Privilege Menjadi Blogger

Enak ya jadi blogger. Lebih bebas. Bisa jalan kemana saja dan diongkosi, gratis. Dapat gadget terbaru juga gratis.

Pernyataan ini membuat saya mendelik melihat orang yang bertanya. It made me seriously examine my own privilege as a blogger.

Bahkan ada teman juga tanya, apa jadi blogger bisa punya penghasilan bulanan? Penghasilan blogger sampai sejauh ini memang belum bisa menjadi satu penghasilan tetap, tapi setidaknya penghasilan saya dari blog bisa untuk bayar makanan sendiri di restoran yang saya suka dan ulas. Yeah! itu privilege saya.

Privilege yang dirasa sebagai Blogger

Pernahkah kamu merasa punya hak istimewa (privilege) sebagai blogger? Saya boleh jawab ya saya pernah dan itu membuat saya belajar untuk lebih baik memanfaatkan kesempatan yang diberi. Nggak dipungkiri blogger suka mendapat privilege tersebut. Misalnya dalam hal bersifat undangan famtrip, saya pernah mendapat privilege sepanjang perjalanan diiringi oleh forerider. Rasanya kayak kita diarak-arak keliling. Selain itu juga pernah misalnya mendapat kursi paling depan diantara undangan karena mendapat akses kartu sebagai media. Dan, privilege paling membuat saya beruntung adalah kesempatan untuk mengujungi tempat-tempat baru untuk belajar.

Hal kecil lainnya adalah ketika ada tempat makan baru yang buka, kemudian saya mendapat undangan untuk mencoba menu makanan tersebut pertama kali. Mendapat tawaran menginap di hotel berbintang lalu menikmati fasilitas. Atau juga bisa ada produk baru launching lalu brand memberikan tawaran untuk mencoba.

deddyhuang - Privilege Menjadi Blogger
This is me

Ya, kalau saya berjalan dengan biaya sendiri mungkin saya akan membagi berapa biaya yang akan saya keluarkan dalam satu hari. Mungkin lebih memilih makan di pinggir jalan daripada restoran mewah, berjalan kaki daripada duduk di bus.

Semuanya ini saya bilang ada privilege sebagai blogger, media, influencer, selebgram, dan lainnya apalah itu yang menjadi sebutan kalian. Namun, perlu diingat tidak semuanya didapat dengan gratis cuma-cuma. Saya harus menukar pakai exposure tiap projek yang saya ambil. Meracik agar tulisan, foto dan promosi yang saya lakukan memang sesuai kebutuhan audience saya. Mudah? Kadang saya harus mengurangi jatah tidur, membayar beberapa kopi untuk tetep bisa kerja, dan lainnya.

Tidak sedikit juga orang akan nyinyir dan merasa kalau privilege yang didapat membuat mereka bukan menjadi informasi melainkan ajang untuk saling iri. Kok, dia bisa dapat, sedangkan aku tidak? Saya sudah sering mendapat cerita seperti itu.

Manusiawi sekali orang akan ribut dan iri karena hidup ini akan tenang ketika dia mendapat “jatah”. Jawabannya, ya berarti bukan rejeki kita saja. Akan ada rejeki lain sehingga saya mengontrol hati saya untuk tidak memendam rasa negatif.

Orang dengan Privilege punya Peluang Lebih Besar

Saya suka berjumpa dan tahu dengan orang-orang sukses yang punya privilege. Sebagian dari mereka menggunakan hak tersebut, sebagian lagi memilih tidak. Ketika mereka memilih untuk menggunakan privilege biasanya karena mereka sedang terdesak. Satu waktu saya sedang meeting dengan teman mengenai membantu klien dengan pro-bono. Teman saya itu bilang, kasihan teman-teman lain kalau pro-bono sebab mereka tidak punya privilege seperti teman saya apabila pro-bono. Ya benar juga, teman saya jika pro-bono setidaknya dia mendapat exposure dari kliennya. Sedangkan, orang-orang yang tidak mendapat exposure akan menjadi sia-sia saja. Karyanya tidak dilihat.

Selepas mendapat privilege, saya merenung sendiri. Ya, bersyukur saja karena saya bisa punya kesempatan yang mungkin saja tidak didapatkan oleh setiap orang yang juga sama-sama menginginkan kesempatan. Namun, tenang saya tidak ingin pamer dengan yang saya dapatkan karena tugas saya adalah kembali menceritakan pengalaman tersebut untuk kalian.

Ketika saya memuji spontan teman dengan kata “beruntung” ke teman-teman yang sangat mudah buat dia mendapat berbagai tawaran hingga melakukan perjalanan keliling dunia seperti semuanya untuk dia saja. Di situ, saya lupa akan satu hal yaitu saya lupa kalau dia telah bekerja keras sebagai travel blogger untuk bisa sampai ke tempatnya sekarang. Bukankah kita tidak tahu pengorbanan yang telah dia lakukan?

Sudah Ada Jalannya Masing-masing

Meski privilege memang salah satu faktor keberhasilan, cuma saya tetap percaya kita punya jalan masing-masing. Sekalipun saya tidak terlahir di keluarga Bakrie atau bagian keluarga dari salah satu Crazy Rich Surabaya yang terlahir dengan banyak kemudahan dan akses finansial.

Sebagai blogger, ada tingkatannya sendiri itu yang saya tahu. Saya menyadari adanya tingkatan privilege seperti itu, akhirnya menjadi termotivasi dan bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Meskipun jalan menuju kesuksesan dan kekayaan setiap orang akan berbeda, dan meskipun privilege menjadi salah satu faktor menuju keberhasilan, semua orang pasti tetap punya jalan.

Tahu Kapasitas Diri

Sebagai orang yang gemar jalan-jalan, blog menjadi media untuk saya berbagi baik tulisan, foto dan video. Bahkan tanpa saya sadari justru membuka peluang-peluang baru yang tidak saya duga untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Ya, makanya saya bilang ketika ada yang bertanya privilege menjadi blogger maka sudah terjawab bukan. Apa yang tadinya hanya hobi menjadi karir dengan memasukkan keringat dan air mata di dalamnya. Namun, ketika hobi itu sudah menjadi pekerjaan berarti saya harus mencari hobi baru lagi untuk kewarasan hidup.

Sah Saja Kalau Mendapat Privilege

Pada akhirnya, privilege memberi kita pilihan. Bagi mereka yang memiliki sedikit akses ke hak istimewa tentu sangat menyadari status, seperti saya contohnya. Kita tidak semua bermain bersama di taman bermain yang sama.

Saya masih ingin terus menulis cerita yang menginspirasi, menghibur, dan informatif. Sehingga privilege yang saya dapatkan bisa bermanfaat positif ketika saya mendapat kesempatan tersebut. Kadang saya mengambil waktu tenang untuk bilang, betapa beruntungnya saya bisa mendapat privilege yang mungkin pada saat itu tidak dimiliki oleh sebagian orang. Karena perjalanan adalah hak istimewa. Dan saya tidak akan marah jika kamu memanggil saya beruntung.

Jika saya dilahirkan dari kelas sosial-ekonomi yang berbeda. Barangkali kisah saya ini mungkin akan sangat berbeda.

***

Follow @deddyhuang for latest update:

INSTAGRAM | TWITTER | FACEBOOK | YOUTUBE

Do not forget to subscribe/follow my blog to get updates on your email about new post.

Disclosure: This is just my personal experience. Not sponsored post. Thanks as always for your support!

Advertisements
BACA JUGA :  Chase Your Dream!
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

12 thoughts on “Privilege Menjadi Blogger

  1. Jadi blogger pasti ada tanggung jawabnya ya, Ded. Gak asal privilege. Aku pernah makan-makan di resto kondang. Terus, aku cerita kalau aku blogger. Eh, tahu-tahunya makananku digratisin sama pemilik resto. Padahal aku gak minta, lo. Wow lumayan karena makanannya mehong-mehong. Aku merasa berterima kasih sekali dan nulis 2 postingan tentang restoran beliau tanpa beliau minta.

  2. Intinya sih priviled itu berbanding lurus dengan prestasi, iya kan?

    Tapi yang jadi pertanyaan, emang kopi tuh bisa ya buat bisa tetap melek meski ngantuk? Saya hampir selalu gagal menerapkan teori ini, obat ngantuk tuh tidur kali yaa, heheheh. Maaf komen saya receh banget.

  3. Tiba2 aku inget nyinyiran nitizen tentang privilage anak2 pejabat yg jadi stafsus. Menurutku sih ya rezekinya lahir dari ortu tsb. Tapi ga smua anak pejabat sukses, kan? Malah ada yg males2an ngabisin duit ortu. It mean mereka yg sukses juga berjuang meski pny privilage

  4. Saat baca judul ini, yang terbesit pertama di pikiran adalah: cause you work hard for it mas. Jadi aku salut sih, aku percaya bahwa teman2 bloger yang dapat privilege seperti jalan2, undangan utk review dll itu ya setelah bekerja keras untuk posisinya yg skrg dan itu menginspirasi.

    1. Tahun ini aku lg merasakannya, Koh. Banyak yg bilang “ih, enak banget kamu bisa diajak jalan2 sampai ke luar pulau sama combiphar. Beruntung banget kamu”. Trus aku berpikir, apa iya aku cuma beruntung. Aku juga berjuang keras utk dapetin job itu, loh. Bukan krn cuma beruntung aja.

  5. Noted banget koh… Rasanya manusiawi jika terselip envy kalau melihat teman2 sesama blogger sepermainan diundang kemana-mana, saya bahkan harus jeda sejenak untuk mengulang kembali mantra “Dia sudah lebih dulu berjuang untuk ini, apa yg dicapainya sekarang adalah kerja kerasnya selama ini”. Jadi aku bisa ngusir perasaan envy itu dan liat sejauh mana jalanku yg ternyata baru banget dimulai. Jadi temenan juga bisa ttp positif, belajar dan berkarya juga jalan terus. Aku bahkan seneng punya tesekarang kalo punya temen-temen yg jauh lebih profesional. Kesempatan belajar jadi lebih banyak 🤣🤣🤣

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.