Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Potret Eksistensi Gajah Sumatera


Masih teringat perjalanan saya dua bulan lalu saat mengunjungi Aldo, gajah jantan gadingnya yang setengah patah di Desa Perangai, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat. Siapa disangka saya seperti berjodoh untuk mengunjungi saudara-saudaranya yang lain di Pusat Latihan Gajah Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Banyuasin. Di tempat ini rasa penasaran saya yang sempat tertunda oleh beragam pertanyaan akhirnya dapat saya utarakan segera agar tuntas dengan bertanya langsung kepada para pawang di pusat latihan gajah ini.

gajah padang sugihan banyuasin

Pusat Latihan Gajah Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Banyuasin

Terkadang kebenaran itu memang menyakitkan bahkan cuma mendengarkan saja saya seolah membayangkan bagaimana proses menjinakkan seekor gajah liar. Namun tetap harus dilakukan untuk kebaikan bersama sebagai mengatasi konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah. Gajah-gajah ini dilatih agar siap untuk momen seperti aktraksi di kebun binatang atau sirkus yang bisa dinikmati oleh kita dan anak-anak kecil.

Seperti yang kita ketahui bahwa Way Kambas, Lampung memang menjadi pusat latihan gajah yang sekarang menjadi pusat konservasi gajah pertama di Indonesia. Saya sendiri memang belum pernah berkunjung ke Way Kambas. Pengalaman kedua saya berada di PLG SM Padang Sugihan, Banyuasin membawa diri saya mengeksplore lebih lagi mengenai gajah lebih dekat.

Berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan

dermaga BKB palembang

Dermaga BKB Palembang akses transportasi air di Sungai Musi

Mengetahui fakta di Sumatera Selatan memiliki dua pusat latihan gajah cukup mengagetkan saya, apalagi diajak berkunjung ke dua tempat tersebut. Saya melihat sendiri lingkungan hidup mereka di Desa Sebokor, Muara Padang, Kabupaten Banyuasin. Suaka Margasatwa Padang Sugihan terletak di antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumsel. Seperti kue, sepertiga-nya kawasan OKI dan dua per tiga-nya merupakan kawasan Banyuasin.

Untuk mencapai SM. Padang Sugihan dari kota Palembang dapat dilalui dengan 2 cara yaitu lewat sungai dan jalan darat. Apabila melewati sungai dengan kendaraan speed boat menuju desa terdekat Sebokor dengan dimulai dari Dermaga BKB di Jembatan Ampera, melewati Sungai Musi, saluran primer dari Desa Cinta Manis dan Desa Sebokor dengan waktu kurang lebih 1,5 jam. Bisa juga jalur memutar melalui sungai Padang Sampai di Jalur 21, namun relatif panjang kurang lebih 2 jam. Sedangkan apabila melalui jalan darat dapat ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan rute Palembang, Plaju, Cinta Manis dan Sebokor. Namun kawasan masuk ke dalam jalannya lumayan ekstrim masuk ke dalamnya.

Sebaiknya menggunakan jalur sungai dan pergilah bersama rombongan. Jarak yang terbilang dekat dari Kota Palembang hanya dengan akses transportasi air yang lancar. Cukup memberitahu kepada para penyewa perahu dengan tujuan Jalur 21 Jembatan Empat, maka mereka segera tahu kemana kita akan pergi. Biaya yang diperlukan untuk menyewa perahu pulang pergi sekitar 1,5 – 2 juta dengan kapasitas penumpang  7 – 10 orang. Biaya menuju ke sana terbilang cukup mahal, tapi masih dapat kita lakukan tawar menawar. Lokasi Padang Sugihan ini sangat layak dikembangkan menjadi destinasi ekowisata unggulan.

Lalu lintas air di palembang

Rumah penduduk di sekitar daerah jalur.

Perahu cepat kami mulai melaju ke arah timur Sungai Musi meninggalkan Dermaga BKB yang menjadi pusatnya kita untuk menyeberang di atas sungai terpanjang di Sumatera Selatan. Ada sensasi nikmat yang jika digambarkan naik perahu menyusuri Sungai Musi kemudian dihempas oleh airnya yang konon katanya kalau belum tercebur atau kena air Sungai Musi maka belum sah datang ke Kota Palembang.

Sepanjang perjalanan kita akan melewati daerah transmigrasi atau dikenal sebagai daerah jalur. Daerah jalur di Sumatera Selatan memang dikenal sebagai orang yang dulunya merupakan datangan dari pulau Jawa dan akhirnya hidup menetap lama di daerah tersebut. Kita masih dapat melihat pemandangan rumah-rumah panggung kayu saling berdekatan. Kebun karet dan sawit di sepanjang jalur seolah pemandangan biasa karena rata-rata penduduk setempat merupakan petani.

Dibalik Kisah Konflik Gajah dan Manusia

SM Padang Sugihan Banyuasin

Lapangan gersang di SM Padang Sugihan, Banyuasin. Dikelilingi oleh hutan gelam yang dilindungi.

Terasa kecepatan speed boat mulai melambat. Angin sepoi-sepoi yang tadinya menutup katup mata sepanjang perjalanan perlahan menghilang. Kita sudah sampai di tempat tujuan. Awan-awan tampak seperti kapas menghiasi birunya langit di siang itu. Terik namun tidak mengalahkan rasa senang kami. Hamparan pohon gelam yang dilindungi mengelilingi sekitar SM Padang Sugihan. Secara umum kawasan ini merupakan ekosistem lahan basah atau rawa pasang surut karena genangan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Di lapangan terbuka luas dengan bendera merah putih berkibar di atas, saya melihat langsung habitat gajah Sumatera sedang asyik menikmati makan siang siang sekaligus berjemur. Sesekali melihat dari arah kejauhan gajah kecil berlarian di atas tanah becek dengan riang. Bukankah ini pemandangan yang indah, teman?

pondokan kayu

Pondokan kayu tempat berkumpul di SM Padang Sugihan

muara sugihan banyuasin

Mendengarkan sejarah singkat di SM Padang Sugihan

Kami digiring ke sebuah pondokan besar. Di dalam ruangan beratapkan seng kami dikenalkan dengan Pak Jumiran yang telah 30 tahunan lamanya di dunia pelatihan gajah. Pak Jumiran saat ini menjabat sebagai kepala para pawang gajah di Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan. Dia mulai menceritakan sekilas tentang karirnya sekaligus tentang PLG SM Padang Sugihan. Pengalamannya yang dia dapatkan dimulai dari Way Kambas, Lampung hingga ke Sebokor, Lahat. Harus diakui memang dia pawai dalam hal menangkap gajah liar, menjinakan kemudian melatih gajah seperti bisa mengalungkan bunga atau sekedar berpose duduk.

Jenis gajah yang dirawat merupakan Gajah Sumatera atau Elephas aximus sumatranus yang termasuk dalam subspesies dari gajah asia yang habitatnya hanya di Pulau Sumatera. Ciri gajah sumatera ini bertubuh lebih kecil daripada jenis gajah India tapi mirip kesamaan dengan gajah Thailand. Selain informasi mengenai jenis spesies, saya mengetahui bahwa seekor gajah memiliki masa hamil sekitar 24 bulan atau 2 tahun lamanya untuk dapat melahirkan anak gajah yang lucu dan menggemaskan.

lahan kebun sawit

Habitat gajah yang mulai terusik akibat pembukaan lahan kebun.

bonn challenge

Jarak gajah sangat dekat dengan kebun sawit milik warga setempat.

lingkungan gajah sehat

Sejumlah 30 gajah yang ada di SM Padang Sugihan, Banyuasin

Semakin hari lahan perkebunan dan hutan produksi terus dibuka yang mengakibatkan salah satu dampaknya ekosistem hutan terusik. Salah satunya kawanan gajah liar yang tinggal di hutan. Akibatnya dengan berubahnya fungsi hutan menjadi perkebunan tentunya ada pergeseran pandangan masyarakat mengenai keberadaan hewan liar tersebut yang lebih menganggap binatang tersebut sebagai hama yang merusak lahan perkebunan mereka atau dianggap sebagai mahluk yang membahayakan manusia sehingga “dihalalkan” untuk dimusnahkan dari habitat mereka.

Padahal gajah termasuk spesies yang pintar. Dia mampu merekam tiap jejak yang telah mereka lewati. Bahkan dulunya mereka tidak akan mengganggu gajah-gajah lainnya apabila mereka sudah bergerombol. Secara alami gajah memiliki jalur khusus yang akan dilewati dalam waktu-waktu tertentu. Gajah juga memiliki wilayah tempat dia mencari makan, tinggal dan kawin. Pada saat manusia masuk ke wilayah mereka secara tidak langsung gajah akhirnya merasa terdesak sehingga masuk ke area penduduk. Dari sana lah bermulai konflik hubungan gajah dan manusia.

Rasanya sebagian orang sudah mulai lupa bahwa sejatinya hewan-hewan tersebutlah merupakan “penduduk asli” yang telah tinggal di hutan itu sebelum kedatangan manusia-manusia yang membuka lahan untuk kepentingan bisnis semata tanpa menghiraukan keseimbangan alam, salah satunya gajah.

Mengenal Pusat Latihan Gajah SM Padang Sugihan, Banyuasin

gajah makan rumput

Indukan gajah sedang menikmati makan rumput

Ekowisata PLG Muara Padang sudah berdiri sejak tahun 1989 yang dimana sebelumnya terdapat di dua tempat yakni Muara Padang dan Sebokor. Gajah-gajah yang berada di sana dahulu merupakan penghuni di Desa Perangai, Merapi Selatan Lahat. Saya familiar dengan nama Desa Perangai, sehingga membuat saya menanyakan langsung kepada Pak Jumiran mengenai hubungan desa tersebut dengan PLG SM Padang Sugihan. Jawabannya di Sumsel memang memiliki dua sekolah gajah yaitu Desa Perangai, Lahat sebagai pusat dan SM Padang Sugihan termasuk dalam sub-nya dari yang ada di Desa Perangai. Alangkah takjubnya diri saya ini dapat berkunjung sekaligus ke dua tempat wisata yang ada di Sumatera Selatan.

Awalnya PLG SM ini memiliki misi untuk menghadapi gajah-gajah liar yang memasuki lahan penduduk. Kemudian gajah liar tersebut ditangkap dan dijinakkan. Menariknya dari proses penjinakkan gajah ini dilakukan dengan mengadopsi metode dari Thailand. Gajah liar yang sudah ditangkap nantinya akan diikat selama tiga hari lamanya agar tenaga mereka melemah dan dibuat mental mereka hingga down sehingga mereka akan lebih mudah dikendalikan. Apabila gajah masih sulit dijinakkan ada metode lain yaitu si gajah akan dipertemukan dengan gajah pikat serta digelitikin.

tim medis sm padang sugihan

Bapak Bejo, tim medis SM Padang Sugihan menjelaskan proses pengerungan gajah.

Gajah pikat merupakan gajah yang dapat mengiring mereka apabila mereka keluar dari jalur. Semua gajah pikat berjenis jantan dan berasal dari Way Kambas yang dipinjam selama proses penjinakkan gajah liar. Selain itu alasan kenapa gajah akan digelitik karena itu titik terlemah mereka. Mirip seperti manusia kan?

Lalu, berapa lama proses penjinakkan gajah liar agar mereka lebih jinak? Ternyata proses memakan waktu sekitar 6 bulan dan gajah akan diletakan pada “rung” atau semacam balok-balok kayu yang diikatkan pada gajah. Proses pengerungan ini sekaligus dilakukan untuk memilih pawang yang nantinya akan merawat gajah termasuk pemberian nama gajah.

Sekilas pada saat saya mendengar proses pengerungan ada rasa penyiksaan yang menyakitkan bagi si gajah. Namun, cara ini dipilih agar konflik antara manusia dan gajah dapat diminimalkan. Syukurlah sejak tahun 2006 tempat ini sudah tidak lagi menangkap gajah liar sehingga apabila disinyalin ada gajah liar maka pawang hanya mengusir atau mengerakkan gajah pikat untuk mengiring gajah liar kembali jalur. Sampai sekarang pun di luar kawasan SM Padang Sugihan masih terdapat sekitar 50 gajah liar namun terus dipantau habitatnya untuk tetap terjaga harmonisasi dengan manusia dan sekitar.

Berinteraksi Seru Bersama Gajah SM Padang Sugihan

pengalaman naik gajah

Pengalaman naik gajah di SM Padang Sugihan

Data yang saya himpun total jumlah gajah di kawasan suaka margasatwa ini berjumlah 30 gajah yang terdiri dari delapan jantan, delapan belas betina dan empat anak. Dengan total pawang berjumlah 40 orang untuk merawat gajah termasuk ada tim medis.

Saya meminta izin kepada Pak Setiono, salah satu pawang untuk menaikin gajah sekitar 5 menit dan berpesan agar tidak berkeliling jauh sebab tidak tega untuk berlama-lama di atas punggung gajah. Setelah badan saya di atas gajah dengan tangan memegang pundak si pawang, kami pun mulai berkeliling di dari tempat saya naik. Di tengah perjalanan tiba-tiba pak Setiono menggiring gajah ke arah tengah rombongan gajah lainnya. Lalu pada saat saya meminta untuk berputar arah ternyata ada anak gajah yang menghadang kami untuk pulang.

wisata gajah

Terima kasih sudah mengajak saya melihat habitat kalian.

jakarta post elephant

Foto saya naik gajah masuk ke headline Jakarta Post edisi 22 April 2017

Si anak gajah mungil ini sengaja memepetkan badannya ke gajah yang sedang kami naikin dan sesekali belalainya menyentuh kaki saya. Di antara gajah-gajah yang ada di SM Padang Sugihan, memang gajah mungil ini usil sekali dan suka mengganggu teman-temannya. Gerakannya seperti sedang ndusel memang menghentikan gerak jalan kami untuk kembali. Andai manusia dan hewan dapat hidup harmonis tentu saja dunia akan indah dan damai. Melihat pemandangan seperti ini membuat saya belajar untuk lebih baik dalam tiap perjalanan.

“Nah ini gajah memang usil nian. Sering mas dio galak ganggu kawan-kawannyo,” sambil Pak Setiono mencolek telinga anak gajah dengan kakinya.

“Memang namonyo siapo pak?” tanyaku kembali.

“Belum ado namo mas kalau untuk anak gajah yang masih kecik, tunggu ado yang pengerungan lagi sambil motong ayam,” balasnya dengan sangat fasih berbahasa Palembang. Proses pemberian nama gajah dilakukan sejumlah ritual seperti pemotongan seekor ayam barulah disepakati nama gajah. Jeda waktu menunggu anak gajah untuk memberikan kami jalan, saya berkesempatan untuk bertanya-tanya dengan Pak Setiono yang sudah 15 tahun berpindah dari Way Kambas untuk merawat gajah-gajah di PLG SM Padang Sugihan.

Saya pun diberitahu kalau sedang ada gajah pikat yang mengalami masa emas. Masa emas di sini sebagai masa untuk gajah birahi kawin dan tidak boleh ada keributan ada interaksi dengan manusia. Pada masa emas ternyata gajah jantan akan dikumpulkan dengan beberapa gajah betina lalu gajah jantan akan memilih sendiri siapa yang akan dikawinkan. Proses kawin gajah berlangsung sebentar namun untuk birahi gajah juga tidak sebentar. Salah satu faktornya penyebabnya adalah kualitas makanan gajah yang berbanding lurus berpengaruh terhadap mood dan birahi.

ekowisata plg sm padang sugihan

Anak gajah mungil yang menggemaskan.

harmonisasi habitat gajah padang sugihan

Kedekatan hubungan indukan gajah dengan anaknya.

merawat gajah

Pawang tampak bahagia sedang membersihkan kaki gajah

spesies gajah pintar

Gajah termasuk spesies hewan yang cerdas.

“Pak itu kenapo kaki gajah di rantai yo? Kan kasihan lihatnyo..”

“Itu supayo mereka larinyo dak jauh soalnyo kalau gajah dewasa itu kalau lari kakinyo lumayan jauh. Beda samo anak gajah tadi yang lari itu idak dirantai soalnyo masih kecik dan dio deket samo induknyo,” jawabnya waktunya saya selesai diajak tur keliling menaikin gajah. Saya dibantu turun oleh pawang lainnya untuk dapat menjangkau ke anjungan tempat semula saya naik. Dari atas gajah yang saya naikin ternyata saya bisa melihat pemandangan gajah secara utuh bagaimana tenangnya hidup mereka di saat kebutuhan makan, air dan habitat yang terawat.

Dalung dan Teman-Temannya, Butuh Perhatian Kita

gajah plg sm padang sugihan

Dalung, gajah jantan berusia 9 tahun di PLG SM Padang Sugihan, Banyuasin

Melihat rombongan lainnya sedang asyik berinteraksi dengan gajah dan diawasi oleh si pawang membuat saya juga asyik untuk mengamati di sekeliling suaka margasatwa ini. Tepat di samping saya berdiri ada pawang dan gajah yang sedang dia pegang.

“Boleh pak di elus belalainyo?” tanya saya sebelum berani berkenalan dengan gajah di depan saya.

“Namonyo Dalung, kalau gajah ini baru umur 9 tahun,” seru si pawang menjelaskan sembari menjaga Dalu Dalung merupakan gajah jantan yang berusia 9 tahun dan tingginya sudah menyamai tinggi badan saya. Dia sedang menikmati memakan rumput-rumput di sekitarnya menggunakan belalainya. Caranya untuk mendapatkan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari untuk meraup.

Berpose bersama Dalung dari dekat.

Pada saat sedang mengamati Dalung, tiba-tiba dia mengambil gancu dari tangan pawang. Seolah mau berkata tolong jangan sakiti kami. Biarkan kami hidup dan berkembang biak di alam terbuka. Bagi hati manusia yang masih memiliki rasa keprimanusiaan sudah pasti kita akan iba apabila melihat mimik wajah mereka dari dekat. Bayang-bayang proses penjinakan gajah memang membuat sebagian kita tidak tega apabila ingin naik di atas gajah. Tapi semuanya kembali ke hati nurani kalian apakah memilih untuk naik atau cukup menikmati habitat mereka dengan cara melihat dan menikmati saja.

Saya melihat adanya potensi yang dapat dikembangkan dari ekowisata di Padang Sugihan. Kawasan SM Padang Sugihan merupakan habitat alami gajah maka di dalamnya didirikan Pusat Latihan Gajah yang lokasinya dijadikan ekowisata. Kalau saja pemerintah daerah mengembangkan wisata untuk menyusuri Sungai Musi hingga pedalaman Banyuasin melalui ekowisata, rasanya akan membantu mengembangkan perekonomian perkampungan kecil yang ada disepanjang tepian Sungai Musi serta membantu dalam usaha untuk menjaga kelestarian hayati di hutan ini. Sekaligus mendukung program kenaikan habitat 10% untuk tahun 2019 nanti.

Kondisi bangunan pondokan kayu yang sudah tidak digunakan lagi

kolam mandi gajah

Air sungai dijadikan kolam mandi gajah di sekitar.

Kondisi yang saya jumpai merupakan lapangan yang gersang, terdapat beberapa bangunan kayu yang nyaris roboh dan sudah tidak bisa ditempati lagi. Selain itu untuk fasilitas perawatan gajah seperti kolam mandi yang belum tersedia membuat gajah-gajah ini harus berlama-lama di dalam aliran sungai terdekat. Selesai mandi, gajah-gajah harus menunggu air sungai naik baru gajah bisa naik ke atas karena pengaruh tanah yang lembut. Kemudian, fasilitas seperti relung kayu agar gajah bisa berteduh. Saat kami berkunjung hanya ada sebuah pos penjagaan dekat sungai yang masih terlihat kokoh dan sering jadi lokasi istirahat pelatih-pelatih gajah ini. Harapan saya semoga kawasan ekowisata SM. Padang Sugihan ini mendapatkan perhatian sekaligus pengembangan.

Apalagi ada kemungkinan lokasi PLG SM Padang Sugihan akan menjadi tempat kunjungan para delegasi The 1st Asia Bonn Challenge dari 30 negara pada tanggal 9 – 10 Mei 2017 di Sumatera Selatan. Sudah pasti Dalung dan kawan-kawannya sangat senang menyambut kalian. Dengan cukup menikmati habitat mereka dapat menjadi bentuk perhatian kita yang lebih baik dalam usaha untuk menjaga kelestarian habitat mereka.

Iklan

30 pemikiran pada “Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Potret Eksistensi Gajah Sumatera

  1. Seneng kalau melihat di SumSel masih ada ekowisata gini, padahal kalau dari pesawat sebelum landing pemandangannya hampir semua sawit. Semoga tak sampai digusur juga jadi sawit ya, koh. Oya, kalau mau masuk ke sana ada karcis gitu nggak atau perlu ijin?

    Terus, terus, apa kabar yang mau ke sana sendirian, tetap bayar 2juta?

    • Daerahnya lumayan luas dengan dikelilingi Pohon Gelam. Namun masih banyak sektor buat peningkatan agar suaka margasatwa ini bisa jadi ekowisata baru di Sumatera Selatan.

      Makasih ya mbak Selena sudah mampir di blogku.

  2. Wah, kirain gajah dikasih nama sesuka pawangnya saja. Gak pake ritual apa2. Aku pengen banget lihat gajah di habitat aslinya… suatu hari nanti, aku dan anak-anakku, harus ke sini.

  3. baru tahu saya ko kalau di Sumsel ada juga pelatihan gajah.. wah foto-fotonya keren.. suka deh apalagi yang foto pawang membersihkan kaki gajah.. super

    dan baru tahu juga kalau kasih nama gajah pakai ritual dulu… jadi lebih tahu tentang suaka margasatwa padang sugihan deh ko, terima kasih infonya

    • Iya aku pun kaget… Ini bisa jadi aset wisata baru buat Sumsel kalau bisa dikelola lagi. Aku senang banget bisa ke sini soalnya bisa banyak nanya hal-hal yang bikin aku penasaran.

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s