko swalayan hingga pasar. Barang belanjaan tinggal saya masukkan ke tas kain.

Apalagi sejak di beberapa pusat perbelanjaan sudah meniadakan kantong plastik, makanya saya pun sudah persiapkan.

Berhubung berbahan kain pastinya menjadi kantong belanja ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali setelah dicuci. Termasuk botol minum kemasan plastik, kita bisa menggantikannya dengan botol minum yang bisa dicuci dan diisi kembali.

Hal ini untuk mendukung demi mengurangi pencemaran lingkungan.

3. Cabut Perangkat Elektronik

Tahu tidak kalau charger smartphone saat dilepas dari arus listrik masih menyisakan aliran listrik? Hal ini masih meninggalkan emisi karbon yang berbahaya terhadap lingkungan. Apalagi kalau terus menerus terkena aliran listrik.

Namun, kita bisa mengurangi dampak emisi karbon dengan mengingatkan diri untuk selalu mencabut kabel perangkat elektronik disaat tidak digunakan. Mengurangi penggunaan perangkat elektronik secara tidak langsung bisa sangat membantu.

Apalagi pandemi ini orang lebih banyak berada di rumah, menghabiskan lebih dari 8 jam berada di depan laptop untuk bekerja. Maka, sudah seharusnya kita juga bijak menggunakan listrik.

4. Hemat Pemakaian Air di Rumah

Selain kita bijak dalam penggunaan listrik, berhubung lebih sering di rumah tentunya pemakaian air pasti akan lebih tinggi dari biasanya. Maka dari itu kita perlu lebih memperhatikan jumlah pemakaian air sehari-hari.

Ada banyak cara sederhana yang bisa diterapkan untuk menghemat pemakaian air, seperti mempersingkat waktu mandi atau saat hendak mencuci baju dilakukan sekaligus.

Ada banyak sekali cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan di sekitar kita Walaupun dunia sedang dilanda pandemi, tidak berarti kita berhenti merawat alam. Dengan menerapkan tips-tips di atas, setidaknya kita ikut kontribusi lingkungan demi masa depan lebih berkelanjutan.

Pelestarian Lingkungan Metode In Situ

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati ini pun dapat langsung dilakukan di alam tempat flora dan fauna berada. Cara ini memberikan perlindungan kepada daerah yang dianggap memiliki ekosistem yang unik, dengan flora dan faunanya yang hampir terancam punah.

Langkah kecil yang dilakukan adalah bentuk konservasi cagar alam, maupun suaka marga satwa yang dilakukan di beberapa kawasan Indonesia.

Beberapa langkah yang dilakukan :

  1. Suaka margasatwa yang merupakan upaya perlindungan pada ekosistem yang dinilai memiliki keunikan. Keunikan itu juga berisi berbagai macam jenis flora dan fauna yang harus dilindungi. Seperti suaka margasatwa gajah yang ada di daerah Sumsel yang pernah saya kunjungi.
  2. Taman nasional merupakan sebidang tanah yang mendapatkan perlindungan mutlak dari pemerintah. Tanah ini berisi ekosistem- ekosistem yang dilindungi.
  3. Cagar alam adalah keadaan alam yang mempunyai sifat yang khas melalui flora dan fauna yang ada di dalamnya. Cagar alam juga memiliki ekosistem yang harus dilindungi.
  4. Hutan suaka alam adalah hutan yang memiliki ekosistem dilindungi di dalamnya. Hutan suaka alam juga bisa disebut hutan lindung.

Setiap daerah yang dilindungi pemerintah, tidak boleh mengalami penebangan. Selain itu, perburuan hewan yang berada di dalam daerah yang dilindungi dianggap ilegal. 

Masih Ada Harapan

Kabar berita baiknya adalah dalam situasi pandemi seperti sekarang ini untuk mulai sungguh-sungguh membenahi dan membangun ekonomi, pangan dan kesehatan yang lebih ramah lingkungan, inklusif dan berkelanjutan.

Solidaritas sosial dan saling peduli sangat dibutuhkan dalam kondisi krisis pandemi Covid 19 saat ini.

Ketika manusia semakin membuka kawasan yang dihuni, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai keanekaragaman hayati yang besar, namun Indonesia juga merupakan salah satu negara yang tingkat kehilangan atau kerusakan keanekaragaman hayatinya cukup besar.

Hal ini juga ditangkap oleh MSIG Indonesia yang melihat generasi mendatang harus lebih baik.

Sebagai satu di antara perusahaan Asuransi Umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda) di Asia, MSIG memiliki komitmen dan nilai perusahaan untuk mendukung biodiversity lewat edukasi. Agar melihat arti lebih dalam segala hal, MSIG juga bermitra dengan Conservation International Asia-Pacific (CIAP) untuk melindungi keanekaragaman hayati lewat dukungan berbagai kegiatan konservasi hutan dan laut.

Keduanya saling menyelaraskan kegiatan perusahaan dengan nilai yang diyakini. Adapun beberapa kegiatan CSR dalam program MSIG Biodiversity yang telah dilakukan dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, mulai dari :

1. Biodiversity Fun Class

MSIG Indonesia memberdayakan generasi mendatang melalui pengetahuan keanekaragaman hayati. Sehingga menumbuhkan gaya hidup berkelanjutan dan cinta akan alam sejak dini sangat membantu melindungi Keanekaragaman Hayati planet kita serta masa depan kita.

Itulah sebabnya MSIG Indonesia merancang dan mengimplementasikan program khusus yang disebut Biodiversity Fun Class untuk siswa sekolah dasar terpilih di Jakarta, Bogor dan Tangerang.

Selain itu, MSIG bekerja sama dengan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk membantu anak-anak setempat menerima pendidikan, dalam mengidentifikasi sekolah-sekolah sesuai dengan kegiatan ini dan akan mendapat manfaat terbesar.

Sejumlah sukarelawan yang berasal dari staf MSIG menjalani pelatihan dalam workshop ramah lingkungan sebagai persiapan atas peran mereka sebagai fasilitator dalam Biodiversity Fun Class. Mereka juga belajar dari GNOTA cara terbaik untuk berkomunikasi dengan siswa yang berasal dari beragam latar belakang.

Di Biodiversity Fun Class, siswa mempelajari pelajaran berharga tentang keberlanjutan dan konservasi alam. Mereka diajari tentang dampak deforestasi di Indonesia melalui studi kasus tentang Suaka Margasatwa Paliyan, serta pentingnya melindungi Keanekaragaman Hayati dan perlunya mengurangi limbah dalam kehidupan sehari-hari.

2. Restorasi Hutan dan Konservasi Laut

Ada 17.000 pulau di Indonesia merupakan rumah bagi hampir 250 juta orang. Dari hutan pulau-pulau ini, pertanian, dan lautan di sekitarnya, orang-orang menerima makanan, air bersih, dan iklim yang stabil.

Bersama Pemerintah Indonesia dan Conservation International memperluas dua Taman Nasional di dalam Gedepahala untuk melindungi keanekaragaman hayati yang kaya, memastikan DAS ini tetap terjaga, dan untuk mengurangi resiko dampak lain yang disebabkan oleh degradasi hutan seperti tanah longsor dan banjir.

Hal ini juga diikuti oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan berbagai mitra, telah mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya restorasi.

Kemitraan ini juga akan berkontribusi pada perlindungan Bird’s Head Seascape (BHS), yang diakui sebagai episentrum global keanekaragaman hayati laut dan vital bagi lebih dari 350.000 orang. BHS adalah rumah bagi lebih dari 1.800 spesies ikan, tiga perempat dari karang keras dunia, dan hingga hari ini spesies baru ditemukan secara teratur.

Surga bawah laut menghadapi ancaman dari penangkapan ikan yang merusak dan ilegal, pemanenan yang berlebihan, dan pembangunan pesisir yang tidak direncanakan dengan baik.

Kemitraan ini akan mendukung program berkelanjutan dari Conservation International yang menyediakan pendidikan konservasi, peningkatan mata pencaharian, dan membantu mengembangkan pariwisata bahari yang berkelanjutan.

3. Suaka Margasatwa Paliyan

Memulihkan hutan untuk menghidupi masyarakat dan menghadapi perubahan iklim. Untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya hutan, kerja sama masyarakat setempat sangat penting dilakukan dan mereka pun diberikan pelatihan metode pertanian dan pemanenan yang berkelanjutan.

Pedoman teknis pertanian juga disediakan untuk membantu mereka mencapai kemandirian finansial yang lebih baik. Selain itu, kolaborasi dengan Universitas Gajah Mada juga dilakukan untuk menerapkan pendidikan lingkungan. Kolaborasi ini bertujuan memperkaya pengetahuan guru-guru sekolah, untuk kemudian pengetahuan tersebut bisa mereka ajarkan pada para siswa dan generasi mendatang.

Karena perubahan iklim telah menjadi perhatian utama di seluruh dunia, gerakan reboisasi semakin penting untuk dilakukan. Hutan yang dipulihkan diharapkan dapat menyerap sekitar 70.000 ton karbondioksida dalam 20 tahun yang akan datang. Selain itu, permukaan hutan dapat membantu mengurangi banjir dan longsor di area tersebut.

Masa Depan yang Baik dan Sehat di Bumi

Krisis kemanusiaan laten yang tertanam di dalam sistem ekonomi politik negara global saat ini meresahkan. Dominasi dan akumulasi modal yang terjadi pada sistem ekonomi politik antar negara di dunia dan antar kelas sosial didalam masyarakat.

Pandemi COVID-19 merupakan faktor penting dalam perubahan perilaku masyarakat yang mencerminkan pelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial.

“Tidak ada kekayaan selain kehidupan,” – John Ruskin

Keanekaragaman hayati menjadi sebuah pelajaran penting sejak kita masih duduk di bangku sekolah. Bahwa, kehidupan di Bumi terdiri dari jutaan spesies tumbuhan, hewan, serangga, dan mikroorganisme, yang tersebar di berbagai habitat yang berbeda.

Dari sungai dan hutan hujan hingga gurun dan lautan. Aneka ragam kehidupan yang luas inilah yang disebut sebagai keanekaragaman hayati (biodiversitas).

Pandemi Covid 19 telah menyadarkan kita bahwa betapa harus bersyukur karena kita semua menjadi saling terhubung dengan satu sama lain dan dengan alam. Ini membuat kita semua merenung sejenak untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita dengan Bumi termasuk keanekaragaman hayatinya.

Hal yang dapat dilakukan oleh kita dengan membangun kesadaran, membangun kembali dengan lebih baik.

Kita masih mendapat kesempatan yang tidak pernah ada sebelumnya untuk bisa membentuk masa depan yang lebih baik dengan menerapkan praktik pembangunan berkelanjutan. Inilah saatnya kita untuk membalas budi menjaga bumi bisa dimulai dari sikap dan perhatian kita sendiri.

***

Referensi :

  • dw.com/id/pandemi-virus-corona-berkaitan-dengan-perusakan-alam-dan-ekosistem-dunia/a-53173730
  • smartcity.jakarta.go.id/blog/531/tips-tips-menjaga-lingkungan-selama-pandemi
  • medanbisnisdaily.com/news/online/read/2020/04/06/104928/pandemi_covid_19_dan_kerusakan_lingkungan/
  • kabar24.bisnis.com/read/20200617/19/1254006/pbb-who-dan-wwf-sebut-pandemi-corona-karena-kerusakan-alam
  • news.detik.com/kolom/d-5346650/bencana-alam-pandemi-dan-urgensi-perbaikan-ekosistem
  • ilmugeografi.com/biogeografi/pelestarian-keanekaragaman-hayati
  • mongabay.co.id/2020/07/24/kerusakan-alam-pandemi-dan-sembilan-batas-ekologi-bumi/

Penulis: Deddy Huang

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

Tinggalkan Balasan