Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang

Terkadang orang-orang tak memahami apa itu cagar budaya, sehingga kurang menghargai. Padahal sejarah sebuah kota atau daerah ditentukan adanya perlindungan terhadap cagar budaya. Terlihat sepele tapi nyatanya bisa mencabut kebermaknaan perjalanan sebuah tempat untuk diwariskan ke anak cucu di masa mendatang. Sebuah tragedi yang saya rasakan adalah hilangnya cendawan Pasar Cinde karya Thomas Karsten. Tahun 2017, pasar tersebut dirobohkan dan rencana diganti pusat perbelanjaan modern untuk kepentingan ekonomi. Sayangnya puing bangunan sampai sekarang belum ada kejelasan setelah dihancurkan.

pasar cinde palembang - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Bangunan Pasar Cinde yang sudah hancur

Tidak adanya cagar budaya tetap di Kota Palembang yang memiliki sejarah panjang terasa miris. Ketika berkunjung ke Kampung Kapitan Palembang pertama kali, saya berharap juga tidak ikut musnah. Kampung pecinaan ini dulunya menjadi pusat perdagangan, hingga jadi pusat pemerintahan untuk wilayah Seberang Ulu di masa kolonial Belanda. Rumah yang kental dengan nuansa Cina dan Palembang ini dulunya memiliki tiga rumah yang berbaris rapi menghadap Sungai Musi. Namun, satu dari tiga rumah telah hancur karena kurang perawatan. Serta dengan kondisi memprihatinkan dan terkendala biaya, inilah wajah Rumah Kapitan saat ini.

Sekilas Rumah Kapitan

kampung kapitan palembang - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Perkarangan Rumah Kapitan di 7 Ulu Palembang

Jauh sebelum Indonesia terbentuk, masyarakat sudah menetap di tepian Sungai Musi yang mengalir di Kota Palembang. Puluhan kampung terbentuk bersama tradisi dan budayanya. Salah satunya Kampung Kapitan, yang berada di kawasan 7 Ulu. Rumah tua bernuansa Tionghoa, milik Mayor Tjoa Kie Tjuan kini telah menjadi cagar budaya yang terpinggirkan. Rumah seluas 165,9 x 85,6 meter tersebut sekarang hanya digunakan sebagai Rumah Abu, dulunya Kantor Kapitan dan Rumah Tinggal yang sekarang dihuni oleh Bapak Mulyadi Tjoa sebagai penerus generasi ke-14. Lebar rumah tersebut sekitar 24 x 50 meter yang dilengkapi 4 kamar besar dan 2 kamar kecil di setiap rumah. Serta dilengkapi dengan penjara tepat di bawah dua rumah tua tersebut.

ruang terbuka kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Selalu senang mengajak teman ke Kampung Kapitan Palembang
kapitan tionghoa - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Foto Kapitan Tjoa Ham Liem

Rumah Kapitan awalnya dihuni keluarga besar dari nenek moyang Tjoa Ham Him yang berasal dari Provinsi Hok Kian Kabupaten Ching Chow. Rombongan keluarga besar ini datang ke Palembang perkiraan tahun 1850. Kedatangan mereka juga ikut membawa rombongan tukang masak, anak buah, serta dayang-dayangnya.

Nama kapitan sendiri diambil dari nama pangkat yang dimiliki oleh Mayor Tjoa Kie Tjuan yaitu Kapitan Tjoa Ham Liem. Pada masa itu, nama Kapitan dikenal ketika peralihan pemerintahan Kesultanan Palembang menjadi Keresidenan Palembang. Beberapa kelompok penduduk Timur Asing diberi kebebasan untuk dapat bertempat tinggal di daratan dalam bentuk berkelompok membentuk kampung dengan mempertahankan tradisi kebudayaan asal. Kelompok keturunan Arab memilih bermukim di Kampung Arab 10 Ulu, sedangkan kelompok keturunan Tionghoa bermukim di Kampung Pecinaan 7 Ulu.

Belanda lalu memberikan gelar Kapitan yang merupakan gelar kepada masing-masing keturunan demi mempermudah Belanda dalam proses administrasi serta penarikan pajak dan pungutan lainnya dari masyarakat Tionghoa untuk kolonial Belanda.

tampak samping kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Rumah tempat tinggal yang masih dijaga keasliannya
tampak depan kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Rumah Kapitan yang masih memiliki perpaduan gaya Palembang, Cina dan Eropa

Pada masa itu, orang datangan bukan penduduk asli hanya boleh tinggal di rumah rakit di atas Sungai Musi. Hanya mereka yang mempunyai hak status terpandang baru boleh memiliki rumah panggung. Kegiatan Kapitan Tjoa Ham Liem dalam melayani masyarakatnya berpusat di rumah panggung utama yang kini menjadi rumah abu dan rumah bagian belakang sudah hancur. Dari rumah panggung utama, dulunya berupa perairan Sungai Musi sehingga kapitan bisa langsung melihat kapal-kapal yang datang singgah menepi dari jendela ruang kerja. Seiring dengan waktu, kapitan mulai kehilangan fungsi dan perannya dalam masyarakat Palembang.

Rumah Tua Bernilai Seni Tinggi

meja altar kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Rumah Abu yang menjadi tempat utama untuk dikunjungi di Kampung Kapitan Palembang

Akses menuju Kampung Kapitan bisa melalui sungai dan darat karena berada di pinggir sungai melewati Jembatan Ampera. Warga sekitar kampung mayoritas mahir membuat pempek, sebab Pak Mulyadi dulunya adalah pengepul pempek keliling di area tengah rumah kapitan. Struktur bangunan rumah yang ditinggalkan masih menyimpan dua pengaruh budaya, yakni budaya Tiongkok dan Palembang. Budaya Tiongkok bisa dilihat dari bagian dalam rumah dan bagian teras rumah.

Perpaduan ini dapat dipahami sebab pada masa akhir pemerintahan Kesultanan Palembang masyarakat Tionghoa mulai membaur dengan masyarakat asli Palembang melalui perkawinan dan pengaruh budaya. Pembauran tersebut juga mereka wujud nyatakan dalam bentuk rumah tinggal mereka.

kamar pangeran tan bun an - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Kamar yang disiapkan untuk Pangeran Tan Bun An dan Fatimah dalam cerita legenda Pulau Kemaro

Dari perkembangan permukimannya, orang-orang kampung dulu hunian mereka di atas air dengan rumah rakit. Lalu, berpindah ke darat dengan rumah panggung termasuk dengan segala macam percampuran elemen arsitekturnya. Semakin berkembangnya zaman ada juga rumah yang terbuat dan menggunakan bahan beton. Lokasi ini juga mempunyai makna bahwa mereka dari bangsa pendatang berubah derajat sosialnya hingga menjadi golongan yang cukup disegani dan masuk dalam lingkungan penguasa.

Kedua rumah kapitan sempat ditawar Rp 250 miliar. Namun, sebagai generasi penerus, Pak Mulyadi tidak pernah berniat untuk menjual kedua rumah tersebut. Lantaran memang rumah kapitan merupakan peninggalan para leluhur. Dalam kepercayaan yang dianut oleh Pak Mulyadi dapat berkomunikasi dengan roh-roh para leluhur yang meminta dia untuk tetap selalu berada di rumah kapitan.

siti fatimah kemaro - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Lukisan, meja, dan kursi yang masih terselamatkan dari generasi sebelumnya
pagoda 9 lantai - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Kepingan batu marmer pagoda yang sudah rusak

Salah satu yang cukup mencolok adalah bangunan batu pagoda yang berdiri tegak persis di tengah lapangan yang beralaskan keramik. Batu pagoda ini didatangkan khusus dari Cina sebagai sumbangan untuk Kampung Kapitan. Hanya disayangkan batu-batu pagoda ini juga hancur akibat anak-anak kecil yang memanjat pagoda saat bermain. Taman bunga di atas beton awalnya dipasang lampu untuk mempercantik tempat, namun tanpa disadari telah merubah wajah asli dari Kampung Kapitan yaitu ruang terbuka yang dulunya digunakan sebagai lapangan tempat warga bermusyawarah serta penghakiman.

Satu hal yang juga disayangkan adalah cagar budaya juga bukan karena benda budaya yang masih ada. Melainkan juga perlu dukungan dari lingkungan sekitar dengan tidak adanya bangunan tinggi yang menutupi pemandangan. Pada waktu itu dari teras rumah kapitan, kita bisa langsung melihat aliran Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Sayangnya saat ini, pemandangan tersebut sudah tidak bisa dilihat kembali karena tertutupi oleh bangunan tinggi milik warga.

Isi Dalam Rumah Penuh Sejarah

Pasa masa itu, tiga rumah kapitan memiliki fungsi yang berbeda. Rumah utama dulunya digunakan sebagai tempat pemerintahan, sedangkan rumah yang sekarang sudah hancur dan berencana diubah menjadi masjid dulunya untuk menerima tamu atau keluarga dari luar yang sedang singgah. Sedangkan rumah terakhir dijadikan tempat berkumpul keluarga inti dari kapitan yang kini dijadikan sebagai tempat tinggal keturunan kapitan hingga sekarang.

Rumah kayu didirikan pertama pada tahun 1600 dan rumah batu pada 1800. Dua rumah tersebut letaknya bersebelahan dan sama-sama besar. Pondasi bangunan rumah dengan kayu pulai yang tahan lama. Meski pondasi bangunan rumah ini masih kokoh, sayangnya di beberapa bagian sudah lapuk termakan usia, apalagi pada bagian belakang rumah utama. Ciri khas rumah tua sudah tidak bersisa. Penghubung dua rumah tua tersebut adalah selasar di bagian tengah rumah. Ciri rumah khas Palembang memiliki selasar yang luas. Fungsi selasar digunakan saat sedang mengadakan pesta atau pertemuan.

Corak arsitektur disisipi oleh nuansa budaya Melayu dan Eropa-Belanda. Terlihat dari bentuk pilar di bagian depan dengan tengah yang menggembung serta jendela tinggi besar seperti ciri khas bangunan Eropa. Sedangkan bagian depan rumah ini mengambil bentuk rumah limas khas Palembang dan Melayu. Kemudian di bagian tengah rumah, terdapat ruang terbuka yang jadi ciri khas bangunan Cina. Ruang terbuka ini memiliki fungsi sebagai sumber sirkulasi udara dan masuknya cahaya. Beberapa lambang matahari tersebar di dalam rumah. Sebuah kompas menempel tepat di pintu masuk. Simbol seperti mata kompas seperti kemudi kapal melambangkan bahwa asal usul nenek moyang kita seorang pelaut.

baju kebaya encim - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Pengujung ke Kampung Kapitan Palembang bisa mencoba baju kebaya encim dan baju kapitan untuk berfoto di sekitar rumah

Banyak objek yang bisa kita jumpa dari Rumah Kapitan. Di dalam rumah bersejarah tersebut terdapat beberapa benda peninggalan Kapitan Cina yang bisa dilihat. Antara lain meja abu para leluhur, altar sembahyang serta lukisan-lukisan asli yang dibawa dari Cina. Saat berkunjung kita juga bisa meminjam baju kapitan dan baju kebaya encim sebagai fasilitas untuk pengunjung berfoto-foto di sekitar kawasan Rumah Kapitan.

Mengenal Budaya Ciamsi dan Poapoe

ciamsi - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Pak Mulyadi menjelaskan tentang Ciamsi dan Poapoe

Dalam rumah tinggal Pak Mulyadi, ada altar sembahyang dengan patung-patung dewa. Altar sembahyang berwarna merah ini posisinya persis menghadap pintu masuk. Pada umumnya sebagian besar masyarakat Tionghoa dan juga para penganut kepercayaan mempercayai sebuah budaya bernama Ciamsi. Ciam, artinya adalah batang bambu yang digunakan untuk meramal. Lalu ada Ciu ciam yang berarti memohon lewat media bambu yang nanti hasilnya berupa kertas berisi syair-syair kuno berisi petunjuk dari permohonan kita. Ciamsi pada masa dulu termasuk alat peramalan hingga sekarang masih dilakukan oleh orang Tionghoa.

rumah doa kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Altar sembahyang di dalam Rumah Kapitan Palembang
tentang ciamsi - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Selepas mendapatkan bambu Ciamsi, kita bisa membaca makna Ciamsi

Sedangkan, Poapoe juga merupakan alat ramal yang menggunakan dua bilah kayu berbentuk seperti kerang. Nantinya ketika kita sudah mendapatkan angka dari Ciamsi, kita akan melakukan Poapoe. Apabila satu kayu terbuka dan tertutup memiliki arti permohonan kita bisa dikabulkan, sedangkan apabila tertutup atau terbuka semua memiliki arti permohonan kita masih belum bisa dikabulkan atau kita harus lebih giat berusaha. Ciamsi dan Poapoe seolah satu paket budaya Tionghoa yang masih berkembang hingga saat ini.

Merawat Cagar Juga Merawat Budaya

halaman kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Ruang terbuka di Kampung Kapitan Palembang

Salah satu jejak budaya yang masih tertinggal di Palembang adalah budaya Tionghoa. Hal ini mengingat Palembang dahulu kala yang jadi persinggahan orang Cina dan kaum Peranakan. Beberapa elemen bernilai historis tersebut terlihat jelas di Kampung Kapitan yang diwakili dua bangunan rumah dan ruang terbuka yang menjadi tempat berkumpul dan musyawarah besar pada zaman dulu; kini menjadi taman dengan ikon pagoda di tengahnya. Padahal, ruang terbuka termasuk bagian penting dalam kawasan bersejarah. Ruang terbuka bukanlah ruang tanpa makna yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat fasilitas baru yang tidak berkonteks, sebab bisa saja ruang terbuka itulah yang menjadi identitas kawasan dan bahkan “wajah kota”.

pemandangan jembatan ampera - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Dulunya dari teras Kampung Kapitan Palembang ini bisa melihat Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Sayangnya, meski merupakan tempat bersejarah dengan warisan budaya bernilai tinggi, Kampung Kapitan terkesan terabaikan. Perkembangan yang pesat dalam jangka waktu singkat membuat Kampung Kapitan telah mengubah wajah keseluruhan di kawasan ini. Saya termasuk orang yang merasakan perubahan besar itu terjadi. Ketika saya masih berumur 10 tahun sempat berkunjung pertama kali ke tempat rumah Pak Mulyadi ketika masih mengelola industri pempek keliling. Kemudian perubahan lapangan kosong menjadi taman lampu dan taman bunga dengan keramik. Perubahan wajah kawasan Kampung Kapitan tentu juga disertai dengan perubahan konfigurasi ruang di dalam kawasan tersebut.

cagar budaya kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Cagar Budaya Indonesia : Kampung Kapitan Palembang

Rumah Kapitan termasuk bangunan cagar budaya Indonesia yang bernilai penting bagi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan studi perkembangan arsitektur bangunan cagar budaya di Indonesia. Apabila kita kaitkan dengan UU Cagar Budaya No 11 tahun 2010, maka Kampung Kapitan sebenarnya mempunyai potensi yang kuat untuk menjadi benda cagar budaya.

Beberapa poin mengenai kriteria benda cagar budaya ini akan sesuai dengan kondisi Kampung Kapitan.

No.

Kriteria Benda Cagar Budaya (Pasal 55 UU No. 11 Tahun 2010)

Kondisi Kampung Kapitan

1.

Usia lebih dari 50 tahun atau lebih Kampung Kapitan diperkirakan sudah ada sejak akhir tahun 1890an atau awal tahun 1900an.

2.

Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun Gaya bangunan Eklektik. Rumah bergaya eklektik merupakan simbol kekayaan dan kemakmuran. Semakin mewah isi rumah, semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang untuk diakui.

3.

Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan Kampung Kapitan punya peranan penting bagi perkembangan kota Palembang.

4.

Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa Memiliki nilai budaya yang tinggi sebagai artefak perkembangan bagi orang Tionghoa.

Sumber : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota; Kajian Perubahan Ruang Terbuka pada Kawasan Bersejarah dengan Metode Space Syntax karya Johannes Adiyanto

Sejauh ini hanya Rumah Abu atau Rumah Utama yang baru mengalami revitalisasi serta perubahan yang mau tidak mau harus terjadi. Sedangkan, rumah utama yang menjadi tempat tinggal masih mempertahankan warna dan bentuk dari awal bangunan. Bagian depan Rumah Abu masih memiliki langgam bangunan yang menjadi ciri tiga kebudayaan yaitu Palembang, Cina dan Belanda. Faktor cuaca seperti hujan dan panas memang tidak bisa dihindari sehingga atap pada bagian belakang rumah hancur dan lapuk. Pak Mulyadi juga mengatakan memang sudah sulit menemukan jenis dan ukuran kayu yang sama digunakan sebagai bahan material baru untuk mengikuti bentuk asli dari struktur bangunan.

batu asli rumah kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Struktur batu bangunan awal rumah Kapitan masih ada
rumah kapitan belakang - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Selasar rumah kapitan di bagian belakang yang menjadi tempat tinggal generasi penerus kapitan
rumah bagian belakang - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Rumah tua memiliki ciri ruang terbuka untuk penerangan

Kurangnya penangan yang tepat membuat Rumah Kapitan sedikit demi sedikit mengalami kerusakan yang fatal dan hampir beberapa bagian arsitekturnya hilang. Seperti halnya kerusakan pada struktur bangunan yang terjadi sistematis karena tidak terawat yang terdapat pada bagian interiornya. Antara lain seperti lantai yang hancur/berlubang, rapuh pada struktur lantainya karena menggunakan bahan kayu dan tidak dirawat. Bentuk plafon yang sudah tidak ada, beberapa bagian dinding kayu yang mengalami pengelupasan dan mengalami pecahan pada dinding batu.

Sedangkan pada bagian eksteriornya hanya beberapa yaitu pada ornamen handrail dan dinding masih tampak asli. Padahal di Palembang, bangunan bersejarah arsitektur Cina Belanda sudah langka karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang warisan budaya yang berdampak pada hilangnya satu per satu bangunan arsitektur Cina Belanda yang ada. Hal tersebut juga membuat berkurangnya nilai kebudayaan, nilai sejarah, serta nilai sosial yang terkandung dalam bangunan dan lingkungan sekitar Rumah Abu tersebut hampir musnah.

rumah tua kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Handrail, jendela, dan pintu yang masih asli di Kampung Kapitan Palembang
rumah kapitan rusak - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Bagian Rumah Abu yang sudah hancur dan tidak bisa digunakan lagi
taman bunga kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Area terbuka di Rumah Abu yang rencana akan direvitalisasi menjadi taman

Kunjungan terakhir ke Rumah Kapitan, saya mendapatkan kabar baik dari Pak Mulyadi bahwa mereka mendapat bantuan untuk membangun toilet umum serta membuat taman di belakang Rumah Abu seperti kondisi awal. Tentu saja saya ikut senang mendengar kabar baik tersebut, sedangkan rumah yang hancur dan diniatkan untuk membangun masjid pun belum ada perkembangan karena dana.

Rawat atau Musnah!

pagoda kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Mengenalkan Kampung Kapitan Palembang pada generasi penerus

Peran serta dari seluruh stakeholder memang diperlukan. Tidak bisa sepenuhnya dari pejabat setempat namun juga dukungan masyarakat Kampung Kapitan yang kini telah berbaur dengan warga lokal. Membina masyarakat setempat agar sadar wisata sehingga dapat memberi manfaat dalam pariwisata bagaimana memanfaatkan wilayah tersebut sebagai aset wisata yang bisa digunakan untuk perbaikan ekonomi.

rumah kapitan hancur - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Satu dari tiga rumah kapitan sudah hancur. Jadi kamu pilih rawat atau musnah?
mulyadi kampung kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Pak Mulyadi selalu ada di Rumah Kapitan, ketika berkunjung temui saja beliau.

 

BACA JUGA :  Jelajah Raja Ampat: Melihat Wayag Kecil Lewat Painemo (Bagian 3)
generasi milenial kapitan - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Teman-teman yang selalu saya ajak ke Kampung Kapitan Palembang ketika mengikuti acara Palembang Food Tours
tour guide kampung kapitan palembang - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang
Pak Mulyadi selalu senang menerima tamu yang datang

Renungkan saja apabila bangunan Rumah Kapitan ini musnah yang seharusnya dikonservasi karena merupakan bangunan bersejarah arsitektur Cina Belanda yang sudah langka. Akibat kurangnya pemahaman masyarakat tentang warisan budaya bisa berdampak berkurangnya nilai kebudayaan, nilai sejarah, serta nilai sosial yang terkandung dalam bangunan dan lingkungan sekitar Rumah Kapitan. Padahal lokasinya yang dekat Sungai Musi dapat menjadi aset untuk anak cucu di masa mendatang agar mengenal asal usul mereka.

Mengenal sejarah masa lalu etnis Tionghoa di Palembang menjadi semakin menyenangkan lewat Kampung Kapitan. Cara yang paling sederhana bisa kita lakukan adalah kunjungi tempat tersebut untuk melihat dan merasakan pengalaman. Agar keberlanjutan maka sebarkan informasi mengenai cagar budaya supaya semakin diketahui banyak orang. Pada akhirnya, kawasan pecinan ini merupakan wujud keberagaman dan harmonisasi yang ada di Palembang. Di saat masyarakat lokal semakin tidak memahami sejarah lokal sendiri.

Alamat :
Kampung Kapitan Palembang
Jl. KH. Azhari, 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I,
Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111

HTM : Rp5.000/orang

***

Ayo kita turut berpartisipasi dengan menceritakan Cagar Budaya Indonesia di sekitar kita melalui kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!

info lomba 300x300 - Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang

Advertisements
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

18 thoughts on “Cagar Budaya Indonesia : Kapitan, Dalam Kenangan Palembang

  1. Sayangnya dulu waktu saya ke Palembang nggak sempat kemari ya Mas. Padahal banyak hal yang bisa dipelajari di sini. Semoga suatu saat saya bisa ke Palembang lagi 😁

  2. Waktu ke Palembang tahun lalu dan mampir ke sini, aku merasa sayang banget sama tempat ini.
    Klo dirawat, cantik banget, tapi sayang beneran sayang. Tempat ini jadi kayak rumah yg siap ditinggal penghuninya.
    Sayang bgt.

    Oh iya Pasar Cinde itu cantik ya, pilar2nya tinggi gitu, koh?
    Ah, gemes jadinya klo tempat2 bersejarah seperti itu diubah jd bangunan modern dan dilupakan sejarahnya. Huhu

    1. Wah kemaren sempat kabur ke sini ya, Mel? Iya tempat ini kayak rumah yang siap ditinggal penghuninya, cuma roh nenek moyangnya gak izinin.

      Pasar Cinde memang punya ciri dari pilar cendawan tinggi. Info yang aku dengar pada saat mau dihancurkan, cendawan masih tetap dipertahankan cuma ternyata hancur semua.

  3. Pasar Cinde mirip dengan Pasar Johar di Semarang, karya Thomas Karsten. Sama ga ya arsiteknya? Sayang banget, malah mangkrak.
    Ulasannya lengkap banget. Jadi pengen ke Palembang…

    1. Yup, sekarang tinggal bangunan kosong saja kalau Pasar Cinde. Cuma orang-orang yang biasa jual jadi jualan di pasar kaget gitu di pinggiran puing. Makanya semoga yang Kampung Kapitan ini tetap terjaga bentuknya.

  4. Sayang banget yah, Kak, perihal Pasar Cinde yang dirobohkan itu. Padahal di Palembang masih banyak tanah kosong. Seharusnya dipugar itu pasar bukan dimusnahkan. BTW, aku baru tahu ada kota kaca susunan batu pertama di Rumah Kapitan

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.