Saat Instan Dipertanyakan?

“Halo…”
“Sorry lagi macet.”
“Berapa menit lagi?” nada agak ditekan.
“Sebentar lagi.”

Tut…tut..tut..

Itulah percakapan yang saya dengar. Maaf mbak, saya nggak maksud buat nguping, tapi suara hape mbak terlalu kenceng :p

Saat ini, bangsa ini sedang krisis. Entah itu krisis moneter, krisis mental, krisis sosial, atau kali ini krisis teknologi. Jaman telepon koin, orang pacaran nampaknya akur dan adem ayem. Kenapa? karena kalau pakai telepon koin orang akan lebih tepat waktu untuk suatu janji. Sekarang? dengan hape? orang lebih suka jam karet, karena sebentar-sebentar telepon tanya sedang di mana? berapa lama lagi sampai?

Hal ini menjadikan mental menjadi serba instan. Instan itu enak. Instan itu praktis dan instan juga buat kita semakin terlupakan? kenapa terlupakan? Lihat saja ajang kontes nyanyi, berduyung-duyung orang daftar dan berusaha menjadi yang terbaik. Tapi semakin cepat dia terkenal, semakin cepat juga dia menghilang. Mana juaranya?

Masih mengenai instan, waktu saya temeni Rani ke pasaraya. Dia beli beberapa bungkus mie instan, saya iseng tanya kenapa dia suka makan mie instan? Jawabnya ya karena instan, cepat dan murah. Uhm… saya sendiri jarang untuk makan mie instan atau makanan kaleng, karena efek sampingnya bisa jadi bukan saat itu juga, tapi dipendam untuk tahun-tahun ke depan. Sama halnya dengan obat, kita pengen waktu sekali makan obat maka sejam atau dua jam penyakit langsung hilang. Wah, sulit sekali itu.

Intinya di sini, kalau semuanya itu butuh proses. Ada input, proses, dan output.

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1719

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: