Seruan Cheng Beng Panggil Pulang

Karena tanah kembali ke tanah

Karena debu kembali ke debu

Kehidupan datang bersama kekekalan

Satu raga satu jiwa

Kamu tahu, ada dua tempat yang tidak saya suka untuk datang yakni rumah sakit dan pemakaman. Sebab berkaitan dengan kenangan sebuah perpisahan, pengharapan dan kesedihan. Bagaimanapun kita menjaga diri, dalam hidup, dua tempat ini pasti akan kita lewati prosesnya.

01 - Seruan Cheng Beng Panggil Pulang
Petugas ceng beng sedang membantu membersihkan makam kuburan

Siklus tidur saya beberapa hari ini cukup parah. Sulit tidur hingga larut malam. Pagi ini saya dibangunkan paksa oleh ibu untuk bersiap-siap. Kelopak mata saya perlahan terbuka. Gravitasi kasur lebih kuat. Untunglah saat ini lokasi pemakaman umum dekat rumah. Kalau dua puluh tahun lalu kami masih bisa pergi lebih siang, tapi tidak untuk sekarang.

CENG BENG

03 - Seruan Cheng Beng Panggil Pulang
Sesajen untuk leluhur dan keluarga yang meninggal

Dalam Tionghoa, kami mengenal Qing Ming atau lebih dikenal sebagai Ceng Beng. Ceng Beng menjadi suatu tradisi turun temurun untuk ziarah tahunan. Hari Ceng Beng biasanya jatuh pada tanggal 5 April untuk setiap tahunnya. Tetapi, seminggu sebelumnya juga sudah bisa berziarah atau nyekar. Di beberapa negara di Asia, peringatan Cheng Beng dianggap sangat penting artinya selain perayaan Tahun Baru Imlek. Sejarah Cheng Beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan dimulainya. Ceng Beng adalah tradisi penting bagi masyarakat tionghoa, karena pada masa inilah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama menghormat dan memperingati leluhur mereka.

02 - Seruan Cheng Beng Panggil Pulang
Bentuk makam orang Cina

Tempat pemakaman penuh sesak dengan orang-orang yang datang untuk menyapu makam dan mempersembahkan sesajen. Lalu lintas dalam perjalanan ke kuburan menjadi sangat macet. Setelah sedikit menyapu makam, orang-orang menghidangkan makanan, bunga, dan favorit orang mati, kemudian membakar dupa dan uang kertas dan membungkuk di depan tugu peringatan. Kalian bisa intip tata cara orang Tionghoa bersembahyang [klik]. Tradisi sembahyang cheng beng atau leluhur ini sedari kecil sudah dikenalkan.

Di atas tanah makam disebarkan kertas perak atau kuning setiap kali selesai dibersihkan sebagai tanda makam telah dikunjungi oleh keluarga mereka. Selesai berdoa maka uang kertas perak dan kuning nantinya akan dibakar.

BERDOA UNTUK NENEK MOYANG DAN KELUARGA

05 - Seruan Cheng Beng Panggil Pulang
Biasanya seluruh keluarga jauh akan datang.

Memaknai Ceng Beng ini sendiri agar supaya semua kerabat dekat, saudara, anak-anak, bisa berkumpul bersama, agar hubungan semakin erat terjalin. Untuk orang Cina, hari Ceng Beng merupakan suatu hari untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusaran dan bersembahyang dengan makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai aksesoris, sebagai persembahan kepada orang yang ditinggalkan.

Ketika orang yang dituakan sudah pergi lebih dulu meninggalkan kita, biasanya harmonis keluarga akan renggang karena sudah tidak ada yang dituakan kembali. Ceng Beng membawa pesan untuk kita yang masih hidup dapat mengenang walau hanya satu tahun sekali bertamu. Setidaknya untuk keluarga inti kita.

Keluarga besar saya, sudah banyak yang tidak di Palembang. Ada juga muslim, meski sudah berbeda agama atau kepercayaan, bukan berarti mereka lupa. Terkadang mereka juga ikut datang ke makam untuk membantu.

Ziarah ke kuburan orang tua tidak ada hubungannya dengan “memuja setan”. Semua bisa menyesuaikan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

MAHALNYA HARGA TANAH KUBURAN

06 - Seruan Cheng Beng Panggil Pulang
Salah satu makam dengan halaman luas.

Tanah makam kuburan semakin mahal dan sulit dicari. Punya uang pun belum tentu bisa beli tanah. Orang-orang kadang menandai tanah mereka sebagai batas kepunyaan mereka. Ada anggapan semakin bagus makam maka semakin tinggi strata sosial mereka. Selain itu dalam dunia alam baka, semakin bagus makam berarti di alam baka juga akan mewah. Jangan heran kalau kadang harga untuk renovasi makam bisa seharga sebuah rumah atau mobil. Selain itu juga bisa menjadi patokan untuk mengetahui letak makam, misalnya makam ayah saya bertetangga dengan salah satu makam orang kaya lama Palembang.

Mahalnya tanah makam membuat orang sudah tidak melakukan pemakaman dengan cara dikubur, melainkan dikremasi dan abunya dilarung ke laut atau sungai. Cara ini sekilas lebih praktis karena tidak perlu repot datang ke Ceng Beng bagi keluarga mereka di luar kota. Tidak perlu memikirkan biaya pesawat yang melambung tinggi. Namun, esensi datang ke leluhur atau orang tua sudah hilang dan berganti mengenang mereka lewat ingatan dan kenangan.

Walau di rumah, kami juga membuat altar untuk ayah saya. Tapi pagi ini tanpa kuasa air mata turun juga menetes ketika saya datang ke makam ayah saya. Seperti bisa bercerita langsung dengan beliau. Berkeluh kesah dan meminta restu dari orangtua.

Ada yang berpendapat bahwa jika sudah masuk agama tertentu, sudah tidak perlu sembahyang ataupun sekedar untuk datang ke kubur orang tua, karena akan dianggap berhala. Namun, tanpa orang tua, kita yang masih hidup tidak mungkin bisa ada di dunia tanpa jasa mereka.

Advertisements
BACA JUGA :  Adakah Di Dunia ini Happily Ever After?
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

9 thoughts on “Seruan Cheng Beng Panggil Pulang

  1. dekat SD saya banyak pekuburan cina, nyebutnya santiong, saya baru tahu istilah cheng beng pas baca tulisan ini, dulu sering lihat orang ramai bersihin kuburan,berdoa di sana. Tanpa tahu maknanya cheng beng ini. Jadi dpt pngetahuan baru:)

  2. aku baru tau istilah cengbeng ini sejak ngantor di manggadua, yg mana mayoritas tionghoa :).

    kalo menurutku sih, dlm islam juga walo kita udh berpindah agama, ga ada larangan utk ziarah ke makam ortu ato sodara lainnya. toh intinya kita mendoakan agar almarhum di ampuni dan diterangi kuburnya. bukan menyembah sih kalo kubilang

  3. saya dulu hanya sering mendengar soal cheng beng, lalu membaca tulisan ini makin tercerahkan. Pantas saja beberapa hari tukang kembang ramai

      1. Satu hal yg ingin sy tnykan, kenapa di pemakaman China, ukuran makamnya tidaklah kecil, selalu besar-besar, baik itu di Indonesia maupun di negeri asalnya (kalau nonton film2). Tp sbnr nya sama sih, dg pemakaman org barat atau Eropa, tp untuk pemakaman China selalu lbh luas dan unik dg batuan marmer besar.

        Unik lg kalau kita kunjung ke pemakaman elit, di sana kita melihat pemakaman sbg tmpat yg ‘indah’. Dengan pemandangan taman-taman yang sejuk, hijau.

        Itu kenapa ya, adakah filosofinya?

  4. Terima kasih untuk tulisan ini. Mama saya juga sekarang sedang berada di Bangka, kampung halamannya, untuk mengikuti sembayang kubur. Saya jadi tahu apa makna Cheng Beng yang sesungguhnya. 🙂

  5. Kebetulan punya beberapa teman yang merayakan Ceng Beng. Jadi sedikit tau soal ini. Buatku, tradisi menghormati dan mengingat leluhur serta bersilaturahmi itu tradisi yang perlu dijaga. Nice post, Kak Ded 🙂

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.